
" Jadi apa hubungan kalian dengan Ki Wanacara Sangkan ini,..?" tanya Raka Senggani.
" Kami adalah adik seperguruan dari Kakang Wanacara Sangkan,.." jawab orang itu.
" Siapa nama kalian,..?". tanya Raka Senggani.
" Namaku,...Bisro dan ini temanku bernama Wasra,.." jawab orang itu.
" Jika kalian berdua adalah adik seperguruan dari Ki Wanacara Sangkan ini,..siapakah guru,..kalian,..?". tanya Raka Senggani lagi.
Orang itu terdiam sejenak,..ada rasa ingin tidak menjawabnya,..akan tetapi sekali lagi Senopati Pajang itu bertanya,..
" Jadi siapakah kiranya guru kisanak berdua ini,..apakah Res Brangah,..?" tanya Raka Senggani.
Orang yg bernama Bisro itu terkejut mendengarnya,..ia tidak menyangka orang tersebut mampu menebaknya dengan tepat.
Kepala orang itu mengangguk.
" Jadi apa tujuan dari Ki Wanacara Sangkan itu dengan membunuhi hewan ternak para penduduk pedukuhan ini,.?" tanya Raka Senggani lagi.
" Kami tidak tidak tahu kisanak,..!" jawab orang itu.
" Apakah tujuan nya untuk mendapatkan kekayaan,..?" kembali Senopati Pajang itu bertanya.
Orang yg bernama Bisro itu menggelengkan kepalanya. Tanda ia sebenarnya mengetahui tujuan dari Ki Wanacara Sangkan itu melakukan teror terhadap penduduk pedukuhan itu.
" Jika bukan karena untuk mendapatkan kekayaan ,..berarti ia melakukan nya untuk mendapatkan sebuah ilmu kdigjayaan,..?" tanya Raka Senggani lagi.
Ki Bisro diam,..ia hanya menatap ke arah tangannya.
" Benarkah bahwa Ki Wanacara Sangkan ini melakukan pembunuhan terhadap hewan ternak itu untuk mendapatkan ilmu kadigjayaan,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar Kisanak,..Kakang Wanacara memang akan menuntaskan ilmu yg didapatnya dari guru dengan menjalankan pembunuhan kemudian menghisap darah nya,.. sampai hewan tersebut mati,..!" jawab Ki Bisro.
" Untuk apa Ki Wanacara Sangkan ini mendapatkan ilmu tersebut ,..?" tanya Raka Senggani lagi.
" Ia ingin menuntut balas atas kematian dari guru dan kakang Macan Baleman,.." jawab Ki Bisro.
" Kepada siapa ia akan menuntut balas,..bukankah Resi Brangah dan Macan Baleman tewas di Mantyasih,..apakah terhadap Ki Gede Mantyasih,..?" tanya Senopati Pajang itu.
Sambil menggeleng Ki Bisro berkata,..
" Tidak ,..kakang Wanacara Sangkan akan menuntut balas kepada seorang yg sangat sakti dan orang itu adalah salah seorang Senopati dari Pajang.." jawab Ki Bisro.
" Apakah Ki Wanacara Sangkan ini mengenal sosok orang itu,..?" kembali Senopati Pajang tersebut bertanya.
" Tidak ,..akan tetapi ia tahu siapa orang itu,..yg bergelar Senopati Brastha Abipraya,..seorang Senopati Pajang yg cukup terkenal,.." jawab Ki Bisro.
Mendengar jawaban dari orang itu,..Japra Witangsa dan Dewi Dwarani tampak kaget,..mereka terkejut bukan main.
Karena ternyata tujuan dari orang itu membunuhi hewan ternak milik penduduk pedukuhan itu hanya untuk melawan Seorang Raka Senggani,..dan yg lebih anehnya lagi orang tersebut mati sebelum ia berhasil melepaskan niatnya untuk membalas dendam itu.
Dan orang yg telah membunuh nya itu adalah orang yg ingin dibunuh nya.
Keduanya terlihat berbisik,..
" Kakang Witangsa,..kenapa hal ini serba secara kebetulan,..jika Ki Wanacara Sangkan itu tahu bahwa orang yg akan dibunuhnya itu adalah lawannya malam tadi,.." ucap Dewi Dwarani.
" Sungguh sangat miris nasibnya itu,..belum pun kesampaian niatnya untuk membalas dendam,..ehh..ia malah tewas dengan orang yg akan dibunuhnya itu,..kasihan,.." jawab Japra Witangsa.
Sementara Raka Senggani kemudian bertanya kepada Bekel pedukuhan itu.
