Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 24 Kembali. bag ke enam.


__ADS_3

Tidak ada jawaban dari para penduduk Pedukuhan Randu Alas.Mereka terdiam mendengarkan sesorah dari Gagak Gangsu itu, sepertinya ucapan dari pemimpin rampok ini mengandung tenaga dalam yg tinggi.


" Baik lah, jika kalian masih ingin tinggal di Randu Alas ini dengan tenang , segeralah lepaskan ke sepuluh anak buah itu, kalau tidak ancaman ku ini akan berlaku, padukuhan Randu Alas ini akan aku bakar menjadi karang Abang, aku tidak main-main, saat selesai hitungan pada hitungan, mereka harus sudah berada bersamaku,.."


Teriak Gagak Gangsu lagi, ia terlihat berjalan mondar mandir sambil mengetuk kan tongkatnya ke atas tanah, dari mulut pemimpin rampok itu terdengar,..


" Satu,..."


" Dua,..."


" Ti......."


" Hehhh, memang nya kau siapa ,.. apakah dirimu itu Kanjeng Adipati ataupun Kanjeng Sinuwun , dapat main perintah begitu,saja ,..terhadap orang lain,..."


Terdengar suara yg keras dan menghentikan hitungan Gagak Gangsu.


Suara itu serasa mengalahkan pengaruh suara dari Gagak Gangsu, sehingga , para penduduk Pedukuhan Randu Alas mulai berisik termasuk juga dengan sang Bekel.


Dan tiba tiba saja di belakang Gagak Gangsu , telah berdiri seorang pemuda yg berwajah tampan, ia berdiiri tegak dengan melipat kedua tangan nya.


" Hehh, Gagak gemblung, Apakah dirimu memang merasa paling jago di tlatah Demak ini,!" seru Raka Senggani.


Sungguh Gagak Gangsu terkejut, ia menatap pemuda yg ada dihadpannya itu.


Pemuda yg tidak gentar sedikit pun terhadap nya padahal ia tengah di kelilingi oleh seluruh anggota nya..


" Hehh, bocah , siapakah dirimu, berani sekali kepada ku, Apakah kau tidak kenal dengan ku,?" tanya Gagak Gangsu geram.


" Aku tidak perlu kenal dengan mu, Gagak gemblung, yg jelas , segeralah angkat kaki dari Pedukuhan ini, sebelum batas kesabaranku habis, " seru Raka Senggani dengan keras.


Ia memang sudah sangat geram dengan tingkah laku kawanan rampok ini, karena akan membuat Demak semakin buruk di mata para rakyat nya, karena tidak mampu menjaga keamanan nya.


Dan sebagai salah satu yg bertanggung jawab atas keamanan Demak, Raka Senggani merasa sudah saatnya untuk memberikan pelajaran kepada orang itu.


Dan ketika masing masing telah pada titik puncak kemarahan, akhir nya Gagak Gangsu berkata,


" Hehh, bocah , mungkin dirimu memang memiliki nyawa rangkap, jadi sekarang terima lah ini, heaahh,."


Gagak Gangsu langsung melesat menyerang Raka Senggani dengan menggunakan tongkat bajanya mengarah leher dari sang senopati.


Dalam jarak yg sangat dekat itu, Raka Senggani tidak mau menghindari serangan tersebut ia malah memapasi nya dengan tongkat berkepala ular pemberian Ki Suganpara.


" Trakkhhh,.."


Benturan pun terjadi , dan Gagak Gangsu sangat terkejut dengan hasilnya, ia pun mencelat mundur akibat benturan yg cukup keras tadi.


Walaupun senjata nya merupakan berbahan logam yg cukup keras tetapi tidak mampu mematahkan tongkat milik lawan nya yg terbuat dsri kayu.


" Hehhh,." serunya terkejut.


Gagak Gangsu mulai merasa bahwa lawan nya kali ini memiliki kemampuan yg sangat tinggi.


" Ternyata dirimu memang ingin membunuh diri , Bocah , terima ini, hiyyahhh,"


Kembali Gagak Gangsu menyerang dengan cepat, ia menusukkan tongkat bajanya, terarah pada perut Senopati Sandi Demak itu.


Kembali serangan itu di balasi dengan serangan dari Raka Senggani , Senopati Sandi Demak melompat sedikit menghindari serangan seraya membalas nya dengan tusukan tongkat berkepala ular itu mengarah kepala Pemimpin kawanan rampok itu.


