
Keduanya terus saja berjalan dalam pagi yg cerah, dan setibanya di rumah Ki Lonowastu mereka berdua tidak menemukan orang tua tersebut disana.
" Aki telah berada di sawah , Ngger,..!" ucap Nyi Lonowastu memberitahukan.
" Baiklah Nyi kami akan menemui nya di sawah,..!" jawab Lintang Sandika.
Kembali kedua pemuda tersebut berjalan menyusuri pematang sawah yg berada tidak jauh dari belakang rumah orang tua tersebut.
Sambil menikmati indahnya panorama sawah yg membentang luas di wilayah tanah Perdikan Mantyasih ini, mereka terus saja berjalan.
Sejauh mata memandang terlihat hamparan padi yang menghijau yg baru saja tumbuh , karena tanah Perdikan Mantyasih ini telah memanen beberapa purnama yg lalu, sehingga kini tanaman padi yang baru di tanam itu nampak baru tumbuh dan cukup subur.
Raka Senggani melihat bekas bekas jejak kaki yg di tinggalkan oleh orang yang di kejarnya tadi malam. Banyak juga tanaman padi yang rusak akibat nya.
" Kakang Sandika , disanalah orang tersebut terjatuh hingga dua kali, namun anehnya ia masih mampu berlari,.!" terang Raka Senggani.
Sambil ia menunjukkan ke arah tanaman padi yg tampak porak poranda dan berada di sebelah kanan mereka.
" Siapakah kiranya orang tersebut, adi Senggani,.. mengapa ia memiliki kemampuan setinggi itu,..?" tanya Lintang Sandika.
" Entahlah Kang, siapapun dia , amat di sayangkan sekali kelakuannya itu, memiliki ilmu yg tinggi akan tetapi tidak di pergunakan pada jalan yg benar,..!" sahut Raka Senggani.
" Benar yg kau katakan itu adi Senggani, memang sangat di sayangkan,..!" timpal Lintang Sandika.
Keduanya pun telah sampai di sebuah gubuk sawah yg merupakan milik dari Ki Lonowastu.
Mereka tidak melihat lelaki itu ada di gubuknya.
" Kemana perginya Ki Lono,..?" tanya Lintang Sandika kepada Raka Senggani.
Raka Senggani yg melihat sekeliling area persawahan itu segera menjawab,
" Itu Kang,..Ki Lono tengah menyingai tanaman padi nya,..!" seru Raka Senggani.
Ia menunjuk ke arah orang yang tengah membungkuk dan tengah bekerja membersihkan tanaman padi dari gulma yang mengganggu.
Lintang Sandika yg melihatnya segera berseru keras,..
" Ki Lonowastu,..!" teriak nya.
Orang tua yg sedang membungkuk dan bertelanjang dada menggunakan topi caping segera bangkit berdiri menatap ke arah kedua orang ini.
Sambil melambaikan tangan nya Lintang Sandika kembali berkata,.
" Ki Lono, apakah ingin ikut dengan kami ke hutan,..!" seru nya.
Perlahan Ki Lonowastu beranjak dari sawahnya dan naik ke atas pematang sawah untuk selanjutnya berjalan mendatangi kedua pemuda itu , setelah sampai di gubuknya, sambil membuka topi caping nya, orang tua ini mengipasi tubuhnya menggunakan topi tersebut.
" Apakah Angger berdua akan masuk ke dalam hutan tersebut,..?" tanya nya kepada kedua pemuda ini.
" Benar Ki Lono, Senggani masih penasaran akan menghilangnya mereka saat ku kejar radi malam ,!" sahut Raka Senggani.
" Jika memang demikian , aki akan ikut kalian berdua, hitung hitung sebagai penunjuk jalan, bukankah keamanan tanah Perdikan ini adalah tanggung jawab kami selaku warganya,..,!" ujar Ki Lonowastu.
Ia segera meletakkan topi caping nya dan mengambil pakaian serta penutup kepalanya, setelah selesai ia lantas berkata,.
" Marilah , mumpung belum terlalu siang, !" ucapnya lagi.
Akhirnya ketiga orang itu pun meninggalkan gubuk sawah dan berjalan kembali menyusuri pematang sawah menuju hutan yang berada di kaki gunung Tidar itu.
