
Serangan Raka Senggani amat gencar, sambil melompat ia mmeberikan tendangan beruntun ke arah dada dari Singo Lorok,
" Dheg, dheg, dhegggh,"
Tiga kali telapak kaki dari Raka Senggani mendarat di dada Singo Lorok dengan telak.
Dan begitu menjejakkan kakinya di tanah, Raka Senggani langsung memberikan tendangan susulan dengan tubuh berputar setengah lingkaran.
.
" Hiyyyah,'
"Prakkkk,"
Kepala dari Singo Lorok menjadi sasaran tendangan itu.
Membuat tubuh Rampok asal Gunung Tidar tersebut jatuh terpelanting menjauh.
Perlahan Raka Senggani mendekatinya, sedangkan Singo Lorok berusaha untuk bangkit dengan pandangan berkunang-kunang se makan banyak bintang di lihatnya, sementara malam pun mulai akan beranjak pergi.
" Hhhhaaah, ******* kau, aku akan membalas semua perbuatanmu ini, belum tahu kau berhadapan dengan siapa ," kata Singo Lorok.
Ia pun mampu bangkit berdiri walau agak sedikit sempoyongan.
Di tangan pemimpin begal itu telah tergenggam sebuah golok yg lumayan besar yg merupakan senjata andalannya.
Kemudian ia mengacungkan golok itu sambil berucap,
" Ku bunuh kau, manusia*******, ciiiiaaaaaat,"
Singo Lorok melompat panjang menyerang Raka Senggani yg masih berdiri tegak dengan kedua kaki di pentangkan siap menyambut serangan dari lawan.
" Sreeeert, "
Anak muda itu mencabut keris Kyai Macan Kecubung dari balik pinggang nya, begitu di cabut pamor dari pusaka kadipaten Pajang itu langsung berpendar, cahaya kemerah merahan keluar dari keris tersebut, apa lagi yg menggenggamnya saat itu memiliki tenaga dalam yg tinggi, sehingga aura keris tersebut semakin nyata, aura kematian.
" Heaaahh, "
Raka Senggani langsung menyambut serangan dari Singo Lorok, golok dari rampok asal Gunung Tidar itu langsung dipangkas oleh Keris Kyai Macan Kecubung,
" Traaaaannnngg,"
Pijaran kembang api timbul dari benturan kedua senjata itu, dan sekali lagi senjata lawan harus mengakui ke mampuhan keris Kyai Macan Kecubung itu, pemimpin rampok dari Gunung Tidar harus mengakui keampuhan senjata lawan, Golok di tangan Singo Lorok patah menjadi dua,setelah se belumnya Clurit dari Macan Baleman pun mengalami nasib yg sama.
" Hahhhh, " teriak Singo Lorok heran.
Ia sampai tidak bersiap karena terkejut melihat Goloknya telah puntung.
Kesempatan itu tidak disia -siakan oleh Raka Senggani, Senopati yg baru di angkat oleh Adipati Pajang itu langsung memberikan hantaman kepalan tangan kirinya ke dada Singo Lorok,
" Buuugggh,"
" Aaakkhh, "
Kembali Singo Lorok terdorong surut ke belakang beberapa tindak meski tidak sampai terjatuh, namun Raka Senggani yg tampaknya lebih garang dari biasa nya langsung memberikan tendangan dengan sebelumnya melompat ke udara sehingga tubuh dari Singo Lorok yg sebelumnya tidak terjatuh, kali ini terpaksalah ia menerima kenyataan dengan merasakan tendangan dari kaki Raka Senggani itu dan melontarkanya cukup jauh, Singo Lorok kesulitan untuk bangkit seraya memegangi dadanya,
" Hoeeeekhh,!"
__ADS_1
Begal dari Gunung Tidar itu muntah darah setelah diserang berkali -kali oleh Raka Senggani.
Memang lumayan juga daya tahan dari Singo Lorok ini, meskipun telah banyak pukulan yg mendarat ditubuhnya namun ia masih mampu bertahan.
Perlahan-lahan Singo Lorok duduk bersila dan mulai memusatkan nalar budinya, tampaknya tidak ada pilihan lain kecuali mengadu ilmu kesaktian atas lawannya itu.
Walaupun dadanya terasa sesak tetapi ia tetap berusaha untuk mengeluarkan ajian andalannya Aji gelap Wancal miliknya itu.
