Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 14 RAWA RONTEK. bag pertama.


__ADS_3

" Kakang berdua , memang Kebathilan dan Keangkaramurkaan harus di lawan, jika kita kalah atau pun tewas, kita dinamakan Syahid, dan jika kita menang, kita di sebut Jihad,.." ucap Raka Senggani.


Kemudian ia meneruskan kata -katanya,


" Akan tetapi Jihad disini kita bukan berarti jahat, sehingga harus membunuhi setiap orang pelaku kejahatan itu, karena selagi ia mau bertobat dan tidak akan mengulangi nya lagi, dan dengan sungguh - sungguh bertobat nya , taubatannasuha, kita sebagai hamba Sang Khalik harus memberi jalannya untuk melaksanakan nya,..dan jika nantinya ia berubah , semuanya itu adalah kehendak yg diatas, bagi kita wajib untuk menyadarkan mereka yg tersesat jalan itu saja, bukan sebagai mesin pembunuh, walaupun mereka berniat membunuh kita," jelas Raka Senggani.


" Yang Haq,... itu pasti menang ,..cepat atau lambat,..dan yg Bathil pasti akan kalah,..yg Benar,..menang ,... yg salah pasti Kalah,.." ucap Raka Senggani lagi.


" Apakah kalian berdua sudah sehat, ...dan masih menaruh dendam terhadap Ki Suganpara ini,.?" tanya Raka Senggani kepada kedua teman nya itu.


" Syukur kepada Yg Maha Kuasa,..adi Senggani,.. walaupun ,.rasa -rasanya,.tubuh kami ini remuk semua, tetapi kami sudah merasa baikan, terlebih setelah melihat Ki Suganpara ini berhasil dikalahkan, " jawab Jati Andara.


" Benar adi Senggani,.. sebenar nya, jika kami yg mampu mengalahkan orang ini, pasti akan kami habisi nyawanya, agar ia tidak membuat keonaran lagi disini atau dimanapun,.." seru Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya itu amat geram melihat orangtua yg masih dalam keadaan pingsan itu.


Akan tetapi hati keçilnya juga merasa iba, jika melihat nya dalam keadaan begitu, tidak sadar kan diri.


Tetapi jika kami yg dalam keadaan begini,..pasti.sudah dihabisinya,.. berkata dalam hati Japra Witangsa menepis rasa ibanya.


Ia memang sangat tidak suka membiarkan musuh dalam keadaan selamat,.. apalagi ia seorang yg berilmu tinggi, jika kelak ia akan berbuat yg tidak baik akan sangat sulit mengalahkan nya, begitulah menurut Japra Witangsa.


Tetapi membunuh seseorang yg dalam keadaan tidak berdaya seperti saat ini memang bukan merupakan tindakan seorang ksatria.


Jika memang ia tewas tadi dalam pertarungan , itu merupakan nasibnya, tetapi ketika dirinya masih hidup dan dalam keadaan tidak berdaya seperti ini adalah kewajiban untuk menolong nya, begitulah penuturan dari Raka Senggani.


Senopati Pajang itu juga mengingatkan dengan memiliki ilmu yg tinggi , kita tidak boleh berbuat semena -mena terhadap orang lain walaupun ia adalah musuh.


Karena Senopati Pajang itu telah mengambil janji dari gurunya, bahwa semua ilmu yg telah di turunkan kepada nya itu bukan untuk berbuat semaunya, semuanya ada pertanggungjawabannya di hadapan sang Maha pencipta.


Dalam kesempatan itu Raka Senggani juga menjelaskan kepada keduanya tentang maksud dan tujuan nya datang ke Kedawung itu.


Ia memerlukan bantuan dari sahabat nya untuk melaksanakan permintaan dari Panembahan Lawu yg dimintai tolong mengatasi permasalahan yg telah terjadi di daerah Boyolangu.


Keduanya ingin ikut dalam perjalanan kali ini tetapi menurut dari Senopati Pajang itu , hanya dua orang saja yg akan menyertai nya ke Boyolangu.


" Sebaiknya kami berdua saja yg akan pergi Ke Boyolangu itu,." ucap Jati Andara.


" Begini Kakang Andara, karena menurut Ki ageng Boyolangu itu, pelaku penculikan tersebut,..mengincar seorang gadis yg akan di tumbalkan, jadi harus ada seorang perempuan yg akan ikut , entah itu Sari Kemuning ataupun Dewi Dwarani,..baru salah satu dsri kalian,.." jawab Raka Senggani.


