
Sementara itu, Raka Senggani dan istrinya Sari Kemuning telah berada di sebuah tambatan perahu, dimana di tempat itu mereka bertemu dengan Ki Lintang Panjer Suruf dan Japra Witangsa.
Mereka berempat segera menggerakkan perahunya untuk mengarungi lautan luas guna kembali ke demak.
Belum terlalu jauh dari daratan, Ki Lintang Panjer Suruf melihat ada sebuah kapal yg menuju ke arah mereka.
Dari tanda -tanda yg mereka gunakan, jelas itu adalah kapal Prajurit asing yg akan menganglang menjaga wilayah perairan Kota Melaka.
" Jangan jangan mereka mengejar kita ,..!" seru Ki Lintang Panjer Suruf.
" Mungkin juga Ki Lurah,.." sahut Senopati Bima Sakti.
Yang menengok arah belakang, di kejauhan ada sebuah kapal yg lumayan besar tengah mengarah ke perahu mereka.
Kapal itu berlayar cukup kencang di sebabkan layar nya pun sangat besar.
Akhirnya jarak yg jauh itu semakin terpangkas di karenakan perahu yg mereka tumpangi jenis perahu nelayan yg memeiliki jenis layar yg sangat kecil.
" Apa yg harus kita lakukan ,..adi Senggani,..?" tanya Japra Witangsa.
Putra Ki Jagabaya ini terlihat memegang kemudi yg telah diserahkan oleh Ki Lintang Panjer Suruf kepadanya.
" Tetap arahkan perahu ke Sunda Kelapa,..biar Senggani dan Kemuning yg akan menghadapi mereka,.." jawab Raka Senggani.
Senopati Sandi Yuda Demak ini kemudian memrintahkan kepada Ki Lintang Panjer Suruf untuk mengganti layar yg lebih besar dan lebih kuat.
Walaupun ingin bertanya,.namun Ki Lintang Panjer Suruf melaksanakan permintaan dari senopati Sandi Yuda Demak itu.
Ia kemudian memasangkan layar yg lebih besar,. walaupun saat itu angin hanya bertiup sepoi sepoi saja.
Sehingga layar itu nampaknya tidak terlalu bermanfaat untuk menambah laju nya perahu.
Berbeda dengan kapal prajurit asing itu , selain layar nya besar dan tinggi di tambah lagi dengan adanya tiga layar , membuat kapal itu semakin mendekati perahu yg di tumpangi para prajurit Demak tersebut.
Dalam jarak yg sudah sangat dekat,..terdengarlah teriakan dari salah seorang Pemimpin pasukan asing itu yg berseru,..
" Hehhh,..kalian semua ,.berhentilah,...kalau tidak kami akan menmbakkan meriam ke perahu kalian,.." seru orang yg.
Raka Senggani dan Sarj Kemuning tidak menjawab,..malah sang senopati berbisik kepada Sari Kemuning.
" Kemuning , persiapkan aji Wajra geni mu,..jika mereka menyerang menggunakan meriam ,.hantamkan lah aji Wajra geni itu ke arah peluru meriam tersebut, jangan meleset,.." kata Raka Senggani.
" Baik kakang,.." sahut Sari Kemuning.
Sang senopati pun bertanya apakah Ki Lintang Panjer Suruf telah siap dengan layarnya.
Oleh ki Lintang Panjer Suruf di jawab dengan acungan jari jempolnya.
" Baiklah kalau begitu ,..dalam hitungan ketiga kalian harus bersiap pada tempat dan tugasnya masing masing,.." kata Raka Senggani lagi.
Tatkala Pemimpin pasukan asing itu kembali memberi peringatan untuk mereka agar berhenti,..oleh Raka Senggani di jawab dengan hitungan.
" Satu,."
" Dua ,.."
" Tiga,.."
Begitu habis hitungan ketiga maka Senopati Bima Sakti segera mrngibaskan kebutan yg di berikan oleh Ki Klamprah dari alas Siroban.
Sekali hempasan dari kebutan itu, angin segera berhembus dengan kencang nya, langsung menyentakkan perahu itu dengan kencangnya.
Perahu itu bergerak dengan cepatnya,.. meninggalkan kapal perang asing itu.
Dan setelah melesatnya perahu nelayan itu dengan sangat cepatnya, maka pemimpin pasukan asing tersebut memrintahkan prajurit nya untuk menembakkan meriam ke arah perahu tersebut.
