Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 23 Petualangan. bag ke tujuh.


__ADS_3

Setelah di persilahkan masuk oleh penjaga rumah sang saudagar Hang Adin.


Keempat orang dari Demak itu pun masuk ke dslam bilik tersebut.


Begitu tiba di dalam , semuanya takjub dengan keadaan bilik yg besar dan terkesan mewah, banyak perabotan nya yg berasal dari negeri turki.


Entah itu lampu , maupun alas lantai nya, suasana malam di tanah melayu tidak terasa di dalam rumah milik saudagar Hang Adin ini.


Sang pemilik rumah langsung menambut tamunya dan mempersilahkan mereka untuk duduk.


Semuanya duduk di sebuah kursi yg juga terbuat dari kayu jati, dan seprtinya di kirim dari tanah jepara.


" Sialahkan, silahkan,.maaf atas penyambutanku yg kurang berkenan dengan saudara semua ,.." ucap Hang Adin.


Lelaki paruh baya , bertubuh agak gemuk dengan berpakaian melayu , memakai baju teluk belanga berwarna hijau pupus dipadankan dengan celana gombrang nya.


Sementara kain sarung yg melilit pinggangnya terbuat dari kain merah bersulamkan benang emas.


Di atas kepala nya memakai penutup kepala yg berbentuk kerucut yg ujungnya menjuntai ke bawah.


Wajah nya yg putih bersih memiliki kumis ,.membuat penampilan Saudagar asal kota Melaka ini nampak gagah.


Ia p mengambil tempat duduk , dan diantara mereka ada meja yg memisahkan.


Saudagar kaya raya dari Kota Melaka ini membuka pembicaraan dengan menanyakan keselamatan dari ke empatnya.


Terutama nya untuk ketiga nya, karena dengan Kj Lurah Lintang Panjer Suruf ia sudah kenal.


" Kami di Melaka ini sudah tidak tahan lagi dengan sikap para penjajah itu, dan sangat berharap banyak kepada Senopati Sarjawala untuk mampu mengusir mereka dari sini,.." terang Saudagar Hang Adin.


Saudagar kaya raya ini mengatakan bahwa mereka sangat menderita dengan sikap bangsa asing ini, yg telah memeras mereka dengan sangat sewenang wenang. Seluruh penghasilan dari hasil bumi tanah Melayu ini harus di serahkan kepada mereka.


Kalau tidak, mereka akan berhadapan dengan para prajurit mereka yg memiliki senjata yg cukup mengerikan , jika meletus , yg terkena akan segera meregang nyawa dengan tubuh tembus berlobang.


Belum lagi meriam mereka yg cukup banyak dan terpasang di beberapa tempat terutama di atas perbukitan ,. jika mereka melepaskan nya akan hancur lah satu desa , jelas Saudagar Hang Adin.


" Saudara saudara ku, semuanya, saat ini mereka pun telah memiliki sebuah meriam yg sangat besar dan dinamai dengan sebutan meriam Esfera,..tampaknya ini mereka persiapkan untuk menghadapi demak,.." katanya lagi.


Empat orang utusan dari Kerajàan Demak ini sangat terkejut mendengarnya , terlebih buat Ki Lintang Panjer Suruf, yg pernah ikut berperang melawan bangsa asing ini, ia sudah merasakan bagaimana hebatanya persenjataan musuh waktu itu,..sangat hebat.


Pasukan Demak yg di pimpin oleh Pangeran sabrang Lor yg kini telah menjadi Sultan Demak yg kedua, tidak mampu untuk mengalahkan mereka, beruntung pada saat itu kapal Jung besar milik dari sang Senopati Sarjawala itu tidak berhasil di tembus meriam musuh sehingga , Sang Wong Agung itu masih selamat kembali ke Demak walau menelan kekalahan.


Jika kini mereka telah mempersenjatai dengan meriam yg lebih besar lagi, ini merupakan pertanda buruk untuk pasukan armada Demak itu.


" Saudara Hang Adin,..apakah para prajurit dari Melaka ini tidak dapat di pakai untuk menekan mereka dari arah darat ini,..?" tanya Senopati Bima Sakti.


