Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 20 Secercah Harapan. bag ke empat.


__ADS_3

Pada pertemuan di rumah Bekel desa Kenanga tersebut,.Raka Senggani memperkenalkan para tamu dari Kotaraja Demak dengan perangkat dan sesepuh desa Kenanga.


Tidak lupa pula ia memperkenalkan dengan orang yg bernama Ki Gedangan.


Malam itu juga ia berpamitan kepada orang yg ada di tempat itu sebelum besoknya akan berangkat ke Kotaraja Demak.


Dalam pada itu ,.Raka Senggani menanyakan kepada Jati Andara , apa yg menyebabkan dirinya enggan untuk melanjutkan pelatihan di kademangan Kedawung, sehingga sampai datang utusan dari Kademangan Kedawung tersebut.


Oleh Putra Bekel desa Kenanga dijawab bahwa ia merasa malu akan hubungan nya dengan putri Ki Demang yg bernama Savitri.


" Mengapa harus malu kakang Andara,..?" tanya Raka Senggani.


Putra Bekel desa Kenanga itu menarik Senopati Pajang itu agak kegelapan di belakang rumah nya.


Nampaknya ia ingin hanya berbicara empat mata saja dengan teman sekaligus gurunya itu.


Setelah mereka berada agak di belakang rumah tersebut barulah ia mengatakan alasan nya.


Jati Andara menjelaskan bahwa dirinya saat ini memang sudah sangat pantas untuk segera berumah tangga , demikian pula dengan Savitri,.tetapi ada satu hal yg mengganjal niat mereka berdua.


" Apa yg menjadi hambatannya kakang,..?" tanya Raka Senggani.


" Romo,..adi Senggani,.." jawab Jati Andara dengan jelas.


" Ki Bekel,..?" tanya Raka Senggani lagi.


Ia seolah tidak dapat mempercayainya, namun kemudian di katakan lagi oleh Jati Andara,..


" Romo menginginkan diriku untuk menjadi seorang prajurit seperti dirimu,..adi Senggani,.dan ia kurang setuju jika aku harus segera menikah ,..!" jelas nya.


" Aneh,..dimana letak masalahnya,..bukankah menikah itu adalah suatu kelumrahan dan baik dalam pandangan agama,.." sahut Raka Senggani.


" Tidak aneh adi Senggani,..karena Romo memang bercita -cita ingin melihat diriku menjadi seorang yg cukup terpandang dalam keprajuritan di demak ini,.terlebih setelah aku berhasil menjadi murid mu,..adi Senggani,.. kata Romo, Andara dirimu itu telah memiliki modal untuk menjadi seorang prajurit yg tangguh tanggon,. demikianlah katanya,.." ungkap Jati Andara.


" Baiklah kakang,..nanti jika ada kesempatan,..Senggani akan membicarakan hal ini kepada Ki Bekel,..dan kakang Andara sebaiknya tetap melanjutkan upaya untuk mendidik para pengawal dan pemuda Kademangan Kedawung,..jika kelak mereka mendesakmu untuk segera menikahi Savitri , sebaiknya katakan sejujurnya bahwa kakang masih memerlukan restu dari orang tua, " ucap Senopati Pajang.


Kemudian kedua nya kembali lagi masuk ke dalam rumah . Dan bergabung dengan yg lain. Ki Bekel sendiri kemudian menyiapkan sajian yg pantas untuk para tetamu dari Kotaraja Demak.


Malam itu Ki Gedangan mengatakan bahwa ia pun besok akan kembali pulang,.karena tubuhnya sudah merasa baikan.


Sampai lama mereka saling berbincang,..hingga larut malam.


Saatnya kembali ketika terdengar ayam jantan berkokok pada kali pertama.


Sebenarnya keempat orang itu tidak sempat untuk beristtrahat. Mereka langsung berniat untuk berangkat ke Kotaraja Demak, saat setelah selesai sholar subuh.


