
Senopati Brastha Abipraya yg berada di kediaman Tumenggung Bahu Reksa itu di sambut dengan sangat baik oleh orang tua angkatnya itu.
Dan dengan di dampingi beberapa perwira Pajang yg lainnya mereka berkumpul dan berbicara dengan Tumenggung Kepercayaan dari Pangeran Sabrang Lor itu.
Tumenggung Bahu Reksa kemudian menyapa para perwira Pajang itu termasuk dengan Raka Senggani.
Kemudian Tumenggung Bahu Reksa itu menjelaskan bahwa saat ini memang keadaan Demak pun sedang tidak baik -baik saja.
Senopati Brastha Abipraya yg mendengar hal itu segera bertanya,
" Memang kenapa Paman Tumenggung,.apa yg membuat Demak begitu,..?" tanya Raka Senggani.
" Paman mengatakan hal ini berhubung keadaan Kanjeng Sinuwun,..Sultan Demak yg tengah sakit keras,..sehingga Kanjeng Pangeran Sabrang Lor harus menunda keberangkatan pasukan menuju ke Lor itu sampai ,..keadaan Kanjeng Sinuwun kembali pulih,.." terang Tumenggung Bahu Reksa.
" Sejak kapan Kanjeng Gusti Sinuwun itu sakit,. Kanjeng Tumenggung.?" tanya Rangga Wira Dipa.
" Sudah hampir sepekan ini,..bahkan sejak kemarin,..keadaan nya makin memburuk,..!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.
Seluruh para perwira Pajang dan Senopati Brastha Abipraya saling berpandangan,.. mereka merasa bahwa serangan ke Lor itu tidak akan terlaksana dalam waktu dekat ini,..kecuali keadaan Sultan Demak itu telah membaik.
" Yah,..memang umur kita tidak ada yg tahu,..padahal seluruh persiapan telah rampung,..bahkan kapal Jung milik Kanjeng Pangeran pun telah siap untuk di pergunakan,..tetapi saat ini,.. Kanjeng Pangeran Sabrang Lor pun belum memberikan perintah apa pun kepada kami,..sehingga seluruh pasukan masih dalam keadaan siap siaga saja,..tanpa ada pergerakan,..!" jelas Tumenggung Bahu Reksa.
" Apakah seluruh pasukan ditumpuk di kotaraja Demak ini,..Paman Tumenggung,..?" tanya Raka Senggani.
" Tidak,..Ngger,..sebahagaian besar telah berada di Jepara,..hanya yg datang belakangan sajalah yg ada di Kotaraja Demak ini,..!". jawab Tumenggung Bahu Reksa lagi.
" Berarti ,..pasukan yg akan berangkat kali cukup banyak Paman Tumenggung,.. karena di bangsal keprajuritan Demak saja sudah sebanyak itu ditambah lagi yg ada di Jepara,..tentu akan lebih banyak lagi,.." ucap Raka Senggani.
" Memang sangat banyak,..Ngger,.. mungkin jumlahnya mencapai puluhan ribu prajurit,.. karena kapal perang yg disiapkan pun jumlahnya mencapai ratusan,..baik yg kecil maupun yg besar,.." terang Tume Bahu Reksa.
Raka Senggani dan para perwira Pajang yg lain membayangkan sebuah armada yg sangat besar telah bersiap berangkat menuju ke arah Lor itu.
Suatu pameran kekuatan yg akan membuat lawan merasa ngeri jika harus berhadapan dengan pasukan itu,.. begitulah yg ada di pikiran masing -masing dari yg ada di tempat itu.
Selain membicarakan keadaan Demak dan para prajurit yg akan berangkat itu,.. Tumenggung Bahu Reksa pun mengatakan kepada putra angkatnya itu bahwa anaknya Lintang Sandika telah menikah dan menetap sementara di tanah Perdikan Mantyasih,..tempat istrinya itu berada.
Mendengar hal itu,..Raka Senggani merasa senang walaupun ada rasa sedih yg merayapi hatinya karena tidak dapat mendampingi kakak angkatnya itu saat melepaskan masa lajang nya.
" Bukan kami melupakanmu,..Ngger,..akan tetapi karena Paman Panembahan Lawu sendiri lah yg mengatakan kepada kami bahwa diri mu tengah berada di Tanah Perdikan Boyolangu dalam suatu tugas yg di berikannya kepadamu,..Ngger,.. maafkanlah Orangtua mu ini,..Ngger,.." kata Tumenggung Bahu Reksa.
