Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 17 Sultan Demak II bag ke sembilan.


__ADS_3

Serangan Senopati Pajang yg mengarah ke kaki dari Ki Klamprah,..dan,..


" Crashhhhh,.."


" Whuuuuutt,.."


" Dhumbhh,.."


Memotong sebelah kanan kaki penguasa Alas Siroban itu hingga putus.


Namun Ki Klamprah sendiri berhasil memukulkan kebutan nya yg seperti buntut kuda itu ke arah Raka Senggani.


Laksana angin prahara pun menerjang sang Senopati Pajang itu.


Diiringi dentuman yg cukup keras,..hingga membuat tubuh Senopati Brastha Abipraya itu terlempar cukup jauh dari arena pertarungan.


Senopati Brastha Abipraya sendiri mengetahui dengan pasti akibat dari hantaman kebutan itu hingga ia mengetrapkan terus aji peringan tubuhnya agar tidak terhempas terlalu keras ke atas tanah.


Begitu dirinya telah berdiri tegak lagi dilihatnya Ki Klamprah tengah mengambil potongan kaki kanannya yg sempat terputus akibat dari sabetan Keris pusaka Kyai Macan Kecubung itu.


Dengan rasa kagum bercampur heran ,.. Senopati Pajang itu dapat melihat dengan sangat jelas sekali bahwa potongan kaki tersebut dapat menyatu kembali dengan sempurna,..semua itu di lakukan oleh Ki Klamprah sang penguasa alas Siroban itu dengan bantuan kebutan yg mirip buntut kuda tersebut.


Hebat,..ternyata senjatanya itu tidak hanya sebagai alat untuk bertarung saja,..tetapi dapat juga sebagai obat penyembuh yg sangat mujarab,.berkata Raka Senggani dalam hati.


" Bagaimana kakang,..biar Aku saja yg menghadapi orang ini,.." teriak Raden Abdullah Wangsa.


Putra Pangeran Sabrang Lor itu nampak tengah memainkan senjata nya yg berupa pedang itu.


" Jangan Adi Wangsa,..biar orang ini kakang yg akan menghadapi,..adi tinggal menonton nya saja,.." sahut Raka Senggani.


Ia terlihat tengah bersiap akan menyerang lagi.


Ketika,..tubuh sang Senopati itu akan bergerak,..


" Tunggu,..."


Teriakan yg sangat keras keluar dari mulut Ki Klamprah,..sambil tangan membuka sebagai pertanda untuk lawannya itu mengurungkan niatnya kembali menyerang.


Raka Senggani tidak jadi melakukan serangan,..ia kembali diam terpaku di tempat nya dan menatap kearah Ki Klamprah.


Sementara orang tua itu kembali berujar,..


" Sudah cukup kita bertarung nya,..Kanjeng Senopati,..aku mengaku kalah,.." ucap nya agak pelan.


" Hehh,.." Raka Senggani berseru heran.


Bukankah tadi ia dapat melihat dengan jelas kemampuan dari lawannya itu,..yg mampu menyambung kembali kakinya yg telah terputus di potong oleh Keris pusaka Kyai Macan Kecubung itu,..bahkan senjata kebutan nya yg sangat ngegrisi itu dapat di pakainya untuk menyambung potongan kaki nya tersebut dengan mudahnya,.. mengapa kini ia mengatakan menyerah,..aneh pikir Senopati Pajang itu.


" Benar Kanjeng Senopati,.aku,..Ki Klamprah menyerah dan tidak akan melanjutkan pertarungan ini,. karena jika aku akan tetap ngotot ,..tentu nyawa ku akan sama nasibnya dengan junjungan kami yg ada di gunung Tidar itu,.." jelas Ki Klamprah lagi.


Mengapa ia tahu bahwa akulah yg telah mengalahkan penguasa Gunung Tidar itu,..kembali Raka Senggani bertanya dalam hati.


'' Dan sebagai bukti nya,..terimalah kebutan ini,.." ucap Ki Klamprah.


Tubuhnya melayang mendekati Raka Senggani yg lagi diam mematung ,..ia merasa aneh dengan sikap penguasa alam jin dari alas Siroban itu.


Setelah dekat dalam jarak dua langkah saja,..Ki Klamprah menyerahkan senjata nya berupa kebutan itu kepada Senopati Pajang,..Raka Senggani.


Walau dengan sikap waspada ,..Raka Senggani menerima pemberian Ki Klamprah itu.


Ia nyaris tidak dapat percaya dengan yg telah dirasakan nya.


Kebutan yg cukup kecil dan sangat pendek tersebut ternyata memiliki bobot yg sangat berat,..sungguh dirinya sedari tadi menganggap remeh senjata tersebut,..akan tetapi rupanya memiliki bobot yg cukup menakjubkan.


