Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 31 Seda ing Pajang. bag kedua.


__ADS_3

" Bagaimana jika nanti adi bersamaku ke warasaba, tentu adik dan ibu akan senang sekali bertemu dengan mu,.!" kata Raka Yantra kepada Senopati Brastha Abipraya.


Raka Senggani lantas memandangi saudara sepupu nya , memang ada keinginan nya untuk berkunjung ke kediaman mereka, namun saat ini ia masih mengemban tugas yg di berikan oleh Tumenggung Bahu Reksa , orang tua angkatnya dalam hubungannya mengenai lenyap nya dua benda pusaka piyandel kerajaan Demak itu.


Belum lagi rasa rindu nya kepada putra nya yg sudah teramat ingin di lihatnya, sang Senopati pun menjawab permintaan dari Raka Yantra ini ,.


" Atau bagaimana bila Kakang Yantra lah yg berkunjung ke desa Kenanga, untuk sekedar nyekar ke makam paman Raka Jang,.!" ucapnya kepada saudara sepupunya ini.


Kepala murid Mpu Loh Brangsang ini langsung menunduk begitu nama orang tua nya ini di sebutkan, ia merasa seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tua nya ini, bahkan lebih banyak mengabaikan nya , dan seraut wajah yang di hiasi kumis tipis ini pun menjadi muram seraya berkata lirih,.


..." Adi, aku seorang anak yang telah menyia -nyiakan orang tua kandung ku , bagaimana mungkin diriku mampu menampakkan wajah berdosa ini di tanah kelahiran, diriku benar-benar malu, adi Senggani,..!" ucapnya....


" Setiap kita pasti punya dosa , dan yg penting sekarang bagaimana kita dapat memperbaiki diri untuk tidak lagi melakukan hal yang sama, termasuk juga dengan nyekar ke makam paman , itu adalah bentuk pengabdian kakang Yantra sebagai seorang anak,.!" terang Raka Senggani.


Kembali wajah Raka Yantra di tekuknya dan tanpa terasa ada bulir bulir air mata yg mengmbun di sudut kedua kelopak matanya.


Pemuda itu menangis dan memeluk erat tubuh Raka Senggani.


" Kakang sungguh tidak berguna, tidak sekali pun teringat akan romo, bahkan sampai akhir hayat nya tidak sekaligus kami menjenguk nya , sungguh kakang anak yg durhaka,.!" seru nya agak keras sambil memeluk erat tubuh Raka Senggani.


" Sudah lah, masih ada kesempatan untuk berbakti kepada paman, selain kakang datang untuk nyekar, kakang Raka Yantra pun dapat mempergunakan ilmu yang di miliki itu di jalan kebenaran , tentu ia akan mendapatkan balasan yg setimpal dengan kebaikan yang kakang kerjakan nantinya, jadi pinta Senggani , datanglah ke Kenanga,!" ungkap Raka Senggani.


Dan perkataan nya ini pun di dukung oleh Lintang Sandika dengan mengatakan bahwa memang sebaiknya ia lah yg berkunjung ke desa Kenanga . Selain dapat melihat makam orang tuanya dirinya pun masih dapat bertemu dengan teman sepermainan semasih kanak -kanak dahulu.


Tentu beban yang ada dihatiny kan jauh berkurang jika dapat berbagi dengan teman.


" Teman kita , semasih anak anak ini merupakan teman yang biasanya pandai mendengar curahan hati kita,.meski kita jarang sekali bertemu,.!" jelas Lintang Sandika.


Raka Yantra hanya diam saja , agak lama ia termenung mendengar penuturan dari putra tumenggung Bahu Reksa ini.


" Oh iya, baik kakang Jati Andara maupun kakang Japra Witangsa kini telah menjadi seorang prajurit Demak, !" ucap Raka Senggani.


" Jadi mereka berdua telah menjadi seorang prajurit, adi Senggani,.?" tanya Rska Yantra.


" Benar, kakang Yantra, mereka kini tengah menjadi seorang prajurit, akan tetapi saat ini mungkin sedang berada di Kenanga,.!" jelas Raka Senggani.


