
" Baiklah Ki Lintang, sebaiknya diri ku segera berangkat menuju Surabaya,." kata Raka Senggani.
" Kalau menurut ku, untuk malam ini, Senopati Bima Sakti berada di sini, karena akan lebih mudah masuk ke kota Surabaya saat menjelang malam,.." jelas Ki Lintang Gubuk Penceng.
Ia mengatakan bahwa ketika pada pagi hari Senopati sandi tersebut berangkat maka kemungkinannya saat sore hari ia akan sampai di sana.
Raka Senggani menerima saran dari Ki Lintang Gubuk Penceng dan sekaligus bersama dengan nya di gubuk pategalan itu malam ini.
Keduanya mengobrol bersama dengan berbagai macam persoalan. Bahkan Senopati Bima Sakti mengatakan , dirinya sebentar lagi akan melepaskan masa lajang nya. Dan berharap kelak Ki Lintang Gubuk Penceng mau hadir saat acara pernikahan nya di gelar.
" Mudah -mudahan, Senopati,." sahut Ki Lintang Gubuk Penceng.
Ia tidak dapat memastikan nya, di sebabkan tugas prajurit sandi tidak seperti tugas prajurit biasa lainnya.
Yg ada aturan bakunya, jika di dalam keprajuritan sandi, seluruh prajurit harus siap sedia setiap saat menjalankan tugas, berbeda dengan prajurit biasa , kalau tidak hal yg gawat dan perang akan terjadi , mereka masih dapat duduk santai dan meminta izin untuk menghadiri hajatan yg di gelar oleh teman atau kerabatnya.
Dalam prajurit sandi terkadang harus jauh dari tempat nya berada bahkan sampai bisa bertahun tahun disana, contohnya seperti dirinya saat ini sudah hampir lima tahun berada di wilayah timur ini.
Demikianlah , Ki Lintang Gubuk Penceng tidak dapat memastikan apakah dirinya kelak dapat hadir memenuhi undangan dari Senopati Bima Sakti yg akan menikah tersebut.
Dalam pada itu di kota Surabaya, Ki Tambi yg telah pulang dari kediaman Tumennggung Waturangga.
Ia kini tengah duduk di depan rumahnya sambil menyeruput minuman hangat.
Di hati orang tua paruh baya ini masih kurang berkenan atas apa yg telah di ucapkan oleh Tumennggung Waturangga barusan.
Ia merasa , sepak terjang orang dekat Adipati itu harus segera di hentikan sebelum menjadi besar dan mengacaukan seluruh rencana Kotaraja Demak.
Hehh, mengapa sampai saat ini , belum juga datang utusan dari Demak itu, katanya dalam hati.
Menurutnya , seharusnya Kanjeng Gusti Sinuwun telah mmerintahkan salah seorang senopati kepercayaan nya untuk datang memenuhi permintaan dari para prajurit sandi .
Tetapi sampai saat ini belum juga pun nampak batang hidungnya di kota Surabaya ini, begitulah Ki Tambi berkata kata dalam hati.
Rumahnya yg tidak terlalu jauh dari belakang istana memudahkan dirinya untuk mengetahui segala sesuatu yg terjadi di dalam istana Kadipaten .
Dan pada keesokan harinya , disaat senja telah menyapa wilayah timur dari pulau itu, nampak sesosok tubuh seorang pemuda yg mendekati rumah Ki Tambi.
Pemuda tersebut berjalan sangat hati -hati dan bergerak menuju belakang rumah Ki Tambi.
Setelah cukup dekat , pemuda tersebut melompati pagar rumah yg tidak terlalu tinggi dengan hanya satu kali genjotan saja.
Dan dirinya telah berhasil masuk ke dalam.
" Siapa di luar,..?" tanya orang berada di dalam rumah .
Hehh,..ia mengetahui kehadiranku,.. berkata pemuda itu dalam hati.
Ia yg tiada lain adalah Senopati andalan dari Pajang dan Demak.
Raka Senggani,..memang cukup kaget ketika kehadiran nya dapat di ketahui oleh orang yg ada d dalam rumah tersebut.
" Aku , Ki,..Lintang Bima Sakti,.." jawab Raka Senggani.
" Masuklah, pintu tidak di kunci,.."
