
Sepekan sudah berlalu, tampaklah dua ekor kuda yg di taunggangi oleh sepasang muda mudi memasuki Kotaraja Demak.
Sesampainya dalam kota keduanya langsung menuju ke kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa.
Langkah langkah kaki kuda tersebut berhenti saat tiba di halaman rumah sang Tumenggung.
Dari dalam nampak datang dengan cukup tergesa gesa seorang yg sudah melewati usia paruh baya namun memeiliki tubuh yg tegap dan gagah , yah dialah Tumenggung Bahu Reksa, seorang yg paling bertanggung jawab atas seluruu Prajurit Demak.
Ia lah panglima tertinggi armada pasukan Demak dan merupakan orang kepercayaan dari kanjeng Sultan Demak sendiri.
Begitu melihat tamu yg datang adalah anak angkatnya sendiri, sang Tumenggung Bahu Reksa langsung memeluk erat.
" Apa khabarmu, Ngger,..?" tanya nya.
" Baik, Paman Tumenggung,..!" jawab Raka Senggani.
" Dan bagaimana denganmu,.Ndukk,..?" tanya istri Tumenggung Bahu kepada Sari Kemuning.
" Baik, bibi, sangat baik,." jawab Sari Kemuning.
" Mari Silahkan masuk,..!" ajak Tumenggung Bahu Reksa kepada keduanya.
Senopati Sandi Demak ini dan istrinya kemudian masuk ke dalam ruang pendopo rumah itu.
Sejenak mereka semua duduk , oleh seorang pelayan rumah sang Tumenggung mereka di hidangkan makanan dan minuman.
Baru kemudian mereka berbincang mengenai keadaan masing -masing. Telebih untuk Tumenggung Bahu Reksa , yg ingin mendengar langsung mengenai lawatan anak angkatnya ini ke kulon.
" Bagaimana Ngger, keadaan di kulon,..?" tanya nya sambil menyeruput minuman nya.
Raka Senggani lantas menjawab nya,
" Tampaknya kita akan banyak menerima kesulitan Paman Tumenggung, " sahutnya.
" Hehh,.Bagaimana bisa, padahal saat keberangakatan itu adalah tinggal menunggu hasil laporan dari Senopati Sandi Yuda Demak ini,." ucap Tumenggung Bahu Reksa.
Kemudian sang Senopati menjelaskan secara rinci apa yg telah terjadi saat dirinya turun langsung ke wilayah tersebut, jika di daerah kulon mungkin ganjalan kelak jika harus menyerang Sunda Kelapa adalah wilayah Pajajaran yg memeiliki kedekatan hubungan nya dengan bangsa asing itu. Dan jika tujuan nya adalah Kota Melaka adalah lebih sulit lagi, situasi dan keadaan di sana jauh lebih sulit lagi, jika memang Armada yg di kirim kelak tidak mendaptakan bantuan dari pasukan darat, tentu akan sulit untuk memenangkan pertempuran itu, jelas Senopati Sandi Yuda Demak ini.
Dan Tumenggung Bahu Reksa yg mendenagrkan hal tersebut sangat terkejut sekali, ia tidak menyangka bahwa pasukan asing itu sangat kuat di Melaka.
" Ini Angger lihat sendiri atau berdasarkan laporan dari para prajurit sandi yg lain,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.
" Kami lakukan sendiri Paman,..bersama istri dan Lurah Panjer Suruf dan seorang prajurit sandi Demak yg lain kami berhasil menyusup masuk kota Melaka tanpa di ketahui oleh mereka, !" jelas Raka Senggani.
" Hebat, hebat, baru kali ini ada seorang Senopati khusus, yg berani masuk ke wilayah musuh tanpa pengawalan yg ketat, mungkin menjadi suatu pelaja buat para pemimpin , agar mau turun langsung melihat keadaan di daerah secara langsung, seperti juga Kanjeng Gusti Sinuwun yg akan turun langsung sebagai Senopati agung pada perang kali ini, kalian berdua memang sangat cocok,.." ungkap Tumenggung Bahu Reksa.
" Maksud Paman,..?" tanya Senopati Sandi Demak ini tidak mengerti.
