
Raka Senggani langsung bangkit dan segera berhadapan dengan makhluk tersebut.
" Segera angkat kaki dari tempat ini jika dirimu memang menyayangi nyawamu, manusia,.ha ,ha ,ha,..!" seru Makhluk besar yg menyerupai seorang manusia tersebut.
Matanya bercahaya kemerahan, dengan sangat jelas Raka Senggani mampu melihat hal tersebut.
" Mohon maaf, diriku membutuhkan ikan gabus bersisik emas itu untuk menyembuhkan luka saudaraku yg terkena racun ganas,.. izinkan lah aku mengambil seekor ,kisanak,.!" sahut Raka Senggani.
" He, he ,he, jika ingin mendapatkan ikan tersebut kau harus mampu menghadapi diriku terlebih dahulu, bila kau mampu mengalahkan aku, terserah , berapa yg ingin kau ambil, aku tidak akan melarang nya , ha ,ha ha,..!" ucap Makhluk yg besar tersebut.
Sambil tertawa ia sengaja memamerkan kedua taringnya yg menyembul keluar dari sela sela bibirnya itu.
Sungguh suatu pemandangan yang sangat tidak menyenangkan bagi siapa saja yg melihatnya, beruntung, Raka Senggani bukan sekali ini menghadapi makhluk halus dari lain alam.
Apa boleh buat, aku memang harus berusaha mendapatkan nya demi nyawa kakang Raka Yantra, berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia pun telah mengepalkan kedua tangannya dan siap untuk bertarung.
" Baiklah, bila memang demikian syarat nya, aku akan melawan dirimu,..!" ucap nya dengan lantang.
" Bagus , aku sangat senang sekali mendengar nya, sudah sangat lama diriku belum memangsa seorang manusia terkecuali mereka yang mati di rawa ini, bersiaplah kau manusia untuk jadi santapanku malam ini,..heahhh,..!" teriak makhluk bertubuh besar itu.
" Whhhhussssshhh,..!"
Segera saja ia meniupkan angin dari mulutnya dan mengarah kepada Senopati Pajang itu.
Deru angin yang sangat keras segera melanda tempat berpijak Raka Senggani.
" Hufhhh,..heahhh,..!"
Tidak tinggal diam, senopati Brastha Abipraya ini langsung melentingkan tubuhnya guna menghindari badai angin buatan makhluk tersebut.
Ia pun langsung memberikan tekanan dengan menyerang makhluk tersebut melalui sebuah tendangan mendatar ke arah lehernya.
" Ha, ha ha, ..!"
Dan makhluk tersebut sambil tertawa-tawa menghilangkan tubuhnya dari pandangan mata.
Luputlah serangan yg dilancarkan oleh Raka Senggani ini, akan tetapi ia tidak terlalu kebingungan, meski pun makhluk halus penghuni Rawa Pening itu telah hilang dari pandangan mata, segeralah Senopati Brastha Abipraya ini mengtrapkan seluruh ajian nya termasuk aji Ashka Panggraitanya hingga dapat menentukan ke arah mana lawan bergerak.
" Hiyyahh..!"
Sambil melompat cepat dan masih berada di udara , Senopati Brastha Abipraya ini mengarahkan serangan nya ke arah sisi kanannya.
" Dhieghh,..!"
" Hraaghhhh,.!"
Sebuah pukulan tangan kanan dari sang senopati berhasil mengenai lambung makhluk tersebut hingga ia mengerang kesakitan.
Dan kembali ia menampakkan kembali ujudnya.
" Hhahh, ternyata kau benar-benar ingin mati, manusia, terima ini , heahh,..!" teriaknya.
Dan dari kedua belah matanya memancarlah cahaya merah terang menerjang Raka Senggani.
" Bleghuaaarr,..!"
Bagaikan suara guntur yg sangat keras, dua cahaya merah tersebut berusaha untuk menjatuhkan Raka Senggani.
" Hiyyahhh,..!"
Kembali sang Senopati harus menghindari serangan tersebut , ia tidak ingin terpanggang oleh api yang panas itu.
Akan tetapi saat dirinya masih berada di udara,..
