Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 17 Sultan Demak II. bag ke tujuh.


__ADS_3

Di biliknya,.. Sunan Gunung Jati kemudian memanggil Putri nya untuk.datang.


Tidak terlalu lama kemudian datanglah putrinya menghadap.


" Ada apa Ramanda Sunan memanggil ananda,..?" tanya Ratu Ayu.


Putri dari Sunan Gunung Jati itu agak kaget setelah dirinya disuruh datang menghadap.


Dan begitu bertemu langsung dirinya menanyakan perihal kedatangan nya itu.


" Begini ,..nanda Ratu Ayu,..ramanda mu ingin bertanya kepadamu tentang suami mu,.." ucap Sunan Gunung Jati sareh.


" Memang nya ada apa dengan kangmas Pangeran,..?" tanya Ratu Ayu.


Ia tidak mengetahui ke arah mana tujuan pembicaraan dari ramanda nya itu. Jadi Ratu Ayu agak bingung menjawabnya.


" Hehh,..begini Ratu Ayu,..saat ini mungkin suami mu itu telah berkuasa atas tahta Demak,..jadi ia meminta kepada Ramanda mu ini untuk mengizinkan dirimu datang ke Demak dan menetap disana guna memdampinginya,.." jelas Sunan Gunung Jati.


Penguasa Kerajaan Kacirebonan itu menatap Putri nya itu ,..seakan meminta pendapatnya agar ia dapat memutuskan nya kelak tanpa harus ada yg di rugikan.


" Ampunkan ananda,.. Ramanda Sunan,..jika memang kangmas Pangeran Sabrang Lor telah menjadi Sultan di Demak,..biarlah ananda tetap tinggal di sini,..di cirebon ini,.!" ungkap Ratu Ayu.


Karena Putri Sunan Gunung Jati itu memang sudah cukup lama menikah dengan Pangeran Sabrang Lor yg bergelar Senopati Sarjawala. Akan tetapi belum sekali pun ia menjejakkan kaki nya di Kotaraja Demak sebagai seorang istri dari pewaris Tahta Demak itu.


" Mengapa dirimu tidak berkenan untuk tinggal di kotaraja Demak,..ananda Ratu Ayu,..?" tanya Sunan Gunung Jati lagi.


" Karena ananda memang tidak ingin berada disana,..apalagi harus berdampingan dengan kangmbok Ratu,..sebagai seorang istri kedua,..ananda tidak berharap untuk mengambil tempat kangmbok Ratu tersebut,.." jawab Ratu Ayu.


" Baiklah jika dirimu memang tidak ingin tinggal di Kotaraja Demak,.. Ramanda akan mengirimkan surat balasan kepada anakmas Senopati Sarjawala dengan mengatakan seperti ananda Ratu Ayu pinta itu,.." jelas Sunan Gunung Jati.


" Terima kasih Ramanda,..kalau boleh tahu ,.. siapakah yg telah menyampaikan hal ini kepada Ramanda Sunan..?" tanya Ratu Ayu.


" Pesan itu disampaikan langsung oleh Putra dari anakmas Senopati Sarjawala sendiri dengan seorang temannya Senopati Brastha Abipraya dari Pajang,." jawab Sunan Gunung Jati.


" Jadi putra dari kangmas Pangeran Sabrang Lor sendiri yg telah datang kemari untuk menyampaikan perihal itu kemari,..?" ucap Ratu Ayu.


" Benar,.. dan saat ini pun masih berada disini,.. Nanti malam kami akan melakukan pertemuan dengan mereka lagi dan jika telah bulat keputusan mu menolak untuk hadir ke Kotaraja Demak,..nanti akan Ramanda sampaikan kepada mereka,.." jelas Sunan Gunung Jati.


Ia telah mengambil keputusan sesuai dengan keinginan putri nya itu.


Setelah selesai pertemuan kedua orang itu ,.. Kemudian Ratu Ayu meninggalkan bilik dari Ramanda nya itu , ia kembali ke kaputren.


Saat dewi malam menyelubungi kota yg berada di pesisir pantai utara itu tiba.


Sunan Gunung Jati mengundang Raden Abdullah Wangsa dan Senopati Brastha Abipraya untuk makan bersama.


Tawaran itu tidak di tolak oleh dua satria muda asal Demak tersebut. Dengan senang hati mereka menemani penguasa Kesultanan Cirebon itu untuk bersantap bersama.


