Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 18 Hati yang Terluka. bag ke Lima.


__ADS_3

Sesampainya di istana kepatihan sendiri kedua perwira Pajang tersebut tidak berhasil menemui Sang Patih,.. karena beliau sedang menghadap Kanjeng Sultan Demak dalam istana.


Oleh seorang prajurit , Rangga Wira dipa dan Rangga Aryo Seno diantar langsung menghadap Kanjeng Gusti Sultan Demak II di dalam istana.


Dimana istana pada saat itu tengah diadakan sidang yg dihadiri oleh petinggi Kerajaan Demak .


Ada sang Patih,. beberapa orang Tumennggung termasuk didalam nya Tumennggung Bahu Reksa. Dan beberapa orang perwira Demak yg lain.


Melihat kehadiran dua orang tamu yaitu Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno.


Prajurit Demak yg membawa kedua orang tersebut langsung menghaturkan sembah dan menjelaskan kepada Sultan Demak mengenai dua orang prajurit Pajang yg ingin menghadap itu.


Oleh Pangeran Sabrang Lor,..atau yg lebih di kenal sebagai Senopati Sarjawala , yg kini telah naik tahta sebagai Raja Demak kedua tersebut,..Ia mempersilahkan keduanya untuk menceritakan perihal apa yg membuat mereka datang menghadap ke istana Demak itu.


Rangga Wira Dipa menjura hormat dan menghaturkan sembah kepada Kanjeng Gusti Sultan Demak, baru setelah nya ia menjelaskan mengenai kedatangn mereka ke Kota Raja Demak itu adalah atas perintah Kanjeng Adipati Pajang yg ingin memanggil pulang Senopati Pajang ,.. Senopati Brastha Abipraya guna di tugaskan untuk memberantas kawanan begal Alas Mentaok yg semakin kian meresaahkan.


Rangga Wira Dipa juga mengatakan kepada Kanjeng Sultan bahwa baru -baru ini sepasukan Pajang telah di kirim ke sana akan tetapi tidak dapat membasmi kawanan begal tersebut, bahkan Senopati pasukan itu telah tewas menemui ajalnya di Kali Opak.


Rangga Wira Dipa masih melanjutkan lagi bahwa Kanjeng Adipati Pajang sangat berharap sekali Kanjeng Sultan Demak mau memberikan bantuan prajurit terpilihnya untuk mendampingi sang Senopati.


Pangeran Sabrang Lor yg telah bergelar Sultan Demak II itu pun segera memerintahkan seorang prajurit untuk memanggil Senopati Brastha Abipraya untuk datang menghadap ke dalam istana,. karena saat ini ia tengah berada di dalam bangsal Kasatriaan.


Kemudian sang Sultan menanyakan kepada Rangga Wira Dipa, apakah memang Penghuni Alas Mentaok itu cukup banyak atau hanya beberapa orang saja.


Di jelaskan oleh Rangga Wira Dipa, jumlah kawanan begal Alas Mentaok tersebut memang tidak terlalu banyak mungkin hanya mencapai ratusan orang saja akan tetapi mereka terdiri dari orang -orang yg berilmu sangat tinggi termasuk Pemimpin nya.


Demikian lah penjelasan dari Rangga Wira Dipa. Dan setelah selesai kemudian Sang Sultan mengatakan kepada Tumennggung Bahu Reksa agar segera membicarakan permasalahan yg ada di Pajang itu, karena beliau tentu lebih tahu mengenai hal tersebut lantaran beliau lah Pemimpin tertinggi pasukan sandi yuda Kerajaan Demak.


Tentu hal itu telah atau setidaknya di ketahui oleh nya begitulah menurut perhitungan dari Sultan Demak II.


Dan Tumennggung Bahu Reksa pun menyanggupi permintaan dari Junjungan nya tersebut.


Ia serba sedikit menjelaskan kepada Sang Sultan mengenai masalah yg terjadi di alas Mentaok itu.


Yang menyebabkan begal di Alas Mentaok itu menjadi lebih kuat setelah bergabung nya orang -orang dari puncak gunung Merapi itu.


Sultan Demak II mendengarkan semua yg di ceritakan oleh Tumennggung Bahu Reksa.


Ia merasa perlu menata kembali keadaan dalam negeri Demak sendiri sebelum berangkat ke Melaka.