" Kakang Senopati,.. perjalanan pada pagi hari akan membuat tubuh kita menjadi lebih segar,.." ujar Raden Arya Wangsa.


Demikian lah ,.. kemudian berangkatlah keempat orang dari rumah Ki Raka Jang.


Dengan mmepergunakan Kuda tunggangan nya masing-masing.


Raka Senggani setelah berpamitan kepada penghuni rumah,.dengan mempergunakan sj Jangu,. Senopati Pajang nampak meminpin rombongan menuju Kotaraja Demak.


Di belakangnya ada Raden Arya Wangsa dan Raden Surya diwangsa yg berjalan beriringan. Baru di belakangnya ada seorang Lurah prajurit Demak.


Di lain tempat,..tepat nya di puncak Gunung Merapi. Seorang yg sudah sangat tua tengah menghadapi dua orang anak muda yg sedang duduk bersila.


Dua orang anak muda itu adalah Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang.


Dan di hadapan mereka adalah Mpu Loh Brangsang.


Penguasa Gunung Merapi tersebut sedang berkata kepada mereka,..


" Ngger,.. Eyang harap,.. kalian berdua mampu untuk memimpin padepokan ini, karena eyang akan pergi untuk waktu yg tidak di tentukan,.." ujar nya.


Dan kedua orang itu nampak mendengarkan penuturan gurunya itu.


" Akan kemana eyang perginya,..?" tanya Raden Kuda Wira.


" Eyang memiliki suatu urusan yg cukup penting dan kali ini tidak dapat di ganggu,..oleh sebab itulah kalian berdua eyang panggil datang kemari,.selain untuk menggantikan tugas dari kakang mu Adya Buntala yg telah tewas,..jadi sekarang kalian berdua lah yg eyang harapkan ," jelas Mpu Loh Brangsang.


" Apakah eyang akan pergi dari Merapi ini,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.


" Benar Ngger,..Eyang akan pergi dari sini , jadikanlah padepokan ini lebih baik dari yg sebelumnya dan jika kelak kalian menemui kesulitan ,..cepatlah kalian datang ke satu tempat yg ada di bukit Klangon, tinggalkan berupa pesan disana,.karena eyang sewaktu waktu akan berada disana,.." jelas Mpu Loh Brangsang.


Kedua anak muda itu terlihat menundukkan kepalanya ada perasaan sedih mendengar pernyataan dari gurunya itu.


Kemudian Raden Kuda Wira teringat pertemuan nya dengan seseorang yg mengaku sebagai Ki Gedangan.


" Oh iya,..eyang,..sewaktu kami berada di Pajang telah bertemu dengan seseorang yg mengaku bernama Ki Gedangan, dan ia menyampaikan salam kepada Eyang,.." ucap Raden Kuda Wira.


" Hehhh,.."

__ADS_1


Mpu Loh Brangsang tampak sangat terkejut mendengar nama itu di sebutkan, teringat ia beberapa waktu yg lampau akan seorang yg memiliki kemampuan sangat tinggi dan menantang dirinya untuk berperang tanding.


" Mengapa ia berada disini,..?" tanya Mpu Loh Brangsang.


" Ia sedang mencari seseorang,..Eyang,." jawab Dewi Rasani Mayang.


" Siapa,..?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.


" Senopati Brastha Abipraya, Eyang,.." jawab Raden Kuda Wira.


" Hehh,..Senopati Brastha Abipraya,..untuk apa ia menemui orang itu,.." seru Penguasa Gunung Merapi itu.


Kemudian Raden Kuda Wira menceritakan hal hubungannya mengapa tokoh dari kulon itu sampai harus datang jauh -jauh kemari untuk bertemu dengan Senopati Pajang.


Ia mengatakan bahwa orang itu ingin melakukan perang tanding di sebabkan karena Senopati Pajang itu telah berhasil merebut suatu pusaka perlambang perguruannya.