Hampir ia mengerahkan seluruh tenaga dalam nya untuk dapat menahan nya.


" Tenang lah,.. Kanjeng Senopati ,..tarik lah nafas mu,..anggap saja benda ini tidak berada di tangan mu,.." sebut Ki Klamprah.


Dan pesannya itu di turuti oleh Raka Senggani,.setelah dirinya menarik nafas cukup dalam kemudian melepaskan nya perlahan,.dan tidak terlalu memikirkan benda yg berada di tangannya itu,..barulah benda tersebut jadi sangat ringan bahkan lebih ringan dari kapas.


Aneh,..benar -benar aneh,..mengapa demikian cepatnya perubahan itu..dari sangat berat tiba -tiba berubah menjadi sangat ringan,..sulit untuk di terima oleh nalar,..berkata dalam hati Senopati Pajang itu.


Ia kemudian menyimpan benda tersebut ke dalam balik baju nya.


" Mengapa dirimu menyerah,..Ki,..bukankah dirimu masih sangat kuat untuk bertarung lagi,..?".

__ADS_1


Itulah pertanyaan yg keluar dari mulut Senopati Pajang itu,..yg merasa aneh dengan sikap penguasa alam jin dari alas Siroban tersebut.


Ki Klamprah memandangi wajah Senopati Pajang itu dari jarak yg sangat dekat,..di lihatnya wajah itu nampak sikap yg polos,.yg tidak di buat -buat,..bahkan dengan pertanyaan nya tadi.


Penguasa alas Siroban itu kemudian menjawab nya,..


" Yang pertama mengapa diriku harus menyerah kepadamu Kanjeng Senopati adalah ,.. sebentar lagi hari akan terang,.. sementara diriku tidak sehebat dari penguasa Gunung Tidar itu,..yg mampu mengurung dirimu di alam kami,.. sehingga kalian dapat bertarung lebih dari satu purnama,." ucapnya.


Ia berganti memandang ke arah Raden Abdullah Wangsa,.dan kemudian ia berkata lagi,..


" Jika diriku akan berhadapan dengan dirimu di saat hari telah terang,..mungkin nyawaku tidak akan terselamatkan seperti yg telah di derita penguasa Gunung Tidar itu,..yg harus kembali terkurung di alam kuburnya,..karena kekuatan diriku akan sangat jauh berkurang jika cahaya mentari masuk ke alam dunia ini,..dan yg kedua ,..mengapa diriku tidak melanjutkan pertarungan ini,..satu sabetan Keris mu tadi telah menunjukkan kepada diriku ,.betapa saktinya dirimu itu Kanjeng Senopati,.sedangkan diriku tidak mampu melukai mu dengan senjata ku tadi,. sedangkan diriku sampai harus mengerahkan kemampuan ku agar dapat membuat bertaut kembali kedua kaki ku tersebut,..itu adalah sesuatu yg mau tidak mau harus ku akui sebagai suatu kenyataan yg patut untuk di pertimbangkan agar diriku tidak menyesalinya,.." jelas Ki Klamprah.


Sambil mengelus -elus janggut nya yg telah memutih semua itu,


" Baiklah Kanjeng Senopati ,..berhubung hari akan berganti pagi,..aku akan pergi meningglkan tempat ini,..maafkanlah atas kesalahan para anak buah ku tadi,.juga para cucuku yg cukup bandel itu,..aku mohon pamit,.." ucap Ki Klamprah.


" Silahkan,..Ki,.."


Itulah yg mampu di ucapkan oleh Raka Senggani.


Sambil menjura hormat,.Penguasa ALas si roban itu melesat meninggalkan tempat itu.


Hanya dalam kedipan mata saja,.dirinya telah lenyap dari tempat itu.


Dan perlahan cahaya mentari pagi masuk mengintip dari dari celah -celah dedaunan.


Raka Senggani dan Raden Abdullah Wangsa dapat melihat jelas tempat itu ketika hari telah terang,.. tidak tampak bekas -bekas pertarungan,..hanya ada beberapa pohon yg nampak condong,.. tetapi jejak kaki di atas tanah yg berair akibat siraman hujan tadi malam tidak terlihat sama sekali.


Aneh,..pikir mereka.


Namun tidak terlalu lama keduanya kemudian memdekati kuda kuda mereka.


" Marilah kita tinggalkan tempat ini,.." ucap Raka Senggani.


Keduanya langsung melompat ke atas punggung kudanya.


Keduanya kemudian menjalankan tunggangan mereka itu dengan perlahan, karena memang jalanannya jadi sangat licin akibat guyuran hujan yg turun dengan derasnya tadi malam.