" Yeah , dirimu dan Kanjeng Gusti Sinuwun memang sangat cocok , memiliki semangat dan jiwa Petualangan , jadi akan menjadi pasangan yg serasi jika kelak kita memenangkan pertempuran kali ini,." jelas Tumenggung Bahu Reksa.
Hahh..kembali Senopati Sandi Demak ini harus menghela nafasnya jika ia mengingat kekuatan dari pasukan musuh itu , rasanya sangat sulit untuk mengalahkan nya walaupun tidak mustahil mereka dapat di kalahkan, katanya dalam hati.
Pembicaraan mereka selanjutnya mengenai masalah hubungan kekeluargaan apalagi di tempat itu telah hadir Lintang Sandika dan istrinya, yg baru saja melahirkan seorang putra.
Baik Raka Senggani maupun Sari Kemuning sangat gembira mengetahui hal ini.Terlebih ketika kakak angkatnya itu bertanya,.
" Jadi kapan dirimu akan mendapatkan momongan adi Senggani,..?" tanya nya pada adik angkat nya tersebut.
__ADS_1
" Ahh, kalau Senggani terserah kepada yg Maha Kuasa, jika ia berkenan memberikan secepatnya , tentu kami berdua akan senang hati menerimanya,.." jawab Raka Senggani.
Lintang Sandika menanyakan hal tersebut karena melihat istri dari adik angkatnya ini masih tetap melakukan perjalanan mengikuti suami nya, sehingga tentu mereka belum berkenan untuk menerima momongan di sebabkan masih ingin berpetualang.
Sembari mereka melihat bayi ,putra dari Lintang Sandika, pasangan suami istri tersebut kemudian minta izin untuk pamit menghadap Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Sebagai seorang yg memrintahkan nya untuk menyelidiki keadaan di kulon dan di beberapa tempat yg merupakan landasan dari pasukan musuh, sudah sewajarnya dan secepatnya , Senopati Sandi Yuda Demak ini segera melaporkan hasil peneyelidikan nya, agar sang Sultan tidak menunggu terlalu lama.
Malam itu juga, Senopati Bima Sakti di tenani oleh istrinya dan juga Tumenggung Bahu Reksa menghadap Kanjeng Gusti Sultan Demak di bangsal kasatriaan.
Tempat pertemuan yg telah di sepakati oleh Raka Senggani dan Kanjeng Gusti Sultan Demak untuk melaporkan seluruh pengamatan nya kepada Kanjeng Sinuwun.
Setibanya di bangsal Kasatriaan , mereka di sambut oleh seluruh , Pangeran dan para Putra pangeran yg berada dalam bangsal kasatriaan itu.
Umumnya mereka sangat senang sekali atas kehadiran Senopati Sandi Yuda Demak ini.Karena sudah lama mereka tidak bertemu.
Namun tidak lama mereka bercengkerama dengan sang Senopati, tiba -tiba di tempat itu telah hadir Kanjeng Gusti Sultan Demak dengan di iringi oleh dua orang prajurit pengawal.
Hampir seluruh , pangeran dan putra pangeran itu kemudian mengundurkan diri dari tempat tersebut, mereka balik menuju biliknya masing -masing.
Tinggallah para Pangeran putra dari Kanjeng Gusti Sultan Demak ini saja.
Yang lainnya telah balik ke tempat nya masing masing.
" Bagaimana hasil pengamatanmu , Senopati Bima Sakti,..?" tanya Kanjeng Gusti Sultan Demak tanpa tedeng aling aling.
" Ampunkan hamba Kanjeng Sinuwun,.. berdasarkan pengamatan hamba, sungguh kekuatan dari pasukan musuh itu memang sungguh luar biasa,.." ungkap Senopati Sandi Yuda Demak ini.
Sambil ia menjura hormat kepada sang Sultan.
" Jadi bagaimana menurut mu Senopati , rencana apa agar kita dapat memenangkan peperangan kali ini,.?" tanya Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua ini.
" Ampunkan hamba Kanjeng Sinuwun,.." ucap Senopati Sandi Demak ini.
Ia kemudian menjelaskan kepada sang Sultan , jalan satu satunya untuk dapat mengalahkan pasukan musuh itu adalah lewat jalan darat, jika pasukan Demak dan pasukan gabungan yg lain nya dapat masuk ke tanah melayu dan memberikan tekanan lewat belakang , perang dapat di menangkan oleh Demak, akan tetapi jika hanya mengandalkan dari laut, rasanya amat sulit untuk dapat mengalahkan mereka seandainya pun ada bantuan dari Palembang dan Samudra pasai,..jelas Senopati Sandi Yuda Demak ini dengan panjang lebar.
