Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 8 Pendadaran bagian kedua.


__ADS_3

" Hemmh, suatu kesempatan yg baik, ia akan menerima ajian ku tanpa melakukan perlawanan, dan mungkin lebih baik kubarengi dengan senjata rahasia, jika pun ia tidak akan tewas dengan ajian lebur Saketiku tentu dapat diakhiri dengan beberapa buah pisau beracun ku ini," berkata dalam hati Sentanu.


Tampak senyum tipis mengembang di sudut bibirnya , ia yakin akan dapat menewaskan Senopati Pajang itu dengan cara licik, dengan mempergunakan senjata rahasia selain ajian nya yg cukup ngegrisi itu.


" Baik bersiaplah Senopati Brastha Abipraya, aku akan mulai," ucap Sentanu .


" Aku telah siap Sentanu , lakukan lah," seru Raka Senggani.


Senopati Pajang itu merapal aji Sangga kalimasada hanya untuk memagari tubuh nya dan terlihat ia mulai mengarah kan tenaga dalam nya itu ke arah kedua tangan nya dan dan perlahan-lahan, asap tipis timbul di sekujur badan nya, sebenar nya ia tidak mengetahui kenapa tiba -tiba timbul asap tipis itu.


Sementara Sentanu tengah bersiap melontarkan ajian Lebur Saketi milik nya dengan tangan kanan nya sedang tangan kiri nya telah merogoh dari balik bajunya, sekilas nampak beberapa buah pisau -pisau kecil di sela -sela jari nya itu.


" Aji Lebur Saketi, hiyyah,!" teriak Sentanu.


" Dhumbhh"


Terdengar letupan dari ajian Lebur Saketi itu menghantam tubuh Raka Senggani dan bersamaan itu pula lima buah pisau meluncur menerpa tubuh sang Senopati.


Semua prajurit Demak, terutama yg bertugas sebagai pelatih di tempat itu terdiam dan tertegun , karena mereka berkeyakinan bahwa , sang Senopati Pajang itu pasti akan tewas di hantam ajian Lebur Saketi.


Memang tubuh sang Senopati harus terpental ke udara dan melayang cukup lama kemudian jatuh ditempat yg cukup jauh , tetapi tampak nya cara jatuh dari sang Senopati tidak dalam keadaan terluka karena ia mampu mendarat tanpa terhempas ke atas tanah.


Memang Raka Senggani selain mengetrapkan ajian Sangga kalimasada miliknya untuk menahan serangan dari lawannya itu, ia juga mengetrapkan ajian peringan tubuhnya agar dapat mengontrol jatuhnya akibat. dari hantaman itu.


Sedangkan pisau -pisau kecil yg meluncur kearah tubuhnya itu tidak ada satupun yg berhasil menancap, semuanya jatuh ke atas tanah.


Perlahan -lahan Senopati Brastha Abipraya bangkit dan berdiri seraya mengibas-ngibaskan debu yg menempel di bajunya, ia pun melangkahkan kaki nya mendekati Sentanu yg masih terpelongo dan mulutnya masih terbuka lebar, ia tidak percaya dengan apa yg dilihatnya, sampai beberapa kali ia mengucek matanya.


" Memang dirimu cukup licik selain kau menggunakan ajian mu , kau pun telah menggunakan senjata rahasia, bagaimana Sentanu, apakah kau bersedia menepati janjimu itu karena aku tidak tewas oleh ajian mu itu,?" tegur Senopati Brastha Abipraya.


Sentanu masih terdiam, ia pun masih merasa heran , mengapa pula senjata rahasia nya tidak satupun berhasil melukai tubuh sang Senopati Pajang itu.


" Sentanu, apakah kau bersedia menepati janji mu itu, ?" tanya Raka Senggani lagi.


" Hehh, apa yg kau katakan tadi,?" tanya Sentanu.


" Bersediakah kau untuk menepati janjimu itu, Sentanu,?" tanya Raka Senggani lebih keras lagi.


Sentanu terdiam, sesungguhnya ia enggan untuk mengaku kalah dan tidak akan memberikan perlawanan lagi serta tidak akan menuntut balas atas kematian Mpu Yasa Pasirangan guru nya itu, tetapi kenyataan yg dihadapannya tidak dapat di pungkiri bahwa Sang Senopati berada jauh diatas nya dalam hal ilmu dan ternyata ajian kebanggaan nya tidak dapat melukai tubuh sang lawan.


