
Kedua orang itu meninggalkan desa Kenanga dengan cepat karena memang mereka di tugaskan untuk mengetahui keadaan desa tersebut.
Mereka berdua terus berjalan sehingga mencapai sebuah hutan pada saat malam tengah berada di puncak nya.
Dan kedatangan mereka membuat kaget beberapa orang disana.
" Hehhh,..kukira siapa ,..ternyata kalian,..ada apa, adakah sesuatu yg penting,.. bukankah kalian bertugas di desa Kenanga,,?" tanya seseorang yg berjaga di depan hutan tersebut.
" Kami membutuhkan Ki Lurah,..apakah ia ada di tempatnya,..?" tanya orang yg baru datang tadi.
" Ada,.. Ki Lurah memang berada di tempat,..ada berita pentingkah sehingga kalian harus berbicara dengan nya,..?" tanya orang yg ber jaga itu.
" Benar,..dan berita ini tentu akan membuat kaget,..Ki Lurah,...mari kami harus segera melapor,.." kata orang yg datang itu.
Kemudian kedua nya masuk ke dalam hutan yg cukup lebat itu dengan pepohonan yg rapat lagi tumbuh besar,..jika kedua orang itu tidak mengetahui seluk beluknya niscaya akan tersesat.
Namun keduanya berjalan dengan cepat pada sebuah gubuk kayu yg tidak terlalu besar yg sengaja di buat di dalam hutan tersebut.
Ketika keduanya mendekati gubuk itu terdengarlah suara yg keras dengan lantang bertanya,..
" Ada apa kalian berdua datang kemari,..bukankah tugas kalian berada di desa Kenanga,..?" tanya orang itu.
" Benar Ki Lurah kami berdua memang sedang bertugas di desa Kenanga,.." jawab Salah seorang dari yg baru datang tadi.
" Jadi mengapa kalian datang kemari,.. apakah ada sesuatu yg sangat penting,..?" tanya orang yg ada di dalam gubuk.
" Benar Ki Lurah,..kami akan menyampaikan sesuatu yg penting kepada Ki Lurah,.." jawab orang itu.
" Berita apa itu,.lekas lah kalian naik,.." seru orang yg ada d dalam gubuk itu.
Kedua orang yg baru datang tadi pun naik ke atas gubuk itu.
Setelah duduk berhadapan barulah orang yg berada di dalam gubuk itu bertanya lagi,..
" Berita apa yg kalian bawa itu,..apakah akan menggembirakan atau menyedihkan,.?" tanya orang itu.
" Maaf sebelumnya Ki Lurah,..nampaknya keinginan Ki Lurah itu bakal terkabul,.." jawab orang itu.
" Apa maksudmu ndomo,..?" tanya orang yg di panggil Ki Lurah itu.
" Iya,..Ki Lurah,..karena kami tadi di Kenanga telah melihat musuh Ki Lurah itu disana,.." jelas Orang yg bernama Ndomo.
" Maksudmu Senopati Brastha Abipraya,..?" tanya Ki Lurah lagi.
" Tepat sekali Ki Lurah,..orang itu memang Senopati Brastha Abipraya,.. Senopati Pajang yg telah kami lihat disana tadi,.bukan begitu,..ki Leren,.." ucap Ki Ndomo menjawab pertanyaan Pemimpin nya itu.
" Benarkah hal itu,.Ki Leren,..?" tanya Ki Lurah lagi.
Pertanyaan yg ditujukan kepada seorang yg menjadi anggotanya dan di tugaskan mengamat -amati desa Kenanga itu.
" Benar Ki Lurah,..dan dari berita yg kami dengar ,.. Senopati Brastha Abipraya itu akan kembalj ke Pajang esok hari,..!". jawab Ki Leren.
" Hehh,..apakah kalian tidak salah melihatnya,..bukankah menurut kabar yg telah kita terima,.. Senopati Brastha Abipraya itu tewas di puncak gunung Merapi,..?" tanya Ki Lurah.
" Ahhh,..kami jelas melihatnya di rumah bekel desa Kenanga itu,..bahkan orang -orang yg ada disitu pun terlihat sangat menghormatinya,..mana mungkin kami salah,..bukan begitu Ki Ndomo,.." sahut Ki Leren.
" Mereka memang menyebutkan nya demikian,.dan dari ciri -ciri yg Ki Lurah sampaikan ,..orang itu memang Senopati Pajang yg bernama Brastha Abipraya,..Ki Lurah,.." jelas Ki Ndomo.