Jarak dari gubuk ke hutan tersebut mungkin empat kali lipat dari rumah Ki Lonowastu ke gubuk. Sehingga ketiganya pun segera melangkahkan kakinya dengan sangat cepat.
Setelah tiba di hutan yg mereka tuju itu, Ki Lonowastu berjalan paling depan, ia memang lebih memahami seluk beluk hutan ini karena sering mengambil kayu bakar.
" Ngger,..disinilah tempat semalam kita bertemu ,..!" ucap Ki Lonowastu kepada Raka Senggani.
Dan menurut penglihatan senopati Brastha Abipraya ini memang benar di tempat tersebut lah merekat tadi malam mereka bertemu, dan ia merasa kehilangan jejak buruan nya sebelum sampai ke tempat tersebut.
" Ki, bagaimana kalau kita masuk agak lebih dalam lagi,..!" pinta Raka Senggani.
Dan Ki Lonowastu pun mengangguk, ia kembali berjalan menuju ke dalam hutan tersebut.
Setelah tiba pada tempat dimana Raka Senggani kehilangan orang yang di kejarnya itu ia pun berkata,..
" Ki , berhenti sebentar, disinilah tadi malam aku tidak melihat orang itu lagi ,..!" terang Raka Senggani.
Maka ketiganya pun berhenti di tempat tersebut.
Sambil melihat ke sekeliling nya , mereka bertiga memang tengah mencari, apakah memang ada jalan atau tempat tersembunyi yang berada di tempat tersebut, akan tetapi hasilnya nihil, tidak ada sesuatu yg mencurigakan yg dapat di sebutkan sebagai jalan rahasia.
__ADS_1
" Ngger, orang orang yg berada di Mantyasih ini memang cukup mengeramatkan pohon trembesi yg tua itu,..!" ujar Ki Lonowastu.
Ia menunjukkan sebuah pohon trembesi yg sangat besar dan berusia sudah sangat tua.
Raka Senggani melihat ke arah yang di tunjukkan oleh Ki Lonowastu, entah mengapa tiba-tiba saja Senopati Brastha Abipraya ini tergerak mendekati pohon tersebut, langkah kakinya ini diikuti oleh Lintang Sandika dan Ki Lonowastu.
Setelah sampai di bawah pohon besar yg sudah sangat tua ini, Raka Senggani berhenti dan melihatnya dari akar hingga ke ujung pohon tersebut, tidak ada yg aneh.
Selanjutnya mereka pun memeriksa sekitar pohon tersebut, tetapi mereka tidak menemukan apa-apa.
Aneh,..pikir Raka Senggani lagi.
" Apakah memang tidak ada jalan lain selain jalan yg tadi Ki,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Tidak ada Ngger,..jika memang ingin naik ke atas puncak Gunung Tidar ini, jalan satu satunya hanya melalui jalan setapak ini kalau dari Mantyasih,..!" jawab Ki Lonowastu.
Akhirnya ketiga orang ini pun berhenti sejenak di bawah pohon trembesi tua itu.
Raka Senggani yg merasa penasaran segera mengambil sikap seperti sedang bersemadi, ia memang ingin memusatkan seluruh ilmunya, baik ashka pandulu , ashka panggraitanya maupun Pangrungu nya.
Dengan memohon kepada yg maha kuasa, maka Senopati Pajang ini pun segera melihat keadaan sekelilingnya dengan menggunakan seluruh kemampuan nya dan ia pun langsung berseru kaget,.
" Hahhh,..pantas saja ,..!" ucapnya.
Padahal mata sang Senopati masih dalam keadaan tertutup, Lintang Sandika yg berada tidak jauh darinya segera bertanya,..
" Ada apa adi Senggani, apakah dirimu melihat sesuatu yang lain,..?" tanya kakak angkatnya ini.
Tidak beberapa lama Raka Senggani membuka kembali matanya , lantas ia pun berkata,.
" Tampaknya, ada semacam pagar ghaib berada di belakang pphon ini Kang,..!"" jawabnya.
" Pagar ghaib,..!" seru kedua orang tersebut bersamaan.
Baik Lintang Sandika maupun ki Lonowastu sangat kaget mendengarnya, bahwa ada seseorang yg tengah melakukan pagar ghaib di dalam hutan tersebut.
" Untuk apa mereka melakukan hal itu,..Ngger,..?" tanya Ki Lonowastu penasaran.
