
Pertarungan kedua orang itu pun bertambah dahsyat dengan mengerahkan ilmunya masing-masing , nampaklah keadaan mulai terdesak untuk Raka Yantra.
Ajian Lebur Saketi miliknya itu tidak mampu melayani serangan yg di lancarkan oleh Tumenggung Gajah Ludira.
Perwira tinggi Demak itu nampak kokoh dengan ajian Macan Moronya.
" Heahhh,..hhherghh,..!"
Tubuh yg tinggi besar ini terus saja mendekati Raka Yantra yg masih berlompatan guna menghindari serangan lawan.
Jari jari tangan Tumenggung Gajah Ludira mengembang dan mengeluarkan kuku yang tajam serta menghitam warnanya.
Sedangkan warna kedua tangan nya ini telah berwarna merah jingga, apabila orang tersebut mengayunkan tangan nya, selarik cahaya langsung menyambar tubuh lawan, untuk itulah murid dari Mpu Loh Brangsang tersebut memang harus menghindarinya
Ia hanya sesekali saja mampu melepaskan serangan balasan, gerakan dari Tumenggung Gajah Ludira ini teramat gesit dan sangat bertenaga.
Aku harus menguras tenaga nya , berkata dalam hati Raka Yantra, yg terus saja mencoba menjaga jarak dengan lawannya ini.
Memang kali ini ia seperti.kena batunya, entah sudah beberapa kali murid Mpu Loh Brangsang itu membenturkan ajian nya tetap saja Tumenggung dari keraton Demak ini merangsek maju seolah tidak merasakan apa apa.
Bahkan ia dengan sebuah lompatan yang panjang laksana lompatan seekor harimau buas mampu mencakar punggung dari putra Raka Jang ini.
" Hraaghhh,..hiyyah,..!"
" Craaskhh,..!"
" Aaakhh,..!"
Baju dan punggung Raka Yantra robek memanjang , dengan bekas yg tinggal dari lima buah cakaran dan lantas mengeluarkan darah , tubuh pemuda itu pun jatuh terjerembab ke atas tanah, namun dengan sangat cepat ia bergulingan menghindari serangan lanjutan yg di berikan oleh Tumenggung Gajah Ludira.
Perwira Demak ini melompat dan memberikan sebuah tendangan ke arah punggung Raka Yantra, tetapi serangan tersebut luput, karena walaupun pemuda itu merasakan sakit yg teramat sangat di punggungnya ia masih mampu bergerak cepat dan bergulingan agar terbebas dari serangan tersebut.
Tumenggung Gajah Ludira terlihat sangat senang sekali karena berhasil menjatuhkan lawannya ini, sambil tertawa-tawa ia terus saja memburu nya.
" ****** kau senopati Brastha Abipraya, nyawa mu kini berada di tanganku,..ha ha ha,..!" ucapnya.
Semakin ganas saja orang itu menyerang Raka Yantra.
Murid Mpu Loh Brangsang ini berusaha melepaskan diri dengan mengeluarkan aji Lebur Saketi nya.
" Aji Lebur Saketi, heahhh,..!"
" Dhumbhh,..,!"
" Hraaaahhgghh,..heaahh, Macan Moro,..!"
Terdengar balasan dari Tumenggung Gajah Ludira, ia pun mengayunkan tangan nya guna membenturkan kedua ilmu tersebut dan terdengarlah ledakan yang sangat keras.
" Bletaaaaar,...!"
" Ha ,ha, ha, !"
Tubuh Tumenggung Gajah Ludira masih berdiri kokoh , sedangkan tubuh Raka Yantra terpelanting akibat benturan tersebut.
Pembesar kerajaan Demak ini masih tertawa tawa melihat keadaan musuh nya itu yg harus muntah darah akibat benturan yg terjadi.
Sambil memutar kedua tangannya di depan dada , Orang yg bertubuh tinggi besar ini memang berniat untuk mengakhiri hidup lawannya kali ini.
" Memang dirimu di takdirkan mati di tanganku , Senopati Pajang, terimalah ini,... hiyyahh,...!" seru Tumenggung Gajah Ludira.
Ia yg sudah bersiap mengangkat tangan nya dan mengeluarkan ajian nya guna menghabisi perlawanan Raka Yantra.
" Tunggu,..!" seru Raka Yantra sambil mengangkat tangan kirinya.
