
Sebelum ketiga sampai di rumah yg mereka tuju.
Ketiga nya melihat seorang pemuda tengah berdiri di sebuah batang pohon.
Pemuda itu menggunakan topi caping seperti hendak pergi ke sawah. Tetapi ia masih tetap berada di tempatnya ketika ketiga orang itu melintasinya.
Raka Senggani sempat menoleh ke arahnya,.dilihatnya seraut wajah tampan di bawah topi caping tersebut.
Entah mengapa semacam ada rasa ingin tahu dengan sosok pemuda yg ada di bawah pohon itu. Tetapi niat senopati Pajang itu di urungkannya,..sebab mereka sudah tidak jauh lagi dari rumah orangtua Andini tersebut.
Memasuki halaman rumah yg berpagar tidak terlalu tinggi itu ketiganya langsung menuju ke pintu rumah tersebut.
Kemudian kali ini,..Dewi Dwarani lah yg mengucapkan salam,..memanggil orang yg berada di dalam rumah tersebut .
Dan yg menjawab kali ini adalah seorang perempuan.
Sesosok perempuan segera keluar,..walaupun usianya sudah tidak muda lagi,. perempuan itu masih terlihat sangat cantik.
" Siapa,..Ya,..?" tanya perempuan itu.
Ketika dilihatnya ada tiga orang asing yg berada di depan rumahnya itu.
" Kami adalah teman dari Andini,.. Apakah benar ini adalah rumahnya,..?''. tanya Dewi Dwarani.
" Benar,..ini adalah rumah Andini,..anak ini siapa ya,..?" tanya Perempuan itu.
" Perkenalkan nama saya adalah Dwarani,.. Dewi Dwarani,..Bi,.dan bibi ini apakah ibu dari Andini,..?" tanya Dewi Dwarani lagi.
" Ya,..saya adalah ibu dari Andini..ada perlu apa dengan anak saya tersebut,..?" tanya Perempuan itu.
Sambil menatap lekat -lekat pada Dewi Dwarani.
Perasaan,.. tidak ada teman Andini yg bernama Dwarani,.. siapakah gerangan orang ini,..berkata dalam hati perempuan itu.
" Saya adalah temannya dan ingin berjumpa dengan Andini,..apakah dia ada di rumah,..?" tanya Dewi Dwarani.
Perempuan yg mengaku sebagai ibu dari Andini itu segera menggelengkan kepalanya seraya berkata,..
" Sayang sekali,.. Andini tidak ada di rumah,..ia sedang berada di Madiun bersama,..eyangnya,..apakah ada yg sangat penting sehingga harus bertemu dengan nya,..Nak,..?" tanya perempuan itu lagi.
" Iya bi,..saya ingin ikut dengan nya,.. dapat bekerja di Madiun,.." ucap Dewi Dwarani berbohong.
" Sayang sekali,..Nak,..mungkin anak harus ke Madiun jika ingin bertemu dengan nya,." kata perempuan itu.
" Apakah bibi tinggal sendiri di rumah ini,..?" tanya Dewi Dwarani tiba -tiba.
" Tidak ,..bibi tinggal bersama anak bibi yg sulung,..!" jawab nya.
" Apakah ia adalah kakang Dhepara,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Benar,..nak,.." jawab ibu Andini itu.
" Dimana ia sekarang,..?" tanya Dewi Dwarani.
" Di sawah,..baru saja ia berangkat,..mungkin anak tadi berpapasan dengan nya,.." jawab nya.
" Boleh tahu kami,..sawahnya ada dimana,..Bi,..?" tanya Dewi Dwarani lagi.
" Sawah kami tidak jauh dari belakang rumah ini,..jika anak ingin kesana,..jalan terus ke belakang dan ketika bertemu petak sawah pertama,.. itulah sawah kami,.." jelas perempuan tersebut.
" Baiklah Bi,..kami akan coba menemui kakang Arya Radhepara,..di sawah,.." kata Dewi Dwarani.
" Silahkan,..silahkan,.." kata perempuan itu.
Segeralah ketiganya berlalu pergi dari rumah tersebut,..mereka bertiga menuju tempat yg telah di tunjukkan oleh ibu dari Andini itu.
" Kang,.. apakah orang yg berpapasan dengan kita tadi itulah Arya Radhepara,..?" tanya Dewi Dwarani.
Pertanyaan yg di tujukan kepada senopati Pajang itu segera di sahuti oleh Japra Witangsa.
" Mungkin memang orang itulah ,..Arya Radhepara,..Rani,.." kata Japra Witangsa.