" Apakah Ki Wanacara Sangkan ini memang penduduk pedukuhan ini,..Ki Bekel,..?" tanyanya.
" Benar nak Sangga,..Ki Wanacara Sangkan ini asli penduduk pedukuhan ini meskipun ia telah pergi dari sini semasa masih muda dahulu,..!" jelas Ki Bekel.
__ADS_1
Kemudian Bekel pedukuhan itu menyambung lagi ucapan nya,
" Memang Ki Wanacara Sangkan ini semasa mudanya merantau meningglakan pedukuhan ini dan kembali lagi kemari setelah memiliki istri dan anak,.." ucap Ki Bekel.
" Artinya istri Ki Wanacara Sangkan ini bukan penduduk pedukuhan ini,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar,..katamu itu nak Sangga,..istri dari Ki Wanacara Sangkan ini bukan warga pedukuhan ini,.ia di bawanya dari arah timur,..yah,.. kemungkinan nya dari Blambangan itu seperti kedua orang ini,.." terang Ki Bekel lagi.
" Benar begitu Ki Bisro,..apakah istri dari Ki Wanacara Sangkan ini dari Blambangan,..?" tanya Raka Senggani.
" Benar kisanak ,..memang istri dari kakang Wanacara itu berasal dari Blambangan seperti juga kami,.." jawab Ki Bisro.
" Begini kisanak berdua,..jika kalian memang mau jujur dan tidak akan melakukan kesalahan lagi dengan berbuat sesuatu yg menyusahkan orang lain ,.. kalian berdua dapat bebas dari sini,.." terang Raka Senggani.
" Maksud kisanak,..kami akan di bebaskan,..begitu,..?" tanya Ki Bisro.
" Benar ,..kalian berdua akan bebas jika mau berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kalian tersebut,.. perbuatan yg menyusahkan orang lain, kalian berdua dapat menjalankan kehidupan ini dengan mengambil jalan yg benar,..tidak seperti yg telah kalian lakukan itu,..apakah kalian berdua mau be janji tidak akan mengilanginya lagi,..?" tanya Senopati Pajang itu.
Kedua orang itu saling berpandangan satu sama lain,.. terlihat wajah mereka senang mendengar ucapan dari Senopati Pajang itu.
" Kami bersedia kisanak,.. kami berada disini karena undangan dari kakang Wanacara Sangkan yg ingin menuntut balas atas kematian guru,..jadi kami berdua terpaksa harus menuruti nya,..karena kami tidak ingin di cap sebagai seorang murid yg tidak berbakti kepada guru..bukan begitu Wasra,." ungkap Ki Bisro.
" Benar kisanak ,.. kami ada disini karena perintah dari Kakang Wanacara Sangkan ini yg memang merupakan saudara tua kami dalam Padepokan yg ada di Blambangan itu,.. jadi kami akan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami ini,..dan mungkin kami tidak akan kembali lagi kemari,.. kami berdua akan sangat berterima kasih sekali jika kami kisanak bebaskan,.." ucap Ki Wasra.
" Adj Sangga,.. mengapa mereka akan di bebaskan,..?" tanya Japra Witangsa heran.
" Benar kakang Sangga,..apakah tidak terlalu berbahaya membebaskan mereka berdua itu,..karena kemampuan nya pun cukup lumayan,..kakang,.." kata Dewi Dwarani.
Kedua orang merasa tidak perlu membebaskan orang -orang semacam itu,..nanti di kemudian hari mereka tentu akan menyulitkan lagi.
" Tidak apa -apa,..Kakang Witangsa dan adi Rani,..semoga mereka akan berubah setelah kejadian ini,..bukan bergitu,..Ki Bekel,..?" tanya Raka Senggani kepada pemimpin pedukuhan itu.
" Kalau aki setuju saja dengan apapun keputusan dari anak bertiga ini,..dan mudah -mudahan mereka menyadari kekeliruan dari sikap nya itu,.." sahut Ki Bekel.
" Baiklah ,..kalian berdua dapat bebas asalkan tidak akan mengulangi perbuatan kalian tersebut,..dan ingat sewaktu -waktu aku akan menemui kalian berdua ,..jika perlu sampai ke Blambangan,.." ucap Raka Senggani.
" Kalian bebas,..dan segeralah tinggalkan tempat ini,..kembalilah ke Blambangan,..dan jangan sampai diriku menemukan kalian dengan melakukan perbuatan seprti ini,.. diriku tidak akan segan -segan untuk menghabisi kalian berdua,.." kata Raka Senggani.