" Hehh, apakah kau akan menyerah ,.. Senopati Brastha Abipraya,.. dimanakah nama besarmu itu, yg membuat gentar orang menyebutnya, hehh,.?" tanya Tumenggung Gajah Ludira.
" Bukan , diriku tidak pernah menyerah, tetapi tampaknya kisanak ini salah orang , aku bukanlah Senopati Pajang,.. aku adalah Raka Yantra dari warasaba,..!" jelas Raka Yantra.
" He, he ,he , kau ingin mengelabui diriku, bocah, sudahlah jangan banyak bicara lagi , kau memang harus mati di tanganku demi perbuatan yang telah banyak kau lakukan itu,..!" ucap Tumenggung Gajah Ludira.
__ADS_1
Sementara , Lintang Sandika yg berada di sebelah Raka Senggani segera berkata kepada adik angkatnya ini.
" Adi Senggani, apakah dirimu akan membiarkan Tumenggung Gajah Ludira membunuh saudara sepupu mu itu,..,?" tanya nya.
Yg di tanya malah diam saja , memang Raka Senggani masih sulit untuk membantu saudara sepupu nya ini, ia pun berkata pelan,.
" Entahlah kakang Sandika, Senggani belum tahu,..!"
Memang Raka Senggani masih kesal dengan sikap kakak sepupu nya tersebut, yg selalu saja menganggap nya sebagai seorang musuh, padahal ia sudah menjelaskan dan tahu siapa sesungguhnya pembunuh orang tuanya, Raka Jang.
Lintang Sandika yg.melihat saudara angkatnya ini diam saja , maka segeralah ia mengingatkan.
" Adi , jangan biarkan Tumenggung Gajah Ludira itu berhasil membunuh kakak sepupu mu , ini sudah keterlaluan, ia akan membunuh orang yg tidak bersalah, ini tidak bisa di biarkan,..!" ucap Lintang Sandika agak keras.
Raka Senggani yg sempat termangu menatap pada pertarungan itu lantas berkata,..
" Baiklah , Senggani akan menolongnya,..!" sahut nya.
Dan ketika serangan akhir yg akan di berikan oleh Tumenggung Gajah Ludira demi mengakhiri hidup lawannya tersebut dengan melepaskan ilmunya , tiba tiba saja terdengar lah suara yang cukup keras laksana guntur menggelegar di siang bolong,..
" Ternyata seorang Tumenggung yg terhormat masih saja salah melihat orang,..!"
Dan suara itu berhasil membuat urung serangan yg di lakukan oleh Tumenggung Gajah Ludira ini, jantung nya tampak terkena pengaruh suara itu, mendadak tangan nya yg sudah terangkat tinggi itu , langsung turun secara mendadak.
" Hehhh,..!" serunya kaget.
Memang jantung Tumenggung Gajah Ludira ini hampir copot akibat suara yang mengandung ilmu tenaga dalam yang tinggi, padahal saat itu ia tengah menyiapkan seluruh kemampuan nya pada kedua tangan nya yg mengembang , sedangkan Raka Yantra yg menjadi lawan nya tampak pasrah , ia memang sangat kesulitan untuk menggerakkan tubuhnya, dan lukanya pun telah banyak mengeluarkan darah, pandangan mata pemuda ini kabur, dan sudah pasrah dengan semua yang akan terjadi, begitu pun ia masih mendengar suara sayup sayup dari orang yang menolongnya.
Rupanya ilmu Macan Moro yang mengandung racun yg cukup mematikan hingga tubuh lawan yg terkena dari cakaran nya akan lemah perlahan, apalagi jika ia sempat terluka, sungguh hebat ajian tersebut, inilah yg di alami oleh Raka Yantra.
Kembali pada Tumenggung Gajah Ludira yg telah berhasil menguasai dirinya,, pembesar kerajaan Demak ini segera mencari asal suara yang mampu menghentikan upayanya untuk mengakhiri hidup dari Raka Yantra tadi.
" Heii, keluarlah kisanak, tunjukkanlah dirimu jika memang seorang lelaki, ini hadapi aku , Tumenggung Gajah Ludira,..!" seru Tumenggung Gajah Ludira dengan menepuk dadanya .
Nyali nya bangkit seiring menghilangnya pengaruh dari suara yang sempat membuat jantung nya hampir rontok itu.
Tidak menunggu jawaban Raka Senggani langsung melesat ringan dan melayang turun di antara perpohonan yg berada di tempat tersebut.
