Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 19 Hari yang Baru. bag pertama.


__ADS_3

Malam semakin larut, tetapi pasukan Pajang yg ada di Prambanan masih saja terjaga,. mereka memang tetap meningkatkan kewaspadaan nya walaupun para kawanan rampok Alas Mentaok itu telah berhasil di kalahkan.


Raka Senggani yg terlalu lelah akhirnya meminta kepada Jati Andara dan Japra Witangsa,.untuk menjaga nya beristrahat,. karena para Prajurit sandi Demak tentunya akan segera kembali lebih dahulu, sebelum matahari terbit.


Dua anak muda desa Kenanga itupun menyanggupinya, karena mereka memang melihat betapa lelah nya sang Senopati, bertarung terus dengan tiga lawan yg berbeda.


Di sela -sela keduanya berjaga di dekat Raka Senggani beristrahat , bertanya lah Jati Andara kepada Japra Witangsa .


" Witangsa , apakah dirimu melihat kelebihan dari adi Senggani,.dalam pertarungan melawan Mpu Loh Brangsang itu,..?"


" Aku melihat bahwa adi Senggani semakin hebat saja dalam menghilang dan muncul kembali, ia dengan sesuka hatinya melakukan hal tersebut,. Andara,.." jawab Japra Witangsa.


" Benar ,..hal itulah yg membuat Mpu Loh Brangsang harus terluka dalam,..dan tidak meneruskan perang tanding tadi,.." ungkap Jati Andara.


Kemudian putra Bekel desa Kenanga itu menanyakan kepada temannya, apa maksud dirinya membeli kain panjang dan pakaian perempuan itu,. apakah memang benar bahwa dirinya segera akan melamar Sari Kemuning.


Japra Witangsa yg mendapatkan pertanyaan itu tidak mampu menjawab nya, karena memang itu adalah urusan pribadi dari Raka Senggani sendiri,.meskipun Sari Kemuning adalah adik kandung nya. Ditambahkan lagi oleh Putra Jagabaya desa Kenanga bahwa adiknya Sari Kemuning tidak pernah mengatakan hal itu kepada keluarga besar nya. Sehingga sampai saat ini ia tidak tahu.


Satu hal yg menurut nya tentu akan membuat mereka satu keluarga akan sangat bahagia jika hal itu terjadi.


Jauh di lubuk hati putra Ki Jagabaya itu memang sangat berharap bahwa adik nyalah kelak yg akan medampingi Senopati Pajang tersebut.


Sehingga mereka akan lebih mudah lagi menimba segala ilmu yg di miliki oleh sang Senopati Pajang.


Karena dari pandangan mereka berdua , bahwa mereka masih ketinggalan jauh dari para sandi Demak, belum lagi dengan murid -murid darj padepokan Merapi, meskipun demikian keduanya wajib bersyukur telah memiliki seorang teman sekaligus guru yg mau membimbing mereka dalam hal ilmu kadigjayaan.


Saat terdengar bunyi ayam jantan yg berkokok , para Prajurit dan pengawal tanah Perdikan Menoreh bersiap kembali pulang.


Sedangkan sepuluh Prajurit sandi Demak telah meninggalkan Prambanan tanpa mereka harus pamitan.


Maklum mereka hanya di bawah perintah dari Senopati Pajang yg juga merangkap sebagai Senopati Prajurit sandi yuda Demak.


Karean tadi malam mereka telah mengatakan tidak akan bersama kembali ke Pajang melainkan mereka akan kembalj ke tempat tugas masing-masing.


Sesaat waktu shubuh telah tiba,.Raka Senggani,. Senopati Pajang itu terjaga dan hendak melaksanakan ibadah, ia sudah tidak mendapati ke sepuluh Prajurit sandi Demak tersebut.


Berangsur -angsur,.para pengawal tanah Perdikan Menoreh meninggalkan Prambanan tepat ketika terang tanah kemudian di susul oleh para Prajurit Pajang, yg kali ini pulang dalam bentuk barisan yg lengkap tidak secara bertahap seperti sesaat akan berangkat dari Pajang.


Dengan wajah yg menceritakan senyum kemenangan para Prajurit itupun kembali ke Pajang. Dengan di pimpin oleh Tumenggung Wangsa Rana.