" Terima kasih, .kisanak,..terima kasih,..kami tidak akan mengulangi lagi perbuatan kami itu,..dan izinkanlah kami meninggalkan tempat inj,.." kata Ki Bisro.
Ia sampai menciumi tangan Raka Senggani saking girangnya karena telah di bebaskan.
Ki Bisro dan Ki Wasra menyalami semua orang yg ada disitu,..baru setelah nya mereka meninggalkan tempat itu kembali ke Blambangan.
Setelah kepergian keduan orang itu,..Dewi Dwarani langsung bertanya,..
" Kang,.. bagaimana dengan jasad Ki Wanacara Sangkan ini,..apa yg akan kita perbuat,..?" tanya Putri Bekel desa Kenanga itu.
" Kita masih menunggu kedatangan dari istri Ki Wanacara Sangkan ini,..baru setelahnya tergantung Ki Bekel yg kan memutuskannya,." jawab Raka Senggani..
" Akan tetapi sampai pagi ini,..belum pun datang istri Ki Wanacara Sangkan ini,..!" seru Dewi Dwarani lagi.
" Kita tunggu sebentar lagi,,.mungkin ia masih dalam perjalanan kemari,.." sahut Raka Senggani.
Kemudian Nyi Bekel dan para pembantu nya itu menyiapkan makanan untuk sarapan pagi orang -orang yg ada di situ.
Agak lama juga ,..mereka menunggu kedatangan dari istri Ki Wanacara Sangkan itu.
Sampai saat matahari menggatalkan kulit barulah perempuan itu tiba di rumah Ki Bekel dengan di temani dua orang anaknya yg masih remaja.
Begitu mendapati suaminya sudah tidak bernyawa lagi,.. istri Ki Wanacara Sangkan itu menangis sejadi -jadinya.
" Kakaaa,...nggg,..mengapa engkau meningglkan diriku,..apa salah mu sehingga harus mati seperti ini,..." terdengar teriakan dari istri Ki Wanacara Sangkan itu.
Diantara derai air matanya ia memandangi satu persatu orang yg ada di tempat itu dengan pandangan yg sulit untuk diartikan yg jelas ia sangat kehilangan atas kematian suaminya itu.
__ADS_1
" Mengapa kalian tega melakukan hal ini terhadap suamiku,..apa salah nya kepada kalian,..?". tanya istri Ki Wanacara Sangkan itu.
" Maaf Nyi,.. Ki Wanacara inilah yg telah melakukan pembunuhan terhadap hewan ternak yg ada di pedukuhan ini,.." sahut Ki Bekel.
" Bohong,..Ki Bekel pasti bohong,.. tidak mungkin Kakang Sangkan melakukan hal itu,..kalian memang sengaja ingin membunuhnya,..bukan,.." teriak istri Ki Wanacara Sangkan itu.
" Tidak Nyi,..memang Ki Wanacara Sangkan inilah pelakunya,..kami semua adalah saksi nya,.." jawab Ki Bekel.
" Kalian bohong,..diirku tidak teerima suamiku di perlakukan seperti ini,..akan kubalas perbuatan kalian ini,.." seru istri Ki Wanacara Sangkan itu.
Di sela sela isak tangis nya ia masih mengucpakan sumpah serapah,..mengutuki orang yg telah membunuh suaminya itu.
Akhirnya Ki Bekel menyuruh nya pergi dari tempat itu dengan mmebawa jasad suaminya itu,..jasad Ki Wanacara Sangkan.
Istri Ki Wanacara Sangkan itu pun pergi dari rumah Ki Bekel dengan membawa jasad suaminya yg di gotong oleh beberapa orang.
Setelah kepergian dari istri Ki Wanacara Sangkan itu, .rumah Ki Bekel kembali sunyi dari suara -suara teriakan.
" Ki Bekel,..kami tidak akan berlama -lama lagi disini,..kami bertiga akan segera melanjutkan perjalanan kami ini,.." ucap Raka Senggani.
" Tunggulah barang sehari ,.. nak Sangga,..kami seisi pedukuhan ini belum mengucapkan terima kasih kepada anak bertiga,..bukankah Kenanga sudah tidak terlalu jauh lagi dari sini,.." ungkap Ki Bekel.
" Memang sudah tidak jauh lagi dari sini,..akan tetapi kami masih harus singgah ke Gunung Lawu,..Ki Bekel,.. karena kuda -kuda kami tinggalkan disana,.." terang Raka Senggani.
