Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 8 Pendadaran bagian ke enam


__ADS_3

Sementara di Kota Raja Demak sendiri sekira tiga ribu calon prajurit yg akan di terima sebagai prajurit baru seperti nya sedang bersiap di berangkatkan ke Jepara, sebagai kawah candra di muka bagi armada laut Demak itu.


Kali ini pemimpin para calon prajurit itu adalah Tumenggung Bahu Reksa dan beberapa Rangga kepercayaan nya.


Sebelum di lepas, Pangeran Sabrang sebagai Panglima tertinggi sempat memberikan sesorah dihadapan para calon prajurit itu.


" Untuk kalian semua, jika berhasil melewati tahapan Pendadaran kali ini tepat nya di Jepara , maka kalian semua berhak menyandang predikat sebagai prajurit Demak, dan khusus kali ini, tempat nya memang di Jepara guna menjadikan kalian semua tangguh di lautan, karena wilayah lautan kita ini sangat luas jadi merupakan kewajiban kita untuk menjaga nya,!". terdengar kata kata dari Pangeran Sabrang Lor.


Ia kemudian melanjutkan lagi,


" Karena bangsa asing telah menginjak -injak harga diri kita, sudah sewajarnya kita melawan terlebih Melaka dan Sunda Kelapa telah jatuh ke tangan mereka yg merupakan orang kafir, kita harus membela saudara kita yg ada di Melaka dan Sunda Kelapa itu, karena selain masih dalam wilayah Nusantara, mereka pun seagama dengan kita,!" jelas Pangeran Sabrang Lor.


" Jadi menjadi tugas kita semua untuk menjaga tanah air, tumpah darah kita ini, dan jika saudara kita memerlukan bantuan sudah menjadi kewajiban kita untuk membantu mereka, jadi pesanku sebagai Panglima tertinggi Demak ini, berusaha untuk dapat menjadi prajurit Demak ini, karena ini adalah tugas yg mulia, selamat berjuang,". seru Pangeran Sabrang Lor itu.


Ia pun melepaskan kepergian calon prajurit Demak itu dengan memukul sebuah gong.


Resmi lah para calon prajurit itu berangkat ke Jepara guna menyelesai kan Pendadaran akhir untuk menjadi prajurit Demak dalam armada laut.


Keberangkatan itu di bagi dua tahap , tahap pertama yg di dalam terdapat para prajurit Pajang yg di pimpin oleh Senopati Brastha Abipraya itu berjumlah Tiga ribu orang dan pada tahap kedua berjumlah dua ribu orang.


Iring -iringan itu berjalan dengan sangat cepat menuju ke Jepara.


Ketika lewat tengah hari sampai lah iring -iringan itu di kota Jepara, dan mereka di tempatkan di barak keprajuritan dari Kota Jepara itu.


Tepat di tepi laut jawa. Nampak ribuan calon prajurit itu beristrahat sambil menikmati semilir nya angin pantai di sore hari itu.


" Bagaimana Ngger, apakah Angger Senggani sudah pernah ke laut,?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Belum Paman Tumenggung, baru kali ini Senggani ada di laut,!" jawab Raka Senggani berterus terang.


" Jadi seperti yg telah kita bahas di Demak kemarin, sebagai prajurit dari armada laut ini yg di utamakan adalah kepandaian berenang dan menyelam,!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.


" Apakah kemampuan ilmu silat tidak di pergunakan disini , Paman Tumenggung,?" tanya Raka Senggani.


" Ahh, setiap yg namanya prajurit harus memiliki kemampuan bela diri yg mumpuni hanya bedanya di sini kita harus memperhitungkan jarak musuh dengan kita, kalau bisa kita dapat mencapai kapal musuh tanpa di ketahui oleh musuh itu sendiri, !". ujar Tumenggung Bahu Reksa.


" Bagaimana caranya Paman, ?". tanya Raka Senggani.


" Ya, dengan menyelam sambil berenang, dengan cara itulah kita dapat mencapai kapal musuh tanpa harus di ketahui oleh lawan, terutama di saat gelap, jadi sangat di utamakan kemampuan berenang dan menyelam di pasukan ini, besok akan ada pelatihan hal itu, yg akan di pimpin oleh Rangga Jala Sumpena." jawab Tumenggung Bahu Reksa lagi.


