Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 31 Seda ing Pajang. bag kelima.


__ADS_3

Lelaki tambun ini memandangi golok nya dan wajah Raka Senggani bergantian seolah tidak percaya.


Yg di tatap hanya diam saja.


Namun lelaki tambun ini tidak langsung kabur, ia menggerakkan kepalanya sebagai sebuah isyarat kepada para anak buahnya untuk menyerang senopati Brastha Abipraya .


" Ciaaat,..!"


" Hiyyaaat,..!"


Dua orang maju dari kiri dan kanan nya dan kemudian di ikuti oleh tiga orang kemudian.


" Heahhh,..!"


" Dhugghh,..!"


" Dhugghh..!"


" Huffhhhh,..heahhh,..!"


" Aaakh,..!"


Mendapati dua orang maju arah sisi kanan dan kiri Raka Senggani , senopati Brastha Abipraya ini segera mengirimkan tendangan nya baik menggunakan kaki kiri dan kanan secara bergantian merobohkan kedua lawannya ini.


Dan saat datang lagi tiga orang dari arah depan , Senopati Brastha Abipraya mengirimkan tendangan memutar setengah lingkaran merobohkan mereka.


Gerakannya yg sangat cepat membuat lelaki tambun ini terbengong bengong seolah tidak percaya.


Seorang yg tidak terlalu banyak bergerak dari tempat nya bahkan cenderung diam saja tetapi mampu merobohkan kelima orang temannya ini.


" Cepat segeralah menyerah kalian semua,..!" seru Raka Senggani.


Ia memang melihat ke sekeliling nya bahwa para prajurit Pajang mampu mengatasi dan menguasai para perampok ini.


Demikian pula dengan lelaki tambun ini, ia melihat telah banyak anak buahnya yang tumbang, sebahagian ada yg tewas dan ada pula yang terluka.


Kini tinggal dia bersama dua orang lagi yg lainnya yg masih berdiri.


Di saat -saat seperti ini, tiba-tiba saja dari arah belakang datang lagi beberapa orang yang juga merupakan bagian dari perampok itu.


" Ada apa Ki Bagong,..?" tanya seseorang kepada lelaki tambun ini.


Ia datang bersama sepuluh orang temannya.


" Hahh, eehh, kau Ki Ranta, mana kakang Maruk Goro,..?" tanya lelaki tambun yg di panggil bagong itu.


" Ia masih ada di belakang, biasa,..tampaknya ia tidak dapat menahan hasratnya,..sehingga kami di perintah untuk terlebih dahulu berangkat kemari,..!" terang orang bernama Ki Ranta ini.


Sementara itu Raka Yantra yg berada tidak jauh dari adik sepupunya ini dapat melihat jelas dengan orang yang baru datang itu.


Ia adalah salah seorang yg di lihat saat melintasi hutan dan tengah di kejar oleh Rangga Wiradipa kemarin.


" Adi Senggani ini, orang inilah yg bertemu dengan kita saat malam hujan yang deras itu,.!" bisik Raka Yantra kepada Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya menganggukkan kepalanya.


" Dan orang inilah yg merupakan kawanan rampok berasal dari warasaba, dahulu ia di pimpin oleh seorang yg bernama Ki Lowo Kumbolo,..!" jelas Raka Yantra lagi dengan sangat pelan.


Mendengar hal tersebut, Raka Senggani langsung mengarahkan pandangan nya kepada orang baru datang yg bernama Ki Ranta ini.


Dalam pandangan mata Panggraitanya, Raka Senggani tidak melihat ada kelebihan pada orang tersebut.


Sementara orang yang bernama Ki Ranta ini pun matanya tertumbuk pada Raka Senggani yg telah di ceritakan oleh temannya tadi memiliki kemampuan yang luar biasa.


Perlahan Ki Ranta maju beberapa langkah mendekati tempat Raka Senggani berdiri.


Dan setelah dekat, alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat di sebelah pemuda itu ada seorang lagi pemuda yang berdiri, wajahnya sudah sangat ia kenal sekali saat bertarung di Kademangan Warasaba.


Raka Yantra lah yg langsung menyapanya,.


" Ternyata gerombolan Lowo Kumbolo sampai juga kemari,.. memang sudah saat nya dirimu ini di lenyapkan untuk selama lamanya agar tidak menyusahkan orang lain lagi,.Ki Ranta,.,!" seru Raka Yantra.


