Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 25 .Merahnya arus Melaka. bag ke sepuluh.


__ADS_3

Setelah kepergian dari Empat Iblis dari Gunung Kendeng itu , Raden Abdullah Wangsa langsung bertanya kepada Raka Senggani.


" Kakang Senopati, siapakah orang dalam istana yg telah menghargai kepalaku seharga Lima ratus kepeng uang emas, dan apa maksudnya dengan mengingnkan kepala ku ini ,?".tanya nya kepada Raka Senggani.


Dan yg di tanya segera menghela nafas nya dalam dalam, sedikit banyak ia telah mengetahui keadaan dalam istana, setelah mangkat nya Pangeran sabrang Lor ramanda dari Raden Abdullah Wangsa ini,. perebutan atas tahta Demak tentu akan berlangsung sampai wisuda Sultan Demak yg ketiga yg menggantikan Kanjeng Sultan Demak yg kedua itu.


Lalu Raka Senggani menjelaskan bahwa Raden Abdullah Wangsa memiliki hak yg sama atas tahta sehingga ia menjadi orang yg paling di buru guna di lenyapkan agar tidak ada.lagi yg memiliki hak yg sama atas kekuasaan di Kerajaan Demak ini.


Dan tentunya orang yg paling memginginkan kepalanya itu adalah orang yg akan berkuasa di Demak, jelas Raka Senggani.


Pemuda desa Kenanga ini menatap jauh ke arah Kotaraja Demak , ia membayangkan bagaimana sulit nya jika kelak ia kembali ke sana , apakah dirinya akan tetap melanjutkan sebagai seorang Senopati Sandi Yuda Demak atau melepaskan jabatan itu dan kembali mengabdi di kadipaten Pajang.


Sang Senopati tampaknya sulit untuk menentukan nya.


Hehhh, biarlah waktu saja yg akan menjawabnya, kata nya dalam hati.


Ia meminta kepada Raden Abdullah Wangsa untuk beristrahat sedang dirinya akan berjaga -jaga di samping nya.


Putra Pangeran sabrang Lor ini menuruti nya , di saat tubuhnya memang cukup lelah , setelah bertarung tadi maka ia pun segera memejamkan matanya.


Sedang di sebelahnya duduk dengan tenang Senopati Sandi Yuda Demak ini, Raka Senggani.


Meski hatinya sangat galau, tetapi ia tetap berusaha untuk tenang. Terlebih nyawa Raden Abdullah Wangsa berada dalam penjagaan nya.


Ingin rasanya ia segera kembali ke desa Kenanga untuk melihat keadaan istrinya Sari Kemuning yg sudah agak lama ia tinggalkan.


Akan tetapi tugas yg di embankan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati ini memang harus ia laksanakan hingga keselamatan dari Putra Pangeran sabrang Lor ini tetap terjaga sebagai satu satu nya yg tersisa dari Kanjeng Sultan Demak kedua itu.


**********************


Sementara itu di Kotaraja Demak sendiri tengah siap melangsungkan wisuda penobatan Sultan Demak yg ketiga setelah di pastikan bahwa Pangeran Sabrang Lor telah gugur di medan perang di tanah Melaka


Dan sebagai pengganti nya adalah Pangeran Trenggana, karena tidak ada lagi yg layak untuk diangkat menggantikan Kanjeng Sultan Demak kedua itu selain dirinya ditambah lagi, Pangeran Sekar seda ing lepen atau Pangeran Surawiyata dari Kadipaten Lasem pun telah tewas , sebagai salah seorang yg memiliki hak yg sama atas tahta Kerajaan Demak ini.


Sehingga dengan bebas nya Pangeran Trenggana melenggang duduk di tampuk pemerintahan dari Kerajaan Demak ini.


Dan seperti biasa nya, sebagai pengganti Pemimpin para Wali yg akan mewisuda Pangeran Trenggana ini adalah Kanjeng Sunan Giri dari Giri kedaton, ia adalah Pemimpin para Wali setelah Kanjeng Sunan Ampel meninggal dunia.


Hampir seluruh para wali hadir dalam acara wisuda penobatan Sultan Demak ketiga ini, yaitu Kanjeng Pangeran Trenggana.


Dengan penuh khidmat Kanjeng Sunan Giri memberikan mahkota Kerajaan Demak dan meletakkan nya di atas kepala Kanjeng Gusti Pangeran Trenggana.


