
Sementara itu nun jauh dari kademangan Warasaba, Senopati Bima Sakti tengah berada di Kotaraja Demak.
Sesaat setelah menghadap Kanjeng Gusti Sinuwun di istana nya, Raka Senggani kembali ke kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa.
Ia melaporkan berbagai kegiatan yg telah di lakukannya termasuk mengawasi pergerakan pasukan dari Demak yg telah berangsur angsur ke tempat pelabuhan Kota Jepara yg ada di sebelah utara. Dimana tempat itu sebagai pemusatan seluruh armada Demak , meski ada juga yg di letakkan di pelabuhan Asem Arang.
Pasukan Kerajaan Demak yg akan berangkat ke kota Melaka ini jumlahnya memang cukup besar mungkin lebih dari sepuluh Prajurit , yg siap akan di berangkat belum lagi nanti akan di tambah lagi dari Kesultanan kacirebonan , kesultanan Samudra pasai hingga Palembang.
" Paman Tumenggung , tampaknya persiapan telah rampung, dari pengamatan para Prajurit sandi yg telah Senggani kirim, hanya tinggal menunggu keputusan Kanjeng Gusti Sinuwun saja,.." ungkap Raka Senggani.
" Benar , angger Senggani,..kita tinggal menjalankan perintah saja, seperti yg telah kita dengar bahwa Paman dan dirimu lah yg akan jadi Senopati pengapit, padahal sebenar nya paman berharap , Kanjeng Gusti Sinuwun tidak perlu untuk turun langsung ke peperangan kali ini agar kita dapat menjalankan seperti yg telah Angger Senggani katakan itu,.." ungkap Tumennggung Bahu Reksa.
Sebenarnya Panglima tertinggi dari Armada Demak ini sangat ingin mereka sajalah yg akan berangkat, ridak perlu Kanjeng Gusti Sultan Demak untuk ikut.
" Paman Tumennggung , dari yg kudengar bahwa dari Kerajaan Samudra pasai akan mengirmkan bantuan armada nya yg di pimpin oleh Raden fatahillah.." kata Raka Senggani.
Tumennggung Bahu Reksa memang mendengar hal tersebut akan tetapi belum dapat di pastikan akan bantuan itu.
" Benar , Ngger, tetapi semuanya belum dapat di pastikan, nanti jika kita telah merapat di Kacirebonan, baru kita akan tahu , dan jika pun memang mereka akan datang , mungkin dia lah yg akan jadi Senopati pengapit nya menggantikan dirimu, Ngger,.." jelas Tumennggung Bahu Reksa.
" Senggani akan sangat senang jika hal itu terjadi, berarti diriku akan bersama Paman Tumenggung ," jawab Raka Senggani.
Memang demikian lah, jika armada dari Kerajaan yg ada di ujung Swarnadwipa itu datang membantu , merupakan tambahan kekuatan yg akan sangat berarti sekali.
Seperti yg telah di sepakati akhirnya waktu itu pun tiba, para Senopati Perang dari Kerajaan Demak ini berangkat dari Kotaraja Demak menuju ke Pelabuhan kota Jepara , dimana seluruh kekuatan pasukan di tempatkan disana , juga demikian dengan kapal perang nya.
Sebuah kereta kencana mewah milik Kerajaan Demak meluncur dari Kotaraja menuju kota Jepara.
Didalamnya terdapat empat orang yg terdiri dari Seorang Raja Demak sendiri dan tiga orang yg lainnya adalah putranya sendiri yaitu Raden Arya Wangsa, Raden Abdullah Wangsa dan Raden Surya Diwangsa.
Tidak sampai setengah hari melakukan perjalanannya tibalah mereka di kota Jepara.
Sebuah kota yg merupakan galangn Kapal terbesar yg ada di pulau Jawadwipa ini.
Disinilah seluruh kekuatan Armada laut Demak di pusatkan. Dan merupakan tempat berhenti nya seluruh kapal perang milik Kerajaan Demak itu.
Sultan Demak kedua ini turun dari kereta kencana dengan di iringi oleh ketiga putranya, di sebelah mereka telah berdiiri tegak dua orang Senopati terbaik Demak saat ini yaitu Tumenggung Bahu Reksa dan Senopati Bima Sakti.
Mereka mengikuti rombongan itu dengan menggunakan kudanya.