Yg di tegur hanya tersenyum sinis mendapatkan perkataan dari putra Raka Jang ini, ia dengan berkacak pinggang membalasi ucapan dari Raka Yantra itu.


" Pada waktu di Warasaba , kalian memang bernasib mujur , karena telah di bantu oleh seorang yg mampu mengalahkan kakang Lowo Kumbolo dengan ilmunya, namun kali ini kami datang dengan kakang Maruk Goro, kalian semua akan kami bantai di sini,.karena kakang Maruk Goro adalah kakak seperguruan dari kakang Lowo Kumbolo, ha ha, ha.,!" sahut Ki Ranta sambil tertawa.


" Hehh, Ki Ranta , dirimu jangan terlalu senang dahulu, jika di Warasaba kalian telah bertemu dengan seorang memiliki kemampuan yang sangat tinggi, itu adalah murid dari orang ini, kalian tentu dapat mengerti bagaimana kemampuan nya,..!" balas Raka Yantra sambil menunjuk ke arah Raka Senggani.


Ia sengaja memberikan gertakan kepada para perampok itu.Dengan menyebutkan bahwa Raka Senggani adalah guru dari orang yang telah mengalahkan Lowo Kumbolo itu.


" Ahh, kau tidak perlu membual di hadapan ku, mana mungkin ada seorang guru yang usianya sama atau malah lebih muda dari muridnya sendiri , itu tidak mungkin,..!" seru Ki Ranta membantah gertakan Raka Yantra ini.


" Terserah lah, diriku tidak perlu minta pendapat ku yg jelas jika kalian tetap melakukan kekacauan di sini maka kalian semua akan menanggung akibatnya,.,!" terang Raka Yantra.


Nampaknya pemuda yg merupakan saudara sepupu dari Raka Senggani ini pun sudah tidak perlu untuk membuktikan apa pun.Dirinya pun segera mencabut pedangnya seraya berkata,.

__ADS_1


" Adi Senggani serahkan orang kepadaku,.. dirimu hadapilah pemimpin nya jika ia datang nanti,..!" serunya sambil maju ke depan.


Tangan putra Raka Jang ini memang sudah gatal karena sedari tadi ia hanya menonton saja Raka Senggani yg bertarung dengan gerombolan rampok tersebut. Dan setelah ia melihat kedatangan orang yang pernah bertarung dengan nya di Warasaba hatinya pun tergelitik untuk menjajal lagi kemampuan orang itu.


" Ha, ha ha, majulah , aku pun sangat ingin melayani mu dalam beberapa jurus ke depan." balas Ki Ranta


Seorang yg dahulu menjadi orang kepercayaan dari Lowo Kumbolo bersama dengan Ki Lodong.


" Baik, terima serangan , hiyyah,..!" seru Raka Yantra.


Dengan sangat cepat sambil melompat, Raka Yantra menusukkan senjatanya ke arah leher orang yg bernama Ki Ranta ini.


Memang sangat cepat serangan yg di lepaskan oleh Raka Yantra ini akan tetapi belum mengenai hasil, sebab Ki Ranta menarik mundur kepalanya ke belakang.


Ia kemudian bergerak agak menjauh dari Raka Yantra yg telah melanjutkan serangan nya lagi dengan menggunakan pedang nya.


Sebuah tebasan mendatar memburu Ki Ranta.


" Traaangg,..!"


Tebasan pedang dari Raka Yantra ini di papasi oleh Ki Ranta dengan senjatanya.


Ternyata tenaga dalam Ki Ranta kalah dalam hal tenaga dalam, ia terdorong akibat benturan tadi.


" Heaahh,..!"


" Dhieghh,..!"


Tidak menyia -nyiakan kesempatan, Raka Yantra meneruskan serangan nya dengan sebuah tendangan keras, tendangan lurus ini menghantam lambung pentolan rampok Ki Maruk Goro itu.


Perut nya harus merasakan rasa sakit yg teramat akibat hantaman tersebut. Tubuhnya jatuh terjengkang ke belakang.


Ki Ranta kemudian bergulingan berusaha menjauhi lawannya.


Agak lama juga dirinya baru dapat bangkit, setelah berusaha keras untuk mengatasi rasa sakitnya.


