Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 28 Perang Tanding di Bukit Tuntang. bag keenam.


__ADS_3

Mpu Loh Brangsang tidak menjawab ucapan dari Begawan Kakung Turah itu yg telah meledek nya.


Malah ia bergerak mendekati Lelaki tua penguasa Rawa Pening ini.


" Heh, Tua Gila, berkatalah sesuka hatimu, malam ini adalah malam kematian mu dan kedua benda pusaka itu akan menjadi milikku,.ha, ha, ha,..!" seru Mpu Loh Brangsang.


Semua mata memandangi ke arah tempat tersebut , karena tiga tokoh persilatan ini tampaknya sedang memamerkan kemampuan tenaga dalam nya yg sangat tinggi.


Dan kali ini pun penguasa dari Gunung Merapi ini melakukan hal demikian , dari seruan nya inj jelas berusaha untuk merontokkan jantung lawan.


" Heh,.Branang,.jangankan dirimu yg seorang diri datang kemari,.dengan kedua adik seperguruan mu itu pun , diriku tidak akan gentar menghadapi, " balas Begawan Kakung Turah .


" Tidak bisa ,..akulah lawanmu, Tua Gila,..!" teriak Ki Gabluk keras.


Ia merasa di langkahi oleh Mpu Loh Brangsang sehingga membuat dirinya panas. Ki Ajar Sarabaya ini menatap ke arah Mpu Loh Brangsang dengan tatapan tidak senang.


" Sudahlah,.majulah kalian berdua secara bersama sama,.biar cepat selesai urusan ini,..!" tantang Begawan Kakung Turah.


Ia merasa masih mampu untuk menghadapi kedua lawannya ini.


Mpu Loh Brangsang saling berpandangan dengan Ki Gabluk .Mereka merasa di rendahkan jika harus bertarung berpasangan. Padahal nama besar mereka cukup menggaung di tlatah kerajaan Demak ini.


" Kalau begitu , silahkan dirimu saja yang menghadapi nya, nanti kalau dirimu kalah aku yg akan menggantikan nya,..!" ucap Mpu Loh Brangsang.


Ia merasa malu jika harus bertarung mengeroyok Penguasa Bukit Tuntang ini. Dan akhirnya ia rela mengalah.


Toh , jika Si Gabluk ini berhasil mengalahkan si Tua Gila tentu diriku akan lebih mudah untuk mengalahkan nya demikian pula sebaliknya berkata dalam hati Mpu Loh Brangsang.


Ia berusaha menjauhi kedua orang tersebut.


Lantas Begawan Kakung Turah langsung berhadapan dengan Ki Ajar Sarabaya ini dan berkata,.


" Dalam perang tanding kali ini , aku meminta seorang saksi sebagai pengadil,..!" seru Begawan Kakung Turah.


" Apa maksudmu Tua Gila, apakah dirimu memang sudah takut untuk mati, sehingga meminta sebuah permintaan terakhir mu.kali ini.!" seru Ki Ajar Sarabaya.


" Bukan begitu, Gabluk,..kali ini diriku tidak akan main main lagi, bagi siapa saja yang telah kalah jangan berulah lagi sehingga akan berbuat curang, kelak bila habis kesabaran ku maka tidak akan ku beri ampun lagi,..!" jelas Begawan Kakung Turah.


" Apa maksudmu , katakan yg jelas jangan bertele-tele, agar pertarungan ini segera di mulai..!" seru Ki Gabluk.


" Hehh,..!"


Sambil menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya lagi, Begawan Kakung Turah mengatakan,..


" Begini, Gabluk,..jika dalam perang tanding kali ini diantara kita ada yg kalah, entah itu ia pingsan ataupun mati, maka perang tanding ini selesai, dan tidak ada tuntutan dari para murid kalian itu, !" jelas Begawan Kakung Turah.


" Lantas jika dirimu yang kalah bagaimana,..apakah kau akan memberikan kedua benda pusaka tersebut, Tua Gila,..!" ucap Ki Gabluk.


" He, he ,he, jika diriku kalah , kalian bebas untuk melakukan apapun termasuk menggeledah tempat tinggalku , jika kalian menemukannya , kalian dapat mengambil nya, jika memang ada ,..!" jawab Begawan Kakung Turah .