Terdengar jawaban dari dalam. Dan Raka Senggani pun mendorong daun pintu yg terbuat dari kayu jati dengan perlahan.
" Kreeeeeikk,.."
Dengan penuh kewaspadaan yg tinggi sambil memperhatikan sekeliling nya, Senopati yg di beri gelar sebagai Senopati Lintang Bima Sakti dalam keprajuritan sandi Demak masuk .
" Silahkan duduk ,.." seru seseorang.
Dan orang tersebut duduk di sebuah lincak bambu membelakangi Raka Senggani.
" Benarkah ini adalah rumah Ki Tambi,..?" tanya nya pada orang tengah duduk tersebut.
" Benar , akulah Ki Tambi,.." jawab orang itu.
__ADS_1
Ia bangkit dari duduk nya dan membalikkan tubuh nya menghadap ke arah Raka Senggani yg masih berdiri tegak.
" Apakah benar yg datang ini adalah Senopati Lintang Bima Sakti,..?" tanya Ki Tambi .
Raka Senggani mengangguk kan kepalanya .
" Apa buktinya ,..?" tanya Ki Tambi lagi.
Karena memang antara keduanya belum pernah bertemu, sehingga ia memerlukan bukti yg jelas agar tidak ada kesalahpahaman antara kedua nya.
Raka Senggani kemudian merogoh belakang pakaian nya , ia mengambil sebuah benda pemberian dari Tumenggung Bahu Reksa tatkala pertama kali dirinya di angkat sebagai salah seorang prajurit sandi Demak.
Kemudian ia melemparkan benda yg berupa koin emas itu kepada Ki Tambi.
Dan orang tersebut menangkapnya serta memeriksa dengan seksama.
" Hehhmm,.. dirimu memang benar merupakan seorang prajurit sandi Demak, silahkan duduk,.." kata Ki Tambi.
Orang tersebut mmepersilahkan kepada Raka Senggani untuk duduk. Ia pun segera bergegas masuk ke dalam salah satu biliknya. Dan kemudian keluar lagi dengan membawa sebuah kulit kayu yg telah di gulung.
Ki Tambi mengambil tempat duduk dekat dengan Raka Senggani.
Setelah duduk , kemudian Ki Tambi membuka gulungan kulit kayu tersebut dan ternyata ada dua. Yang di dalam nya adalah kulit dari binatang.
Ki Tambi kemudian menanyakan kepada Raka Senggani , apakah ia dapat melihat dalam keadaan gelap atau memang membutuhkan sebuah penerangan, karena saat itu di kota Surabaya telah berganti malam, kegelepan mulai menyelubungi daerah tersebut.
Namun Raka Senggani menjawab bahwa ia tidak memerlukan penerangan , karena bagaimana pun juga ,. saat ini ia dalam tugas sandi , dan kalau dapat keberadaannya di kota ini tidak di ketahui oleh orang lain apalagi para prajurit .
" Bagus kalau begitu,..kita dapat memulainya,.." kata Ki Tambi pelan.
Sejenak orang itu nampak tengah memusatkan pikirannya , ia sedang melihat keadaan sekeliling rumahnya.
Setelah di rasa aman , barulah ia melanjutkan ucapannya,..
" Kulit kayu ini berisikan nama -nama yg menjadi musuh Demak dari wilayah bang Wetan ini, dan kulit binatang ini adalah peta dari letak kediaman mereka,..!" jelas nya.
Orang yg berpakaian serba hitam -hitam itu kemudian menunjukkan dua kulit yg telah ia buka.
Dalam daftar nama nama tersebut, adalah nama dari Tumenggung Waturangga yg berada paling atas baru di susul oleh beberapa pejabat atau penguasa yg termasuk Adipati Surabaya sendiri.
Setelah melihatnya, kemudian Ki Tambi membuka gulungan kulit binatang yg berisikan peta , dimana letak kediaman nama nama tadi berada.
Terdapat di beberapa tempat, termasuk Surabaya dan pasuruan bahkan ada juga di Kediri.
Setelah selesai kemudian Ki Tambi menyerahkan kedua gulungan kulit tersebut kepada Raka Senggani. Dan ia pun menjelaskan kenapa terdapat perbedaan diantara kedua benda tersebut.
Di dalam kulit kayu tersebut adalah nama nama yg merupakn musuh dari Demak, sedangkan tentang mengenai letak atau peta dari kediaman nama nama tersebut berada di kulit binatang.