Nampak raut kekecewaan di wajah keduanya, tetapi mereka pun mengerti akan keadaan itu.


" Biarlah, Witangsa dan dan Dewi Dwarani saja yg bersama,.. adi Senggani," ucap Jati Andara.


" Hehh, mengapa harus aku dan Dewi Dwarani,.. yg ikut,.?" tanya Japra Witangsa.


" Bukan apa -apa, Witangsa,.. karena harus ada salah seorang dari kita yg tingga dan mengalah, ..biarlah aku saja yg tidak ikut,..nanti jika ada kesempatan yg lain baru aku yg akan menyertai adi Senggani," jawab putra Ki Bekel itu.


" Kau tidak marah kan, dengan mengatakan hal ini, .. Andara,?" tanya Japra Witangsa lagi.


" Tidak ,..tidak , aku tidak marah Witangsa, harus ada yg mengalah diantara kita, bukan begitu adi Senggani,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.


" Benar kakang Witangsa,.. kakang Andara mengatakan yg sebenarnya, diantara kalian berdua memang harus ada yg mengalah dalam hal ini," jelas Raka Senggani.


Karena Senopati Pajang itu tahu bahwa Jati Andara masih ingin bersama dengan kembang Kedawung itu, jadi ia pun menyetujui nya.


" Baiklah kalau begitu, kapan kira nya kita akan berangkat dan bagaimana nanti Kemuning juga minta untuk ikut,?" tanya Japra Witangsa.


Putra Ki Jagabaya itu nampak bersemangat sekali, karena kepergian kali ini akan bersama dengan Raka Senggani, seorang teman sekaligus guru mereka berempat.


Apalagi kali kepergian mereka untuk berhadapan dengan seorang yg cukup sakti, sehingga Ki Ageng Boyolangu pun terpaksa meminta bantuan dari Gunung Lawu.


" Apakah kita akan kembali ke Kenanga dahulu, adi Senggani,..?" tanya Jati Andara.


Raka Senggani menggelengkan kepalanya, ia memang masih enggan untuk kembali ke desa Kenanga.

__ADS_1


" Sebaiknya tidak kakang Andara,..dan untuk lebih mudahnya, agar Dewi Dwarani dipanggil datang kemari saja dan nanti Senggani sendiri yg akan mengatakan kepada Kemuning, jika ia memaksa biarlah ia juga ikut," jawab Raka Senggani.


" Mengapa adi Senggani tidak kembali saja terlebih dahulu ke Kenanga,..?" tanya Japra Witangsa.


Dengan agak terpaksa Senopati Pajang itu menceritakan serba sedikit tentang pertemuan dirinya dan Tara Rindayu di bukit Klangon beberapa waktu lalu, ia juga menceritakan kekalahan nya saat berada disana dan membuat dirinya kehilangan seluruh kemampuan nya, jadi dengan alasan dirinya tidak ingin di ketahui oleh para pengawal dari Juragan Tarya itulah membuatnya masih enggan untuk berada di desa Kenanga.


" Biarlah mereka merasa menang, untuk sementara biar mereka menganggap Senggani telah tewas,.." jelas Raka Senggani.


Kedua sahabat nya itu cukup terkejut mendengar penuturan dari Senopati Pajang tersebut, mereka tidak menyangka bahwa Tara Rindayu bisa sekejam itu kepada orang yg telah menolong nya.


Tetapi Raka Senggani tidak menyalahkan Tara Rindayu, mungkin ia tidak mampu menolak permintaan dari gurunya itu, dan dalam hal ini tidak ada yg perlu di persalahkan, ucapnya.


" Sebaiknya aku saja yg akan kembali ke Kenanga,." seru Jati Andara.


" Jangan ,.. sebaiknya kakang Andara meminta kepada Ki Demang Kedawung untuk mengirimkan Salah seorang pengawal Kademangan datang ke Kenanga dan menyampaikan pesan ini," ujar Raka Senggani.


" Baiklah kalau begitu,.." kata Jati Andara.


Ia pun meningglakan tempat itu menuju rumah Demang Kedawung.


Hingga matahari terbit barulah, Ki Suganpara itu tersadar,


" Aakh,.. dimana aku ini,..aaa apa kah,.. aku telah mati,..?" tanya nya.


Sambil berusaha membuka matanya, Ki Suganpara melihat dua orang pemuda yg ada disamping nya itu.


" Hehh,.. kalian.. apa yg telah kalian lakukan terhadapku,.." serunya kaget.


