Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 8 Pendadaran. bagian ketujuh,


__ADS_3

" Baiklah paman Tumenggung, Senggani akan melihat para calon prajurit itu, besok baru akan kembali ke Demak,!" ucap Raka Senggani.


" Terserah pada mu, Ngger, saat ini memang merupakan suatu kesempatan yg baik untuk melihat kwalitas para calon prajurit itu, memang sangat sulit untuk melampaui kecepatan mu itu, Ngger," seru Tumenggung Bahu Reksa.


" Jadi setelah ini apakah Angger Senggani dapat menjadi pelatih di Pajang , jika kembali nanti ke Pajang, ?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Mudah -mudahan Paman, Senggani tidak akan mengecewakan Paman Tumenggung, yg menjadi perhitungan Senggani, dimana nanti nya tempat untuk melatih mereka,!" ucap Raka Senggani.


" Mungkin angger bisa membawa mereka ke kali praga," jawab Tumenggung Bahu Reksa.


" Tetapi akan terasa berbeda sekali Paman,!" kata Raka Senggani.


" Walaupun berbeda tetapi setidaknya mereka dapat kita lihat kemampuan nya dalam hal berenang," ucap Tumenggung Bahu Reksa.


" Kalau begitu paman, Senggani akan melihat lebih dekat , " ucap Raka Senggani.


" Silahkan Ngger," balas Tumenggung Bahu Reksa


Kemudian Raka Senggani berjalan mendekati tempat Rangga Jala Sumpena yg lagi memberikan arahan kepada para calon prajurit itu.


" Bagaimana Ki Rangga, apakah mereka mampu menyelesaikan nya,?". tanya Raka Senggani.


" Banyak juga yg kesulitan untuk mencapai perahu terakhir itu , Senopati Brastha Abipraya," jawab Rangga Jala Sumpena.


Raka Senggani memperhatikan tempat itu dengan cermat. Ia melihat bagaimana Rangga Jala Sumpena itu memberikan arahan,


Karena ia pun akan menjadi pelatih calon prajurit kelak jika kembali ke Pajang.


Saat istrahat makan siang, maka Raka Senggani pun bergegas menemui Tumennggung Bahu Reksa.


" Paman sebaiknya nanti malam saja Senggani kembali ke Demak,!". ucap nya kepada Tumennggung Bahu Reksa.


" Ehh, mengapa terburu -buru, ngger ,?". tanya Tumennggung Bahu Reksa kaget.


" Karena spertinya ada sesuatu yg terjadi di Pajang saat ini, entah itu apa tapi semacam firasat ,!". jawab Raka Senggani.


" Apakah para rombongan yg bersama Angger itu pun akan ikut kembali ke Pajang,?" tanya Tumennggung Bahu Reksa lagi.


" Kalau menurut paman bagaimana,?" Raka Senggani balik bertanya.


" Kalau menurut paman, biarlah mereka tinggal disini barang sepekan, untuk lebih mematangkan kemampuan mereka ,!". jawab Tumennggung Bahu Reksa.


" Baiklah kalau begitu, nanti malam biarlah Senggani pulang sendiri ke Demak, !". jawab Raka Senggani.


" Apakah Angger berani, ?" tanya Tumennggung Bahu Reksa dengan nada berseloroh.


" Ahh, Senggani rasa berani, jarak antara Jepara ke Demak pun tidak terlalu jauh,!" jawab Raka Senggani dengan serius.


Akhirnya kedua nya tertawa bersama - sama , karena jawaban dari Raka Senggani itu.


Setelah selesai istrahat , kembali calon prajurit itu melanjutkan latihan nya, sedangkan Raka Senggani istrahat agar nanti malam ia tidak terlalu capek.


Sampai sore baru ia terjaga dari tidurnya dan terlihat berkemas akan kembali ke Kotaraja Demak.


" Hati -hati, ngger, hutan kecil dekat perbatasan Kotaraja itu sering menjadi sarang kawanan rampok, jadi Angger Senggani harus waspada di tempat itu, " nasehat dari Tumennggung Bahu Reksa.


" Terima kasih Paman, nasehat Paman itu akan kuingat, jika bertemu mereka akan kusampaikan pesan Paman itu , " jawab Raka Senggani.