" Tidak apa -apa,..Paman ,..pantaslah Senggani tidak melihat kakang Sandika berada disini,.. ternyata ia tengah berada di Mantyasih,.." jawab Raka Senggani.
" Benar Ngger,..kakangmu tengah berada di Mantyasih,..mungkin dalam satu purnama lahi baru ia akan kembali kemari,.." kata Tumenggung Bahu Reksa.
Sedangkan para perwira Pajang yg mendengar hal itupun cukup merasa terkejut,..ternyata salah seorang teman mereka saat berada di tanah perdikan Mantyasih itu telah berhasil menjadi penduduk tanah Perdikan itu.
" Jadi ,..adi Lintang Sandika telah menikah Kanjeng Tumenggung,..?" tanya Rangga Aryo Seno.
" Iya,..Ki Rangga,..Sandika telah menikah dan saat ini berada di Mantyasih,..!" jawab Tumenggung Bahu Reksa.
Keadaan di kediaman Tumenggung Bahu Reksa itu masih sangat ramai sampai malam menjelang pagi.
Mereka asyik terus mengobrol sampai lupa waktu. Dan ketika ayam jantan berkokok barulah mereka beristrahat.
Walaupun istrahat mereka hanya sebentar tetapi para perwira dan Senopati Brastha Abipraya itu tidak bangun kesiangan.
Saat subuh tiba di kotaraja Demak itu,..mereka segera menjalankan kewajiban nya.
__ADS_1
Dan kembali berkumpul di rumah Tumenggung Bahu Reksa saat terang tanah.
Ketika hari telah mulai terang,.. terlihat seorang prajurit Demak yg datang ke kediaman Tumenggung Bahu Reksa itu.
Ia menyanpaikan aebuah pesan kepada Tumenggung Bahu Reksa.
" Demikian lah Kanjeng Tumenggung,. Kanjeng Pangeran Sabrang Lor meminta kalian berdua datang menghadapnya,.." ucap prajurit itu.
" Kami berdua,..?" tanya Tumenggung Bahu Reksa .
" Benar Kanjeng Tumenggung,.. Kanjeng Tumenggung Bahu Reksa dan Senopati Brastha Abipraya diminta datang menghadap Kanjeng Gusti Pangeran Sabrang Lor di istananya,.." jelas prajurit itu lagi.
" Baiklah kalau begitu ..kami akan segera menghadap,.." sahut Tumenggung Bahu Reksa.
Prajurit itu segera meninggalkan kediaman Tumennggung Bahu Reksa itu.
Dan tidak terlalu lama,. Tumennggung Bahu Reksa dan Senopati Brastha Abipraya pun menyusul nya.
Di kediaman Kanjeng pengeran Sabrang Lor itu telah ramai.
Umumnya mereka yg berada di tempat itu adalah dari kalangan bangsawan dari beberapa daerah bawahan Seperti kadipaten Pati,..Jepara,..Lasem,..madiun dan beberapa wilayah lainnya.
Kedatangan dari Tumennggung Bahu Reksa dan Senopati Brastha Abipraya disambut dengan senang hati oleh Pangeran Sabrang Lor itu.
Termasuk ketiga putranya itu. Apalagi setelah melihat kehadiran Senopati Brastha Abipraya dari Kadipaten Pajang itu ketiganya dengan sangat ramah bahkan cenderung berlebihan dimata para bangsawan yg ada di tempat itu.
Diantara para bangsawan itu ada yg merasa memandang rendah kepada Senopati Pajang itu. Termasuk dari Pati dan Lasem,..dan dari Jipang.
Namun mereka tidak beranj menunjukkan nya dihadapan sang Pangeran Sabrang Lor sendiri.
Mereka masih menjaga perasaan nya itu di hadapan Sang Adipati anom itu.
"Mohon maaf Sebelumnya,.. Apa maksud Kanjeng Pangeran memanggil kami kemari,..?" tanya Tumennggung Bahu Reksa.
Karena sebenarnya pun Tumennggung Bahu Reksa agak kurang mapan hadir di tempst itu yg diisi oleh para bangsawan yg umum nya sangat tinggi hati. Tetapi karena mereka merupakan utuaan dari daerahnya masing-masing,.maka Tumennggung Bahu Reksa tidak dapat berbuat apa-apa.
" Ada sesuatu yg ingin aku bicarakan bersama kakang Tumennggung dan anak Senopati Brastha Abipraya disini,..beraama para pemimpin prajurit yg lain nya,.." terang Pangeran Sabrang Lor.
