Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 30 Perseteruan. bag kedua.


__ADS_3

Tumenggung Gajah Ludira terus saja melakukan serangkaian serangan, setelah dua cakaran nya belum menemui sasaran maka ia pun langsung mengirimkan dua kali tendangan sambil bergerak memutar, seolah serangannya ini tidak ada henti nya.


Kembali Raka Senggani harus melompat mundur guna lolos dari tendangan lawannya ini.


Gerakan Senopati Pajang itu terlihat sangat ringan dan sering mengambang di udara, jadilah pertarungan tersebut layaknya pertarungan antara seekor Rajawali melawan Macan yg besar.


Gerakan dan serangan yg di lancarkan oleh Tumenggung Gajah Ludira ini sungguh sangat bertenaga, apabila serangan nya ini luput dan menghantam pepohonan yang berada di dekatnya, kontan saja pohon tersebut ambruk , jatuh ke tanah.


Entah sudah berapa puluh jurus yg di keluarkan oleh kedua orang yg tengah bertarung ini, akan tetapi belum tampak siapa yang lebih unggul, ini mungkin di karenakan belum adanya pukulan telak yg terjadi saat keduanya bertarung.


Raka Senggani sendiri memang hanya melayani saja semua serangan yg di lakukan oleh Tumenggung Gajah Ludira itu, ia tidak banyak membalas, hanya sesekali saja saat dirinya terdesak.


Merasa di permainkan Tumenggung Gajah Ludira pun berseru keras,..


" Ha, ha ,ha, ternyata nama besar Senopati Brastha Abipraya tidak sesuai dengan kenyataan nya, !" teriak nya.


Sambil terus saja menyerang menggunakan jurus-jurus yang cukup mematikan , cakaran sangat cepat berkelebat menyasar tubuh lawan, namun kali ini lawan yg dihadapinya bukanlah lawan sembarangan, Raka Senggani mampu menebak setiap gerakan dari pembesar kerajaan Demak ini, bahkan sesekali ia memotong serangan tersebut dengan melepaskan tendangan gledeknya hingga membuat tubuh dari sang Tumenggung harus membungkuk menahan rasa sakit.


" Bugggghh,..!"


" Heeeijkkh,..!"


Kemudian di lanjutkan dengan sebuah tendangan memutar yg menghantam pundaknya.


Tubuh besar Tumenggung Gajah Ludira ini harus terjatuh meskipun tidak terlalu keras, ia jatuh terduduk.


" Tumenggung,..!" seru kedua orang yg menemani nya.


Sedangkan Tumenggung Gajah Ludira mengangkat tangan nya , memberi isyarat bahwa dirinya tidak apa -apa.


Raka Senggani sendiri tegak berdiri tidak jauh dari hadapan Tumenggung Gajah Ludira ini.


Perlahan , Tumenggung Gajah Ludira bangkit, dan langsung mengibas ibaskan pakaian nya yg tampak kotor setelah ia terjatuh tadi.


" Ternyata dirimu mampu menjatuhkan diriku, akan tetapi jangan terlalu senang dahulu , ini hanya baru permulaan,..!" seru Tumenggung Gajah Ludira.


Kembali kedua kaki orang itu merenggang dan kedua tangan nya kembali melakukan beberapa gerakan, kali ini tampaknya Tumenggung Gajah Ludira bersiap untuk mengeluarkan jurus andalan nya guna menghabsii lawannya tersebut.


Sedangkan Senopati Pajang hanya melihat dengan tenang nya setiap gerakan yang di lakukan oleh nya.


Di dahului dengan sebuah teriakan yang keras,.


" Heahhhh, Hraaaghhh,..!"


Maka tubuh Tumenggung Gajah Ludira kembali menerjang ke arah Raka Senggani, lebih cepat gerakannya itu, sambil melompat, langsung saja tangan nya yg terbuka menyambar ke arah wajah dari Raka Senggani.


Pertarungan kembali di lanjutkan dan kali ini Tumenggung Gajah Ludira lebih mempercepat lagi setiap gerakan nya, hatinya penasaran karena belum mampu menembus pertahanan lawan.


Bagi Raka Senggani sendiri , Senopati Pajang ini pun meningkatkan pula kecepatan nya untuk mengimbangi lawan.


Dalam pada itu , Lintang Sandika yg masih menonton dengan Ki Lonowastu di sebuah cabang pohon berkata kepada orang tua yg ada di sebelahnya ini.


" Ki Lono, bagaimana ini, belum pun kita selesai menyelidiki siapa pelaku penculikan di Mantyasih, adi Senggani harus berhadapan dengan Tumenggung Gajah Ludira, apa yg harus kita lakukan guna menghentikan pertarungan itu dan melanjutkan penyelidikan kita,..?" tanya Lintang Sandika kepada Ki Lonowastu.