Ki Ranta kemudian bangkit,


 Ternyata kemampuan orang ini semakin tinggi saja diriku harus lebih berhati-hati lagi, berkata dalam hatinya.


" Bagiamana Ki Ranta apakah dirimu sudah mampu melanjutkan lagi pertarungan ini,..?" tanya Raka Yantra agak mengejek.


Memang saat di Warasaba Raka Yantra cukup kesulitan juga untuk mengatasi perlawanan dari Ki Ranta ini.


" Heahhh,..!"


Segera saja Ki Ranta menyerang Raka Yantra dengan membacokkan goloknya ke arah kepala lawan nya ini.


" Traaangg,..!"


Tidak mau kalah Putra Raka Jang ini langsung saja memukul serangan yg datang itu , terjadi benturan , namun kali ini dengan cepat pula ia membalas dengan menyabetkan pedang nya ke arah lambung dari Ki Ranta,


Tidak mau perut nya di tembus oleh senjata lawan, kali ini Ki Ranta lah yg harus memapasi nya,


" Trinnng,..!"


Kini jual beli pukulan dan serangan pun semakin sering saja, di warnai dengan benturan kedua senjata, dan tampaknya kedudukan dari Ki Ranta semakin sulit saja.


Sudah seringkali ia harus melompat mundur dan tidak berani lagi langsung memapasi serangan lawan karena tenaga nya kalah dengan lawan nya yg berusia muda ini.


Dalam satu kesempatan , setelah keluar dari garis serang lawan, Ki Ranta memanggil anak buahnya dengan suitan nyaring.


" Suiiiit,..!"


" Hiyyah,..!"


" Ciaaat,..!_


Dua orang langsung saja menghampiri nya di sebelah kanan dan kirinya.


" Cepat,..kita habisi orang ini,..!" seru Ki Ranta kepada keduanya.


" Baik Ki Ranta,.!" sahut keduanya .


Langsung saja dua orang anggota gerombolan rampok ini berlompatan menyerang Raka Yantra dari dua arah.


" Traaangg,.!"


" Triiing,..!"


Raka Yantra memang bukanlah seorang pemuda yang lemah, kini setelah ia di bentuk oleh Mpu Loh Brangsang dari Gunung Merapi dan entah sudah berapa kali melawan orang yang memiliki kemampuan yang berada di atasnya seperti Raka Senggani dan yg terakhir adalah Tumenggung Gajah Ludira.


Sehingga membuatnya tumbuh tanggon sebagai seorang yg memiliki kemampuan dalam hal ilmu silat.


Dengan cepat pula ia membalasi serangan keduanya.

__ADS_1


Bahkan setelah ia berhasil menahan keduanya, serangan nya di teruskan ke arah Ki Ranta yg masih melihatnya sambil berdiri.


Pertarungan melawan ketiga gerombolan rampok ini pun menjadi semakin seru.


Tampaknya kakang Yantra tidak akan kesulitan untuk menghadapi mereka , berkata dalam hati Raka Senggani.


Ia memandang ke arah lelaki yang bertubuh tambun ini.


" Hehh, kisanak , tampaknya kini dirimu lah yg akan berhadapan dengan ku lagi, !" seru Raka Senggani.


Tatapan nya tetap pada lelaki itu. Sedangkan yg di pandanginya semakin menjadi serba salah sebab dirinya tahu akan kemampuan dari orang itu , Senjatanya telah gompal ketika menghantam tubuh nya.


Walau demikian , Ki Bagong, menjawab perkataan dari Raka Senggani ini.


" Tampaknya memang demikian, kisanak , kita lanjutkan lagi pertarungan ini,..!" ucap Lelaki tambun ini.


Ia meraih senjata salah seorang temannya yg telah tergeletak tidak berdaya di dekatnya.


Namun belum pun ia bergerak , terdengarlah suara keras menyapa mereka,


" He, siapakah orang nya yg telah berani menantang Maruk Goro,..!"


Seruan yang mengandung tenaga dalam ini memang membuat beberapa prajurit Pajang terpengaruh.


Beberapa orang prajurit yg di bawah kendali dari Rangga Aryo Seno ini memegangi dadanya.


Bahkan ada yang hampir terjatuh akibat suara yang cukup keras tersebut.