" Mulai dari sini kita harus berpencar,..agar dapat segera menemukan orang tersebut,.." ucap Senopati Brastha Abipraya.
__ADS_1
" Mengapa harus berpencar ,..adi Senggani,..?" tanya Japra Witangsa heran.
" Iya,.kang,..mengapa kita harus berpencar,..bukankah kita akan menemuinya secara langsung,..?" Dewi Dwarani pun menanyakan hal itu.
Kemudian Senopati Pajang itu berbisik kepada keduanya ,..bahwa ia menangkap ada yg lain pada diri pemuda itu,..jadi menurut nya,..mereka harus dapat menemui orang tersebut.
Ketiganya terus berjalan ,..dan memang tidak terlalu jauh dari rumah Andini itu nampaklah petak sawah yg telah di tumbuhi tanaman padi. Padi -padi itu mulai berbuah.
Dan ketiganya pun segera berpencar,..Japra Witangsa dari arah Timur yg berbatas pada sebuah hutan sedangkan Raka Senggani dari arah barat,..adapun Dewi Dwarani berjalan lurus.
Putri ki Bekel itulah yg pertama kali naik ke atas tanggul pematang sawah. Dan di lihatnya tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah gubuk.
Dan di dalam gubuk yg tidak memiliki dinding itu terlihatlah duduk seseorang yg tengah membersihkan paculnya.
Perlahan Putri Ki Bekel itu berjalan di atas pematang sawah menuju tempat itu.
Namun alangkah terkejutnya Dewj Dwarani,..ketika orang yg tengah duduk itu melihatnya berjalan menuju ke arah nya,..secara tiba -tiba orang tersebut melarikan diri dengan meninggalkan cangkul nya.
" He,.. tungguuuu,.." teriak Dewi Dwarani.
Ia berusaha mengejarnya,..namun kalah cepat dengan orang tersebut,..entah memang karena orang tersebut memiliki kemampuan lari cepat yg tinggi atau ia memang lebih menguasai daerah tersebut,..singkat saja ia telah menghilang masuk ke dalam hutan.
Japra Witangsa yg lebih dekat ke hutan segera melihat ada seseorang yg berlari masuk segera menyusul orang tersebut,...dan yg paling belakang adalah Raka Senggani.
Senopati Pajang itu memang melihat dari kejauhan bahwa Dewi Dwarani sedang mengejar seseorang,..maka iapun,..dengan cepat menuju ke arah situ. Walaupun ia telah mengerahkan seluruh kemampuan nya sehingga laksana terbang saja ia melintasi di tanah persawahan itu,.. diatas tanaman padi yg sudah berbuah tanpa ada satupun yg terinjak. tetapi tetap saja ketiganya kehilangan jejaknya.
Setelah Japra Witangsa keluar dari dalam hutan tersebut,. langsung Senopati Pajang itu bertanya,
" Kakang Witangsa menemukan nya,..?" tanya nya.
" Tidak,..orang tersebut sangat cepat menghilangnya ,..seperti setan saja larinya,..ia sangat memahami daerah ini,..sehingga sangat sulit untuk menyusul nya,..!". jawab Japra Witangsa.
" Bagaimana ini kakang Senggani,..apa yg harus kita lakukan, .?" tanya Dewi Dwarani.
" Sebaiknya kalian kembali,..biar Senggani saja yg coba masuk ke dalam hutan ini,.. siapa tahu masih ada jejak yg dapat diikuti dari orang tersebut,.." ucap Raka Senggani.
" Jadi kami harus kemana,..Kakang,..apakah menunggumu disini,..?" tanya Dewi Dwarani lagi.
Kedua orang itu agak bingung untuk mencari tempat guna menunggu Senopati Pajang itu kembali.
" Jangan,..kalian jangan menunggu Senggani disini,..sebaiknya kalian ke rumah Ki Bekel,..korek keterangan dari Bekel tersebut tentang keluarga Andini ini,.. apakah ia pernah melihat gadis itu datang kemari dalam waktu dekat ini,.." ungkap Raka Senggani.
" Baiklah kita bertemu di rumah Ki Bekel,." jawab Dewi Dwarani.
Kemudian ketiganya berpisah,..Raka Senggani langsung masuk ke dalam hutan yg berbatas langsung dengan tanah persawahan tersebut.
Ia segera berlompatan di atas pepohonan guna mencari orang itu,..karena dengan begitu ia dapat melihat ke bawah,..dan suara langkah kakinya pun tidak akan terdengar.