Sambil menggeleng, Raka Senggani berkata ,
" Entahlah Ki, Senggani pun tidak tahu , apa maksud orang ini membuat hal sedemikian apa untung nya memasang pagar ghaib di tempat yg jarang di lewati oleh orang ini,..!" sahut Raka Senggani.
Kembali mereka yang ada disitu pun kaget mendengar ucapan dari putra tumenggung Bahu Reksa itu.
Memang saat beberapa waktu yang lampau, beberapa orang telah berniat melakukan pengangkatan senjata pusaka yg terpendam di puncak Gunung Tidar ini, mereka juga melaku pagar ghaib agar tidak ada orang yg mengganggu usaha mereka , namun akhirnya pasukan Pajang dengan di bantu oleh pengawal tanah Perdikan Mantyasih berhasil menggagalkan usaha mereka itu.
" Apa mungkin hal tersebut di lakukan lagi,..?" bertanya Raka Senggani.
Senopati agul agul Pajang ini mendekati pagar ghaib yang telah d lihatnya melalui panggraitanya.
Lintang Sandika dan Ki Lonowastu pun mengikutinya dari belakang.
" Kakang Sandika dan Ki Lono, berdiri lah agak menjauh , dan nanti jika diriku terpental segeralah kalian menolongku,..!" ucap Raka Senggani.
Tidak menjawab ,kedua orang ini pun bergerak ke samping menjauhi Raka Senggani.
Sesaat kemudian terlihat Raka Senggani bersedekap dan mulutnya seperti sedang mengucapkan sesuatu dengan di dahului ucapan basmalah , sebuah teriakan yang keras keluar dari mulutnya sambil mengarahkan kedua telapak tangannya terbuka ke arah belakang dari pohon trembesi itu.
" Aji Sangga Kalimasada,..heaahhh,..!"
" Dhumbhh.,.!"
Selarik cahaya terang meluncur keras ke arah tempat yang sebenarnya seperti semak belukar biasa saja.
Dan hasilnya sungguh mencengangkan , begitu ajian yg di lepaskan oleh Raka Senggani ini membentur dinding pagar ghaib tersebut, semua yg berada di tempat itu melihat dengan jelas ada sebuah jalan setapak yang dapat di lalui orang berjalan kaki.
Senopati Brastha Abipraya sendiri termangu melihat keadaan itu, dalam hatinya cukup takjub akan kemampuan seseorang yg dapat membuat sesuatu hingga tak kasat mata.
Memang hebat orang ini, ia mampu mengelabui penglihatan mata biasa sehingga dengan bebasnya mereka mampu keluar dan masuk melalui jalan ini, membathin Raka Senggani dalam hatinya.
Jalan yg mengarah ke barat itu memang sangat kecil, akan tetapi saat mereka mondar mandir memeriksa nya , jalan setapak ini tidak kelihatan sama sekali.
" Aneh,..!" desis Ki Lonowastu.
ia memang sudah terbiasa keluar masuk hutan di kaki gunung Tidar ini, seumur -umur belum pernah melihat jalan setapak ini.
" Marilah kita lihat apa yg ada dihadapan ujung jalan ini,..!" ucap Raka Senggani.
Ia pun segera bergerak melalui jalan yang baru tampak tersebut, demikian pula dengan Lintang Sandika dan Ki Lonowastu yg mengekorinya dari belakang.
__ADS_1
Orang tua yg berasal dari tanah Perdikan Mantyasih ini bertambah kagum dengan kehebatan Senopati Brastha Abipraya itu, yg masih muda usianya namun memiliki kemampuan ilmu yang sangat tinggi pula.
Memang setiap kejahatan pasti ada saja yang akan menumpasnya , berkata dalam hati Ki Lonowastu yg berjalan paling belakang.
Saat mereka terus saja menapaki jalan tersebut hingga mentari pada puncak nya, tiba tiba Raka Senggani mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk berhenti.
Lintang Sandika mendekati adik angkatnya ini.
" Ada apa, adi Senggani,..?" tanya nya pelan.
" Coba kakang Sandika dengarkan dengan seksama, apa yg Kakang dengar,..,!" sahut Raka Senggani.
Memang kemampuan dari putra tumenggung Bahu Reksa ini tidak setinggi ilmu senopati Brastha Abipraya , namun saat ia tengah mengetrapkan pendengaran nya dengan lebih baik maka ia pun berseru,.