" Baik , aku setuju dengan usulmu itu,..jadi sekarang siapa orangnya yang akan kau tunjuk sebagai pengadil itu, apakah si Branang ini,..?" tanya Ki Gabluk.


" Tidak , tidak ,..bukan si Branang ini, karena ia pun berkeinginan atas kedua benda pusaka itu, jika disini hadir Begawan Semeru Giri,..tentu dialah yang akan kutunjuk sebagai pengadilnya,..sayang tampaknya ia tidak hadir,..!" jelas Begawan Kakung Turah.


" Jadi siapa orang lekas katakan jangan membuat diriku marah,..cepatlah,..!" teriak Ki Gabluk.


" Sabarlah, diriku masih mencari orang yang tepat sebagai pemimpin perang tanding ini dan ia tidak ada niatan atas benda pusaka tersebut,.. bagaimana jika,..!" ucap Begawan Kakung Turah.


Orang tua ini tidak melanjutkan ucapannya , ia melambaikan tangan nya kepada seseorang yg tengah melihat mereka saling berhadapan.


Dan lambaian tangannya ini jelas mengarah kepada Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya ini menjadi kebingungan di buat orang tua tersebut. Ia merasa tidak pantas berada di tempat tersebut guna menjadi pemimpin perang tanding .


" Kemari lah ,..!" seru Begawan Kakung Turah lagi.


Dan kali ini ia memang nampak berharap kepada sang Senopati .


" Sudahlah Senopati Bima Sakti, iyakan saja permintaan dari Begawan Kakung Turah itu, agar pertarungan ini segera di mulai,..!" ucap Lurah Lintang panjer Suruf.


" Akan tetapi bagaimana dengan tugasku ini, Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani.


" Bukankah , Senopati Bima Sakti tidak di perintahkan untuk mengambil benda pusaka tersebut , dan hanya untuk mengetahui nya saja,..!" jelas Ki Lurah Lintang Panjer Suruf.

__ADS_1


" Baiklah ,..Ki Lurah ,. ucapan mu ini ada benarnya,..aku setuju,..!" kata Raka Senggani.


ia pun melesat menuju ke tempat kedua orang tua yg tengah berhadapan itu.


Dan bertambah lah orang yang ada di tengah bukit Tuntang itu menjadi empat orang.


Yang banyak membuat orang terkejut adalah kehadiran dari seorang pemuda yang cukup menggegerkan Demak ini , mereka melihat seorang yg masih berusia muda yang di tunjuk sebagai pengadilnya perang tanding itu.


Sungguh semua orang yang berada di tempat itu tidak menyangka bahwa orang tersebut adalah Raka Senggani dan lebih terkenal dengan gelar Senopati Brastha Abipraya.


"Apakah si Tua Gila ini memang benar-benar sudah gila, Raka Senggani yg ia tunjuk sebagai pengadilnya,..!" seru Raka Yantra .


Ia tampak tidak senang dengan kehadiran saudara sepupunya ini, bahkan kali ini ia memang harus menuntaskan dendam nya atas kematian orang tua nya itu.


Tidak jauh berbeda dengan Raka Yantra, Nyi Sriti Wengi pun tampaknya kurang senang dengan keputusan itu.


Dirinya beranggapan bahwa kali Si Tua Gila sednag mencari orang yang mau diajak bergabung dan membantunya.


" Ahhh, ini akal akalan dari Si Tua Gila ini saja,..!" celetuknya.


Guru dari Tara Rindayu itu memang sangat tidak senang dengan kehadiran pemuda tersebut di tempat ini.


Demikian pula dengan dua orang murid dari Mpu Loh Brangsang , yaitu Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang.


Kedua orang ini merasa kali ini mereka akan dapat membalaskan dendam terhadap orang yang bernama Raka Senggani ini terutamanya Raden Kuda Wira sendiri.


Berbeda dengan Ki Gedangan yg tampak bersama dengan Resi Mundingrata dari Pajajaran.


" Sangat tepat pilihan dari Kakang Argayasa itu,..memang kemampuan dari. Senopati Brastha Abipraya sudah pantas untuk memimpin jalan nya perang tanding ini,..!" ujarnya.


" Apakah dirimu mengenal Pemuda itu , Ki Gedangan ,..?" tanya Resi Mundingrata.


" Sangat kenal Resi, bahkan diriku pernah menjajal kemampuan nya,..!" jawab Ki Gedangan.


