
Derap langkah kaki si jangu memecah kesunyian jalan antara Kotaraja Demak menuju ke Pajang.
Diatas nya dengan gagah nya duduk sang Senopati , Senopati Sandi Demak, di pinggang terselip keris pusaka Kyai Macan Kecubung tersampir.
Rambutnya yg sebahu nampak riap riapan di terpa angin yg cukup kencang, karena ia memacu si Jangu cukup cepat dan kencang.
Jauh sudah dirinya meninggalkan Kotaraja Demak. Sampai menjelang sore barulah ia mendapati sebuah Pedukuhan , tetapi ia tidak berhenti disana, ia tetapi melanjutkan perjalanan nya.
Sampai menjelang malam barulah ia berhenti di sebuah hutan yg tidak terlalu luas, segera Raka Senggani turun dari punggung si Jangu.
Ia mengikatkan si Jangu pada sebuah pohon kecil, dan dirinya mencari sebuah umbul atau sendang, ia ingin membersihkan tubuhnya. Dan segera melaksanakan ibadah sholat maghrib.
Malam yg gelap, membuat nya menyalakan sebuah api unggun. Agar tempat itu menjadi hangat.
Sementara jauh dari tempat dimana sang Senopati itu beristrahat, pada malam yg cukup gelap, nampak dua orang tengah berlatih ilmu silat di sebuah lereng gunung.
Kedua nya terlihat serius melakukan latihannya.
" Bagus,..Ngger,..langkah mu harus semakin mantap dan cepat,.." ujar seseorang yg berusia tua.
Orang tua itu terlihat memperhatikan dengan teliti setiap gerakan dari pemuda yg tengah berlatih .
Sementara sang pemuda terus saja berlatih dengan tekunnya , walau malam dalam keadaan cukup gelap.
" Hiyyyaaat,.."
Pemuda tersebut melompat sambil memberikan tendangan mendatar, kemudian di lanjutkan sebuah pukulan dengan tangan kanan nya, diikuti sodokan lutut, kemudian di akhiri sebuah pukulan dengan tangan lagi.
" Cukuuuup,..."
Seru Orang tua yg memakai jubah ala resi. Ia mengangkat tangan agar pemuda itu menghentikan latihannya.
" Untuk hari ini cukup sudah latihanmu, Ngger,..dan tampaknya peningkatanmu sungguh mengagumkan.,..jika dirimu giat berlatih tidak sampai tiga purnama, Eyang telah dapat menurunkan tenaga dalam kepadamu,.." ucap nya.
" Terima kasih , eyang,.." ucap sang pemuda.
Yang tiada lain adalah Raka Yantra, dan orang tua yg ada di hadapannya adalah Mpu Loh Brangsang.
Penguasa Gunung Merapi itu sangat senang sekali melihat perkembangan murid bungsunya ini.
Dalam waktu yg tidak sampai setahun, ia sudah dapat mencapai tataran tertinggi dalam tata gerak ilmu silat.
Walaupun untuk menurunkan ilmu ilmu yg lain , Mpu Loh Brangsang belum berani untuk melakukan nya, ia sangat khawatir jika kelak terjadi perubahan pada struktur tubuhnya, dan dapat membuat dirinya jadi lumpuh.
Tetapi setelah melihat latihan yg tadi di lakukan nya, hati Mpu Loh Brangsang menjadi puas, karena sudah tidak ada halangan lagi untuk menurunkan seluruh ilmunya pada pemuda ini.
" Ngger, Eyang merasa dirimu cukup memiliki bakat untuk menjadi seorang pendekar yg tangguh,.." ungkap Mpu Loh Brangsang.
" Terima kasih, Eyang,.." jawab Raka Yantra.
Dalam hati Penguasa Gunung Merapi ini berkeyakinan dapat membentuk pemuda yg ada dihadapannya menjadi lawan yg sepadan dengan Senopati Brastha Abipraya, senopati Pajang.
Karena dalam hati nya masih tersimpan segudang dendam terhadap pemuda desa Kenanga itu.
Dan ia juga merasa bahwa dua orang yg bersaudara sepupu ini memiliki bakat yg sangat baik dalam hal ilmu silat dan kadigjayaan .
Apakah kedua pemuda ini memang masih memliki garis keturunan trah Majapahit, berkata dalam hati Mpu Loh Brangsang.
