
Ketika kedua orang tersebut menjejakkan kaki nya di tsnah,.maka mereka berdua pun kembali menyerang.
" Hiyyah,"
Dengan ujung pedang yg mengarah ke leher dari Raka Senggani, disaat yg bersamaan Arya Pinarak telah pada posisi semula dan bersiap akan menyerang lagi.
" Hemmhhp, suatu kesempatan yg baik, aku bisa melepaskan senjata -senjata rahasia ku, waktu yg baik aku akan melepaskan senjata ini , sesaat ia tengsh di sibukkan oleh Walang dan Saket, akan ku lepaskan pisau beracun ini, ****** kau Raka Senggani, ternyata nyawamu ada di tsnganku, dan akan berakhir hari ini," berkata di dalam hati Arya Pinarak.
Ia telah menimang tiga buah pisau kecil beracun yg siap akan di lepaskan.
Memang saat itu Raka Senggani sedang menangkap kedua ujung pedang lawan nya baik pedang itu yg masih utuh dan yg sudah patah, kedua nya berhasil di jepit nya dengan ke empat jari nya. Raka Senggani pun membetot pedang itu dengan tenaga dalam nya, sedang kan kedua lawannya masih mmepertahankan kedua senjatanya itu.
" Heaaaahhh," teriak Raka Senggani.
Ia menarik kedua lawan nya untuk di benturkan satu dengan yg lainnya.
Dan bersamaan itu pula melesatlah tiga buah senjata rahasia ke arah punggung nya yg sedang membelakangi Arya Pinarak.
" Shieeet, syet, seeeit,".
Pisau _pisau itu melayang dengan cepat, dan,........
" Tak, tak, tak," terdengarlah bunyi senjata itu terjatuh. Seperti menyentuh benda yg keras ketiga pisau tersebut langsung jatuh ke atas tanah.
Dan saat itu pula, Walang dan Saket berbenturan akibat tidak mau melepaskan pedang nya.
" Aaachh,"
Teriak kedua nya, benturan kedua orang itu cukup kuat menimbulkan luka di kedua kening orang itu.
Keduanya jatuh terhempas di atas tanah, sambil bergulingan kedua nya berusaha menjauhi Raka Senggani, pedang mereka terlepas dan berada di genggaman Senopati Pajang itu.
Saking geramnya Raka Senggani menghempaskan kedua pedang itu ke atas tanah, ia pun berkata,
" Hehh, tidak kusangka kau bisa berbuat curang sperti ini, apakah kau tidak punya nyali untuk bertarung dengan ku,?". tanya Raka Senggani.
Pemuda itu mengambil pisau -pisau kecil itu dari tanah.
Sambil menimang -nimang ketiga pisau itu Raka Senggani menatap wajah Arya Pinarak.
" Mungkin sebaiknya pisau ini aku kembali kan kepadamu,!" teriak nya.
Arya Pinarak terdiam, ia tidak menyangka senjata rahasia nya tidak mampu menembus tubuh senopati Pajang itu jangankan melukai nya, pakaian yg di pakai nya pun tidak robek di buat senjata rahasia nya itu.
" Memang hebat Senopati Pajang ini, ternyata ia memiliki ilmu kebal , aku harus bersiap , dan secepat nya meninggalkan tempat ini," berkata dalam hati Arya Pinarak.
Sedangkan kedua teman nya telah mampu berdiri dan juga terlihat kebingungan atas kejadian itu, pedang mereka telah terlepas.
" Arya Pinarak apakah begitu cara mu bertarung, selaku murid dari Mpu Phedet Pundirangan, tidak sepantasnya kau bersikap demikian, sekarang apa yg akan kau katakan,?". tanya Raka Senggani.
" Semua dapat kita lakukan dalam suatu pertarungan , termasuk caraku ini, jika memang kau ingin membalas nya, silahkan ,!" jawab Arya Pinarak.
" Baik , akan ku kembalikan Senjata mu ini bersiap lah, " ujar Raka Senggani.
Memang sudah menjadi keinginan anak muda itu mengembalikan senjata milik Arya Pinarak tersebut dan ia berkeyakinan akan dapat membalas perlakuan curang orang tersebut.
