Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 9 Sentuhan bag delapan.


__ADS_3

Sementara di desa Trunan di sebelah timur dari Gunung Tidar,.Raka Senggani dan Lintang Sandika bersama dengan Anggono telah singgah di situ.


Raka Senggani kemudian mendatangi sebuah tempat. Terdapat dua makam yg ada di tempat itu.


" Makam siapa ini, adi Senggani,?" tanya Lintang Sandika.


" Senggani tidak tahu, hanya guru pernah beepesan jika kelak menyambangi tempat ini, Senggani harus kemari untuk berziarah dan nyekar Kakang," jawab Raka Senggani.


Kemudian Senopati Pajang itu melakukan tabur bunga dan kemudian berdoa di tempat itu.


Setelahnya, Anggono kemudian mengajaknya segera beranjak dari tempat itu.


" Mari adi Senopati, jarak dari sini ke Mantyasih sudah tidak jauh lagi," ucap Anggono.


" Marii," sahut Raka Senggani.


Ketiga nya kemudian menunggangi kuda nya dan menuju pedukuhan induk Mantyasih, mereka melalui rumah yg di gunakan Macan Baleman dan Rajungan sebagai tempat menginap.


Perlahan mereka bertiga melewati jalanan pedukuhan induk itu, sesekali Anggono yg telah sangat di kenal di tanah Perdikan itu menjawab panggilan orang -orang yg tengah melintas hendak ke sawah , termasuk Kinanti putri dari Ki Jagabaya.


" Ehh, Kakang Anggono, kapan kembali nya,?" tanya nya kepada pengawal tanah Perdikan.


" Baru saja Kinanti, kau mau kemana,?" kata Anggono.


" Mau ke kali kakang, siapa yg bersama kakang itu,?" tanya Kinanti lagi kepada Anggono.


" Oh , mereka orang -orang dari Pajang Kinanti, ini adalah Senggani dan di sebelahnya Sandika, mari Kinanti, kami akan menghadap kepada Ki Gede," kata Anggono.


Seraya kembali menjalankan kudanya, dan tidak terlalu lama mereka telah sampai di depan sebuah rumah yg besar dan cukup megah, Ya , rumah Ki Gede Mantyasih sendiri.


Sesampainya di halaman rumah itu , Anggono dan Raka Senggani serta Lintang Sandika segera turun dari kudanya.


Ketiganya segera menambatkan kudanya. Anggono terlebih dahulu naik ke atas pendopo.


" Saya telah kembali ,Ki Gede," ucap nya setelah melihat pemimpin tanah Perdikan itu.


" Kapan kau sampai disini, Anggono,?". tanya Ki Gede.


" Baru saja , Ki Gede, sebelum nya kami telah singgah terlebih dahulu di Trunan," jawab Anggono.


Kemudian Gede Mantyasih itu melihat ada dua orang pemuda yg masih asyik melihat -lihat keadaan rumah Ki Gede.


" Siapa mereka itu, Anggono,?" tanya Ki Gede pada Anggono.


" Waduh , hampir terlupa Ki Gede, mereka itu adalah utusan dari Pajang, adi Senggani dan Sandika silahkan naik,". seru Anggono.


Kemudian kedua pemuda itu naik ke atas pendopo rumah Ki Gede itu.


" Assalamualaikum, Ki Gede," ucap Raka Senggani.


" Waalaikumsalam,". jawab Ki Gede Mantyasih itu.


Kemudian ketiga nya bersalaman.


" Silahkan, silahkan duduk, ehh, ..., anngg,....". ucap Ki Gede Mantyasih.


" Nama saya Senggani , tepatnya Raka Senggani, Ki Gede, dan ini kakak angkatku namanya , Lintang Sandika,". ungkap Raka Senggani.


" Ya, ya , silahkan duduk angger Senggani dan Angger Sandika," ucap Ki Gede Mantyasih lagi.


Kemudian keempat nya langsung duduk di atas pendopo rumah Ki Gede Mantyasih itu.


" Dimana , Rasala dan Ki Jagabaya, Ki Gede,?". tanya Anggono.


Ia merasa heran melihat Gede Mantyasih itu hanya sendiri saja di rumah tidak seperti biasanya, selalu ramai.


" Mereka baru saja keluar menuju pedukuhan kulon, bersama Wirya , ada kejadian yg perlu mereka selesaikan,". jawab Ki Gede Mantyasih.