Karena menurutnya hanya keturunan dari sang Prabhu Brawijaya terakhir sajalah yg memiliki kelebihan dalam hal ilmu kadigjayaan .
Sampai malam berganti, Mpu Loh Brangsang tetap berada di samping Raka Yantra.
Meninggalkan gunung Merapi hanya untuk mencari seorang murid yg dapat menerima ilmunya , setelah tewasnya murid utamanya yg bernama Adya Buntala.
__ADS_1
Dan saat inj hatinya merasa senang sekali setelah mendapatkan seorang murid yg memiliki bakat.
Sememtara itu , Raka Senggani tengah berada di daerah pertigaan antara kadipaten Pajang dan desa Kenanga.
Dan setibanya di pertigaan itu Raka Senggani di kejutkan oleh salah seorang penunggang kuda yg sepertinya sedang menunggu seseorang.
Hahh,..ternyata Ki Jaka Belek,..kata Senopati Sandi Yuda Demak itu dalam hatiinya.
Dengan cepat , Senopati Bima Sakti menyapa nya.
" Ada apa Ki Jaka Belek,.. mengapa dirimu berada disini,..?" tanyanya.
" Ahh, tidak ,..hanya ingin mengucapkan selamat atas keberhasilan menunaikan tugas di bang Wetan,.." ucap Ki Lintang Jaka Belek.
" Terima kasih,..Ki Jaka Belek,.." sahut Raka Senggani.
Ia kemudian merapatkan kudanya mendekati kuda Ki Jaka Belek.
Dalam jarak yg sangat dekat,..Ki Lintang Jaka Belek, kemudian menjabat tangan nya.
Setengah berbisik,..Kj Jaka Belek berkata,..
" Apakah Senopati telah menyiapkan orang orang yg akan berangkat ke kulon,..?" tanya nya.
" Belum,..Ki Jaka Belek, karena waktunya masih belum di tentukan,.." jawab Raka Senggani lagi.
" Pesan dariku, agar Senopati Bima Sakti dapat mengirimkan orang yg dapat di percaya,..," ucap Ki Lintang Jaka Belek.
" Baik Ki,..akan ku ingat pesan aki inj,.." sahut Raka Senggani.
Kemudian sambil menjalankan kudanya perlahan, Raka Senggani mengatakan kepada Ki Jaka Belek agar mau singgah ke desa Kenanga.
" Terima kasih,..Senopati Bima Sakti,..diriku masih ada tugas , di kota kadipaten,.." jawab Ki Jaka Belek.
Ia pun segera meninggalkan Senopati Bima Sakti, dan mengarahkan kudanya menuju kadipaten Pajang.
Ahh,.. sebaiknya aku pulang saja ke desa Kenanga saja , katanya dalam hati.
Ia pun mengarahkan kudanya menuju desa Kenanga, ada perasaan yg rindu pada kampung halaman nya.
Tiba di sana , saat senja telah menyapa. Ia terus melanjutkan menuju rumah baru di buat yg di peruntukkan kepada Raka Jang ,..pamannya.
" Ahh,..angger Senggani, kapan tibanya,..paman sangat senang sekali melihat mu telah kembali,.." ucap Raka Jang.
Lelaki tua itu langsung memeluk tubuh keponakan nya sambil menepuk nepuk pundaknya.
Dan mereka berdua masuk ke dalam.
" Apakah Ki Lamiran tidak berada disini ,..Paman,..?" tanya Raka Senggani.
" Mungkin malam ini ia akan datang kemari,. karena menjadi kebiasaan nya, satu malam berada disini dan malam yg lain ia berada di rumahnya,.." jelas Raka Jang.
" Ooo,.."
Ucapan yg keluar dari mulut dari Senopati Bima Sakti. Ia pun langsung menuju ke belakang menuju sendang yg tidak terlalu jauh dari rumah tersebut.
Tidak terlalu lama ia berada disana,..kemudian kembali ke rumah nya lagi dan segera berpakaian rapi, setelah sebelumnya menjalankan perintah dsri yg Maha kuasa.
Malam di desa Kenanga , Raka Senggani kemudian kedatangan Ki Lamiran di rumah itu.
Sealnjutnya mengajak Raka Senggani untuk datang ke banjar desa Kenanga. Ki Lamiran ingin bertanya sesuatu kepada Raka Senggani.