Tidak mau kepalanya menjadi sasaran senjata lawan, Gagak Gangsu menarik mundur tubuhnya sedikit, baru setelah nya memberikan serangan balasan.


Tongkat Baja nya bergerak cepat , menyasar pinggang senopati Demak,.


" Thakkh,"


Benturan kembali terjadi karena Senopati Sandi Demak ini memalangkan tongkatnya menangkis serangan tersebut.


Karena serangan nya belum ada yg menemui sasaran nya, Gagak Gangsu segera memutar kembali tongkat nya dan kali ini kaki dari Senopati Sandi Demak itu yg akan di serang nya.


Raka Senggani kemudian melompat tinggi dan bersalto di udara, menghindari serangan cepat dari lawannya tersebut.


Masih dalam posisi mengembang di udara segera Ia mengemposi tenaga dalam nya dan ilmu peringan tubuhnya dan memberikan serangan balasan melalui kedua kaki nya,.


" Heahhh,.."


" Dhieghh,.."


" Dhieghh,.."


Dua kali tendangan beruntun yg sangat cepat dari Senopati Sandi Demak ini tidak dapat dihindari oleh Gagak Gangsu, Pemimpin kawanan rampok itu harus mencelat akibat terkena hantaman tendangan tersebut.

__ADS_1


Cukup jauh juga Gagak Gangsu terjatuh, ia bergulingan beberapa kali guna menjauhi lawan nya, dan dengan cepat bangkit berdiri.


Hati Gagak Gangsu panas, ia belum pernah bertemu lawan yg memiliki kecepatan yg sulit di ikuti oleh mata, sehingga serangan tadi tidak mampu ia hindari.


" *******,.."


Gagak Gangsu bersumpah serapah,.ia merasa tengah di permainkan oleh lawannya.


" Aku akan mengadu jiwa dengan mu, Bocah,.." teriak Gagak Gangsu.


Ia bersedekap , tangan kirinya di depan dada , dan tangan kanan nya masih menggengam senjata tongkatnya.


Mulut Gagak Gangsu komat kamit, seperti nya ia sedang merapal mantera, kali ini ia akan mengeluarkan ilmu kadigjayaan nya.


" Jangan salahkan aku jika dirimu akan berakhir disini, di Randu Alas ini," ucap Gagak Gangsu.


Tongkat yg ada di tangan kanan nya itu telah memerah semerah darah pertanda bahwa ia telah mengerahkan ajian nya .


Beberapa kali tongkat itu di putarnya di depan dada.Baru kemudian ia berteriak,..


" Heaahhh,.."


" Dhumbhh,.."


" Haiiit,..."


Sebuah serangan jarak jauh di lontarkan oleh Gagak Gangsu melalui tangan kirinya, dan dari tangan tersebut keluar cahaya kemerahan menerjang Raka Senggani.


Senopati Sandi Demak ini melompat menghindari serangan tersebut. Ia berusaha mengambil jarak atas lawannya. Dan kali ini ia pun tengah menyiapkan ajian Wajra Geni miliknya.


Gagak Gangsu yg memang belum pernah bertemu dengan Senopati Sandi Demak mengira bahwa lawannya itu akan menghindar dan melarikan diri karena ia telah melepaskan ilmunya yg cukup ngegrisi itu.


" Ha, ha, ha, sekarang kau tidak bisa lari lagi, bocah,..umur tinggal seujung kuku,.." ucap Gagak Gangsu pongah.


Ia sudah merasa diatas angin.


" Jangan senang dulu Gagak Gemblung,..jangan merasa bahwa permainan anak -anak mu itu dapat menakuti ku, bersiaplah, jika memang dirimu tidak mau menyerah, atas nama Demak, Ku perintahkan kepadamu untuk menyerah,.." seru Raka Senggani.


Tangan nya tengah memepersiapkan ajian Wajra Geni miliknya.


" Behh,.. menyerah katamu bocah, dirimu lah yg kini sedang ketakutan menghadapi ilmu ku ini, terima lah, hiyyahh,.."


Teriak Gagak Gangsu sambil melepaskan kembali pukulan jarak jauh nya, namun kali ini di balas pula oleh Raka Senggani , sang Senopati Demak itu melepaskan ajian Wajra Geni nya dan membenturkan nya dengan ilmu yg di lontarkan oleh pemimpin rampok yg bernama Gagak Gangsu itu.


