
" Jadi kami sebaiknya kembali saja ke Sunda Kelapa,.. Senopati,..?" tanya Ki Lurah Lintang Panjer Rina.
" Yah,..sebaiknya kalian segera ke Sunda kelapa, tetap pantau pergerakan mereka disana ,jika kelak Melaka jatuh ke tangan Demak , maka mereka pun segera angkat kaki dari sana,." jawab Raka Senggani.
Jati Andara yg ada bersama mereka ini teringat akan pertemuan nya dengan Putra Raka Jang yg bernama Raka Yantra, merupakan saudara sepupu dari Senopati Sandi Demak ini.
" Adi Senggani, sewaktu kami berada di kademangan warasaba, kami tidak sengaja bertemu dengan Raka Yantra, saudara sepupu mu,." ungkap Jati Andara.
" Hehh,.."
Raka Senggani terkejut mendengar ucapan putra Bekel desa Kenanga itu. Ia merasa seperti mimpi masih ada orang yg mampu menemui anak dari Paman nya ini.
" Memang nya apa yg kalian lakukan di Kademangan warasaba itu, Kakang Andara,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Oleh Jati Andara kemudian di ceritakan bagaimana mereka berdua dengan Ki Lintang Panjer Rina telah tiba di Kademangan itu. Dan kemudian ikut melakukan pertarungan yg di pimpin oleh Lowo Kumbolo itu dan bertemu dengan Raka Yantra untuk selanjutnya.
Jati Andara juga mengatakan kepada teman nya bahwa tampaknya Raka Yntra enggan untuk menemui orang tuanya itu di desa Kenanga , entah apa sebab nya , putra Ki Bekel ini tidak tahu .
" Jika memang demikian keadaan nya, nanti setelah selesai urusan di Melaka, kakang Andara antarkan Senggani kesana,." ucap Raka Senggani.
" Beres,..dan mudah mudahan adi Senggani kembali dalam keadaan selamat,.." sahut Jati Andara.
Mereka kemudian berpisah dengan Para Lurah prajurit Sandi Demak yg akan kembali ke tempat tugas nya.
Sementara itu sebuah pasukan yg lumayan besar telah datang dari Pasai di pimpin oleh Raden fatahillah.
Langsung saja Senopati dari Pasai ini menemui dan menghadap Kanjeng Sunan Gunung Jati yg istananya.
Mereka kemudian berkumpul guna mematangkan rencana siasat untuk menyerang Benteng partugis yg ada yg di Melaka.
" Jadi anakmas sebelum kemari masih sempat singga di palembang,..?" tanya Kanjeng Sunan Gunung Jati.
" Benar, Kanjeng Sunan,..kami memang masih sempat untuk singgah di palembang , sayang mereka akan berangkat setelah seluruh pasukan Demak berada di Melaka, jadi mereka tidak perlu untuk datang kemari,." jawab Raden Fatahillah.
" Sayang, sebenar nya , jika mereka langsung kemari , kita dapat menentukan langkah -langkah yg terbaik guna merebut benteng itu dan membebaskan saudara kita dari penjajahan itu,." ungkap Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Akan tetapi Ia tidak dapat memaksakan keinginan nya itu kepada pasukan dari palembang ini. Sehingga akhirnya di matangkan lah rencana seperti semula bahwa sebagai senopati Agungnya adalah Kanjeng Sultan Demak dengan Senopati pengapit kanan adalah Tumenggung Bahu Reksa dan senopati pangapit kiri nya adalah Raden Fatahillah menggantikan Senopati Bima Sakti yg semula menempati posisi itu.
Senopati Bima Sakti sendiri di dekat kan dengan induk pasukan guna menjaga induk pasukan itu.
Sesuai kesepakatan , berangkatlah Armada pasukan Demak ini dari Cirebon dengan di iringi oleh doa dari Kanjeng Sunan Gunung Jati , setelah mereka hampir sepekan bersandar disana.
Kembali genderang perang di tabuh mengiringi keberangkatan pasukan Demak yg besar itu menuju ke Melaka.