" Terima ini, hiaah,"
Sebuah pisau kecil milik Arya Pinarak itu meluncur cepat menuju ke arah pemiliknya. Arya Pinarak melompat untuk menghindari senjata miliknya itu, namun saking cepatnya senjata itu masih dapat menyentuh ujung pakaian nya dan membuat robek.
" Gila, kalau begini aku bisa mati di hantam senjata ku sendiri," kata nya dalam hati.
Dan begitu lesatan pisau yg kedua , Arya Pinarak sambil melompat mengeluarkan ajiannya, ia berseru keras,
" Aji Lebur Waja, heaahh,"
Pisau kecil itu terhantam ajian nya, dan terus meluruk kearah Raka Senggani. Namun pemuda itu telah bersiap karena ia meyakini pasti lawan akan menyerang nya.
Ia mengeluarkan ajian Wajra Geni nya.
__ADS_1
" Dhummmbbh,"
Terdengar suara benturan akibat kedua ajian itu beradu.
Ternyata tingakatan ilmu dari Arya Pinarak masih jauh di bawah Raka Senggani.
Membuat ajian Wajra Geni itu meluruk tubuh dari Arya Pinarak.
" Aaaaacckhhh,"
Murid dari Mpu Phedet Pundirangan itu terpental meski tidak jauh karena memang Raka Senggani tidak mengeluarkan segenap tenaga dalam nya.
Namun itu telah membuat Arya Pinarak terluka dalam , segera kedua teman nya menghampiri seraya membawa pergi dari tempat itu.
Senopati Pajang itu hanya menatap kepergian ketiga orang itu tanpa ada niatan untuk mengejar nya.
" Sudah dikatakan oleh Paman Tumenggung, jangan mencegat Senopati Pajang itu, nanti berbahaya ," berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia tersenyum sendiri kalau mengingat seloroh orang tua angkat nya itu.
" Sebaiknya aku harus sampai ke Demak dan mudah-mudahan Kanjeng Pangeran dapat memberi izin untuk kembali ke Pajang," kata nya lagi
Senopati Pajang itu kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu menuju Kotaraja Demak yg sebenarnya tidak terlalu jauh lagi.
Sehingga sebentar saja ia telah sampai di gerbang Kotaraja Demak, karena Raka Senggani menggunakan ilmu Lari cepat nya.
Ia berjalan menuju ke kediaman Tumenggung Bahu Reksa dan tidak menuju ke bangsal keprajuritan Demak.
Ketika mendekati kediaman Tumenggung Bahu Reksa, Raka Senggani berpapasan dengan Raden Abdullah Wangsa yg tengah kembali dari suatu tempat.
" Apa kabar kakang Senopati , kapan kakang tiba,?" tanya nya .
" Baru saja Raden , ". jawab Raka Senggani.
" Kakang mau kemana,?". tanya Raden Abdullah Wangsa lagi.
" Saya mau ke rumah Paman Tumenggung Bahu Reksa, ada pesan yg harus saya sampaikan kepada kakang Sandika,!". jawab Raka Senggani lagi.
" Baik Raden". ucap Raka Senggani.
Senopati Pajang itu kemudian berjalan menuju rumah Tumenggung Bahu Reksa, di halaman rumah itu ia bertemu dengan Lintang Sri wedari putri Tumenggung Bahu Reksa.
" Kakang Senggani mengapa telah kembali, apakah kakang telah menyelesaikan Pendadaran itu,?" tanya Lintang Sri wedari.
" Sudahe wedari, kakang telah di izinkan kembali ke Pajang oleh Paman Tumenggung, dimana kakang Sandika,?" tanya Raka Senggani
Putri Tumenggung Bahu Reksa itu menggelengkan kepala nya,
" Satu hari ini , wedari belum melihat kakang Sandika," jawab nya.
" Biasa nya dimana tempat yg sering di kunjungi oleh Kakang Sandika,,?" tanya Raka Senggani kepada Lintang Sri wedari.
" Biasanya ia suka menyendiri di dekat sebuah blumbang arah timur Kotaraja Demak ini, kakang ,," jawab Lintang Sri wedari.
" Kalau begitu kakang akan kesana, Setelah bertemu dengan nya kakang akan kembali kemari,!". ucap Raka Senggani.
