
" Ehh, Angger sedang melamun, nanti bisa kesambet, Ngger,!" seru Ki Lamiran.
Pande besi desa Kenanga itu telah kembali dari pasar karena hari pun telah sore.
" Senggani tidak sedang melamun, tetapi lagi teringat kenangan masa yg lalu, Ki, Kenangan yang cukup pahit buat Senggani, beruntung saat ini, dua dari tiga pembunuh orang tuaku itu telah tewas, meskipun masih ada seorang lagi, !" jelas Raka Senggani.
" Benarkah, Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan yg telah membunuh kedua orangtua mu itu ,Ngger,?" tanya Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Benar Ki, dan tampak nya yg seorang lagi ada hubungan nya dengan Mpu Loh Brangsang dari Merapi,!" jelas Raka Senggani.
" Dan Angger Senggani telah berhasil membunuh kedua nya,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Benar Ki," jawab Raka Senggani.
" Nasehat aki, sebaiknya angger memang harus lebih waspada, karena dengan kematian kedua orang itu tentu akan semakin mendendam terhadap mu, Ngger, terlebih mereka merupakan orang-orang yg sangat berpengaruh , memiliki banyak murid, baik yg sedang belajar maupun yg telah keluar dari padepokan di bawah pimpinan kedua orang itu, musuh angger Senggani akan semakin bertambah banyak, berhati-hatilah Ngger,!" nasehat Ki Lamiran.
" Nasehat aki Lamiran akan Senggani ingat, dan nanti malam, Senggani berharap supaya aki mau ikut ke banjar desa untuk melatih para pemuda desa Kenanga ini,!" ajak Raka Senggani.
" Baik Ngger, jika nanti aki tidak ketiduran karena kelelahan, aki akan turut ke Banjar desa, hitung -hitung cari wedang hangat sambil ngobrol dengan Ki Bekel dan Ki Jagabaya,,!" jawab Ki Lamiran.
Orangtua itu kemudian masuk ke dalam dan segera membersihkan tubuh nya.
Bergantian dengan Raka Senggani, setelah malam menjelang, maka Raka Senggani pun betangkat ke banjar desa Kenanga.
Di Banjar desa Kenanga telah tampak ramai dengan orang -orang , bahkan sebahagian besar dari kalangan perempuan.
" Baiklah berhubung angger Senggani telah tiba sebaiknya kita langsung memulai latihan ini, dengan mengucapkan Bismillahirohhmanirrohim, latihan silat ini, resmi Aku buka,!" ucap Bekel desa Kenanga.
Raka Senggani langsung maju ke depan banjar desa itu dan meminta kepada yg akan turut mengikuti pelatihan itu segera berdiri. Ternyata banyak yg ingin mengikuti pelatihan itu terlebih dari kalangan para wanita nya.
Banyak anak -anak gadis desa Kenanga itu yg memilih ikut untuk berlatih ilmu silat.
Kemudian Raka Senggani membariskan mereka semua dengan rapi.
Dan pertama kali Raka Senggani memberikan latihan kuda -kuda, baru setelah nya ia memberikan tata gerak untuk memukul dan menendang.
Terlihat lah pemuda desa Kenanga itu telah banjir dengan keringat.
Setelah malam semakin larut barulah Raka Senggani menghentikan latihan itu.
Ia pun memperbolehkan mereka untuk kembali ke rumah masing -masing.
Sedangkan ia pun segera duduk dengan para perangkat desa Kenanga itu, termasuk juga dengan Ki Lamiran.
" Terima kasih kami ucapkan kepada angger Senggani, karena telah mau berbagi ilmu dengan anak -anak di desa Kenanga ini,!" ucap Ki Bekel.
" Sama -sama Ki Bekel,!" jawab Raka Senggani.
" Senggani , kami berdua dengan Witangsa sebenar nya ingin menjadi prajurit Demak, bisakah dirimu mengupayakan kami berdua untuk masuk sebagai prajurit Demak,?" tanya Jati andara putra Ki Bekel itu.
" Kalau memang kakang andara dan Witangsa mau menjadi prajurit Demak, mungkin Senggani bisa untuk mengupayakan nya namun dengan syarat,....!" kata Raka Senggani.
" Ahh , dengan teman sendiri harus memakai syarat,!" seru Japra Witangsa putra dari Ki Jagabaya.
" Ahh, jangan berpikir yg bukan -bukan, syarat nya adalah kakang berdua harus bersedia untuk berlatih siang dan malam di bawah pengawasan dari Senggani,!" jelas putra dari Raka Jaya.
" OOoo,!"
__ADS_1
" Yeah, itulah syarat nya, dan kalian berdua harus bersungguh -sungguh,!" ucap Raka Senggani.
" Kami bersedia , adi Senggani,!" jawab Jati andara.
