
Sementara itu di Gunung Merapi terlihatlah, Mpu Loh Brangsang tengah dihadapi para murid -murid nya, dan diantara nya ada juga bekas murid dari Mpu Phedet Pundirangan yaitu Arya Pinarak dari Willis beserta teman -temannya yg lain, ada pula murid dari Mpu Yasa Pasirangan yang bernama Sentanu juga diikuti para murid yg lain.
Mpu Loh Brangsang sengaja mengumpulkan mereka untuk membahas keadaan yg telah terjadi di desa Bedander beberapa waktu yg lalu, yg telah menewaskan dua adik seperguruan nya itu.
" Menurut ku selaku guru dan paman guru kalian semua, kematian dari adi Pundirangan dan adi Yasa Pasirangan itu harus dibalaskan, dan sudah menjadi kewajiban kalian , terutama buat Anakmas Arya Pinarak dari Wilis maupun Angger Sentanu dari Argo wayang selaku murid utama dari kedua adik seperguruan itu yg paling bertanggungjawab atas pembalasan ini,!" jelas Mpu Loh Brangsang itu.
Keadaan hening, tiada yg berani mengeluarkan suara mendengar penuturan orang nomor satu di Gunung Merapi itu.
Mereka masih ingin mendengar kelanjutan dari ucapan sang Guru tersebut.
Setelah agak cukup lama Mpu Loh Brangsang melanjutkan kata-kata nya lagi,
" Akan tetapi usaha ini tentu sangat-sangat lah berat, mengingat Senopati Brastha Abipraya itu merupakan seorang yg pilih tanding dalam hal ilmu silat nya, bahkan tampak nya ilmu jaya kawijayan nya pun mulai muncul, untuk itulah kalian semua aku panggil kemari,!" kata Mpu Loh Brangsang lagi.
Sejenak kemudian ia berkata,
" Adalah kewajibanku untuk menempa kalian agar mampu membalaskan dendam adi Pundirangan dan adi Pasirangan itu , apakah kalian bersedia untuk menjadi mutid di Merapi ini,?" tanyanya kepada murid dari Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan itu.
" Kami bersedia paman guru,!"
Terdengar ucapan yg kompak dari murid -murid Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan tersebut.
" Bagus kalau begitu, mulai saat ini persiapkan lah jiwa dan raga kalian agar dapat menerima pengajaran yg akan kuberikan itu,!" ucap Mpu Loh Brangsang
" Baik Paman Guru, " jawab para murid dari Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan itu.
" Terutama untuk mu Buntala, karena dirimu adalah orang yg telah ikut membantu untuk menewaskan kedua orangtua dari Senopati Brastha Abipraya itu, bersiaplah untuk meningkat kan kemampuan mu, karena tentunya engkau akan menjadi incaran Senopati Pajang itu, kedua Paman Guru mu pun telah dikalahkan, jika tingkat ilmu mu masih seperti ini, mungkin tidak lebih lima puluh jurus dirimu sudah menjadi mayat,!" jelas Mpu Loh Brangsang lagi.
" Ahh, Guru terlalu merendahkanku, belum tentu Senopati Pajang itu mampu menahan aji Lebur Saketiku,!" jawab murid tertua Mpu Loh Brangsang tersebut.
" Jangan sesumbar Buntala, lawanmu kali ini adalah seorang yg memiliki kemampuan yg sangat luar biasa, sedangkan ilmu Lebur My masih sangat awam, kalau hanya mengandalkan itu maka dirimu akan segera dapat dengan mudah dikalahkan nya, jadi untuk kalian semua Aku akan menurunkan sebuah Ilmu yg wajib dipunyai oleh seorang Empu yaitu Aji Lebur Waja, jadi bersiaplah kalian semua, untukmu Arya Pinarak, Sentanu dan Adya Buntala, kalian harus secepat nya mengejar ketertinggalan dari Senopati Pajang, jika sewaktu -waktu terjadi bentrok dengannya kalian tidak akan mudah dikalahkan, !" jelas Mpu Brangsang.
Ketiga orang itu mendengarkan penuturan dari Mpu Brangsang itu dengan baik, terutama Adya Buntala yg langsung disindir oleh guru nya, ia menyangka diri nya sudah sepantaran dengan Senopati Pajang itu.