Saudagar Kaya raya yg bernama Hang Adin ini menarik nafasnya dalam dalam,..ia merasakan sulit untuk berbicara yg sebenarnya atas pertanyaan dari Senopati Demak itu.


Saudagar Hang Adin bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu dari biliknya.


Dan kemudian ia membentangkan sebuah surat yg terbuat dari kulit binatang , kemudian ia membacakan nya.


" Jika para penduduk kota Melaka ini berani bertindak untuk menyerang pasukan kami,.kami tidak akan segan segan mengahancurkannya dengan menggunakan meriam kami ini sampai rata dengan tanah "


Demikian lah bunyi surat ancaman yg telah di buat oleh bangsa portugis itu.


Dan akibatnya , para penduduk kota Melaka ini tidak ada yg berani lagi untuk melawan mereka, di tambah ,..banyak nya pengkhianat di sini,..jadi untuk menyatukan para penduduk kota menjadi sangat sulit untuk di lakukan,..terang Saudagar Hang Adin.


Raka Senggani yg mendengar penjelasan dari Saudagar Hang Adin menjadi paham dengan keadaan dari kota pelabuhan Melaka itu.


" Sehingga kami sangat berharap kepada Senopati Sarjawala untuk dapat membalaskan kekalahan nya tempo hari ,.dengan sebuah kemenangan, tentu kami amat berterima kasih sekali jika hal itu benar -benar terjadi,.." ungkap Saudagar Hang Adin lagi.


Tetapi utusan dari Kerajàan Demak ini merasakan sesuatu yg sangat sulit untuk di wujudkan , karena persenjataan mereka kalah jauh dengan musuh, belum lagi di tambah meriam yg sangat besar,..mereka harus berpikir dua kali untuk melakukan hal ini.


" Begini saudara Hang Adin,..kami yg merupakan utusan dari Senopati Sarjawala memang berniat akan melihat peralatan dan persenjataan musuh yg cukup membuat ngeri itu,..baru setelah nya akan menentukan langkah -langkah selanjutnya,.." jelas Senopati Bima Sakti.

__ADS_1


" Akan tetapi kami sangat berharap banyak kepada saudara panglima untuk dapat membantu kami,..jika tidak ,.. kemungkinnanya kami harus pindah dari sini, sebelum mereka akan memaksakan keinginan nya untuk mengikuti ajaran agama mereka itu,..jika kelak mereka tidak dapat di usir dari tanah kami ini,.." ungkap Hang Adin lagi.


Dari ucapannya terkesan bahwa mereka memang cukup tertindas dengan penjajahan yg telah di lakukan oleh bangsa asing, bangsa portugis ini.


Mereka dapat melihat dari kesungguhan nya memohon bantuan dari Demak itu.


Akan tetapi , mereka bukan datang untuk mengambil keputusan melainkan melihat dekat dengan keadaan disini di tanah Melaka ini dari segi kekuatan prajuritnya dan persenjataannya.


Namun semua keputusan di tangan sang Sultan sendiri.


" Saudara Hang Adin, kami datang ke melaka ini bukan untuk mengambil keputusan , tetapi sesuai tugas kami,..datang kemari untuk melihat dari dekat kekuatan musuh,..baik dari banyak nya prajurit maupun dari senjatanya, seperti yg telah saudara katakan tadi bahwa mereka telah mempersenjatai dengan meriam yg lebih besar lagi, ini akan menjadi bahan pettimbangan tersendiri untuk Kanjeng Gusti Sultan Demak,..kami amat berterima kasih atas pemberitahuan ini, " ungkap Senopati Bima Sakti.


Dan sang Senopati melihat ke arah Saudagar Hang Adin,..yg nampak kurang bergembira dengan ucapan nya tadi.


Senopati Bima Sakti kemudian melanjutkan lagi ucapan nya,..


" Akan tetapi ,..tampaknya Kanjeng Senopati Sarjawala yg kini telah menjadi Raja di kerajaan Demak,, tetap akan membantu kota Melaka ini,.. karena ia telah menunjukkan keseriusannya untuk mengutus kami kemari , bahkan persiapan yg sangat matang dari armada pasukan Demak yg telah di lakukan nya,..cukup lama,..mungkin dirinya masih sangat penasaran dengan kekalahannya waktu itu,.." terang Raka Senggani.