" Bagaimana kakang Tumenggung, apakah semua Prajurit Demak telah berkumpul..?" tanya Kanjeng Gusti Sinuwun kepada Tumenggung Bahu Reksa.
" Sudah Kanjeng Gusti Sultan.. seluruh pasukan telah siap untuk di berangkatkan , tinggal menunggu perintah dari Kanjeng Gusti Sinuwun saja,.." jawab Tumenggung Bahu Reksa.
" Dan bagaimana dengan penyelidikan yg telah kau temukan Raden Hidayat, apakah kekuatan armada tempur kita ini dapat mengalahkan bangsa portugis di Melaka itu,..?" tanya Kanjeng Gusti Sultan Demak kepada Raka Senggani.
Senopati Sandi Demak ini menundukkan kepala nya, ia telah melihat kekuatan dari pasukan Laut kerajan Demak ini dan juga telah melihat kekuatan musuh , tampaknya memang dalam hal jumlahnya, armada laut Demak masih lebih unggul jika di bandingkan dengan musuh , akan tetapi saat ini, Armada laut Demak lah yg akan datang tentu banyak faktor yg dapat menyebabkan misi kali ini dapat berhasil jika hanya mengandalkan banyak nya Prajurit , jelas pasukan kali ini lebih beruntung jika pertempuran itu di lakukannya di darat, berbeda dengan yang sekarang ini yaitu berperang di atas laut. Akhir nya Raka Senggani menjawab,..
" Mudah -mudahan Kanjeng Gusti Sultan , kita akan dapat memenangkan peperangan kali ini,.." jawabnya pelan.
" Mudah -mudahan,.." sambut Kanjeng Gusti Sultan Demak.
" Kita pasti menang Ramanda Sultan,.." seru ketiga anaknya secara bersamaan.
__ADS_1
Memang dalam misi kali ini Senopati Sarjawala , gelar yg di berikan oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati kepada Sultan Demak ini , tidak berniat untuk mundur dari rencana nya semula untuk merebut kembali Kota Melaka dari tangan penjajah.
Selama beberapa hari di Jepara, Pangeran sabrang Lor atau Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua ini masih memeriksa kesiapan pasukan nya yg akan berangkat itu.
Setelah semua nya dirasa sudah cukup dan terpenuhi baik dari segi perbekalan juga amunisi yg akan di bawa.
Kanjeng Gusti Sultan Demak secara langsung menyatakan bahwa pasukan itu akan segera berangkat keesokan hari setelah selesai sholat subuh.
Seluruh Prajurit yg tengah berkumpul di kota Jepara , tepatnya di teluk Wetan ini amat senang mendengarnya. Karena mereka memang telah menantikan saat saat keberangkatan itu.
Sesuai dengan rencana, maka bergerak lah pasukan Armada laut Demak itu dari teluk Wetan, pelabuhan Jepara setelah selesai sholat subuh.
Sebagai pemimpin nya alias Senopati Agungnya adalah Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri , ia menggunakan kapal yg sangat besar dengan tiang layarnya ada empat buah,..di arah haluan nya ada terpasang meriam berjenis Leela beberapa buah, demikian pula di arah buritan nya, sedangkan di sisi kiri dan kanan nya juga terpasang meriam yg lebih kecil berjenis Cetbang dan Rentaka.
Selain Kapal Jung ini di gerakkan oleh layar yg sangat besar, ada pula berpuluh atau bahkan beratus Prajurit yg telah siap mendayung nya dari sisi kiri dan kanan nya.
Jumlah kapasitas yg mampu di tamping serta dibawa oleh kapal perang milik Kanjeng Gusti Sultan Demak ini dapat menampung mungkin lebih seribu orang , sungguh sebuah Kapal perang yg sangat besar pada masa itu
Sedangkan untuk kapal Jung milik dari panglima tertingggi armada laut Demak yaitu Tumenggung Bahu Reksa sendiri , Kapal nya tidak sebesar dari milik Kanjeng Gusti Sultan Demak, demikian pula Kapal perang yg di tumpangi oleh Senopati Bima Sakti tidak sebesar dari milik Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Sekira lebih dari tiga ratus kapal perang milik Kerajaan Demak itu , baik besar dan kecil segera bernagkat meninggalkan kota pelabuhan Jepara dengan di iringi tabuhan genderang perang,.di setiap kapal yg berlayar terpasang bendera Kerajaan Demak.
