
" Akan tetapi menurut aki lebih baik Angger Senggani lebih mendekatkan diri kepada yg Maha Kuasa, karena apapun itu, ialah yg menentukannya, saran aki lebih baik Angger Senggani minta petunjuk dari Kanjeng sunan Kalijaga di Kadilangu, mintalah petunjuk darinya,!" nasehat Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
" Aki memang benar, saat ini perasaan Senggani memang cenderung panas setelah mengetahui siapa sebenarnya pembunuh kedua orang tua Senggani itu, di tambah lagi mereka tampaknya harus bersinggungan dengan Senggani selaku seorang prajurit, tindak tanduk mereka selalu membuat keonaran di wilayah Kerajaan Demak ini, bahkan tindakan mereka yg terakhir itu menjadi Si Topeng Iblis pun sangat membuat resah banyak orang, merupakan suatu ujian kesabaran buat pribadi Senggani sendiri," kata pemuda itu.
Ia terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan ceritanya.
" Aki tahu, sewaktu berada di padepokan Lereng Willis, Senggani harus meredam dendam di dada ini demi keselamatan Paman Patih Madiun, kalau tidak mungkin Senggani telah menjadi mayat,!" katanya lagi.
" Mengapa bisa begitu Ngger,?" tanya Ki Lamiran heran.
" Hehhh, karena kedua orang itu berada disana baik Mpu Phedet Pundirangan maupun Mpu Yasa Pasirangan belum lagi ditambah para muridnya yg lain termasuk yg tadi mengintip kemari, tentu bukan lawan kami yg sepadan mengingat kami hanya berenam orang saja, jika Senggani tidak bisa menahan sakit hati di dada ini, tentu kami semua akan mati, dibantai mereka,!" jelas Raka Senggani.
" Ahhh, kalau menurut aki itu tidak mungkin mereka lakukan, " kata Ki Lamiran.
" Mengapa bisa begitu Ki, jangankan seorang Patih anak Kanjeng Adipati Madiun pun telah mereka buat terluka cukup parah, yaitu pangeran Panggung,!" tanya Raka Senggani heran atas pernyataan dari Ki Lamiran tersebut.
" Itu tidak mungkin mereka lakukan karena Patih Madiun datang kesana secara resmi, tentu jika mereka berani melakukan pembunuhan atas utusan resmi dari suatu kadipaten atau Kerajaan akan membuat mereka menjadi musuh negara alias harus ditumpas, Jika Demak dan sebahagian besar kadipaten yg berada di Lereng Wilis itu bersatu menyerbu mereka, tentu nasib mereka tidak sampai sehari,!" jelas Ki Lamiran.
Ia kemudian melanjutkan lagi,
" Dan mengenai masalah pengeran Madiun itu, karena yg menyerang itu kan memakai Topeng tentu jati dirinya belum diketahui oleh banyak orang, jadi ia tentu berani berbuat semaunya, mungkin jika Kanjeng Adipati pun berada disana tentu akan mengalami nasib yg sama, terbukti bahwa Madiun sendiri tidak tahu bahwa biang kerok kerusuhan itu adalah padepokan Lereng Wilis, tempat yg menurut mereka bisa dan dapat dimintai bantuannya, Jika sedari awal Madiun tahu tentu Angger Senggani di suruh oleh Kanjeng Adipati menyerang kesana dengan membawa prajurit segelar sepapan, tidak cuma enam orang saja," jelas Ki Lamiran lagi.
Raka Senggani tampak mengangguk -anggukkan kepalanya tanda mengerti. Benar yg dikatakan oleh Ki Lamiran tersebut.
" Benar katamu Ki, apakah menurutmu Panembahan Lawu berada di pihak mereka, Ki,?" tanya Raka Senggani.
" Wah kalau masalah itu aki tidak tahu, bisa jadi iya, boleh jadi juga tidak, karena Panembahan Lawu sepertinya kurang dekat dengan padepokan Lereng Wilis maupun Lereng Merapi,!" jawab Ki Lamiran lagi.
Raka Senggani kemudian bertanya,
" Apakah menurut Aki, Senggani bisa meminta bantuan dari Panembahan Lawu tersebut,?"
" Kalau menurut Aki, jangan meminta bantuan kesana tetapi Angger Senggani bisa menyelediki terlebih dahulu ,dimana sebenarnya Panembahan Lawu itu berpihak, apakah ke Merapi atau ke Kotaraja Demak,!" jawab Ki Lamiran.