" Dan juga kemampuan kita dalam membuat sebuah perahu atau apa pun itu untuk dapat menahan kita tidak tenggelam di lautan, semisal kapal kita pecah dan Karam, namun buat angger Senggani hal itu tidak akan sulit karena dengan ilmu peringan tubuh dan tenaga dalam yg sangat tinggi , dengan sebuah papan kecil pun tentu Angger dspat berenang ke tepian,!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.


" Senggani semakin penasaran dengan yg paman bicarakan ini, nampak nya perang di lautan itu lebih sulit dari perang di daratan,!" ujar Raka Senggani.

__ADS_1


" Memang sangat sulit Ngger, jika kita tidak mampu berenang, jadi pada Pendadaran kali ini kemampuan renang itulah yg paling utama untuk di jalani, sehingga ketiga ribu calon prajurit ini telah lulus dalam hal itu, baru dapat di bawa kemari, besok mungkin ada sepuluh kapal kelulus yg akan di bariskan dalam jarak tertentu, nanti para calon prajurit akan di suruh berenang untuk mencapai nya," ucap Tumennggung Bahu Reksa.


" Apakah angger Senggani merasa takut,?" tanya Tumennggung Bahu Reksa.


Tumennggung Bahu Reksa menanyakan hal itu setelah di lihat nya Raka Senggani terdiam dan memandangi lautan luas.


" Sebenarnya bukan takut Paman Tumennggung tetapi perasaan was -was , jangan -jangan nanti Senggani gagal dalam ujian kali ini," jawab Raka Senggani.


" Satu hal lagi yg perlu Angger Senggani pahami adalah arah angin, karena nanti kita akan bertumpu pada angin yg bertiup guna menggerakkan kapal selain dayung, sebagai seorang senopati , kita harus memahami arah angin ini, jika tidak, akan sama saja bunuh diri,!". ungkap Tumennggung Bahu Reksa.


" Mengapa bisa begitu Paman Tumennggung,?" tanya Raka Senggani.


" Ya, jika kita tidak dapat memahami angin yg bertiup, tentu kita tidak dapat mengendalikan kapal yg kita tumpangi, boleh kapal kita akan berlayar ke tempat musuh tanpa dapat kita tahan, sehingga dengan mudahnya musuh akan menghancurkan kita," jelas Tumennggung Bahu Reksa.


" Itulah hal - hal utama yg harus kita pelajari disini, Ngger, mungkin besok Angger Senggani sendirilah yg pertama akan memberikan contoh untuk dapat mencapai lima buah kapal kelulus itu dengan berenang, baru nanti setelah nya akan di lanjutkan bagaimana cara mengemudikannya ke tengah lautan dengan menggunakan layar, " kata Tumennggung Bahu Reksa lagi.


" Senggani harus banyak belajar kepada Paman Tumennggung dalam hal mengemudikan kapal itu, karena hal pertama untukku , Paman,, " ucap Raka Senggani.


" Baik ,ngger, mari kita ke kapal itu,!" ajak Tumennggung Bahu Reksa.


Keduanya kemudian mendekati sebuah kapal berjenis kelulus, kapal atau lebih tepatnya sejenis perahu kecil semacam sekoci yg berfungsi untuk mendaratkan pasukan atau prajurit ke pantai.


Kemudian Tumennggung Bahu Reksa melepaskan ikatan tali dari dermaga yg ada di Jepara itu.


Keduanya kemudian melompat keatas perahu itu dan Tumennggung Bahu Reksa kemudian mengarahkan perahu tersebut untuk mengarah ke tengah lautan, Raka Senggani di perintahkan Tumennggung Bahu Reksa untuk membentangkan layar yg tidak terlalu besar itu , sehingga dengan perlahan -lahan perahu melaju makin lama makin cepat seiring kencang nya angin bertiup.


