Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 4 Si Topeng Iblis. bagian pertama.


__ADS_3

Kedua orang itu terus menjalan kan kuda nya agak kencang, karena Tara Rindayu pun ter nyata pintar menungggangj kuda.


Tiba-tiba mata Raka Senggani melihat debu mengepul di belakang nya pertanda ada banyak Kuda di belakang mereka.


" Terus per cepat lari kuda mu, seperti nya ada yg mengejar kita,!" seru Raka Senggani kepada Tara Rindayu.


" Baik kakang, " jawab gadis itu.


Meskipun begitu jarak antara mereka dengan para penunggang kuda di belakang nya makin merapat, ter nyata setelah makin dekat baru lah Raka Senggani melihat dengan jelas siapa mereka.


Ternyata Rangga Wira Dipa dan sepuluh prajurit Pajang yg telah selesai mengantar kan mayat para prajurit yg tewas di Alas Mentaok itu.


Rangga Wira Dipa terus memacu kuda nya dan merapat kepada Raka Senggani, dan setelah dekat ia pun langsung ber tanya,


" Di mana kakang Tumenggung Wangsa Rana,?" tanya nya kepada Raka Senggani.


Raka Senggani yg agak memelan kan jalan Kuda nya pun menjawab,


" Mereka telah lebih dahulu tadi,!" jawab nya.


" Mengapa Senopati ketinggalan ,?" tanya nya lagi kepada Raka Senggani.


" Kami tadi ber dua, singgah sebentar di pedukuhan itu untuk sekedar mengganjal perut, karena mulai pagi kami belum makan,!" jawab Raka Senggani.


" Siapa gadis itu, Senopati,?" tanya Rangga Wira Dipa lagi.


" Dia lah putri Juragan Tarya yg ber hasil di culik oleh Singo Lorok dan di bawa kabur sampai kemari,,!" jelas Raka Senggani lagi.


" Berarti Senopati Raka Senggani telah ber hasil menangkap Kepala begal asal gunung tidar itu,!" seru Rangga Wira Dipa agak keras karena suara nya seperti ter bawa angin.


" Demikian lah, dan saat ini Singo Lorok di bawah pengawasan dari Paman Tumenggung Wangsa Rana,!" jawab Raka Senggani lagi.


" Seharus nya Senopati Raka Senggani tidak bisa membiar kan kedua pemimpin rampok itu di bawah kepengawasan Kakang Tumenggung, takut nya guru dari Singo Lorok itu akan datang,!" ujar Rangga Wira Dipa lagi.


" Kalau begitu biar kami yg lebih dahulu menyusul mereka,!" kata Rangga Wira Dipa dan segera memberi isyarat untuk mendahului Senopati Raka Senggani.


Ke sebelas prajurit Pajang itu kemudian mendahului Raka Senggani, dan setelah malam menjelang baru lah mereka ber hasil menyusul rombongan dari Tumenggung Wira Dipa itu.


Tampak iring -iringan panjang itu terus ber jalan tanpa ber henti , Tumenggung Wangsa Rana merasa lebih aman jika telah mencapai kota kadipaten Pajang.


Sementara Raka Senggani dan Tara Rindayu ber hasil menyusul rombongan itu setelah mendekati gerbang kota kadipaten Pajang.


Di mana malam telah larut, namun rombongan itu terus masuk ke dalam kota kadipaten Pajang.


Tumenggung Wangsa Rana memerintah kan para prajurit nya untuk segera menempat kan para tawanan di tempat kurungan khusus buat para penjahat.


Setelah semua nya selesai baru lah para prajurit itu kembali ke bangsal nya.


Sedang kan Tumenggung Wangsa Rana di temani oleh Raka Senggani dan Tara Rindayu kembali ke rumah nya.


Se sampai di rumah Tumenggung Wangsa Rana, hari hampir terang .


Sehingga ketiga orang itu tidak sempat untuk memejam kan mata.


" Sebaik nya Angger Rindayu segera ber istrahat di dalam, kalau angger Senggani biasa nya akan jalan -jalan setelah selesai subuh,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Biar lah Rindayu di sini saja Kanjeng Tumenggung, ber sama Kakang Senggani,!" jawab Tara Rindayu.


Kemudian Tumenggung Wangsa Rana memanggil istri nya dan menyuruh istri nya itu untuk menyiap kan sebuah bilik guna Tara Rindayu ber istrahat.