Ucapan nya itu langsung membuat Saudagar Hang Adin berubah , ia berseru,..


" Benarkah hal itu, saudara Panglima,..?" tanyanya.


Raka Senggani menganggukkan kepalanya,..memang ia melihat bahwa Junjungan nya itu tidak akan mengurungkan niatnya menyerang Kota Melaka guna mengusir bangsa penjajah itu.


Mendengar semua apa yg telah di ucapkan oleh Senopati Bima Sakti,.. Saudagar Hang Adin segera menjamu ke empat tamunya yg berasal dari Kerajaan Demak ini, Kerajaan yg berada di seberang lautan yg di harapkan dapat membantu masalah mereka mengenai kekuasaan dari bangsa penjajah itu.


Saudagar Hang Adin mempersiapkan bilik untuk ke empat tamunya,..agar mereka dapat beristrahat dengan tenang di kota Melaka ini.


Karena memang malam sudah sangat larut, keempatnya segera beristrahat di dalam biliknya yg telah di sediakan oleh pihak tuan rumah.


Malam itu sampai pagi, tidak terjadi apa pun di rumah yg sangat besar itu.


Pada keesokan harinya , barulah mereka berjalan jalan di kota Melaka ini.


Itu di lakukan mereka agar dapat melihat keadaan yg sebenarnya. Dan Raka Senggani dan Sari Kemuning,..berjalan menuju sebuah benteng pertahanan bangsa portugis yg berada di dekat tepi laut.


Senopati Bima Sakti sangat takjub melihatnya, memang sangat besar dan sangat tinggi , ada empat pintu gerbang dari empat arah mata angin.


Benteng yg di beri nama dengan benteng A famosa.


Oleh bangsa portugis di beri nama La Forteza.


" Kemuning, sepertinya akan sangat sulit mengalahkan mereka, apakah dirimu ingin masuk ke dalam,?" tanya Senopati Bima Sakti itu.


Putri Ki Jagabaya ini kemudian menatap ke arah suaminya, ia merasa tidak mungkin untuk masuk, karena prajurit nya terlalu banyak melintas di daerah tempat itu.


Dari perawakan nya saja sudah tampak sangat menyeramkan , dengan tubuh yg tinggi dan besar. bahkan senjata yg sangat berbeda dengan mereka.


" Kang,..tidak mungkin kita masuk kesana,.. mereka terlalu banyak jumlahnya,..nanti kita dapat mereka tangkap,.. akan sulit untuk keluar nya,.." jawab Sari Kemuning.


Dan Raka Senggani tidak memaksakan keinginan nya, mereka hanya melihat lihat saja. Agak lama mereka berada disana. Bahkan ia sempat melihat ke arah menara yg tinggi dan terdapat banyak prajurit yg menjaganya.


Setelah dari sana, kemudian mereka berjalan jalan di kota Melaka lagi,


Senopati Bima Sakti memang merasa bahwa kekuatan dari para prajurit asing itu sangat besar dan kuat , dengan persenjataan nya yg lengkap , bahkan meriam yg sangat besar seperti yg di katakan oleh saudagar Hang Adin ia belum melihatnya. Namun ketika dilihatnya ada meriam meriam yg berukuran sedang yg terdapat di lobang lobang benteng pertahanan itu.


Senjata mereka siap diarahkan ke arah laut, terhadap kapal kapal musuh yg akan mendekat.


Ketika mereka sudah jauh dari benteng pertahanan itu,..Raka Senggani kemudian berkata,..


" Kemuning ,..kakang sangat penasaran dengan meriam yg sangat besar menurut ucapan dari Saudagar Hang Adin itu,. kakang ingin melihatnya sendiri,.." ucap Raka Senggani.


" Sudahlah Kang,.. kakang jangan melakukan hal tersebut,..sangat berbahaya,.." sahut Sari Kemuning.


Raka Senggani terdiam mendengar ucapan istrinya , memang ada benarnya , namun rasa penasaran memang masih menggebu, untuk melakukan hal itu.

__ADS_1


Ketika mereka berada di sebuah pasar yg ada di kota Melaka ini,. keduanya segera berbelanja.


