
Setelah melihat tubuh Ki Maruk Goro jatuh ke atas tanah, Raka Senggani meninggalkan tempat tersebut.
Ia kembali ke tempat pertempuran para prajurit Pajang melawan gerombolan rampok .
Setelah tiba di sana Senopati Brastha Abipraya melihat keadaan sudah menjadi sepi.
Para penduduk pedukuhan nampak sibuk membenahi rumah rumah yg hangus terbakar, ada yg mengambil beberapa bagian yang masih dapat di pergunakan.
Sedang sebahagian yg lain mengurus warga pedukuhan yg terluka bahkan yg telah tewas.
" Bagaimana dengan para perampok itu, Ki Rangga,.?" tanya Raka Senggani kepada Rangga Aryo Seno.
" Hehh, Senopati Brastha Abipraya, sebahagian besar dari mereka telah tewas, meski ada juga yang berhasil melarikan diri,..!" jawab Rangga Aryo Seno agak terkejut ketika di sapa oleh Raka Senggani.
Untuk selanjutnya ia menanyakan mengenai pemimpin gerombolan rampok tersebut kepada Raka Senggani.
Oleh Senopati Brastha Abipraya dijawab bahwa orang yang bernama Ki Maruk Goro yg menjadi pemimpin gerombolan rampok ini telah tewas.
" Ki Rangga, perintahkan kepada prajurit mu untuk melihat ke sana, serta kuburkan para perampok itu dengan selayaknya, untuk yg terluka segera beri pengobatan,.!" kata Senopati Brastha Abipraya.
" Baik Senopati,..!" sahut Rangga Aryo Seno.
Raka Senggani lantas mendekati Raka Yantra yg nampak tengah berbincang dengan pemimpin Pedukuhan i.
" Bagaimana keadaan mu Kakang Yantra,..?" tanya Raka Senggani kepada kakak sepupu nya.
" Baik adi Senggani, oh iya,..ini adalah Bekel pedukuhan ,!" terang Raka Yantra.
Raka Senggani pun bebincang kepada pemimpin pedukuhan tersebut.
Ia menanyakan kepada Ki Bekel, sudah berapa kali wilayah nya mengalami perampokan.
Oleh Bekel Pedukuhan dijawab bahwa mereka sudah sering kali mengalami hal yg serupa namun untuk kali inilah yg paling parah keadaan nya.
Raka Senggani memanggil Rangga Aryo Seno dan mereka bertiga berkumpul.
" Ki Rangga, ada baiknya kita meninggalkan seorang prajurit di sini dan beberapa pedukuhan yg berada di wilayah Kulon dan lor,..!" ucap Raka Senggani.
" Apakah tidak akan terlalu berbahaya jika hanya meninggalkan seorang prajurit saja di pedukuhan ini, bila gerombolan rampok yg lain datang mereka akan mudah di kalahkan,..!" sahut Rangga Aryo Seno.
" Bila demikian sebaiknya kita meninggalkan dua orang prajurit dan mereka bertugas hanya untuk berjaga jaga saja, bila memang ada kawanan rampok yg datang jumlah nya cukup banyak sebaiknya mereka melaporkan ke Pajang saja, guna mendapatkan bantuan,..!" terang Raka Senggani.
Lalu Ki Bekel Pedukuhan yg mendengar ucapan dari Senopati Brastha Abipraya ini segera menanyakan bagaimana dengan mayat -mayat dari kawanan rampok.
__ADS_1
" Sebaiknya mereka segera di kuburkan saja Ki Bekel,.!" jawab Raka Senggani.
" Kami dan seluruh warga pedukuhan tidak mau melakukan nya, Senopati,..telah terlalu banyak mereka membuat kerusakan disini, ada dendam di warga kami ini ,.!" ucap Ki Bekel.
" Biarlah para prajurit Pajang saja yg melakukan nya Ki Bekel,..!" ujar Raka Senggani.
Ia pun segera memeriksa keadaan dari para prajurit Pajang, ada empat orang yg terluka dan sedang di rawat oleh prajurit yang lain.
Sedangkan sisanya di perintahkan oleh Senopati Brastha Abipraya untuk menguburkan kawanan rampok yg tewas.
Termasuk juga Ki Maruk Goro.
Menjelang tengah hari selesai sudah para prajurit Pajang ini melakukan penguburan.
Dan sebahagian dari mereka segera ber kumpul.
" Diantara kalian ada beberapa orang yg harus tinggal di beberapa pedukuhan, tugas kalian adalah berjaga jaga, jika kalian melihat ada tanda-tanda kedatangan dari para pembuat kerusuhan segera laporkan ke Pajang,.!" sebut Rangga Aryo Seno.
