
Tidak terlalu lama keluarlah Tumenggung Bahu Reksa dari dalam , ia pun segera mengajak masuk Senopati Bima Sakti ini.
Setelah berada dalam ruangan rumah Tumenggung Bahu Reksa , sesaat keduanya saling bertanya mengenai keadaan masing-masing maka bertanyalah Rada Senggani kepada orang tua angkatnya ini,..
" Maaf sebelum nya , Paman Tumenggung, ada gerangan apakah sehingga Senggani harus di panggil datang kemari,..?" tanya nya.
Ia memang ingin segera tahu jawaban atas pemanggilan nya kali ini.
Sementara itu, Tumenggung Bahu Reksa tidak langsung menjawabnya sambil dengan nada bercanda ia berkata,..
" Tenanglah anakku Senggani,.tidak ada masalah yang serius yg akan kutanyakan padamu, hanya kerinduan ku saja ingin bertemu dengan mu,..he ,he,.!" jawab sambil tersenyum.
Namun bagi Senopati Sandi Demak ini tentu tidak demikian , ia berkeyakinan bahwa sesuatu yang besar yg akan di katakan oleh orang tua angkatnya ini.
" Nyi , mana masakan untuk anak mu ini,..ia sudah terlihat kelaparan ,..!?" seru Tumenggung Bahu Reksa lagi.
Panglima tertinggi armada pasukan Demak itu memanggil istrinya.Tidak terlalu lama sang istri dengan di bantu oleh Lintang Sri Wedari kemudian pun muncul membawakan makanan dan minuman. Sesuai dengan selera makan dari Raka Senggani.
" Ahh,. Kangmas tidak sabaran,..kami kan tadi masih sibuk di dapur,..!" ucap Nyi Bahu Reksa sambil meletakkan makanan yang d bawanya.
Memang saat itu menjelang maghrib,.tidak biasanya mereka makan sebelum waktu malam tiba akan tetapi tampaknya Tumenggung Bahu Reksa sudah tahu akan kedatangan putra angkatnya ini sehingga ia segera menjamu nya.
" Paman dan bibi , sesungguhnya Senggani telah makan tadi ,..dan terasa masih kenyang,..!" ujar Raka Senggani.
" Dimana,..?"
Tanya Tumenggung Bahu Reksa dan istrinya bersamaan.
" Di rumah Rangga Warsito ,..!" jawab Raka Senggani.
" Ahh,..tidak apa apa , kan masakan bibi mu lebih lezat dari masakan istri Rangga Warsito itu, nanti angger Senggani pasti akan merasa lapar setelah mencicipi nya, bukan begitu,.Nyi,..!" ucap Tumenggung Bahu Reksa kepada istri.
Dan Nyi Bahu Reksa pun menganggukan kepalanya tanda mengiyakan, dan memang dari aroma makanan yang telah tersaji ini perut dari Senopati Sandi Demak ini terasa minta d isi kembali.
Akhirnya ia pun memakan makanan itu dengan lahapnya.
Sejenak setelah selesai makan maka Raka Senggani segera pergi mandi dan kemudian melaksanan sholat maghrib bersama keluarga Tumenggung Bahu Reksa.
Baru kemudian mereka mengobrol kembali setelah malam pun semakin dalam.
Malam di Kotaraja kali ini terasa lain dari biasanya, di beberapa sudut kota tepasang obor dan terlihat banyak para prajurit yg berlalu lalang, mereka nganglang.
Pada kali ini Tumenggung Bahu Reksa menceritakan semua apa yang menjadi keinginan memanggil putra angkatnya itu.
Ia mengatakan bahwa saat ini ia membutuhkan bantuan dari sang anak angkat.
" Paman Tumenggung ,..apa yang paman ingin kan dari diriku ini, jika memang mampu Senggani pasti akan melaksanakan nya,..!" sahut Raka Senggani.
" Baiklah , sebelum pada pokok permasalahan, Paman telah mengambil keputusan bahwa dirimu bukanlah senopati sandi dari pasukan Demak ini, apakah dirimu keberatan ,..ngger,..dengan keputusan yang telah Paman ambil itu,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Hahh,..!" seru Raka Senggani kaget.
Karena keputusan itu sesuai dengan keinginan nya, ia memang ingin keluar dari keprajuritan sandi Demak setelah mangkatnya Sultan Demak kedua yg mengangkat nya sebagai seorang Senopati.