Hati Mpu Loh Brangsang merasa senang mendengar nya, pada hati kecilnya ia berharap bahwa orang yg bernama Ki Gedangan itu mampu menewaskan Senopati Pajang itu agar sakit di hatinya dapat terobati.


Sudah terlalu banyak ia berhutang nyawa padaku,..mulai dari nyawa adi pundirangan dan Pasirangan, dan kini nyawa angger Buntala dan angger Pinarak,.. Katanya dalam hati.


Terlihat wajah orang tua menegang, ketika nama nama tersebut ada dalam benaknya.


Atau aku sendiri yg harus melakukan nya,.katanya lagi dalam hati.


" Apakah eyang mengenal orang yg bernama Ki Gedangan itu,..?" tanya Raden Kuda Wira.


Pertanyaan dari Raden Kuda Wira ini mmebuyarkan lamunan dari penguasa Gunung Merapi. Ia menganggukkan kepalanya.


" Dahulu eyang beberapa kali melakukan perang tanding dengan orang yg bernama Ki Gedangan itu,.." jelas nya.


" Siapa yg menang, Eyang,..?" tanya Dewi Rasani Mayang.


Tersenyum orang tua yg memakai pakaian ala Resi itu dan berkata,.


" Tidak ada yg menang dan tidak ada yg kalah,.. kedudukan kami berimbang,.." jawab Mpu Loh Brangsang.


Kedua pemuda yg ada di hadapan nya itu saling berpandangan mendengar ucapan dari gurunya.


Demikian lah,. akhirnya secara resmi,..Mpu Loh Brangsang menyerahkan kepemimpinan dari padepokan gunung Merapi itu kepada Raden Kuda Wira dan Dewi Rasani Mayang . Karena tinggal mereka berdua sajalah murid utamanya yg tersisa.


Sementara itu setelah dua hari,..sampailah rombongan Senopati Brastha Abipraya dan Raden Arya Wangsa di Kotaraja Demak.


Mereka langsung menuju ke kasatriaan. Karena memang Raka Senggani di tempatkan di bangsal kasatriaan .


" Ampunkan ananda ,..Ramanda Sultan,..kami datang menghadap,.." ucap Raden Arya Wangsa.


Tampak Kanjeng Sinuwun mengangkat tangannya tanda ia menerima penghormatan putra mahkota nya itu.


Selanjutnya secara berturut -turut,.ketiga orang itu mengahturkan sembah hormatnya kepada penguasa Demak itu.


Kemudian Kanjeng Gusti Sultan mengatakan kepada Senopati Brastha Abipraya agar menunggunya di bangsal kasatriaan. Ada tugas penting yg akan di berikan kepadanya.


Oleh Raka Senggani , ia mengatakan,


" Sendika Dawuh , Kanjeng Gusti Sinuwun,."


Di dalam istana,.hampir seluruh pejabat dan petinggi kerajaan Demak tampak hadir. Utamanya yg membawahi bidang keprajuritan dan keamanan kerajaan.


Ada hal penting yg sedang di bicarakan. Hadir pula di tempat itu Tumennggung Bahu Reksa sebagai panglima armada pasukan Demak.


Dan ketika melihat ada anak angkatnya berada di tempat itu,.hati dari orang Kepercayaan Sultan Demak II itu menjadi senang.


Usai mereka bubar dari sidang paseban itu,..ia pun segera menemui Raka Senggani.


" Bagaimana kabarmu Ngger,..?" tanyanya kepada Raka Senggani.


" Baik paman,..bahkan sangat baik,.." jawab Senopati Pajang.


Ia kemudian mengatakan langsung kepada orang tua angkatnya bahwa ia akan berniat langsung datang ke rumahnya.


Ada sesuatu yg ingin ia bicarakan. Mendengar hal itu Tumennggung Bahu Reksa langsung menanyakan perihal apa.