Jadi sambil berjalan,..Ki Lamiran langsung menanyakan kepada Raka Senggani apakah tugas yg di embannya itu cukup berat, tanyanya kepada Raka Senggani.
__ADS_1
" Sangat berat, Kj,..bahkan diriku harus di rawat.selama sepekan , di trowulan,.." jawab Raka Senggani.
Ganti Senopati Bima Sakti yg bertanya kepada Ki Lamiran mengenai hubungannya dengan Sari Kemuning, putri Ki Jagabaya.
Apakah saat panen kali ini memang Ki Jagabaya telah bersedia melakukan nya, tanya nya kepada Ki Lamiran.
" Nampaknya calon mertuamu memang telah mempersiapkan segalanya, meskipun awalnya mereka meminta pada tahun depan, namun setelah di jelaskan oleh Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa alasannya,..Ki Jagabaya pun menyanggupinya,.." jelas Ki Lamiran.
Ki Lamiran kemudian berkata lagi,..
" Apakah angger Senggani memang sudah mantap untuk segera menikah dan ada waktu seperti yg telah di katakan oleh Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa itu,..?" tanya Ki Lamiran.
" Sangat mantap,..Ki,..karena Senggani merasa sudah saatnya untuk membina keluarga, agar kelak setiap kembali dari bertugas ada orang yg dapat memberikan semangat, dan mengenai masalah waktu, Kanjeng Sinuwun telah memberikan izin jika memang di laksanakan pada tahun ini,..tidak dengan tahun depan,.." jelas Raka Senggani.
Keduanya terus saja berjalan dan tidak terasa telah sampai di banjar desa Kenanga.
Disana telah di penuhi oleh banyak orang, adalah Ki Bekel yg menjadi sangat terkejut setelah melihat kehadiran dari Senopati Brastha Abipraya ini, ada perasaam senang di hati dari Pemimpin desa Kenanga.
" Wahh,..kapan tibanya angger Senggani disini, aki ingin bertanya sesuatu, sebentar Ki Lamiran,..angger Senggani akan aku bawa sebentar,.." ungkap Ki Bekel.
" Silahkan ,..ki,.. silahkan ,.." sahut Ki Lamiran.
Ki Bekel mengajak masuk Senopati Bima Sakti ini. Terlihat sekali ia ingin mengatakan sesuatu kepada Raka Senggani.
Setelah duduk , barulah Ki Bekel berkata,..
" Begini ,..Ngger,..aki ingin Jati Andara menjadi seorang prajurit Demak, bukankah angger dapat membawanya, dan ia dapat di terima sebagai seorang prajurit,..?" tanya nya kepada Raka Senggani.
" Sebenarnya dapat, Ki Bekel,..akan tetapi apakah kakang Andara memang bersedia untuk menjadi seorang prajurit,..?" balik Raka Senggani yg bertanya.
" Dia harus mau dan bersedia menjadi seorang prajurit, karena itu akan menaikkan harkat dan martabat keluarga seperti yg telah Angger Senggani lakukan,.." ungkap Ki Bekel penuh semangat.
Raka Senggani yg melihat semangat itu jadi tidak sampai hati untuk mengatakan yg sebenarnya kepada Pemimpin desa Kenanga itu.
Akan tetapi demi kebaikan ia pun memberanikan diri utnuk berterus terang kepada Ki Bekel.
" Begini,..Ki,..Senggani pernah berbicara dengan kakang Andara , mengenai keinginan dari Ki Bekel itu, akan tetapi tampaknya ia tidak terlalu berminat lagi untuk menjadi seorang prajurit, " jelas Raka Senggani.
" Apa alasannya,..Ngger,..bukankah dirimu adalah contoh yg patut ia tiru, dengan segala keberhasilan mu dan dapat menempatkan diri sejajar dengan para pejabat keraton , bahkan Kanjeng Sinuwun sendiri amat mengenalmu,..!" ungkap Ki Bekel.
Sejenak Raka Senggani harus mengatur nafasnya, ia melihat bahwa Ki Bekel menilai dirinya dengan hasil yg telah ia capai dan tidak melihat betapa sulit dan ngerinya perjuangan yg harus di hadapi, nyawa adalah tsruhannya.