" Ada apa dengan pedukuhan kulon itu, Ki Gede,?". tanya Anggono lagi.

__ADS_1


" Telah terjadi pembunuhan atas diri salah seorang juragan sapi , yaitu juragan Anteng, " jawab Ki Gede.


" Siapa orang nya yg telah berani membunuh Juragan Anteng itu, Ki Gede?" tanya Anggono heran.


" Entahlah, seperti nya dengan kedatangan dari para tokoh -tokoh dunia persilatan itu telah mulai membuat kerusuhan di Mantyasih ini, Anggono," jawab Ki Gede.


" Kemarin malam, putri Ki Sudirjo telah hilang dari rumahnya," kata Ki Gede lanjut.


" Dan tampaknya, putri Ki Sudirjo itu masih hidup dan berada di puncak Gunung Tidar itu," ucap Ki Gede lagi.


" Jadi Rara Tinampi telah di culik orang,?" tanya Anggono agak terkejut.


" Benar, Ia telah di culik seorang yg berilmu sangat tinggi, sehingga mampu lolos dari pengamatan para pengawal yg di pimpin oleh Wirya," jelas Ki Gede.


" Maaf Sebelumnya, Ki Gede, darimana Ki Gede dapat mengetahui bahwa putri Ki Sudirjo itu ada di Tidar,?". tanya Raka Senggani.


Senopati Pajang itu agak heran atas perkataan dari pemimpin tanah Perdikan Mantyasih itu yg telah mengetahui tempat orang yg telah di culik itu tetapi tidak segera bertindak untuk menyelamatkannya.


" Kami mengetahui nya dari Wiku Maha Gelang yg berasal dari Tibet,". jawab Ki Gede Mantyasih.


" Wiku Maha Gelang, siapa gerangan orang itu , Ki Gede,?" tanya Anggono.


" Ia seorang Wiku yg merupakan saudara seperguruannya Wiku Mandrayana, dan datang kemari memang ingin bertemu dengan Resi Yaramala itu, Anggono,". jawab Ki Gede.


" Dimana mereka tinggal,?". tanya Raka Senggani.


" Mereka tinggal di sebelah tidak jauh dari sini,". jawab Ki Gede Mantyasih.


" Sebaiknya , kau panggil mereka itu Anggono,". kata Ki Gede Mantyasih kepada Anggono.


" Mereka ada di rumah sebelah Ki Gede,?" tanya Anggono.


Kepala Ki Gede Mantyasih itu mengangguk, dan kemudian Anggono bangkit dari duduk nya seraya berjalan keluar.


Tidak terlalu lama Anggono telah datang lagi dengan di temani oleh Biksu Maha Gelang dan Biksu Mandrayana.


" Silahkan duduk , Wiku berdua,". kata Ki Gede kepada kedua orang itu.


" Ada apa Ki Gede memanggil kami, apakah sesuatu yg penting,?". tanya Biksu Maha Gelang.


Kemudian sang Biksu itu tertuju mata nya pada sosok pemuda yg tengah duduk di hadapan nya, agak lama Biksu dari Tibet itu menatap.


" Siapakah gerangan, anak muda ini, Ki Gede,?" tanya nya kepada Ki Gede Mantyasih.


" Ia lah , senopati yg telah di kirim dari Kadipaten Pajang, Wiku, nama nya Raka Senggani dan bergelar Senopati Brastha Abipraya," jawab Ki Gede.


" Ooo,.pantas, siapa gurumu, anak muda ,?" tanya Biksu Maha Gelang.


" Guru saya bernama Ki Bakir , Wiku ," jawab Raka Senggani.


" Apakah engkau tuntas menerima ilmu dari nya,?". tanya Biksu Maha Gelang lagi.


Raka Senggani agak kebingungan menjawab pertanyaan itu, memang ia telah selesai menerima pelajaran yg telah di berikan oleh guru nya itu, akan tetapi ia tidak tahu apakah itu di sebut tuntas atau masih ada lagi yg belum di pelajari nya, karena memang ilmu sang Guru teramat banyak, dan menurut nya ia masih sebahagian kecil saja menerima anugrah untuk mendapatkan nya.


" Saya tidak tahu, Wiku, tetapi guru mengatakan bahwa saya telah selesai menerima pelajaran dari nya, dan untuk pengembangan nya di serahkan kepada saya sendiri,". jawab Raka Senggani.


