
Macan putih itu meyerang dengan ganas nya, kedua cakar nya membuka di sertai kuku -kuku nya yg runcing dan tajam.
Serangan itu sangat cepat menerjang Raka Senggani,. Senopati Pajang itu segera melompat menghindari nya.
" Hiyyyahhh,..!"
Dirinya berhasil lolos dari serangan tersebut. Namun Macan putih itu bukan seperti macan pada umumnya,..ketika serangan nya gagal ,.ia langaung menyerang kembali dengan lebih cepat lagi berusaha menggapai tubuh Senopati Pajang itu.
Kembali Raka Senggani dengan mengemposi tenaga dalam nya menghindari serangan itu.
Macan putih itu sepertinya tidak memberi kesempatan untuk bernafas kepada Senopati Pajang itu,..ia terus menyerang dengan sangat cepat lagi.
Belum pun jejak kaki Raka Senggani serangan telah datang lagi.
Aneh binatang ini seperti tidak memiliki bobot tubuh saja ,.. gerakan nya sangat lincah dan gesit,..aku tidak dapat terus menghindar lebih ku gunakan tongkat Ki Suganpara ini untuk menghentikan serangan-serangan nya,.. ucap Raka Senggani dalam hati.
Ia pun segera mengeluarkan tongkat berkepala ular itu dan menghantamkan nya ke tibuh macan putih itu.
" Heaaahh,..terima ini,.."
" Bugghhhh.."
Tongkat berkepala ular itu pun berhasil menghantam tubuh Macan putih tersebut.
Tubuhnya sampai jauh terlempar akibat hantaman senjata yg ada di tangan Raka Senggani itu.
Namun anehnya ,..ketika tubuh Macan putih itu jatuh bergulingan diatas tanah,..dengan cepat ia kembali bangkit dan melompat menyerang kembali Raka Senggani .
" Hraaaagghhh,. "
Sambil menggeram dengan sangat keras , tubuh macan putih itu melesat kembali menyerang Raka Senggani.
Dan untuk kedua kali Senopati Pajang itu menghantamkan senjatanya,..
" Hiyyyah,.."
" Wushhhh,.."
Kali ini pukulan nya meleset,..Macan putih itu mampu menghindarinya dan ganti menyerang balik.
" Hraaaagghhh,.."
Mau tidak mau Raka Senggani melompat sangat tinggi untuk menghindari serangan tersebut.
Memang keduanya memiliki ilmu peringan tubuh yg nyaris sempurna,.. meskipun tubuh Macan putih itu cukup besar namun ia seperti terbang saja menyerang lawannya itu.
Pertarungan di udara pun terjadi,..Raka Senggani yg tertantang dengan makhluk itu pun melayani nya.
Jurus -jurus yg dipakai oleh binatang tersebut sangat di kenali oleh Raka Senggani.
He,..apa hubungan nya makhluk ini dengan Resi Brangah,..tanya nya dalam hati.
Namun ia tidak dapat terlalu lama memikirkan nya karena serangan datang seperti air bah saja.
Macan putih itu sudah tidak menjejak tanah lagi ,.ia semakin cepat melibar Senopati Pajang itu dalam pertempuran,..hingga suatu ketika,..
" Craaaaagghhh,.."
" Hraaaagghhh,.."
Pundak dari Raka Senggani mampu di gapai nya dengan cakarannya itu.
Baju Senopati Pajang tersebut sampai terkoyak lebar,..namun beruntung tubuh nya tidak terluka.
Tetapi tetap saja Raka Senggani harus merasakan nyeri di pundak nya itu.
Ia berusaha keluar dari garis serang Macan putih tersebut.
Tetapi Binatang itu semakin beringas setelah kuku -kuku cakarnya berhasil masuk ke tubuh lawan.
Ia terus saja memburu sang Senopati. Namun Raka Senggani tidak mau ayal,..ia segera mengirimkan pukulan jarak jauh nya dengan di lambari aji Wajra Geni,.
" Aji,.. Wajra Geni,.. hiyyyah,.."
" Dhumbhh,..."
" Bletaaaaarrrr,.."
Terdengar teriakan dsri mulut Raka Senggani sambil mengeluarkan cahaya merah dari tangan kirinya.
" Hraaaagghhh,.."
Macan putih itu sampai terpental cukup akibat serangan itu. Tubuhnya jatuh berdebum diatas tanah dengan sangat keras.
Namun kembali ,..keanehan terjadi,.. ternyata Macan Putih mampu bangkit lagi dan langsung menghadap ke arah Raka Senggani.
