Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 24 Kembali. bag ke empat.


__ADS_3

Ketiganya segera mendekati rumah itu. Nyi Ronce dan Nyai Sriti Wengi berjalan lebih dahulu, baru di belakangnya ada Tara Rindayu berjalan di belakangnya.


Sebenarnya , untuk Tara Rindayu enggan merebut senjata tersebut dari orang yg bernama Raka Senggani in, ada semacam rasa bersalah di dalam hatinya.


Namun mau dikata apa lagi, ini adalah perintah guru nya, Nyai Sriti Wengi.


Akhirnya ia menurut juga.


Setelah semakin dekat dengan rumah tersebut, Tara Rindayu memperlambat langkah kaki nya , sedangkan kedua perempuan tua itu sudah dekat dengan rumah tersebut.


" Ronce, apakah memang mereka sudah tertidur semua, ?" tanya Nyai Sriti Wengi.


" Seperti nya memang demikian, Wengi, " jawab Nyi Ronce.


" Baiklah kalau begitu, mari kita masuk, " ucap Nyai Sriti Wengi.


" Mari,. !" sahut Nyi Ronce.


Namun belum mereka berdua bergerak masuk, tiba -tiba saja angin berkesiuran cukup keras di dekat mereka berdua.


" Whusshhhh,.."


" Whessshhh,"


" Hehh,.."


" Kok aneh,. "


Seru kedua perempuan tua itu,. mereka sangat terkejut , setelah merasakan ada angin yg cukup keras bergerak di dekat keduanya.


Dan membuat keduanya bergoyang goyang seperti sedang menari nari.


Makin lama lama, angin itu bertiup semakin keras. akhirnya kedua orang perempuan tus tersebut melompat keluar dari kepungan angin aneh tersebut.


" Heaahhh,.."


" Hiyyahhh,."


Nyai Sriti Wengi dan Nyi melompat dari tempat tersebut.


" Hehh, angin apa tadi itu , Ronce, ?" tanya Nyai Sriti Wengi.


" Entahlah, aku tidak tahu Wengi,. " jawab Nyi Ronce.


" Kok ada angin aneh seperti itu, " ucap Nyai Sriti Wengi.


" Entahlah, seumur-umur , baru kali ini aku merasa sedang di permainkan oleh seseorang, hehh, muridmu mana Wengi, ?" tanya Nyi Ronce.


Setelah melihat, bahwa tidak Tara Rindayu bersama mereka.


" Ya, kemana anak itu, !" seru Nyai Sriti Wengi.


Kedua nya celingukan mencari gadis tersebut , akan tetapi tidak menemukan nya.


Bahkan ketika mereka akan bergerak lagi mendekat ke rumah tersebut, tiba -tiba saja mereka mendengar,


" Hehh, jangan permalukan diri kalian sendiri, segera lah tinggalkan tempat ini, tongkat berkepala ular ini tidak akan ku berikan kepada kalian berdua, pergilah sebelum batas kesabaranku habis, "


Suara itu sangat jelas bagi kedua nya.


" Senopati Brastha Abipraya,"


Seru kedua perempuan tua itu kaget, sebenarnya mereka berdua tahu mengenai kehebatan Senopati Pajang dan Demak ini terlebih untuk Nyai Sriti Wengi, entah sudah berapa kali ia bentrok dengan pemuda itu dan berkali -kali pula ia harus mengakui kehebatan Senopati Brastha Abipraya itu.


Dan kali ini pun mereka berdua harus mengakui keunggulan dari Senopati Brastha Abipraya itu.


Tanpa mereka ketahui, sang Senopati telah memberikan pelajaran tanpa mereka mampu membalasnya.


" Bagaimana Ronce, apa yg harus kita lakukan, ?" tanya Nyai Sriti Wengi.


" Aku tidak tahu, Wengi, apa yg harus di perbuat, mungkin sebaiknya memang kita harus segera pergi, !" ucap Nyi Ronce.


" Lalu bagaimana dengan murid mu, Sruni, ?" tanya Nyai Sriti Wengi.


" Hehh, benar ucapan mu , Wengi, " sahut Nyi Ronce.


Namun ketika keduanya masih berbicara, terdengar lagi suara yg mengatakan bahwa murid dari Nyi Ronce itu akan di lepaskan tanpa mereka sakiti.


" Baiklah kami akan meninggalkan tempat ini, dan kami mohon maaf atas kelancangan kami ini, , " ucap Nyi Ronce.


" Bagus, bagus, bagus, aku akan memaafkan kalian, " ucap Raka Senggani.


Dan bersamaan itu ia muncul dekat kedua perempuan tua itu.


" Senggani senang mendengarnya, segeralah tinggalkan tempat ini, bawa juga Sruni ini, " ucap Raka Senggani.