" Benar Ki Bekel,..kami pun sudah sangat lama meningglkan Kenanga,..entah bagaimana keadaan nya saat inj,.." kata Japra Witangsa.
Karena memang mereka bertiga berharap secepat nya sampai di desa Kenanga.
" Baiklah ,..jika anak bertiga memang sudah tidak dapat tinggal lagi di sini,..kami berharap,..kalian masih dapat makan siang disini,..bukankah tujuan kalian akan ke Lawu,..hanya jarak setengah hari dari sini,..setelah selesai makan siang tentu kalian dapat melanjutkan perjalanan menuju ke sana,.." ucap Ki Bekel.
Akhirnya ketiganya sepakat untuk menerima tawaran dari pemimpin pedukuhan itu.
Setelah selesai makan siang, barulah mereka berpamitan kepada Ki Bekel sekeluarga termasuk juga para perangkat pedukuhan itu,..
Banyak orang yg hadir melihat ketiga anak muda yg teelah berhasil mengalahkan Ki Wanacara Sangkan,..yg ternyata memiliki ilmu yg sangat tinggi,..sayang ilmu tersebut di pergunakan pada jalan yg salah.
Ketiganya kemudian bertolak menuju ke Gunung Lawu,..yg memang jarak nya sudah tidak terlalu jauh lagi.
Dengan di lepas lambaian tangan para penduduk pedukuhan tersebut ketiganya berjalan meninggalkan tempat itu.
Ketika sudah jauh dari pedukuhan itu,. seperti telah di rencanakan semula ketiganya kemudian berlari dengan kencang menuju Puncak gunung Lawu itu.
Seolah mereka tengah berlomba,..dan kali ini tampaknya mereka memang mengerahkan seluruh kemampuan nya,..sehingga sebentar saja mereka telah sampai di Padepokan Gunung Lawu itu.
Belum pun matahari meninggalkan cakrawala ketiganya telah sampai.
Kedatangan mereka disambut seorang cantrik padepokan.
Kemudian langsung diantar menghadap kepada Panembahan Lawu di tempatnya berada.
" Eyang sangat senang melihat kehadiran kalian bertiga ini,..padahal sebelumnya sangat khawatir apakah kalian mampu mengatasi permasalahan yg ada di Boyolangu itu,." ucap Panembahan Lawu itu.
" Kami pun demikian ,..Eyang,.. walaupun sebenarnya kami merasa sudah terlalu meninggalkan kampung halaman,. tanpa memberikan kabar kemari,..tetspi itu semua sekarang ini sudah tidak kami rasakan lagi setelah berada disini,.." jawab Raka Senggani.
" Ngger,..apa yg membuat kalian terhambat kembali,..apakah permasalahan di Boyolangu itu cukup pelik untuk diatasi,..?" tanya Panembahan Lawu.
" Sangat-sangat panjang ceritanya Eyang,..namun sebelum nya izinkanlah kami menyampaikan salam dari Ki Ageng Boyolangu terhadap eyang panembahan,.." sahut Raka Senggani.
" Ya,..ya .:-,.salam dari si Bayu Dhono itu telah kuterima sekarang ceritakanlah masalah kalian itu sehingga sangat lama baru kembali kemari,.." tukas Panembahan Lawu.
Senopati Pajang itu kemudian bercerita tentang keadaan di Boyolangu,..ketika mereka harus berhadapan dengan Ki Rinting,..dan kemudian dilanjutkan ketika mereka harus memecahkan permasalahan hilangnya Sekar Kedaton Madiun dari Kaputren sampai pada ketika mereka harus tertahan di pedukuhan Tritih,.. akibat dari adanya seseorang yg tengah menuntut semacam ilmu hitam dengan menghisap darah sampai habis dsri hewan-hewan ternak milik para warga pedukuhan itu.
Semuanya di ceritkan oleh Raka Senggani dengan secara gamblang,.membuat Panembahan Lawu itu ikut hanyut mendengar penuturan dari Senopati Pajang tersebut.
" Sungguh banyak rintangan yg telah kalian hadapi itu ,.Ngger,..namun syukurlah kalian semua selamat, .dan sekarang pergilah membersihkan tubuh,..nanti malam kita akan kembali bercerita lagi,..ada sesuatu yg ingin eyang sampai kan,.." kata Panembahan Lawu.
__ADS_1
" Baiklah eyang,..kami mandi dulu,..malam nanti kita lanjutkan lagi ceritanya,.." sahut Raka Senggani.
Kemudian ketiganya pun meninggalkan Panrmbahan Lawu,.mereka menuju Pakiwan untuk membersihkan tubuh.