Memang kedua orang pemuda yang menjadi murid Raka Senggani ini adalah teman sepermainan dari Raka Yantra sewaktu masih berada di desa Kenanga dahulu.


Mereka bertiga acapkali melakukan permainan bersama, bahkan ketika harus mencari ikan di kali.


" Sungguh beruntung mereka , dapat di terima menjadi seorang prajurit, romo dari jati Andara tentu snagat senang sekali,.!" ucap Raka Yantra lirih.


" Sekarang yg menjadi Bekel di desa Kenanga adalah orang tua dari kakang Jati Andara,.!" sebut Raka Senggani.


Mereka pun larut menceritakan masa kecil yg terjadi di desa Kenanga ini sampai akhirnya Lintang Sandika mengatakan kepada Raka Senggani untuk segera sowan ke Gunung Lawu.


" Guru sudah berpesan kepada kami berdua dengan Lintang Sri Wedari agar menyampaikan hal ini kepada mu , adi Senggani,..!" kata Lintang Sandika.


Kali ini Raka Senggani harus menarik nafas panjang , bila ia mendengar nama penguasa Gunung Lawu itu di sebutkan , dirinya banyak berhutang budi kepadanya.


Dan jelas sekali ia berharap dapat menggantikannya sebagai penguasa di Gunung Lawu ini sepeninggal nya kelak.


" Baik Kakang Sandika, nanti sekembalinya dari sini, Senggani akan menyempatkan untuk sowan ke Gunung Lawu,.!" tukas Raka Senggani.


Sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka, karena saat itu sudah saat nya untuk mengisi perut.


Istri dari Lintang Sandika, Rara Tinampi telah menyiapkan sajian kesukaan dari Senopati Pajang , yaitu empela ati ayam.


Dari aroma nya saja sudah tercium sampai keluar , hingga membuat perut nya segera minta diisi.


" Marilah kita makan, nanti kita sambung pembicaraan ini, bukankah kalian berdua akan menginap disini malam ini,.?" tanya Lintang Sandika sekaligus mengajak keduanya masuk untuk makan.


Ketiganya dengan di dampingi oleh istri dari Lintang Sandika segera menyantap hidangan yg masih panas , terlihat dari kepulan asap yang keluar.


*************


Sementara itu dalam sebuah goa nampak sesosok tubuh yg lagi tertunduk menghadapi jasad gurunya. Dia yg tiada lain adalah Dharsasana kini menatap Ki Jarie Mendep yg sudah terbujur kaku.


" Guru, akan ku balaskan sakit hati guru ini, Senopati Pajang itu harus mati di tanganku,..!" kata Dharsasana sambil mengepalkan tangan.

__ADS_1


Pemuda itu lantas mengangkat tubuh jasad gurunya dan membawa nya pergi dari tempat tersebut,


Di dalam sebuah ruangan yang sempit, pemuda itu meletakkan tubuh yg sudah kaku itu ke dalam nya dan selanjutnya di tutupi dengan beberapa buah batu.


Sehingga ruangan sempit itu pun tertutup kembali dengan sangat rapat.


Untuk selanjutnya, pemuda itu kembali ke ruangan yang ada batu pipih yang cukup besar, ia berusaha membongkar beberapa bagian dari tempat itu.


Dimana guru menyembunyikan kitab itu diriku harus menemukan nya , berkata dalam hatinya.


Memang dalam hati pemuda ini sangat sedih sekali setelah kematian dari gurunya ini.


Ada beberapa bagian yang belum di kuasai nya sehingga dirinya masih memerlukan petunjuk melalui sebuah kitab yang di simpan oleh sang guru.


Cukup lama ia mencari nya namun tak kunjung menemukan nya, hingga akhirnya ia keluar dari dalam goa tersebut.


Sejenak Dharsasana melepaskan rasa sedih nya dengan berjalan kaki di sekeliling tempat itu, dendam nya pada Raka Senggani setinggi gunung.


Ia berjanji dalam hatinya untuk mampu membunuh orang tersebut.


*************


Saat keesokan paginya dari tanah perdikan nampak dua ekor kuda melaju dari sana.


" Apakah kita akan langsung menuju ke Kenanga , adi Senggani,..?" tanya Raka Yantra.