Ia seprtinya pun tengah bersiap dengan cakarnya lagi untuk memyerang.
Aneh,..ini benar -benar gila,.. tubuhnya tidak merasakan hantaman dari ajian Wajra Geni ku ,..apakah makhluk ini adalah seorang siluman,..berkata dalam hati Raka Senggani.
Kembali Senopati Pajang itu bersiap bertarung lagi setelah melihat lawannya yg tidak biasa itu siap untuk menyerang .
Dengan didahului sebuah auman yg keras,..Macan putih itu melompat menyerang,..
" Hraaaagghhh,.."
" Dhunmbbhh,.."
Benar -benar kali ini Senopati Pajang itu terperangah di buat lawannya itu,..Macan Putih itu tidak hanya mengandalkan kekuatan dari cakarnya saja,. tetapi dari cakar yg lainnya ia mengeluarkan ajian pula.
__ADS_1
He,..ia memiliki ajian Macan Putih seperti milik Resi Brangah dan Macan Baleman,..apakah hubungan nya dengan kedua orang itu,.. batinnya berkata.
Memang Raka Senggani tidak habis pikir dengan kehebatan dari Macan putih itu,..selain gerakan nya yg sangat gesit,..ia pun memiliki ajian yg sama dengan Resi Brangah dari Blambangan itu.
Memang Senopati Pajang itu berhasil menghindari serangan ajian Macan Putih,..seraya membalas nya dengan Ajian Wajra Geni miliknya.
Pukulan -pukulan jarak jauh pun terjadi pada pertarungan kali ini,..nampaknya keduanya dalam posisi seimbang.
Terjadi nya pertarungan antara kedua makhluk itu di dengar oleh dua orang pengawal pedukuhan itu,..mereka melaporkan hal ini kepada Ki Bekel.
" Ki Bekel,..kami melihat anak muda yg bernama Sangga lihat tengah bertarung dengan seekor macan putih,." seru salah seorang dari mereka.
" Dimana kalian melihatnya,..?" tanya Ki Bekel
" Agak jauh dari warung Nyi Warsem,..Ki Bekel,.." jawab orang itu lagi.
" Antarkan aku kesana,..cepat,." terdengar perintah Ki Bekel.
" Baik Ki Bekel,.." jawab orang itu.
Kemudian Ki Bekel dan beberapa orang yg ada dirumah nya itu bergerak menuju tempat dimana Raka Senggani tengah bertarung dengan seekor Macan Putih.
Belum pun jauh mereka berjalan,.. mereka berpapasan dengan Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.
Keduanya tampak tengah menggiring dua orang bersama mereka.
" Mau kemana Ki Bekel,.?" tanya Japra Witangsa.
" Kami akan melihat nak Sangga,..ia tengah bertarung dengan seekor Macan Putih,.." jawab Ki Bekel.
" Dimana,..Ki Bekel,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Tidak terlalu jauh dari warung Nyi Warsem,..nak Rani,..". jawab Ki Bekel.
" He,..kami baru dari sana,..tetapi tidak menemukan ad Sangga ada disana," seru Japra Witangsa.
" Dimana kalian berdua melihat nak Sangga itu bertarung ,..?" tanya Ki Bekel.
Pertanyaan yg ditujukan nya kepada kedua pengawal pedukuhan itu.
" Kami melihat nya dekat dengan daerah persawahan ,. Ki Bekel,..!" jawab pengawal pedukuhan itu.
" Pantaslah ,..kami memang mendengarkan ada beberapa kali ledakan di tempat itu,..kami mengira itu adalah panah sendaren dari pengawal pedukuhan,.." ungkap Japra Witangsa.
" Marilah kita kesana ,..nak Witangsa dan Rani,..karena kami ingin melihat siapa sebenarnya pelaku dari pembunuhan hewan ternak ini,.." ucap Ki Bekel.
" Jadi bagaimana dengan kedua orang ini,..Ki Bekel,..?" tanya Japra Witangsa.
" Bawa saja ke rumah ku dan ikat disana nanti setelah dari sana kita baru menanyai mereka,.." Jawab Ki Bekel.
Japra Witangsa dan Dewi Dwarani kemudian membawa kedua orang itu dan menyerhkan nya kepada pengawal pedukuhan yg ada di rumah Ki Bekel itu.
Rombongan itu berjalan dengan cepat menuju ke tempat pertarungan dari Raka Senggani dan seekor Macan Putih.
Malam yg terus merambat dan telah menuju pagi,..pada saat pertarungan antara kedua makhluk itu semakin naik pada tataran tertinggi pada masing -masing kemampuan nya.