__ADS_1


Nyai Tumenggung pun kemudian mengajak Tara Rindayu ke dalam dan menempat kan nya di sebuah bilik yg cukup luas.


" Ini bilik mu Nduk, ber istrahat lah meskipun pagi telah menjelang namun semalaman tentu diri mu belum ber istrahat, tentu sangat lelah dan mengantuk,,!" ucap Nyai Tumenggung kepada Tara Rindayu.


" Iya nanti Bi, setelah Rindayu ke pakiwan ter lebih dahulu,!" jawab Tara Rindayu.


Oleh Nyai Tumenggung, Tara Rindayu di antar ke pakiwan untuk membersih kan diri baru setelah nya ia membantu istri Tumenggung Wangsa Rana itu menyiap kan sarapan pagi buat suami nya dan Raka Senggani.


" Tidak usah ter lalu merepot kan diri, Nduk, bibi ter biasa melakukan sendiri,!" kata Nyai Tumenggung.


" Tidak mengapa Bi, memang di dapur kan tugas seorang perempuan, dan Rindayu kan seorang perempuan, jadi sudah sewajar nya untuk bekerja di dapur,!" ucap Tara Rindayu.


Meski pun di rumah nya Tara Rindayu tidak pernah mengerja kan pekerjaan rumah karena di rumah nya sudah sangat banyak pembantu namun kali ini putri Juragan Tarya itu melakukan pekerjaan yg tidak biasa di lakukan nya.


Tetapi Tara Rindayu tetap semangat untuk melakukan nya.


Setelah sarapan itu sudah siap untuk di hidang kan maka Tara Rindayu ber kata,


" Biar Rindayu saja yg mengantar kan nya ke depan , Bi, !" kata gadis itu mengambil nampan yg ada di tangan Nyai Tumenggung.


" Akan tetapi angger Rindayu adalah tamu kami, tidak sepantas nya tamu di perlaku kan demikian, sebaik nya angger Rindayu duduk saja di sini,!" balas Nyai Tumenggung yg tidak ingin hidangan itu di antar oleh Tara Rindayu.


" Tidak apa -apa. Bi, biar Rindayu saja yg melakukan nya,,!" pinta Tara Rindayu kepada Nyai Tumenggung.


Akhir nya Nyai Tumenggung mengalah dan memberi kan nampan itu kepada Tara Rindayu, dan gadis itu pun segera membawa nampan ke depan di mana Raka Senggani dan Tumenggung Wangsa Rana tengah asyik mengobrol, Raka Senggani tidak jadi jalan -jalan pada pagi itu malah ke asyikan ngobrol.


" Demikian lah paman Tumenggung , kami di warung itu mendengar ada lagi seorang rampok sakti yg ber gelar Si Topeng Iblis dan daerah kekuasaan nya di wilayah Kadipaten madiun dan bukan tidak mungkin, ia akan sampai kemari,!" kata Raka Senggani.


" Berarti tugas angger Senggani semakin berat, jika Si Topeng Iblis itu sampai kemari tentu Angger Senggani lah yg akan di harap kan oleh Kanjeng Adipati untuk menangkap nya," ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Sebenar nya bukan itu yg ada di pemikiran Senggani, tetapi mengapa semakin banyak saja orang -orang yg ber ilmu tinggi, tetapi kerja nya cuma menyusah kan rakyat kecil saja, jadi musuh negara bukan nya ilmu itu di per guna kan di jalan yg benar, Paman," kata Raka Senggani.


" Benar yg paman kata kan itu, banyak orang yg hanya mementing kan diri nya sendiri dan tidak mau perduli dengan kepentingan orang lain,!" kata Raka Senggani.


Kemudian Tara Rindayu keluar membawa kan makanan dan minuman yg telah mereka buat di dapur ber sama Nyai Tumenggung.


" Silah kan Kanjeng Tumenggung dan Kakang Senggani, di minum,!'' ucap Tara Rindayu setelah meletak kan makanan dan minuman itu.


" Terima kasih angger Rindayu,!" kata Tumennggung Wangsa Rana seraya mengambil se cangkir minuman berisi wedang jahe yg masih panas.


" Silah kan Angger Senggani,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


Kedua nya kemudian berhenti mengobrol nya malah asyik menikmati makanan dan minuman itu.