Pada saat itu,.. setelah selesai makan bersama,..Sunan Gunung Jati kemudian menjelaskan semua isi surat dari Pangeran Sabrang Lor itu.


" Maaf sebelumnya angger Raden Abdullah Wangsa,..kami tidak dapat mengabulkan permintaan dari Ramandamu itu,..berhubung Putriku Ratu Ayu menolak untuk tinggal di Kotaraja Demak,.." ucap Sunan Gunung Jati.


" Jadi bibi Ratu Ayu tidak ingin tinggal di istana Demak ,..eyang Sunan,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Demikian lah kiranya Angger Abdullah Wangsa,..bibi mu lebih memilih untuk tinggal disini saja,.." jawab Sunan Gunung.


" Akan tetapi kalau permintaan dukungan pasukan,.. Kerajaan Cirebon ini siap untuk membantu kapan pun itu di perlukan ,..bahkan kami akan menyiapkan kapal perang sendiri yg telah kami miliki sendiri disini,.." ungkap Sunan Gunung Jati lagi.


" Terima kasih Eyang Sunan,..nanti akan saya sampaikan kepada Ramanda Pangeran semua yg telah eyang katakan ini,..dan mudah -mudahan beliau dapat mengerti ,.." ucap Raden Abdullah Wangsa.


" Dan satu hal lagi Angger Abdullah Wangsa,..jika kelak Anakmas Senopati Sarjawala bersiap akan menyerang Malaka,..kami berharap beliau mau mengirimkan utusan ke Palembang guna mendapat kan dukungan pasukan yg dapat membantu terlaksananya penyerangan kali agar Demak tidak gagal lagi mengusir bangsa asing itu dari tanah Malaka,.." ungkap Sunan Gunung Jati.


Ia merasa perlu memberikan nasehat kepada menantunya itu agar Malaka dapat di rebut dari tangan kulit putih tersebut.

__ADS_1


Karena kegagalan pertama semacam cambuk peringatan kepadanya bahwa dengan tidak lancar nya pembicaraan diantara pemegang kekuasaan membuat pasukan yg besar itu dapat dikalahkan oleh pasukan musuh tersebut.


Malam itu menjadi malam pertemuan yg diadakan secara kekeluargaan mengingat yg datang adalah anak dari menantunya tersebut.


Sehingga suba sita dan tata krama keraton tidak terlalu tampak pada pertemuan kali ini,..yg ada hanya pembicaraan antara seorang Eyang terhadap cucunya.


Meskipun telah terlihat sepuh Sunan Gunung Jati itu masih tampak gagah. Karena memang kemampuan dari orang nomor satu di kesultanan Cirebon itu sudah tidak di ragukan lagi.


Sebagai seorang wali di wilayah kulon dari pulau jawa itu,..Susuhunan maulana Jati itu merupakan pemimpin para wali pengganti dari Sunan Ampel yg telah mangkat itu.


Jadi masalah kedalaman ilmunya sangat-sangat sulit untuk di ukur.


Cucu dari Prabhu siliwangi itu juga merupakan cucu dari penguasa mesir,.sehingga memiliki karomah yg luar biasa dan mampu menaklukan daerah -daerah di wilayah pesisir utara dari pulau jawa bagian kulon bahkan sampai ke arah selatan.


Salah seorang putranya yg bergelar Pangeran Sabakingking telah berkuasa di daerah Wahanten girang,..sehingga kelak jika terjadi penyerangan ke Malaka,. armada dari Pangeran Maulana hasanuddin yg bergelar Pangeran Sabakingking itu telah dapat diandalkan.


Selama berada di Cirebon ,.kedua satria Demak itu banyak mendapatkan masukan dari Sunan Gunung Jati. Bahkan ia juga menyebutkan dua pusaka yg ada di tangan kedua anak muda ,.. satria dari Demak itu.


Ia juga menyarankan kepada Senopati Pajang,.. Senopati Brastha Abipraya agar mengembalikan saja senjata tongkat berkepala ular itu kepada pemilik nya,..karena memang saat ini ,..pemilik tongkat itu yaitu Ki Suganpara sudah pun berubah,..ia tidak lagi merasa adigang adigung dan adiguna terlebih setelah berhasil di kalahkan lagi oleh Putranya,.. Pangeran Sabakingking. Dan kini ia merupakan pengikut setia dari Pangeran Maulana Hasanuddin tersebut.


Raka Senggani berjanji akan menyerhkan kembali tongkat itu jika kelak ia bertemu lagi dengan nya.