Setelah berpikir cukup lama, Sentanu berkata,


" Aku bersedia menepati janji ku itu Senopati Brastha Abipraya,!". ucapnya.


Karena Sentanu merasa tidak akan mampu untuk melawan Senopati Brastha Abipraya ini, sehingga ia merasa tidak ada gunanya melanjutakn pertarungan itu.


" Bagus, semoga tidak ada lagi dendam diantara kita berdua, apakah kau akan tetap mengikuti Pendadaran ini,?" tanya Raka Senggani lagi.


Sambil menatap sekeliling nya , Sentanu seolah tidak akan di terima kembali sebagai seorang calon prajurit karena dirinya telah membuat keonaran di tempat itu, ia berucap lirih,


" Apakah diriku pantas diterima sebagai prajurit Demak ini,?". tanya nya.


Adalah Tumenggung Bahu Reksa yg merupakan orang kepercayaan dari Pangeran Sabrang Lor itu masuk ke dalam lapangan itu seraya berkata,


" Asalkan dirimu tidak mengulangi lagi perbuatanmu seperti tadi, Demak tentu akan sangat senang menerima mu untuk menjadi prajurit, sebagai penanggungjawab atas Pendadaran ini atas nama Pangeran Sabrang Lor, kami akan menerima mu dengan syarat tidak akan mengulangi lagi perbuatanmu itu,!". jelas Tumenggung Bahu Reksa.


" Bagaimana Sentanu, bersediakah kau menjadi prajurit Demak,?". tanya Senopati Pajang itu lagi.


Sambil menundukkan wajah nya , Sentanu menjawab,


" Aku bersedia Senopati Brastha Abipraya, dan aku berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatanku tadi,!" jawabnya..


" Bagus, segeralah kembali ke bangsal masing -masing, karena hari ini kita akan belajar tentang bagaimana taktik untuk menghadapi musuh yg memiliki persenjataan lengkap, dan untuk ini setiap Rangga dan Lurah prajurit segera ke tempat masing -masing untuk memberikan pengarahan, tidak sampai sepekan lagi kita akan berangkat ke Jepara,!" ucap Tumenggung Bahu Reksa.

__ADS_1


Kemudian para prajurit dan calon prajurit Demak itu segera membubarkan diri seraya menuju bangsal masing -masing, karena saat itu ada Pelatihan mengenai Kapal perang dari musuh yg memiliki persenjataan lebih lengkap dan lebih canggih, sedangkan kapal perang dari Demak masih merupakan kapal perang yg biasa, sehingga para petinggi armada laut Demak perlu memberikan arahan agar para prajurit Demak dapat mengatasi lawan jika benturan-benturan terjadi dengan musuh tersebut.


Raka Senggani sendiri berjalan menuju bangsal prajurit dengan di temani oleh Tumenggung Bahu Reksa sendiri.


" Untung ada Angger Senggani, kalau tidak, entah apa jadinya dengan para prajurit Demak ini, dan mungkin banyak calon prajurit yg akan keluar atau malah bersikap seperti yg telah dilakukan oleh Sentanu itu, ". ujar Tumenggung Bahu Reksa.


Sambil berjalan keduanya bercakap-cakap,


" Memang terkadang , jika seorang memiliki ilmu yg cukup tinggi, sulit untuk tidak memamerkan, terlebih di saat seperti Pendadaran kali ini, tentu banyak calon prajurit yg memiliki kemampuan diatas rata -rata bahkan dari seorang prajurit Demak sekalipun, sehingga seperti yg telah di ucapkan oleh Kanjeng Pangeran Sabrang Lor, walaupun memiliki yg tinggi jangan suka untuk memamerkan nya,!" kata Raka Senggani menjawab perkataan dari Tumenggung Bahu Reksa.


" Benar ucapan mu itu Ngger, memang terkadang sulit untuk menguasai perasaan jika kita merasa lebih, baik dalam hal kamukten terlebih dalam hal kadigjayaan, sering kali kita terlupa bahwa diatas langit masih ada langit,,!'' kata Tumenggung Bahu Reksa lagi.


Dan keduanya telah sampai di bangsal keprajuritan dari Demak dan dikhususkn untuk Tumenggung Bahu Reksa atau pemimpin tertinggi dari Pendadaran itu.


" Mari Ngger , silahkan naik ,!" ucap Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Terima kasih Paman Tumenggung," jawab Raka Senggani.