Raka Senggani yg paham dengan gelagat dari pemimpin rampok itu, segera menyiapkan ilmunya pula, karena menurutnya tentu ajian yg akan dikeluarkan oleh lawan nya itu tentu sama dengan yg dimiliki oleh Singo Ireng yg telah berhasil ditewaskannya.
" ****** kau, terima ini aji Gelap Wancal, heaaaahhh,!" teriak Singo Lorok
" Aji Wajra geni, hiyyah,!" teriak Raka Senggani.
Kedua ajian itu pun berbenturan,
" Dhumbhh , Dhhuaaarrr,"
Bunyi ledakan yg di timbulkan akibat benturan kekuatan ilmu kadigjayaan yg dikeluarkan kedua orang ter sebut cahaya kelabu kehitam hitaman dari Singo Lorok sedangkan yg satu lagi cahaya terang seperti petir menyambar keluar dari tangan Raka Senggani.
" Aaaaaakkhhhh "
Terdengar teriakan panjang yg keluar dari mulut Singo Lorok.
Tubuhnya terpental cukup jauh akibat dari benturan dua kekuatan ilmu kadigjayaan itu.
" Kakaaaaaaang, "
Teriakan dari Ki Bawuk yg berusaha mengejar tubuh pemimpinnya itu, lelaki yg bertubuh besar serta bercambang dan berkumis lebat itu segera menghampiri tubuh Singo Lorok, kemudian Ki Bawuk memanggul tubuh Singo Lorok dan membawanya pergi.
Hari telah menjadi terang dan pasukan Pajang yg di bawah ke pemimpinan dari Tumenggung Wangsa Rana pun telah datang membantu.
" Ki Rangga Wira Dipa, aku akan mengejar Singo Lorok, tunggu aku kembali,!"
Tanpa menunggu jawaban dari Rangga Wira Dipa, Raka Senggani langsung melesat mengejar Ki Bawuk yg membawa lari Tubuh Singo Lorok tersebut.
Karena Ki Bawuk sedang menggendong tubuh dari Singo Lorok di tambah lagi ia tidak memilki ilmu lari cepat yg tinggi sebentar saja ia tersusul oleh Raka Senggani, namun pemuda itu tidak langsung mencegatnya, ia hanya mengikuti saja kemana perginya orang itu.
Ternyata Ki Bawuk membawa tubuh Singo Lorok ke tempat mereka menginap bersama Ki Kaliran dan Tara Rindayu di sebuah rumah di Prambanan itu.
Sepertinya Ki Bawuk tidak menyadari bahwa ia tetap diikuti oleh Raka Senggani.
Ia langsung mengetuk pintu rumah itu,
" Tok, tok,. tok,''
Ketukan yg merupakan sandi dari kawanan begal itu.
Pintu pun langsung di buka dari dalam,
" Hehh ada apa Ki Bawuk, apa yg terjadi dengan kakang Singo Lorok , siapa yg telah mengalahkannya,,?" tanya Ki Kaliran setelah melihat temannya itu menggendong pemimpinnya dalam keadaan tidak sadarkan diri.
" Sabarlah Kaliran, cepat sedia kan air hangat dan kain bersih , kita harus merawat kakang Singo Lorok ini, simpan dahulu semua pertanyaanmu itu,!" jawab Ki Bawuk.
Ki Kaliran pun segera ke belakang guna mengambil air dan kain bersih serta pakaian dari Singo Lorok.
Setelah diberikan kepada Ki Bawuk barulah Ki Bawuk berkata,
__ADS_1
" Bagaimana keadaan dari den ayu, apakah ia masih di sini,?" tanyanya kepada Ki Kaliran.
" Masih, ia masih berada di dalam biliknya," jawab Ki Kaliran.
" Dan bagaimana dengan kakang Singo Lorok, apakah ia masih bisa selamat,?" tanya Ki Kaliran balik.
" Entahlah, tampaknya luka dalamnya lumayan parah, kita harus memberi tahukan hal ini kepada Ki Singo Abra, guru dari Kakang Singo Lorok,!" jawab Ki Bawuk.
" Siapa orangnya yg telah mampu melukai kakang Singo Lorok ini, Ki Bawuk,?" tanya Ki Kaliran.
" Orang yg sama, yg telah menewaskan kakang Singo Ireng, Kaliran," jawab Ki Bawuk.
" Hahhh, Raka Senggani, bagaimana mungkin ia telah berada disini, dan telah mampu mengalahkan Kakang Singo Lorok, sungguh ia seorang yg pilih tanding, padahal kakang Singo Lorok dan Kakang Singo Ireng di tlatah Demak dan Pajang ini cukup di takuti,!" kata Ki Kaliran yg terkejut mendengar penuturan dari temannya itu.