Kemudian Pangeran Trenggana ini setelah diangkat sebagai sultan menggantikan Pangeran sabrang Lor ia pun memakai gelar Sultan Ahmad Abdullah Arifin.


Mulai lah Kerajaan Demak di perintah oleh Pangeran Trenggana atau Sultan Ahmad Abdullah Arifin.


Ia juga merupakan menantu dari Kanjeng Sunan Kalijaga, karena putri Kanjeng Sunan Kalijaga yg bernama Ratu Pambayun adalah istrinya.


Setelah beberapa hari Kanjeng Gusti Sultan Demak ketiga itu di wisuda datanglah pasukan Armada laut Demak yg di pimpin oleh Raden Fatahillah.


Mereka mendarat di Jepara, dan selsnjutnya melakukan perjalanan dengan ber jalan kaki menuju Kotaraja Demak.


Kanjeng Gusti Sultan Demak ketiga ini menerima nya di alun -alun Kotaraja Demak.


Sang Sultan mengucapkan banyak terima kasih atas apa yg telah di tunjukkan oleh para prajurit nya yg telah gagah berani melawan bangsa asing itu, walaupun mereka belum berhasil mengalahkan nya tetapi itu sudah lebih dari cukup atas keberanian yg mereka tunjukkan.


Oleh Sultan Trenggana kemudian para prajurit itu di persilahkan untuk kembali ke tempat nya masing -masing kecuali mereka adalah para prajurit Kotaraja Demak sendiri.


Secara terpisah Kanjeng Sultan menemui Raden Fatahillah.


" Maaf sebelumnya anakmas,..dalam pasukan Armada laut Demak kali ini , sebagai senopati nya adalah kakang Tumenggung Bahu Reksa selain dari kakang Pangeran Sabrang Lor yg menjadi senopati agung nya,..?" tanya Sultan Trenggana.


" Benar yg kanjeng Gusti Sultan katakan itu, akan tetapi sampai saat ini, Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa belum pun mampu untuk memberikan perintah, ia masih dalam keadaan terluka yg cukup parah,.. Kanjeng Gusti Sultan,.." jawab Raden Fatahillah.


Akhirnya Sultan Demak ini dapat memaklumi , ia pun tidak menanyakan hal yg lain lagi, padahal sebenar nya selain dari Tumenggung Bahu Reksa ada lagi senopati Bima Sakti yg bertsnggung jawab atas pasukan ini ketimbang senopati dari Kerajaan Pasai itu.


Akan tetapi sang Sultan Demak ini tentu saja tidak tahu susunan keprajuritan Demak di masa pemerintahan dari Kanjeng Sultan Demak kedua itu, sehingga ia tidak terlalu mmepermasalhkan nya lagi.

__ADS_1


Dan setelah menerima pasukan armada laut Demak ini, Kanjeng Sultan Demak pun menyilahkan kepada raden Fatahillah untuk beristrahat sebelum kembali ke Pasai.


***********


Saat itu di desa Kenanga ,.tampak dua orang tengah memperhatikan kediaman dari Raka Senggani,. keduanya adalah sepasang , laki dan perempuan.


" Jadi kakang memang berniat akan melakukan rencana kakang itu,..?" tanya yg perempuan.


" Tentu, tentu, aku akan tetap menjalankan rencana ku ini terlebih saat ini , si Senggani itu sedang tidak berada di desa Kenanga ini,.." jawab yg Lelaki.


" Akan tetapi, apakah tidak merupakan suatu sikap yg sangat pengecut, jika kita melampiaskan dendam kepada orang yg tidak tahu menahu apa pun juga,.." sela yg perempuan lagi.


" Aku tidak perduli yg penting jika diriku berhasil membunuh pamannya itu , akan membuat hatiku puas, dan mudah -mudahan ia akan mencari kita ,.." ucap yg lelaki.


" Terserah lah , Kang ,..tetapi yg jelas aku tidak akan membantu kakang , aku akan melihat dari kejauhan saja,..dan mengawasi jika kelak ada orang yg akan masuk ke dalam rumah itu,.." sahut yg Perempuan.


" Bagus , itu sudah lebih dari cukup , karena membunuh orang tua itu lebih mudah dari mmebalikkan telapak tangan..." sahut yg Lelaki.


Keduanya pun menunggu siang berganti malam, dan setelah melihat Ki Lamiran yg pergi menuju banjar desa Kenanga maka , yg lelaki pun langsung mendekati rumah Raka Senggani itu.


" Tok."


" Tok "


" Tok,."