" Sepertinya ada orang yg tengah bertarung,..!" sahutnya.
" Benar Kakang,.. sepertinya memang ada yg lagi bertarung, akan tetapi masih sangat jauh,..!" sebut Raka Senggani.
" Mari kita lihat,..,!" ucap Senopati Brastha Abipraya ini lagi.
Ia pun segera menuju arah datang nya suara yang mereka dengar itu, jaraknya memang masih cukup jauh sehingga ketiganya segera berlari dengan cepat menuju tempat tersebut.
Tiba di tempat itu ternyata mereka sudah keluar dari dalam hutan Gunung Tidar ini dan berada di jalanan yg menghubungkan antara tanah Perdikan Mantyasih dengan tanah Perdikan Banyu Biru.
Ketiganya segera melihat dua orang yg lagi sedang bertarung dengan sengitnya, sementara dua orang tengah mengawasi jalannya pertarungan itu.
Lintang Sandika dan Raka Senggani teramat terkejut melihat pertarungan antara dua orang ini yg tampaknya tengah merambah pada tataran ilmu tertinggi nya masing-masing.
" Bukankah itu adalah Tumenggung Gajah Ludira, adi Senggani,..!" ucapnya pelan kepada Raka Senggani.
" Hehh,..!"
Raka Senggani sangat terkejut mendengar nya, memang penjelasan dari kakak angkatnya ini di luar dari perhitungan Senopati Brastha Abipraya, karena ia pun mengenal lawan dari orang yg bernama Tumenggung Gajah Ludira tersebut.
" Sedangkan lawannya adalah Kakang Raka Yantra, yg merupakan kakak sepupuku, ia adalah putra Paman Raka Jang,..!" terang Raka Senggani.
Dan kali ini yg menjadi sangat terkejut adalah Lintang Sandika, ia memang melihat ada kemiripan antara adik angkatnya ini dengan orang yang bertarung melawan Tumenggung Gajah Ludira itu.
" Apa yg menyebabkan mereka bertarung, ?" tanya Lintang Sandika.
" Entahlah , Aku tidak tahu,..!" sahut Raka Senggani.
" Atau jangan-jangan , Tumenggung Gajah Ludira salah melihat orang, ia berpikir orang itu adalah dirimu,..?" tanya Lintang Sandika lagi.
" Mungkin juga,..!" ucap Raka Senggani.
Ia berusaha mendekati tempat pertarungan itu, dengan satu kejapan saja, Senopati Brastha Abipraya telah hinggap pada sebuah cabang pohon yang tidak terlalu jauh dari situ.
Lintang Sandika pun mengikutinya pula , demikian juga Ki Lonowastu.
Mereka bertiga melihat jalannya perang tanding yg semakin sengit saja.
Karena kedua orang yg telah bertarung itu mulai merambah pada ilmu tertinggi dari yg mereka punya.
" ****** kau orang gila , terima ini , aji Lebur Saketi, hiyyahh,..!" teriak Raka Yantra.
" Bletaaaaar,..!"
" Braakkkh,..!"
" Dhumph,..!"
Sebuah pohon yg ada di belakang dari Tumenggung Gajah Ludira ini tumbang akibat hantaman dari ajian yg di lepaskan oleh sepupu Raka Senggani ini.
Akan tetapi sosok dari orang yg bertubuh tinggi besar dengan kumisnya yg melintang tebal itu pun sudah tidak berada lagi di tempatnya.
Dengan gerakan yg sangat baik , Salah seorang perwira tinggi Demak itu mampu berkelabat menghindarinya.
" Ha, ha ha, tidak semudah itu kisanak,..!"
Terdengar tertawa dari Tumenggung Gajah Ludira mengejek.
Petinggi kerajaan Demak ini pun bersiap dengan memutar tangan nya di depan dada sambil ia terus membaca mantera dan,.
" Terima ini , aji Macan Moro,..heahh,.!" teiraknya.
" Dhumbhh,..!"
Ia pun melepaskan serangan nya terarah pada Raka Yantra, dan tanah tempat berpijak sepupu Raka Senggani itupun berlobang sangat besar akibatnya, sedangkan Raka Yantra sendiri telah melompat berjumpalitan menghindari nya.
__ADS_1