" Bagaimana hasilnya,..Ki,.?" tanya Resi Mundingrata lagi.


" Aku kalah ,. Resi,..!" jawab Ki Gedangan.


Sementara itu Si Buta dari bukit Tengkorak tidak memberikan komentar apa pun , kepalanya tampak bergerak ke kiri dan kanan seperti sedang ingin mengetahui sesuatu.


Dan dari sebuah tempat yang agak jauh , ada dua orang yg tengah melihat kejadian yg tengah berlangsung di atas bukit Tuntang itu.


Dengan di terangi cahaya rembulan yg lembut.Tampaknya di tempat tersebut akan segera berlangsung pertarungan tingkat tinggi antara orang -orang yg memiliki kemampuan tinggi pula.


Setelah Raka Senggani berada dekat dengan Begawan Kakung Turah, maka orang tua itu pun segera berkata,.


" Inilah orangnya yang akan memimpin jalannya perang tanding malam ini, diriku tidak ingin ada orang yg akan berbuat curang, jika ia telah dinyatakan kalah , silahkan yg lain maju untuk menggantikan nya,.ia boleh menghentikan pertarungan jika memang di perlukan, misalkan ada yang mengaku kalah dan tidak sanggup lagi melanjutkan perang tanding ini,.!" terang Begawan Kakung Turah.


" Apakah kalian setuju,..?" tanya orang yang bernama asli Argayasa ini lagi.


" Terserahlah ,..yg penting pertarungan ini segera di laksanakan ,..!" sahut Ki Gabluk.


Tampaknya orang tua yg berjuluk Hantu dari selatan ini memang sudah tidak sabar lagi.


Ia terlihat telah mengeluarkan senjatanya yg berupa canggah itu , beberapa kali ia putar di depan dadanya.


" Silahkan Angger, dapat membuka perang tanding ini,..diriku telah siap,..!" ujar Begawan Kakung Turah.


Ia meminta keoada Raka Senggani untuk segera menyatakan perang tanding inj di mulai, sebenarnya Senopati Brastha Abipraya ini agak kebingungan tetapi ia pun segera mengangkat tangannya seraya berkata,..


" Perang Tanding di bukit Tuntang ini di mulai,..!"serunya.


Ia pun menurunkan tangan nya bersamaan itu pula terdengar teriakan yang keras keluar dari mulut Ki Gabluk , orang berjuluk Hantu dari selatan ini langsung melesat dan menyerang dengan ganasnya..,


" Heahhhh,..!"


Senjatanya langsung meluruk ke arah Begawan Kakung Turah,. orang tua ini seolah tidak bergerak ketika serangan itu datang.


Akan tetapi serangan tersebut memang tidak menemui sasaran nya, entah bagaimana, tiba tiba saja si Tua Gila ini telah tidak berada di tempatnya semula.


Tiba tiba saja ia telah berada di belakang dari lawannya ini. Sungguh tinggi ilmu peringan tubuh dari penguasa Bukit Tuntang.


Merasa kehilangan lawan nya , Ki Gabluk segera melompat lagi, ia mengetahui keberadaan lawan nya yg berada di belakangnya .

__ADS_1


Kembali sebuah tusukan dari senjata yang bermata ganda ini terarah ke dada Begawan Kakung Turah.


" Heahhh,..!"


" Traakkk,..!"


Tampaknya kali ini Begawan Kakung Turah tidak ingin bergeser dari tempatnya, ia menyambut serangan itu dengan tongkat yg berada di tangan nya ini dan berbenturan lah kedua senjata tersebut.


Kedua senjata yg tengah di aliri tenaga dalam tingkat tinggi itu segera memantulkan kembali tenaga tersebut,.nampaklah Hantu dari selatan ini masih berada di bawah dari si Tua Gila dari Bukti Tuntang ini, terbukti tubuh nya harus terdorong ke belakang beberapa tindak.


Sementara itu Begawan Kakung Turah masih kokoh berdiri di tempatnya.


" ******.."


Terdengar sumpah serapah yg di keluarkan dari Ki Gabluk , ia tidak dapat menerima atas kekalahan dirinya dalam sial tenaga dalam , meskipun dirinya sudah beberapa kali bertarung dengan lawannya ini,..tetap saja ia masih kalah darinya dalam hal tenaga dalam.