" Yg lebih anehnya lagi, ia telah jadi seorang prajurit Pajang, bahkan berpangkat Senopati, jika kau melihat sendiri sepak terjangnya, pasti kau tidak akan percaya,!" kata Ki Bawuk.
" Memangnya kenapa ,Ki , apakah ada perubahan atas pemuda itu,?" tanya Ki Kaliran kepada Ki Bawuk.
" Sekarang tandangnya sangat garang bahkan cenderung kasar, kakang Singo Lorok tidak mampu berbuat apa-apa, hanya jadi bulan-bulanan pemuda itu, seakan kakang Singo Lorok tidak memiliki kepandaian apa pun, dengan mudahnya di tendang dan dipukulnya sesuka hati, berbeda ketika ia berhadapan dengan kakang Singo Ireng, ia masih cenderung lambat dan masih punya perasaan, tidak kali ini,!" jawab Ki Bawuk.
" Bagaimana Ki Bawuk bisa meloloskan diri darinya,?" tanya Ki Kaliran.
" Hahhhh, !" Ki Bawuk terkejut mendengar pertanyaan Ki Kaliran tersebut.
Ia memang merasa heran bagaimana ia bisa melarikan diri dari anak muda, bukankah sebelumnya ia melihat pemuda itu berdiri memandangi saja, apa tidak mungkin ia mengejar sampai kemari, pikir Ki Bawuk.
" Siapkan senjata mu , Kaliran , mungkin ia mengejar sampai kemari, tadi ia sengaja membiarkanku untuk mengetahui tempat persembunyian ini, karena tadi aku sempat mendengar ucapannya tentang keberadaan dari den ayu,,....I.." kata Ki Bawuk.
Belum pun habis kata -katanya,
" Gedebruaaakk,'
Bunyi pintu yg di tendang dari luar dan menyebabkan pintu tersebut hancur berkeping-keping, bahkan beberapa potongannya mengenai tubuh orang -orang yg berada di dalam rumah itu termasuk juga tubuh Singo Lorok yg lagi dalam keadaan pingsan.
" Cepat serahkan Puteri Juragan Tarya itu, kalau nyawa kalian mau selamat,!" ucap Raka Senggani dengan mengacungkan kerisnya.
Kedua pembantu terdekat Singo Lorok sampai terdiam tidak bisa berbuat apa-apa, hanya memandangi wajah Raka Senggani.
Pemuda itu tidak ingin membuang waktu terlalu lama segera masuk dan memberikan totokan kepada keduanya yg masih seperti hilang kesadarannya.
Dan Raka Senggani pun segera membuka sebuah bilik yg pintu nya tertutup rapat,
" Braakkk," pintu itupun terbuka dengan sebuah tendangan oleh Raka Senggani.
" Rindayuuuuu,!" seru pemuda itu.
Ketika ia melihat sesosok tubuh se orang wanita yg sedang tergolek di sebuah amben di dalam bilik tersebut.
Begitu ada yg memanggil namanya perempuan itu pun menoleh dan langsung menjerit,
" Kakaaaaaaang,!" teriak perempuan itu yg tiada lain adalah Tara Rindayu putri juragan Tarya.
Hati nya amat bahagia dan senang setelah ada seseorang yg menolongnya dari cengkraman begal Gunung Tidar Singo Lorok itu.
Ia menangis tersedu - sedu di pelukan Raka Senggani.
" Sudahlah, tenang lah Rindayu, kau aman sekarang mari kita tinggalkan tempat ini,!" ucap Raka Senggani sambil memapah Tara Rindayu keluar dari tempat itu.
__ADS_1
Setelah berada di ruang tengah dari rumah itu dilihat oleh Tara Rindayu, ke tiga orang penyekap dalam keadaan terdiam , dua kena totokan sedangkan yg seorang dalam keadaan pingsan.
Raka Senggani membawa keluar Tara Rindayu dari rumah itu dan menuju ke banjar desa Prambanan , ia akan mengatakan ada tiga orang yg berada di rumah itu yg merupakan kawanan rampok dan harus segera di tangkap kepada pemimpin dari desa Prambanan tersebut,karena ia harus membawa Tara Rindayu dari tempat itu sekaligus memberikan laporan kepada Tumenggung Wangsa Rana terlebih dahulu.