
Garwita bersembunyi di sebuah gerumbul semak belukar, ia memang sengaja menunggu datang nya dua orang pemuda dari desa Kenanga.
Jati Andara dan Japra Witangsa sendiri baru keluar dari desa Kenanga, saat malam telah menyelimuti.
" Andara , terkadang kita ini aneh," ucap Witangsa.
" Aneh bagaimana maksudmu,?" tanya Jati Andara.
Sambil menjalankan kudanya.
" Ya aneh saja, jarak dari Kenanga ke Kedawung kan tidak terlalu jauh, tapii,.... kita menggunakan kuda, apa tidak lebih baik berjalan saja," jelas Japra Witangsa.
" Kamu yg aneh Witangsa, kita memiliki kuda , ngapain juga mesti berjalan," jelas Jati Andara.
" Bukan begitu Andara, kita kan tidak pernah menjajal kemampuan ilmu lari cepat kita jika terus -terusan naik kuda, sehingga kurang diasah dan kita tidak dapat menilai sampai dimana kemampuan kita," kata Japra Witangsa.
Putra Ki Bekel itu memang mengakui kebenaran dari ucapan teman nya itu, tetapi memang setelah mereka memiliki kuda, mereka jadi lebih sering menggunakan nya, seperti seorang anak yg di berikan mainan baru dari orang tuanya, seakan susah untuk melepaskan nya.
" Kalau dalam hal ini aku setuju, Witangsa, tetapi memang ini merupakan kesenangan baru yg sulit untuk ditinggalkan, jadi ya sudahlah, kapan -kapan kita berlomba dalam hal lari, siapa yg kalah harus menerima hukuman," balas Jati Andara.
" Ahh, siapa yg takut, jangankan dirimu Andara , guru pun akan kucoba untuk menjajal kemampuan larinya, meskipun dalam hal lari tidak menggunakan ilmu tentu ia akan kalah, ha ha ha, " terdengar suara tertawa dari Putra Ki Jagabaya itu.
" Hushh, mana mungkin dirimu mampu melawan adi Senggani, karena kemampuan lari cepat nya, sudah seperti terbang saja," jelas Jati Andara.
Derap langkah kaki kuda itu semakin mendekati tempat dimana tempat Garwita bersembunyi.
Meski tidak terlalu kencang lari kedua kuda tunggangan dari Jati Andara dan Japra Witangsa namun Garwita mendengar nya.
Hehh, mereka sebentar lagi pasti akan lewat, aku akan menyerang nya dengan senjata rahasia ini , baru setelah nya jika gagal, aku akan langsung berhadapn dengan mereka, kata Garwita dalam hati.
Ia terus mendengarkan langkah kaki kuda itu dan ketika tiba di tempat nya.
" Swiiiingg,"
" Heiiiiiiitt,".
" Hati -hati Witangsa , ada yg telah menyerang kita, " seru Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu terpaksa melompat dari punggung kudanya, sedangkan Japra Witangsa segera menghentikan kudanya.
" Hufhhh,"
" Ada apa Andara,?" tanya nya.
" Ada seseorang yg telah memyerang kita, kau tolong kejar kuda ku itu, bawa kemari," terdengar suara Jati Andara.
" Baik, kau tunggu disini, aku akan mengejar Kudamu itu," teriak Japra Witangsa.
" Heaahhh,heaahh,"
Ia memacu kudanya mengejar kuda Jati Andara yg terus berlari meninggalakn penunggang nya.
Jati Andara sendiri segera bersiap dengan pedang nya, ia merasa bahwa serangan itu berasal dari arah kanan nya, sambil memandangi gerumbul semak belukar itu putra Ki Bekel itu berseru,
" Hehh kisanak keluarlah, jangan jadi seorang yg pengecut ,, hanya berani menyerang dari tempat yg tersembunyi, tunjukkan lah dirimu jika memang memiliki urusan denganku,"
Tempat itu kemudian bergoyang, dan dari semak belukar itu kemudian keluarlah seseorang dengan sebuah pedang di tangan nya.
" Hebat, hebat, ternyata dirimu mampu menghindari serangaku tadi, " ucap orang itu.
Ia yg tiada lain adalah Garwita, melangkah mendekati Jati Andara yg tengah bersiap dengan kedua kakinya telah memasang kuda -kuda nya.