" Itulah hebat nya, Gurumu itu, anak muda , ia memang dapat memahami kemampuan dari seorang muridnya," ucap Biksu Maha Gelang.


Sementara orang -orang yg berada di tempat itu tidak memahami ucapan Biksu dari Tibet itu.


Dan selang beberapa saat kemudian terdengar derap kaki kuda memasuki halaman rumah Ki Gede, terlihat Rasala, Ki Jagabaya dan Wirya turun dari kuda nya, mereka langsung naik keatas pendopo rumah Ki Gede Mantyasih itu.


" Bagaimana dengan pedukuhan kulon, apakah kalian mengetahui siapa pembunuh Juragan Anteng itu,?" tanya Ki Gede.


" Kami belum dapat memastikan Romo, tetapi dari penuturan istri Juragan Anteng itu, kemungkinan ia telah di bunuh oleh Nyi Ronce dan muridnya," jawab Rasala.


" Oh , hampir lupa kenalkan, mereka berdua ini adalah utusan dari Pajang, yg ini bernama Angger Senggani dan yg berada di sebelah nya Angger Sandika," ucap Ki Gede.


Baik Rasala , Ki Jagabaya serta Wirya langsung memandangi kedua utusan itu, mereka masing -masing bertanya di dalam hati siapa orang yg di maksud oleh Biksu Maha Gelang yg mempunyai kemampuan yg sangat tinggi itu.

__ADS_1


" Apakah rumah mu masih memilki bilik yg kosong , Wirya,". tanya Ki Gede Mantyasih.


Namun sebelum , Pemimpin pengawal tanah Perdikan itu menjawab, Anggono kemudian yg berbicara.


" Biarlah mereka berdua ini tinggal di rumah ku saja , Ki Gede," ucap nya.


" Tidak apa -apa, jika memang rumah mu masih ada tempat buat mereka ,". jawab Ki Gede Mantyasih.


" Masih ada Ki Gede, sejak adikku itu meninggal , bilik nya tidak ada yg menempati,". jawab Anggono.


" Baik lah, aku ingin bertanya kepada Wiku Maha Gelang tentang kematian Juragan Anteng itu, Bagaimana apakah Wiku dapat mencari tahu siapa kira -kira orangnya,?" tanya Ki Gede Mantyasih.


Biksu Maha Gelang kemudian meletakakkan sebelah tangan nya di depan dada , sejenak kemudian mulut nya komat kamit membaca mantera, sedangkan tasbih besar nya terlihat bergerak , selang tidak terlalu lama ia membuka matanya dan menyudahi nya.


Ia berkata,


" Tampak nya agak sulit untuk mengetahui nya Ki Gede, ada tabir gaib yg menutupi nya, dan pandangan mata batinku kesulitan untuk menembus nya," ucap nya.


" Jadi apa sebaiknya yg kita lakukan, seperti nya , sudah banyak terjadi sesuatu yg tidak kita inginkan di Mantyasih ini, satu belum terselesaikan yg lain telah muncul lagi, apakah kita akan berdiam diri saja , Ki Gede,?" tanya Ki Jagabaya.


" Kalau menurut saran saya, sebaiknya kita mulai membagi tugas, mulai malam ini, saya dan adi Mandrayana akan ke pedukuhan kulon dan dari sana besok malam kami akan naik ke puncak Gunung Tidar itu,". ungkap Biksu Maha Gelang.


Kemudian Ki Gede Mantyasih bertanya ,


" Jadi bagaimana dengan kami, apakah kami akan dapat melewati pagar gaib itu, Wiku Maha Gelang,"


" Kalau kalian sebagian boleh ikut dengan kami, dan sebahagian lagi akan di pimpin oleh Anak muda ini, menurut kami ia dapat naik ke puncak dari arah timur, dekat Trunan itu," ucap Biksu Maha Gelang lagi.


" Biarlah kami yg bersama dengan angger Senopati ini, kami dan sebahagian pengawal tanah perdikan akan naik dari arah timur, sedangkan Ki Gede dan sebahagian lagi akan bersama Wiku Maha Gelang dan Wiku Mandrayana dari arah kulon,". ucap Ki Jagabaya.


" Apakah , anak Senggani mampu memimpin Ki Jagabaya,?" tanya Biksu Maha Gelang.


" Mudah -mudahan, Wiku, dan doakan kami dapat melewati rintangan yg telah mereka buat itu," jawab Raka Senggani.