Perlahan iring iringan ini memasuki selat Melaka setelah seharian belayar dengan di topang angin yg lumayan kuat, sehingga mmeperlancar pergerakan kapal ini mendekati kota tersebut.
Hampir tiga hari , armada pasukan Demak ini tengah berada disana hadapan pasukan musuh, meski jaraknya tidak terlalu dekat.
Senopati Agung, Kanjeng Sultan Demak memanggil Senopati Bima Sakti untuk segera datang ke Kapal nya membicarakaan siasat serangan yg mereka lancarkan.
" Bagaimana Senopati Bima Sakti, apakah sudah saat nya kita melakukan penyerangan , " tanya Kanjeng Sultan Demak.
__ADS_1
Setelah sang Senopati berada di dalam kapal nya.
" Mohon maaf sebelumnya , Kanjeng Sinuwun, mungkin sebaiknya kita menunggu pasukan dari palembang itu datang,.." jawab Raka Senggani.
" Kakang Senopati tetapi itu akan menunggu berapa lama , sampai saat ini belum pun ada tanda tanda kedatangan mereka, " sahut Raden Arya Wangsa.
" Benar yg dikatakan kangmas Arya wangsa, sampai kapan kita akan menunggu mereka , sedangkan musuh telah di depan mata," ungkap Raden Abdullah Wangsa.
" Akan tetapi kalau menurut hamba, hamba sependapat dengan Angger Senopati, lebih baik kita menunggu pasukan dari Palembang itu,.." kata Tumennggung Bahu Reksa.
Demikian pula yg di ucapkan oleh Raden Fatahillah, lebih baik menunggu pasukan dari Kerajaan Palembang itu agar serangan dapat dilakukan.
Akhirnya Kanjeng Gusti Sinuwun setuju untuk menunggu kedatangan dari Pasukan Palembang dengan menunda sehari, penyerangan ini.
Pada malam itu, pasukan dari portugis telah menyiapkan sebuah siasat untuk melumpuhkan Kapal perang yg di tumpangi oleh Kanjeng Gusti sultan Demak ini.
Di dalam benteng La Forteza, beberapa perwira tinggi dari pasukan militer Portugis tengah berunding guna menghadapi serangan yg akan di lakukan oleh Sultan Demak ini.
Salah seorang jenderal dari portugis yang Alfonso de herera mengatakan lebih mereka melumpuhkan Kapal Jung milik dari sang sultan Demak ini agar perang cepat berakhirnya.
" Jenderal ..memang mengatakan itu jauh lebih mudah dari pada melakukannya , seprti yg telah kita ketahui bahwa pada waktu yg lalu, Kapal milik sultan Demak itulah yg tidak mempan oleh tembakan meriam kita,.." ucap seorang perwira portugis yg lain.
Ia mengatakaan hal ini karena ikut pula pada perang pertama kali nya melawan pasukan Kerajaan Demak itu. Sehingga ia tahu kehebatan dan kelebihan dari Kapal milik senopati Sarjawala ini.
" Akan tetapi saat ini kita memliki meriam Esfera yg lebih besar dan lebih jauh jangkauan nya. , tidak seperti meriam bombard ataupun meriam lela yg kita pergunakan pada waktu itu,.." sahut jenderal Alfonso de herera.
Semua yg ada di tempat ini membenarkan ucapan jenderal nya ini, memang pada waktu itu mereka tidak memeiliki meriam sebesar meriam Esfera ini sehingga serangan mereka tidak mampu mengahncurkan Apilan yg ada yg kapal milik dari Senopati Sarjawala ini.
" Ya , itulah tugas kita semua , untuk mengarahkan Kapal milik Sultan Demak ini mendekati benteng ini, agar dapat di jangkau oleh Meriam Esfera kita ini,.." jelas Alfonso de herera.
Namun para petinggi pasukan Portugis ini merasa itu adalah suatu pekerjaan yg sangat sulit. Jika harus mengarahkan Kapal perang milik Sultan Demak itu.