" Tembaaaak,.."
" Dhumbhh,..."
" Bletaaaaarrrr,.."
Maka moncong meriam yg berada di atas kapal tersebut memuntahkan pelurunya kearah perahu nelayan yg di tumpangi oleh orang -orang Demak itu.
Melihat adanya serangan dari kepal tersebut, sesuai yg diperintahkan oleh Raka Senggani ,..Sari Kemuning pun melepaskan ajian nya untuk menahan serangan itu.
Peluru muntahan dari meriam itu hancur sebelum mendekati perahu mereka.
Dan ketika untuk kedua kalinya meriam tersebut memuntahkan pelurunya, perahu nelayan itu telah berada jauh dari kapal tersebut.
__ADS_1
Peluru itu jatuh di tengah laut., mereka memang masih berusaha untuk mengejar tetapi dasar alam tidak mendukung,.angin hanya berhembus sepoi sepoi,..laju kapal itu tidak terlalu cepat lagi, Sedangkan perahu itu terus menerus mendapatkan dorongan angin yg kencang dari kebutan yg di kibaskan oleh Raka Senggani.
Laksana tidak menjejak di air lagi perahu nelayan yg tidak terlalu besar itu semakin jauh. meninggalkan kapal yg menguntitinya.
Sari Kemuning yg sudah tidak melihat lagi kapal Prajurit asing itu ada di belakang mereka segera mengatakan kepada suaminya untuk memperlambat jalan perahu tersebut.
" Kang ,.. tampaknya mereka sudah tidak mengejar kita lagi,..sebaiknya kita tidak usah terlalu memacu perahu ini,.." ucapnya kepada Raka Senggani.
" Benarkah hal itu Kemuning,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar Kang,.. mereka sudah tidak terlihat lagi,.." jawab Sari Kemuning.
Maka Raka Senggani pun tidak lagi mengibas-ngibaskan kebutan nya. Dan bersamaan itu pula, Ki Lintang Panjer Suruf menurunkan layar yg besar itu, dan menggantikan nya dengan layar yg lebih kecil.
Jalan perahu tersebut nampak melambat, tidak seperti saat di dorong tadi dengan menggunakan salah satu senjata sang Senopati.
Mereka kemudian berkumpul, setelah dapat keluar dari keadaan yg cukup menegangkan tadi.
" Aku tidak menyangka , Senopati Bima Sakti mampu menggerakkan perahu secepat itu,.." ucap Ki Lintang Panjer Suruf.
" Ahh, biasa saja Ki Lurah,.." sahut Raka Senggani.
" Yeah,..sewaktu berangkat ,.. Senopati Bima Sakti yg mendayung perahu ini sehingga melaju dengan kencang nya dan kali ini,..dengan sebuah senjata yg cukup aneh dapat membuat perahu ini laksana terbang,..kapal milik orang orang asing itu yg memiliki tiga tiang layar saja tidak mampu mengejar kita,. sungguh suatu kelebihan yg sangat luar biasa , yg telah Senopati tunjukkan,.." ungkap Ki Lintang Panjer Suruf.
Karena keadaan sudah cukup aman,.maka mereka pun berbincang bincang di atas perahu yg melaju seperti biasa,..sambil menikamati makanan yg telah terjadi berikan oleh saudagar Hang Adin , ia berkenan untuk memberikan bekal untuk mereka.
Dalam pada itu, Raka Senggani menceritakan kepada keiganya bahwa senjata nya itu adalah pemberian dari penguasa alas Siroban, dan di berikan nya setelah bertarung dengannya tatkala dirinya dan Raden Abdullah Wangsadan baru kembali dari kesultanan kacirebonan.
Ki Klamprah , penguasa alas Siroban berkenan memberikan senjata tersebut setelah mengakui keunggulan dari Senopati Bima Sakti,
Demikian lah kata sang Senopati ketika menceritakan mengenai senjatanya tersebut.
Dan yg mendengar pun nampak terkagum kagum terlebih istrinya sendiri Sari Kemuning.
Hampir dua hari dua malam mereka berlayar,.. akhir nya mereka mendekati perairan Sunda Kelapa.
Namun atas permintaan dari Senopati Bima Sakti,..ia meminta kepada Ki Lintang Panjer Suruf untuk singgah di Wahanten saja .