Karena yg ada di dekatnya adalah dua orang musuhnya, dan ia pun berusaha mengingat kembali apa yg telah terjadi,.. barulah ia mengerti.


" Bukankah dirimu yg telah membuatku seperti ini,.." teriak nya kepada Raka Senggani.


Senopati Pajang itu memandangi wajah orantua itu, dia kemudian berkata,


" Benar Ki Suganpara, akulah yg telah membuatmu begini, dan saat ini dirimu berada di tanganku," jawab Raka Senggani tegas.


" Tenanglah Ki Suganpara,..jika memang dirimu ingin mati, itu adalah masalah yg sangat mudah, aku tinggal menyuruh penduduk Kedawung ini memberikan hukuman picis, selesailah hidupmu, mati dalam keadaan yg menyedihkan,.. tetapi sebagai seorang prajurit dari Kadipaten Pajang ini, Aku Senopati Brastha Abipraya masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki tingkah lakumu, dan membiarkan mu hidup dengan bebas asalkan dirimu mau berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan mu itu," seru Raka Senggani.


Mendengar hal itu, Ki Suganpara berpikir lagi, ia tidak ingin mati dengan hukuman picis itu lebih baik ia mati bertarung dengan musuh yg ada dihadapan nya, tetapi saat ini, jangankan untuk mampu berdiri, tangannya pun sangat sulit untuk di gerakkan.


" Apakah dirimu bersedia menerima tawaran ku itu, Ki Suganpara,..atau memilih mati sebagai seorang pecundang,..?" tanya Raka Senggani.


Cukup lama tokoh dari Kulon itu diam, dengan wajah yg nampak masih menyimpan dendam kepada sang Senopati.


" Sudahlah Ki Suganpara,..dirimu harus bersyukur karena masih hidup dan jangan terlalu malu untuk mengakui kekalahan mu itu," ucap Raka Senggani.


Ki Suganpara berjanji dalam hati nya jika kelak ia telah sehat dan kuat,.. ia akan menantang lagi Senopati Pajang ini.


" Baiklah, aku akan menerima tawaranmu, asal aku , kau lepaskan," jawabnya.


" Yah, aku , Senopati Brastha Abipraya akan melepaskan mu, tetapi dengan syarat, engkau berjanji tidak akan mengulangi perbuatan mu itu," sahut Raka Senggani.


" Ya,.. aku berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan yg membuat orang lain susah, jika diriku melanggar janjiku itu , diriku bersedia menerima hukuman darimu, Senopati Brastha Abipraya," jawab Ki Suganpara.


Ia merasa bahwa ini adalah kesempatan yg baik untuk dirinya, bahwa suatu saat nanti ia akan membalaskan dendam nya itu kepada sang Senopati.


Hehh, aku pastikan akan membuat perhitungan lagi denganmu Senopati Brastha Abipraya,.tunggulah ,.. setelah diriku sembuh ,.. dendam ku pasti akan kubalaskan, katanya dalam hati.


" Bagus,..jika memang demikian , sebagai pertanda dirimu akan menuruti janji mu itu, senjata mu akan ku tahan, sebagai salah satu syarat nya," ucap Raka Senggani.


Pemuda itu mengambil tongkat berkepala ular itu, dari tangan Ki Suganpara.


" Jangan,. aku tidak rela jika tongkat ku itu Senopati tahan, ia adalah benda yg paling berharga selain diriku,.." kata Ki Suganpara.


Wajah nya cukup memelas meminta senjata nya itu kembali, semacam ada rasa yg tidak rela jika benda itu diambil.

__ADS_1


" Apakah memang tongkat ini terlalu berharga, Ki Suganpara,..?" tanya Raka Senggani.


" Yah,.. memang senjata itu tidak pernah lepas dari tanganku, Senopati,.. ku mohon sekali lagi, kemablikan lah kepadaku,.." pintanya.


" Maaf Ki Suganpara,..ini syarat nya agar dirimu dapat bebas,.. dan jika kelak dirimu memang telah berubah, tongkat ini akan ku kembalikan,.." jelas Raka Senggani.


Karena Raka Senggani tahu ada yg penting dari senjata tongkat milik Ki Suganpara itu. Tentu saja Raka Senggani tidak akan membiarkan nya begitu saja, karena ia tahu kemampuan dari Ki Suganpara itu sangat tinggi, dan jika ia berulah lagi tentu akan sangat sulit menaklukannya lagi.


Walaupun berat hati, akhirnya Ki Suganpara merelakan senjatanya itu diambil oleh Raka Senggani.


