Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 3 Memburu Singo Lorok bagian ke enam.


__ADS_3

" Jangan salahkan aku jika ini hari terakhirmu, Tumenggung Wangsa Rana, karena engkau telah kuperingatkan,!" ucap orang itu dengan suara yg mengguntur.


" Hehh, kau pikir aku , Tumenggung Wangsa Rana takut dengan gertakan mu, andaipun aku mati itu sudah menjadi sumpahku selaku seorang prajurit, dan angkara murka memang harus di musnahkan dari muka bumi ini, termasuk kau,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana tak kalah garangnya.


" Siapa dia sesungguhnya Paman Tumenggung,?" tanya Raka Senggani.


" Entahlah, Angger Senggani, tampak nya ia bukan Singo Abra yg telah mengalahkan aku waktu itu,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


" Hehh, dia bukan Singo Abra akan tetapi mengapa dia tahu dengan kejadian waktu itu, kakang Tumenggung,?" tanya Rangga Wira Dipa.


" Aku pun tidak mengerti adi Wira Dipa, tampaknya yg menguasai Alas Mentaok ini bukan lagi gerombolan dari Singo Ireng murid dari Singo Abra itu, tampaknya ada orang lain yg telah jadi penguasa di sini, sejak kepergian dari Singo Ireng ke desa Kenanga, mungkin orang ini yg telah mengambil alih Alas Mentaok ini,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Jika bukan gerombolan Singo Ireng, jadi siapa lagi yg telah berkuasa di tempat ini,?" tanya Raka Senggani.


Belum sempat Tumenggung Wangsa Rana menjawab pertanyaan dari Raka Senggani itu, terdengar suara yg menggelegar keluar dari orang yg tidak di ketahui keberadaannya itu,


" Ha, ha, ha, ha, ha, kalian bertanya -tanya tentang siapa aku sebenarnya, baiklah agar kalian tidak mati penasaran, akan Kuperkenalkan diri Ku, Aku lah Macan Baleman yg sekarang jadi penguasa alas Mentaok ini karena kawanan dari Singo Ireng telah aku bunuh dan aku usir dari sini, jadi akulah satu-satunya sekarang penguasa alas Mentaok ini adalah , Macan Baleman dari Blambangan dan kalian prajurit dari Pajang hanya akan mengantarkan nyawa saja jika mau berhadapan denganku, Macan Baleman, ha, ha,ha,!" teriak orang itu yg mengaku sebagai Macan Baleman dari Blambangan.


" Macan Baleman dari Blambangan,?" seru ketiga punggawa dari Kadipaten Pajang itu ber samaan.


" Bukankah ia telah dikalahkan oleh Singo Abra guru dari Singo Ireng beberapa waktu lalu, dan yg Kudengar ia terluka cukup parah akibat dihajar oleh Singo Abra itu,!" ujar Tumenggung Wangsa Rana.


" Boleh jadi ada seseorang yg telah menyelamatkannya kakang Tumenggung,!" ucap Rangga Wira Dipa.


" Mungkin juga, karena memang Macan Baleman amat menginginkan Alas Mentaok ini sebagai sarangnya,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Ha, ha, ha, kalian sudah selesai berembuknya, sekarang bersiaplah, suuuiiiiit,!" terdengar suitan yg panjang dari orang yg mengaku sebagai Macan Baleman itu.


Tiba -tiba saja berpuluh -puluh orang telah mengepung tempat itu.


" Adi Watu pungkur dan adi Klabang ireng segera habisi mereka semua, biar Tumenggung Wangsa Rana ini, aku yg akan mengantarkannya ke akherat, !" seru Macan Baleman kepada dua orang kepercayaannya itu.


" Baik kakang Baleman, kami akan menghabisi para prajurit Pajang ini, anak -anak seraaaang, habisi semua jangan ada yg tersisa ,!" teriak Klabang ireng.


Di tengah malam itu terjadilah pertempuran antara prajurit Pajang melawan para perampok Alas Mentaok yg kali ini di pimpin oleh Macan Baleman.


Denting senjata segera terdengar ketika pertempuran telah berjalan.


Tandang dari Watu pungkur dan Klabang ireng sangat garang dan kasar, para prajurit Pajang segera ngeri jika harus berhadapan dengan kedua orang itu.


" Sebaiknya Aku dan adi Rangga Wira Dipa yg menghadapi mereka, biar Angger Senggani yg melawan Macan Baleman itu, bukan apa -apa, Ngger, memang kesehatanku belum pulih benar,!" kata Tumenggung Wangsa Rana.


" Baik Paman Tumenggung , lagian Senggani pun telah di angkat sebagai Senopati Pajang , bukan begitu Paman Tumenggung,!" kata Raka Senggani setengah bercanda.