" Heahhh,..!"
" Whushhh,....!"
Datang lagi serangan dari makhluk yg jadi penguasa Rawa yg sangat luas tersebut.
Tak ayal lagi , tubuh Raka Senggani terkena angin badai serangan tersebut hingga menjatuhkan nya cukup jauh ke daratan.
" Aaahh,..!" keluh Raka Senggani pendek.
Meski ia telah berusaha untuk mengalasi jatuhnya itu dengan ilmu peringan tubuhnya namun tetap saja ia terhempas sangat keras ke atas tanah.Sehingga merasakan sakit pada punggungnya.
Raka Senggani langsung bangkit dan kembali bersiap lagi.
Ia pun mendekati makhluk yg bertubuh besar itu yg tetap saja mengambang di atas air.
" Sudahlah , tinggalkanlah tempat ini sebelum habis kesabaran ku,.. manusia,.. !" teriak nya.
" Tidak, aku tidak akan kembali sebelum mendapatkan apa yg menjadi tujuanku datang kemari, jadi sebaiknyalah kau yg harus mengalah,..!" balas Raka Senggani
" Hehh,. manusia tidak tahu di untung, apakah dirimu memang memiliki nyawa rangkap sehingga berani melawanku,..,?" tanya makhluk penguasa Rawa Pening itu.
" Tidak , nyawaku hanya satu, namun aku akan tetap berusaha untuk mendapatkan ikan tersebut,..!" balas Raka Senggani lagi.
" Baiklah, jika memang demikian , bersiap lah, kini diriku tidak akan main main lagi, tampaknya tubuh mu itu cukup empuk untuk di santap,..hiyyah,..!" teriak makhluk tersebut.
" Whushhh !"
__ADS_1
" Huffhhh ,.!"
" Whushhh,..!"
Kembali angin serangan menderu dan menghajar ke arah senopati Brastha Abipraya ini, berbeda dengan yg sudah sudah, kali ini Raka Senggani langsung mengibaskan kebutan yg ia terima dari Ki Klamprah Penguasa alas Siroban.
Dan terjadilah benturan dua kekuatan raksasa yg berasal dari angin pusaran yg sangat dahsyat kerasnya.
Tempat tersebut menjadi seperti sedang di terjang badai yg sangat dahsyat hingga membuat air Rawa Pening itu terangkat ke udara dan kemudian jatuh kembali.
Gelombang yg berada di atas permukaan Rawa itupun sangat kuat akibat dari benturan dua kekuatan besar tersebut.
Dan kembali keduanya pun harus terpental akibat benturan tersebut.
Akan tetapi Makhluk yg menjadi penguasa Rawa tersebut itu tidak terlalu jauh terhempas nya, ia memang mengarah ke tengah Rawa dan begitu menyentuh permukaan nya kembali tubuhnya melesat lagi mendekati lawannya.
Raka Senggani sendiri terlempar cukup jauh hingga masuk dan terjatuh ke arah semak belukar yang berada di dekat tepian Rawa Pening itu.
Sungguh kekuatan nya sangat besar sekali bagaimana aku harus mengalahkan nya, berkata dalam hati Raka Senggani.
Ia pun segera mendekati lagi makhluk tersebut.
Kali ini Raka Senggani mampu mendengar jelas deru angin yang keras dan sangat kencang menuju ke arah tempatnya berdiri.
" Ha, ha ,ha , Hraaaghhh, heahh,..!"
" Whushhh,..!"
" Bletaaaaar,..!"
" Dhumbhh,..!"
" Hufhhh,...!"
" Hiyyahh,..!"
" Bleghuaaarr,..!"
" Dhumbhhh,..!"
Makhluk yg bertubuh besar itu kali ini menyerang dengan dahsyatnya, ia mengeluarkan segenap kemampuan nya untuk melumpuhkan lawan nya.
Dengan di sertai gemuruh angin badai dari mulutnya dan di lanjutkan oleh pancaran dua cahaya merah dari kedua bola matanya menyerang Raka Senggani.