" Bleghuaaarrrr,.."


" Akkhhhh,.."


Beradu nya dua kekuatan tersebut membuat tubuh dari Gagak Gangsu harus mencelat jauh, ternyata ilmu nya masih berada jauh di bawah sang Senopati dari Demak ini.


Gagak Gangsu muntah darah,..ia berusaha bangkit dengan di bantu oleh para anak buahnya.


Dadanya terasa sakit dan sesak, beruntung ia memang memiliki daya tahan tubuh yg sangat kuat hingga tidak sampai pingsan.


Setelah berhasil berdiiri tegak,..


" Hooeeekkhh,.."


Kembali Gagak Gangsu memuntahkan darah segar untuk yg kedua kali nya.


Akan tetapi dasar rampok gila , meskipun tahu bahwa lawan yg di hadapi nya kali ini berilmu sangat tinggi , ia masih saja berusaha untuk mengalahkan nya.


Dengan sebuah isyarat, Gagak Gangsu memrintahkan para anak buah nya untuk menghabisi Senopati Sandi Demak ini.


" Ciaaaat,.."


" Hiyyyyat,.."


" Heahhh,..z"


Anak buah Gagak Gangsu ini berlompatan dan menyerang Raka Senggani dari berbagai penjuru dengan senjata terhunus.


Senopati Sandi Demak ini kembali mmepertontonkan kemampuan nya yg sangat tinggi, bagai tidak menjejak tanah lagi ia berlompatan diatas kepala para pengeroyok nya dan memberikan serangan melalui kedua kaki nya.


Kontan saja empat anggota kawanan rampok itu jatuh tersungkur, dengan mengandalkan ilmu peringan tubuhnya setelah berhasil menjatuhkan lawannya empat orang , ia kembali melesat dan mmeberikan serangan lagi,..hasilnya , empat orang menjadi korban , terjatuh dan tidak mampu bangkit lagi.


Sementara itu, Sari Kemuning yg melihat sang suami tengah di keroyok, ia pun tidak tinggal diam, putri Ki Jagabaya ini menrjunkan diri dalam pertarungan itu.


" Kakang Senggani, jangan khawatir , Aku datang membantu, Hiaaat,.."

__ADS_1


Teriakan Sari Kemuning itu sambil langsung menyerang para kawanan rampok yg mengurung suami nya tersebut.


Tiga orang dari kawanan rampok itu jatuh tersungkur karena serangan yg di lancarkan oleh Sari Kemuning.


Melihat , kedua pengelana yg mereka anggap adalah anggota kawanan rampok, kini tengah bertarung dengan para rampok yg seesungguhnya, Bekel Pedukuhan Randu Alas itu segera memrintahkan para pengawal nya untuk turut membantu.


Pada pagi menjelang siang itu, terjadilah pertempuran di depan rumah Bekel Randu Alas ini.


Para pengawal dan sepasang suami istri dari desa Kenanga itu dengan cepat mampu mendesak kawanan rampok yg berjumlah puluhan orang itu.


Tetapi karena dalam benturan pertama dengan Senopati Sandi Demak, sudah banyak yg terkapar , maka dengan sangat cepat para perampok itu terdesak. Terlebih Raka Senggani dan Sari Kemuning dengan leluasa menghajar mereka, karena kedua orang itu tidak ada yg mampu untuk menghadapinya.


Tandang Sari Kemuning , istri dari Senopati Sandi Demak ini bagaikan Singa betina yg terluka, gerakaan nya sangat cepat, setiap ia berkelebat dapat di pastikan satu dua orang pasti akan terjungkal.


Di saat Matahari pada puncaknya kedudukan para kawanan rampok ini sudah sangat sulit, hanya tinggal beberapa orang saja yg mampu berdiri.


Gagak Gangsu yg melihat hal itu menjadi ketar ketir hatinya, perlahan ia bergerak menjauhi tempat pertarungan itu, pemimpin rampok ini berniat untuk melarikan diri.


Namun sayang niatan nya tersebut di lihat oleh para penduduk Pedukuhan Randu Alas yg tetap setia melihat pertempuran itu.


Begitu mereka melihat Gagak Gangsu telah berusaha menjauh, dengan satu teriakan maka,..


" Jangan sampai lolos si Gagak Gangsu itu,!".


Terdengar teriakan yg berulang ulang di sebutkan oleh para penduduk Pedukuhan Randu Alas.