Jika nanti nya pemegang dari kedua benda tersebut mengahadapi kesulitan, dalam gulungan kulit kayu ini dapat segera di hancurkan, karena tentunya orang tersebut telah dan mampu mengingatnya sedangkan dalam gulungan kulit binatang, itu adalah peta, oleh sebahagian orang belum tentu tahu letak atau tempat tersebut, bahkan mereka akan mengira itu adalah peta harta karun. Demikian lah penjelasan dari Ki Tambi.
Dan tugasnya untuk memegang benda tersebut telah selesai sejak kedatangan Senopati Bima Sakti di rumahnya, selanjutnya tugas memegang benda tersebut adalah Senopati Prajurit sandi Demak sendiri,.dalam hal ini adalah senopati Bima Sakti.
Raka Senggani mengerti,..pemuda desa Kenanga itu kemudian menggulung kembali kedua gulungan kulit tersebut dan memasukkan nya ke dalam pakaian nya.
Ki Tambi kemudian menanyakan kepada Senopati Bima Sakti, apakah ia tahu akan tugasnya kali ini.
Dan dijawab oleh sang Senopati, bahwa secara umum ia tahu , akan tetapi secara khusus ia masih perlu bertanya kepada Ki Tambi.
" Hehh,.. karena memang dirimu baru saja di angkat, jadi memang masih banyak yg belum Senopati ketahui keadaan Demak ini secara keseluruhan nya, baiklah aku akan mulai menerangkan nya sedikit,." ungkap Ki Tambi.
Ia mengatakan bahwa tugas utama sang Senopati adalah untuk.menghabisi Tumenggung Waturangga, dan kemudian melihat keadaan secara keseluruhan setelah Tumenggung itu berhasil di singkirkan, terutamanya wilayah bang Wetan ini, terang Ki Tambi.
Namun kali ini yg sangat mendesak adalah mengenai Tumenggung Waturangga .
Ia mengatakan bahwa kemarin saja orang Kepercayaan dari sang Adipati telah memrintahkan untuk mengetatkan penjagaan bagi seluruh wilayah kadipaten Surabaya, dan Ki Tambi cukup heran juga mengapa Senopati Lintang Bima Sakti mampu menerobos masuk ke dalam dan menemuinya di tempat ini.
Mendengar hal tersebut Raka Senggani menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan petunjuk dari Ki Lintang Gubuk Penceng agar masuk ke dalam kota saat senja menyapa, dimana te jadi pertukaran para prajurit jaga.
Akan tetapi Ki Tambi tidak terlalu mempercayai ucapan Raka Senggani itu, karena saat ia tiba di rumahnya tadi belum terlalu sore.
__ADS_1
Yang ada di pikiran orang tua itu adalah bahwa karena kehebatan sang Senopati sajalah hingga ia dapat meneorbos masuk dari penjagaan para prajurit.
Namun ia tidak mempermasalahkannya , Ki Tambi kemudian menanyakan kesiapan dari Senopati Lintang Bima Sakti mengenai perang tanding yg akan di lakukan dengan Tumenggung Waturangga.
Raka Senggani segera bertanya,..
" Secepat itukah ,..Ki,..?" tanya nya.
" Yahh,..kita harus bergerak lebih cepat sebelum armada pasukan Demak berangkat menyerang kota Melaka, agar para pemimpin dan penguasa bang Wetan berpikir dua kali jika akan menyerang Kotaraja Demak, di saat terjadi kekosongan prajurit di sana,.." jelas Ki Tambi.
Setelah mendengar hal tersebut ,Raka Senggani menanyakan sedemikian pentingnya kah keberadaan Tumenggung Waturangga di wilayah bang Wetan ini.
Oleh Ki Tambi dijawab dengan anggukkan kepalanya. Ia menyebutkan bahwa pengaruh dari Tumenggung Waturangga ini telah sampai ke Bali jika suatu saat mereka akan menyerang Kotaraja Demak, armada dari Bali akan ikut serta di terjunkan dari laut.
Itu artinya bahwa kemampuan dari Tumenggung Waturangga dalam mempengaruhi para pemimpin disini sangat mumpuni. Ia dapat meyakinkan orang lain hanya dengan satu kali ucapan nya saja.Jelas Ki Tambi.