Ternyata menurut gurunya ia masih sangat jauh dari Senopati Brastha Abipraya itu.
" Satu hal lagi yg perlu kalian camkan, jika kalian telah menerima Aji pamungkas itu kelak , janganlah jadi jumawa, adigang , adigung dan adiguna, " ungkap Mpu Loh Brangsang.
" Kalian sanggup,?" tanya nya lagi.
" Sangguuuup," jawab ketiga orang itu.
" Bagus, mudah -mudahan kalian akan menepati janji kalian itu, aku tidak mau kalian menjadi seorang murid yg tidak mampu untuk menepati janji, dan menjadi seorang murid yg durhaka," jelas Mpu Loh Brangsang lagi.
Cukup lama Mpu Loh Brangsang memberikan wejangan kepada murid -murid nya itu, Tokoh sepuh adik seperguruan dari Mpu Supa Mandrangi sangat terpukul atas tewas nya dua orang adik seperguruan nya itu.Jadi ada aura balas dendam dalam misi nya kali ini, sehingga ia berusaha untuk meningkatkan ilmu dari murid tertua dari kedua adik seperguruan nya itu.
*******
Malam itu di banjar desa Kenanga tengah dihadiri oleh para pemuda desa itu, dan utama nya adalah para pengawal desa Kenanga.
__ADS_1
Karena Raka Senggani sudah pun ada diantara mereka,
" Silahkan angger Senggani, memberikan ucapan atau semacam penjelasan kepada para pengawal dan pemuda desa Kenanga ini, sehubungan dengan rencana angger Senggani yg akan memberikan semacam pelatihan kepada mereka, jadi kami persilahkan kepada angger Senggani,!" ucap Ki Bekel membuka pertemuan itu.
Karena Raka Senggani telah di minta oleh Bekel desa Kenanga untuk memberikan sambutan, akhirnya pemuda itu bangkit dan berdiri dihadapan para pemuda desa Kenanga itu, ia pun menyampaikan niatnya yg ingin membantu para pemuda desa itu agar lebih mampu untuk menjaga keamanan desa nya sendiri,
" Assalamu alaikum, terima kasih aku ucapkan kepada Ki Bekel dan Ki Jagabaya, sesuai keinginan kita semua penduduk desa Kenanga ini, ingin rasa -rasanya tempat tinggal kita ini dalam keadaan aman dan tentram tidak ada gangguan seperti waktu yg lalu, saat para gerombolan rampok dari Gunung Tidar dan Alas Mentaok, jadi aku yg merupakan putra asli desa ini berkeinginan untuk memberikan sedikit pengarahan atau semacam peningkatan kemampuan dari para pengawal desa dan para pemuda yg lain nya dalam hal ilmu silat atau olah kanugaran, agar desa yg kita cintai ini tetap aman dari niat orang -orang yg tidak bertanggungjawab itu, meski mungkin waktuku tidak akan lama disini, tetapi setidaknya waktu yg tidak lama itu akan sangat berguna bagi kalian semua,!" ucap Raka Senggani.
Kata sambutan yg di berikan oleh pemuda itu membuat para hadirin yg berada di tempat itu hening mendengarkan nya.
Ia kemudian melanjutkan lagi,
" Karena Kanjeng Adipati Pajang hanya memberikan waktu satu purnama untuk aku berada disini, memang satu waktu yg sangat singkat tetapi jika bisa memanfaatkan nya pasti akan sangat berguna, dan jika kalian masih akan membutuhkan bimbingan selanjut nya, kalian bisa datang ke Pajang, untuk melanjutkan lagi disana, sampai disini ada yg ingin bertanya,?" tanya Raka Senggani.
Salah seorang pemuda mengacungkan tangannya,
" Kapan kita akan memulai nya dan dalam sepekan berapa kali,?" tanya salah seorang pemuda.
" Kalau masalah itu semua tergantung kepada kalian semua, mulai besok kita bisa memulainya, dan bisa di lakukan tiap malam, namun semuanya tergantung kalian semua,!" jawab Raka Senggani
" Untuk itu kalian bisa berembug dan nanti hasilnya dapat disampaikan oleh Sura Birono selaku pemimpin pengawal desa kenanga ini,!" ucap Bekel desa Kenanga memberikan pengertian kepada pemuda desa Kenanga itu.