" Ahhh, Angger Senggani tahu saja, memang selaku Senopati angger lah yg harus berhadapan dengan pemimpin dari kawanan rampok itu, bukan begitu Ngger,!" jawab Tumennggung Wangsa Rana juga dengan berkelakar.


" Siap Paman, tugas siap dijalankan,!" seru Raka Senggani.


Anak muda lantas berjalan mendekati tempat dari Macan Baleman yg terlihat berdiri agak jauh dari pertempuran itu.


Ia terlihat berdiri di atas sebatang kayu besar yg roboh sambil menyaksikan jalannya pertempuran itu.

__ADS_1


Meski pun malam sangat pekat namun Macan Baleman melihat dengan jelas bahwa anak buahnya tidak mampu untuk mendesak para prajurit Pajang terlebih setelah kehadiran dari Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa, Watu pungkur dan Klabang ireng segera terikat perang tanding dengan kedua punggawa Pajang itu.


" Hehh, mengapa terlalu lama hanya untuk menghabisi cecurut dari Pajang itu, apakah adi Watu pungkur dan adi Klabang ireng belum makan tadi,!" teriak Macan Baleman.


Ia melihat kedua orang kepercayaan nya itu tidak bisa berbuat banyak menghadapi Tumenggung Wangsa Rana dan Rangga Wira Dipa.


Saking geramnya Macan Baleman segera melesat menerjang ke arah pertempuran dan hendak menyasar para prajurit Pajang.


Akan tetapi belumpun niat itu kesampaian dari sampingnya melesat pula sesosok bayangan dan langsung memberikan tendangan ke arah pemimpin rampok Alas Mentaok itu. Ya, Raka Senggani langsung mencegat Macan Baleman yg ingin menyerang pasukan Pajang itu, karena memang Raka Senggani ditugaskan untuk berhadapan dengan pemimpin kawanan rampok Alas Mentaok itu.


Mendapati ada seseorang yg menghalangi keinginannya, segera Macan Baleman memutar tubuhnya sambil salto beberapa kali di udara menghindari serangan dari Raka Senggani itu, serangan itu luput dan Macan Baleman langsung berhadapan dengan Raka Senggani.


" Hehh, siapa kau, apakah engkau telah bosan hidup, tidak tahu berhadapan dengan siapa,!" gertak Macan Baleman dengan suara yg keras.


Namun gertakan itu tidak berpengaruh apa -apa terhadap Raka Senggani malah pemuda itu dengan ringannya menjawab,


" Siapa aku, aku adalah Prajurit Pajang dan engkau adalah Macan Baleman, tidak ada yg aneh,!" jawab Raka Senggani.


" Kau sungguh malang prajurit Pajang karena harus berhadapan denganku Macan Baleman, sedangkan Singo Abra guru dari Singo Ireng tidak mampu untuk membunuhku, apalagi kau prajurit Pajang, masih muda lagi, segeralah bertekuk lutut, biar sikapmu tadi aku maafkan,!" ucap Macan Baleman dengan keras.


" Tidak ada kata menyerah bagi seorang prajurit, apalagi Aku, harus bertekuk lutut denganmu, seorang perampok, yg ada engkaulah yg harus menyerah dan akan kami hadapkan kepada Kanjeng Gusti Adipati Pajang, karena memang tugas kami adalah untuk menangkap kalian hidup atau mati,!" jawab Raka Senggani tidak kalah garang.


" Siapa kau yg akan menangkap Macan Baleman, Adipati Pajang sendiri belum tentu sanggup untuk menandingiku, apalagi kau, hanya seorang prajurit, puihhh,!" teriak Macan Baleman sambil meludah ke tanah.


" Terserah apa katamu, yg jelas perintah telah kami terima, jadi kami harus menangkap pemimpin rampok Alas Mentaok ini hidup atau mati, sekarang bersiaplah,!" sergah Raka Senggani yg merasa diremehkan oleh Macan Baleman itu.


" Memang bocah tidak tahu di untung, di beri hati minta jantung , terima ini, heeaaahh,!" teriak Macan Baleman.


Serangan itu langsung mengarah ke leher dari Raka Senggani.


Melihat hal itu, Raka Senggani langsung mengeluarkan serulingnya untuk menangkis serangan itu,


" Traaaak,!" bunyi kedua senjata ketika beradu.


Namun bagi Macan Baleman segera menyerang kembali dengan cepat setelah ia terdorong beberapa langkah saja dari adu tenaga dalam itu.


Ia belum menyadari bahwa lawan yg di hadapinya tidak bergeming dari tempat nya.


Kembali Macan Baleman menyerang dari atas sambil terus menebaskan cluritnya ke kanan dan kiri, namun semua serangan itu mampu di tahan dengan seruling yg ada di tangan Raka Senggani itu.


Ketika Macan Baleman menjejakkan kakinya di tanah ganti Raka Senggani yg melesat menerjangnya,


" Hhheaaah,!"