Sang Senopati itu kemudian berjalan meninggalkan rumah Tumenggung Bahu Reksa itu dan berjalan menuju arah timur, sebentar kemudian ia telah keluar kawasan Kotaraja Demak itu.
Cukup lama Raka Senggani mencari ke arah yg telah di tunjukkan oleh Lintang Sri wedari itu, akhirnya ia pun bertemu dengan putra Tumenggung Bahu Reksa tersebut.
" Apakah ikan nya cukup banyak kakang Sandika,,?" tanyanya kepada Lintang Sandika.
Putera Tumenggung Bahu Reksa itu terkejut ada seseorsng yg menyapa di tempat sepi itu.
" Ahhh , Kau mengagetkan ku , adi Senggani,,!" jawab Lintang Sandika.
Ia masih dengan asyiknya menarik kail nya yg seperti nya telah mendapatkan ikan itu.
" Gerangan apakah sehingga adi Senggani menyusul ku sampai kemari,?" tanya Lintang Sandika lagi.
__ADS_1
Ternyata kail nya telah mendapatkan seekor ikan gabus yg lumayan besar.
" Mungkin dengan kehadiranmu disini membawa berkah adi Senggani, terbukti dari tadi kail ku tidak ada yg mendapat kan ikan , Setelah adi Senggani datang baru kail ku ini mendapatkannya,". ucap Lintang Sandika.
" Mungkin juga kakang , Senggani membawa rezeki, " seru Raka Senggani.
" Ada apa kau menyusul ku sampai kemari,?". tanya Lintang Sandika lagi.
" Begini Kakang, atas perintah paman Tumenggung, Senggani di tugaskan untuk menghiburmu, dan kalau kakang bersedia akan Senggani ajak ke Pajang," ungkap Raka Senggani terus terang.
" Apakah adi Senggani telah selesai menjalani Pendadaran kali ini,?". tanya Lintang Sandika lagi.
" Sudah kakang," jawab Raka Senggani.
" Mengapa begitu cepatnya?". tanya Lintang Sandika.
" Yah karena menurut Paman Tumenggung, Senggani memang telah Lulus pemdadaran itu dan telah mendapatkan banyak tentang ilmu kelautan, jadi masih menurut Paman Tumenggung Senggani telah dapat kembali ke Pajang guna membuka pendadaran.untuk masuk menjadi prajurit armada laut Demak," ungkap Raka Senggani.
" Apakah Kakang Sandika mau ikut ke Pajang,?" tanya Raka Senggani.
Lintang Sandika putra dari Tumenggung Bahu Reksa itu terdiam , ia masih mengengam batang kail nya, dan menatap ke dalam air.
" Ahh, memang Romo terlalu memikirkan diriku, sedangkan aku sendiri tidak memikirkan diriku sendiri,!" ucap Lintang Sandika .
" Kakang Sandika masih beruntung memiliki kedua orang tua yg lengkap sebagai satu keluarga, sedangkan diriku, sedari kecil tidak memiliki nya, hanya orang-orang yg berhati sangat baik saja yg mau menerima ku termasuk keluarga Kakang Sandika sendiri telah mengangkat anak kepada ku, jika di ingat waktu itu, hampir satu desa Kenanga yg membenci ku setelah kematian kedua orang tua ku,!" ungkap Raka Senggani.
Senopati Pajang itu menarik nafas sejenak sambil mengenang kembali saat-saat dimana ia sangat sulit itu.
" Jika di bandingkan dengan kejadian yg telah menimpa kakang Sandika sewaktu di tinggalkan oleh sahabat kakang itu , mungkin jauh lebih mudah dari yg telah Senggani jalani, bukan mengecilkan arti kehilangan yg telah menimpa kakang Sandika itu," jelas Raka Senggani.
" Maaf sebelum nya kakang Sandika bukan maksud ku untuk menggurui mu, agar kita dapat berbagi atas apa yg telah menimpa kita saat ini, Senggani harap kakang Sandika tidak tersinggung,!". kata Raka Senggani lagi.
Lintang Sandika terdiam, ia memang memahami bahwa kehidupan adik angkat nya itu memang lebih sulit dari yg telah di hadapinya. Namun anak muda yg seperti orang yg sebatang kara itu telah tumbuh dan menjadi seorang tunas muda yg di segani di Pajang dan Tlatah Demak pada umum nya.