" Baik kalau begitu, besok kalian berdua datanglah ke pategalan Mbok Rondo, Senggani akan memberikan pelatihan khusus untuk kalian berdua , tetapi dengan syarat lagi,!" kata Raka Senggani dengan tersenyum.
" Syarat lagi, terlalu banyak syarat mu itu Senggani,!" ucap Japra Witangsa.
" Syarat nya, kalian berdua harus bersedia menuruti semua yg akan Senggani berikan, jangan banyak membantah meskipun dalam usia Senggani lebih muda dari kalian berdua, tetapi dalam latihan ilmu kalian berdua harus tunduk dan patuh terhadap perintahku,!" jelas Raka Senggani lagi.
" Kami berdua bersedia adi Senggani,!" jawab Jati andara.
" Datanglah besok setelah terang tanah, kita harus memulai nya dengan cepat, agar kemampuan kalian berdua dapat meningkat dengan pesat, !" jelas Raka Senggani.
" Apakah kami boleh ikut , Kakang Senggani,,?" tanya Dewi Dwarani.
" Silahkan, silahkan, asalkan kalian semua memang berniat untuk belajar, !" jawab Raka Senggani lagi.
" Kami berdua besok akan ikut , aku dan Sari Kemuning,!" ucap Dewi Dwarani putri dari Ki Bekel itu.
Kemudian Raka Senggani pun kembali pulang bersama Ki Lamiran.
Malam itu Raka Senggani terlihat sangat mengantuk, dan sebentar saja ia sudah tertidur pulas.
Sedangkan Ki Lamiran masih saja duduk di atas amben bambu itu.
" Hehh, saat ini dirimu tidak kurang suaty apapun,Ngger, engkau sangat terkenal, memiliki jabatan yg tinggi dan punya beberapa lahan pelungguhan yg di berikan oleh Kanjeng Adipati Pajang, kalau mengingat waktu dulu, betapa tragisnya hidupmu, Ngger, memang tidak ada seorang pun yg tahu tentang nasib seseorang itu, Hheeh,!" kata Ki Lamiran sambil memandangi wajah Raka Senggani.
Ia pun berusaha memejamkan matanya.
Esok harinya , setelah sholat shubuh Raka Senggani langsung ke pategalan miliknya itu.
Setelah mentari mulai menerangi desa Kenanga itu, terdengar suara orang yg datang ke tempat itu, Raka Senggani dengan cepat bersembunyi.
" Kemana adi Senggani, waktu yg di berikannya adalah setelah terang tanah, namun ini sudah siang , ia pun belum muncul,!" keluh Jati andara putra Ki Bekel itu.
" Sabarlah dulu Kang, mungkin kakang Senggani agak kesiangan hari ini, karena tadi malam ia cukup lama berada di banjar desa Kenanga,!" kata Dewi Dwarani adik dari Jati andara itu.
" Memang kakang Senggani nya sepertinya sedang menguji kesabaran kita semua , sudah siang begini iapun belum muncul,!" ungkap Sari Kemuning.
" Apakah kalian tengah menunggu ku,?" tanya Raka Senggani.
Tiba -tiba saja ia telah berada di belakang keempat orang itu.
" Ahh Kakang Senggani mnegejutkan kami,!" seru Sari Kemuning.
" Marilah kita mulai dan sebaiknya kita latihan nya di dekat sendang saja,!" kata Raka Senggani.
Kelima orang itu kemudian berjalan menuju sendang yg dekat dengan hutan, dahulu tempat itu merupakan sarang dari Singo Lorok.
" Karena kakang Jati andara dan Kakang Witangsa telah memiliki dasar -dasar ilmu bela diri, dan kalian berdua pun berniat untuk menjadi prajurit, jadi latihan kali ini, kalian berdua harus berlatih terpisah dengan Sari Kemuning dan Dewi Dwarani,!" jelas Raka Senggani.
" Terserah Senggani saja,!" ucap Japra Witangsa.
" Baik kalau begitu, untuk kakang Andara dan Witangsa lakukanlah latihan dengan bertarung antara kalian berdua, nanti Senggani akan melihat dimana kurang dan lebihnya dari gerak kalian berdua itu,!" jelas Raka Senggani.
" Lalu kami berdua hanya menonton saja Kakang Senggani,?" tanya Sari Kemuning.
__ADS_1
" Untuk kalian berdua, lakukanlah gerakan yg malam tadi Senggani ajarkan,!" terdengar perintah dari Raka Senggani.
" Baiklah kakang ,!" jawab Sari Kemuning.
Sementara itu, baik Jati andara maupun Japra Witangsa tengah bersiap untuk melakukan pertarungan.
Setelah isyarat di berikan oleh Raka Senggani, maka kedua pemuda desa Kenanga itu segera bertarung dengan gesit nya.