Di Pajang sendiri,. Kanjeng Gusti Adipati Pajang yg mendapati laporan bahwa pasukan nya akan segera kembali dengan membawa hasil kemenangan, hatinya merasa puas,. meski jika ia mengingat kekalahan yg di derita oleh Tumenggung Jala Wisesa,.terbersit kekesalan dan kesedihan di hatinya.


Setelah dua hari , tibalah seluruh Pasukan Pajang yg berjumlah kecil tersebut di Kota Pajang.


Mereka di sambut cukup meriah di dalam alun -alun kota , dan Kanjeng Gusti Adipati Pajang berkenan sendiri yg menyambutnya.


Entah kenapa pada kali ini, seolah -olah sang Adipati ingin mengatakan dan menunjukkan kepada para pembesar Keraton Pajang bahwa Senopati Brastha Abipraya itu layak di perhitungkan, bukan semata -mata karena ia dekat dengan sang Adipati sehingga mendapatkan tempat dan posisi atas perintah dari sang Adipati.


Memang ada juga yg tidak senang dengan kelebihan dan kedekatan sang Senopati dengan Kanjeng Gusti Adipati Pajang terlebih , Senopati Brastha Abipraya termasuk baru dalam lingkup keraton Pajang.


Dan kali ini, Kanjeng Gusti Adipati Pajang berhasil menepis anggapan - anggapan miring tentang Senopati kepercayaan nya itu.


Walau sekarang , Keraton Demak telah mengangkat sang Senopati untuk menggantikan posisi dari Tumenggung Bahu Reksa menjadi pemimpin Prajurit sandi yuda Demak. Ada rasa yg sebenarnya tidak mapan bagi sang Adipati, tetapi mau dikata apa,.. itu adalah perintah langsung dari Sultan Demak II yg juga adalah Junjungan nya.


Setelah pemyambutan di alun -alun kota Pajang itu selesai seluruh Prajurit di terima di dalam keraton.


Seluruh prajurit yg berangkat ke alas Mentaok itu mendapatkan pujian dari Kanjeng Gusti Adipati Pajang dan akan di berikan hadiah.

__ADS_1


Selesai penyambutan di keraton Pajang, masing -masing prajurit di berikan kesempatan untuk beristrahat termasuk dengan sang Senopati.


Raka Senggani, beristrahat di rumah Tumenggung Wangsa Rana,.disana ia bersama dengan Jati Andara dan Japra Witangsa.


Di tengah pada itu ,.Raka Senggani tampak menyendiri. Ini dilihat oleh Tumenggung Wangsa Rana.


Sang Tumenggung kemudian menanyakan hal apa yg telah membuatnya demikian.


Senopati Pajang, Senopati Brastha Abipraya mengatakan tidak ada persoalan, tetapi itu tidak di percayai oleh Tumenggung Wangsa.


Ia mendesak dengan beberapa pertanyaan, sehingga akhirnya ia mengaku bahwa ia memang ingin mengajukan permintaan kepada Kanjeng Gusti Adipati Pajang untuk sekedar kembali ke desa Kenanga,.tetapj ia tidak mampu mengutarakan nya kepada junjungan nya itu.


Tumenggung Wangsa Rana segera tahu persoalan yg tengah di hadapi oleh Senopati Pajang itu, ia kemudian berjanji akan menyampaikan persoalan tersebut kepada Kanjeng Gusti Adipati Pajang.


Senopati Brastha Abipraya mengucapkan terima kasih atas bantuan dari Tumenggung Wangsa Rana.


Sementara itu di puncak Gunung Merapi,.Mpu Loh Brangsang tengah meratapi atas kematian dari murid utamanya ,.Adya Buntala.


Ia meratapi kematian muridnya. Sungguh sangat disayangkan nya ,ketika teriakan nya tidak di indahkan oleh Adya Buntala.


Sampai akhirnya ,.ia menemui ajalnya. Mpu Loh Brangsang berjanji di dalam hati akan membalas kematian dari Adya Buntala itu, ia berniat mencari seseorang yg akan dapat di turunkan ilmunya guna membalas dendam terhadap Senopati Brastha Abipraya.


Akan tetapj siapa,.itulah pertanyaan yg ada di benak Mpu Loh Brangsang itu.


Sudah banyak murid yg di didiknya akan tetapi tidak ada yg pantas menerima nya.


Cukup lama ia mereka -reka siapa lah yg pantas untuk menerima semua ilmunya tersebut.


Kemudian Mpu Loh Brangsang melakukan semedi di sebuah goa yg ada di belakang padepokan nya.