" Tidak kakang Raka Yantra, terlebih dahulu kita singgah di Pajang baru setelah nya kita ke Kenanga,.!" sahut Raka Senggani.


" Heahhh, heahh,.!" seru nya lagi sambil melajukan kudanya.


Dan diikuti oleh Raka Yantra, mereka berdua langsung saja bergerak meninggalkan tanah Perdikan Mantyasih menuju arah timur.


Seharian keduanya melakukan perjalanan bersama menuju ke Pajang.


Melintasi beberapa kali pedukuhan kecil baru selanjutnya memasuki wilayah ara ara sebelum tiba sebuah hutan yang agak lebat dan pepat.


Keduanya langsung mencari santap malam dengan berburu di dekat ara -ara, memang terdapat beberapa hewan buruan , baik kecil maupun besar.


Dengan sangat cepat keduanya pun menemukan nya, Raka Senggani berhasil menangkap seekor menjangan gemuk dengan menggunakan tangannya.


Kecepatan Menjangan itu tidak mampu melarikan diri nya dari Senopati Pajang yg mampu melebihi kecepatan nya.


Dalam satu hentakan kelebatan nya dengan kencang sekali memburu tubuh Menjangan tersebut hingga dapat menangkapnya . Hingga akhirnya ia pun membawa nya kembali ke tempat tersebut.


Berbeda dengan Raka Yantra, murid Mpu Loh Brangsang ini sangat jitunya melempar seekor kelinci dan membawa nya .


Terlihat api segera menyala , dan dalam sekejap saja tercium aroma yang menyengat membuat rasa lapar dari keduanya menjadi lebih .


" Adi Senggani , bagaimana terjadinya pertengkaran Guru dengan mu itu,..hingga padepokan Merapi teramat mendendam mu,..?" tanya Raka Senggani.


" Hehh,..!" seru Raka Senggani kaget.


Ia tidak menyangka mendapatkan pertanyaan seperti ini dari saudara sepupu nya itu.


Padahal ia sangat enggan untuk berbicara mengenai perseteruan nya dengan Mpu Loh Brangsang , sebab sudah sangat lama sekali kejadian itu.


" Jika kakang Yantra memang ingin mengetahuinya, baiklah akan Senggani ceritakan,.!" kata Raka Senggani.


Tidak terlalu lama kemudian , putra Raka Jaya ini menceritakan tentang mengapa terjadi perseteruan yg berkepanjangan antara dirinya dengan guru kakak sepupu nya ini, sambil keduanya terus menyantap makanan .


Sampai habis makanan, cerita dari Senopati Pajang itu belum pun selesai.


Raka Yantra tidak melewatkan sedikit pun cerita saudaranya ini hingga akhirnya rasa penasaran membuat nya bertanya,.


" Jadi dua paman Guru itulah yang telah membunuh kedua orang tua mu itu,.adi Senggani,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.


Raka Senggani menganggukkan kepalanya, sambil menyebutkan bahwa akibat itulah Mpu Loh Brangsang terus saja mendendam kepadanya dan puncaknya adalah menghasut kakak sepupu nya ini untuk bertarung dengan nya.


Beruntung kini , mereka telah bisa menjadi akur kembali.

__ADS_1


" Senggani amat senang sekali karena dirimu bisa menjadi murid dari Mpu Loh Brangsang itu, kakang,..!" ucap Raka Senggani.


Bahkan tanpa sengaja ia menanyakan hubungan Raka Yantra kakak sepupu nya ini dengan Tara Rindayu.


" Lalu bagaimana hubungan Kakang Yantra dengan Tara Rindayu, apakah telah menjurus ke arah yang lebih serius,..?" tanya Raka Senggani.


Raka Yantra mendengar saudara sepupu nya menanyakan hal mengenai Tara Rindayu ini hatinya terasa perih, dengan sangat pelan sekali ia menjawab.


" Tampaknya putri Juragan Tarya itu masih mengharapkan dirimu , adi Senggani,..!" katanya lirih.


" Hahh,..!" Raka Senggani tersentak kaget bukan main.