" Tidak Paman,..malah Senggani merasa senang sekali dengan keputusan tersebut, sebenarnya kedatangan kemari pun untuk membicarakan masalah ini dengan Paman Tumenggung,..!" ungkap Raka Senggani.
Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba ternyata perasaan kedua orang ini sama, mereka sama sama menginginkan Raka Senggani keluar dari keprajuritan sandi Demak.
Adalah Tumenggung Bahu Reksa lah yg menjelaskan bahwa hal tersebut ia ambil karena ada hubungan nya dengan pelarian dari Pangeran Abdullah Wangsa yg pada saat itu di kawal oleh anak angkatnya ini.
__ADS_1
" Ngger,..anakku Senggani,..mengapa pada waktu itu tidak kau habisi saja empat iblis dari Gunung Kendeng itu,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Memang nya kenapa dengan empat iblis dari Gunung Kendeng itu Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani penasaran.
Ia memang membiarkan empat iblis dari Gunung Kendeng ini dapat kembali dengan selamat setelah usaha mereka ingin membunuh Raden Abdullah Wangsa putra Sultan Demak kedua tersebut.
Tumenggung Bahu Reksa kemudian menjelaskan bahwa , sekembalinya dari Cirebon, empat iblis ini kemudian melaporkan hasil yang mereka dapat dalam upaya menghabisi nyawa Raden Abdullah Wangsa itu ternyata menemui kegagalan.
" Kamu tahu Ngger,..orang yang telah menggagalkan usaha mereka itu adalah dirimu,..!" sebut Tumenggung Bahu Reksa.
Untuk itulah kemudian Tumenggung Bahu Reksa mengatakan kepada Kanjeng Gusti Sultan Trenggana bahwa Senopati Bima Sakti ini bukanlah pemimpin prajurit sandi Demak untuk menghindarkan dirinya dari hukuman Sultan Trenggana.
" Jika memang dirimu ini adalah salah seorang Senopati pasukan sandi, tentu Kanjeng Sultan akan memanggil mu,dan kemungkinan nya segera mendapatkan hukuman darinya , untuk itulah Paman mengatakan kepada Kanjeng Gusti Sultan bahwa angger Senggani bukan prajurit Demak,.!" jelas Tumenggung Bahu Reksa lagi.
Mengertilah Raka Senggani mengapa Orang tua angkatnya ini telah memecatnya dari kesatuan keprajuritan sandi Demak, semua nya demi keamanan dirinya dan keluarganya.
" Paman Tumenggung,..apa hubungannya dengan empat iblis dari Gunung Kendeng itu , Paman,..apakah Kanjeng Gusti Sultan yg memerintahkan nya untuk membunuh Raden Abdullah Wangsa,..?" tanya nya pada Tumenggung Bahu Reksa.
Lelaki paruh baya ini menggeleng lemah, seraya berkata,..
" Bukan Kanjeng Gusti Sultan Trenggana lah yg memerintahkan kepada empat iblis dari Gunung Kendeng ini membunuh Raden Abdullah Wangsa ,..Ngger,..!" jawab Tumenggung Bahu Reksa.
" Jika bukan Kanjeng Sultan yg memerintahkan nya,.mengapa diriku harus mendapatkan hukuman akan hal itu,..?" tanya Raka Senggani tidak percaya.
Tumenggung Bahu Reksa secara rinci menjelaskan duduk permasalahan nya, bahwa yg mengirimkan utusan yg ingin membunuh Raden Abdullah Wangsa itu adalah orang dekat Kanjeng Sultan, sehingga ia ingin segera menyingkirkan siapa saja yang menjadi penghalang segala usaha nya termasuk Senopati Bima Sakti ini, akan tetapi setelah Tumenggung Bahu Reksa menyatakan bahwa Raka Senggani bukanlah termasuk ke dalam keprajuritan Demak , rencana itu urung mereka lakukan.
* Ahhh,.. itulah ,..Ngger,..jika kita tunduk dan patuh pada kekuasaan,.yg ada kekuasaan itulah yang menjadi pengatur diri kita, di tambah lagi dengan nafsu nafsu yang lain , sehingga dapat menghalalkan segala cara untuk mwncapainya,..dan Paman memang meyakini bahwa dirimu tidak akan marah jika Paman menyebut mu bukanlah prajurit atau Senopati kerajaan ini, karena Orang tua mu ini sedikit banyak mengerti dan paham akan sifat dan sikap mu,.meski bibi mu sempat menentang keputusan yang telah ku ambil itu,..!" ungkap Tumenggung Bahu Reksa.