Namun tanpa di sadari oleh mereka berdua , ada dua orang yg tengah memperhatikan kedua orang Demak ini.


" Datuk,..apakah memang benar,..mereka itu berasal dari Demak,..?" tanya seseorang kepada teman nya.


" Sepertinya memang benar,..tetapi tampaknya mereka hanya berdua saja, padahal,.menurut beritanya mereka itu ada empat orang ,." jawab orang yg di panggil datuk itu.


Tampaknya kedua nya memang ingin mengetahui siapa kedua orang yg ada di pasar itu.


Ketika Sang Senopati dan istrinya telah berjalan meninggalkan tempat itu , keduanya mengikuti dari belakang.


Dan Raka Senggani segera mengetahui bahwa ada dua orang yg tengah mengikuti mereka, ia pun segera berbisik kepada sang istri,..


" Kemuning , ada yg tengah mengikuti kita, apa maksudnya,..?"


Sari Kemuning kemudian menoleh ke belakang ,dan di lihatnya,. memang ada dua orang yg membuntuti mereka.


Salah seorang,.berpakaian cukup mewah, dan yg seorang lagi,..tampak berbadan kurus dengan berpakaian serba hitam.


Ketika Sari Kemuning melihat nya, kedua orang itu, terlihatlah sedang berpaling ke arah lain.


Kemudian Sari Kemuning melihat ke depan lagi, dan tetap berjalan seperti biasanya, sedang tidak terjadi apa -apa.


Namun Raka Senggani sangat penasaran dengan keduanya,..ia pun membawa arah jalan yg agak sepi.


Ada keinginan nya untuk mengetahui siapa sesungguhnya mereka itu.


Dan begitu mereka berada di tempat sepi, Raka Senggani segera bergerak cepat ,. karena melihat keduanya tetap saja masih mengikuti mereka.


" Hufffhh,.."


Tanpa mengatakan apa -apa terhadap sang istri,..ia segera melompat untuk bersembunyi,..dan segera keluar dari sana, dan langsung menegurnya,..


" Hehh,..siapa kalian ini, apa maksud kalian mengikuti kami,..?" tanya Raka Senggani.


" Hehh,.."


Keduanya sangat terkejut setelah mereka menyadari bahwa orang yg telah mereka ikuti itu, ternyata berada di belakang nya,..mereka tidak melihat kapan orang tersebut berpindah tempat.


" Apakah kalian berdua ini adalah orang orang dari negeri sebrang,..?" tanya orang yg berpakaian mewah itu.


" Kalau iya kenapa, dan kalau tidak kenapa ,..?" tanya Raka Senggani balik.


Senopati Bima Sakti ini sangat geram melihat kedua nya. Walaupun sebenarnya ia tahu saat ini dirinya tidak sedang berada di kekuasaan kerajaan Demak melainkan di tanah melayu.


" Ha, ha ha, ternyata memang kalian ini berasal dari negeri seberang, dari logat bicaramu , kau bukan lah orang Melaka ini,."


Orang yg berpakaian mewah itu tertawa setelah mengenali gaya bicara sang Senopati, yg tidak mencerminkan bahasa dari penduduk setempat.


" Kalau memang kami bukan Orang sini, kalian mau, apa, apakah yg ingin kalian lakukan terhadap kami,..?" tanya Raka Senggani lagi.


" Bagus,...saya nak coba kebolehan orang -orang dari negeri seberang yg katanya memliki kesaktian yg sangat hebat, apakah memang demikian,..?" tanya orang itu lagi.


" Silahkan,. kalau memang itu keinginan mu, " jawab Raka Senggani.


Ia pun maju beberapa langkah mendekati kedua orang itu.


Dari jarak I hanya enam langkah saja , Senopati Bima Sakti ini berhenti, ia menatap Keduanya dengan tatapan yg sangat tajam , seolah -olah ingin mengukur kemampuan dari keduanya.


Sementara kedua orang itu pun bersiap, orang yg berpakaian mewah itu memberikan isyarat kepada temannya dan,..


" Ciaaat ,.."


Langsung saja orang yg berpakaian serba hitam itu menyerang Senopati Bima Sakti yg berdiri tegak di hadapan nya.

__ADS_1


__ADS_2