" Mungkin memang benar yg telah adi Senggani ucapkan itu, tetapi persahabatan ku dengan Raden Kuning sudah sangat akrab bahkan sudah seperti saudara sendiri, susah senang kami jalani bersama, termasuk saat masuk menjadi prajurit Demak dalam armada laut, dan kau tahu adi Senggani, di depan mataku sendiri, ia tewas di berondong oleh meriam jenis cetbang,!" ungkap Lintang Sandika.
Ia berhenti sejenak sambil mengenang kejadian yg telah terjadi di medan perang di laut Melaka itu,
" Dan ia menghembuskan nafas terakhir nya di pangkuan ku dengan tubuh nyaris hancur, betapa sedihnya jika aku mengenang hal itu,". kata Lintang Sandika.
Di sudut matanya terlihat bulir -bulir air yg mengembang.
" Kakang Sandika, kakang harus bangkit dan membalaskan apa yg telah terjadi terhadap sahabat kakang itu, jika kemudian kita akan berangkat lagi ke medan perang, dan berhasil mengalahkan musuh tentu ia akan tersenyum melihat nya, dan satu hal lagi, nyawa seseorang itu kita tidak tahu dimana akan berakhir nya, bisa di medan perang tetapi dapat pula di atas tempat tidur, jika kita mati di medan perang berarti kita mati syahid, matinya para syuhada merupakan impian bagi setiap prajurit yg beragama islam, untuk itu Kakang Sandika harus bangkit, teruskan perjuangan Raden Kuning itu, jangan patah semangat,!" kata Raka Senggani.
Lama Lintang Sandika memandangi wajah dari Raka Senggani, pemuda yg masih jauh di bawah nya dalam hal usia tetapi telah sangat matang dalam hal berpikir dan kejiwaan, mungkin karena ia telah di tempa oleh alam, pikir Lintang Sandika.
" Sungguh ucapan mu sudah seperti ucapan Kanjeng Sunan dan guru Panemabahan Lawu, mungkin kakang harus lebih banyak belajar dari mu adi Senggani,!" ucap Lintang Sandika.
" Untuk itulah kakang harus ikut ke Pajang guna untuk lebih menenangkan hati, dan dspat melihat kehidupan di pedesaan yg jauh lebih alami daripada di kotaraja Demak ini,!" ucap Raka Senggani.
" Jadi kapan adi Senggani akan kembali ke Pajang,?" tanya Lintang Sandika.
" Sebenarnya Senggani belum tahu karena harus meminta izin terlebih dahulu dari Kanjeng Pangeran Sabrang lor, jika ia mengizinkan Senggani kembali besok tentu akan sangat baik sekali, " jawab Raka Senggani.
" Baiklah adi Senggani, Kakang akan ikut dengan mu, hitung -hitung akan sowan ke padepokan Gunung Lawu, " ujar Lintang Sandika.
" Tepat sekali kakang, karena Senggani pun telah berhutang budi dan berhutang nyawa kepada Gurumu itu, jadi sudah sewajarnya kita berdua berkunjung ke tempat nya,!" ucap Raka Senggani.
" Bagaimana bisa adi Senggani memilki hutang budi terhadap guru,?" tanya Lintang Sandika.
" Agak panjang cerita nya kakang, tetapi yg jelas saat Senggani terluka cukup parah , Panemabahan Lawu lah yg telah menolong dan menyembuhkan diriku, jadi hutang budi ku terhadap nya mengalahkan tinggi nya gunung, jika ia tidak menyelamatkan waktu itu tentu Senggani telah tinggal nama saja, " jelas Raka Senggani.
" Jadi guru pernah menyelamatkan mu, adi Senggani,,!" ucap Lintang Sandika.
" Begitulah kenyataannya, kakang,!" jawab Raka Senggani.
" Marilah kakang, kita bakar saja ikan yg telah kakang dapatkan itu, karena perutku sudah terasa lapar,!" ucap Raka Senggani lagi.
" Ohh, iya mari, silahkan adi Senggani nyalakan api nya, biar kakang yg membersihkan ikan -ikan ini,!" kata Lintang Sandika.
__ADS_1
Kedua orang itu kemudian membakar ikan hasil tangkapan dari Lintang Sandika itu, dan keduanya memakan dengan lahapnya.