Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 27 Wong Agung. bag ketiga.


__ADS_3

Sejak malam itu, Raka Senggani kemudian lebih berhati-hati selama berada di kotaraja Demak ini.


Ia masih menyempatkan mengunjungi beberapa kerabat nya termasuk dengan anak dari si Mbok Rondo yg berada di sebuah tempat sebelah agak ke timur kotaraja Demak.


Senopati Bima Sakti ini memang nampaknya berusaha untuk tidak terlalu memikirkan dengan keadaan Kotaraja Demak yg tengah bersiap melakukan perayaan pernikahan dari Raden Fatahillah dengan salah seorang saudari Sultan Trenggana.


Diantara keramaian Kotaraja Demak , pada suatu hari dirinya tanpa sengaja bertemu dengan putra Sultan Trenggana , Raden Mukmin.


" Aha, ternyata kakang Senopati berada disini,..apa khabarmu,..!" serunya sambil memeluknya.


Tampak nya pangeran Prawata ini senang sekali bertemu dengan Raka Senggani dan membuat Senopati Bima Sakti menjadi rikuh di buatnya, karena menurut nya, usaha yg melatar belakangi pembunuhan terhadap pangeran Abdullah Wangsa adalah orang ini.


" Baik , Raden,..bagaimana dengan Raden sendiri,..?" tanya Raka Senggani.


Putra Sulung dari Kanjeng Sultan Trenggana ini mengabarkan bahwa dirinya dalam keadaan baik pula. Ia memang berniat untuk bertemu dengan Raka Senggani hingga akan datang ke rumah Tumenggung Bahu Reksa. Mendengar pernyataan dari Raden Mukmin ini , Raka Senggani agak heran.


Apa perlunya menemuiku, bertanya dalam hati nya.


" Adakah sesuatu yang penting sehingga, Raden ingin menemuiku,..?" tanya nya langsung.


Raden Mukmin kemudian mengatakan bahwa dirinya hendak menyampaikan pesan dari Raden Fatahillah untuk mengundang nya datang pada saat pesta pernikahan nya di Kotaraja Demak ini.


" Kapan waktunya,.. Raden,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Kurang dari sepekan,..!" jawab Raden Mukmin.


" Apakah Raden Fatahillah telah berada di Kotaraja Demak ini,..?"


Kembali Raka Senggani mengajukan pertanyaan kepada Raden Mukmin.Dan oleh putra Mahkota kerajaan Demak ini dijawab sudah dan kini tengah berada di bangsal kasatriaan tempat yang biasa di sambangi oleh Raka Senggani di masa pemerintahan Kanjeng Sultan Demak kedua, pangeran Sabrang Lor.


" Baiklah, jika memang Allah mengizinkan, diriku akan hadir pada pesta pernikahan raden Fatahillah itu,..!" jelas Raka Senggani.


Raden Mukmin yg mendengar ucapan dari Senopati Bima Sakti ini merasa bahwa ada kemungkinan nya ia tidak akan menghadiri pesta pernikahan tersebut.


" Paman Fatahillah sangat berharap atas kehadiran Kakang Senopati, ia mengatakan kekaguman nya atas sikap dan sifat Kakang Senopati sehingga ia memerlukan berbicara dengan mu,..!" ungkap Raden Mukmin lagi.


Raka Senggani yg berusaha tak tampak akan kecurigaan nya terhadap Raden Mukmin ini, ia memang berusaha menolak secara halus undangan itu dengan mengatakan bahwa saat ini ia dan istrinya tengah menantikan kehadiran anak pertamanya.Sehingga ia tidak dapat memastikan akan hadir di pesta pernikahan tersebut.


"Jadi kakang Senopati akan segera menjadi seorang ayah,..?" tanya Raden Mukmin.


" Demikian lah , Raden , jika memang tidak ada aral melintang mungkin dalam waktu dekat ini, istriku akan segera melahirkan,..!" jelas Raka Senggani lagi.


" Kakang Senopati,..saat ini kakang kan masih berada di sini,..mungkin Kakang dapat menemui Paman Fatahillah, ia memang berharap sekali untuk dapat bertemu dengan mu,..!" ucap Raden Mukmin lagi.


" Jika memang demikian baiklah,..nanti malam aku akan ke Kasatriaan,..Raden ,.!" jawab Raka Senggani.


Ia memang tidak dapat menolak keinginan dari putra Sultan Trenggana ini. Sehingga ia memutuskan menerima tawaran itu.


Setelah memberikan jawaban atas permintaan Raden Mukmin maka Raka Senggani pun meminta diri untuk kembali ke rumah Tumenggung Bahu Reksa.