" Ampun Kanjeng Gusti Pangeran,.. masalah apakah yg akan di bicarakan itu,?" tanya Tumennggung Bahu Reksa lagi.
Sambil menarik nafas nya,.. Pangeran Sabrang Lor kemudian menjelaskan apa yg akan di bicarakan itu.
" Sebenarnya aku ingin berkata terus terang tentang keadaan Kotaraja Demak saat ini,..mengenai masalah kesehatan Ramanda Sultan yg belum juga membaik,..apakah kita akan meneruskan penyerbuan ke Malaka itu atau di hentikan saja,..?" tanya Pangeran Sabrang Lor itu.
Mereka yg ada di tempat itu terdiam mendengar pertanyaan dari junjungan nya itu,..tidak ada yg berani mengeluarkan pandangannya.
Hanya Tumennggung Bahu Reksa sajalah yg berani angkat bicara,.ia segera mengucapkan,.
" Kalau menurut hamba,..sebaiknya penyerangan ini kita tunda saja dahulu sampai kesehatan Kanjeng Gusti Sinuwun itu sembuh ,.. Kanjeng Pengeran,.." kata Tumennggung Bahu Reksa.
" Bagaimana jika dalam waktu lama,..Ramanda Sultan Demak juga tidak kunjung sembuh,..?" tanya Pangeran Sabrang Lor lagi.
Kembali suasana hening atas pertanyaan dari sang Adipati anom itu.
Masing -masing hanyut dalam pikiran nya masing-masing.
" Bagaimana pendapat kalian jika memang Ramanda Sultan Demak itu tidak kunjung sembuh,..apa yg harus kita lakukan,..?" tanya nya lagi.
__ADS_1
" Sebaiknya kita hentikan saja rencana penyerangan itu Kanjeng Pangeran, tentunya keadaan dari Kanjeng Gusti Sultan lah yg lebih utama diatas segala nya,.." terang Tumennggung Bahu Reksa lagi.
" Akan tetapi rakyat dari Malaka sangat berharap kita segera melakukan penyerangan,..karena menurut mereka ,..keadaan mereka saat ini sudah sangat aulit,..bangsa asing itu semakin semena -mena terhadap mereka,.. ditambah lagi bangsa asing itu melarang mereka menjalankan ibadah nya,..jadi sudah saatnya mereka itu harus enyah dari tanah Malaka,.." jelas Pangeran Sabrang Lor.
Kembali suasana menjadi hening, setelah mendengar penjelasan dari Pangeran sabrang Lor.
" Tetapi keadaan dalam negeri Demak sendiri pun saat ini tidak benar -benar baik,.. Kanjeng Pangeran,.ditambah lagi kita saat ini sedang menghadapi kenyataan bahwa Kanjeng Sultan yg sedang sakit keras,..memang sudah sebaiknya kita lebih baik menundanya saja,..itu adalah jalan yg terbaik ,..yg dapat kita pilih,.." kata Tumenggung Bahu Reksa.
" Akan tetapi bagaimana dengan pasukan kami yg sudah cukup lama berada disini,.apakah yg harus kami lakukan,..?" tanya Salah seorang Pangeran dari Kadipaten Lasem.
" Iya,.. kakang Tumennggung Bahu Reksa,.bagaimana dengan para prajurit yg telah berada di Demak ini,..apakah kita harus memulangkan mereka,..?" tanya Pangeran sabrang Lor pula.
" Benar,.. bagaimana dengan keadaan para prajurit kami yg datang cukup jauh dari kediri,..apakah kami memang harus kembali,..?" tanya salah seorang pemimpin dari Kediri.
" Yahh,..mungkin sebaiknya demikian,..dan jika pun harus merasa kurang berkenan adalah pasukan dari wilayah Pajang,..mereka yg baru tiba disini,..alangkah kecewanya mereka,..belumpun habis rasa lelah nya berjalan dari Pajang kemari,..sudah harua kembali lagi ke daerahnya itu,..!" terang Tumenggung Bahu Reksa.
Menurut Pangeran sabrang Lor itu,..ada baiknya juga mengundurkan jadwal keberangkatan nya.Sampai semua menjadi jelas.
Ia akhirnya mengambil keputusan,
" Sebaiknya kita menunggu sampai sepekan,.jika keadaan semakin tidak baik maka seluruh prajurit dapat kembali pulang ke tempat nya masing -masing,..dan diharapkan untuk tidak terlalu kecewa atas apa yg telah di putuskan ini,.." ungkap Pangeran sabrang Lor.
Dan pertemuan itu pun berakhir, semua para pemimpin pasukan yg ada disitu di persilahakn kembali ke tempatanya masing -masing.