Apa mungkin berita itu salah,..dan memang ia masih hidup,..kalau memang demikian sudah saat nya aku menuntut balas atas kematian guru dan kakang Singo Ireng,.. berkata dalam hati orang tersebut.
" Ki Leren,..panggil kemari Ki Bawuk,..cepat,..aku membutuhkannya.,." seru Ki Lurah.
" Baik Ki Lurah ," jawab Ki Leren.
Ia pun berangkat meninggalkan tempat itu guna mencari orang yg bernama Ki Bawuk.
Dan tidak terlalu lama orang itupun telah kembalj dengan seorang temannya.
" Ada apa kakang Lorok memanggilku,..?" tanya Ki Bawuk.
" Ada yg perlu kita kerjakan dalam waktu yg sangat cepat dan bila perlu lakukanlah malam ini,.." ucap Ki Lurah.
Yang ternyata adalah Singo Lorok,..bekas begal dari Gunung Tidar itu.
__ADS_1
Memang ia masih sangat mendendam kepada Raka Senggani karena guru dan kakak seperguruan nya tewas di tangan Senopati Pajang itu.
" Apa yg harus ku lakukan kakang Lorok ,..?" tanya Ki Bawuk heran.
" Segera kau buat jebakan,..untuk mencegat si Senggani ****** itu,..cepat,!" seru Singo Lorok dengan suara bergetar.
" Ahhh,..kakang Lorok tampaknya sedang bercanda,..bukankah Senopati Pajang itu telah tewas di puncak Merapi oleh Mpu Loh Brangsang,.." sahut Ki Bawuk.
" Tidak ,..bocah itu ternyata belum ****** Bawuk,. kabar yg kita terima itu ternyata salah..menurut Ki Leren dan Ki Ndomo ini ia masih hidup dan sekarang ini tengah berada di Kenanga,..mungkin nyawa anak itu rangkap tujuh ,..sehingga ia masih dapat selamat dari tangan Loh Brangsang itu,.. Bawuk,.." jawab Singo Lorok.
Ki Bawuk terdiam mendengar penuturan dari Singo Lorok itu,. karena mereka memang mendengar bahwa Senopati Brastha Abipraya itu telah tewas di tangan Mpu Loh Brangsang penguasa Gunung Merapi itu.
" Kakang,..apa tidak mungkin Ki Leren dan Ki Ndomo ini salah melihatnya,..?" tanya Ki Bawuk.
" Tidak kakang Bawuk,..kami memang melihat nya meskipun kami belum mengenali nya tetapi berdasarkan ciri -ciri dan yg disebutkan oleh penduduk Kenanga ,..memang orang itu adalah Senopati Brastha Abipraya,..!" jawab Ki Ndomo.
" Sudahlah Bawuk,..segera buat jebakan ,..karena kemungkinan nya ia akan lewat dari sini,..jika ia berangkat pagi -pagi sekali tentu sebelum mentari menggatalkan kulit ia sudah tiba disini,..jadi segeralah buat jebakan untuk nya,.. aku tidak mau tahu,..ia harus mati di tangan ku,..karena menurut Buntala murid Loh Brangsang itu,..andai pun ia selamat ia sudah tidak memiliki apa -apa lagi,..jadi kita akan mudah menghabisi nya dan lagi pun diriku telah berhasil menuntaskan Ajian Gelap Wancal milik guruku itu,..aku ,.. Singo Lorok pasti akan mampu menammatkan riwayat Raka Senggani itu,." ucap Singo Lorok dengan berapi -api.
Terlihat wajah nya sangat senang mendengar bahwa musuh yg paling di bencinya itu akan lewat dari tempat dimana ia bersarang .
Sementara itu Ki Bawuk sendiri masih kurang yakin dengan ucapan kedua temannya itu serta ia pun belum terlalu percaya jika Senopati Pajang itu sudah tidak memiliki kemampuan apapun.
Hehh,..tidak semudah itu untuk menghilangkan kemampuan seseorang andai pun itu sekelas Mpu Loh Brangsang,..katanya dalam hati.
Akan tetapi orang Kepercayaan dari bekas begal Gunung Tidar itu tidak mau membantah Pemimpin nya itu.
" Baiklah kakang,..aku akan segera membuat jebakan sesuai dengan permintaan Kakang itu,.." ucapnya.
" Bagus,..kalian boleh kembali ke tempat kalian masing -masing,..dan ingat jika memang orang itu telah dstang segera hubungi aku,.." seru Singo Lorok.
" Baik Ki Lurah,.." jawab Ki Leren dan Ki Ndomo bersama -sama.
Kemudian ketiganya meninggalkan gubuk itu menuju tempat dimana mereka akan membuat jebakan atas Senopati Pajang itu.