" Pesan yg mana dan kepada siapa,?". tanya Tumennggung Bahu Reksa tidak mengerti.


" Pesan bahwa para kawanan rampok itu harus berhati-hati jika harus mencegat Senopati Pajang, " jawab Raka Senggani sambil tersenyum.


Tumenggung Bahu Reksa kembali tertawa ternyata ia termakan kelakar dari anak angkat nya itu.


" Apakah paman tidak akan memberi pesan kepada Kakang Lintang Sandika dan adi Lintang Sri Wedari,?". tanya Raka Senggani.


" Oh iya, paman mu ini hampir lupa, jika Angger Senggani bersedia singgah lah terlebih dahulu ke rumah dan ajak lah Sandika turut bersamamu, Ngger ke Pajang mungkin itu akan dapat mengobati perasaan nya yg terluka akibat tewas nya temannya sewaktu terjadi perang di Sunda kelapa,!" ungkap Tumennggung Bahu Reksa.


" Baik paman, nanti sekalian akan Senggani ajak ke gunung Lawu menemui gurunya Panembahan Lawu itu yg telah berjasa menolongku sewaktu berhadapan dengan Resi Brangah dari Blambangan, !" jelas Raka Senggani.

__ADS_1


" Terima kasih , Ngger,!". kata Tumennggung Bahu Reksa.


Setelah selesai berkemas, Raka Senggani langsung pamit kepada Tumennggung Bahu Reksa.


Ia berjalan sendiri menuju ke kotaraja Demak saat hari telah sore, dalam perjalanan nya kali ini ia nampak terlihat santai, meski hanya seorang diri.


Tiba di sebuah pedukuhan kecil di luar kota Jepara hari pun telah malam, ia singgah di sana melaksanakan sholat maghrib dan melanjutkan perjalanan lagi.


Nampak dari langkah -langkah nya ia tidak sedang terburu -buru. Sehingga sampai di hutan kecil di dekat perbatasan Kotaraja Demak itu hari menjelang pagi.


Ketika kokok ayam jantan yg pertama terdengar , Raka Senggani sampai di hutan kecil itu, ia meningkatakn kewaspadaan nya , seperti yg telah di katakan oleh Tumennggung Bahu Reksa bahwa tempat itu terkadang masih ada juga kawanan rampok nya, ternyata kali ini hal tersebut menjadi kenyataan.


Sejak memasuki hutan itu , ia telah merasa ada tiga orang yg mengikuti nya.


Ketika telah tepat didalam hutan tersebut secara tiba -tiba, terlihat tiga sosok tengah menghalang jalan nya.


Senopati Pajang itu berhenti dan memandangi ketiganya. Karena suasana masih gelap ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah mereka.


Ia masih di tempat nya ketika salah seorang dari ketiganya itu bertanya,


" Hehh , siapa kau , berani melewati wilayah kami ini,?"


" Aku adalah seorang prajurit Demak, apa maksud kalian menghalangi jalan ku,!" jawab Raka Senggani dengan pelan.


" Hehh, jangan coba -coba menggertak kami, karena kami tahu prajurit Demak lagi menjalani Pendadaran di Jepara, cepat serahkan barang-barang mu itu,!" teriak orang tersebut.


" Aku tidak memiliki apa -apa, yg ada hanya buntelan pakaian ini saja, " jawab Raka Senggani.


" Kau jangan bohong, Kulihat di pinggangmu terselip sebuah keris yg bertretes berlian dan timangmu pun dari emas," kata Orang itu lagi.


" Ahh ini hanya sebuah keris biasa tidak ada harga nya,!" ucap Raka Senggani.


" Kakang orang ini terlalu banyak omong biar ku sumpal mulut nya itu dengan pedangku ini," kata orang yg berdiri di sebelah kanan.


" Jangan terburu nafsu, kita masih harus mendengar lagi apa yg ingin di katakan nya,!". jawab orang yg bertanya kepada Raka Senggani itu.


" Ahh terlalu lama dan bertele -tele, " ucap yg satu lagi.


" Sekali lagi kutanyakan kepadamu, siapa diri mu dan hendak pergi kemana?" tanya orang itu lagi.