Bendera berwarna kuning ,merupakan simbol dari Kerajaan Demak itu.
Iring iringan Kapal perang ini melaju dengan perlahan membawa puluhan ribu prajurit yg siap untuk membebaskan tanah Melaka dari penjajahan.
Dalam keberangkatan kali ini seperti sudah di sepakati oleh Kanjeng Gusti Sultan Demak, bahwa Senopati pengapit sebelah kanan adalah Tumenggung Bahu Reksa, sedangkan untuk Senopati pengapit kiri adalah Senopati Bima Sakti, ini di lakuka sejak pertama kali pasukan itu berangkat, dan akan berubah jika di kota Cirebon ada seorang Senopati lagi yg akan turut seperti yg di gadang gadang, salah seorang ksatria dari tanah Pasai yg bernama Faletehan alias Fatahillah. Akan tetapi ini belum dapat di pastikan keberadaan nya.Sehingga Senopati Bima Sakti lah yg menjadi orang nomor satu d sayap kiri ini, Kanjeng Sultan Demak kedua ini telah memasang gelar nya sebagai gelar Garuda Nglayang sejak kali pertama mereka bertolak dari teluk Wetan di Jepara.
Dengan tiupan angin yg tidak terlalu kencang , Armada pasukan Demaj ini mulai mengarungi lautan.
Gerak Kapal Jung milik dari Sang Sultan Demak ini tampak berjalan lambat, padahal sebenar nya tidak , karena kapal kapal kecil yg lain yg ada di belakang nya pun tidak mampu untuk mendahuluinya, memang karena Kapal tersebut cukup besar jadi tampak gerak kapal itu sangat lambat.
Hampir sehariaan berlayar sampai lah rombongan Armada pasukan laut Demak ini di Kacirebonan.
Seluruh Kapal, baik yg besar maupun yg kecil segera merapat dan bersandar di pelabuhan cirebon.
Sebenarnya pelabuhan itu cukup kecil sehingga membuat kesulitan tersendiri bagi pasukan ini untuk merapat.
Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua dan ketiga putranya segera turun dari kapalnya menuju ke kesultanan Kacirebonan yg di perintah oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati sendiri.
Sultan Demak sendiri di dampingi oleh Tumenggung Bahu Reksa dan Senopati Bima Sakti datang menghadap Kanjeng Sunan Gunung Jati kali ini.
Mereka berenam langsung di terima oleh Kanjeng Sunan Gunung Jati dalam istananya. Ia merasa senang dengan kehadiran sang menantu nya ini.
" Assalamualaikum ,.. Ramanda Sunan,..!" ucap Kanjeng Gusti Sultan Demak.
" Wa,. ' alaikum salam,..Anakmas Sultan, silahkan , silahkan , silahkan duduk,.." sahut Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Ia mempersilahkan kepada menantunya ini untuk mengambil tempat duduk dekat dengan dirinya.
Perlu diketahui bahwa Pangeran Sabrang Lor atau Senopati Sarjawala alias Adipati Unus ini adalah juga menantu dari Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Sehingga Kanjeng Sunan memang memerlukan untuk membantu nya dalam niat suci berperang melawan bangsa portugis yg telah menjajah bangsa melayu itu.
__ADS_1
Hingga ia lah , salah seorang wali yg mendukung penyerangan ini di laksanakan untuk kali pertama , Demak menyerbu Melaka dan saat itu Sultan Demak ini masih menjabat sebagai Adipati anom di demak.
Meskipun misi pertama kali itu gagal, tetapi untuk yg kedua ini, Kanjeng Sunan Gunung Jati berharap sekali agar pasukan dari Kerajaan Demak berhasil pulang dengan kemenangan seperti yg telah di contohkan oleh Sultan Muhammad Ali Fatih dari dinasti usmani yg mampu menaklukan konstantinopel di turki dan mengubahnya menjadi Istanbul.
Di dalam istana Kacirebonan Kanjeng Sunan Gunung jati menjamu tamu agung nya ini dengan hidangan yg cukup lengkap.
Dalam pada itu , Kanjeng Gusti Sultan Demak kedua ini juga menyempatkan untuk bertemu istri nya Ratu Ayu yg merupakan Putri dari Kanjeng Sunan Gunung Jati.