Sedangkan Raden Mukmin sendiri pun langsung meninggalkan tempat itu kembali ke istana.


Setibanya di rumah Tumenggung Bahu Reksa, pemimpin pasukan sandi Demak ini terlihat sedang mengaso di pendopo rumahnya setelah ia kembali dari istana menghadiri sidang kerajaan Demak.


Melihat anak angkat nya tiba kembali ia langsung menyapa nya dan menanyakan darimana saja .


" Paman Tumenggung ,..Senggani baru saja berjalan jalan dan tanpa sengaja telah bertemu dengan Raden Mukmin,..!" jelas Raka Senggani.


" Jadi Angger Senggani telah bertemu dengan Raden Prawata,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


" Benar, Paman Tumenggung,..!" jawab Raka Senggani.


" Apa yang di katakannya, kepadamu ngger,.?" tanya Tumenggung Bahu Reksa.


Raka Senggani kemudian menjelaskan pertemuan nya dengan Raden Mukmin ini , bahwa dirinya mendapatkan undangan atas pernikahan raden Fatahillah dengan adik dari Sultan Trenggana itu, masih menurut dari Raden Mukmin ini semua atas permintaan dari Raden Fatahillah sendiri.


Pada akhir penjelasan nya,.Raka Senggani mengatakan bahwa malam ini ia akan menemui Raden Fatahillah di bangsal kasatriaan.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan dari anak angkatnya ini, Tumenggung Bahu Reksa berujar,..


" Berhati hatilah, Ngger,.di istana Demak saat ini banyak sekali serigala berbulu domba,..banyak orang yang menginginkan dirimu untuk di lenyapkan ,..!" tegasnya.


" Apakah termasuk dengan Raden Mukmin , Paman,..!??" tanya Raka Senggani kemudian.


Sambil menggelengkan kepalanya Tumenggung Bahu Reksa berkata lagi,.


" Tidak,.. Putra Mahkota tampaknya masih menghormati dirimu yg dianggap nya telah menjadi salah seorang teman baiknya ketika dirimu berada di bangsal kasatriaan pada waktu itu,.akan tetapi beberapa orang yang cukup berpengaruh yg menginginkan dirimu,..Ngger,.!" terang Tumenggung Bahu Reksa.


" Senggani akan berhati hati ,..Paman Tumenggung,..semoga yg Maha kuasa akan melindungi diriku,..!" sahut Raka Senggani.


" Mudah mudahan ,..Ngger,..!" jawab Tumenggung Bahu Reksa.


Waktu memang terlalu cepat berlalu, saat malam telah menyelimuti Kotaraja Demak , sesosok tubuh dengan cepat melesat menuju ke istana kerajaan Demak.


Bayangan itu sebentar saja telah mendekati istana kerajaan Demak.Sejenak tubuh itu berhenti di dekat pintu gerbang.


Apakah aku akan masuk lewat pintu gerbang tersebut, atau memilih masuk dari belakang saja, berkata dalam hati orang tersebut.


Ia adalah Raka Senggani , yg datang ke istana kerajaan Demak guna memenuhi permintaan dari Raden Fatahillah.


Akhirnya ia memutuskan untuk lewat dari gerbang utama tersebut.


Meski malam baru saja turun, kedua prajurit penjaga gerbang yg melihat seseorang mendekati mereka segera menghadang nya dengan kedua tombak menyilang menghalangi langkah Raka Senggani.


" Mau kemana kisanak ini,..?" tanya salah seorang prajurit jaga itu.


" Aku ingin bertemu dengan Raden Mukmin,..!" jawab Raka Senggani.


" Tunggu disini,..kami akan melapor ke dalam ,..!" jelas prajurit jaga itu.


Mereka berdua memang tidak mengenal dengan Senopati Bima Sakti ini karena keduanya merupakan prajurit baru dan masih berusia sangat muda.


Salah seorang dari mereka langsung masuk ke dalam segera melaporkan kedatangan dari Raka Senggani ini.


Setelah melihat orang tersebut adalah salah seorang yg cukup di kenal nya, ia pun segera mempersilahkan nya masuk.


" Ternyata Senopati Brastha Abipraya dari Pajang, ada apa malam malam begini datang ke istana,..?" tanya pemimpin prajurit jaga tersebut.


" Diriku mendapatkan undangan dari Raden Mukmin untuk menemuinya,.." jelas Raka Senggani.


" Oo,..silahkan, silahkan,..!" ucap Ki Rangga Kuncara .


Ia membawa Raka Senggani menuju bangsal kasatriaan tempat dimana para putra Sultan dan kerabatnya berada di tempat itu.