" Siapa ..?" tanya dari dalam rumah itu.


" Aku, ki,.." jawab orang itu.


" Aku siapa,..?" tanya Raka Jang lagi.


" Aku utusan Senopati Brastha Abipraya, ada yg ingin kusampaikan kepada Aki atas pesan dari Senopati Brastha Abipraya,.." sahut dari luar.


" Tunggulah sebentar,.." jawab Raka Jang.


" Kreeeeiik,.."


" Heaaaahh,.."


" Craaabhhh,."


" Aaaakkhh,.."


Begitu daun pintu itu terbuka secepat kilat orang yg berada di luar tersebut menyerang sang pemilik rumah, pedang nya bergerak sangat cepat dan segera menembus dada Paman dari Raka Senggani itu.


Lelaki paruh baya ini tidak mampu berbuat apa-apa , tubuhnya segera jatuh ke atas lantai dan berkelojotan sebentar kemudian diam untuk selama nya.


Hahh, tidak sulit kalau ingin menghabiskan nyawa Lelaki tua ini, dan sebaiknya segera kutinggalkan tempat ini sebelum ada orang yg melihat ku.


Lelaki itu segera bergegas meninggalkan kediaman Raka Senggani ini, ia segera menemui teman nya yg perempuan itu dan bersama mereka meninggalkan desa Kenanga ini.


" Rasanya dihatiku sudah cukup puas dengan membunuh Paman dari Senggani itu, ia akan tahu bagaimana rasanya di tinggalkan orang yg kita kasihi,.." kata nya kepada teman nya yg perempuan.


" Tetapi kalau menurut ku itu adalah sikap seorang pecundang , Kakang,." sahut teman nya.


" Pecundang,..apa maksudmu adi,..?" tanya heran kepada teman nya.


" Ya jelas sikap seorang pecundang, karena kakang tidak berani dengan Senopati Brastha Abipraya itu, kakang melampiaskan dendam kepada orang yg tidak ada sangkut paut nya,apalagi orang yg tidak memiliki ilmu silat serta kadigjayaan, tentu dengan mudah kakang dapat membunuh nya,.." jelas yg perempuan.


Lelaki itu tampak terdiam mendengar ucapan dari teman nya itu, memang ia merasa bahwa tindakan nya tadi jauh dari sikap seorang Ksatria, Ahh apa peduli ku , yg penting Senopati Brastha Abipraya itu merasakan apa yg telah kurasakan, katanya dalam hati.


Ia pun memepercepat jalan nya menyusul teman nya itu.


Sedang di desa Kenanga sendiri setelah hari telah larut malam, maka Ki Lamiran segera kembali ke rumah Ki Raka Jang yg ada di pategalan itu.


Dengan tenang nya pande besi desa Kenanga ini berjalan mendekati rumah itu tanpa ada perasaan apa -apa.

__ADS_1


Hingga ia berada di depan pintu rumah tersebut.


Kok aneh, tidak biasanya Raka Jang membiarkan pintu terbuka, mengapa malam ini pintu itu terbuka,.bertanya dalam hati Ki Lamiran.


Ia pun segera membuka pintu itu lebih lebar lagi, dan alangkah terkejutnya ia, dilihatnya tubuh Paman Raka Senggani itu telah terbujur kaku dengan bersimbah darah.


" Ki Raka Jaaaang,..!" teriak Ki Lamiran.


Ia mengambil sebuah lampu dlupak dan segera memperhatikan keadaan dari Raka Jang ini.


Di lihatnya , dada sebelah kirinya terdapat lobang yg cukup besar , bahkan tembus sampai ke belakang.


Dan memang Raka Jang telah meninggal dunia, Ki Lamiran pun mengambil tindakan dengan memukul kentongan dengan nada titir.


Malam yg sudah akan menjelang pagi tersebut di kejurkan oleh suara kemtongan titir yg berbunyi sangat nyaring dan berasal dari rumah Ki Raka Jang.


Ki Bekel dan Ki Jagabaya beserta para pengawal desa bergegas menuju tempat itu.


Sedangkan di rumah Ki Jagabaya sendiri , Sari Kemuning yg masih sempat mendengar suara kentongan titir itu hatinya pun cukup gelisah.


" Biyung,..darimana asal suara kentongan titir tersebut,..?" tanya nya kepada ibunya.


" Entahlah Ndhuk,..mungkin dari rumah suami mu,..!" jawab ibunya.