Tidak berapa lama, masuk lah seorang prajurit jaga yg menjaga rumah Tumenggung Wangsa itu sambil berkata,


" Maaf sebelum nya Kanjeng Tumenggung, tadi ada pesan dari Kanjeng Adipati bahwa Kanjeng Tumenggung di suruh menghadap setelah matahari lewat di atas kepala, karena hari ada Paseban agung di keraton demikian pula untuk Senopati Raka Senggani, di harap kan kehadiran nya oleh Kanjeng Adipati nanti di keraton,!" jelas Prajurit jaga ter sebut.


" Ya, pesan Kanjeng Adipati telah kami terima, silah kan kembali ber jaga,!" kata Tumennggung Wangsa Rana kepada prajurit itu.


" Siap Kanjeng Tumenggung, saya akan kembali ber tugas,!" jawab prajurit itu seraya melangkah pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian prajurit itu, Tumenggung Wangsa Rana dan Raka Senggani melanjut kan obrolan nya.


" Ngger, apakah setelah dari sini angger Senggani akan langsung pulang ke Kenanga,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Entah lah Paman, kalau memang di izin kan Senggani akan langsung pulang ke Kenanga guna mengantar kan Tara Rindayu ber temu kedua orang tua nya, yg tentu nya sangat mengkhawatir kan nya,!" jawab Raka Senggani.


" Apakah hubungan antara Angger Senggani dengan angger Rindayu itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.

__ADS_1


Raka Senggani langsung ter diam setelah mendengar per tanyaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu, ia masih ber pikir untuk menjelas kan nya.


Namun belum pun sempat ia menjawab Tumenggung Wangsa Rana telah ber kata lagi,


" Bukan apa -apa , Ngger, anggap lah Paman ini sebagai pengganti kedua orang tua mu, karena bila mengingat usia mu sekarang dan kedudukan yg telah engkau dapat kan, sudah selayak nya Angger Senggani memiliki sisihan agar dapat ber tugas dengan penuh tanggung jawab karena ada yg akan di bela yaitu keluarga, bukan maksud Paman menyuruh Angger Senggani segera memiliki se orang istri, hanya ingin sekedar memberi kan nasehat , orang tua ter hadap anak nya,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.


Setelah ter diam cukup lama, baru lah Raka Senggani menjawab pertanyaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu,


" Bukan nya tidak ingin segera memiliki seorang istri Paman, akan tetapi Senggani masih punya janji yaitu sebelum berhasil menemu kan pembunuh kedua orang tua ku itu, Senggani belum akan menikah,!" kata Raka Senggani menjawab pertanyaan dari Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Akan tetapi sampai kapan Ngger, jika Angger Senggani belum juga menemu kan nya hingga ber puluh -puluh tahun, apakah angger akan tetap saja hidup sendiri,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Senggani belum tahu Paman, mudah mudahan ketiga pembunuh orang tua ku itu segera dapat di temu kan,!" ujar Raka Senggani sambil menatap langit.


Akhir nya kedua orang itu pun berangkat ke keraton karena matahari telah lewat di atas kepala dan Raka Senggani pun telah selesai mengerja kan sholat zhuhur nya.


Kedua orang itu pun langsung masuk ke dalam Keraton tepat nya di hadapan singgasana Adipati Pajang.


Di dalam balairung istana Kadipaten Pajang itu telah banyak hadir para pembesar keraton Pajang.


Sejenak menanti kehadiran dari Adipati Pajang, para pembesar itu duduk rapi di hadapan Singgasana itu.


Tidak ter lalu lama Adipati Pajang hadir di dalam balairung istana keraton dan langsung duduk di atas singgasana nya dengan di temani sang per maisuri.


Sang Adipati Pajang langsung membuka sidang paseban itu, dengan mengucap kan selamat datang kepada hadirin yg ada di situ.


" Hari ini adalah sidang paseban agung di Kadipaten Pajang ini, selain menerima ulu bekti dari ber bagai Kademangan juga di sini kami akan mem beritahu kan tentang keberhasilan dari Kadipaten ini dalam ber bagai bidang juga kami di sini menampung segala keluhan dari daerah-daerah yg masuk wilayah kadipaten Pajang ini,'' kata Adipati Pajang.