Mereka tidak singgah di Pedukuhan Grinsing ,.walau saat itu mentari masih menggatalkan kulit.


" Bagaimana dengan para anak buah Ki Sabak Jungkat itu..apakah kita tidak perlu melihatnya kakang,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Kakang rasa tidak perlu adi Wangsa,..nanti setiba di Kotaraja ,.kita akan meminta kepada paman Tumenggung Bahu Reksa untuk mengirimkan salah seorang Prajurit sandi yg akan melihat keadaan mereka,..!" jawab Raka Senggani.


Mereka terus saja melewati Pedukuhan itu,..dan ketika hari hampir malam barulah mereka sampai di sebuah ara -ara yg cukup luas. Disana mereka berdua bermalam.


Baru keesokan paginya melanjutkan lagi kembali ke Kotaraja Demak.


Saat Matahari sudah condong ke arah barat barulah mereka memasuki tapal batas Kotaraja.


Jalanan yg semakin ramai dengan lalu lalang nya orang -orang yg akan kembali pulang ke rumahnya masing -masing.


Ketika terdengar azan Maghrieb dari Masjid Agung Demak. Keduanya memasuki bangsal kasatriaan.


Raka Senggani mengikuti Raden Abdullah Wangsa masuk ke dalam bangsal kasatriaan itu. Karena memang dirinya sudah diangkat oleh Pangeran Sabrang Lor sebagai penghuni bangsal tersebut.


Ketika keduanya telah tiba,..adalah Raden Arya Wangsa dan Raden Surya diwangsa lah merasa gembira sekali.


Bahkan putra bungsu Pangeran Sabrang Lor itu langsung berlari menyambut keduanya dan memeluknya,.seakan mereka sudah berpisah sangat lama.


" Bagaimana keadaan kalian berdua,..kakang,..?" tanya nya.


Setelah ia melepaskan pelukan nya.


" Alhamdulilah...berkat lindungan nyalah kami berdua dapat selamat kembali kemari,..raden.." jawab Raka Senggani.


" Kakang senopati,..aku akan melaporkan kedatangan kalian ini kepada Ramanda sultan,.." ucap Raden Arya Wangsa


" Mengapa terlalu cepat,. Raden.?" tanya Raka Senggani heran.


" Karena beliau telah berpesan ,. jika kalian berdua telah tiba , ia minta untuk segera memberitahukan nya,.." jawab Putra sulung Sultan Demak II itu.


Raden Arya Wangsa pun segera keluar dari Bnagsal kasatriaan,..ia menuju ke bilik orang tua nya yg ada di dalam keraton itu.


Setelah bertemu dengan Ramanda nya dan melaporkan tentang kepulangan dari Raka Senggani dan adiknya Raden Abdullah Wangsa itu kepada Ramandanya,..ia pun segera kembali ke bangsal kasatriaan itu.

__ADS_1


Dirinya sudah sangat ingin mendengarkan kisah dari kedua orang itu. Sehingga langkah kakinya pun di percepat agar lekas sampai.


Di bangsal kasatriaan sendiri,..Raden Surya diwangsa menunggui kedua orang itu ketika mereka tengah membersihkan tubuhnya. Ia menghujani mereka dengan berbagai pertanyaan,..terutama nya kepada kakaknya Raden Abdullah Wangsa.


Sang kakak sampai kebingungan harus menjawab apa atas pertanyaan dari adiknya itu.


Baru setelah keduanya selesai dan sudah bersalin,..mengganti pakaiannya.


Ketiga duduk -duduk sambil menunggu kedatangan Raden Arya Wangsa


Tidak lama berselang Raden Arya Wangsa pun kembali,..dan ikut nimbrung bersama ketiga orang tersebut.


Adalah Raden Abdullah Wangsa lah yg kemudian bercerita tentang pengalaman nya yg untuk pertama kali keluar dari keraton Demak itu.


Ia menceritakan semua yg telah di alaminya itu ,..terutama tentang keadaan di Alas siroban tersebut,..baik saat berangkat maupun saat kembali,..mereka harus berhadapan dengan sebuah keluarkan yg luar biasa,..baik dari golongan manusia terlebih dari golongan jin.


Kedua saudara nya itu sampai geleng -geleng kepala. Mereka mengagumi kehebatan dari senopati Pajang itu,. senopati Brastha Abipraya.


Di tengah keasyikan nya mendengar cerita dari Raden Abdullah Wangsa,..tiba -tiba saja terdengar suara orang yg menegur mereka.


" Hehh,..jangan terlalu ngayawara,..anakmas Abdullah,.." ucap orang itu.


Yang tiada lain adalah Pangeran Sabrang Lor,..atau yg sekarang dikenal sebagai Sultan Demak II. Orang tua dari ketiga Pangeran itu.