Pertama -tama Jati Andara yg memberikan pukulan dengan tangan kanan nya, kemudian di tengkis oleh Japra Witangsa dengan tangan kirinya, selanjutnya Jati Andara memberikan tendangan dengan kaki kirinya , dibalasi oleh Japra Witangsa dengan mengangkat kaki kanannya, pertarungan terlihat berjalan lambat.
Akan tetapi ketika peluh mulai membasahi tubuh kedua orang itu, maka gerakan mereka pun semakin cepat.
Keduanya seperti sedang bertarung dengan musuh yg sesungguhnya ,namun tiba -tiba Raka Senggani menghentikan latihan kedua orang itu.
" Berhenti, tahan sampai disitu,!" ucap Raka.
" Mengapa dihentikan Senggani,?" tanya Japra Witangsa.
" Disini letak kesalahan kalian berdua, seharusnya kakang Andara, memberikan tusukan dengan siku, selanjutnya kepalan tangan kakang Andara teruskan dengan memukul kepala kakang Witangsa, sementara kakang Witangsa seharusnya menutup pukulan dari kakang Andara sambil meneruskan pukulan dengan tangan kiri, kalau itu pun gagal, kakang Witangsa dapat memberikan tendangan untuk menahan serangan dari kakang Andara,!" jelas Raka Senggani.
" Kakang berdua harus lebih cepat tanggap dengan gerakan lawan, jangan sampai hilang kewaspadaan dari setiap yg dilakukan oleh lawan kita, " ucap Raka Senggani lagi.
" Dan mulai hari ini Senggani akan mengajarkan pengungkapan tenaga dalam, kakang berdua telah belajar bagaimana untuk mengerahkan tenaga dalam itu,?" tanya Raka Senggani.
" Belum Senggani, Romo belum pernah mengajarkan bagaimana cara mengerahkan tenaga dalam,!" jawab Japra Witangsa.
" Sama , adi Senggani, Romo tidak pernah mengajarkan bagaimana cara mengerahkan tenaga dalam itu,!" kata Jati Andara.
" Baik, karena kakang berdua telah memiliki dasar -dasar ilmu bela diri yg sudah cukup lumayan, Senggani akan mulai mengajarkan ilmu tenaga dalam itu,!" seru Raka Senggani.
" Kalau kami berdua apa yg harus kami lakukan selanjutnya,?" tanya Sari Kemuning kepada Raka Senggani.
" Untuk sementara kalian berdua beristrahat lah atau dapat melihat bagaimana kakang Andara dan Witangsa berlatih,!" jawab Raka Senggani.
" Baik Guru,!" jawab Sari Kemuning.
Dengan tersenyum-senyum ia mengatakan hal itu.
Namun Raka Senggani tidak me:mperdulikan tingkah dari Putri Jagabaya itu.
Ia terus memberikan arahan kepada kedua orang paling berpengaruh di desa Kenanga itu.
Raka Senggani mulai mengajarkan bagaimana cara untuk mengungkapkan tenaga dalam.
Ia mempersilahkan kedua nya untuk duduk bersila dan mulai mengatur jalan pernafasan, selanjutnya mengerahkan seluruh tenaganya kepada satu titik yaitu tangan, dan apa yg diajarkan oleh Senopati Pajang itu dilaksanakan oleh Andara dan Witangsa.
Pada awalnya mereka belum mampu untuk mengungkapkan tenaga dalam nya itu. Sehingga terlihat kedua orang itu letih dan mulai bosan.
" Baik kakang berdua, mungkin hari ini cukup sampai disini, kalaupun dipaksakan tentu kalian berdua akan tidak bersemangat lagi, besok kita lanjutkan lagi, tetapi perbaiki terus tata gerak kalian itu, semakin diperhalus dan dipercepat, sehingga lawan akan sulit untuk menebak gerakan kita,!" jelas Raka Senggani.
Kemudian Senopati Brastha Abipraya itu beralih kepada kedua orang perempuan yg merupakan adik dari Witangsa dan Andara.
" Untuk Kemuning dan Dwarani, coba tunjukkan kepadaku, gerakan yg telah kalian latih itu,!" perintah Raka Senggani.
" Baik guru,!" jawab Sari Kemuning.
Kedua gadis itu kemudian memperagakan dari apa yg telah diajarkan oleh Raka Senggani.
__ADS_1
Tetapi kegiatan kelima orang itu tengah dipantau oleh seseorang yg sedang bersembunyi di sebuah pohon yg cukup tinggi dan berdaun rimbun. Ia dengan seksama memperhatikan kegiatan itu.
" Tampaknya Senopati Pajang itu akan membentuk suatu pendidikan di desa Kenanga ini, jika ia berhasil tentu sangat sulit untuk masuk kemari,!" kata orang tersebut dalam hati.