" Tetapi sewaktu di Kotaraja Demak, Paman Tumennggung Bahu Reksa telah meminta bantuan dari Panembahan Lawu untuk mengirimkan murid -muridnya membantu Pasukan Demak yg akan ke Kulon, akan tetapi ditolak oleh Panembahan Lawu padahal dua orang muridnya itu adalah putra dan putri dari Paman Tumennggung Bahu Reksa,artinya ada ketidaksenangan Panembahan Lawu terhadap Kotaraja Demak ," ucap Raka Senggani.
" Belum tentu Panembahan Lawu tidak mau mengirimkan muridnya untuk membantu Kotaraja Demak dapat diartikan ia tidak suka dengan pemerintahan Demak, mungkin ada pertimbangan yg lain dari pemimpin padepokan Gunung Lawu tersebut," ujar Ki Lamiran.
Saking asyiknya kedua orang itu mengobrol tidak terasa telah masuk waktu subuh, Raka Senggani membersihkan tubuhnya dan segera melaksanakan kewajibannya selaku seorang hamba.
Setelah terang tanah ia tidak melanjutkan obrolannya dengan Ki Lamiran melainkan berjalan -jalan di desa kelahirannya itu.
Ia menuju ke rumah Ki Jagabaya, setelah melewati daerah persawahan, yg tampak mulai ditanami lagi oleh para penduduk, Raka Senggani menghirup segarnya udara pagi yg terasa sejuk .
Pemuda itu terus mengayunkan langkah-langkah kakinya menuju ke rumah Ki Jagabaya tersebut.
Seisi rumah itu terkejut akan kehadiran dari Putra Raka jaya tersebut.
" Kapan angger Senggani tiba, dan bagaimana keadaan di Madiun ,?" tanya Ki Jagabaya setelah menyuruh Raka Senggani naik ke pendopo rumahnya itu.
" Tadi malam paman ,Senggani tiba di Kenanga, dan keadaan dari Madiun sudah agak tenang meski Si Topeng Iblis itu belum tertangkap," jawab Raka Senggani atas pertanyaan Ki Jagabaya itu.
" Hehh, Si Topeng Iblis belum tertangkap mengapa angger Senggani malah pulang kemari ,?" tanya Ki Jagabaya heran.
__ADS_1
" Kanjeng Adipati Pajang meminta Senggani untuk pulang ada tugas yg harus dilakukan di Pajang ini, dan itupun atas persetujuan dari Adipati Madiun,!" jelas Raka Senggani.
" Memang Angger Senggani sekarang telah menjadi prajurit yg sangat sibuk sehingga untuk dapat tinggal sebentar saja di Kenanga sangat sulit," ucap Ki Jagabaya itu.
Tidak terlalu lama , putri Ki Jagabaya Sari Kemuning keluar membawakan sarapan kepada kedua orang itu.
" Silahkan Kang, diminum wedangnya mumpung masih panas bisa menghangatkan badan, karena udara cukup dingin saat ini,!" ucap Sari Kemuning.
" Silahkan, silahkan Ngger, " kata Ki Jagabaya.
Ia segera menyeruput wedang yg telah disajikan oleh Sari Kemuning. Raka Senggani pun mengikutinya, ia pun segera menyeruput wedang jahe yg masih mengepulkan asap itu.
" Apakah angger Senggani tidak ke rumah Juragan Tarya, karena beberapa kali ia bertanya kepada Ki Bekel tentang keadaan dari Angger Senggani,?" tanya Ki Jagabaya sambil mengambil sepotong ketela rambat rebus.
" Ahh, bagaimana Senggani menjawab pertanyaan dari Paman Jagabaya itu, apa kepentingan Senggani harus mampir kerumah Juragan Tarya tersebut,?" balik Raka Senggani yg bertanya.
" Begini Lho Ngger, angger Senggani jangan marah kepada paman, karena sebenarnya sayembara dari Juragan Tarya itu masih berlaku, dan kemungkinan ia masih mengharapkan Angger Senggani sebagai mantunya, ataupun jikalau angger Senggani menolaknya , Angger dapat langsung memberitahukan kepadanya, jadi angger Rindayu bisa mencari jodoh yg lain," ungkap Ki Jagabaya.