Raka Senggani menyadari bahwa orang yang baru datang ini telah menyebarkan ilmu aji Gelap Ngampar, sehingga berpengaruh terhadap mereka yang tidak memiliki ilmu tenaga dalam yg tinggi.


Sehingga dirinya harus mengatasi hal tersebut agar para prajurit Pajang ini tidak kalah sebelum bertarung, bila keadaan mereka seperti saat ini tentu akan sangat mudah nya para perampok ini memenggal kepala mereka.


" Hehh, keluarlah, tunjukkan lah dirimu,..!" ucap Raka Senggani pelan.


Tetapi suara nya yg pelan ini mampu membuyarkan aji gelap Ngampar yg di lepaskan oleh orang itu.


Para Prajurit Pajang mampu kembali berdiri tegak tanpa merasa sakit di dadanya.


Raka Senggani langsung saja berusaha mencari keberadaan dari orang yang baru datang , akan tetapi belum pun ia mengetahui keberadaan nya tiba tiba saja muncullah orang yg berbadan tinggi besar tidak jauh dari lelaki bertubuh tambun itu.


" Hehh, Bagong,.siapa orang nya yg berani menantang Maruk Goro,..?" tanya nya kepada lelaki bertubuh tambun itu.


" Itulah orangnya Kakang Goro,..!" sahut Lelaki bertubuh tambun itu.


Ternyata orang yang baru datang itu adalah pemimpin dari gerombolan rampok yg bernama Ki Maruk Goro.


Dan orang yang baru datang ini menatap ke arah Raka Senggani sambil berkata,.


" Bocah ingusan ini maksudmu, Bagong,.?" tanya nya merendahkan Raka Senggani.


" Dialah orang nya yg telah menumbangkan orang -prang kita , Kakang , ia memiliki kemampuan yang luar biasa, dengan mudahnya mampu mengalahkan anggota kita,.!" terang Ki Bagong.


" Ahh, hanya ngayawara saja ucapanmu itu Bagong,.. Aku harus membuktikan nya,..!" sahut Ki Maruk Goro sambil mendekati Raka Senggani.


Sementara itu Raka Senggani masih memperhatikan keadaan dari Kakak sepupu nya , dan hati nya juga cukup senang setelah salah seorang pengeroyoknya jatuh terkena sabetan pedang nya.


Tampaknya kakang Yantra tidak mengalami kesulitan, aku harus memusatkan perhatian ku kepada orang ini, berkata dalam hatinya, sambil mengalihkan pandangan nya kepada Ki Maruk Goro.


" Hehh, bocah , segeralah angkat kaki dari sini sebelum ku penggal kepala mu,..!" ucap Ki Maruk Goro dengan keras.


Lelaki yang bertubuh tinggi besar ini menggenggam sebuah kapak bermata dua yg cukup besar.


Dari sorot matanya tampak lelaki itu amat marah kepada Senopati Brastha Abipraya ini.


" Hehh, Maruk Goro, yg ada dirimu lah yg harus angkat kaki dari sini, atas nama kekuasaan Pajang , Aku meminta mu untuk segera menyerah,..!" balas Raka Senggani tidak kalah garang.


Ki Maruk Goro nampak senyum mengejek sambil berseru,.


" Maruk Goro di suruh menyerah, baru hari ini ada seseorang yg mengatakan hal itu kepadaku, terlebih itu di katakan oleh seorang bocah ingusan,..he, he ,he,.!"


" Baiklah ,. kali ini diriku tidak akan main main lagi, karena sudah menjadi tugasku sebagai seorang prajurit Pajang untuk menumpas siapa saja yg berani membuat kekacauan di wilayah Pajang ini,.!" ucap Raka Senggani.


" Whushhh,..!"


" Whushhh,..!"


" Whushhh,.!"


Senopati Brastha Abipraya ini segera mengeluarkan senjatanya yg berupa tongkat berkepala ular dan memutarnya di depan dada.


Dan angin nya berkesiuran sangat kencang membuat tempat tersebut menjadi bergoyang karena nya.


Ki Maruk Goro sudah mulai merasa bahwa tenaga dalam dari lawannya ini sangat kuat.


Ia pun turut pula memutar kapak nya yg bermata dua dan juga menimbulkan angin pusaran meski tidak sekuat dari yg di timbulkan oleh tongkat yg ada di tangan Senopati Brastha Abipraya ini.

__ADS_1


__ADS_2