Sebenarnya dalam hati Panglima tertinggi armada pasukan Demak ini teramat menyayangkan keputusan nya tersebut namun untuk kebaikan semuanya ia memang harus mengambil langkah yg tepat agar sang anak angkat tidak sampai terjerat oleh keinginan jahat dari para pembesar Kotaraja Demak ini.
Tumenggung Bahu Reksa menatap lekat wajah dari Raka Senggani ini, ia sangat berhutang budi kepada pemuda desa Kenanga itu setelah keberhasilan nya menggantikan posisi nya memimpin pasukan Demak saat akan kembali dari Melaka.
Ia seorang senopati yg sangat cakap dalam memimpin sebuah pasukan, teramat sayang jika harus keluar dari keprajuritan Demak ini,.akan tetapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur, dan saat ini Kanjeng Sultan telah memutuskan bahwa Raden Fatahillah lah yg akan memimpin pasukan Demak ini,.. serta menyerahkan keprajuritan sandi yuda kepada diriku,... berkata dalam hati Tumenggung Bahu Reksa.
Selanjutnya Tumenggung Bahu Reksa menyampaikan sesuatu yang lain yg menjadi uneg uneg nya selama ini.
" Akan tetapi Ngger,..saat ini ada masalah yg lain yg lebih besar dan lebih pelik dengan masalahmu tadi,..heh,..!" ungkap Tumenggung Bahu Reksa.
Ia bangkit berdiri dari duduk nya dan mengambil sebilah senjatanya yg berupa keris.
" Masalah apa itu Paman , jika Senggani boleh tahu,..?" tanya Raka Senggani penasaran.
Menurut nya memang seperti nya Orang tua angkatnya ini memerlukan dirinya untuk memecahkan masalah tersebut.
" Begini ,.. Angger Senggani,..saat ini diriku kembali menjabat sebagai Senopati Sandi yuda Demak pengganti dirimu, dan pada beberapa malam yg lalu,..telah terjadi sesuatu yang menggegerkan dalem istana,..!" terang nya.
" Hal apa itu Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Bekas Senopati Sandi Yuda Demak ini semakin penasaran dengan ucapan Tumenggung Bahu itu.
Sesaat setelah menghela nafas nya, dan kemudian Tumenggung Bahu Reksa mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi Raka Senggani.
" Beberapa malam yg lalu ,.. seseorang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi telah menyatroni Bangsal perbendaharaan pusaka kerajaan Demak ini,..!" jelas nya.
" Apakah yg telah diambilnya Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani semakin penasaran.
" Ia mengambil dua buah pusaka yang menjadi piyandel Kerajaan Demak ini,..!" sebut Tumenggung Bahu Reksa.
" Nogo Sosro dan Sabuk Inten,..maksud Paman Tumenggung,..?" seru Raka Senggani kaget.
__ADS_1
Sambil menganggukkan kepalanya, Tumenggung Bahu Reksa mengiyakan ucapan anak angkatnya ini.
" Benar,..Keris pusaka kyai Nogo Sosro dan Sabuk Inten sudah tidak berada lagi pada tempatnya,. mereka menghilang dengan datang nya pencuri yang telah menyatroni Bangsal perbendaharaan pusaka kerajaan Demak ini,..Ngger,..!" ungkap Tumenggung Bahu Reksa.
Raka Senggani menekuk kepalanya melihat ke arah lantai pendopo rumah Tumenggung Bahu Reksa ini,..ternyata dalam Kotaraja Demak sendiri keamanan nya tidak terjaga dengan sempurna dan menyebabkan hilang nya dua buah pusaka yang menjadi sifat kandel akan sebuah kekuasaan yang berlangsung. Apakah bertahan lama atau tidak , atau kemana kelak pusaka tersebut berlabuh, orang yang memegang nya kelak yg akan meneruskan untuk berkuasa di tanah ini.
Setelah agak lama mereka berdua terdiam ,masing -masing larut dengan lamunan nya,.. kemudian Tumenggung Bahu Reksa berucap,..
" Karena hal inilah , Paman mendapatkan tugas yg sangat berat yg harus paman emban, yaitu mencari dan mengembalikan kedua buah pusaka tersebut pada tempat nya dan secepatnya,..!"
Ucapan dari Tumenggung Bahu Reksa ini bermakna ia memang memebutuhkan bantuan dari sang anak angkatnya ini.
Raka Senggani yg paham dan mengerti kedudukan dari Tumenggung Bahu Reksa itu segera menjawab perkataan nya tadi.