Akan tetapi Senopati Pajang itu tidak menerangkan maksud, ia malah mengajak nya untuk langsung pulang menuju rumah nya. Dan di setujui oleh Tumenggung Bahu Reksa.


Keduanya meninggalkan istana menuju rumah Sang Tumenggung.


Tiba di rumah nya , Raka Senggani terkejut melihat Kakak angkat tengah berada disana.


" Ehh,..kakang Lintang Sandika,..kapan tiba di demak ini,..?" tanya nya.


Ia merasa senang sekali melihatnya, karena sudah cukup lama mereka berdua tidak bertemu.


" Sudah ada sepekan,..adi Senggani,.." jawab Lintang Sandika.

__ADS_1


" Apakah kakang akan tinggal di Demak ini,..?" tanya Raka Senggani.


" Begitulah adi,..kakang akan tinggal disini guna membantu romo karena saat ini ia tengah banyak kerjanya, apalagi kini tengah giat giatnya membangun armada ," jelas Lintang Sandika.


Selanjutnya putra Tumenggung Bahu Reksa itulah yg menanyakan keadaan dari adik angkatnya.


" Apakah adi Senggani memang sedang ada keperluan disini,..?" tanya nya.


" Benar kakang,..Senggani di panggil datang menghadap oleh Kanjeng Sinuwun ada suatu tugas yg harus dilaksanakan,.." jawab Raka Senggani.


" Tugas apa,..adi Senggani,..?" tanya Lintang Sandika.


" Senggani tidak tahu,..kakang,.." jawab Raka Senggani.


Kemudian keduanya saling melepaskan rindu dengan berbincang cukup lama, barulah Senopati Pajang itu masuk ke dalam.


Berada di dalam barulah ia menerangkan maksudnya kepada Tumenggung Bahu Reksa.


" Begini paman, sebenarnya Senggani ingin mengatakan sesuatu kepada Paman Tumenggung,.." ucapnya.


" Apa yg akan angger utarakan,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


Agak sungkan nampaknya Senopati Pajang itu mengutarakan maksud nya.


" Apa yg ingin angger Senggani katakan , jangan segan,..dirimu sudah paman anggap sebagai anak sendiri.." kata Tumenggung Bahu Reksa.


Barulah kemudian Raka Senggani berani mengutarakan nya,..


" Begini,..paman sebenarnya Senggani ingin melamar Sari Kemuning pada pekan depan tepat hari pasaran,..jadi paman Tumenggung , Senggani harapkan mau mendampingi Ki Lamiran dan Paman Raka Jang,.." terang Raka Senggani.


Tumenggung Bahu Reksa agak terkejut mendengar penuturan anak angkatnya itu. Bahwa ia akam segera melepas masa lajang nya.


Dan hal yg lebih mengagetkan lagi adalah bahwa Raka Senggani telah dapat menerima Paman nya sebagai orang tuanya.


" Paman sangat senang mendengar nya, nanti akan paman usahakan agar dapat hadir ,..dan bagaimana denganmu sendiri ,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Itulah Paman, yg masih mengganjal di dalam hati , Apakah gerangan tugas yg harus Senggani kerjakan itu,..?" tanya Raka Senggani.


Tumenggung Bahu mengatakan tidak tahu, karena Kanjeng Sinuwun tidak memberitahukan hal itu kepadanya.


" Ini adalah tugas sandi ,..Ngger,..dan mulai saat ini dirimu sudah harus terbiasa dengan keadaan seperti ini, jangan pernah bocorkan apa pun yg telah di perinthkan oleh Kanjeng Sinuwun itu , baik kepada orang terdekatmu sekalipun, termasuk dengan paman sendiri," jelas Tumenggung Bahu Reksa.


" Baik Paman,.semua nasehat Paman itu akan Senggani ingat,.." jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang me, Senopati Brastha Abipraya merasa lega setelah mendengar kesediaan dari Tumenggung Bahu Reksa mau jadi salah satu pengganti orang tua nya guna melamar Sari Kemuning, putri Ki Jagabaya .