Ia mendarat dengan ringannya hingga tidak menimbulkan suara pertanda ilmu peringan tubuh Senopati Pajang ini telah mendekati sempurna.
Saat dirinya berdiri tidak jauh dari Tumenggung Gajah Ludira yg membelakanginya berkatalah Raka Senggani,.
" Akulah orang yang kau cari itu,..!" ucapnya pelan.
Namun begitu, tak urung jantung Tumenggung Gajah Ludira seperti sedang di pukul oleh palu yg sangat besar, dengan mengerahkan tenaga dalam nya ia berusaha untuk tidak terjatuh akibat pengaruh dari ucapan Raka Senggani tadi.
Setelah mampu mengatasi keadaan maka Tumenggung Gajah Ludira pun melihat ke arah Raka Senggani yg berdiri tidak jauh darinya.
Tumenggung Gajah Ludira menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki orang yang ada di hadapan nya ini, memang sangat mirip dengan orang yang tadi telah bertarung dengan nya, hanya orang yang saat ini berdiri di depan nya tidak memliki kumis walaupun sedikit.
" Ada apa kau mencariku Tumenggung Gajah Ludira, apa yg telah kulakukan terhadap mu,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Dan kali ini ia memang tidak menguji kekuatan Tumenggung Gajah Ludira lagi, suara yang di keluarkan memang suara biasa saja hingga membuat pembesar kerajaan Demak ini tertawa,.
" Ha, ha ,ha, sebuah pertanyaan yang bagus, Aku , Gajah Ludira memang ingin bertemu dengan mu sekaligus ingin menjajal kemampuan mu yang oleh sebahagian orang menyebutkan dirimu tidak bisa di kalahkan, dan tampaknya hari ini adalah waktunya,..bersiaplah,..ha, ha, ha,..!" seru Tumenggung Gajah Ludira.
Dada nya yg bidang sampai terlonjak naik turun akibat tertawa yg di perdengarkan nya.
Memang dari bentuk tubuhnya yang sangat besar , diyakini bahwa dirinya memiliki tenaga yg besar pula sesuai dengan namanya.
" Jika tidak ada persoalan yang penting untuk apa dirimu mencariku, lebih baik kembalilah ke Demak secepatnya,..!" balas Raka Senggani dengan lantang.
" Ha, ha, ha, kau memang harus di lenyapkan karena akan mengganggu kelanggengan kekuasan Kanjeng Gusti Sultan Trenggana, dirimu terlalu banyak turut campur dalam urusan keraton, sehingga sewajarnya dirimu di lenyapkan dari muka bumi,..ha, ha,ha,.!" kembali Tumenggung Gajah Ludira tertawa tawa.
Meskipun sebenarnya ia tengah berusaha untuk membangkitkan kekuatan nya , akibat tadi dirinya merasa kalah tatkala Senopati Brastha Abipraya tadi menegur nya ,dan dengan tertawa tawa ia pun berusaha untuk mencoba kekuatan lawan melalui ilmu yg sejenis dengan gelap ngampar ini, tetapi tampaknya usaha nya ini tidak berhasil sama sekali, tidak ada perobahan pada diri Raka Senggani yg masih berdiri tegak di hadapannya.
" Sekali lagi ku katakan kepadamu segeralah tinggalkan tempat ini,sebelum batas kesabaranku habis,..!" kata Raka Senggani lagi.
Dan sang Senopati memang telah meraih tongkat berkepala ular , yg kini menjadi senjata andalannya.
__ADS_1
" Hahh , jangan coba menggertak Gajah Ludira, kau memang harus mati di tanganku agar seluruh keraton Demak tenang , terima ini , aji Macan Moro, heahhh,..!" teriak Tumenggung Gajah Ludira sambil melompat.
Kedua tangan nya yg membuka membentuk dua cakar, segera bergerak saling silang dan mengerluarkan dua larik cahaya merah jingga menghantam tubuh Raka Senggani.
" Bletaaaaar,..!"
" Ha, ha, ha, ****** kau Senopati Brastha Abipraya,..,!" seru Tumenggung Gajah Ludira lagi.
Ia yg terus saja bergerak mendekati tubuh Raka Senggani ini merasa sangat yakin bahwa pukulan jarak jauh nya kali tidak meleset lagi, karena ia tidak melihat ada nya pergerakan dari sang lawan hingga membuatnya senang setengah mati.