Raka Senggani pun naik ke atas pendopo bangsal keprajuritan yg di peruntukkan kepada sang pemimpin Pendadaran itu , yakni Tumenggung Bahu Reksa.


" Begini angger Senggani, karena kekalahan pada waktu itu, sehingga banyak menewaskan para pemimpin di kesatuan -kesatuan dari armada laut ini, terutama para pemimpin nya, jadi Pamanmu ini berharap kepada Angger Senggani mau membantu masalah kepemimpinan disini, bersediakah Angger Senggani,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Sebenarnya buat Senggani pribadi tidak ada masalah , tetapi Senggani kurang atau lebih tepatnya tidak tahu cara bertempur di tengah samudra, jadi hal ini tentu akan menyulitkan buatku Paman Tumenggung,!" jawab Raka Senggani.


" Kalau masalah itu mudah mengatasi nya, Ngger, nanti secara pribadi Paman dan beberapa Rangga kepercayaan Paman akan memberikan latihan khusus kepada angger Senggani, " jawab Tumenggung Bahu Reksa.


" Baiklah kalau begitu Paman, tetapi ngomong -ngomong kemana Kakang Lintang Sandika, Paman ,?" tanya Raka Senggani.


" Kakak mu itu tidak mau dstang kemari karena ia merasa amat terpukul akibat kekalahan yg di derita oleh pasukan Demak waktu itu," jelas Tumenggung Bahu Reksa.


" Satu hal lagi Ngger, dirimu harus mampu memberikan contoh kepada para calon prajurit itu terutama nya bagi mereka merasa mempunyai kemampuan lebih dari yg lain, " ucap Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Apakah setelah ini kita akan langsung ke Jepara , Paman,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Berapa banyak calon prajurit yg akan di terima menjadi prajurit Demak ini , Paman,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Mungkin diatas lima ribu prajurit , karena Pangeran Sabrang Lor menginginkan armada yg kuat untuk melawan pasukan asing yg ada di Melaka dan Sunda Kelapa itu, beliau menyebut ini perang jihad untuk mengusir bangsa asing dari tanah Nusantara ini,!" terang Tumenggung Bahu Reksa.


Ketika keduanya tengah asyik mengobrol , tiba -tiba masuk seorang prajurit dan langsung menghadap Tumenggung Bahu Reksa.


" Ada apa , Prajurit, ?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Ampun Kanjeng Tumenggung , Senopati Brastha Abipraya dipanggil oleh Raden Abdullah Wangsa untuk dapat datang ke kasatriaan," jawab prajurit itu.


" Bagaimana Ngger , apakah kau bersedia untuk menghadap Kanjeng Pangeran Abdullah Wangsa itu,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Sendika paman Patih, Senggani akan ke bangsal kasatriaan,!" jawab Raka Senggani.


" Silahkan antar Senopati Brastha Abipraya ini untuk menghadap Kanjeng Pangeran ,!" perintah Tumenggung Bahu Reksa kepada prajurit itu.


" Baik Kanjeng Tumenggung, saya akan mengantarkan Senopati Brastha Abipraya untuk menghadap,!" jawab Prajurit jaga itu.


Raka Senggani kemudian berjalan beriringan dengan prajurit itu menuju ke bangsal Kasatriaan.


Meskipun jarak nya cukup jauh, namun bagi kedua orang itu hanya sebentar saja mereka telah sampai.


" Hamba menghaturkan sembah Kanjeng Pangeran, Senopati Brastha Abipraya telah datang , " ucap prajurit itu.


" Silahkan kembali ke tempat mu dan terima kasih, " jawab Raden Abdullah Wangsa.


" Mari Kakang Senopati , silahkan duduk ,!" ucap raden Abdullah Wangsa.


" Terima kasih , Raden ,!". jawab Raka Senggani.

__ADS_1


Seraya ia duduk dekat pangeran Abdullah putra dari Pangeran Sabrang Lor itu.


" Ada apa Raden memanggil saya, ?" tanya Raka Senggani.


" Begini Kakang Senopati , kami di bangsal kasatriaan ini kurang lawan tanding untuk meningkatkan ilmu kami bertiga , jadi atas usul Kakang Arya Wangsa, Kakang Senopati di minta untuk menjadi lawan tanding kami, karena kalau kami sendiri yg akan berlatih terasa tidak ada peningkatannya, meski guru kami menyebutkan telah sangat bagus tetapi kami merasa tidak,!" jelas Raden Abdullah Wangsa.