Dengan mengemposi tenaga dalamnya Raka Senggani segera meluruk tubuh Macan Baleman dengan tusukan Seruling ke arah mata dari pemimpin rampok Alas Mentaok itu.


Mendapati serangan itu Macan Baleman segera memutar cluritnya dengan cepat seperti baling-baling, akan tetapi Raka Senggani segera mengurungkan serangan dengan serulingnya, ia langsung memberikan tendangan ke arah dada dari Macan Baleman, tak urung dada bidang dari Macan Baleman itu terkena tendangan dari Raka Senggani.


" Diegh, diegh, diegh,!"


Tiga kali tendangan beruntun dari Raka Senggani dari udara membuat tubuh dari Macan Baleman itu harus jatuh terduduk.

__ADS_1


" *******, kau terima ini jurus Macan Put ih,!" teriak Macan Baleman.


Pemimpin Rampok alas Mentaok itu segera menggerak -gerakkan tangannya di depan dada dengan jari -jari mengembang, terlihat kuku kuku jari tangan itu membentuk cakar, dan Macan Balemanpun bersuara,


" Ggghhrahhh,!"


Ia kemudian melompat panjang menyerang Raka Senggani dengan cakar -cakar tangannya.


Dan kali ini kecepatan dari Macan Baleman meningkat berkali -kali lipat. Gerakannya gesit bagaikan seekor Harimau.


Jurus Macan Putih termasuk jurus andalan dari Macan Baleman, karena ia tadi sempat dijatuhkan oleh Raka Senggani maka kemarahannya pun meluap luap.


Dengan jurus Macan Putih, Raka Senggani nampak terdesak berkali -kali ia harus melompat menjauh atau berusaha keluar dari kurungan Macan Baleman itu.


Sampai suatu ketika, terdengar teriakan dari Macan Baleman,


" Ambrooll,!"


Sebuah tendangan dari kaki kanannya berhasil menghantam dada dari Raka Senggani.


Pemuda desa Kenanga itu pun harus jatuh terduduk.


Belumpun keadaan posisinya membaik sebuah serangan dari kedua cakar Macan Baleman itu menderu menyerang mengarah keperut dan kepala dari Raka Senggani,


" ****** kau, !" teriak Macan Baleman.


" Aaakkhh,!" teriak Raka Senggani.


Serangan dari cakar Macan Baleman yg mengarah ke kepala berhasil di hindari akan tetapi serangan yg mengarah ke perut tidak dapat di hindari lagi.


Tampak perut dari Raka Senggani itu terlihat mngucurkan darah, lima bekas cakaran dari Macan Baleman terdapat di perut Raka Senggani.


Dengan pongahnya Macan Baleman ber diri sambil berkacak pinggang.


" Baru memiliki ilmu sedikit saja sudah berlagak dihadapan dari Macan Baleman, beruntung jurus Macan Putih tadi tidak menembus perutmu, sekarang cepatlah bertekuk lutut, agar aku mudah untuk memenggal lehermu, Bocah,!" teriak Macan Baleman dengan sombongnya.


Sementara Raka Senggani segera menelan dua butir obat dari balik baju nya, kemudian Raka Senggani meludah dan ditampungnya pada kedua belah tangannya seraya mengusapkan ludahnya itu ke perutnya yg terluka bekas cakaran dari Macan Baleman itu.


Perlahan anak muda itu bangkit dan kemudian bersiap dengan segala kemungkinan, ia segera mengeluarkan keris pemberian dari Adipati Pajang, keris Kyai Macan Kecubung yg ber lluk satu dengan pamor kemerahan.


" Baiklah , mungkin dirimu merasa senang karena telah berhasil melukai tubuhku, namun pertarungan ini belum selesai, bersiaplah,!" terdengar kata-kata berat yg keluar dari mulut Raka Senggani.


Ia kemudian mengeluar kan keris Kyai Macan Kecubung dan menggenggam nya tepat di hadapannya sambil jari kiri nya mengusap keris itu, maka Raka Sengganipun melesat menerjang,


" Heeaaahh,!"


Kali ini dengan cepat keris itu bergerak menusuk ke arah perut dari Macan Baleman, di susul dengan tendangan kaki kiri setelah serangan keris itu luput, secara susul menyusul serangan dari keris dan tendangan Raka Senggani membuat Macan Baleman kelabakan, jurus Macan Putihnya tidak mampu menandingi kecepatan yg dimiliki oleh Raka Senggani.


Sementara Malam pun akan berlalu, di ufuk timur, sang mentari terlihat malu -malu menampakkan wajahnya.


Sementara di hutan itu tengah terjadi pertarungan yg seru antara pasukan Pajang dengan kawanan begal yg dipimpin oleh Macan Baleman itu.

__ADS_1


Kedua belah pihak sedang bermain,-main dengan nyawanya.


__ADS_2