" Siapa dirimu kisanak, apakah memang memiliki persoalan denganku,?" tanya Jati Andara.
" Yah, engkau memang memiliki persoalan dengan ku, karena aku akan menjajal seorang yg merasa memiliki kemampuan yg sangat tinggi sehingga menjadi seorang guru untuk pemuda Kedawung ini, Hehh," seru Garwita.
" Ahh, kalau hanya mengenai hal ini, kisanak dapat menanyakan langsung kepada Ki Demang Kedawung sendiri, jangan tanya kepadaku," jawab Jati Andara.
" Tidak perlu , mungkin mata Ki DEmang itu sudah lamur karena sudah tua sehingga harus memilih seorang guru seperti kau," seru Garwita.
Sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah Jati Andara.
Sementara tangan kanan nya masih menggenggam pedang nya.
" Jadi apa maksud Kisanak dengan menghentikan kami,?" tanya Jati Andara.
" Sudah jelas aku ingin menantangmu bertarung sekarang , dan itu pun jika memang dirimu seorang laki -laki," jawab Garwita.
" Hehh, tentu aku seorang laki -laki, namun yg aku tahu bahwa tindakan pengecut adalah dengan menyerang seseorang dengan cara gelap itu merupakan tindakan yg di lakukan orang tidak bertanggungjawab, alias pengecut," jawab Jati Andara.
" Hehh, tidak usah banyak mulut, terima serangan, HeaĆ ah,"
Teriakan Garwita sambil menyerang Jati Andara dengan pedangnya.
Pemuda itu menebaskan pedang nya mengarah leher dari Jati Andara.
__ADS_1
" Hiiaaaat,"
Jati Andara berkelit, sambil melompat mundur dan di tangan nya pun telah tergenggam sebuah pedang.
Dan ketika Garwita menyerang kembali dengan sebuah tusukan ke arah perut, Jati Andara langsung menangkis nya dengan pedang nya.
" Traaaaanggg,"
Pedang keduanya pun berbenturan, dan dari benturan itu dapatlah di ketahui siapa yg memiliki keunggulan.
Pedang dari Garwita hampir saja terlepas, ia pun langsung melompat mundur, pedang nya dirasakan nya sangat panas, susah payah ia berusaha mempertahankan nya agar tidak terlepas.
Sambil tetap memandangi Jat Andara, dalam hati pemuda itu berkata, benar ucapan Si Gandhik itu , memang orang ini memiliki kemampuan yg cukup tinggi, pedangku terasa panas.
Jati Andara tidak langsung menyusul guna menyerang lawannya itu , ia pun sedang menilai kemampuan dari lawannya itu,
Hehh, seperti nya ia hanya menggunakan tenaga wadag saja, tidak ada sentuhan tenaga dalam tadi dari benturan itu tetapi aku mesti berhati-hati, boleh jadi ini hanya penjajagan saja ia belum mengerahkan seluruh tenaganya, kata Jati Andara dalam hati.
Benar saja, kemudian Garwita menyerang lagi,
" Heaaahhh,******* kau , " teriaknya.
Ia langsung menusukkan kembali pedangnya, dan dilanjutkan dengan sebuah tendangan, kedua serangan itu masih luput belum menemui sasarannya karena Jati Andara segera menghindari serangan itu, meski nampak cepat itu tetapi bagi Putra Ki Bekel itu sangat mudah untuk dihindari nya.
Jati Andara kemudian membalas serangan itu dengan pukulan telapak tangan kearah kepala lawannya,
" Hiyyyah,"
" Dhiesggh,"
Memang telapak tangan itu tidak mampu mengenai kepala Garwita karena ia memiringkan kepala nya untuk menghindari nya tetapi kecepatan yg di miliki dari Putra Ki Bekel itu sangat sulit untuk di hindari, pundak nya masih berhasil di kenai oleh pukulan itu.
Garwita terdorong mundur, karena memang pukulan itu berisi tenaga dalam, Jati Andara memang menjajal lawannya, apakah memang tidak memiliki ilmu tenaga dalam atau ia hanya berpura -pura saja.
Hehh, seperti nya ia memang tidak memiliki tenaga dalam, tetapi mengapa dirinya sangat berani untuk mengajak bertarung, kata Jati Andara.