" Jika memang demikian , saya bersedia Raden untuk sekedar berbagi ilmu, meski saya merasa sangat tidak pantas untuk di bandingkan dengan kalian bertiga , Raden,!" jawab Raka Senggani.


" Baiklah jika kakang Senggani bersedia, nanti biar prajurit jaga yg akan memanggil kangmas Arya Wangsa dan dimas Suryadi Wangsa datang kemari, " kata Raden Abdullah .


Kemudian putra kedua dari Pangeran Sabrang Lor itu memerintahkan seorang prajurit jaga untuk memanggil kedua saudara nya itu.


Tidak terlalu lama , datanglah Raden Arya Wangsa dan Raden Suryadi Wangsa itu.


" Apakah kakang Senopati sudah lama berada disini,?" tanya Raden Arya Wangsa.


" Belum terlalu lama , Raden, " jawab Raka Senggani.


" Apakah kita sudah bisa memulainya kakang Senopati, ?" tanya Raden Suryadi Wangsa.


" Silahkan , Raden , siapa yg terlebih dahulu untuk maju ,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Biar aku saja kakang Senopati ," ucap Raden Arya Wangsa.


" Silahkan Raden, Saya sudah siap ,". ujar Raka Senggani.


" Kakang Senopati tidak usah sungkan, keluarkan segala kemampuanmu, agar kami dapat melihat kemampuan kami,". ucap Raden Arya Wangsa.


" Baik Raden," jawab Raka Senggani.


" Aku akan mulai , bersiap lah kakang Senopati, Hiyyah," teriak Raden Arya Wangsa.


Putra pertama Pangeran Sabrang Lor itu melakukan serangan nya dengan sangat cepat, ia langsung memberikan tekanan pada serangan pertama itu.


Terpaksa Raka Senggani harus berjibaku menghindari serangan itu.


Pukulan yg dilambari tenaga dalam segera di keluarkan oleh Raden Arya Wangsa.


Terlihat benturan dari kedua nya , yg memaksa mereka harus mundur ke belakang.


Memang Senopati Pajang itu hanya meladeni saja , ia tidak berusaha untuk membalas mnyerang , dan hal ini membuat kesal Raden Arya Wangsa yg masih muda itu.


" Kakang Senopati jangan ewuh pakewuh, dan hanya menghindar terus menerus,!" teriak nya kepada Raka Senggani.


" Tidak , Saya bukan nya ewuh pakewuh Raden, karena serangan Raden yg sangat cepat itu membuat sulit untuk balas menyerang,". jawab Raka.


" Kalau begitu kakang Senopati memang perlu untuk dihajar , dimas Abdullah, segera kita keroyok kakang Senopati ini, agar ia mau mengekuarkan kemampuan nya," teriak Raden Arya Wangsa kepada adiknya itu.


" Baik Kangmas,!". ucap Raden Abdullah Wangsa.


Ia pun langsung melesat menuju kedua orang itu. Dan secara bersama -sama dengan Raden Arya Wangsa menyerang Raka Senggani.


Menghadapi kedua putra Pangeran Sabrang Lor itu, mau tidak mau Raka Senggani harus bertarung sepenuh hati meski tidak mengeluarkan tenaga dalam sepenuh nya.


Pertarungan itu tidak seperti sedang berlatih melainkan seperti sedang menghadapi musuh yg sesungguhnya.


Tekanan terus di berikan oleh kedua Pangeran itu , Raka Senggani hanya mampu berlompatan dan sesekali memberikan serangan balasan.


Pada suatu ketika sebuah tendangan Raka Senggani berhasil mendarat telak di dada dari Raden Arya Wangsa , namun sungguh membuat mata dari Raka Senggani terbelalak, karena tendangan itu seperti tidak ada artinya bagi Raden Arya Wangsa itu.


" Gila, ternyata putra dari Pangeran Sabrang Lor ini teramat tinggi ilmu nya, tendangan ku tidak dapat menggoyahkan nya apalagi untuk menjatuhkan nya,!" berkata dalam hati Raka Senggani.


Pertarungan terus berlanjut dan kali ini sebuah pukulan tangan kosong dari Raden Abdullah Wangsa berhasil masuk ke dada Raka Senggani dan harus menerima kenyataannya bahwa tubuh nya harus surut mundur ke belakang akibat pukulan itu.

__ADS_1


__ADS_2