Didalam hatinya ia berkata,. memang Anak muda sangat tinggi ilmunya, ia tahu ada hal yg penting di dalam tongkatku itu, karena ajian yg kumiliki ini, inti sarinya ada di dalam tongkat itu.


Tetapi ia tidak dapat membantah , terpaksa ia harus menerimanya walau berat hati.


Sedangkan di rumah Demang Kedawung, Ki Sangakeling pun tengah menghadapi persidangan dari para sesepuh Kademangan itu.


Ki Demang , Ki Jagabaya sebenarnya menginginkan Ki Sangakeling itu di usir saja dari Kademangan itu, tetapi beberapa sesepuh Kademangan tidak setuju, akhir nya, mereka meminta kepada Ki Sangakeling untuk memperbaiki tingkah lakunya, dan jika kelak mereka mengulangi nya lagi, ia akan berhadapan dengan penguasa Pajang, karena saat itu telah ada salah seorang Senopati nya yg berada di tempat itu , yaitu Senopati Brastha Abipraya.


Ki Sangakeling terpaksa harus menuruti permintaan dari warga Kedawung itu, jika ia kelak akan melakukan sesuatu hsl yg menyusahkan Kademangan terpaksa harus berurusan dengan Pajang.


Sesaat menjelang matahari menggatalkan kulit, sidang di rumah Ki Demang itu telah selesai, dan Ki Sangakeling di izinkan kembali pulang ke rumahnya.


Disaat itu pula, dua orang penunggang kuda dari desa Kenanga tiba di tempat itu.


" Apakah kakang Andara dan Kakang Witangsa, selamat Ki Demang,?" tanya Dewi Dwarani.


Rupanya Dewi Dwarani dan Sari Kemuning lah yg datang ke Kedawung itu setelah mendapatkan kabar dari salah seorang pengawal Kademangan yg dikirim untuk mengatakan sesuatu yg telah terjadi di situ.


" Mereka berdua selamat, kangmbok Rani, dan saat ini masih ada di banjar," jawab Savitri.


Ia yg menemani Ki Demang dari malam sampai siang menjelang.


" Baiklah kalau begitu,. kami akan ke banjar Kademangan Kedawung dahulu," ucap Dewi Dwarani.


" Silahkan , Ngger,." jawab Ki Demang.


" Mari kakangmbok,.. Savitri temani," sahut Savitri.


" Mari,.." jawab Dewi Dwarani.


Ketiga gadis itu kemudian melangkahkan kaki nya meninggalkan rumah Ki Demang menuju banjar Kademangan yg jarak nya tidak terlalu jauh.


Sesampai nya disana, kemudian Dewi Dwarani dan Sari Kemuning berpelukan dengan saudara nya itu.


" Dari yg kami dengar kakang berdua terluka, setelah bertarung dengan tokoh persilatan dari kulon," ucap Dewi Dwarani.


" Benar Rani,.. ia dia orang nya yg telah mengalahkan kami," jawab Jati Andara.


Sambil menunjuk ke arah Ki Suganpara yg masih tergeletak lemah tidak berdaya.


" Siapa yg telah mengalahkan nya, ?" tanya Sari Kemuning.


" Adi Senggani,..lah yg telah mengalahkan nya," jawab Japra Witangsa.


" Hehh, dimana kakang Senggani, apakah ia berada disini,?" tanya Sari Kemuning.


" Ya,..ia berada di Kedawung ini, tadi ia ke belakang ,. seperti nya ia ke pakiwan,.. apakah utusan Ki Demang tidak mengatakan bahwa adi Senggani berada disini,..?" tanya Jati Andara.


" Tidak, ..ia tadi mengatakan bahwa kalian berdua telah kalah bertarung dengan seorang yg berilmu tinggi dari Kulon,..itu saja," jawab Sari Kemuning.


" Oleh sebab itulah kami buru -buru datang kemari,.." jawab Sari Kemuning.


" Ooo, " seru kedua orang itu.


Memang tadi sebelum pengawal Kademangan Kedawung itu berangkat , Jati Andara mengatakan jangan memberi tahukan keberadaan dari Raka Senggani. Dan ternyata pengawal itu pun menurutinya sehingga kedua gadis itu tidak mengetahui keberadaan dari Raka Senggani.

__ADS_1


Sari Kemuning yg sangat penasaran segera mencari Raka Senggani, yg Seperti nya sedang membersihkan tubuh nya itu.


Dan sebelum ia sampai ke pakiwan, dirinya berpapasan dengan pemuda itu.


__ADS_2