Pada saat menjelang sore ia kembali ke bangsal kasatriaan, seperti janji Sultan Demak bahwa ia sendri yg akan mengatakan tugas apa yg harus di kerjakan oelh Senopati Pajang tersebut.


Ketika Malam telah menjelang, datanglah Sang Sultan ke bangsal kasatriaan dengan di iringi oleh dua orang prajurit pengawal. Dan mereka berdua tetsp berada di luar ketika Kanjeng Sinuwun itu masuk.


Di dalam ia bertemu langsung dengan Raka Senggani yg saat ini merupakan Senopati Demak bagian sandi.


Tidak terlalu memakai unggah ungguh serta suba sita, Sultan Demak II yg bergelar Senopati Sarjawala kemudian menerangkan apa yg dilakasanakan oleh Raka Senggani.


" Jadi tugasmu dan tugas seluruh prajurit sandi adalah untuk mengetahui secara pasti keadaan wilayah bawahan Demak ini terutama wilayah bang Wetan,." kata sang Sultan.


Yg sebelumnya merupakan adalah seorang yg sangat senang akan peperangan. Sehingga beliau mendapatkan gelar sebagai Pangeran Sabrang Lor dan juga di anugerahi gelar Senopati Sarjawala oleh Sunan Gunung Jati.


Raka Senggani yg di panggil dengan sebutan Raden Hidayat itu hanya diam mendengar penuturan dari junjungan nya itu.


" Selanjutnya secara pribadi dirimu Aku perintahkan untuk turun langsung melihat keadaan kadipaten Surabaya,..lihat apakah mereka memang masih patuh dan tunduk di bawah panji-panji kesultanan Demak atau memang telah berniat untuk memisahkan diri,.jika ada sesuatu yg penting dan sangat mendesak segera laporkan kepadaku,," terang Sang Sultan.


Kemudian ia menyambung kembali ucapannya,..


" Apakah dirimu mengerti ,..Raden Hidayat,..?" tanyanya kepada Raka Senggani.


" Sendika Dawuh Kanjeng Gusti Sultan ,..hamba mengerti,.." jawab Raka Senggani.


" Ingat tugasmu kali ini dalam tugas sandi, jangan melakukan apa pun kecuali atas perintahku,. bekerjasamalah dengan para prajurit sandi yg lain, sehingga kita dapat memastikan keadaan wilayah Demak ini dalam kesatuan nya di bawah panji-panji kesultanan Demak,.." tegas sultan Demak.


Raka Senggani kemudian menanyakan apakah dirinya masih di perbolehkan kembali pulang ke desa Kenanga untuk melangsungkan niatannya untuk melamar gadis pujaan hatinya itu.


Oleh Sang Sultan ia diperintahakan untuk langsung melawat ke bang wetan, tidak perlu singgah lagi di Kenanga.


Menurut Sang sultan tugas ini sudah sangat perlu untuk di laksanakan setelah mendengar banyaknya laporan bahwa sebahagian besar wilayah di timur itu sudah tidak tunduk lagi kepada Kekuasaan Demak.


Jadi ini tidak boleh terjadi,..bila perlu harus segera di padamkan sebelum api itu menjadi besar,..menurut Sang sultan.


Mendengar hal tersebut, hati Raka Senggani agak prihatin juga,..ia memang harus mengedepankan tugas negara dari kepentingan pribadinya.


Demikianlah selaku seorang prajurit, harus tunduk dan patuh terhadap perintah junjungan, pantaslah kakang Jati Andara enggan menjadi seorang prajurit, katanya dalam hati.


Setelah merasa cukup mmeberitahukan tentang apa apa saja yg harus di lakukan oleh Senopati Prajurit sandi Demak itu maka Sultan Demak segera meninggalkan bangsal kasatriaan.

__ADS_1


.


__ADS_2