Ia akan mencari orang yg sesuai untuk di jadikan sebagai lawan dari Senopati Brastha Abipraya itu dengan melakukan tirakat.


Lelaki tua itu tengah termenung seorang diri, ia merasa memerlukan melakukan sesuatu.


Hehh,..apakah diriku masih pantas bermain -main dengan senjata , begitulah yg ada di pemikiran nya.


Orang tua itu seperti sedang mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu. Ada rasa kewajiban menurut dirinya untuk melakukan hal tersebut sebagai pertanda dirinya masih memiliki kemampuan sebagai seorang pendekar dan guru yg bertanggung jawab.


Demikian lah menurut nya,.dirinya masih memiliki harga diri terlebih ia adalah merupakan pendekar yg sangat di takuti di daerah kulon itu.


Sehingga merupakan yg tabu jika ada orang yg telah melecehkan perguruan nya.


Tetapj sebenarnya jauh di dalam lubuk hatinya yg paling dalam ia merasa tidak pantas melakukan nya lagi. Menurut nya sudah sewajarnya lah yg muda -muda melakukan hal tersebut.


Sangat lama ia menimbang -nimbang akan hal tersebut, tetapi kehebatan dari senopati Brastha Abipraya menggelitik hatinya hanya sekedar untuk menjajal nya.


Pada akhirnya di putuskan nya untuk sekedar menantang sang Senopati dalam suatu perang tanding yg tempat nya akan di tentukan nya kemudian.


Orang tua kemudian bersiap dan berkemas akan berangkat ke Pajang.


Di pajang sendiri, tepatnya di keraton, Senopati Brastha Abipraya tengah mengahdap Kanjeng Gusti Adipati Pajang.


Ia di panggil menghadap setelah Kanjeng Gusti Adipati Pajang mendapatkan laporan bahwa Senopati nya itu akan meminta izin untuk kembali ke desa Kenanga guna melamar seorang gadis pujaan hatinya.


Kanjeng Gusti Adipati Pajang kemudian bertanya,..


" Mengapa Senopati terlalu sungkan mengutarakan akan segera menikah,.bukankah itu adalah sesuatu yg sangat baik,..tentunya Aku akan sangat senang sekali memberikan izin terlebih setelah dirimu berhasil memberantas rampok Alas Mentaok,.kami di Pajang ini akan memberikan keleluasaan kepada dirimu untuk melakukan nya,.." ucap Kanjeng Gusti Adipati Pajang.

__ADS_1


" Terima kasih hamba ucapkan atas kemurahan hati Kanjeng Gusti Adipati,..hamba sangat tersanjung mendengarnya," kata Raka Senggani.


Hatinya merasa lega setelah dirinya di berikan kebebasan untuk melangsungkan niatannya yg sudah lama tertunda .


" Jadi kapan dirimu kembali ke Kenanga,..?" tanya Kanjeng Gusti Adipati Pajang lagi.


Raka Senggani kemudian mengatakan ,.


" Ampunkan hamba Kanjeng Gusti Adipati mungkin besok hamba akan kembali ke desa Kenanga,." jawab Raka Senggani.


" Kalau memang demikian baiklah, Aku mengizinkan mu kembali ke Kenanga, dan ini ada pemberian untuk mu ,.mungkin tidak terlalu banyak , akan tetapi dapat di pergunakn,.." sahut Kanjeng Gusti Adipati Pajang.


Penguasa Pajang itu menyerahkan sekampil uang kepada Raka Senggani.


Senopati Brastha Abipraya menerima pemberian dari Kanjeng Gusti Adipati dengan senang hati.


Setelah menrima pemberian dari Kanjeng Gusti Adipati Pajang,. Senopati Pajang menhaturkan sembah dan pamit undur diri dari hadapan penguasa Pajang tersebut.


Dalam perjalanannya kembali ke rumah Tumenggung Wangsa Rana, hatinya sangat senang karena sepertinya keinginan nya itu akan segera terlaksana.


Tiba di rumah Tumenggung Wangsa Rana,.Raka Senggani langsung mencetitakan semua yg telah di terima nya dari Kanjeng Gusti Adipati Pajang kepada Tumenggung Wangsa Rana.