Dan para pemuda desa kenanga itu kemudian melakukan perundingan untuk menentukan kapan saat waktu yg tepat berlatih dibawah bimbingan Raka Senggani.
Agak lama para pengawal dan pemuda desa Kenanga itu bermusyawarah untuk menentukan nya, dan setelah diambil keputusan nya maka berdiri lah Sura Birono yg merupakan pemimpin pengawal desa Kenanga itu menyampaikan hasilnya.
" Atas nama para pengawal dan pemuda desa Kenanga ini, kami menentukan bahwa kita melakukan latihan nya dalam sepekan itu adalah empat hari dan dilakukan tiap malam ,!" ucap pemimpin pengawal desa Kenanga itu.
Akhirnya disepakati bahwa Raka Senggani akan memberikan pelatihan kepada para pemuda desa Kenanga itu dilakukan esok malam.
Sedangkan malam itu, para penduduk desa Kenanga dan perangkat desanya mengobrol dengan Raka Senggani, banyak pertanyaan yg diajukan kepada pemuda itu.
" Maaf sebelumnya Ngger, kenapa Kanjeng Adipati Pajang tidak memberikan waktu yg lama agar angger Senggani bisa lebih lama berada disini dan dapat membantu keamanan desa tercinta kita ini,?" tanya Ki Jagabaya itu.
" Alasan dari Kanjeng Adipati tidak memberikan waktu yg lebih lama untukku berada disini adalah akibat kekalahan dari Pangeran Sabrang Lor yg menyerang bangsa asing di Sunda Kelapa dan Melaka, akibat kekalahan itu banyak para prajurit Pajang yg ikut kesana telah gugur termasuk Senopati kebanggaan dari Kadipaten Pajang, dan selaku seorang Senopati yg baru , Senggani di tuntut untuk dapat menjaga Pajang akibat di tinggal para Senopati yg telah gugur itu,!" jelas Raka Senggani.
" Karena angger Senggani telah sangat terkenal di tlatah Demak dan Pajang ini, bukan tidak mungkin akan banyak tokoh -tokoh sakti yg akan datang kemari, baik yg berniat baik ataupun memang ingin melakukan perhitungan dengan angger Senggani, tentu kami akan sangat mengkhawatirkan keadaan desa Kenanga ini, Ngger,!" ucap Bekel Kenanga itu.
" Memang itulah tujuan Senggani untuk memberikan pengarahan dalam ilmu silat kepada para pemuda desa Kenanga ini Ki Bekel, Senggani mengkhawatirkan keadaan seperti yg di ucapkan oleh Ki Bekel itu, jadi kita harus berusaha mandiri dalam menjaga keamanan desa Kenanga ini, meskipun nanti Senggani tidak berada disini, sangat besar harapan ku, kalian bisa melanjutakan nya dengan datang ke Pajang, kalian bisa bergantian untuk datang nya, dan nanti jika ada yg berniat ingin menjadi seorang prajurit, Senggani akan upayakan agar diterima di keraton Pajang ," jelas Raka Senggani.
" Kalian telah dengar sendiri, jika memang kalian berniat untuk jadi seorang prajurit, angger Senggani bersedia untuk kalian dapat di terima sebagai prajurit Kadipaten Pajang, oleh sebab itu , semangat lah berlatih,!" ucap Ki Bekel lagi.
Sampai tengah malam banjar desa Kenanga itu masih terlihat ramai. Baru menjelang pagi mereka kembali ke rumah nya masing-masing kecuali para pengawal desa Kenanga.
Para pengawal desa Kenanga itu langsung nganglang dan menggantikan para pengawal desa yg lain yg tidak sempat turut hadir di banjar desa Kenanga itu.
Raka Senggani pun pulang ke rumah Ki Lamiran, sesampai nya disana ia tetap di sambut oleh orang tua itu,
" Bagaimana pertemuan nya ,Ngger, apakah mereka bersedia untuk belajar Ilmu silat itu,?" tanya Ki Lamiran.
__ADS_1
" Mereka sangat bersedia, sayang waktu Senggani tinggal di Kenanga hanya sebentar, mungkin nantinya mereka dapat datang ke Pajang agar dapat melanjutkan nya pelatihan disana,!" jawab Raka Senggani.