Sambil menyerahkan murid dari Nyi Ronce itu, bahkan Sruni sempat berkata,


" Guru, bagaimana jika aku bersama dengan Senopati Brastha Abipraya ini," ucapnya.


" Hushhb, ngawur kamu itu, bisa di bunuh istrinya nanti kamu, sudah , sudah, lebih baik kita kembali saja, " ucap Nyi Ronce.


Sedangkan Nyai Sriti Wengi yg merasa kehilangan murid nya Tara Rindayu segera berseru keras,


" Hehhh, Senggani dimana kau sembunyikan muridku Tara Rindayu,..?" bentaknya.


Belum habis ucapan dari Nyai Sriti Wengi, ..


" Guru,. !" panggil Tara Rindayu.


Putri Juragan Tarya ini, dstang bersama dengan seorang perempuan yg tiada lain adalah istri dari Senopati Bima Sakti sendiri yaitu Sari Kemuning.

__ADS_1


" Hehh , apakah kau telah memberikan maaf mu atasnya, !" seru Nyai Sriti Wengi lagi.


Karena ia melihat kedua orang perempuan itu berjalan bersama tanpa ada rasa saling permusuhan.


Tanpa menghiraukan ucapan gurunya, Tara Rindayu melengos pergi ia mengejar Nyi Ronce dan muridnya, Sruni.


" Sampai ketemu lagi, Rindayu,...!" seru Sari Kemuning.


Tanpa menjawab ucapan istri dari Senopati Sandi Yuda Demak ini, Tara Rindayu berjalan cepat , ia hanya melambaikan tangan nya saja.


Sebagai bentuk salam perpisahan.


Dan langkahnya itu segera di kejar oleh Nyai Sriti Wengi,


" Tunggu Ndhukkk,." teriak nya.


Perempuan tua itu segera melesat mengejar ke tiganya.


Tinggallah kedua suami istri itu di tempat tersebut, bersamaan dengan semburat merah muncul dari ufuk sebelah timur.


" Kakang Senggani,..mengapa mereka semua di lepaskan,. ?" tanya Sari Kemuning kepada suaminya.


Sambil menatap sang istri , Senopati Bima Sakti menjawab,


" Tidak ada gunanya kita melayani mereka terlebih disitu ada Rindayu, nanti dendam nya terhadap kita berdua tidak akan ada habis habis nya , padahal ia adalah teman kita berdua , bahkan juga dengan Kakang Witangsa dan kakang Andara,." ungkap Raka Senggani.


Sari Kemuning mengangguk angguk kan kepalanya.


" Dan kau sendiri , apakah memang telah berbaikan dengan Tara Rindayu, ?" tanya Raka Senggani kepada istrinya.


Sari Kemuning pun mengiyakan dengan anggukan kepalanya.


" Bagus, mudah -mudahan ia mau menerima kita sebagai teman nya lagi, " seru Raka Senggani.


" Mudah -mudahan, Kang,.." sahut Sari Kemuning.


Keduanya pun segera meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam rumah Ki Lintang Panjer suruf.


Di dalam mereka di sambut oleh empat orang , yg telah menjadi Prajurit sandi Demak yg bertugas di bahagian kulon dari Wilayah Demak ini.


" Bagaimana adi Senggani, apakah mereka telah pergi, ?" tanya Japra Witangsa.


" Sudah, " jawab Raka Senggani.


" Syukurlah, kita tidak harus bentrok dengan mereka, " ujar Jati Andara.


" Yeah , memang kita wajib bersyukur Karena tidak harus bentrok dengan mereka , tentu akan sangat merugikan dan membuang buang tenaga saja," ucap Raka Senggani.


Karena menurut nya , melayani kedua tokoh tua tadi akan menghabiskan energi saja , tidak ada untungnya oleh sebab itulah ia berusaha untuk tidak mau bertarung dengan mereka.


Setelah kejadian itu, Senopati Bima Sakti segera membahas masalah mereka yg akan segera kembali ke Kotaraja Demak.


" Untuk kakang berdua, Senggani harap untuk tetap disini , nanti jika ada sesuatu yg penting segera laporkan kepada ku, " ucap Raka Senggani.


" Dan untuk Ki Lurah berdua, Senggani berharap agar dapat membimbing mereka berdua, " ucap Raka Senggani lagi.


" Baik Senopati, " jawab kedua Lurah Prajurit sandi itu bersamaan.


" Kami berdua akan segera kembali, jadi untuk urusan disini semuanya Senggani serahkan pada kalian semua," ungkap Senopati Bima Sakti.


Yg mendengarkan pun menerimanya, maka Senopati Bima Sakti segera bersiap untuk meninggalkan kota Sunda Kelapa itu.