Beberapa hari di kesultanan Cirebon ,..kedua satria dari Demak itu mohon pamit pulang kepada Sunan Gunung Jati.


Sementara itu di Kotaraja Demak sendiri. Saat wisuda penobatan Sultan Demak II pun tengah dilakukan.


Di dalem bangsal agung keraton Demak itu,..Sunan Giri,.sebagai pemangku. pucuk pimpinan para menyerahkan mahkota kerajaan Demak ke atas kepala sang Adipati Anom,. Pangeran Adipati Yunus atau lebih di kenal dengan sebutan Pangeran sabrang Lor itu.


Pangeran Sabrang yg duduk di atas singgasana setelah menerima mahkota kerajaan Demak itu kemudian bergelar,.. Senopati Sarjawala Panembahan Jepara ningrat ngabdurrahman sayyidin panatagama atau lebih dikenal dengan gelar Sultan Syah Alam Akbar Ii alias Sultan Demak II.


Sejak saat penobatan nya itu Pangeran Sabrang Lor kembali mempersiapkan sebuah armada yg kuat untuk mengusir bangsa portugis dari Malaka dan Sunda Kelapa.


Namun kali ini ,.ia sangat dipusingkan dengan keadaan dalam negeri Demak sendiri.


Sejak dinobatkan menjadi Sultan Demak Kedua ,..Pangeran Sabrang terpusat perhatian nya kepada posisi dari pasukan portugis yg ada di Malaka .


Ia terus menjalin kerjasama dengan penguasa pesisir utara pulau tersebut. Dengan Cirebon dan Wahanten yg lebih dekat ke Sunda Kelapa dan Malaka.


Dalam pada itu ,..dua orang satria dari Demak,.. Senopati Brastha Abipraya dan Raden Abdullah Wangsa sudah pun jauh meninggalkan kota Cirebon,..mereka menuju ke Demak dengan tidak terlalu cepat.


Keduanya mencapai daerah alas Siroban Setelah hampir tiga hari berjalan.


Satria Demak itu tidak terburu -buru, walaupun hari telah menjelang malam .


" Kakang mengapa kita berhenti saja di kademangan tadi,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


" Kakang masih penasaran dengan para penghuni alam gaib dari alas ini,.." sahut Raka Senggani.


" Akan tetapi saat ini sepertinya akan turun hujan kakang,..mana jalanan sangat terjal dan curam," seru Raden Abdullah Wangsa.


Dan benar saja ,..alam di alas Siroban itu kemudian berubah secara mendadak ,..angin bertiup sangat kencang disusul dengan cahaya kilat yg menyambar -nyambar.


Kedua satria dari Demak itu nampak terhenti sejenak karena di depan mereka terdapat jalanan yg menurun dan sangat licin jika hujan telah turun.


Kemudian hujan turun dengan derasnya,.. disertai suara guntur yg menggelegar,.secara terus menerus.


" Bagaimana kakang ,.. apakah kita tetap akan melanjutkan perjalanan ini,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


Putra Pangeran Sabrang Lor terlihat agak ketakutan dengan keadaan alam yg lain dari biasanya.


" Tenang adi wangsa,..ini hanya pertanda saja dari yg Maha kuasa agar kita lebih berhati -hati,.." jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu tengah memusatkan nalar budinya untuk mengetahui apa yg sedang terjadi sesungguhnya. Karena menurut nya kejadian itu bukan kejadian yg biasa.

__ADS_1


Setelah ia mampu melihat sekelilingnya ,..barulah Sang Senopati itu tahu bahwa di sekelilingnya itu telah banyak Makhluk halus yg tengah menggoyang -goyangkan pepohonan dan dedaunan dengan kerasnya.


Bahkan di depan nya terlihat lima orang Gadis cantik dengan pakaian berwarna merah menyala. Mereka berdiri tanpa menyentuh tanah.


Hehh,..sepertinya mereka itulah pemimpin para makhluk halus ini,..berkata dalam hati Raka Senggani.


Setelah selesai dengan penglihatannya itu ,. kemudian ia berkata kepada Raden Abdullah Wangsa,..


" Adi Wangsa ,..bersiaplah tampak nya kali ini kita akan bertarung dengan para makhluk halus,.." ucap nya.


" Hehh,..darimana kakang Senggani tahu,..?" tanya Raden Abdullah Wangsa.