Sebenarnya sang Senopati ingin menunda keberangkatan pasukan ini , sampai dapat di pastikan beberapa orang prajurit Demak ini berhasil di ausupkan dari belakang , sehingga kelak jika terjadi benturan dua kekuatan besar itu , pasukan Demak yg telah berada di dalam dapat mengganggu pasukan asing yg ada dalam benteng itu.
Dan Pasukan itu tidak akan leluasa menembakkan meriam nya ke arah pasukan Demak yg datang dari laut.
Akan tetapi apa yg di inginkan oleh Senopati Bima Sakti ini tidak sesuai dengan kenyataan nya, Sang Sultan tetap saja akan membernagkatkan armada Demak ini dalam waktu beberapa hari ke depan, karena menurut nya , rakyat melayu sudah merasa tertindas sekali dengan hadir nya orang asing itu menjajah negerinya , jadi seceaptnya harus di usir dari sana.
Demikian lah yg di ucapkan oleh sang Sultan , tampaknya keyakinan Kanjeng Gusti Sultan Demak ini dengan kekuatan Armada nya membuat ia lebih percaya diri, tetapi jika mengaca pada penyerbuan pertama kali, pasukan tersebut mengalami kekalahan total, sudah seharusnya ia mmeperhitungkan secara masak , semua usulan yg di terima nya termasuk juga nasehat dari para Wali.
Akan tetapi kali ini. Pangeran Sabrang Lor yg kini telah menjadi Sultan Demak kedua menggantikan Sultan Demak pertama yg telah mangkat itu , tetap akan bernagkat meskipun kekuatan musuh sepuluh kali lipat dari yg sekarang ini, karena itu ia juga meminta kepada seluruh anak anak nya untuk turut serta pula dalam perang kali ini.
Dan ketiga putranya itu menyanggupinya bahkan sangat senang sekali mendapatkan persetujuan dari Ramandanya untuk ikut perang pada kali ini.
Demikian lah, setelah di sepakati oleh para pemimpin tertinggi dari seluruh armada pasukan Demak ini.
Satu purnama ke depan , armada pasukan Demak akan segera berangkat.
Karena semua persiapan nya telah selesai , bahkan saat ini, kapal Jung milik dari sang Sultan telah menjadi lebih baik lagi.
Kapal Jung terbesar milik Kerajaan Demak ini telah mampu menahan serangan-serangan dari meriam musuh pada beberapa waktu yg lalu.
Bahkan kali ini , Apilan nya pun telah ditambahkan untuk menjaga hantaman meriam musuh yg lebih besar lagi.
__ADS_1
Tidak terlalu lama sepasang suami istri itu berada di Kotaraja Demak, mereka akan segera kembali ke desa Kenanga, karena Sari Kemuning merasa tubuhnya kurang sehat semenjak berada di Kotaraja Demak, sehingga ia meminta untuk di antarkan pulang ke Kenanga.
Sang Sultan berkenan memberikan kesempatan kepada Senopati Sandi Yuda Demak ini untuk mengantarkan istrinya kembali.
Dalam perjalanan kembali ke desa Kenanga , Sari Kemuning merasakan sakit di perutnya, ia sering muntah muntah.
" Apakah dirimu telah hamil, Kemuning,..?" tanya Raka Senggani kepada istrinya.
" Entahlah kakang, sepertinya memang demikian,.." sahut Sari Kemuning.
" Alhamdulilah, syukurlah,.." ucap Raka Senggani lagi.
" Ahh,.. kakang Senggani ,.. sebenarnya lah diriku masih kepengen ikut melawat ke tanah Melayu itu , " kata Sari Kemuning.
" Sudahlah , .bukankah kita baru saja dari sana, mungkin lain kali kita akan berpergian sendiri tidak dalam rangka tugas, mudah mudahan kita masih di beri umur panjang,.." ucap Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti ini girang tak terbilang karena kemungkinnanya istri nya tengah mengandung anaknya, suatu kebahagiaan tersendiri hadir di hatinya.