Dan tampaknya Raka Senggani tidak akan membiarkan Macan Putih itu dapat lolos lagi.
Karena sebenarnya ia mengetahui kelemahan dari Ajian Macan Putih itu,..tetapi yg membuat nya tidak habis pikir mengapa makhluk itu mampu bertahan atas setiap serangan nya itu.
Seolah -olah Macan Putih itu tidak merasakan hantaman dari ajian Wajra Geni itu.
Aku harus mengehentikan pertarungan ini,.. makhluk ini tidak boleh di biarkan,..kata Raka Senggani dalam hati.
Sambil terus menyerang dengan Ajian Wajra Geni nya dan sesekali di selingi dengan hantaman tongkat yg ada di tangan nya itu , Raka Senggani mmeusatkan Ajian Wajra Geni milik nya itu pada cincin yg ada di jarinya itu.
" Aji,...Wajra Geni,.. Heaaahh,.."
Terdengar teriakan dan dibarengi keluar kepulan asap dari tangan Senopati Pajang itu.
Kepulan asap yg telah menghitam pekat menyerang tubuh Macan Putih itu,..dan tampaknya Makhluk itu tidak menghindari serangan tersebut.
Suatu kesalahan yg cukup fatal di terimanya.
Macan putih itu terlihat terbalut oleh asap yg semakin menebal,..membuatnya tubuhnya perlahan -lahan menjadi lemas tidak berdaya ,..dan tampak dengan ia sudah tidak mampu untuk berdiri tegak lagi.
" Hraaaagghhh,.."
Makhluk menggeram dengan keras nya,..ia seperti kelojotan bergulingan diatas tanah,
Bersamaan dengan itu rombongan Ki Bekel datang di tempat itu.
Macan putih itu terus bergulingan dan cakarnya berusaha menggapai.
" Ada apa ,..Nak Sangga,..?" tanya Ki Bekel heran.
Matanya tidak lepas dengan sesosok makhluk yg ada dihadapan nya itu.
Seekor Macan Putih yg tengah berjuang sekuat tenaga untuk bertahan hidup.
.
Tetapi tampaknya pengaruh Ajian Wajra Geni milik dari Raka Senggani itu sangat kuat mencengkeram nya karena pengaruh dari cincin yg ada di jari tangan Senopati Pajang itu.
" Ki Bekel,.. makhluk inilah yg telah meresahkan penduduk pedukuhan ini,..kita akan melihat siapa sebenarnya dirinya itu,.." ucap Raka Senggani.
Tetapi matanya pun tidak lepas dari Tubuh macan putih itu. Perlahan namun pasti akhirnya Macan putih itu pun tidak dapat bergerak lagi.
Ia seprtinya telah tewas akibat hantaman ajian Wajra Geni milik Senopati Pajang itu.
__ADS_1
" Memangnya siapa dia,..kakang Sangga,..?" tanya Dewi Dwarani pula.
" Tenang kalian akan mengetahui Siapa dia itu sesungguhnya ," sahut Raka Senggani.
Dan benar saja,.tidak lama setelah ucapan dari Raka Senggani itu..tubuh Macan putih itu pun berangsur -angsur berubah menjadi sesosok tubuh manusia.
Meski suasana masih dalam gelap nya malam,..tetapi tempat itu cukup penerangan dengan beberapa obor yg dibawa oleh para pengawal pedukuhan itu.
" Hahhh,...Ki Wanacara Sangkan,..!" seru Ki Bekel.
Pemimpin pedukuhan itu tersentak kaget melihat siapa sebenarnya orang yg telah meresahkan penduduk pedukuhan itu.
" Benarkah,..ia ini adalah Ki Wanacara Sangkan,..Ki Bekel,..?" tanya Japra Witangsa.
Putra Ki Jagabaya itu memang tidak mengenal orang itu,.. tetapi kedua orang yg telah menyatroni mereka itupun adslah berasal dari rumah Ki Wanacara Sangkan itu.
" Benar,..Nak Witangsa,..orang ini adalah Ki Wanacara Sangkan,.. penduduk pedukuhan Tritih ini,..!" jawab Ki Bekel.
" Cepat kalian bawa jasad orang ini,.." perintah Ki Bekel kepada para pengawal pedukuhan itu.
" Tunggu dulu,..Ki Bekel,.." seru Raka Senggani.
" Memangnya ada apa Nak Sangga ,..apa yg harus kita tunggu,..?" tanya Ki Bekel.
" Aku harus memastikan terlebih dahulu,..apakah ia ini memang telah benar -benar tewas,..Ki Bekel,..". jawab Raka Senggani.