Seolah tidak mempercayai apa yg di dengar nya tadi, Raka Senggani langsung menyahutinya,


" Mengapa bisa begitu,..?" tanya nya kepada Raka Yantra.


Raka Yantra menceritakan tentang kejadian yang menimpa nya saat ia dengan berani mengutarakan maksud hatinya kepada putri juragan Tarya itu,namun ia hanya menerima jawaban yang cukup menyakitkan.


Dirinya di tolak oleh Tara Rindayu dengan alasan bahwa dirinya memang terikat hubungan dengan adik sepupu nya.


" Maafkanlah diriku, kakang Yantra,..!" ucap Raka Senggani sambil memeluk tubuh kakak nya itu.


Ia merasa iba hatinya mendengar penuturan dari kakak sepupu nya itu, sambil melepaskan pelukan nya, Raka Senggani kembali menceritakan tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Tara Rindayu.


" Bukan diriku bermaksud demikian kakang, hanya saja pada saat Tara Rindayu di bawa lari oleh Singo Lorok, Juragan Tarya membuat sayembara , siapa saja yg dapat membebaskan putrinya itu maka akan di nikahkan kepadanya, dirikulah yg berhasil menyelamatkan nya, sehingga ia merasa bahwa dirinya itu adalah milikku, padahal tidak demikian sebenarnya,.!" terang Raka Senggani.


" Karena kini Senggani telah memiliki istri dan seorang anak, jadi Tara Rindayu sudah bebas untuk menentukan jodohnya,..!" katanya lebih lanjut lagi.


" Akan tetapi tidak demikian dengan Rindayu, ia masih menggantungkan harapan nya kepada mu Adi Senggani, !" sahut Raka Yantra.


Ada rasa sedih dari ucapan yg di katakan oleh Raka Yantra ini.


" Jadi kakang Yantra memang mencintai Tara Rindayu itu,..?" tanya Raka Senggani.


Raka Yantra membuang wajahnya tidak berani menatap adik sepupunya ini.


" Jika memang demikian adanya, nanti Senggani akan berbicara kepadanya, dan mudah mudahan ia mau mengerti,.!" kata Raka Senggani lagi.


Keduanya terus saja mengobrol dengan asyik nya , dan malam pun semakin berlanjut, malam yg pekat dan terlihat mendung menggantung di langit.


Sepetinya malam itu akan turun hujan.Tidak terlalu lama kemudian cahaya merah mulai menyambar.


" Gludhuuk,..!"


" Dhumbhh,..!"


Suara petir terdengar menggelegar keras.


" Tampaknya akan turun hujan malam ini kakang,.!" ucap Raka Senggani.


" Benar adi, sebaiknya kita segera mencari tempat berteduh ,. agar tidak kebasahan,..!" sahut Raka Yantra.


Dan keduanya pun segera mencari tempat yang lebih baik untuk berlindung dari curah hujan yang sebentar lagi akan turun.


Beserta kedua kuda pemberian dari Ki Gede Mantyasih ini , keduanya segera menghampiri sebatang pohon besar yang berdaun rimbun dan duduk di bawahnya.


Tidak terlalu lama , hujan turun dengan derasnya membasahi bumi.


Api unggun yg dinyalakan tadi segera mati tertimpa air hujan yang membasahi nya.


Di saat keduanya tengah berlindung, tiba tiba saja pendengaran suara Raka Senggani yg sangat tajam mendengar suara derap langkah kaki kuda yang mengarah ke tempat tersebut memang masih cukup jauh jaraknya.


" Apakah kakang Yantra mendengar suara langkah kaki kuda itu,.?" tanya Raka Senggani kepada Raka Yantra.


" Tidak aku tidak mendengar nya Adi Senggani, yg terdengar hanya curah hujan dan suara petir yg menyambar,..!" jawab Raka Yantra.


" Coba Kakang dengarkan secara baik-baik,. bukankah suara itu semakin mendekat dari arah timur,.!" kata Raka Senggani lagi.


Raka Yantra pun menurut ia berusaha untuk memusatkan pendengaran kepada suara yang di sebutkan tadi barulah ia berkata.

__ADS_1


__ADS_2