Tak ayal lagi, Ki Gabluk kembali menyerang dengan sangat cepat lagi.


" Hiyyahh,..!"


Mata canggah nya segera mengurung Begawan Kakung Turah yg tampaknya tenang tenang saja.


Memang si Hantu dari selatan ini tidak ingin membenturkan senjatanya lagi,..ia lebih banyak untuk menusuk langsung ke bagian bagian tubuh yang sangat vital dari lawan nya kali ini.


Akan tetapi Ki Gabluk seperti nya sedang lupa berhadapan dengan siapa kali ini, meskipun serangan sangat cepat dan berusaha menghindari benturan senjata , , tetapi dengan mudahnya , Begawan Kakung Turah memapasi serangan nya itu sehingga kembali benturan pun harus terjadi, dan untuk kesekian kalinya Hantu dari selatan ini pun harus terlempar menjauhi tempat tersebut.


Ki Gabluk terus berusaha meningkatkan kecepatan nya agar dapat menembus pertahanan lawan nya ini , sehingga pada malam yg mendekati pada puncaknya, kedua orang tersebut sudah seperti burung elang yang bertarung di udara.


Kedua tokoh persilatan ini memamerkan ilmu peringan tubuh mereka yg benar benar mumpuni.


Sehingga lesatan dan kelebatan mereka ini sangat sulit untuk di tangkap mata biasa.


Raka Senggani yg berdiri tidak jauh dari arena perang tanding kali ini, hatinya berdecak kagum akan kehebatan kedua orang tua ini.


Karena kemampuan mereka yg benar benar di luar nalar,..mereka berdua dapat memindahkan tubuhya sesuka hatinya.


Namun sejauh ini belum satu pun serangan Hantu dari selatan ini yg mampu menembus pertahanan yg di bangun oleh Begawan Kakung Turah itu.


Memasuki pada jurus ketiga puluh, malah keadaan berbalik,..pada suatu saat, telapak tangan kiri dari Begawan Kakung Turah mendarat telak di dada kanan Ki Gabluk.


Sentuhan ini mengandung tenaga dalam yang tinggi, dan melemparkan kembali tubuh Ki Gabluk .


Hantu dari Selatan ini jatuh ke atas tanah , ia berusaha untuk bangkit meski dirasakan nya dada sebelah kanan terasa sangat sakit.


" Hufhhh,..!"


Kedua tangan Ki Gabluk diangkat tinggi tinggi ke udara, ia berusaha untuk memulihkan pernafasannya yg sempat tersendat.


Setelah merasa baikan, Ki Gabluk kembali memutar canggah nya dan kali ini ia pun akan melepaskan ajian nya guna mengalahkan lawan nya ini.


" Heahhhh,..!"


" Dhumbhh,..!"


Selarik cahaya merah meluruk ke arah tubuh Begawan Kakung Turah, dan bersamaan itu pula Ki Gabluk melesat kembali sambil melesakkan senjatanya, sementara tangan kirinya melepaskan pukulan jarak jauhnya.


" Gila,..!" seru Begawan Kakung Turah.


Penguasa Bukit Tuntang ini segera melompat guna menghindari serangan tersebut.


Sambil ia turut pula memutar tongkatnya,


Dan anehnya saat tongkat itu d putar oleh Begawan Kakung Turah, maka angin segera menderu kencang . Serangan yg dilepaskan oleh Ki Gabluk seperti tengah mengahadapi benteng yg tidak dapat di tembus. Serangan nya malah membalik kepada si pemiliknya membuat Ki Gabluk harus berlompatan pula menghindari serangan nya yg membalik tersebut.


Akhirnya jarak kedua orang yg tengah bertarung ini kembali menjauh.


" Apakah dirimu akan menyerah Gabluk,..?" tanya Begawan Kakung Turah.


" Hehh , aku tidak akan meneyrah sebelum kedua benda tersebutjatuhke tanganku ,.Tua Gila,..!" jawab Ki Gabluk.


" Hehh, Gabluk , jangan mengusik batas kesabaran ku,..jika memang dirimu tidak berniat menghentikan niatmu itu, jangan salahkan Aku jika akan menjatuhkan tangan terhadap mu,..!" seru Begawan Kakung Turah.


Nampak perubahan yang drastis dari Begawan Kakung Turah ini, setelah bertarung sekian lama tampaknya mengubah sikap dari orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2