Bahkan perjalanan kembali ke desa Kenanga ini tidak terlalu terburu -buru, keduanya menjalanakan kudanya dengan perlahan.
Hingga lebih dua hari, barulah keduanya tiba di desa Kenanga.
Dalam pada itu di desa Kenanga , beberapa perangkat desanya merasa terjadi keanehan di desa mereka itu .
Beberapa kali hewan ternak mati secara mengejutkan dengan tubuh terkoyak cukup lebar pada lehernya seolah ada yg menggigitnya.
Ketika kedua orang ini hampir tiba di desa Kenanga seperti biasa , Ki Lintang Jaka Belek segera menghampiri Senopati Sandi Yuda Demak ini di tempat biasa ia segera melaporkan apa yg telah terjadi.
" Senopati Bima Sakti semua perintah yg senopati tugaskan telah kami lakukan, kawanan begal Gagak Gangsu itu telah di serahkan kepada para prajurit Pajang, karena menurut kami mereka tidak akan mungkin di bawa ke Kotaraja Demak,." ucap Ki Lintang Jaka Belek.
" Terima kasih , Ki Lurah,..dan kali inj, apakah kalian juga akan ikut berangkat ke kota Melaka ini,..?" tanya Senopati Sandi Yuda Demak itu.
Namun oleh Ki Lurah Lintang Jaka Belek di jawab dengan gelengan kepala.
" Mungkin hanya dirimu sajalah yg akan mewakili dari seluruh prajurit sandi Demak. itu pun karena memang keadaan memerlukan kehadiran mu,." jawab Ki Lintang Jaka Belek.
" Yahh,.. memang tugas prajurit Sandi hanya untuk memberitahukan keadaan musuh. dan setelah itu terserah kepada Sang Sultan yg menentukan langkah -langkah selanjutnya,.." jelas Senopati Bima Sakti.
Sebenarnya para prajurit Sandi Yuda Demak ini bukanlah pasukan pemukul namun cendrung untuk memeberikan berita yg lengkap mengenai situasi dan keadaan baik di dalam maupun manca negara,. walaupun terkadang mereka dapat juga di tugaskan sebagai pengambil keputusan jika itu memang di perlukan dan dalam keadaan mendesak. Seperti yg telah terjadi di Kadipaten Surabaya beberapa waktu lalu.
Ki Lintang Jaka Belek menyebutkan pula bahwa saat ini di sekitaran daerah Pajang sebelah timur ini telah di gegerkan dengan kemunculan sesosok makhluk yg sering memangsa hewan ternak para warga, secara kejam, dengan di hisap darahnya , ungkap Ki Lintang Jaka Belek.
Dari pernyataan nya ini , menyriratkan ada seseorang yg tengah mendalami ilmu hitam dan mencari korban nya di wilayah timur dari Kadipaten Pajang ini.
Senopati Sandi Demak itu merasa tidak ada habis habis nya orang orang yg menuntut ilmu hitam dan sesat, saat mereka di tanah perdikan Boyolangu ketika harus berhadapan dengna seorang pelaku ilmu Rawa rontek, dan sering menumbalkan seorang gadis.
Dan di sebuah pedukuhan dekat Gunung Lawu, kejadian serupa pun pernah terjadi , bahwa ada seorang yg berilmu tinggi dari Blambangan yg melakukan ilmu hitam juga dengan mengisap darah segar dari para hewan ternak, apakah ada kaitan nya dengan orang tersbut ,pelaku nya kali ini, bertanya dalam hati Senopati Bima Sakti ini.
Setelah selesai menjelaskan keadaan di Pajang dan Demak , Ki Lintang Jaka Belek pun pamit undur diri, walaupun ia masih menyempatkan berkata sesuatu sebelum pergi,.
" Sebenarnya ada keinginan kami , bersepuluh untuk mengajak Senopati Bima Sakti keliling dunia,.." ucap nya sambil te senyum.
Karena ia telah mendenagr kemampuan dari Senopati nya itu menggerak kan perhunya dengan sangat kencang.,melebihi laju nya kapal bertiang tiga.
" Hehhh,."
Senopati Sandi Demak ini pun ikut tersenyum mendenagrkan kelakar Lurah prajurit sandi Demak itu.
__ADS_1