" Demikianlah Ngger, karena hari ini telah malam dan cuaca saat ini pun kurang mendukung sebaiknya kita kembali dan batas dari Pendadaran besok pun telah jauh kita lampaui, bagaimana menurut mu, Ngger,?". tanya nya kepada Raka Senggani.


" Suatu pengalaman yg sangat -sangat luar biasa Paman, ternyata berlayar di tengah lautan itu sangat menyenangkan apalagi saat -saat sore seperti tadi, sungguh indah dan menakjubkan, dan juga segala ilmu yg telah paman berikan itu membuat diriku terasa sangat kecil di banding dengan kekuasaan dari sang Maha pencipta, ternyata ilmu yg ada pada diriku ini Paman tidak ada artinya, sangat kecil bahkan kecil sekali, Senggani berterima kasih Paman Tumennggung,,". jawab pemuda itu.


Ia merasa bersyukur telah di pertemukan dengan Tumennggung Bahu Reksa tersebut, banyak ilmu yg di dapatnya.


Setelah menambatkan kembali perahu nya , Tumennggung Bahu Reksa dan Raka Senggani kembali ke barak keprajuritan yg ada di Jepara itu.


Mereka kemudian beristrahat setelah seharian melakukan perjalanan dari Demak menuju ke Jepara serta melanjutkan untuk berlayar beberapa lama untuk memberikan arahan kepada Raka Senggani. Keduanya pun cepat terlelap, sehingga ketika azan shubuh telah berkumandang barulah kedua nya terbangun dan menjalankan perintah yg Maha kuasa itu.


Setelah nya kemudian para pemimpin Pendadaran calon prajurit itu telah bersiap di dermaga diikuti oleh para calon prajurit itu.


Tersebutlah untuk pertama kali nama Raka Senggani yg akan memberikan contoh bagaimana untuk dapat mencapai perahu -,perahu yg telah tersusun itu dalam jarak yg telah di tentukan.


" Kami mintakan kepada Senopati Brastha Abipraya untuk dapat memberikan contoh bagaimana cara untuk mencapai perahu -,perahu itu, dan nanti bagaimana cara mengemudikan nya di perahu yg terakhir,!" seru Rangga Jala Sumpena.


Raka Senggani kemudian maju mendekati tepian dermaga itu, setelah di berikan isyarat dari Rangga Jala Sumpena ia pun melompat ke dalam air dan mulai berenang dengan cepat menuju perahu yg pertama mendapati perahu yg kedua Raka Senggani mengerahkan tenaga dalam nya untuk lebih cepat sampai , sehingga pada perahu yg terakhir ia telah mencapai nya dalam sekejap saja.

__ADS_1


Seperti yg telah diajarkan oleh Tumennggung Bahu Reksa ia pun mengangkat sauh perahu tersebut dan kemudian membentangkan layar nya seraya mengarahkan ke tengah laut menuju batas yg telah di tentukan para pemimpin pasukan itu.


Semua itu di kerjakan oleh Raka Senggani dalam waktu yg sangat singkat seakan ia memang telah paham dengan semua yg dilakukan nya.


Tumennggung Bahu Reksa sampai bertepuk tangan Melihat keberhasilan anak angkat nya itu.


" Hebat, memang hebat tidak percuma Kanjeng Sinuwun d Kanjeng Adipati memberikan kepercayaan yg lebih kepada dirimu itu, Ngger,!" ucap nya.


" Maksud Paman, ?" tanya Raka Senggani.


" Benar, gelar Senopati yg ada di pundakmu itu memang sangat pantas untuk di sematkan, mungkin cuma dirimu sajalah yg mampu melakukan hal ini , nanti Kanjeng Pangeran akan ku beritahu, bahwa dirimu sangat layak memimpin armada ke Melaka dan Sunda kelapa pada perang selanjutnya, dirimu pun sangat memahami ke arah mana angin bertiup, hanya orang yg berpengalaman saja yg mampu melakukan nya," ungkap Tumennggung Bahu Reksa.


" Ahh, paman Tumennggung terlalu memuji, dan lagi pun semua itu atas petunjuk dari Paman sendiri, " jawab Raka Senggani.