Semakin dalam ia mamasuki hutan tersebut,..semakin rapat pepohonan nya. Cukup lama ia mencari orang tersebut,..bahkan aji Panggraita nya pun di kerahkan untuk menelusuri kemana perginya orang itu namun nihil hasilnya,..ia tidak menemukan apa -apa,..bahkan ia mulai memanjat pada ketinggian dari kaki gunung klotok tersebut.
Hehh,.. apakah orang itu naik ke atas gunung ini,.. Tanya Raka Senggani dalam hati.
Memang sesuatu pencarian yg agak sulit,..dimana medan nya pun cukup sulit untuk di lalui,. beruntung dirinya memiliki kemampuan peringan tubuh yg hampir sempurna,..sehingga dengan mudah nya ia bergerak.
Sampai menjelang sore,.. Senopati Pajang itu berada di dalam hutan yg ada di kaki gunung Klotok itu,..tetapi ia tidak berhasil menemukan orang tersebut.
Atau,..ada suatu tempat tersembunyi yg diriku tidak mengetahui nya,. pikir Raka Senggani lagi.
Senopati Pajang itu memutuskan untuk kembali ke dukuh Ringin.
Siapa tahu Ki Bekel dapat memberi petunjuk tentang tempat -tempat rahasia yg ada di dalam hutan ini,..katanya lagi.
Ia segera melesat meninggalkan tempat itu dan langsung menuju rumah Ki Bekel Pedukuhan Ringin.
Sampai disana ,...hari hampir malam,.. karena ia cukup lama berada di dalam hutan tersebut.
Kedatangan nya langsung di sambut oleh Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.
Kedua orang itu terlihat sudah rapi dan bersih,.
" Bagaimana kakang,.. apakah kakang Senggani menemukan orang tersebut, ?" tanya Dewi Dwarani.
Raka Senggani menggeleng,.sambil berkata,..
__ADS_1
" Mungkin ada suatu tempat yg tersembunyi yg kita tidak tahu dimana letaknya dalam hutan tersebut,." kata Raka Senggani.
" Dan Bagaimana dengan kalian,..apakah ada seauatu yg kalian dapatkan dari Ki Bekel,..?" tanya Raka Senggani balik.
" Ada,..namun sebaiknya kakang Senggani membersihkan tubuh dahulu,.kami tunggu di pendopo rumah Ki Bekel,..agar kita dapat berbicara lebih leluasa dengan Ki Bekel sendiri,.." jawab Dewi Dwarani.
" Baiklah kalau begitu,..tunggu Senggani,..jangan sampai diriku tidak kalian bagi makanan nanti,.." kata Raka Senggani.
Dengan nada berseloroh,.. Senopati Pajang itu pun berlalu ke belakang rumah Ki Bekel.
Sementara itu malam mulai menyelubungi dukuh Ringin tersebut.
Suasana yg gelap dan dingin segera menghampiri pedukuhan tersebut. Dan Raka Senggani pun dengan cepat menyelesaikan mandinya,..ia tidak terlalu lama berada di pakiwan,..karena udara dingin yg cukup menusuk tulang.
Selesai melaksanakn perintah yg Maha Kuasa,.ia kemudian duduk di pendopo rumah Ki Bekel itu.
Namun kemudian Bekel pedukuhan Ringin itu mengajak makan bersama kepada para tetamunya itu.
Terlihat penyambutan agak lain dari yg dilihat oleh Raka Senggani pada waktu mereka pertama kali tiba di tempat itu.
Namun ia belum berani menanyakn hal itu kepada kedua orang temannya,..Japra Witangsa dan Dewi Dwarani.
Baru setelah selesai makan ,.ketika mereka bertiga tengah duduk di atas pendopo di saat Ki Bekel belum ada .
Raka Senggani menanyakan hal itu kepada keduanya,.
" Senggani lihat Ki Bekel agak lain kali ini,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar,..Kang,..kami tadi bersama kakang Witangsa telah menyatakan maksud sebenarnya datang kemari dengan berkata jujur,..bahwa kita datang kemari adalah untuk mencari Sekar Kedaton Madiun yg telah menghilang beberapa hari yg lalu,..!". jawab Dewi Dwarani.
"Oo,..pantaslah,.." seru Senopati Pajang itu.
Ia memang melihat ada rasa hormat pada diri Ki Bekel itu,.sementara siang tadi ia tampak acuh tak acuh.
" Dan berita apa yg telah kalian dapatkan darinya,..?". tanya Raka Senggani lagi.
" Biarlah kita menunggu Ki Bekel saja yg akan menjelaskan nya,..". jawab Dewi Dwarani lagi.
Dan tidak berapa lama kemudian Pemimpin pedukuhan itu segera bergabung dengan ketiganya.
Ia langsung berkata,..