" Sungguh beruntung dirimu ,.Ngger,.. karena sangat banyak yg ingin dekat dengan Kanjeng Gusti Adipati Pajang, dengan berbagai cara,. termasuk adi Jala Wisesa,.tetapi banyak pula yg tidak mendaptakan tempat di hati Kanjeng Gusti Adipati itu, berbeda dengan dirimu,. Ngger,..sehingga banyak pembesar Pajang ini yg iri dengan kedekatanmu itu,.." ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Tetapi bagi mereka yg tidak mengenal dirimu dengan baik, memang dapat mengambil kesimpulan seperti itu, tetapi tidak bagi mereka yg telah bergaul dan berteman cukup lama, tentu hal itu adalah suatu kesalahan,.." lanjut Tumenggung Wangsa Rana.


Memang diantara para pembesar Pajang banyak yg tidak senang terhadap Senopati Pajang tersebut. Namun hal itu tidak terlalu di perdulikan oleh Raka Senggani, semakin besar dan semakin tinggi pohon, tentu akan semakin kencang angin yg menerpa nya begitulah menurutnya.


Tumenggung Wangsa Rana menanyakan lagi kepada Raka Senggani, kapan kiranya ia akan melangsungkan niatannya itu.


Dan dijawab oleh Raka Senggani , ia berpendapat bahwa secepatanya dirnya akan melangsungkan niatannya itu, terlebih sebelum keberangkatan dari armada Demak ke arah Lor guna menyerang bangsa asing .


Mendengarkan penuturan dari Senopati Brastha Abipraya, Tumenggung Wangsa kemudian menanyakan lagi siapa yg akan di mintakan nya sebagai pengganti orang tua nya untuk melamar gadis pujaan hatinya itu.


Mendengarkan pertanyaan itu, Raka Senggani tersentuh, ia nampak kebingungan untuk menjawabnya karena ia memang belum memutuskan hal itu, tetapi ia sudah meminta kesediaan dari Tumenggung Bahu Reksa, sebagai orang tua angkat nya.


Dan memang panglima armada Demak itu telah bersedia untuk melakukan nya, sesuai janjinya.


Tetapi Tumenggung Wangsa Rana masih belum merasa mapan atas jawaban dari Senopati Brastha Abipraya tersebut. Ia menanyakan apakah memang keluarga dari Senopati Pajang itu memang sudah tidak ada lagi.


Tersentak kaget Raka Senggani memdengar ucapan Tumenggung Wangsa Rana itu, sesungguhnya memang dirinya masih memiliki kerabat , tetapi ia sangat membencinya.


" Sebenarnya lah, Senggani masih memiliki seorang paman, yg juga tinggal di desa Kenanga,.. akan tetapiii,..!"


Senopati Brastha Abipraya tidak melanjutkan ucapan nya, ia teringat saat berpuluh tahun yg lalu dimana ketika ia di tinggal mati kedua orang tuanya,..orang itulah yg telah membuat nya susah dan harus pergi dari desa Kenanga.


Lantaran orang itu pulalah, ia tidak memiliki apapun di desa Kenanga,. padahal orang tua nya termasuk orang yg terpandang dan memiliki banyak harta di desa itu.


Mendengar hal itu Tumennggung Wangsa Rana berkata sareh,..


" Sebaiknya dirimu melupakan yg telah lalu,..Ngger,.saat ini buatlah Hari yang Baru dengan membuang seluruh dendam, yg tentunya akan membuat dirimu semakin layak di perhitungkan karena keluasan hatimu, Ngger,.."


Nasehat dari Tumenggung Wangsa Rana itu sungguh membekas di dalam hati sang Senopati,..memang dirinya sangat sulit untuk melupakan kesalahan orang lain terhadapnya,..sehingga rasa dendam itu semakin menggunung jika harus mengingat atau mendengar nama orang itu di sebutkan.


Ia mulai menelaah kebenaran dari ucapan Tumenggung Wangsa Rana yg telah dianggap nya pula pengganti orang tua nya itu.


" Sudhlah Ngger,..mumpung paman mu itu masih hidup,. segeralah maafkan segala perbuatan nya yg telah menyakiti hatimu, mintalah dirinya untuk bersedia menjadi pengganti orang tua mu guna melamar angger Sari Kemuning,.." ujar Sang Tumenggung.

__ADS_1


Lama Raka Senggani terdiam mendengar ucapan dari Tumenggung Wangsa Rana tersebut,.memang setelah dirinya mampu membunuh ketiga pembunuh orang tua nya,.ada rasa lega di hatinya kecuali mengenai hal Paman nya., Raka Jang.


__ADS_2