" Mungkin memang benar yg Ki Bekel katakan tadi, jika melihat hasil yg telah Sengganj capai saat ini, akan tetapi bagi Kakang andara dan kakang Witangsa yg telah ikut langsung dalam beberapa pertempuran,.mereka amat tidak sesuai dengan watak seorang prajurit yg harus patuh dan setia kepada Junjungan nya, dalam keadaan bagaimana pun juga,..ada rasa penolakan di hati mereka,..!" jelas Raka Senggani.
" Ngger ,..itukan karena mereka belum terjun langsung menjadi seorang prajurit, jika nantinya mereka telah berada di dalam nya lama kelamaan mereka akan terbiasa dengan hal seperti itu,.." kata Ki Bekel.
Raka Senggani Kemudian menerangkan kepada pemimpin desa Kenanga itu tanpa maksud mengguruinya, bahwa memang terkadang menjadi seorang prajurit itu amat sangat menyakitkan, karena kita memang di tuntut mengeyampingkan semua perasaan terlebih dalam hal ini adalah masalah pribadi, kita di tuntut dan di tuntut terus tanpa dapat membantah , tentu rasa jemu akan menimpa kita,..apalagi kita memeiliki keinginan yg tidak selaras dengan paugeran keprajuritan,..hati kita tentu akan berontak,..jadi akan sangat di syaangkan jika kelak harus berhenti di tengah jalan , atau malah di jadikan hanya seperti seorang yg dapat di prrintah tanpa tahu kata untuk membantah ,..terdengar penjelasan dari sang Senopati.
Karena ia sendiri telah merasakan nya, disaat ia akan melamar Sari Kemuning, disaat itu pula ia harus bernagkat ke bang Wetan, beruntung dirinya masih selamat, kalau tidak entah apa jadinya, tuturnya kepada Ki Bekel.
Nampak Bekel desa Kenanga itu mendengarkan semua penuturan dari Raka Senggani,.. menurutnya ada benar nya apa yg telah di ucapkan oleh Senopati sandi Demak ini, tetapi keinginan n I dapat melihat putra satu satunya itu menjadi seseorang yg dapat di banggakan sepetti Senopati Sandi Yuda Demak ini amat menggebu, sehingga membuat dirinya melupakan keinginan dari anaknya sendiri.
Melihat hal tersebut, Raka Senggani tidak ingin memupus harapan orang nomor satu dari desa tersebut, ia kemudian berujar ,..
" Tetapi baiklah , Ki Bekel,..mungkin setelah pernikahan ku nanti,..Kakang Andara ataupun Kakang Witangsa akan Senggani masukkan ke dalam pasukan ku, dan Senggani berharap kepada Ki Bekel, untuk tidak memaksakan keinginan nya jika kelak mereka akan keluar, biarlah hal ini sebagai pendadaran nya saja, dan jika satu saat mereka tetap berkeinginan untuk lanjut, Senggani sendiri yg akan meminta kepada Kanjeng Sinuwun untuk menrima mereka sebagai seorang prajurit Demak,.." terang Raka Senggani.
" Baiklah Ngger,..aki amat berterima kasih sekali jika dirimu mau membawa mereka dalam kesatuan prajurit yg Angger Senggani pimpin,. mudah -mudahan mereka akan mau menjadi seorang prajurit,.." sahut Ki Bekel.
" Mudah -mudahan Ki,..kita sama -sama berdoa,.agar kelak mereka bersedia untuk menjadi seorang prajurit,.." seru Raka Senggani.
Tidak lupa pemuda itu menanyakan keberadaan dari Jati Andara, putra Ki Bekel itu tidak terlihat batang hidung, sejak Senopati Bima Sakti menginjak kan kakinya di rumah Ki Bekel.
Oleh Ki Bekel dijawab,.. bahwa sast ini anaknya itu sedang berada di rumah Paman di desa sebrang, seolah -olah ingin menenangkan pikiran nya.
__ADS_1
Raka Senggani memang memaklumi sikap dari teman sekaligus muridnya itu, karena sebelum keberangkatannya ke wilayah timur, ia sempat berkeluh kesah kepdaanya. mengenai sikap dari orang tua nya itu.
Dan ternyata ,.tampaknya memang Ki Bekel sulit untuk menerima keputusan putranya yg tidak bersedia untuk menjadi seorang prajurit,..ia tetap bersikukuh anaknya itu harus mengikuti jejak nya.