" Ngger, bukankah angger Senggani telah berhasil menemukan pembunuh kedua orang tua, angger Senggani itu, jadi sudah sepantas nya angger memikirkan diri sendiri,!" ucap Ki Lamiran menasehati.
" Maksud aki Lamiran,?" tanya Raka Senggani tidak mengerti.
" Maksud aki, angger Senggani sudah dapat untuk segera berumah tangga, kalau memang angger Senggani telah mantap memilih Putri Ki Jagabaya itu, aki bersedia untuk menjadi pengganti orang tua dari angger Senggani,!" jelas Ki Lamiran.
" Senggani belum daoat memutuskan nya, karena saat ini, keadaan nya masih sangat sulit, kemungkinan untuk ditinggal itu sudah sangat jelas belum lagi musuh-musuhku telah bertambah banyak, jangan-jangan mereka nantinya menjadi korban dari tindakan balas dendam, dari orang yg tidak senang kepada Senggani , Ki,!" jelas Raka Senggani.
" Tetapi kelihatan nya , Sari Kemuning itu sangat berharap kepadamu , apakah angger Senggani telah menjanjikan sesuatu kepada nya, Ngger,!!" kata Ki Lamiran.
" Tidak , Senggani tidak pernah mengatakan sesuatu kepadanya, memang kalau bersama dengan nya ada perasaan yg sangat nyaman berbeda kalau dengan Tara Rindayu,!" jelas Raka Senggani.
" Marilah kita tidur, besok kita lanjutkan lagi, Ngger," kata Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
Kedua orang itu pun langsung merebahkan tubuh nya diatas amben bambu itu.
Esok harinya adalah hari pasaran seperti biasa ,Ki Lamiran bergegas ke pasar membawakan barang dagangan nya dan juga membuat perkakas kebutuhan dari para petani.
Raka Senggani pun ikut dengan nya. Adalah Ki Lamiran yg meledek nya,
" Tidak pantas seorang Senopati Pajang dan Demak melakukan pekerjaan kasar seperti ini, Ngger,!" ucap Ki Lamiran.
" Ahh, itu kan kalau di Pajang atau di Demak, sedangkan di Kenanga ini Senggani adalah seorang pembuat seorang petani dan pembantu seorang pande besi yg terkenal disini, Ki,!" jawab Raka Senggani membalas ledekan itu..
" Benar ucapan mu itu, Ngger, engkau seorang pembantu Empu terkenal yg bernama Lamiran, mungkin terdengar sangat baik jika di depan nama aki ada gelar Mpu, Mpu Lamiran dari Kenanga,ha, ha, ha,!" ucap Ki Lamiran sambil tertawa.
" Benar Ki, sangat cocok nama itu, Mpu Lamiran dari Kenanga, suatu nama yg bagus,!" kelakar Raka Senggani.
Ketika kedua nya lagi terlihat bahagia tiba -tiba saja muncullah seorang gadis cantik yg tiada lain adalah kembang desa Kenanga, Tara Rindayu.
" Kapan kakang Senggani tiba disini,?" tanya putri Juragan Tarya itu .
" Ehh Rindayu, kakang telah dua hari berada disini, bagaimana khabar mu Ndayu,?" tanya Raka Senggani kepada gadis itu.
" Baik, kakang Senggani sendiri, bagaimana khabarnya,?" Tara Rindayu yg balik bertanya.
" Sama, kakang dalam keadaan baik, " jawab Raka Senggani.
" Rindayu memerluksn bicara dengan kakang Senggani , " ucap Tara Rindayu.
" Oh , ya, silahkan Ndayu, ada sesuatu yg ingin ditanyakan,?" tanya Raka Senggani lagi.
" Pergilah Ngger, mungkin den ayu ada yg ingin ditanyakan , " seru Ki Lamiran.
" Baiklah , tidak apa -apa aki Senggani tinggal ,?" tanya Raka Senggani kepada Ki Lamiran.
" Tidak apa -apa Ngger, mungkin sesutu yg penting akan dibicarakan oleh den ayu, bukan begitu, den,?" tanya Ki Lamiran kepada gadis itu.
__ADS_1
Tara Rindayu hanya mengangguk, kemudian Raka Senggani keluar dari tempat itu dan berjalan dengan Tara Rindayu.