Karena sebenarnya Senopati Pajang itu masih kurang percaya bahwa orang yg bernama Ki Wanacara Sangkan itu telah tewas.
Mengingat sebelum nya orang tersebut sangat sulit untuk di kalahkan.
" Silahkan Nak Sangga,..pastikanlah ,.. apakah ia telah tewas atau belum.." ucap Ki Bekel.
Senopati Pajang itu pun mendeksti tubuh Ki Wanacara Sangkan tersebut,.sambil berjongkok Raka Senggani memeriksa keadaan tubuh tersebut .
Ia sudah tidak mendengar suara detak jantung dsri tubuh Ki Wanacara Sangkan itu.
Agak lamaia memeriksa nya dan diambil keputusan bahwa orang tersebut telah tewas.
" Bagaimana nak Sangga,..apakah ia memang sudah tewas,..?" tanya Ki Bekel.
Sambil bangkit dari jongkok nya, Raka Senggani menjawab,.
" Sudah Ki Bekel,..orang ini sudah mati,.." katanya.
" Baik,..kalau begitu segera bawa mayat ini kerumahku,." ucap Ki Bekel lagi.
Empat orang pengawal pedukuhan itu segera menggotong tubuh Ki Wanacara Sangkan itu.
Mereka membawa jasad tersebut ke rumah Ki Bekel. Rombongan tersebut meningglakn tempat itu.
Sesampainya di rumah Ki Bekel,..jasad Ki Wanacara Sangkan itu di letakkan.
" Sudah,..baringkan saja di situ, .dan kamu,..segera hubungi istri Ki Wanacara Sangkan itu,..suruh ia datang kemari,.." kata Ki Bekel.
Ia memerinthakan salah seorang pengawal pedukuhan itu untuk menghubungi istri Ki Wanacara Sangkan.
Pengawal itu dengan cepat menjalankan perintah Ki Bekel.
Sedangkan Raka Senggani,.. Japra Witangsa dan Dewi Dwarani tetsp berada di rumah Ki Bekel itu.
" Kakang Senggani,..siapa sesungguhnya orang ini,..?" tanya Dewi Dwarani .
Pertanyaan yg ditujukan kepada Raka Senggani itu merupakan pertanyaan yg ingin disampaikan oleh Japra Witangsa.
" Iya adi Sangga,.. siapakah orang ini,..?" tanya Japra Witangsa.
" Sangga tidak tahu,..!". jawab Raka Senggani singkat.
" Mungkin Ki Bekel dapar menjelaskan nya,.." kata Raka Senggani.
Ki Bekel kemudian menceritakan kepada ketiga pemuda desa Kenanga itu siapa sesungguhnya Ki Wanacara Sangkan itu,..yg menurut penduduk pedukuhan tersebut merupakan seseorang yg tidak pernah mmebuat masalah.
Bahkan ia di kenal cukup dermawan dengan suka menolong para penduduk pedukuhan itu yg lagi kesulitan.
" Jadi apa maksudnya melakukan perbuatan ini,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Kalau hal itu aki tidak tahu,..kalian dapat menanyakan kepada kedua orang ini,.. bukankah mereka tinggal di rumah Ki Wanacara Sangkan ini,.." jawab Ki Bekel.
Ketiga nya langsung melihat dua orang yg tengah duduk itu dengan diikat kedua tangan dan kakinya itu.
" Heh,..jawab dengan jujur,..apa maksudnya Ki Wanacara Sangkan melakukan perbuatan nya ini,..?" tanya Japra Witangsa.
" Kami tidak tahu ," jawab orang itu
Seolah pertanyaan nya itu tidak ditanggapi oleh kedua tawanan nya itu . Putra Ki Jagabaya tersebut marah ,..
" Kalian pasti telah berbohong,.kalian memang harus di beri pelajaran agar mengaku,." teriak Japra Witangsa dengan keras.
Ia sampai mengangkat tangannya hendak memukul kedua orang itu.
" Jangan,... Kakang Witangsa,.. mungkin mereka memang tidak mengetahui nya, ." ucap Raka Senggani.
Dan kali ini,..Raka Senggani lah yg ganti bertanya.
" Darimana asal Ki sanak berdua ini,..?' tanya nya kepada kedua orang itu.
" Kami berdua dari Blambangan," jawab orang itu.
" Apakah Orang ini juga berasal dari Blambangan ,.z?'". tanya Raka Senggani lagi.
__ADS_1
" Benar Kisanak,..Ki Wanacara Sangkan juga berasal dari Blambangan,.". jawab orang itu.