Secara beramai ramai mereka segera menyerang pemimpin kawanan rampok ini.


Meskipun sebenarnya Gagak Gangsu masih memiliki cukup tenaga , namun karena pengeroyok cukup banyak, akhirnya ia tidak dapat berbuat apa-apa.


Tubuhnya habis di hantam oleh banyak senjata yg di bawa oleh penduduk Pedukuhan Randu Alas itu.


Mereka secara beramai ramai membabi buta menghajar tubuh Gagak Gangsu.


Raka Senggani yg melihat hal ini segera datang untuk mencegah nya.


" Cukupp,..!!, jangan kalian hakimi sendiri, tinggalkan lah, ini akan menjadi urusan kami,.." teriak Raka Senggani.


Dengan menegrahkan tenaga dalam nya untuk menghentikan kegilaan para penduduk Pedukuhan itu.


Dalam sekejap penduduk Pedukuhan Randu Alas tersebut menghentikan serangan membabi buta mereka.


Dan kemudian meninggalkan tubuh Gagak Gangsu yg telah babak belur di hakimi oleh penduduk Pedukuhan Randu Alas.


Pemimpin kawanan rampok itu jatuh pingsan, Raka Senggani segera menghampiri nya dan memberikan beberapa totokan pada tubuh nya.


Bersamaan itu pula , seluruh anggota kawanan rampok tersebut telah berhasil di lumpuhkan.


Raka Senggani meminta kepada Bekel Randu Alas untuk membawa tubuh Gagak Gangsu itu ke dalam rumah nya.


Bekel Randu Alas segera mmerintahkan para pengawal nya untuk melaksanakan perintah dari Senopati Sandi Demak ini.


Seraya ia juga memrintahkan mereka untuk merawat yg terluka baik dari kawanan rampok maupun dari para pengawal pedukuhan.


Bahkan yg telah di nyatakan tewas, di perintahkan oleh Ki Bekel untuk segera menguburkan nya.


Siang itu menjadi sangat ramai di pedukuhan Randu Alas, tepatnya di rumah Ki Bekel.


Penduduk Pedukuhan amat senang mendengar berita kekalahan dari kawanan rampok yg di pimpin oleh Gagak Gangsu itu.


Berita dari mulut ke mulut cepat menyebar, dari pedukuhan pedukuhan yg lain yg berdekatan dengan pedukuhan Randu Alas segera berdatangan ke Randu Alas ini.


Umumnya mereka adalah korban dari kebiadaban Gagak Gangsu yg telah menjadi momok yg cukup menakutkan di seputaran Randu Alas ini.


Banyak yg ingin melihat secara langsung bagaimana keadaan Gagak Gangsu, pemimpin kawanan rampok yg di takuti itu.


Akan tetapi oleh Ki Bekel mereka di larang untuk masuk ke dalam, takutnya mereka akan melampiaskan dendam dan kekesalan nya pada Gagak Gangsu yg masih pingsan itu.


Jadi bukan tidak mungkin si Gagak Gangsu itu akan segera tewas akibat di hakimi oleh para penduduk itu.


Itulah sebabnya , mereka tidak di biarkan oleh Ki Bekel untuk masuk ke dalam.


Sementara di dalam, Raka Senggani dan Sari Kemuning dengan di temani oleh seorang tabib pedukuhan Randu Alas sedang berusaha untuk menyembuhkan Gagak Gangsu dan anak buahnya yg terluka itu.


Terlebih untuk pemimpin rampok ini, ia memang menderita luka yg cukup parah, selain ia menderita luka dalam akibat benturan ilmu dengan Raka Senggani, dari para penduduk Pedukuhan ia mengalami luka luar yg cukup serius. Jika tidak tangani dengan serius bisa jadi nyawa tidak dapat tertolong lagi.


Raka Senggani terus menyalurkan hawa murni nya guna memebantu penyembuhan dari dalam.


Sedangkan Tabib pedukuhan Randu Alas ini memberikan obat untuk penyembuhan luka luar.

__ADS_1


Cukup banyak juga kawanan rampok itu yg menjadi korban, hampir lebih sepuluh orang yg tewas, dan yg mengalami luka parah dan cukup serius jumlah nya mencapai hampir dua puluh orang.


Hingga sampai malam keadaan di rumah Ki Bekel Randu Alas ini masih saja ramai.


__ADS_2