Setelah membagi tugas maka Rangga Aryo Seno dan Senopati Brastha Abipraya meninggalkan pedukuhan tersebut kembali ke Pajang.
Dan Alangkah terkejutnya semua para prajurit Pajang termasuk juga dengan Senopati Brastha Abipraya bahwa Kanjeng Gusti Adipati Pajang telah mangkat.
" Innalilahi wa innailaihi rojiun,.!" seru Raka Senggani.
Ia dan Raka Yantra langsung menuju ke kediaman dari Tumenggung Wangsa Rana.
Disana Raka Senggani tidak bertemu dengan sang Tumenggung, hanya istrinya saja yg berada di situ.
" Apakah Angger Senopati baru tiba di sini,.!" tanya istri Tumenggung Wangsa Rana.
" Iya, BI, kami baru saja tiba di sini,..!" jawab Raka Senggani.
"Sebaiknya Angger tunggu sebentar lagi, nanti Paman mu akan segera datang, karena ia sudah seharian di istana,..,!" terang Nyi Tumenggung.
" Baik,.Bi,.!" sahut Raka Senggani.
Berdua mereka segera membersihkan diri di pakiwan, dan saat malam mulai menyelubungi tanah Pajang barulah Tumenggung Wangsa Rana kembali pulang.
Ia menunjukkan raut wajah kesedihan.
Saat bertemu dengan Raka Senggani, langsung saja Tumenggung Wangsa Rana menceritakan mengenai perihal mangkatnya Adipati Pajang itu.
" Angger, mungkin sudah saatnya yg Maha Pencipta memanggil pulang Gusti Adipati,..heh,.!" ucapnya.
__ADS_1
" Jadi kapan Kanjeng Gusti Adipati akan di kebumikan , Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani.
Tumenggung Wangsa Rana mengatakan kepada Raka Senggani bahwa sepertinya Adipati Pajang akan di kuburkan pada esok hari.
Menurut nya memang sudah tidak lagi yg perlu di tunggu karena kedua anaknya pun telah berada di Pajang ini.
" Apakah Kanjeng Gusti Sinuwun akan datang melayat kemari, Paman,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Ahh, entahlah Ngger,.tampaknya pihak Kotaraja Demak tidak terlalu menyukai dengan Gusti Adipati Pajang ini,.jadi belum tentu akan hadir mereka ke Pajang ini,..,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.
Mereka asyik berbincang sampai tiba saatnya makan malam.
Dan malam itu Raka Senggani dan Raka Yantra menginap di kediaman Tumenggung Wangsa Rana.
Pada keesokan harinya, keadaan di Kota Pajang terlihat mendung menggantung.
Dan di dalam istana Pajang pun tengah disibukkan dengan acara pemakaman dari orang nomor satu di kadipaten ini.
Saat memasuki sore hari, barulah Mayat dari Sang Adipati di kuburkan.
Sesaat kemudian , tidak lama sesudah nya , hujan pun turun dengan derasnya membasahi bumi Pajang.
Seluruh penduduk Pajang melepaskan kepergian junjungan ke peristirahatan nya yg terakhir.
Rasa sedih terlihat di wajah -wajah mereka.
Senopati Brastha Abipraya dan Kakak sepupu nya setelah selesai mengantarkan Adipati Pajang ke peristirahatan terakhir nya kembali ke rumah Tumenggung Wangsa Rana.
Raka Senggani kembali menanyakan akan nasibnya setelah kepergian dari sang Adipati.
" Paman Tumenggung , mungkin diriku lebih baik mengundurkan diri dari keprajuritan Pajang ini,.!" ucap nya kepada Tumenggung Wangsa Rana.
" Mengapa demikian , Ngger..?" tanya Tumenggung Wangsa Rana heran.
" Karena diriku ini diangkat oleh Gusti Adipati, jadi setelah ia mangkat, diriku memang sebaiknya mengundurkan diri saja, apalagi nanti jika pihak Kotaraja Demak yg akan mengambil alih kekuasaan Pajang ini,..!" jelas Senopati Brastha Abipraya.
Memang ada rasa yang kurang berkenan dalam hati dari Senopati Brastha Abipraya ini jika harus ikut dalam kekuasaan dari Sultan Trenggana ini.
Ia merasa ada jarak dengan Sultan Demak ketiga ini.
Hahh, entahlah, mungkin Kanjeng Gusti Sultan Trenggana tidak melakukan hal tersebut akan tetapi orang orang dekatnya lah yg telah melakukan nya , berkata dalam hati Senopati Brastha Abipraya.
Saat ia mengenang kembali beberapa peristiwa silam yg telah terjadi termasuk yg menimpa dari Pangeran Abdullah Wangsa.
__ADS_1