Meski sesungguhnya Raden Prawata atau Raden Mukmin telah menempati rumah sendiri karena dia pun telah menjkah , akan tetapi pemimpin prajurit jaga ini tetap saja membawa Raka Senggani ke bangsal kasatriaan.


Dan Rangga Kuncara ini dahulunya adalah prajurit jaga bangsal kasatriaan dan acapkali bertemu dengan Raka Senggani kala ia datang menginap disana bersama tiga orang Pangeran putra dari Pangeran Sabrang Lor, Sultan Demak kedua itu.


Sesaat , Rangga Kuncara berbicara dengan para prajurit jaga bangsal kasatriaan dan kemudian menyilahkan keduanya untuk masuk, datanglah seorang prajurit yang bertugas di dalam bangsal kasatriaan itu menanyakan keperluan dari Rangga Kuncara.


" Ada apa Ki Rangga malam -malam begini masuk ke Kasatriaan,..?" tanya prajurit itu.


" Diriku membawakan seorang tamu yang akan bertemu dengan Raden Prawata.." jelas Rangga Kuncara.


" Oo,..Gusti Raden Prawata memang tengah menunggu seseorang katanya sehingga ia belum kembali ke tempatnya,.mari kuantarkan kesana,..!" ucap Prajurit jaga itu.


Keduanya kemudian mengikuti prajurit tersebut yg berjalan terlebih dahulu menuju sebuah bilik .


Dan bilik itu dahulunya adalah milik dari Pangeran Arya Wangsa, putra Pangeran Sabrang Lor, Raka Senggani terbiasa mendatangi bilik ini.


Setibanya di sana , kedua orang tersebut langsung disambut oleh Raden Prawata dengan ramah.


" Mari,..mari,..kakang Senopati,..paman Fatahillah sedang berada di dalam,..!" ucap nya.


Setelah ia melihat kedatangan dari Rangga Kuncara yg datang membawakan Raka Senggani ke tempat itu.

__ADS_1


Selanjutnya Rangga Kuncara pun pamit untuk dapat kembali ke tempat tugasnya di gerbang utama .


Tidak terlalu lama, keluarlah Raden Fatahillah dari dalam bilik tersebut dan langsung duduk di dekat kedua orang tersebut.


" Assalamualaikum ..Raden,..!" ucap Raka Senggani.


" Wa ' alaaikumsalaam,..Raden,..!" jawab Raden Fatahillah.


Adalah Raden Prawata lah yg agak heran dengan ucapan dari calon paman nya ini, karena setahu dirinya Raka Senggani adalah seorang yang datang dari kalangan rakyat biasa mengapa ia menyebutnya dengan menggunakan gelar Raden pula .


Aneh ,..pikirnya dalam hati.


Kemudian kedua orang ini saling bertanya mengenai keadaan masing-masing,. baru setelah nya Raden Fatahillah mengutarakan niatnya mengundang datang Senopati Brastha Abipraya ini ke pesta pernikahan nya.


" Begini Raden Hidayat,..adapun diriku mengundangmu datang kemari adalah , adanya keinginanku untuk menaklukan Sunda Kelapa,.. sekaligus diriku berkeinginan untuk mengajak mu turut serta dalam pasukan kali ini,.!" terang Raden Fatahillah.


Kedua orang yg mendengar ucapan Pangeran dari Pasai ini cukup terkejut, setelah beberapa kali Kerajaan Demak tidak mampu mengalahkan lawan yg merupakan satu pasukan kuat dari negeri jauh tersebut.


" Apakah tidak salah apa yang telah Pamanda katakan ini,..?" tanya Raden Prawata kaget.


" Tidak anakmas pangeran,..memang Paman berkeinginan untuk menundukkan Sunda kelapa agar berada di bawah kekuasaan kerajaan Demak ini, karena memang saat ini, kota pelabuhan itu amat sangat ramai sangat baik dan cukup strategis di gunakan sebagai landasan kekuatan dari Demak ini,..!" jelas Raden Fatahillah.


" Akan tetapi Ramanda Sultan pun tengah menyiapkan sebuah pasukan yang akan bergerak ke Wetan,..!" kata Raden Prawata lagi.


Raden Fatahillah kemudian menjelaskan bahwa ia dan armada laut Demak lah yang akan bergerak dengan di bantu oleh pasukan dari Kacirebonan, sedangkan pasukan darat dari kerajaan Demak tidak diikut sertakan, karena kemungkinan untuk menyerang wetan dari laut teramat kecil , hanya daerah Surabaya dan blambangan serta Tuban yg berada di dekat laut sedangkan yg berada di daerah pegunungan dan cukup jauh dari laut, jelas Raden Fatahillah.