Sedang kan di desa Kenanga sendiri malam itu Raka Senggani dan semua teman -temannya masih berada di rumah Ki Bekel.
Bahkan para pemuda dan pengawal desa Kenanga itu tidak jadi berlatih pada malam itu guna untuk sekedar berbincang dan melihat Senopati Pajang tersebut.
Walaupun mereka tidak sedang berlatih tetapi tetap saja Raka Senggani memberi arahan agar mereka tidak bosan -bosannya untuk meningkatkan kemampuan mereka,..terutama saat Demak yg tengah kurang memperhatikan keamanan wilayah nya sehingga banyak terjadi kekacauan di daerah -daerah ditimbulkan oleh orang -orang yg tidak bertanggungjawab .
Mereka yg mendengarkan nya membenarkan ucapan dari Putra Raka jaya itu.
Sampai malam menjelang pagi barulah berangsur-angsur rumah Ki Bekel dan Banjar desa itu sepi.
Tinggallah beberapa orang saja dari sesepuh desa dan para anak muda yg merupakan teman dekat dari Raka Senggani itu.
Senopati Pajang itu menyempatkan pula berbicara kepada keempat orang temannya itu guna mereka semakin tinggi ilmunya.
Raka Senggani mengatakan agar mereka dapat berbagi apa yg telah mereka dapatkan saat ketika mereka bersama dengan Raka Senggani.
Utamanya pesan itu ditujukan kepada Japra Witangsa dan Dewi dwarani.
Ketika akan kembali ke rumah Ki Lamiran,..Raka Senggani masih menyempatkan berbicara empat mata dengan Sari Kemuning.
Dan hal itu di lihat oleh Ki Lamiran,..ia segera meninggalkan kedua sejoli itu.
" Kemuning,.. maafkan kakang karena belum bisa ke rumah mu untuk menyatakan hal ini,..bukan maksud kakang menundanya akan tetapi memang waktu terasa belum berpihak pada kita berdua,.." kata Raka Senggani.
Sambil memegang kedua tangan Putri Ki Jagabaya itu.
" Tidak apa -apa kakang,.. Kemuning mengerti dan maklum dengan keadaan kakang Senggani saat ini,.. walaupun terasa berat,..akan tetapi Kemuning tetap bersabar,. dan semoga yg Maha kuasa tetap memberikan yg terbaik untuk kita berdua,.." jawab Sari Kemuning.
" Satu pinta kakang kepadamu Kemuning,.." kata Raka Senggani lagi.
" Apa itu kakang,..kakang Senggani akan meminta apa dari Kemuning,..?" tanya Putri ki Jagabaya itu heran.
" Kakang meminta dirimu untuk tidak terlalu cepat menjatuhkan tangan meskipun ia itu adalah musuh kita,..seperti yg telah Kemuning lakukan terhadap Rindayu pada waktu itu,.." jelas Raka Senggani.
" Ohhh,..hanya itu kang,..?" tanya Sari Kemuning.
" Iya,..dan tetaplah doakan kakang agar dapat selamat dari medan perang ini agar kita dapat berkumpul lagi,.." ungkap Raka Senggani.
" Ahhh,.. Kemuning kira kakang Senggani akan meminta sesuatu yg lain,.." ucap gadis itu dengan pelan.
__ADS_1
Jika hari itu pada siang hari tentu akan terlihat jelas di wajah gadis itu akan memerah menahan malu.
Betuntung nya saat itu adalah malam hari jadi kejadian tersebut tidak terlalu di perhatikan oleh Raka Senggani.
Kemudian Senopati Pajang itu berpamitan dengan Sari Kemuning,.ia akan beristrahat sejenak walaupun saat itu telah menjelang pagi.
Sari Kemuning kemudian melepaskan pujaan hatinya itu kembali, sedangkan ia pun segera masuk kedalam rumahnya.
Pagi itu,..cuaca cukup cerah setelah kabut tipis beranjak pergi dari desa Kenanga. Dan meninggalkan embun -embun yg membasahi tanaman padi serta rerumputan.
Dan saat dimana para petani telah pergi ke sawahnya guna melihat tanaman padi milik mereka itu.
Raka Senggani yg hanya sebentar saja memicingkan matanya itu pun segera berjalan -jalan di tanah pedesaan dimana ia di lahirkan itu.
Ia mengikuti para petani yg hendak pergi ke sawah ,..tanpa sengaja ia kembali bertemu Sari Kemuning yg juga akan ke sawah.
" Kakang belum jadi berangkat,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.