"Seperti yg telah Kukatakan kepadamu, aku adalah seorang prajurit Demak dan akan kembali ke Demak, dan barang bawaan ku hanya buntelan pakaian ini ," jawab Raka Senggani.


" Baik, baik , jika dirimu memang tidak mau menyerahkan apa yg telah Ku minta jangan salahkan Aku jika engkau pulang tinggal nama saja,". kata orang itu.


" Adi , segera ambil keris dan timangnya itu, cepat,!". terdengar perintah orang itu.


Kedua orang yg ada di samping nya langsung meloncat mendekati tempat dari Raka Senggani.


Senopati Pajang itu terlihat tenang -tenang saja.


" Ternyata kau lebih memilih mati dari pada menyerahkan keris dan timang mu itu, terima lah ini, Hiyyahhh,!" teriak kedua perampok itu.


" Sangat di sayangkan bahwa kau hari ini harus berhadapan dengan Tiga begal alas Bintara," ucap yg seorang lagi.


Kedua orang itu langsung menyerang Raka Senggani dengan sabetan kedua pedang nya, sangat cepat serangan itu.


Raka Senggani melompat mundur menghindari serangan itu. Ketika kaki nya menjejak tanah serangan kedua orang itu pun menderu kembali, terpaksa ia harus melompat ke udara dan melewati kedua orang dari atas, sedangkan Raka Senggani masih belum mengeluarkan keris nya.


Serangan kedua orang itu semakin gencar dalam mengurung Raka Senggani, seakan sulit untuk keluar dari tekansn itu.


Tetapi bagi Senopati Pajang itu, serangan kedua nya masih dengan mudah nya di mentahkan nya.


Raka Senggani masih berlompatan menghindari serangan serangan itu.


Membuat geram kedua lawan nya.


" Heh, jangan tahu nya cuma berlompatan saja seperti monyet," teriak orang itu.


Raka Senggani diam saja, dan sesekali memberikan serangan balasan kepada lawan nya itu.

__ADS_1


Ketika hari mulai terang, terlihat oleh Raka Senggani bahwa yg tengah berdiri sebagai pemimpin rampok itu adalah orang yg di kenal nya.


" Heh, bukan kah ia adalah,...." kata Raka Senggani dslam hati.


Ia masih saja di sibukkan oleh serangan kedua lawan nya itu.


Sementara orang yg tengah berdiri menonton itu terkesiap darah nya setelah jelas melihat wajah orang yg mereka hadang itu.


" Apakah aku tidak sedang bermimpi, bukan kah dia adalah Senopati Brastha Abipraya, orang yg telah membunuh guru,!" ucap nya dalam hati.


" Walang dan adi Saket, mundur kalian berdua , orang yg bukan lawan mu," teriak orang itu.


" Baik kakang,,". teriak keduanya.


Mereka melompat menjauh dari Raka Senggani itu. Sekarang giliran orang yg di panggil kakang itu yg maju.


" Ternyata kita berjumpa di sini, Senopati Brastha Abipraya, masih ingat kah kau denganku,?" tanya orang itu.


" Tunggu , seperti nya aku mengenal mu tetapi dimana, ...." jawab Raka Senggani.


Senopati Pajang itu langsung mengingat wajah orang yg tengah di hadapi nya itu.


Cukup lama ia baru teringat bahwa yg dihadapan nya itu adalah Arya Pinarak , seorang murid dari Mpu Phedet Pundirangan penguasa Lereng Wilis itu.


" Ternyata kau adalah seorang murid dari Mpu Phedet Pundirangan, " jawab Raka Senggani.


" Bagus ingatan my ternyata masih tajam, aku Arya Pinarak murid dari Mpu Phedet Pundirangan akan menuntut balas atas kematian Guru ku di tangan mu Senopati Brastha Abipraya,". jawab orang itu.


Yg ternyata bernama Arya Pinarak dari lereng Wilis merupakan murid kesayangan dari Mpu Phedet Pundirangan itu.


" Silahkan , Arya Pinarak, jika kau ingin belapati terhadap kematian gurumu itu," ucap Raka Senggani.


" Bagus, memang sudah saat nya Aku menagih hutangmu itu, bersiap lah," seru Arya Pinarak.


Arya Pinarak terlihat tengah bersiap untuk melakukan serangan.