Lelaki tua yang berada di samping nya itu menoleh kepada Lintang Sandika, sebenarnya ia masih terpusat pandangan nya pada jalannya pertarungan yang berada di bawah mereka itu.


" Ngger, apa mungkin ketiga orang itu ada hubungan nya dengan kejadian yang tengah berlaku di Mantyasih,..?" balik Ki Lonowastu yg bertanya.


Lintang Sandika terkejut mendengarnya, dan langsung ia m menyahutinya,.


" Rasa -rasanya tidak mungkin, Ki Lono, apa urusan nya Tumenggung Gajah Ludira dengan pernikahan Rasala, karena yg Sandika tahu, Tumenggung Gajah Ludira ini memang berniat mencari adi Senggani,..Ki,.!" jelas Lintang Sandika.


Dan orang tua itupun terdiam mendengarnya.


Jika memang demikian tentu akan sulit untuk melacak keberadaan dari pelaku penculikan itu , berkata dalam hati Ki Lonowastu.


Kembali keduanya terdiam, karena pertarungan yang mereka tonton itu memang semakin seru.


Tumenggung Gajah Ludira tampaknya memang berniat untuk mengakhiri perlawanan dari Senopati Brastha Abipraya ini.


Sambaran sambaran cakarnya kali ini mengandung ajian Macan Moro yang mampu menghancurkan apa saja yang di kenainya.


Tempat tersebut ia menjadi porak poranda akibat serangan yg di lancarkan oleh Tumenggung Gajah Ludira ini.


Cahaya merah jingga terus saja mengahmbur mengejar Raka Senggani kemana pun ia pergi.


Beruntung memang kelincahan dan kecepatan yg di miliki senopati Brastha Abipraya ini sangat tinggi, sehingga ia dengan mudahnya menghindari semua serangan tersebut.


Tumenggung Gajah Ludira semakin frustasi akibat tidak ada satu pun serangan nya yg mampu mengenaj musuh nya tersebut, dengan sebuah suitan yg keras maka muncullah kedua orang teman nya yg sedari tadi hanya menonton saja.


" Cepat ringkus pengkhianat ini, ia harus kita hadapkan kepada Kanjeng Gusti Sinuwun untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan nya itu,..!" seru Tumenggung Gajah Ludira.


Dada nya nampak naik turun setelah ia mengerahkan seluruh kemampuan nya untuk menjatuhkan musuhnya itu , sayang tidak satu pun serangan nya yg berhasil menemui tubuh lawannya ini.

__ADS_1


" Baik , Tumenggung ,..!" sahut dua orang itu.


Mereka adalah orang kepercayaan dari Tumenggung Gajah Ludira dan berpangkat Rangga.


Yg berbadan tegap namun tidak terlalu tinggi adalah Rangga Ranujaya, sedangkan yang seorang lagi , dan memiliki tubuh kurus agak tinggi bernama Rangga Sungkana.


Keduanya lantas mengurung Raka Senggani, sambil mengeluarkan senjatanya.


Rangga Ranujaya menggunakan senjata tombak pendek sedangkan Rangga Sungkana menggunakan sebuah pedang.


" Hehhh,..!"


" Ciaaat ...!"


" Traakk,..!"


" Treekkhh,..!"


Secara bersamaan mereka menyerang Raka Senggani dari dua jurusan sambil langsung menghunjamkan senjata yang berada di tangan.


Dengan sangat cepat pula Raka Senggani menahan kedua serangan ini menggunakan tongkat berkepala ular , dan kedua senjata lawan ini pun tertahan oleh tongkat berkepala ular tersebut.


" Heahhhh,..!"


" Dhieghh ,..!"


Sebuah teriakan yang keras, saat Raka Senggani mendorong tongkat berkepala ular ini ke atas bersamaan itu pula kedua orang kepercayaan Tumenggung Gajah Ludira itu terdorong mundur, tidak menyia-nyiakan kesempatan , Sang Senopati langsung mengirimkan sebuah tendangan ke arah dada dari Rangga Ranujaya yg pertahanan nya terbuka lebar saat ia harus berusaha memperbaiki posisi nya , tak ayal lagi tubuh nya terkena hantaman tendangan yg di lepaskan oleh Raka Senggani dengan telak nya, hingga tubuh Rangga Ranujaya terpental ke belakang.


Raka Senggani sebenarnya ingin menyelesaikan lawannya ini akan tetapi,..


" Hiyyyah,..!"


" Hufhhh..!"