Dan tidak terlalu lama datanglah Senopati Brastha Abipraya, ia pun mengambil tempat duduk di dekat dua orang bawahan nya yg berasal dari Pajang tersebut.


Ketiganya saling mengucapkan salam dan menanyakan keselamatan setelah sebelum nya sang Senopati menjura hormat dan menghaturkan sembah kepada sang Sultan sendiri.


Senopati Brastha Abipraya agak terkejut dengan kehadiran dua orang perwira Pajang itu,..namun setelah di jelaskan oleh Kanjeng Gusti Sultan Demak II barulah ia mengerti duduk permasalahan nya.


Kemudian Sultan Demak memerintahkan kepada Senopati Brastha Abipraya itu untuk kembali ke Pajang dan menumpas para kawanan begal yg ada di Alas Mentaok tersebut.


Ia juga di perbolehkan oleh Sultan Demak II untuk membawa prajurit terpilih dari Demak.


Setelah mengatakan semuanya ,..Sultan Demak kemudian mempersilahkan kepada yg berkepentingan untuk meninggalkan balairung istana, agar mereka segera dapat secepatnya berangkat ke Alas Mentaok.


Kemudian Tumennggung Bahu Reksa,. Raka Senggani dan dua orang Rangga dari Pajang itu pamit sambil sebelum nya menghaturkan sembah kepada Kanjeng Sultan Demak II.


Keempatnya meninggalkan istana Demak menuju ke kediaman dari Tumennggung Bahu Reksa.


Akan tetapi dua orang Rangga dari Pajang itu singgah terlebih dahulu di istana kepatihan untuk mengambil kuda kuda mereka.


Di kediaman Tumennggung Bahu Reksa,.. kemudian mereka segera membicarakan permasalahan yg terjadi di alas Mentaok itu.

__ADS_1


Tumennggung Bahu Reksa akan memberikan sepuluh orang prajurit sandi terpilih yg akan membantu tugas sang Senopati yg merupakan anak angkatnya itu.


Ke sepuluh orang prajurit sandi itu akan tiba dimana Senopati Pajang itu akan meletakkan pasukan nya.


Hal itu ditanyakan oleh Tumennggung Bahu Reksa mengnai hal itu, kapan dan dimana mereka akan melakukan tempat landasan guna menyerang para kawanan rampok Alas Mentaok.


Raka Senggani kemudian menanyakan hal tersebut kepada dua orang perwira Pajang bawahan nya itu.


Oleh Rangga Wira Dipa dikatakan bahwa sebelum nya para prajurit Pajang yg di pimpin oleh Tumennggung Jala Wisesa berada di Macanan sebagai landasannya.


Raka Senggani yg juga telah diangkat sebagai seorang Senopati prajurit sandi Demak oleh Sultan Demak II segera mengatakan bahwa mereka tidak akan menmpatkan Macanan sebagai pijakan nya,.akan tetapi Prambanan lah sebagai landasannya.


Mendengar pernyataan nya itu,.baik Rangga Aryo Seno dan Rangga Wira Dipa terkejut mendengar nya, karena tempat itu sangat dekat sekali ke Alas Mentaok nya,.jadi tentunya akan membuat semua pergerakan pasukan itu dapat di ketahui oleh para kawanan begal tersebut.


Akan tetapi Raka Senggani beralasan bahwa kali ini Pajang tidak akan membawa pasukan yg sangat besar seperti yg telah di lakukan oleh Tumennggung Jala Wisesa,.bahkan menurut nya kali ini ia akan membawa pasukan yg lebih kecil dari jumlah kawanan rampok tersebut.


Kembali pernyataan dari Senopati Brastha Abipraya itu membuat tercengang dengan apa yg telah di ucapkan nya.


Kedua perwira Pajang itu beranggapan bahwa dengan jumlah prajurit yg besar saja mereka belum tentu dapat mengalahkan para perampok itu, jika harus lebih kecil lagi apa tidak sama saja bunuh diri, begitulah menurut mereka.