Memang sudah agak lama ia berpetualang ke kulon itu bahkan telah sampai ke tanah melayu tepatnya kota Melaka.


Jadi sudah ada rasa rindu untuk kembali.


Kedua suami istri itu menyiapkan kedua kudanya, pagi itu mereka akan segera kembali.


" Selamat tinggal,..semuanya, " ucap Raka Senggani.


Setelah ia berada diatas punggung si Jangu.


" Selamat jalan , adi Senggani ," jawab Japra Witangsa dan Jati Andara.


" Selamat jalan , Senopati Bima Sakti, sampaikan salam kamj pada Ki Jaka Belek, jika bertemu, " ucap kedua Lurah Prajurit sandi Demak ini.


Raka Senggani dan Sari Kemuning segera menggebrak kudanya meninggalkan kota Sunda Kelapa.


" Heahh, "


" Heahh, "


Sepasang suami istri itu meminggalkan kota Sunda Kelapa.


" Kang , apakah kita akan singgah di Cirebon,?" tanya Sari Kemuning.


" Tidak , Kemuning, sebaiknya kita harus segera sampai di Kotaraja Demak," sahut Raka Senggani.


Mereka menjalankan kudanya tidak terlalu kencang.


Karena menurut Raka Senggani saat ini adalah kesempatan untuk mereka berduaan saja, sebagai sepasang suami istri.


Perjalanan keduanya menyusuri pantai utara , dan ketika sampai di daerah kesultanan kacirebonan, mereka memang tidak singgah lagi mereka terus melanjutkan perjalanan nya hingga sampai di alas Siroban.


Di hutan yg terkenal angker ini mereka lalui tanpa ada halangan , tampaknya para penghuni Alas itu sudah mengenal pemilik kebutan yg merupakan milik dari penguasa daerah tersebut.


Semakin mendekati Kotaraja Demak, Senopati Sandi Demak ini dan istrinya semakin mempercepat langkah kaki kudanya.


Bahkan ketika malam menjelang saat sampai di sebuah pedukuhan kecil yg bernama pedukuhan Randu alas, barulah mereka beristrahat.


Keduanya mendekati banjar pedukuhan tersebut.

__ADS_1


Meskipun malam belum terlalu larut namun daerah tersebut sudah sangat sepi.


Rumah rumah penduduk pada tutup semua, padahal saat itu sang Dewi malam tengah memancarkan cahaya nya yg lembut.


" Kok, aneh, Kang, malam belum terlalu malam mengapa daerah ini sudah sangat sepi, biasa nya saat terang bulan begini , banyak anak anak yg bermain gobak sodor, apalagi saat cuaca sangat cerah, " ungkap Sari Kemuning.


" Benar apa yg kau katakan itu , Kemuning, belum pun wayah sepi bocah , mengapa pedukuhan ini sudah sangat sepi ,seperti tidak ada penghuni nya, marilah kita temui bekel pedukuhan ini, " jawab Raka Senggani .


Senopati Sandi Demak itu menggerakkan si Jangu perlahan menuju ke induk pedukuhan tersebut.


Tidak terlalu lama sampailah sepasang suami istri dari desa kenanga itu di banjar pedukuhan, yg juga telah sepi.


Tidak ada lagi orang orang yg berada disana.


" Mungkin rumah yg besar itu adalah milik Ki Bekel Pedukuhan ini, " kata Raka Senggani lagi.


Mereka tidak menuju rumah tersebut. Dan rumah tersebut tampak gelap, hanya karena cahaya rembulan malam sajalah maka terlihat jelas keadaan rumah yg cukup besar tersebut dengan pagar yg tidak terlalu tinggi.


Tidak ada penerangan baik obor yg terpasang di halaman depan maupun lampu dlupak di dalam rumah tersebut.


Memang merupakan suatu keanehan terjadi di pedukuhan tersebut.


Dan begitu keduanya turun dari punggung kudanya, maka,..


" Menyerahlah , kalian sudah terkepung,." teriak seseorang kepada mereka.


" Hehhh,.."


Baik Raka Senggani maupun Sari Kemuning amat terkejut setelah menyadari di sekeliling mereka telah hadir banyak orang dengan membawa senjata yg terhunus.


Mereka tidak mengira bahwa sepi nya tempat tersebut, bukan berarti bahwa penghuni nya telah terlelap tidur, nyata banyak orang yg ada disitu.


Ini pasti ada kesalah pahaman , berkata dalam hati sang Senopati.


" Maaf sebelumnya , kami berdua adalah dua orang pengelana yg sedang kemalaman, jadi kami ingin menginap di banjar pedukuhan ini, " ucap Raka Senggani .