" Kami menghaturkan sembah,. Kanjeng Ramanda Sultan,.." ucap Raden Arya Wangsa.


Ia memimpin ketiga orang itu untuk melakukan penghormatan kepada Sultan Demak II itu,..meskipun ia adalah orang tua mereka.


" Ya,..ya,..ya,.. ku terima sembah hormat kalian itu,.." jawab Sultan Demak itu.


Sambil mengangkat tangannya ,.. isyarat agar mereka mengangkat wajahnya.


" Bagaimana keadaan kalian berdua,..anakmas Abdullah dan senopati Raden Hidayat,. ?" tanya nya.


" Hamba ,.. sebelumnya menghaturkan sembah kepada Gusti Kanjeng Sultan,..adapun keadaan kami sangat baik ,..dan ini adalah surat balasan dari Kanjeng Sunan Gunung Jati,.." jawab Raka Senggani.


Ia mengambil gulungan lontar yg di terimanya dari Sunan Gunung Jati kemudian menyerahkan nya kepada Sang Sultan.


Diikuti kemudian dengan haturan sembah dari putranya sendiri yaitu Raden Abdullah Wangsa,..yg menjelaskan kepada Ramandanya itu tentang pengalaman nya selama bepergian,.ia sangat berterima kasih kepada Ramandanya itu karena telah mengutusnya untuk mendampingi Senopati Pajang tersebut.


Kemudian sang Sultan membuka gulungan lontar yg di serahkan oleh Raka Senggani,.perlahan ia mulai membacanya.


Terlihatlah raut wajah nya agak menegang,. kemudian nampak senyum tersungging di bibirnya.


" Hahhh,..ada -ada saja Ramanda Sunan ini,.." sebutnya sambil tersenyum.


Ia kemudian menutup kembali surat tersebut dan langsung bertanya kepada Senopati Brastha Abipraya.


" Apakah dirimu sempat bertemu dengan Gusti Ratu Ayu,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Ampunkan hamba,..Gusti Kanjeng Sultan,..hamba tidak bertemu dengan Gusti Kanjeng Ratu Ayu itu,..hanya Kanjeng Sunan sajalah yg kami temui,.." jawab Raka Senggani.


" OOO,.." seru Sultan Demak II.


Ia melanjutkan pertanyaannya lagi.


" Benarkah yg telah dikatakan oleh Anakmas Abdullah itu,.bahwa di alas Siroban kalian menghadapi hadangan dari kawanan rampok,..?" tanya Sultan Demak II.


" Benar Gusti kanjeng Sultan,..kami memang mendapatkan hadangan dari kawanan rampok dari alas siroban yg di pimpin oleh Ki Sabak Jungkat,.." jawab Raka Senggani.


" Dan kalian dapat mengalahkan mereka,..?" tanya Sultan Demak II.


Raden Abdullah Wangsa lah yg kemudian menjawab,. karena dirinya ingin memuji kehebatan dari Raka Senggani.


" Benar,..Ramanda Sultan,.. kawanan rampok itu berhasil kami kalahkan setelah Kakang Senopati berhasil menewaskan pemimpin nya yg bernama Ki Sabak Jungkat itu,..bahkan pedang nya pun dapat kami rebut,..inilah pedangnya itu,..Ramanda,..!" seru Raden Abdullah Wangsa.


Ia kemudian menyerahkan sebuah pedang yg mereka dapat dari tangan pemimpin rampok alas Siroban itu.


Alangkah terkejut nya hati Sultan Demak itu,..ia mengetahui tentang pedang pusaka itu,. dan pedang itu kurang membawa keberuntungan kepada pemiliknya.


" Hehh,..bukankah pedang ini adalah pedang pusaka Jata ancala,..milik dari Gusti Kanjeng Prabhu Bhre Wirabhumi yg sudah lama menghilang itu, " serunya.


Rasa kaget di campur rasa kesedihan akan pedang itu,..banyak kisah sedih yg melatari pedang yg dahulunya di miliki oleh Raja Pamotan,..dimasa perang paregreg dahulu.


Dan pedang tersebut sudah cukup lama menghilang nya dengan tewasnya sang Prabhu Bhre Wirabhumi di tangan Senopati Majapahit,..Raden Gajah atau Bhre Narapati.

__ADS_1


Banyak orang yg menyebutkan bahwa pedang itu di bawa lari oleh salah seorang selir dari Prabhu Bhre Wirabhumi tersebut,..dan ada juga yg mengatakan pedang tersebut di bawa kembali ke Kotaraja Majapahit,..akan tetapi sampai Demak menjadi kelanjutan dari Kerajaan Majapahit,..pedang tersebut tidak juga di temukan, dan baru kali ini pedang tersebut kembali lagi.


__ADS_2