Satu serangan di lancarkan oleh Rangga Sungkana guna menahan gerak langkah lawan yg ingin memburu temannya.


Buru -buru Raka Senggani melompat mundur menghindari tebasan pedang tersebut.


Tumenggung Gajah Ludira yg melihat celah saat Senopati Brastha Abipraya melompat mundur ini segera menyambarnya dengan cakaran kedua tangannya.


" Heaahhh,.!"


" Crassshhh,..!"


" Hahh,.!"


Dalam waktu yg sekejap , Tumenggung Gajah Ludira terbengong karena nya hingga sebuah tendangan keras menghajar dadanya dengan telaknya.


" Dhieghh,..!"


" Aaakhh,..!"


Di dahului sebuah salto ke belakang yg di peragakan oleh Raka Senggani, selanjutnya ia melepaskan tendangan keras nya dan mengenai dada dari Tumenggung Gajah Ludira hingga membuatnya harus jatuh untuk kedua kalinya.


Dada Tumenggung Gajah Ludira serasa ambrol karenanya, ia masih terlentang di atas tanah ketika Senopati Brastha Abipraya ingin melepaskan kembali serangan nya guna mengakhiri pertarungan itu .


Tiba -tiba saja,..


" Bletaaaaar,..!"


" Hufhhh,..!"


" Hiyyahh,..!"


" Whushhh,..!"


Sebuah serangan dari seseorang menghentikan pergerakan suami Sari Kemuning ini , saat ia mendekati tubuh Tumenggung Gajah Ludira, kejadian begitu cepat berlalu , dimana Raka Senggani harus menghindari serangan tersebut, seseorang telah menyambar tubuh Tumenggung Gajah Ludira dan langsung membawa nya pergi dari tempat itu.


Raka Senggani yg melihatnya tidak mempercayai apa yg telah berlaku, ia sudah tidak melihat lagi orang yang membawa pergi Tumenggung Gajah Ludira tersebut.


Lantas Senopati Brastha Abipraya ini mendekati Rangga Sungkana yg juga masih berdiri mematung , salah seorang kepercayaan dari Tumenggung Gajah Ludira ini, tidak dapat mempercayai apa yg telah terjadi, pemimpin nya telah hilang di bawa oleh seseorang yg tidak mereka ketahui.


" Apakah kau akan mealanjutkan pertarungan ini,..,?" tanya Raka Senggani kepada Rangga Sungkana.


Perwira Demak ini diam, ia tidak menjawab pertanyaan dari Raka Senggani itu.


" Jika diri mu memang tidak ingin melanjutkan pertarungan ini, segeralah angkat kaki dari sini, cepat,...!" seru Raka Senggani.


Sambil ia memutar tongkat berkepala ular di depan dadanya, angin berkesiuran dengan sangat kerasnya di timbulkan oleh putaran tongkat tersebut.


Tidak menunggu lama, Rangga Sungkana berlari ke arah Rangga Ranujaya yg telah berhasil duduk dan tengah berusaha untuk mampu berdiri.


" Ki Ranujaya , marilah kita tinggalkan tempat ini, kita harus mencari Kanjeng Tumenggung Gajah Ludira secepatnya,..,!" ucap Rangga Sungkana sambil menarik tubuh Rangga Ranujaya agar berdiri.

__ADS_1


Tidak memperdulikan Raka Senggani yg masih melihat kedua orang yg menjadi pengawal Tumenggung Gajah Ludira itu, maka keduanya pun lantas meninggalkan tempat tersebut dan berlari ke arah dimana tadi orang yang membawa Tumenggung Gajah Ludira ini pergi.


Raka Senggani sendiri pun langsung mendekati tubuh Raka Yantra kakak sepupu nya yg masih pingsan.


" Hahh,.!"


" Hufhh..!"


Sungguh terkejut ia melihat saudara sepupu nya ini, tubuhya tampak kebiru biruan seperti sedang terkena pengaruh racun.


Dengan cepat ia menotok beberapa bagian tubuh Raka Yantra, agar racun itu tidak menjalar lebih jauh lagi hingga akan masuk ke jantungnya.


Dan tidak terlalu lama , Lintang Sandika dan Ki Lonowastu pun datang ke situ.


" Bagaimana adi Senggani, apakah masih dapat di selamatkan saudara sepupu mu itu,..?" tanyanya kepada Raka Senggani.


" Entahlah kakang Sandika , Senggani belum tahu, coba tolong kakang ambilkan air, !" ucap Raka Senggani kepada Lintang Sandika.


Putra Tumenggung Bahu Reksa ini pun segera mencari air yg di minta oleh adik angkatnya tersebut.