" Diajeng, kangmas akan melakukan perang , doakan kangmas diajeng,," ucap Kanjeng sultan Demak.
" Tentu , tentu , doaku selalu menyertaimu kangmas sultan,.." jawab Ratu Ayu.
" Diajeng mengapa tidak mau kangmas ajak untuk tinggal di Demak,?" tanya Kanjeng Sinuwun kepada istri nya itu.
Memang ia sangat berharap dapat berkumpul dengan istrinya ini di Demak akan tetapi di tolaknya, ia lebih memilih untuk tinggal di cirebon.
Cukup lama juga Kanjeng Sinuwun , Sultan Demak ini berbicara dengan istrinya.
Baru setelah nya mereka berkumpul lagi dalam istana milik Kanjeng Sunan Gunung Jati.
" Anakmas Sultan , mungkin besok Pasukan dari Pasai itu akan segera tiba, jadi aku berharap agar kalian mau bersabar menunggu ,..!" ucap Kanjeng Sunan Gunung Jati.
" Tentu kami akan menunggu Ramanda Sunan ,.." sahut Kanjeng Gusti Sultan Demak.
Kemudian rombongan itu beistraharat dan menginap di Kesultanan Cirebon.
Pasukan ini masih menunggu kedatangan dari sepasukan prajurit dari Pasai yg di pimpin oleh Raden Fadhulah Khan atau lebih dikenal dengan nama Fathillah.
Dalam pada saat masih menginap di Cirebon, ada empat orang prajurit Sandi Demak yg mendatangi Senopati Bima Sakti.
Mereka bertemu di suatu tempat yg cukup tersembunyi.
" Ada apa Ki Lurah,..?" tanya Raka Senggani .
pertanyaan yg diajukan nya untuk Ki Lurah Lintang Panjer Suruf. Lurah prajurit Sandi Demak ini mengatakan kepada Senopati Bima Sakti bahwa keadaan Kota Melaka saat ini semakin ramai dengan kedatangan Pasukan asing yg nampaknya sengaja mereka datangkan karena mereka telah mengetahui akan di serang dari Demak.
" Senopati , apa tidak bisa jika pasukan ini tidak jadi untuk menyerang Kota Melaka,..?" tanya Ki Lurah Lintang Panjer Rina.
Ia pun menyebutkan, jika usaha dari Demak kali ini gagal, maka Pelabuhan Sunda kelapa pun akan mereka taklukan , bahkan nampaknya hal ini akan di bantu Kerajaan Pajajaran, jadi tentunya akan semakin sulit pula untuk menguasai Pelabuhan yg terpenting yg berada di ujung paling kulon pulau ini.
Senopati Bima Sakti yg mendengar langsung pernyataan kedua orang Lurah prajurit nya ini sebenar nya tidak terlalu terkejut lagi dengan ucapan mereka berdua, dikarenakan ia sendiri pun telah mengalami nya sendiri.
Akan tetapi ini semuanya adalah keputusan dari Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri yg tidak dapat untuk di tunda, apalagi untuk di cegah, sidang para wali pun tidak mampu mencegqhnya., berkata dalam hati Senopati Bima Sakti ini.
Ia merasa tidak akan mungkin lagi untuk mencegah peperangan kali ini, hanya yg mencemaskan sang Senopati adalah mengenai keamanan dari Kanjeng Gusti Sultan Demak sendiri, andaikata ia mau menuruti saran para wali tentu ia tidak perlu turun sendiri dalam perang kali ini.
Entah mengapa, ada semacam firasat dari para wali ini , terjadi pula pada diri sang Senopati.
Ia hanya mampu menatap kehamparan lautan luas yg tidak bertepi, jika mengingat akan hal ini termasuk juga dengan kehadiran ketiga Pangeran putra Sang Sultan Demak sendiri yg merupakan adalah teman temannya.
Hehh, apa jadinya Demak jika mereka ini semuanya tidak ada lagi, berkata dalam hati Raka Senggani.
ia larut dengan perasaan nya sendiri tanpa menjawab perkataan dari dua Lurah Prajurit sandi Demak itu.
__ADS_1
Kemudian ia menepiskan semua perasaan yg ada di dalam hatinya ini , ia berdoa untuk keselamatan mereka semua.