Secara khusus Pangeran sabrang Lor meminta Tumenggung Bahu Reksa dan Senopati Brastha Abipraya untuk tetap tinggal,..ia ingin mengatakan sesuatu kepada kedua orang itu.
" Begini,.. Senopati Brastha Abipraya,. sebagai pemimpin tertinggi dari armada pasukan Demak ini,..Aku,.. Pangeran Dipati unus meminta kepadamu untuk dapat menjadi lawan tanding untuk seluruh putra -putraku ini,.dan demi kelancarannya,..engkau akan Ku beri gelar Raden Hidayat yg artinya sebagai sang pemberi petunjuk,.." seru Pangeran sabrang Lor itu.
" Hamba Kanjeng Gusti Pangeran,..semua titah dari Kanjeng Pangeran itu akan hamba jalankan,.." jawab Raka Senggani.
" Bagus,..dan mulai saat ini berikan lah pengarahan kepada mereka bertiga agar dapat menjadi seorang prajurit yg tangguh tanggon,..dan kelak dalam penyerbuan ke Malaka itu mereka telah menjadi seorang yg dapat diandalkan," ucap Pangeran sabrang Lor lagi.
Senopati Pajang itu mengangguk,..ia memang tidak dapat menolak permintaan dari junjungan nya itu.
Adalah salah seorang dari Putra Pangeran sabrang Lor itu yg berkata,
" Kakang Senopati,.. telah menjadi setara dengan kami setelah gelar Raden yg diberikan oleh ramanda Pangeran itu,.. kakang Senopati tidak perlu merasa sungkan lagi terhadap kami,..bukan begitu ,. kakang,." kata Raden Abdullah Wangsa.
" Hamba Raden,. walaupun sebenarnya hal ini tidak pada tempat nya,..karena hamba adalah kawula alit, yg tidak berhak atas gelar tersebut,.." jawab Raka Senggani.
" Dirimu tidak boleh berkecil hati,..Raden Hidayat,..karena gelar ini adalah gelar resmi yg telah Kuberikan,..dan nantinya akan segera diumumkan di depan khalayak ramai agar dapat di ketahui oleh orang banyak,.." terang Pangeran sabrang Lor.
Ia berkata demikian setelah melihat keraguan di wajah Senopati Pajang itu. Namun tampaknya Pangeran sabrang Lor itu tidak perduli akan tanggapan orang lain,.yg sangat diharapkan nya agar Senopati Pajang itu dapat sedikit berbagi pengalaman dengan para putranya itu. Karena dengan gelar tersebut,..sang Senopati akan lebih leluasa tinggal di lingkup keraton Demak itu.
Sedangkan ketiga putranya sangat senang atas apa yg telah di putuskan oleh Ramanda nya itu. Karena ketiganya seperti mendapatkan teman berlatih yg sangat sesuai dengan keinginan mereka.
Kepada Tumenggung Bahu Reksa,..Pangeran sabrang Lor berpesan untuk tetap dapat menjaga kepercayaan dari para prajurit dari wilayah bawahan Kotaraja Demak itu,..termasuk pula untuk menindak para pemimpin nya jika berbuat salah.
Dalam hati Tumenggung Bahu Reksa itu adalah suatu pekerjaan yg amat sulit terlebih tingkah yg adigang adigung dan adiguna dari beberapa pemimpin pasukan itu yg masih berdarah bangsawan.
Setelah selesai pertemuan dengan Pangeran sabrang Lor itu,..kedua nya segera meningglakan dalem kepangeranan. Mereka kembali ke Kediaman dari Tumenggung Bahu Reksa.
Setelah berada di Kotaraja Demak selama tiga hari,..Raka Senggani selaku penanggungjawab pasukan Pajang mendapat kabar dari dalem kepatihan bahwa Kanjeng Gusti Sultan Demak telah mangkat.
Suatu berita yg cukup mengejutkan ditengah keberadaan pasukan yg cukup besar berada di Kotaraja itu,.. Sang Sultan pun berpulang ke rahmatullah.
Sultan yg bergelar Syah Alam Akbar Al Fatah itu meninggalkan kerajaan Demak yg telah di bangun sejak awal untuk selama -selamanya.
__ADS_1
Pihak Kerajaan Demak menyatakan berkabung selama sepekan atas mangkat nya Sang Raja itu.
Tersiarlah kabar tersebut ke seantero Demak,..Rakyat Demak merasa KEHILANGAN dengan kepergian Rajanya itu untuk selama -selamanya.