Ia juga menyebutkan kemungkinan nya penyerbuan kali ini tidak akan bentrok dengan jadwal Kanjeng Gusti Sultan yg akan melawat ke Timur itu.


Raka Senggani yg mendengarkan pembicaraan kedua nya mengambil kesimpulan bahwa ia akan diajak turut serta dalam penyerangan ke Sunda Kelapa kali ini.


" Kapankah waktu itu akan d laksanakan Raden,..?" tanya Raka Senggani.


" Mungkin tidak akan terlalu lama lagi, untuk itulah diriku mengundangmu untuk datang kemari dan ke pesta pernikahan ku,. karena di saat pesta nanti Kangmas Sultan akan memberikan jawaban atas permintaan ku kali ini, dan ia pun akan memberi gelar kepada ku,..!" terang Raden Fatahillah.


Ia sangat berharap sekali Raka Senggani untuk mau datang ke acara pernikahan nya itu.


Bahkan secara pribadi , Raden Fatahillah menanyakan kepada Raka Senggani kapan sebaiknya Armada laut Demak ini menyerang Sunda Kelapa.


Raka Senggani kemudian menjelaskan kepada Raden Fatahillah agar tidak terlalu terburu-buru mengambil keputusan ,..jika memang restu dari Kanjeng Gusti Sultan Trenggana telah di dapat, sebaiknya Raden Fatahillah menyiapkan pasukan sandi nya bergerak terlebih dahulu agar keberhasilan yang sempurna dapat di raih.


" Memang suatu pemikiran yang hebat, sungguh tidak salah diriku memilih mu , Raden ,..untuk menjadi salah seorang Senopati ku kala menyerang Sunda Kelapa ini, selain memiliki kemampuan silat yg tinggi dirimu pun memiliki kecerdasan otak yg luar biasa , sulit mencari seseorang seperti dirimu ini,..Raden,..!" ungkap Raden Fatahillah.


Dirinya memang mengagumi kelebihan dari Raka Senggani ini.


" Raden Fatahillah terlalu memuji,.." ucap Raka Senggani dengan tersenyum.


Dirinya pun sangat mengagumi ksatria dari tanah swarnabhumi ini,.selain sangat cakap dalam urusan keprajuritan,.ia pun sangat pandai menentukan waktu yang baik untuk menyerang. Terlihat saat Demak menyerang Malaka.


Dan pada malam itu Raka Senggani tidak dapat menolak permintaan dari Raden Fatahillah untuk tetap tinggal di Kotaraja Demak guna menghadiri acara pernikahannya sekaligus pemantapan rencana penyerangan ke Sunda Kelapa.


Saat kokok ayam jantan untuk pertama kalinya barulah pembicaraan mereka ini selesai.


Raka Senggani mengatakan bahwa ia akan pamit pulang ke rumah Tumenggung Bahu Reksa akan tetapi hal ini di cegah oleh Raden Fatahillah.


" Sebaiknya malam ini, Raden Hidayat menginap saja disini, masih banyak hal yg ingin ku ketahui dari dirimu sekaligus ada pesan khusus dari Paman Sunan gunung jati untuk dirimu,..!" ucap Raden Fatahillah.


Akhirnya Raka Senggani menerima tawaran dari Raden Fatahillah ini, sedangkan Raden Prawata kembali ke tempat nya.


Sesudah tinggal berdua saja dengan Raka Senggani, maka Raden Fatahillah menyampaikan sebuah pesan dari Sunan gunung jati.


" Raden Hidayat diminta datang ke Kacirebonan dalam waktu dekat ini, Kakang Raden Maulana Hasanudin memerlukan dirimu , ia sangat ingin bertemu dengan dirimu,..!" jelas Raden Fatahillah .


Raka Senggani yg merasa ini ada hubungan nya dengan Raden Abdullah Wangsa memberanikan diri untuk bertanya.


" Apakah hal ini ada hubungan nya dengan Raden Abdullah Wangsa ,...Raden,..?" tanya nya.


" Benar,..dan sangat tepat sekali, saat ini Raden Abdullah Wangsa telah menjelma menjadi seorang yang tangguh tanggon, ia akan menggunakan gelar orang tuanya untuk di sematkan pada dirinya,.untuk itulah diriku menunggu anakmas Raden Prawata untuk pergi dari sini agar kita dapat berbicara lebih leluasa,..!" terang Raden Fatahillah.

__ADS_1


__ADS_2