Ada rasa penasaran di hati Raka Senggani, ia ingin segera bertemu dengan orang yg bernama Tumenggung Waturangga ini.
" Akan tetapi dalam beberapa hari ke depan kita tidak dapat menantangnya,." ucap Ki Tambi lagi.
" Mengapa,..Ki,..?" tanya Raka Senggani.
Di jelaskan lagi oleh Ki Tambi bahwa saat ini tengah bulan purnama, dimana kekuatan dari Tumenggung Waturangga akan meningkat berkali -kali lipat dari biasanya.
" Jadi kita harus menunggu sampai bulan tenggelam,..agar kesaktian nya tidak terlalu tinggi,..dan memudahkan Senopati Lintang Bima Sakti untuk melenyapkan nya ," terang Ki Tambi.
Hehh,..masih ada juga orang yg memliki kemampuan tergnatung pada sesuatu seperti bulan dan matahari, kata Raka Senggani dalam hati.
Ia pernah mendengar hal ini dari gurunya, bahwa bagi sebahagian orang yg memiliki kemampuan ilmu yg cukup tinggi masih tergantung pada sesuatu benda termasuk bulan dan Matahari.
" Tetapi mungkin tidak lebih dari tiga hari, kita sudah dapat melakukan nya, agar usaha ini cepat selesainya dan seluruh prajurit sandi dapat bekerja pada yg lainnya lagi,..termasuk dengan Senopati sendiri, bukankah sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan nya ,!" seru Ki Tambi lagi.
" Darimana K Tambi tahu,..?" tanya Raka Senggani .
Ia kaget juga bahwa Orang yg bernama Ki Tambi ini mengetahui keadaan dirinya .
Oleh Ki Tambi di Jawab bahwa ketergantungan mengenai keadaan pemimpin nya sudah menjadi perbincangan di kalangan para prajurit sandi Demak. Jadi bukan menjadi rahasia lagi.
Jelas orang nampak hanya giginya saja jika ia sedang tersenyum dalam kegelapan malam.
Karena selain kulitnya berwarna hitam pakaian nya pun serba hitam pula.
" Cuma satu yg menjadi ganjalan , Senopati,.." ungkap Ki Tambi lagi.
" Mengenai hal apa,..?" tanya Raak Senggani lagi.
" Mengenai orang orang terdekat dari Tumenggung Waturangga ini,.." sahut Ki Tambi.
" Memangnya ada apa dengan para pembantu Tumenggung Waturangga itu , Kj ,.." seru Raka Senggani.
Sambil nafas dalam dalam, Ki Tambi mengatakan bahwa sesungguhnya banyak orang -orang yg memiliki kemampuan sangat tinggi berada di dekat Tumenggung Waturangga ini termasuk dirinya yg memang sengaja di sususpkan.
Akan tetapi bagi Senopati sandi Demak ini tidak menjadi persoalan asalkan para prajurit sandi yg lain siap untuk membantu.
Itulah yg menjadi kesulitannya saat ini bahwa hampir semua lurah prajurit sandi sedang berada dimana mereka bertugas saat ini dan tidak dapat di mintai bantuannya. Hanya beberapa saja yg terdekat dengan kota Surabaya sajalah yg ada termasuk Ki Lintang Gubuk Penceng.
Tetapj tugas adalah tugas, meskipun keadaan sulit sekalipun harus tetap di jalankan menurut Ki Tambi lagi.
Setelah melihat kesungguhan dari Senopati sandi Demak ini, ia berkeyakinan dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan hasil yg sempurna.
Di dalam rumah Itu ternyata Ki Tambi tinggal sendirian karena setelah lama berlalu tidak ada seorang pun yg datang menemui mereka.
Dengan setengah berbisik ia berkata,
" Maafkan atas penyambutanku ini , Senopati, karena memang saat ini seluruh keluargaku telah aku ungsikan , keluar dari kota ini, sehingga Aku tidak dapat menyuguhkan sajian yg sepantasnya ,.." jelas Ki Tambi.
" Tidak apa -apa, Ki,.." jawab Raka Senggani.
Dan ia mengambilkan minum untuk di berikannya kepada Raka Senggani.
__ADS_1
Yah ,..hanya air putih yg di berikan oleh Ki Tambi.