" Maaf sebelumnya atas kelancangan kami,.. karena kami tidak menyambut kalian sebagai utusan dari Kadipaten Madiun,..dan ingin mencari tahu keberadaan dari Putri Sekar Kedaton itu,.." ungkap Ki Bekel.
Dari sorot matanya menyiratkan rasa penyesalan karena bertindak kurang hormat terhadap utusan dari Adipati Madiun itu.
" Tidak apa -apa,..Ki Bekel,..karena memang sebenarnya kami harus menyembunyikan jati diri kami yg sesungguhnya,.ini berkaitan dengan tugas yg sedang kami jalankan,..". jawab Raka Senggani.
Senopati Pajang itu kemudian menyambung ucapannya,..
" Mohon maaf sebelumnya,..Ki Bekel,..apakah pedukuhan Ringin masih masuk dalam wilayah Kadipaten Madiun atau Kadipaten Kediri,.?" tanyanya lagi.
" Sebenarnya lah ,, pedukuhan ini masih masuk dalam wilayah Kadipaten Kediri,..akan tetapi ,..kami lebih sering berhubungan ke Madiun,..terlebih lagi alas perburuan dari para bangsawan Kadipaten Madiun tidak terlalu jauh dari sini,..sehingga kami sering bertemu dengan para pembesar Kadipaten Madiun itu,..". jawab Ki Bekel.
Kemudian Dewi Dwarani meminta kepada Ki Bekel dukuh Ringin itu untuk menceritakan apa saja yg di ketahuinya dengan keluarga Andini itu,..emban dari Putri Sekar Kedaton tersebut.
" Begini angger semua,..memang beberapa hari yg lalu ada seseorang yg telah melihat angger Andini itu berada di sini,..tepatnya ada di sawah mereka,..akan tetapi ia terlihat hanya pada sekali itu saja,..memang keluarga Nyi Wiyatsih itu agak tertutup,..sehingga kami pun agak kurang dekat dengan beliau, .!" jelas Ki Bekel.
" Agak tertutup bagaimana Ki Bekel,..?" tanya Raka Senggani penasaran.
Sambil menghela nafas nya Bekel Dukuh Ringin itu kemudian menjelaskan,..
" Ya,..keluarga Nyi Wiyatsih,..ibunda angger Andini itu memang tertutup,..ketika beliau semasa mudanya adalah Kembang dukuh Ringin ini pergi merantau cukup lama Ke kediri,..dan kemudian kembali dengan membawa dua orang anak yg sudah menginjak remaja,.dan sampai saat ini kami tidak tahu siapa ayah dari kedua anaknya itu,.." terang Ki Bekel.
Raka Senggani mengangguk -anggukkan kepalanya,..ini artinya ada sebuah meisteri dari keluarga Nyi Asih itu,..seorang kepala pelayan dalam kaputren Madiun itu.
" Jadi sampai saat ini Ki Bekel tidak tahu siapa ayah dari Andini dan Radhepara itu,..begitu Ki,..?". tanya Raka Senggani lagi.
" Benar Ngger,..banyak orang yg menyebutkan bahwa suami dari Nyi Wiyatsih itu adalah seorang bangsawan Kediri,..tetapi ia tidak mau menerima Nyi Wiyatsih dan anak nya itu di dalam lingkup keraton Kediri,..sehingga mereka harus kembali kemari,..!" jelas Ki Bekel lagi.
" Tetapi mengapa ketika usia anak nya itu telah remaja baru kembali kemari,..mengapa tidak sedari awal ia di pulangkan kemari,.? tanya Raka Senggani lagi.
" Aki tidak tahu Ngger,..mungkin Nyi Wiyatsih itu adalah Garwa ampil dari bangsawan tersebut,..dan dari beberapa orang yg pernah ke Kediri menyebutkan bahwa bangsawan itu telah meninggal dunia,..dan mereka di usir oleh istri syah dari bangsawan tersebut,..sehingga harus kembali kemari,.." terang Ki Bekel.
__ADS_1
" Jadi Ki,..sawah yg ada di belakang rumah nya itu adalah sawah mereka,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Iya,.. Ngger,..semasa masih di Kediri,..Nyi Wiyatsih banyak membeli sawah di dukuh Ringin ini,.sehingga beliau cukup banyak memiliki harta dan sawah meski itu tidak terlalu di tunjukkan dengan membangun rumah atau yg lainnya,..tetapi mereka cukup terpandang disini meski hidup dengan sederhana,..Ahh,..entahlah,..memang ada sesuatu yg tertutup dari keluarga itu,.." kata Ki Bekel dukuh Ringin lagi.