" Akan tetapi tidak ada yg sulit jika kita mau berusaha, nanti kapal kapal perang milik kita melakukan intimidasi ke arah Kapal perang dari Sultan Demak ini. tentunya ia akan segera mengejar kapal kita yg lebih cepat bergeraknya, tentu jika ia tidak terlalu memikirkan hal mengenai senjata kita ini tentu ia akan terus saja mengejar pasukan kita , " ucap Jenderal Alfonso de herera.
" Dan mudah -mudahan ia tidak mengetahui jebakan kita ini , sehingga rencana ini dapat berhasil dengan sempurna , apalagi ia teringat pada waktu yg lalu bahwa Apilan nya mampu menahan serangan dari meriam kita , tentu ia akan lebih percaya mendekati kota Melaka ini,.." ungkap Kolonel Joao Fernandez.
Semua yg mendengarnya pun berharap demikian , setelah diambil keputusan bahwa mereka akan berusaha untuk menjebak Kapal perang milik Sultan Demak kedua ini yg bergelar Senopati Sarjawala.
Setelah seluruh pemimpin pasukan Demak ini menunggu sehari ,tidak kunjung juga ada kedatangan pasukan dari Kerajaan palembang maka mereka pun melanjutkan rencana nya untuk melancarkan serangan.
Di Pasukan Armada Demak sendiri telah di sepakati bahwa Kapal perang milik dari Kanjeng Gusti Sultan Demak akan langsung menyerang pasukan musuh di dekat kota Melaka itu dengan catatan bahwa Kapal perang milik dari Kanjeng Gusti Sultan Demak ini tahan dari serangan meriam musuh.
Sebenarnya Senopati Bima Sakti ingin mengatakan agar Kapal perang milik dari Kanjeng Gusti Sultan untuk tidak terlalu dekat dengan benteng La Forteza itu.
" Kanjeng Gusti Sinuwun, agar menjaga jarak dari Benteng La Forteza itu, sebaiknya para prajurit di turunkan sebelum mendekati tempat itu agar serangan dari meriam yg besar itu tidak dapat menjangkau Kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan,.." terang Raka Senggani.
Senopati Bima Sakti telah melihat sendiri betapa besar nya meriam tersebut tentu akan dapat menghancurkan kapal sebesar dari milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini.
Akan tetapi Senopati Agung Demak ini tidak terlalu memusingkan dengan meriam yg di miliki oleh pasukan musuh itu. Hal ini membuat Senopati Bima Sakti tidak mampu lagi berkata apa -apa lagi. Padahal menurut nya Meriam itu patut untuk di waspadai.
Dan pada keesokan harinya , setelah sehari semalam pasukan Demak ini berhenti dengan melepaskan sauhnya , kini seluruh pasukan itu bergerak mendekati kota Melaka ini.
__ADS_1
Dari sayap kiri, dengan cepat ,Raden Fatahillah membawa pasukan untuk lebih dahulu membuka jalan. Baru selanjutnya, Kapal perang milik dari Kanjeng Gusti Sultan Demak yg melaju mengikutinya, dan selanjutnya ada di belakang Kapal Jung milik sang Sultan ada kapal perang yg di tumpangi oleh Senopati Bima Sakti.
Baru dari arah sayap kanan , Panglima tertinggi Armada Demak yaitu Tumenggung Bahu Reksa bergerak dengan kapalnya yg cukup besar pula.
Iring iringan rombongan pasukan dari Demak ini semakin mendekati kota pelabuhan Melaka , dan tentu saja ini tidak di biarkan oleh pasukan musuh.
Ketika Matahari telah tepat di atas kepala, maka kapal kapal perang milik Kerajaan Demak langsung menyerang pasukan Portugis yg ada di dekat pelabuhan itu.
Meriam meriam dari Kapal perang milik Sultan Demak ini memuntahkan peluru nya menghajar pasukan dari militer Portugis ini.
Beberapa kapal perang dari bangsa portugis ini harus melarikan diri , berusaha menjauhi Kapal perang milik Sultan Demak ini.
Sampai malam , keadaan masih di menangkan oleh Pasukan Demak.
Setelah itu mereka tetap pada posisi nya,.mereka sudah cukup dekat dengan kota Melaka.