" Kalau memang Paman Tumenggung memerlukan Senggani melakukan nya,..Senggani siap melakukan nya,.meski tidak dapat menjamin sampai kapan hal itu dapat di temukan,..!" ujar Senopati yg bergelar Bima Sakti ini.
" Heh,..sungguh dirimu mengerti perasaan dan keinginan ku ini, Angger Senggani,.orang tua mu ini , setelah sekembalinya dari Melaka merasa semakin merosot kesehatan nya, jadi untuk kesediaan mu membantuku dalam mencari kedua pusaka tersebut, sebelum nya ku ucapkan terima kasih,..!" kata Tumenggung Bahu Reksa.
Lelaki paruh baya ini langsung memeluk erat tubuh Raka Senggani.
" Sekali lagi Paman ucapkan terima kasih,..!" katanya lirih di telinga Raka Senggani.
Tumenggung Bahu Reksa juga menjelaskan kepada anak angkatnya ini dari mana ia mulai penyelidikan nya.
" Menurut dari beberapa sumber yang dapat di kumpulkan oleh para prajurit sandi,..dirimu dapat memulainya dari arah Rawa Pening,..Ngger,..!" terang Tumenggung Bahu Reksa.
" Rawa Pening ,..mengapa harus dari sana..?" tanya Raka Senggani yg merasa aneh .
" Dari sanalah dirimu memulai nya, temuilah orang yang bernama Begawan Kakung Turah,.. seorang yang bertempat di Bukit Tuntang,..tanya kanlah kepadanya akan hal ini,..!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.
" Hahh,..Si Tua Gila dari Bukit Tuntang,..!??" seru Raka Senggani kaget.
Meski belum pernah bertemu dengan orang tersebut, namun nama ini cukup ke sohor di wilayah barat kadipaten Pajang itu,..bahkan namanya cukup melegenda dengan sebutan manusia setengah dewa,..akan tetapi nama nya ini sudah cukup lama tidak terdengar lagi.
" Apakah orang ini masih hidup,..Paman,..?" tanya Raka Senggani memastikan.
" Belum Ngger,..meski usia memang sudah sangat sepuh,..namun sebahagian besar , orang meyakini nya masih hidup,.. mintalah keterangan darinya,..!" jawab Tumenggung Bahu Reksa.
Orang tua ini kemudian menjelaskan mengenai orang yang bernama asli nya Argayasa itu, ia adalah salah satu dari beberapa nama yang menjadi senopati terbaik di masa Kerajaan Majapahit,.dirinya memiliki kedekatan dengan Pangeran Andayaningrat dari Pengging.
Oleh Prabhu Brawijaya terakhir, ia diminta untuk menjadi pengawal pribadi anak dan menatunya tersebut.
" Ada satu hal yang perlu dirimu ketahui ,..Ngger,..!" sebut Tumenggung Bahu Reksa lagi.
" Apa itu Paman,..?" tanya Raka Senggani.
" Begawan Kakung Turah ini merupakan saudara seperguruan dengan salah seorang yg dirimu kagumi,..!" terang Tumenggung Bahu Reksa.
" Siapa Paman,..?"
Raka Senggani semakin penasaran dengan ucapan orang tua angkatnya ini, memang sejauh ini, diirinya mengakui bahwa Tumenggung Bahu Reksa sangat mumpuni dalam masalah sandi dan penyelidikan untuk itulah mungkin Kanjeng Sultan Trenggana menugaskan lagi untuk memimpin pasukan tersebut, atau memang menganggapnya masih Senopati Sandi Demak dan diirinya lah yg mendapatkan perintah untuk mengembalikan kedua pusaka tersebut.
Tumenggung Bahu Reksa menyebutkan bahwa Begawan Kakung Turah dari Bukit Tuntang ini adalah saudara seperguruan dari Panembahan Lawu di Gunung Lawu.
Mendengar hal tersebut, terkejutlah Raka Senggani di buatnya.
" Jadi Begawan Kakung Turah ini adalah saudara dari Eyang Panembahan Lawu,..paman,..!" ucap nya kaget setengah mati.
" Yeah,.. mereka berdua memang saudara seperguruan dan merupakan pembantu dekat Gusti Prabhu Brawijaya terakhir,..!" jelas Tumenggung Bahu Reksa .
__ADS_1
Raka Senggani termenung dan terdiam setelah mendengar hal tersebut, naluri sandi nya berkata,.
Apakah diriku harus berbenturan dengan Eyang Lawu,..ahhh,...ini tidak mungkin,...katanya dalam hati.