Tidak terlalu lama, ia telah kembali lagi dengan membawa air dalam bumbung bambu.


" Ini airnya , adi Senggani,..!" ucap Lintang Sandika menyerahkan sebuah bumbung bambu kepada Raka Senggani.


" Terima kasih Kakang Sandika,.!" sahut Raka Senggani meraih bumbung bambu yg berisi air .


Ia pun memasukkan sesuatu ke mulut dari Raka Yantra yg masih pingsan , selanjutnya dengan perlahan ia pun menuangkan air ke mulut saudara angkatnya ini.


" Hoeekkh,..!"


Tiba-tiba saja tubuh Raka Yantra memuntahkan darah kental yg berwarna kehitam -hitaman.


Beberapa kali ia memuntahkan nya, meski masih dalam keadaan tidak sadarkan diri.


" Ngger, sebaiknya kita bawa saja orang ini ke Mantyasih saja,.agar ia dapat pertolongan lebih lanjut disana, ada tabib yg lumayan hebat ilmunya mengenai masalah racun,!" ucap Ki Lonowastu kepada Raka Senggani.


" Baiklah , marilah kita kembali,..,!" sahut Raka Senggani.


" Biarlah aku saja yang membawa Raka Yantra itu , adi Senggani,..!" kata Lintang Sandika.


Setelah ia melihat adik angkatnya ini ingin menggendongnya .


Raka Senggani pun kemudian menyerahkan Raka Yantra untuk di gendong oleh Lintang Sandika.


Ketiganya pun segera kembali ke arah pedukuhan induk tanah Perdikan Mantyasih.


Agak jauh dari tempat tersebut, tepatnya di dekat tanah Perdikan Banyu Biru, sesosok tubuh yg sudah cukup tua menurunkan tubuh Tumenggung Gajah Ludira dari pondongan nya.


Di dekat sebuah goa yang terlindung dari semak belukar yang menutupi tempat tersebut.


" Cukup berat juga tubuh mu ini, Ludira,..!" ucap Orang tua itu.


Ia pun segera meneliti tubuh Tumenggung Demak sekejap, sebelum membawa nya masuk ke dalam goa yang lumayan besar tersebut.


" Ternyata ia tidak terluka dalam seperti yang dialami oleh Dharsasana,..!" ucap orang itu lagi.


Begitu masuk ke dalam goa dan ada sebuah tempat yang lebih lebar di sana, kembali orang tua itu meletakkan kembali tubuh Tumenggung Gajah Ludira di sebuah batu besar yang pipih.


Perlahan namun pasti , orang tua ini mengurut beberapa bagian tubuh dari Tumenggung Demak ini.


Tidak berlangsung lama, menggeliatlah tubuh itu , dan mulai membuka matanya dengan perlahan.


" Mana, mana, Senopati Pajang itu , Aku harus membunuhnya..,!" teriak Tumenggung Gajah Ludira.


Setelah ia tersadar dan berusaha bangkit dari pembaringannya.


" Tenanglah Ludira,..!" ucap Orang tua itu.


" Hehhh, siapa kau, apakah kau adalah Senopati Brastha Abipraya, kalau demikian marilah kita lanjutkan pertarungan ini,..!" ucap Tumenggung Gajah Ludira.


Ia memang belum pulih kesadaran nya sepenuhnya, hingga orang tua itu berkata,.


" Aku bukanlah orang yang kau cari itu Ludira, lihatlah baik -baik, siapa aku ini sebenarnya,..,!" ucapnya.


Sambil menggosok gosok matanya, Tumenggung Gajah Ludira melihat dengan jelas orang tua yg memiliki janggut dan rambut yang telah memutih semuanya, ia pun berseru kaget,.


" Guruu,..!" teriaknya.


" Syukurlah kau sudah sadar sepenuhnya,..!" ucap orang yang di panggil Guru oleh Tumenggung Gajah Ludira itu.


Ia pun mencium tangan Lelaki tua tersebut, sedangkan lelaki itu menepuk nepuk pundaknya.


" Sudah, tenangkan lah dirimu Ludira, kau harus lebih berhati-hati lagi jika harus berhadapan dengan Senopati Pajang itu, tsmpaknya ia memang seorang yg pilih tanding, sulit untuk mengalahkannya,..!" terang lelaki tua ini.

__ADS_1


" Ahh, tidak Guru, hanya diriku saja yang apes,..jika memang ia bertarung dengan sebenarnya, pasti aku dapat mengalahkan nya,..,!" seru Tumenggung Gajah Ludira.


" Ya, ya ,kau memang dapat mengalahkan nya, !" sahut Lelaki tua ini tidak mau mendebat Tumenggung Gajah Ludira .


__ADS_2