Raka Senggani memandangi burung -burung yg hinggap diatas pohon rambutan yg ada di depan rumah Ki Jagabaya itu sambil sesekali melirik kearah Sari Kemuning yg masih duduk di tempat itu.
Karena Raka Senggani diam tidak menjawab perkataan dari Ki Jagabaya itu, maka orang nomor satu di bidang keamanan desa Kenanga itu berucap,
" Nduk Kemuning, tolong sebentar ke belakang , Romo ingin berbincang tentang masalah laki -laki dengan angger Senggani,!" katanya kepada putrinya itu.
" Ahh, Romo, Kemuning disini saja, biar Kemuning tahu perasaan kakang Senggani terhadap Tara Rindayu,!" jawab Sari Kemuning.
" Hussshh, cah wedok kok mbandel, wis masuk ke dalam dulu, Romo ingin berbincang dengan kakangmu, penting,!" ucap Ki Jagabaya setengah memaksa putrinya itu.
Mau tidak mau Sari Kemuning beringsut dan masuk kedalam rumah, namun ia tidak langsung ke dapur tetapi masih mengintip dari balik pintu.
" Jadi bagaimana menurutmu Angger Senggani tentang pendapat dari Juragan Tarya itu,?"
" Senggani tidak tahu Paman Jagabaya, saat ini urusan Senggani masih sangat banyak, belum kepikiran untuk berumah tangga, entahlah nanti bila telah waktunya tiba, dan hati Senggani telah cocok dengan perempuan itu, mungkin barulah Senggani akan menikah,!" jawab pemuda itu.
" Jadi angger Senggani tidak akan ke rumah Juragan Tarya itu dalam waktu dekat ini,?" tanya Ki Jagabaya lagi.
Kepala Raka Senggani menggeleng , ia kemudian berkata,
" Mungkin besok Senggani akan gunung Lawu untuk menemui Panembahan Lawu, setelahnya langsung akan ke Pajang, mungkin di Pajang pun tidak terlalu lama karena kelihatannya tugas kali akan melibatkan Kotaraja Demak, jadi kemungkinannya Senggani akan ke Demak, jadi sebenarnya kesempatan ini untuk datang kemari sekedar melepaskan segala kepenatan badan dan pikiran, Paman Jagabaya, jika harus ke rumah Juragan Tarya akan menambah pikiran Senggani menjadi sulit, sulit untuk mencari jawaban yg pas untuk orang tua dari Tara Rindayu itu,!" ungkap Raka Senggani.
" Baiklah kalau begitu Ngger, Paman tidak bermaksud turut campur masalah pribadimu, hanya karena mendengar beberapa kali Juragan Tarya menanyakan hal itu kepada Ki Bekel saat Paman berada disana, bukan maksud Paman untuk menambah sulit keadaan angger Senggani, dan sebelumnya Paman minta maaf kepadamu , Ngger," ucap Ki Jagabaya lagi.
" Tidak apa -apa Paman Jagabaya, terima kasih telah mau mengingatkan Senggani, namun untuk kali ini Senggani belum bisa menjawabnya,!" jelas Raka Senggani.
Sari Kemuning yg mendengar dari balik pintu terlihat senyum dikulum, ia masih yakin bahwa pemuda idamannya itu akan memilihnya,
" Terbukti kakang Senggani mau datang kemari, tidak ke tempatnya Rindayu,!" ucap gadis itu di dalam hatinya.
Cukup lama Raka Senggani berada di rumah Ki Jagabaya, baru setelahnya ia ke rumah Ki Bekel yg tidak terlalu jauh dari rumah Ki Jagabaya itu.
Disana pun ia mendapatkan pertanyaan yg sama dari Ki Bekel. Bahkan Ki Bekel menembak langsung Raka Senggani bahwa pemuda itu memiliki hati terhadap Sari Kemuning putri Jagabaya desa Kenanga tersebut.
Wajah pemuda itu nampak merona merah mendapati pertanyaan dari Ki Bekel tersebut, kemudian ia menjawab pertanyaan itu dengan kata-kata yg agak sulit di pahami Ki Bekel, namun pemimpin desa Kenanga itu mengambil kesimpulan, bahwa Raka Senggani memang ada hati dengan Sari Kemuning.
__ADS_1
Setelah dari rumah Ki Bekel , Raka Senggani pamit pulang ke rumah Ki Lamiran. Disana terlihat Ki lamiran tengah memperbaiki sebuah kandang ayam, dan begitu melihat Raka Senggani kembali iapun segera meninggalkan pekerjaannya itu dan langsung duduk di sebuah amben bambu yg ada di teras rumahnya itu.