" Terima ini Senopati Brastha Abipraya, heaahh," teriak nya.


Arya Pinarak langsung menerjang Raka Senggani dengan sebuah tendang mengarah perut dari Senopati Pajang itu. Serangan dengan di lambari tenaga dalam yg cukup tinggi segera mengarah ke perut dari Raka Senggani.


" Huuffhh,"


Terlihat Raka Senggani melompat menghindari serangan itu. Luput serangan pertama, Arya Pinarak menyerang kembali dengan mengejar tubuh dari Raka Senggani.


Pertarungan kedua nya berjalan seru, karena mereka tidak mmepergunakan senjata sehingga membuat kedua nya bergerak dengan mengandalkan kemampuan ilmue peringan tubuh nya.


Kelebatan - kelebatan keduanya semakin cepat, Arya Pinarak yg sudah sangat ingin membunuh lawan nya itu tsmpak bersemangat untuk membunuh lawan.


Namun bagi Raka Senggani pertarungan nya kali ini memang cukup mudah karena sebelum nya ia telah bertarung dengan Sentanu yg memilki kesamaan dalam hal tata gerak, sehingga ia hanya melayani saja pertarungan itu.


Sentuhan dari kedua orsng itu mulai terjadi, serangan tangan kanan dari Raka Senggani berhasil menyusup masuk ke bawah ketiak dsri Arya Pinarak. Membuat murid dari Mpu Phedet Pundirangan itu harus melompat menghindar guna mencegah serangan susulan yg telah di bangun oleh Raka Senggani itu.


" Apa hubungan mu dengan Sentanu,?" tanya Raka Senggani.


" Aku dan Sentanu adalah saudara seperguruan," jawab Arya Pinarak.


" Pantas, " ucap Raka Senggani.


Ia terus mendesak Arya Pinarak. Merasa terdesak Arya Pinarak memanggil dua orang kepercayaan nya itu agar dapat menolong nya.


Menghadapi ketiga orang itu , Raka Senggani terlihat terdesak, dua atau tiga kali ia harus menjauhi ujung pedang kedua nya itu.


Di pagi yg cukup cerah itu, ke empat orang itu terus berlanjut. Meski di keroyok oleh tiga orang tersebut.


" ****** kau ," teriak orang yg bernama Walang itu.


Ia membabat kan pedang nya lurus mengarah kannya ke dada Raka Senggani. Senopati Pajang itu menyambut serangan itu dengan sebuah tendangan mengarah pangkal lengan dari orang yg bernama Walang itu.


Demikian cepat nya tendangan dari Raka Senggani itu mampu memotong serangan dari Orang itu.

__ADS_1


Tendangan itu mengenai sasarsn, hingga mementlakan pedang yg ada di genggaman nya itu. Mendapati salah seorang pemilik pedang yg telah tidak lagi, teman yg satu nya , segera menyusuli serangan teman nya itu dengan tusukan kearah perut dari Senopati Pajang itu dan disusul pula serangan dari a Arya Pinarak, membuat Raka Senggani harus kembali mendahului serangan itu , sambil melompat cukup tinggi , serangan pedang yg mengarah perut itu mampu diatasi nya, masih dalam posisi mengambang di udara Raka Senggani langsung memberikan serangan ke arah Arya Pinarak dengan kepalan tangan mengarah kepala dari murid Mpu Phedet Pundirangan itu, namun ia berhasil menghindari serangan itu, hanya saja ia agak terlambat, meski kepala nya luput dari kepalan tangan Raka Senggani tetapi pundaknya harus terkena pukulan Senopati Pajang itu , Arya Pinarak terpaksa terjatuh akibat hantaman keras dari tangan Raka Senggani.


Melihat teman nya telah terjatuh, Walang dan saket secara bersamaan memalangkan pedang nya guna menghambat serangan lanjutan kepada Arya Pinarak. Dan hal itu berhasil, Raka Senggani mengurung kan niat nya mmeburu Arya Pinarak, ia berbalik memyerang kedua orang itu. Sebuah sntuhan tangan kanan nya berhasil mematahkan pedang yg ada di tangan Walang, kemudian ia memberikan tendangan ke arah kepala dari Saket , terpaksa kedua orang itu harus melompat mundur.


__ADS_2