" Kau jangan senang dulu, sekarang terima ini , Ciaaaaat,"
Garwita menyerang lagi, sambil memutar -mutar pedangnya ia melibat Jati Andara,
" Traanngg,"
" Traanngg,"
Dua kali benturan pedang terjadi, dan memang kali ini Garwita menyerang agak serampangan cenderung membabi buta.
Ia melayani saja serangan itu bahkan kali ini tanpa mempergunakan tenaga dalam.
Memang terlihat putra Ki Bekel itu tampak kerepotan dari serangan-serangan itu, karena Garwita menebas dan menusuk seperti orang kerasukan saja, yg penting ia menggerakkan senjata nya itu dengan cepat.
" Traanngg,"
" Triiiinggg,"
" Dhiesggh,"
Ketika berkali-kali adu senjata ,, Jati Andara mengirimkan pukulan ke arah dada lawan nya itu dan kembali Garwita harus mengakui kelebihan lawannya.
Dan Kali ini Jati Andara tidak sampai disitu, karena ia ingin tahu siapa sebenarnya lawannya itu.
" Hiyyyah,"
" Dhieeeghh"
" Dhiesggh,"
" Dhessshk,"
Tiga kali pukulan membuat Tubuh Garwita harus terjungkal jatuh, pedang nya pun sampai terlepas. Ia berusaha bangkit dan,
" Hehh, siapa kau sebenarnya, dan apa masalah mu denganku, sehingga harus mencegatku disini," ucap Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu tengah mengacungkan pedangnya ke arah leher Garwita dan membuat nya tidak jadi bangkit.
Di kegelapan malam itu ia menatap Jati Andara yg berdiri di samping nya. Mulutnya terkatup rapat , ia enggan menjawab pertanyaan dari Jati Andara.
" Baiklah jika dirimu tidak mau menjawab pertanyaan ku, tangan dan kaki mu akan kupotong saja ," seru Jati Andara.
Sambil mengangkat pedangnya hendak menebas, dan membuat nyali Garwita ciut, dan segera berteriak,
" Tunggu , jangan kau potong tangan dan kaki ku , aku akan menjawab pertanyaan mu itu," teriak Garwita.
Tangan nya pun mengangkat tanda menyerah ia pun segera melanjutkan ucapan nya, karena ketakutan atas ancaman Jati Andara.
" Bbb baik, namaku adalah Garwita, aku adalah putra Sangakeling," jelas Garwita.
__ADS_1
" Hehh, kau anak dari Ki Sangakeling, ada hal apa membuatmu menghadangku, apa salahku terhadapmu,?" tanya Jati Andara.
Garwita terdiam, apa lagi setelah terdengar suara langkah kaki kuda yg mendekati tempat itu.
Sementara Jati Andara agak lengah dengan melihat kearah datang nya kuda -kuda tersebut yg adalah Japra Witangsa.
Dan Kesempatan itu di manfaatkan oleh Garwita untuk melarikan diri, ia dengan cepat meninggalkan tempat itu.
" Hei , jangan lari,!" seru Jati Andara.
" Ada apa , Andara ,?" tanya Japra Witangsa.
Ia agak kaget mendengar temannya itu berteriak.
" Itu Witangsa, orang yg mencegat kita tadi berhasil melarikan diri," jawabnya.
" Siapa orang itu , Andara ,?" tanya Japra Witangsa.
" Ia mengatakan bahwa namanya adalah Garwita putra dari Ki Sangakeling," jawab Jati Andara.
" Ha, putra Ki Sangakeling, apa kau tidak salah dengar Andara,?" tanya Japra Witangsa lagi .
" Tidak , aku tidak salah dengar , ia tadi mengatakan demikian," jawab Jati Andara.
" Baik, baik, kalau memang demikian secepatnya kita ke banjar Kedawung," ajak Japra Witangsa.
" Memangnya kenapa , Witangsa, Apakah ada yg salah dengan ucapan ku tadi,?" tanya Jati Andara.
Ia agak heran dengan sikap Witangsa tadi, sepertinya sangat ketakutan setelah mendengar nama Ki Sangakeling tadi.
Kemudian Jati Andara segera melompat naik ke atas punggung kudanya.
" Ada apa memangnya dengan Ki Sangakeling itu, Witangsa,?" tanya nya lagi.