Akan tetapi begitu dirinya mendarat di dekat tempat berdiri Raka Senggani tadi alangkah terkejutnya orang kepercayaan dari Patih Demak ini, ia tidak melihat tubuh tersebut berada di situ.
" Hehh,..kemana perginya,..!!?" serunya heran.
Ia sampai mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling tempat tersebut tetapi tidak kunjung dapat melihat Senopati Brastha Abipraya.
" Bagaimana Tumenggung Gajah Ludira, apakah dirimu sudah puas,..?" tanya seseorang.
Yg tiada lain adalah Raka Senggani yg telah duduk di sebuah cabang pohon dan tidak terlalu jauh dari tempat tersebut.
" ******* terima ini , hiyyahh,..!" teriak Tumenggung Gajah Ludira.
" Bletaaaaar,..!"
" Braaaaakkkhh,..!"
" Bumphh,.!"
Ia mengarahkan serangan nya ke arah Raka Senggani yg masih duduk pada sebuah cabang pohon tersebut dan hasilnya sangat mengagumkan, cabang pohon tersebut patah dan jatuh ke atas tanah dengan kerasnya .
Namun, kembali ia tidak menemukan tubuh Raka Senggani yg jatuh bersama cabang pohon tersebut.
" Memang hebar ilmu yg kau miliki itu Gajah Ludira, mampu menghancurkan cabang pohon yang sangat besar,..!" ucap Raka Senggani dari arah sampingnya.
" Hehh, lawan aku jika memang dirimu memiliki kesaktian setinggi langit seperti yang di ucapkan oleh banyak orang itu, jangan hanya bisanya menghindar saja,.!" teriak Tumenggung Gajah Ludira murka.
Ia merasa di permainkan oleh lawan nya kali ini, namun sesungguhnya Tumenggung Gajah Ludira tidak mengaca pada dirinya sendiri, bahwa kemampuan lawan memang di atas nya, sejak awal pertemuan tadi ,yg dada nya hampir rontok akibat serangan dari suara yang di perdengarkan oleh Raka Senggani.
Kesombongannya untuk dapat mengalahkan Senopati Brastha Abipraya ini mampu membuat dirinya gelap mata,dengan membabi buta ia melancarkan serangan tiap kali mendengar suara Raka Senggani berbicara.
" Ayo, majulah hadapi aku , jika memang dirimu jantan,..!" teriak Tumenggung Gajah Ludira berkali kali.
Rska Senggani yg sudah merasa puas dengan permainan yang telah di buatnya itu pun berseru keras,.
" Baiklah jika memang itu keinginan mu, terima ini,.. hiyyyahh,..!"
" Dhieghh,.!"
" Dhieghh ,..!"
" Dhieghh,..!".
Tidak tahu dari mana asalnya, tiba tiba saja tubuh Senopati Pajang ini telah memberikan tiga kali tendangan beruntun di dada Tumenggung Gajah Ludira ini, hingga membuat nya jatuh terduduk.
Rasa sesak pada dadanya membuat Tumenggung Gajah Ludira harus berusaha untuk mengatur pernafasannya, ia memang tidak buru -buru untuk bangkit.
Beberapa kali ia memang berusaha membetulkan jalan pernafasan nya yg seperti tersumbat akibat hantaman tendangan keras tadi dan setelah merasa agak longgar, Tumenggung Gajah Ludira pun bangkit berdiri.
" Baiklah, Aku akan mengadu jiwa dengan mu,.. Aku atau kau yg harus mati disini,..heahh,.. hraghhh,..!" teriak Tumenggung Gajah Ludira.
Kali ini dengan mengayunkan kedua tangannya sambil mengeluarkan ajian nya , orang yang bertubuh tinggi besar ini menerjang Raka Senggani.
Kedua tangan nya yg mengembang itu segera mengurung pertahanan Senopati Pajang ini yg tampaknya akan melayani nya dalam perterungan yg rapat.
Saat Cakaran tangan kanan dari Tumenggung Gajah Ludira ini menyasar kepala Raka Senggani, dengan sekali gerak suami Sari Kemuning ini menarik kepalanya ke belakang hingga serangan tersebut lewat di dekatnya dalam jarak setebal jari.
Luput serangan pertamanya , tangan kirinya yg mengembang pula segera menyasar perut lawan nya kali ini, sungguh Tumenggung Gajah Ludira merasa tertantang untuk dapat menjatuhkan lawannya kali ini.
Terlebih ia tahu siapa sebenarnya musuh yang di hadapannya tersebut.
__ADS_1