" Kalau begitu aku harus kesana,.." ucap Sari Kemuning.


" Jangan Ndhukk,..nanti jika Romo telah kembali kita akan tahu darimana asalnya suara kentongan titir tersebut,.." ucap ibunya.


Karena sang ibu melihat bahwa Sari Kemuning sudah agak kesulitan karena perut nya yg semakin membesar itu, ia tidak ingin sesuatu yg buruk terjadi pada anak perempuan nya ini.


Sampai matahari terbit , barulah Ki Jagabaya kembali ke rumahnya, ia segera di cecar berbagai pertanyaan dari anak perempuan nya yg tidak tidur semalaman menunggu kepulangan nya.


" Romo, darimana kah asal suara kentongan titir tersebut,..?" tanya nya.


Ki Jagabaya nampak terdiam, ia agak sulit untuk menjawabnya, belum pun ia berhasil menemukan jawaban nya , Sari Kemuning sudah bertanya lagi,..


" Romo, apakah para pengawal desa Kenanga ini tidak ada yg nganglang sehingga masih ada saja orang orang yg tidak bertanggungjawab melakukan aksinya disini,..?" tanya Sari Kemuning


Kembali Ki Jagabaya terdiam, namun ketika sang istri yg bertanya barulah ia menjawabnya,..


" Kang, sebenarnya apa yg telah terjadi,..?" tanya istrinya.


Ki Jagabaya pun menjelaskan bahwa telah terjadi pembunuhan di rumah kediaman Raka Jang , Paman dari Raka Senggani itu.


" Siapa yg menjadi korabn nya,..Romo,.?" tanya Sari Kemuning.


" Yg menjadi korban nya adalah Ki Raka Jang,..tubuh nya terluka dari dada hingga tembus ke punggung nya, orang yg pertama kali menemukan nya adalah Ki Lamiran ketika ia baru pulang dari banjar desa,.." jelas Ki Jagabaya.


Tangis Sari Kemuning pun pecah, ia mendaptakan perintah dari sang suami untuk mampu menjaga keamanan desa Kenanga, karena akhir akhir ini, banyak mata orang yg tertuju ke desa tersebut guna membalaskan dendam nya dan saat ini ia telah kecolongan.


" Apa yg harus ku katakan kepada kakang Senggani,ia telah memerintahkan ku untuk mampu menjaga keamanan desa ini, namun apa, kini Paman nya sendiri telah tewas tanpa di ketahui siapa pelaku pembunuhan nya," ucap Sari Kemuning.


" Sudahlah Ndhukk,..sabar lah, tenangkan lah dirimu,.semua ini bukan hanya kesalahan mu semata,..kami pun merasa bertanggungjawab atas kematian dari Ki Raka Jang ini,..biarlah kelak jika suami mu itu kelak kembali, aku dan Ki Bekel yg akan menjelaskan duduk permasalahan nya,.." jelas Ki Jagabaya.


Namun hati Sari Kemuning masih pepat, ia pun segera minta diantar untuk melihat keadaan dari Ki Raka Jang untuk yg terakhir kali nya.


Bersama kedua orang tuanya, Sari Kemuning hadir melihat jenazah dsri Ki Raka Jang , dan tidak terlalu lama berselang, kemudian jenazah tersebut segera di berangkat kan ke pemakaman setelah selesai di mandikan dan di sholatkan.


Sekembalinya dari tanah perkuburan , Sari Kemuning kemudian mendekati teman nya Dewi Dwarani, ia kemudian bertanya,


" Rani, kalau menurutmu siapakah pelaku pembunuhan Paman Raka Jang itu,..?" tanya nya pada Dewi Dwarani.


Putri Ki Bekel ini diam tidak menjawab, ia sepertinya tidak ingin teman nya ini jadi salah paham terhadap nya.


" Begini Kemuning,..dirimu jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan , yg jelas pembunuh Paman Raka Jang ini adalah orang yg mendendam terhadap suami mu dan ia tidak berani terhadap nya dan melampiaskan nya terhadap Paman nya atau siapa pun juga yg dekat dengan nya termasuk dirimu dan diriku, jadi untuk selanjutnya kita memang harus meningkatkan kewaspadaan kita, Kemuning,.." jawab Dewi Dwarani.


Putri Ki Bekel ini merasa saat ini mereka berdualah yg diandalkan oleh desa Kenanga setelah kedua kakak mereka bertugas sebagai seorang prajurit sandi Demak.

__ADS_1


__ADS_2