" Bagus,...dan mulai saat ini kita harus telah bersiap, jangan sampai terlambat, karena Yaramala akan melakukan nya setelah lewat tengah malam, dan satu pesanku untuk kita semua bahwa kali kita akan menghadapi bukan hanya manausia , kita akan berhadapan dengan para makhluk halus yg akan mereka upayakan untuk bangkit kembali, jadi dekatkanlah diri kalian semua pada sang Maha pencipta," terang Biksu Maha Gelang itu.


Yg mendengarkan pesan dari Biksu Maha Gelang itu terdiam, mereka meyakini bahwa memang kali ini kekuatan yg ada di puncak Gunung Tidar itu bukan hanya kekuatan yg biasa -biasa saja tetapi kekuatan yg tidak kasat mata.


" Maaf sebelumnya Ki Gede, dan Wiku Mandrayana dan Wiku Maha Gelang, sesungguhnya kami datang kemari tidak hanya berdua saja, tetapi dengan segelar sepapan pasukan dari Pajang yg di pimpin oleh Paman Tumenggung Wangsa Rana," tukas Raka Senggani.


" Hehh, dimana mereka, ?" tanya Ki Gede Mantyasih itu kaget.


Karena Gede Mantyasih tidak melihat ada pasukan yg datang ke tanah Perdikan itu melainkan hanya kedua pemuda itu saja.


" Mereka kami tinggalkan masih jauh di belakang , mungkin besok mereka akan sampai,!" jawab Raka Senggani.


" Karena kami berkeyakinan bahwa selain mereka yg memiliki kemampuan yg tinggi, Macan Baleman sebagai seorang murid dari Resi Brangah itu tentu telah menyiap kan para begundal nya untuk menjaga gunung Tidar itu, sehingga kalau hanya kekuatan dari para pengawal tanah Perdikan Mantyasih saja tentu masih kurang,". ucap Senopati Pajang itu.


" Memang kami pun berpendapat demikian , karena beberapa telik sandi yg kami kirim telah melihat banyak orang yg berada di sekitar Gunung Tidar itu, hampir di Sepanjang jalan menuju ke puncak nya telah ramai dengan orang -orang yg tidak di kenal," jelas Ki Jagabaya.


" Mengapa hal ini tidak engkau laporkan Ki Jagabaya,?" tanya Ki Gede Mantyasih.


" Maaf , Ki Gede, Kami sempat terlupa akibat kematian dari Juragan Anteng itu, dan di tambah lagi dengan hilangnya Rara Tinampi putri Ki Sudirjo itu,". jawab Ki Jagabaya.


" Sudahlah , Ki Gede, yg penting saat ini, kita harus memusatkan perhatian kita kepada puncak Gunung Tidar itu, dan salah satu yg harus di perhatikan selain harus melewati pagar gaib kita juga harus dapat memukul mundur anggota rampok Macan Baleman itu,". kata Biksu Mandrayana.


" Begini saja, Wiku Mandrayana, sebaiknya Ki Gede dan para pengawal tanah Perdikan ini bersama Wiku Mandrayana dan Wiku Maha Gelang, naik dari kulon, biar kami dan para prajurit Pajang yg akan naik dari Timur,". kata Raka Senggani.


" Baik , kami terima usul angger Senopati itu,". jawab Ki Gede Mantyasih.


" Aku akan bersama dengan Senopati Brastha Abipraya naik dari Timur, Ki Gede,". seru Anggono.


" Ada yg lain lagi yg akan ikut dengan angger Senopati ini,?". tanya Ki Gede.


" Saya , Romo, !". sahut Rasala.


Putra Ki Gede Mantyasih itu penasaran dengan ucapan dari Biksu Maha Gelang, akan kemampuan dari Senopati Pajang itu, ia merasa perlu untuk melihat nya sendiri.


" Baik, kalian berempat segeralah bergerak ke Timur, usahakan jangan sampai kecolongan lagi, biar arah kulon ini, adalah tugas kami yg tua-tua ini,". sahut Ki Gede Mantyasih.

__ADS_1


Sesaat kemudian , Raka Senggani dan Lintang Sandika dengan di temani oleh Rasala dan Anggono meninggalkan rumah Ki Gede itu.


Mereka akan mampir terlebih dahulu di rumah Anggono, baru setelah nya akan terus mengarah ke timur , dan tugas mereka mengamankan tempat itu dari kejahatan yg akan di timbulkan oleh kelompok dari Resi Yaramala.


__ADS_2