Yang kemudian mengikutinya berjalan menuju sawahnya itu.
" Kakang akan berangkat setelah matahari menggatalkan kulit,.." jawab Raka Senggani.
" Jadi..kakang akan ikut Kemuning pergi ke sawah,..?" tanya putri Ki Jagabaya itu.
" Yeaahh,..kakang akan ikut bersamamu pergi ke sawah guna menghirup udara segar ini,..ahhhh,..hh" jawab Raka Senggani.
Dan pemuda itupun terus saja mengikuti Sari Kemuning sampai di sawah.
Keduanya menuju sebuah gubuk yg agak berada di tengah tanah persawahan itu. Dengan melintasi pematang sawah yg rerumputan nya masih basah membuat kedua nya harus berhati-hati agar tidak terpeleset jatuh ke lumpur.
Sesampainya di gubuk itu keduanya pun segera duduk sejenak ,..Sari Kemuning kemudian melepaskan barang bawaan nya diatas gubuk itu.
" Kang,.. sebelum berangkat sebaiknya singgah di rumah Kemuning,..agar nanti Kemuning dapat memberikan bekal kakang Senggani,.." kata Gadis itu.
" Apakah Kemuning tidak akan berada lama disini ,..?" tanya Raka Senggani.
" Tidak kang,..karena tugas Kemuning hanya mengantar barang-barang ini serta mengusir burung -burung yg datang pada pagi ini,..nanti setelahnya Kakang Witangsa lah yg akan mengantikan Kemuning,.." jelas putri Ki Jagabaya itu.
" Kemuning ..ada yg ingin kakang tanyakan kepadamu,.." ucap Raka Senggani dengan serius.
" Tentang apa kakang Senggani,..?" tanya Sari Kemuning penasaran.
" Benarkah dirimu telah bertarung dengan Tara Rindayu,..?" tanya Raka Senggani
" Benar kang,... Kemuning tidak terima atas apa yg telah dilakukan Rindayu itu terhadapmu,.. jadi ia Kemuning tantang untuk berkelahi,.." sahut Sari Kemuning.
" Dan ia kalah,.. Kemuning,..?" tanya Putra Raka jaya itu.
" Beruntung kang,..ia tidak melawan,..kalau tidak entah apa jadinya,..dan setelah Kemuning pikir lagi,..sungguh kasihan nasib dari teman kita itu,..kang,..jika pada waktu itu ia sampai celaka,..akan menyesal seumur hidup Kemuning mu ini,.kang,.." jelas Putri Ki Jagabaya itu.
" Yah,..mulai saat ini ,..berpikirlah terlebih dahulu sebelum bertindak agar kita tidak akan menyesal di kemudian hari,..Kakang pun tidak dapat menyalahkan dirimu,.jika memang itu terjadi tentu kita berdua yg akan menyesal,..mungkin pada saat itu ia berada di bawah tekanan dari gurunya itu sehingga harus berbuat demikian terhadapku,.." kata Raka Senggani.
Ketika segerombolan burung -burung datang ke petak sawah milik dari Sari Kemuning itu.
Putri Ki Jagabaya itu kemudian mengusirnya.
" Kakang Senggani telah tahu bahwa Tara Rindayu sekeluarga telah pindah,..?" tanya Sari Kemuning.
Senopati Pajang itu menganggukkan kepalanya.
" Kemana mereka pindah ,..Kemuning,. ?" tanya Raka Senggani lagi.
" Tidak ada yg tahu kemana mereka pindahnya ,.Kang,..karena mereka meninggalkan desa ini pada waktu malam,.. walaupun ada dua orang perondan yg melihat mereka tetapi mereka tidak memberitahukan kemana perginya mereka itu..Kang ,." jawab Sari Kemuning.
Setelah mentari kian memancarkan cahaya nya dan menghapus embun -embun yg ada di ujung -ujung daun padi serta rerumputan , kemudian datanglah Japra Witangsa ke tempat itu.
Ia kemudian menggantikan tugas dari Sari Kemuning.
" Adi Senggani kapan akan berangkat ke Pajang nya,..?" tanya putra Ki Jagabaya itu.
" Nanti kang...setelah matahari menggatalkan kulit.." jawab Raka Senggani.
" Sampaikan salam kami kepada Paman Tumenggung Wangsa Rana,..ya adi,.." kata Japra Witangsa lagi.
__ADS_1
" Ya,..nanti salam kalian akan Senggani sampaikan kepada Paman Tumenggung,..mari kang,.". ucap Raka Senggani.
Ia dan Sari Kemuning kemudian meninggalkan tempat itu.