Kembali Senopati Sarjawala mengumpulkan para pemimpin pasukan nya untuk perang pada keesokan harinya.
Setelah selesai sholat subuh pada keesokan harinya, dengan di iringi lafaz takbir , pasukan Demak bergerak kembali.mendekati Kota Melaka.
Kembali di pagi yg cerah itu Kapal perang milik Sultan Demak kedua ini memuntahkan peluru dari moncong meriam nya yg terpasang di atas haluan dan buritan , bahkan dari sisi kiri dan kanan nya pun memuntahkan peluru melalui meriam putar , baik Rentaka maupun Cetbang.
Kapal kapal perang milik bangsa portugis ini menjaga jarak agar mereka tidak terkena hantaman meriam musuh.
Akan tetapi kelebihan dari Kapal kapal milik bangsa portugis ini dapat bergerak cepat, karena kapal mereka tidak terllalu besar dan lebih ramping, sehingga meriam dari Kapal perang milik Kerajaan Demak ini agak kesulitan untuk menjangkau mereka.
Pada hari kedua ini , memang seprtinya musuh hanya memberikan intimidasi saja , mereka melakukan serangan dengan cepat kemudian mereka berusaha untuk menjauhi nya.
Sedangkan Kapal perang milik Sultan Demak itu terus saja berusaha mendekati kapal kapal musuh itu.
" Kanjeng Gusti Sinuwun, sebaiknya hanya sebatas ini kapal milik Kanjeng Gusti Sinuwun, selanjutnya biarlah Kapal kapal penjajap dan kelulus saja yg harus mengejar mereka ,..Kapal Kanjeng Gusti Sultan lebih menunggu disini saja,.." jelas Raka Senggani.
" Akan tetapi sampai saat ini meriam mereka tidak ada yg mampu menembus apilan Kapal ku ini, Senopati , jadi menurutku lebih baik lagi untuk lebih dekat kesana, baru kemudian para prajurit dapat di turunkan dan diangkut oleh Kapal kakap ke darat agar dapat menyerang benteng La Forteza itu dari darat,.." ungkap Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Kembali Senopati Bima Sakti tidak mampu berkata apa -apa lagi , meski di hatinya tidak sesuai dengan ucapan dari Junjungan nya ini.
Kembali pada hari ketiga, seakan tidak mendapatkan hambatan yg berarti ,.maka Kapal perang milik Sultan Demak ini semakin mendekati kota Melaka, bahkan menurut dari Senopati Bima Sakti, jarak itu adalah jarak jangkau dari meriam besar milik dari Pasukan bangsa portugis itu.
Di pagi yg cukup cerah diiringi hembusan angin yg lumayan kuat, karena saat itu tepat hari pasang ,maka Kapal perang milik Sultan Demak itu melaju cukup cepat, mendekati kota Melaka, sementara serangan serangan yg di berikan oleh kapal perang milik musuh seperti tidak ada artinya, Apilan Kapal perang milik Sultan Demak ini mampu menahan setiap serangan yg di berikan oleh musuh.
Sehingga Kanjeng Gusti Sultan Demak memerintahkan para prajurit Demak untuk turun, agar dapat segera melakukan pendaratan dengan menggunakan kapal kapal kecil seperti kapal kakap, dan paling besar adalah kapal kelulus.
Raka Senggani kemudian menyerukan kepada Gusti Sultan Demak agar segera menjauhi tempat itu.
Karena ia telah melihat keanehan dengan bergerak mundur nya seluruh kapal perang milik bangsa portugis itu.
Dari atas kapal nya , Senopati Bima Sakti berteriak,..
" Kanjeng Sinuwun, segera tarik mundur Kapal milik Kanjeng Sinuwun dari situ,. mereka akan melancarkan serangan dengan menggunakan meriam yg ada di atas benteng La Forteza itu, cepatlah menyingkir.,.!" teriaknya.
Akan tetapi Kanjeng Gusti Sultan Demak tidak terlalu memperdulikan nya , ia tetap saja menurunkan para prajurit nya dari kapalnya yg besar itu.
__ADS_1