" Mengapa demikian , Senopati,..?" tanya Ki Lintang Panjer Suruf.
Di jelaskan oleh Senopati Bima Sakti, ada keinginan nya untuk melihat wilayah tersebut,..yg menjadi pusat kekuatan pasukan dari kacirebonan yg di pimpin oleh putra Sunan Gunung Jati yg bernama Raden Maulana Hasanuddin.
Dan yg kedua , ia ingin bertemu dengan Ki Suganpara ,..yg menurut dari yg telah ia dengar, orang tersebut telah menjadi pengikut dari Raden Maulana Hasanuddin itu.
" Baiklah kalau begitu,..!" sahut Ki Lintang Panjer Suruf.
Maka perahu itu pun di arahkan ke Wahanten sesuai dengan permintaan dari sang senopati.
Mereka berhasil mendarat di wilayah paling kulon dari pulau Jawadwipa itu pada saat sore menjelang malam.
Perahu mereka tambatkan begitu saja di bibir pantai ,..yg masih sangat jarang penduduk nya.
Sebenar nya wilayah tersebut belum sepenuhnya di bawah kekuasaan dari Raden Maulana Hasanuddin ,..ada seorang lagi yg memiliki kekuasaan atas tanah itu dan bergelar pucuk umun.
Namun sebagai penguasa atas Wahanten,..Pucuk umun ini masih belum beragama islam. Ia masih menjadi pengikut yg setia dari Kerajaan Pajajaran, yg juga belum menerima sepenuhnya islam sebagai landasan hidup nya.
Oleh sebab itulah Sunan Gunung Jati memrintahkan seorang putra nya untuk berdakwah disana dan berusaha untuk menanamkan islam sebagai peganagan hidup mereka.
Dan hasilnya sangat baik,..Raden Maulana Hasanuddin mendaptakan tempat tersendiri di hati rakyat Wahanten, dan perlahan -lahan menggeser kekuasaan dari Pucuk umun yg telah lama memerintah di situ.
Akibatnya sang penguasa merasa geram dengan hasil yg telah di capai Raden Maulana Hasanuddin hingga menantang nya untuk menyabung ayam.
Siapa yg kalah dia harus patuh terhadap si pemenang nya dan harus menuruti semua permintaan dari sang pemenang.
Dan akhirnya ,..kemenangan berada di tangan Raden Maulana Hasanuddin.
Putra dari Sunan Gunung Jati , hanya mengajukan satu permintaan nya , yaitu ia tetap bebas untuk menyiarkan agama islam di Wahanten tanpa adanya tekanan dari Pucuk umun yg sebagai penguasa.
Jadi saat pertama kali mendarat di wahanten, sebenar nya rombongan dari Demak ini berada di wilayah kekuasaan dari pucuk umun.
Dan pada saat mereka berempat akan masuk lebih jauh lagi ke dalam wilayah itu.
Keempatnya kemudian di hadang oleh beberapa orang yg berseragam hitam hitam ,seperti seorang prajurit.
" Berhenti kalian,.."
Seru salah seorang yg bersenjatakan sebatang tombak.
Ia menghadang kan senjatanya untuk menghambat masuk keempat orang tersebut.
__ADS_1
Melihat hal ini, Japra Witangsa akan maju menghadapi mereka namun di larang oleh Raka Senggani dengan cepat menggunakan tangannya.
" Sabar kakang Witangsa , biar Senggani yg akan mengahadapi mereka ," ucap Senopati Bima Sakti ini.
Ia pun melangkah maju menghadapi orang yg telah menghadang mereka itu.
Dengan sopan ia berkata,..
" Maaf sebelumnya kisanak semua ,. izinkan lah kami lewat,..dari sini,. karena kami ingin bertemu dengan penguasa wilayah ini,.." kata Senopati Bima Sakti pelan.
" Baik, kalau begitu,..kalian ikut kami,.." kata orang yg bersenjatakan sebuah tombak itu.
Orang orang yg berpakaian serba hitam itu kemudian melangkah lebih dahulu
dan mengajak rombongan dari Demak itu untuk mengikuti mereka dari belakang.
Raka Senggani, Sari Kemuning, Japra Witangsa dan Ki Lintang Panjer Suruf pun mengikuti mereka.
Dan ternyata orang yg berpakaian hitam hitam tersebut membawakan mereka untuk menghadap Pucuk umun bukannya Raden Maulana Hasanuddin.