Ia merasa keheranan atas ucapan dari Senopati Pajang itu.


Kemudian Senopati Pajang membaca Bismillah dan menggosokkan kedua jari jempolnya ke kedua alis dari Raden Abdullah Wangsa.


Dan alangkah terkejutnya putra dari Pangeran Sabrang Lor,..karena tempat itu telah di kepung oleh makhluk halus dengan berbagai bentuk,..bahkan ia berseru,..


" Kakang ,..yg di depan itu teramat cantik,..ingin rasanya membawa pulang ke Demak,.."


" Hussshh..jangan ngawur,..bukan mereka yg akan kita bawa,..justru merekalah yg akan membawa kita ke tempatnya,.." sahut Raka.


" Tetapi mereka sangat cantik kakang .." seru Raden Abdullah Wangsa lagi.


" Sudahlah ,.. persiapkan dirimu tampaknya kita memang harus mengalahkan mereka agar dapat lewat dari sini,.." ujar Raka Senggani lagi.


Nampak Senopati Pajang itu mengeluarkan keris pusaka ,..kyai Macan kecubung darj warangkanya.


Melihat hal itu ,..putra Pangeran Sabrang Lor itu pun mengikuti pula ,..ia mencabut pedang Jataancala dari warangka nya pula.


" Hehh,..kalian ,..segera hentikan semua perbuatan kalian itu,..jangan ganggu jalan kami,.." seru Raka Senggani.


Sebenarnyalah suara itu di ucapkan dengan sangat pelan ,.akan tetapi akibat yg di terima oleh para penghuni alam jin alas Siroban itu seperti mendengar suara guntur yg menggelegar.


Bahkan menurut mereka suara itu lebih dahsyat dari ajian Gelap ngampar tingkat tertinggi sekalipun.


Para penghuni alas Siroban yg tak kasat mata itu terlihat memegangi telinganya,.dan mereka menghentikan semua kerja mereka yg menggoyang -goyangkan pepohonan itu.


Sesaat ,..alam di alas Siroban itu menjadi tenang. Walaupun cahaya kilat masih menyambar -nyambar di tempat itu.


Raka Senggani kemudian berkata lagi sambil mengacungkan senjata pusakanya keris Kyai Macan Kecubung itu.


" Segera tinggalkan tempat ini sebelum batas kesabaranku habis,.." serunya .


" Hehh,..anak muda ,..kau lah yg harus ikut dengan kami ,..untuk kami jadikan sebagai suami kami di dalam istana kami,.." ucap salah seorang gadis yg berpakaian merah menyala itu.


Ternyata dengan sangat cepatnya kelima makhluk halus yg berujud perempuan cantik dengan pakaian berwarna merah menyala itu telah berada di hadapan kedua satria dari Demak tersebut.


" Hehh,..apakah kalian sudah gila,..mana sudi kami ikut dengan kalian,.. segeralah pergi dari sini,.karena kami akan lewat,.." seru Raka Senggani.


" Silahkan kalian berdua lewat ,.. jika memang mampu mengalahkan kami berlima ,.." jawab salah seorang gadis cantik itu.


" Sungguh cantik nya ,..mereka ini ,..Kang ,." seru Raden Abdullah Wangsa.


Senopati Pajang itu tidak memperdulikan ucapan dari Putra Pangeran Sabrang Lor itu. Ia malah menggerakkan keris pusaka Kyai Macan Kecubung itu mengarah kepada kelima makhluk halus itu.


Pamor nya yg berwarna merah membuat tempat itu menjadi terang dibantu pula dengan pamor pedang Jata ancala,.sehingga membuat tempat itu benar -benar terang.


Akan tetapi jika ada seseorang yg berada di tempat itu,..mereka tentu akan mengatakan kepada kedua orang Satria Demak itu,..bahwa mereka sudah gila atau memiliki penyakit syaraf karena berkata -kata sendiri tanpa ada lawan bicaranya di tambah lagi dengan senjata yg telah teracung siap untuk bertarung.


" Baiklah ,..jika kalian memang ingin bertarung dengan kami,..jangan salahkan jika kalian akan menyesal nantinya,.." ucap Raka Senggani.


Senopati Pajang itu telah bersiap untuk menyerang dengan memutar keris Kyai Macan Kecubung di depan dadanya.

__ADS_1


Usaha serupa juga di lakukan oleh Raden Abdullah Wangsa,..ia pun memutar pedang nya,..siap untuk bertsrung.


__ADS_2