Sambil menyeka keringat nya ia melepaskan pandangan nya ke arah lautan luas dan tampak para calon prajurit Demak itu sangat kesulitan untuk berenang mencapai tempat perahu terakhir, ia memang merasa bersyukur telah memiliki sedikit ilmu dari Tumennggung Bahu Reksa ditambah dengan kemampuan tenaga dalam nya yg sangat tinggi sehingga ia dapat menyelesaikan nya dengan mudah.


" Memang Paman memberikan arahan kepada mu, Ngger, tetapi kemampuan Angger mengatasi tantangan itu dengan sangat cepat merupakan hal yg luar biasa untuk seorang yg hidup nya di gunung yg tidak pernah bersentuhan dengan laut, itu hal yg luar biasa, mungkin Angger Senggani esok telah dapat kembali ke Pajang , setelah melapor kepadae Kanjeng Pangeran Sabrang lor di Kotaraja Demak,!" jelas Tumennggung Bahu Reksa.


" Terima kasih Paman Tumennggung, memang rasa -rasanya sudah sangat rindu untuk kembali ke Pajang," jawab Raka Senggani.


" Memang semuanya tergantung dari Kanjeng Pangeran sendiri, aoakah Angger Senggani dapat di izinkan kembali pulang atau tidak , karena memang semua keputusan tergantung kepada nya, bahkan untuk membangun armada ini , ia tengah menyiapkan sekira dua belas ribu prajurit di tambah ratusan kapal perang , Jung jawa mencapai ratusan dan beberapa kapal penjajap, lancaran dan juga kapal kelulus itu, " jelase Tumennggung Bahu Reksa.


" Sangat banyak sekali Paman Tumennggung , apakah Kanjeng Pangeran memang ingin menghancurkan pasukan asing yg ada di Melaka dan Sunda kelapa itu,?" tanya Raka.


" Memang demikian lah kira nya, Ngger, mengingat kekalahan kami tempo hari, ia berniat untuk membalasnya dengan kekuatan penuh, agar bangsa portugis yg ada di sana dapat diusir dari tanah nusantara ini,!". ungkap Tumennggung Bahu Reksa.


" Sungguh suatu armada yg sangat besar, bahkan mungkin lebih besar dari armada laut yg di bangun saat Majapahit masih berdiri,!" seru Raka Senggani.


" Mungkin benar katamu itu, Angger Senggani, tetapi mungkin juga salah " jawab Tumennggung Bahu Reksa.


" Mengapa demikian paman,?" tanya Raka Senggani.


" Ya, karena di zaman kerajaan Majapahit dahulu pun armada Kebo anabrang yg ke swarna dwipa pun cukup besar , demikian pula Armada yg di bawa oleh Mahapatih Gajah Mada pun cukup kuat saat menaklukan mancanegara, " jawab Tumennggung Bahu Reksa.


" Mungkin juga, tetapi saat ini , armada Kanjeng Pangeran Sabrang lor yg terbesar, Paman, ". kata Raka Senggani.


" Kanjeng Pangeran terisnpirasi dengan ke tokohan dari Raka Sultan Muhammad al Fatih yg telah berhasil menaklukan kota Konstantinopel dengan armada yg sangat besar dan kuat, bahkan beberapa bagian dari kapal -kapal ini meniru dari Kapal Perang dari buatan negeri Turki itu, termasuk lapisan dalam kapal nya,!" jelas Tumennggung Bahu Reksa.


" Apakah Demak akan mampu mengatasi bangsa asing itu, Paman ,?". tanya Raka Senggani lagi.


" Mungkin iya, mungkin juga tidak,". jawab Tumennggung Bahu Reksa.


" Mengapa begitu Paman,?" tanya sang Senopati.

__ADS_1


" Ya setelah karena armada musuh pun lebih kuat di barengi persenjataan yg lengkap dan canggih, kita akan mampu memenangkan peperangan kali ini jika ada pertolongan dari Yang Maha kuasa,!" tutur Tumennggung Bahu Reksa.


Raka Senggani mnggut -manggut mendengarkan penjelasan itu.


__ADS_2