" Keberhasilan yg pertama adalah kemampuan dari prajurit Pajang untuk mengaman kan wilayah alas Mentaok dari rongrongan para perampok , sehingga saat ini kawasan itu boleh di kata kan aman, dengan ter tangkap nya salah seorang gembong nya yg ber nama Singo Lorok dan ter luka nya Macan Baleman, yg biasa nya nama kedua orang itu menjadi momok yg menakut kan di tlatah Demak terutama di Pajang ini,!". ucap Adipati Pajang lagi.


" Ke semua nya itu berkat andil besar dari Senopati muda dan baru di Pajang ini, dan saat ini ingin Ku perkenal kan kepada kalian semua , ini lah dia Senopati Raka Senggani yg akan Ku beri gelar Senopati Brastha Abipraya," kata Sang Adipati Pajang kepada Raka Senggani yg tengah duduk di dekat Tumenggung Wangsa Rana itu.


Semua mata ter tuju kepada Raka Senggani, pemuda itu malah menundukkan wajah nya, sebenar nya ia malu telah di sebut-sebut oleh Adipati Pajang itu.


Namun kembali wajah nya di tengadah kan setelah ia ber pikir, sedang orang yg ber buat salah saja sanggup menengadah kan wajah nya, apalagi ia yg bukan se orang penjahat malah kamukten yg telah di terima nya, buat apa malu, begitu lah pikiran Raka Senggani.


" Dan di sini kami pun telah menerima utusan dari Kotaraja Demak, yg berisi permintaan untuk mengatasi persoalan keamanan di Kadipaten Madiun yg saat ini tengah heboh dengan kehadiran nya se orang perampok yg ber ilmu tinggi dan ber nama Si Topeng Iblis, jadi di sini kami kembali menugas kan Senopati Brastha Abipraya untuk mengatasi persoalan di Madiun itu yg telah banyak menelan korban,!" kata Adipati Pajang lagi.


" Selain mendapat kan kedudukan sebagai Senopati di Pajang ini, Senopati Brastha Abipraya pun kami beri tanah palungguhan di dekat Kota Pajang ini tepat nya di sebelah Timur,!" ungkap Adipati Pajang .


Setelah penugasan dari Raka Senggani dan pemberian gelar serta beberapa hadiah kepada pemuda itu maka Adipati Pajang pun melanjut kan kata-kata nya, serta menerima keluhan atau pun permintaan dari beberapa kademangan yg berada di wilayah Pajang itu.


Sampai menjelang malam baru lah Sidang paseban itu selesai.


Ketika Sang Adipati masuk ke dalam, Tumenggung Wangsa Rana mengajak Raka Senggani untuk ber bicara secara pribadi kepada sang Adipati.


Ketika tiba di depan bilik nya, Tumenggung Wangsa Rana langsung ber kata,


" Maaf kan Hamba sebelum nya, Kanjeng Gusti Adipati, Angger Senggani memerlu kan bicara dengan Kanjeng Adipati,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Ada apa, Senopati Brastha Abipraya, apa yg ingin engkau bicara kan ,?" tanya Adipati Pajang.


" Mohon ampun beribu -ribu ampun, Kanjeng Gusti Adipati, hamba Senopati Brastha Abipraya ingin meminta kepada Kanjeng Adipati untuk sudi kira nya memberi kan kepada hamba untuk sekedar ber istrahat barang sepekan guna mengembali kan putri Juragan Tarya yg sebelum nya telah hamba selamat kan dari tangan rampok Singo Lorok itu, Kanjeng Gusti Adipati,!" ucap Raka Senggani sambil merangkap kan kedua tangan nya di atas kepala nya.


" Baik , Ku beri kan waktu istrahat kepada mu Senopati Brastha Abipraya, tidak lebih dari sepuluh hari, setelah nya engkau harus kembali kemari guna menjalan kan tugas yg telah di beban kan ke pundak mu yaitu mengatasi Si Topeng Iblis di seputaran Madiun dan kali ini tampak nya tugas mu cukup berat, karena tanpa bantuan Prajurit , baik dari Pajang mau pun dari Demak, ter serah kepada mu jika ingin membawa teman,!'' kata Adipati Pajang itu.


" Sendika Dawuh, Terima kasih, Kanjeng Adipati, hamba akan secepat nya kembali kemari setelah per soalan di Desa Kenanga selesai,!"


Kedua orang itu pun segera pergi dari tempat itu setelah sebelum nya memberi hormat kepada Adipati Pajang.

__ADS_1


__ADS_2