Tetapi kemudian Raka Senggani sang Senopati Brastha Abipraya itu mengatakan bahwa untuk mengatasi masalah di alas Mentaok itu tidak perlu menggunakan kekuatan yg sangat besar, karena akan sangat merugikan pasukan, di sebabkan para kawanan rampok itu tidak terikat dengan tata gelar bahkan paugeran yg berlaku dalam sebuah peperangan, mereka umum nya mengandalkan kemampuan pribadi masing-masing sehingga jika Pajang tetap akan mengerahkan pasukan yg lebih besar tentu tidak akan berguna sama sekali, mereka dapat mengintai dan menghabisi pasukan baru setelah nya mereka mundur masuk ke dalam hutan yg lebih dalam lagi, tentu itu sama saja sia -sia.


" Tidak salah Kanjeng Gusti Sultan Demak II menganugerahi dirimu sebagai seorang Senopati prajurit sandi Demak,..itulah pemikiran seorang prajurit sandi kelas wahid,.." seru Tumennggung Bahu Reksa girang.


Ia sungguh tidak menyangka bahwa memang anak angkatnya itu memiliki naluri sandi yg tinggi selain kemampuan olah kanuragan nya yg sangat mumpuni.


Tak habis-habisnya ia mengagumi sang anak angkatnya tersebut.


Kemudian Tumennggung Bahu Reksa menanyakan lagi kapan waktunya akan dimulai penyerangan ke alas Mentaok itu,..ini sangat penting karena prajurit yg akan dikirimnya nanti akan tiba tepat pada waktunya.


Sepekan dari sekarang ,.jawab Raka Senggani dengan tegas.


Tetapi Raka Senggani berketetapan demikian agar masalah itu cepat selesainya.


Tumenggung Bahu Reksa kemudian menyetujui usulan dari anak angkatnya itu.


Secara khusus ia mengatakan kepada Raka Senggani tentang prajurit Demak yg akan membantunya itu.


Mereka tidak akan memakai nama sebenarnya,. mereka akan mengatakan kepada Senopati Brastha Abipraya dengan nama sandi nya yaitu sepuluh nama bintang.


Di mulai dengan Lintang Panjer Rina, Lintang Panjer Suruf, Lintang Waluku,.Lintang Pedati Suwung,.Lintang sapi Gumarang, Lintang Jaka Belek,..Lintang Gubug penceng, Lintang Banyak Angkrem, dan Lintang Wulung serta Lintang Lanjer Ngirim.


Sedangkan untuk dirinya sendiri Tumenggung Bahu Reksa mengatakan bahwa dalam tugas kali ini ia di beri nama sandi Lintang Kemukus,.. sedangkan nama seorang Senopati prajurit sandi Demak sendiri adalah Lintang Bima Sakti.


Jika nama keduanya itu dapat ia sebutkan jika telah bertemu dengan mereka yg merupakan prajurit sandi,..tentu mereka akan tahu bahwa diri Senopati Pajang itu adalah pemimpin mereka.


Hal ini tidak di dengar oleh dua orang Rangga kepercayaan dari Tumenggung Wangsa Rana yg dari Pajang tersebut,.agar kerahasiaan para prajurit sandi Demak itu tetap terjaga, dan sebagai seorang Senopati pun, Raka Senggani tidak boleh membicarakan hal ini kepada siapa pun termasuk kepada istri atau kedua orang tuanya.


Raka Senggani mengerti dan memahami hal ini,.sebagai seorang yg telah cukup lama diangkat oleh Tumenggung Bahu Reksa sebagai prajurit sandi Demak, sedikit banyak ia mengetahui paugeran sebagai seorang prajurit sandi,..biar pecah di perut asal tidak pecah di mulut.


Setelah memberikan wejangan dan beberapa nasehat oleh Tumenggung Bahu Reksa, Ketiga orang Pajang itu beristrahat. Mereka pada keesokan harinya baru bernagkat pulang ke Pajang.


Dalam pada itu di istana Pajang sendiri telah kedatangan seorang tamu yg tiba dari Tanah Perdikan Menoreh.


Ia adalah pengawal tanah perdikan Menoreh yg di kirimkan oleh Ki Ageng Manguntur sambil membawa sebuah pesan yg di tuliskan dalam sebuah lontar.


Pengawal tanah perdikan Menoreh memberikan nya langsung kepada sang Adipati.