Ia menatap ke arah seorang yg datang kepadanya dengan golok teracung pada nya.


" Apakah Kisanak dapat membawa kami menemui Ki Bekel,.?" tanya Senopati Sandi Demak ini lagi.


"Sudah tangkap saja, baru nanti di serahakan kepada para prajurit pajang,"


Terdengar teriakan dari seseorang yg berada di bawah pohon randu besar yg berdaun lebat.


Sehingga wajah orang tersebut tidak nampak jelas, hanya suara nya memang berasal dari tempat tersebut.


Raka Senggani kembali meminta kepada orang yg ada di dekatnya itu untuk mempertemukan mereka dengan Bekel Pedukuhan tersebut.


" Akulah , Bekel Pedukuhan ini," sahut orang yg membawa senjata golok itu.


" Jika memang kisanak ini adalah Pemimpin pedukuhan ini, izinkanlah kami berdua untuk menginap di banjar pedukuhan, " kata Raka Senggani lagi.


" Tidak bisa, kalian harus ikut dengan kami untuk di periksa," sahut orang yg mengaku sebagai Bekel Pedukuhan tersebut.


" Baiklah , kami akan ikut kisanak , jika memang kami merasa di curigai, kami berdua siap untuk di periksa ," jelas Raka Senggani lagi.


" Kalau begitu ikut kami," seru orang yg mengaku sebagai Bekel Pedukuhan tersebut.


Namun sebelum kedua nya mengikuti orang tersebut, maka Raka Senggani dan Sari Kemuning diikat kedua tangan nya agar tidak melarikan diri, begitulah yg di ucapkan orang yg mengaku Bekel tersebut.


Senopati Sandi Demak ini tidak menolak nya , keduanya kemudian diikat tangan nya oleh para pengawal pedukuhan tersebut dan kemudian di giring masuk menuju dalam rumah yg cukup besar tersebut.


Setelah naik ke atas pendopo keduanya terus di bawa masuk ke dalam.


Barulah setelah berada di dalam keduanya di suruh untuk duduk.


" Sebenarnya siapa kalian berdua ini , apa maksud dan tujuan nya datang kemari, ?" tanya orang yg mengaku sebagai Bekel itu.


Raka Senggani melihat ke arah istrinya Sari Kemuning sejenak baru kemudian menjawab pertanyaan yg di ajukan tadi.


" Kami ini adalah dua orang pengembara yg akan pulang ke Kotaraja Demak setelah melakukan perjalanan dari Kulon," jawab nya.


" Hehh, kalian jangan berbohong, bukankah kalian ini adalah gerombolan rampok yg di pimpin Gagak Gangsu,?" ucap Orang tersebut.


" Maaf Kisanak , kami tidak mengerti dengan yg kisanak ucapkan tadi, siapa kiranya Gagak Gangsu itu, kami tidak mengenal nya, !" jawab Raka Senggani lagi.


Karena dirinya pun baru kali ini mendengar nama tersebut.


" Kalian jangan berbohong di hadapanku , mengakulah bahwa kalian ini adalah pengikut Gagak Gangsu ******* itu,!" seru orang yg mengaku sebagai Bekel itu.


" Sudahlah Ki Bekel, geledah saja, agar mereka tidak dapat mengelak lagi, " ucap seorang yg berbadan agak gemuk.


Orang tersebut berdiri tepat di depan pintu masuk .


" Benar Ki Bekel, memang sebaiknya di geledah saja , apakah mereka memang merupakan pengikut Si Gagak Gangsu itu," kata yg lain lagi.


Dan akhirnya orang yg di panggil Ki Bekel itu segera memeriksa tubuh dari Senopati Bima Sakti ini.


Alangkah terkejutnya, sang Bekel ketika menemukan sebuah lencana keprajuritan Pajang yg ada di balik pakaian orang yg telah mereka ikat tersebut.


Agak gugup Ki Bekel itu bertanya,


" Siapa kiranya kisanak ini,?"


Sambil ia melihat lencana emas yg ada di tangan nya tersebut.


Ia tidak mengalihkan pandangan nya ke wajah Senopati Sandi Demak ini.


Setelah agak lama, Raka Senggani kemudian berkata terus terang,.


" Aku adalah Senopati Brastha Abipraya dari Pajang, " ucap nya.

__ADS_1


Dan semua yg ada di dalam rumah itu terkejut mendengarnya, mereka tidak menyangka telah menawan seorang perwira pilih tanding dari Kadipaten Pajang, dimana pedukuhan tersebut di dalam kekuasaan nya.


Buru -buru , Ki Bekel memrintahkan para pengawal nya untu melepaskan ikatan kedua orang itu.


__ADS_2