Alangkah terkejutnya keempat orang dari Demak itu begitu tiba di tempat dari penguasa Wahanten ini.
Karena tidak sesuai dengan yg mereka rencanakan semula.
" Hehh,..prajurit ,..siapa mereka ini,?" tanya Pucuk umun heran.
Setelah melihat ada empat orang asing yg telah berada di istananya.
" Mereka ingin bertemu dengan Gusti ," jawab orang yg bersenjatakan sebuah tombak itu.
" Ada perlu apa kisanak ini datang kemari,..?" tsnya Pucuk umun.
Pertanyaan itu diajukan nya kepada Raka Senggani yg menjadi pemimpin rombongan.
" Maaf sebelumnya ,.Kisanak,..kami berempat ini berasal dari jauh dan ingin bertemu dengan saudara Hasanuddin,.." jawab Raka Senggani menjawab pertanyaan tadi.
Pucuk Umun yg menjadi Penguasa di daerah Wahanten ini pun menjadi geram setelah mendengar penjelasan dari tamunya itu.
" Ada perlu apa kalian bertemu dengan orang yg bernama Raden Maulana Hasanuddin itu, apakah kalian ini adalah teman temannya,..?" tanya Pucuk Umun lagi.
Dari nada pertanyaan nya memgandung ketidak senangan nya.
" Benar kami adalah temannya, tepatnya ,..ingin menjadi muridnya dalam masalah agama,.." jawab Raka Senggani tegas.
Pucuk Umun memandangi keempat orang itu bergantian. Dari cara pandangan nya ia ingin mengetahui siapa mereka itu sebenar nya.
Setelah cukup lama barulah ia berkata.
" Karena kalian semua telah menjadi tamuku disini ,..jadi untuk sementara , kalian tinggallah disini,.. nanti akan kami antarkan menemui orang kalian csri itu,..!" seru Pucuk Umun kepada keempat orang tersebut.
Dan Empat orang dari Demak ini saling berpandangan,.. memang saat itu malam telah menjelang.Namun sebenar nya mereka akan langsung saja menemui putra dari Kanjeng Sunan Gunung Jati tidak singgah di istana Pucuk Umun itu.
Namun Karena mereka telah di tawari untuk menginap disana mau tidak mau , Raka Senggani yg menjadi pemimpin rombongan bertanya kepada Ki Lintang Panjer Suruf.
" Bagaimana Ki Lurah ,..apakah kita akan menerima tawaran ini,..?" tanyanya pada Ki Lintang Panjer Suruf.
" Sebaiknya memang demikian ,..Senopati,..agar mereka tidak merasa di rendahkan akibat dari penolakan kita,.." jelas Ki Lintang Panjer Suruf.
Dan setelah mendengar penjelasan itu ,.Raka Senggani pun berkata kepada Pucuk Umun.
" Baiklah,..kami menerima tawaran Kisanak ,..untuk tinggal disini , dan pada esok hari kami baru melanjutkan untuk menemui Raden Maulana Hasanuddin,.." ungkap Raka Senggani.
" Bagus,..kami dengan senang hati akan menerima kalian disini,.." ucap Pucuk Umun.
Dari perkataan nya itu ada sesuatu yg terksndung di dalam nya,..namun bagi sang Senopati Demak ini, tifak terlalu mempermasalhaknnya.
" Prajurit ,.bawa mereka ke bilik yg telah disediakan, dan selanjutnya beri mereka jamuan sebagai mana mestinya menyambut seorang tamu,.."
Terdengsr perintah dari Pucuk Umun, kepada salah seorang prajuritnya.
Dan orang yg di perintah tadi langsung mempersilahkan bagi keempat orang tersebut untuk mengikuti nya.
" Marii,..!" ucap nya dengan pelan menyilahkan.
Raka Senggani , Sari Kemuning ,.. Japra Witangsa dan Ki Lintang Panjer Suruf mengikuti prajurit itu dari belakang.
Mereka di bawa menuju sebuah bangunan yg cukup besar yg berada di tengah tengah dsri tempat itu.
Di kanan dan kirinya banyak bangunan yg lebih kecil yg mengelilingi tempat tersebut.
__ADS_1
Seanjutnya ,.. mereka di bawa masuk ke dalam bangunan itu setelah melewati seorang penjaga.