Oleh Adipati Pajang kemudian di bukanya dan di baca isi surat tersebut.Wajah dari pemimpin tertinggi Kadipaten Pajang itu terlihat sedih kemudian ia menutup nya setelah selesai membacanya.

__ADS_1


" Katakan kepada adi Manguntur, bahwa tidak ada masalah antara aku dan dirinya,.mungkin ini hanya tidak adanya hubungan yg akrab sehingga membuat kita berdua tampak semakin jauh,.dan kami dengan senang hati menerima bantuan dari siapa pun termasuk dengan adi Manguntur ini, sekali lagi maafkanlah kami,." ucap Sang Adipati Pajang.


Ia juga kemudian menuliskan surat balasan nya sebagai jawaban nya kepada Ki Ageng Manguntur pemimpin tanah perdikan Menoreh.


Sementara itu di saat terik -teriknya panas mentari di siang itu,.terlihat tiga ekor kuda tengah berpacu sangat kencang menuju kota Pajang.


Dan penunggang nya adalah tiga perwira yg kadipaten tersebut.


Si Jangu kuda tunggangan dari Raka Senggani berada paling depan dengan gagah nya berlari baru di susul oleh kuda Rangga Wira Dipa dan paling akhir adalah kuda Rangga Aryo Seno.


Di sebuah tepian kali , saat waktu telah zuhur,..si Jangu berhenti mendadak dengan mengangkat kedua kaki depannya tinggi -tinggi.


" Huffhh,."


" Ada apa Senopati ,..mengapa kita berhenti di sini,..?" tanya Rangga Wira Dipa.


Ia pun menghentikan kudanya dan diikuti pula oleh Rangga Aryo Seno.


" Aku ingin sholat,.."


Jawab Raka Senggani pendek,..ia pun turun dari punggung si Jangu dan menambatkan kudanya itu pada sebuah tumbuhan perdu yg berada tepat tepian Kali kecil itu.


Dirinya kemudian mengambil air dan mulai membasuh kedua tangan nya baru setelah nya ia berwudhu.


Sebentar kemudian ia telah melakukan sholat, sedangkan dua orang perwira Pajang itu pun mengikutinya. Sebenarnya mereka merasa segan jika tidak turut melakukan hal itu.


Sehingga Raka Senggani lah yg menjadi imam sholat yg mereka lakukan di tepian kali tersebut.


Kemudian mereka tidak beristrahat lagi langsung melanjutkan perjalanan nya menuju ke Pajang.


Pada keesokan sorenya,..saat tiba di sebuah pertigaan,.yg sebelah kanan menuju ke kota Pajang sedangkan yg ke kiri menuju arah ke desa Kenanga, kembali Raka Senggani menghentikan kudanya.


" Huffhh,..!"


Kali ini Rangga Aryo Seno lah yg bertanya.


" Ada apa Senopati ,..?"


Pertanyaan yg serupa juga sebenarnya ingin di tanyakan oleh Rangga Wira Dipa.


Karena memang jarak ke Pajang sudah tidak jauh lagi.


" Kakang Rangga Aryo Seno,.. segeralah ke desa Kenanga,..katakan kepada Kakang Andara dan Kakang Witangsa untuk datang ke Pajang,..biar kami berdua saja yg lanjut ke Pajang ,.. Kakang Rangga segeralah ke Kenanga,.."


Jawaban yg keluar dari mulut Senopati Brastha Abipraya,..dan itu adalah perintah yg harus di jalankan oleh Rangga Aryo Seno.


Ia kemudian mengarahkan tunggangan nya ke kiri menuju ke desa Kenanga guna memanggil dua orang anak muda desa tersebut.


Sedangkan Raka Senggani dan Rangga Wira Dipa mengarah berbelok ke kanan menuju langsung kota Pajang.


Keduanya terus memacu kudanya dengan cukup kencang sampai malam tiba.


Akan tetapi begitu mereka mendekati sebuah tikungan tiba -tiba ada seorang yg menghadang mereka berdua.


Si Jangu sampai meringkiki cukup keras karena tuannya menghentikannya secara mendadak.


Senopati Pajang itu segera melihat ke arah orang yg tengah berdiri menghadang nya.


Ia tidak mengenal nya,.demikian pula Rangga Wira Dipa ketika hal itu di tanyakan nya kepada ki Rangga.

__ADS_1


__ADS_2