Sambil menjalankan kudanya, putra Ki Bekel itu amat penasaran dengan ucapan dari Witangsa tadi .
" Begini Andara, Ki Sangakeling itu amat berpengaruh di Kademangan Kedawung ini , kalau dapat kita jangan mencari masalah dengan nya," jawab Witangsa.
" Kita kan tidak mencari masalah dengan nya, hanya saja orang yg tadi mencegat kita tadi mengaku sebagai anak dari Ki Sangakeling, itu saja," jelas Jati Andara.
Ia segera menggebrak kudanya agar berjalan dengan cepat.
Jati Andara sebenarnya mengenal Ki Sangakeling itu sebagai orang yg cukup terpandang di Kademangan Kedawung, tetapi jika harus takut dengan nya, ia tidak setuju.
Apakah jika memang kita seorang yg memiliki sesuatu kekuatan atau kekuasaan kita harus bertindak sewenang -wenang kepada orang lain
Bahkan Putra Ki Bekel itu memandang ke dirinya, ia merupakan putra seorang Bekel di desa Kenanga tetapi tidak pernah sewenang -wenang terhadap orang lain, bahkan di antara teman -teman nya ia di kenal cukup ramah dan bijak , seringkali ia menjadi juru damai jika ada yg sedang berseteru.
Tidak terlalu lama keduanya sampai di banjar Kademangan Kedawung.
Di banjar Kademangan Kedawung itu telah ramai dengan para pemuda yg ingin berlatih ilmu silat dari kedua orang itu.
Namun malam itu mereka agak lama menunggu kedatangan dari keduanya akibat keduanya di hadang oleh Garwita.
" Mengapa kalian berdua agak lama datang nya, Ngger,?" tanya Ki Jagabaya.
Orangtua itu memang agak heran dengan keterlambatan datang nya kedua pemuda itu.
"Tadi kami berdua ketika sampai di pertigaan dihadang oleh seseorang , ki, hingga membuat kami berdua terlambat datang," jawab Jati Andara.
" Hahh, siapa yg telah menghadang Angger berdua itu,?" tsnya Ki Jagabaya.
Ia cukup kaget mendengar bahwa kedua orang itu telah dihadang di perbatasan Kademangan Kedawung.
" Adae seseorang yg ingin menjajal kemampuan dari kami, ia mengaku bernama Garwita dan masih penduduk Kademangan ini," jelas Jati Andara.
" Garwita,... putra dari Ki Sangakeling,?" tanya Ki Jagabaya .
Pernyataan dari Jati Andara itu membuatnya lebih terkejut lagi. Karena umum nya warga Kedawung mengenal sosok dari Ki Sangakeling itu.
Buat siapa saja merasa enggan jika harus berhubungan dengan nya, termasuk juga Ki Demang sendiri.
Lebih baik menghindari nya daripada harus mendapatkan masalah dengan nya.
" Ngger, hati -hati dengan Ki Sangakeling, apakah tadi Angger Andara berhasil mengalahkan Garwita itu,?" tanya Ki Jagabaya.
" Benar Ki, tadi aku berhasil mengalahkan nya namun ia berhasil melarikan diri, sebenarnya tadi aku ingin membawa nya kemari," jelas Jati Andara.
" Bisa runyam urusan nya Ngger, tentu Ki Sangakeling tidak akan tinggal diam mendengarkan hal ini, dapat berbuntut panjang ini Ngger," ujar Ki Jagabaya.
" Apakah memang Ki Sangakeling itu sangat di takuti di Kedawung ini,Ki, dan bagaimana jika yg berbuat salah, tidak adakah yg berani menentang nya,?" tanya Jati Andara.
Putra Ki Bekel itu amat tidak senang mendengar ada orang yg sangat di takuti, meskipun ia telah berbuat salah, sehingga menjadi seorang Raja kecil di tempat nya itu.
Sebenarnya ia akan sangat senang jika memang nantinya Ki Sangakeling itu mempermasalahkan apa yg telah terjadi dengan putra nya itu, dalam hati Jati Andara ingin mengetahui sperti apa tanggapan nya jika harus berurusan dengan orang yg paling di takuti di Kedawung ini.
__ADS_1
Berbeda dengan Japra Witangsa, sebenarnya ia sangat malas jika harus berurusan dengan Ki Sangakeling itu.