" Makan dimana tadi Ngger,?" tanya Ki Lamiran.
" Di rumah Ki Bekel, Ki dan sarapan nya dirumahnya Ki Jagabaya," jawab Raka Senggani.
" Apa pendapat mereka atas kepulangan Angger Senggani di Kenanga ini,?" tanya Ki Lamiran lagi.
" Umumnya mereka bertanya tentang hubungan Senggani dengan Tara Rindayu, Ki," jawab Raka Senggani.
" Apa jawabmu Ngger,?" tanya Ki Lamiran.
" Senggani tidak tahu menjawabnya, Ki, karena tugas Senggani masih banyak, itulah jawaban Senggani atas pertanyaan mereka , Ki," ucap Raka Senggani.
Keduanya terus mengobrol dengan sangat seru, karena Raka Senggani merasa sangat cocok dengan orangtua tersebut.
Dan keesokan harinya , Raka Senggani pamit akan ke Gunung Lawu, ia akan meminta pandangan dari Panembahan Lawu tersebut.
" Ki, Senggani pamit, nanti setelah dari Gunung Lawu, Senggani akan kembali kemari, baru setelahnya akan ke Pajang,!" ucapnya pada Ki Lamiran.
" Silahkan Ngger, jaga dirimu baik -baik,!" nasehat Ki Lamiran kepada Raka Senggani.
Pemuda itu kemudian memacu kudanya mengarah ke Gunung Lawu.
Sebentar kemudian saat matahari memanaskan tubuh ia telah sampai di candi Sukuh, dan selanjutnya ia mengarah agak ke utara menuju kaki gunung lawu, belum matahari diatas kepala pemuda itu telah sampai di kaki gunung Lawu tersebut.
Konon kabarnya , gunung Lawu itu adalah petilasan terakhir dari Prabhu Brawijaya terakhir sebelum menjalani moksanya.
Ketika berada di kaki gunung Lawu sebelah selatan itu , Raka Senggani merasa ada yg mengikutinya, namun pemuda itu tidak terlalu mempermasalahkan nya.
Tetapi ketika tiba-tiba di depannya ada orang yg menghalangi jalannya barulah pemuda itu agak kurang senang melihat nya.
" Ku mohon Kisanak tidak menghalangi jalan ku,!" kata Raka Senggani kepada orang itu.
Orang itu diam saja sambil membelakangi Raka Senggani, terlihat dari belakang orang yg memakai jubah panjang yg serba Putih itu menggengam sebuah tongkat.
Ia tidak berpaling ketika ditegur oleh Raka Senggani.
" Sekali lagi Kumohon sudilah kiranya Kisanak tidak menghalangi jalanku,!" ucap Raka Senggani lagi.
Barulah orang itu berbalik dan nampaklah seraut wajah yg sudah cukup tua dan sepuh dengan di timbuhi rambut dan jenggot yg sudah memutih, orang itu terlihat mengembangkan sebuah senyuman, ia kemudian berkata,
" Apakah kiranya saya berhadapan dengan seorang Senopati Pajang yg namanya sudah cukup tersohor itu, ?" tanya lelaki tua tersebut.
Raka Senggani tidak langsung menjawab pertanyaan dari orang tua tersebut, ia memandangi dengan seksama wajah dari orang itu.
" Apakah saya tengah berhadapan dengan Senopati Raka Senggani dari Pajang,?" tanya orang itu lagi.
" Bagaimana bisa tahu orang ini namaku, siapa dia sebenarnya, !" berkata di dalam hatinya Raka Senggani.
" Bukan , aku bukan seorang prajurit Pajang,!" jawab Raka Senggani berbohong.
Karena ia belum mengenal orang yg berada di hadapannya itu sehingga Raka Senggani berusaha menutupi jati dirinya di tambah lagi ia saat itu tidak mengenakan seragam keprajuritan.
__ADS_1
" Apakah memang seorang yg telah terkenal akan kemampuan yg tinggi dalam olah kanuragan itu suka berbohong, atau memang kemampuannya itu hanya omong kosang belaka,!" kata orang itu lagi.
Raka Senggani merasa bahwa orang itu telah mengetahuinya, dan mungkin telah mengikutinya sejak dari Desa Kenanga tadi, pikirnya dalam hati.