Sedangkan Senopati Pajang membalasnya dengan mengerahkan kebutan yg berada di tangan kirinya dan dari telapak tangan kanannya mengerahkan ajian Wajra Geni miliknya guna menahan serangan yg membadai tersebut.
Dan kembali , akibat benturan tersebut keduanya kembali terlempar jauh termasuk Raka Senggani, tampaknya kekuatan nya belum mampu menembus dinding pertahanan yg dibangun oleh penguasa alam lelembut Rawa Pening ini.
Ia kembali terlontar ke arah tepian , dan kali ini dadanya pun terasa sesak akibat benturan tersebut.
" Bletaaaaar,..!"
Sebuah serangan di lancarkan makhluk halus tersebut dengan dahsyatnya.
Raka Senggani bergulingan menghindari serangan tersebut, ia belum mampu membalas nya.
Hingga beberapa kali ia menerima serangan tersebut.
Pada satu kesempatan, di saat keadaan nya sudah terpojok , karena tubuh Raka Senggani terhenti pada sebongkah batu besar dan tidak mampu lagi untuk menghindari nya.
Sedangkan serangan datang membadai, sebuah keadaan yang gawat untuk sang Senopati.
Namun ia pun belum ingin mati dengan sia sia, di dahului dengan ucapan bismillahirrahmanirrahim maka terdengar teriakan yang sangat nyaring keluar dari mulut Raka Senggani.
" Aji,...Sangga Kalimasada,..Heahhhh,..!"
" Dhumbhhh,..!"
" Bleghuaaarr,..!"
" Bleghuaaarr,..!"
" Hraaghhh,..!
Sambil mengepalkan kedua tangannya, meluncur dua buah larik cahaya yang terang menyilaukan dari tangan sang Senopati.
Cahaya putih keemasan itu meluruk tajam menghantam tubuh makhluk halus yang bertubuh besar tersebut dan langsung mengehempaskan nya masuk ke dalam air.
Dari arah dalam air tersebut terdengar teriakan yang sangat keras seolah merasakan kesakitan.
Keadaan menjadi tenang setelah kejadian itu, Raka Senggani pun segera bangkit dari tempat nya .
Ia berdiri sambil mengibaskan -ibaskan seluruh pakaian nya yg banyak di lengketi oleh sampah dan debu.
Namun meski demikian ia tetap waspada akan serangan dari makhluk halus tersebut.
Dengan tetap mengtrapkan seluruh ilmunya , Raka Senggani berusaha mencari keberadaan makhluk tersebut, tetapi ia tidak berhasil menemukan nya.
Kemana perginya makhluk itu, bertanya dalam hati Senopati Brastha Abipraya ini.
Ia terus saja melihat ke arah tengah Rawa dimana masih tampak beberapa ikan yg di carinya itu berenang dengan senangnya.
Kerika ia melangkah lagi lebih dekat lagi pada tepian Rawa dan hendak langsung menuju rumpon yg tadi dirinya sempat di serang oleh makhluk penguasa Rawa tersebut.
__ADS_1
Tiba tiba terdengar suara mengguntur dan berkata,.
" Ternyata dirimu sangat tangguh anak muda, bahkan dari sebuah cincin yg ada di jarimu itu membuat diriku kini telah terluka parah, mungkin sangat sulit untuk di sembuhkan, jadi seperti janji ku tadi , silahkanlah ambil hewan yang menjadi peliharaan kami itu sesuka hatimu, dan satu hal,.. gunakanlah sebuah sisiknya saja jika ingin menyembuhkan sebuah luka, jangan di bunuh,..nanti ia akan memiliki khasiat yang sangat banyak jika tetap hidup dan di pelihara,..Ku harap dirimu mau memenuhi permintaan ku ini,..!" ucap Suara yang tidak ada lagi ujudnya.
Kelihatan nya bahwa makhluk halus tersebut telah kembali ke alam nya yg lain dengan manusia.
Raka Senggani yg mendengar hal tersebut menatap kearah cincin yg ada di tangan kirinya itu.
Ternyata cincin pemberian dari Sultan Demak ini sungguh besar khasiatnya, ia mampu mengalahkan makhluk hidup tersebut dengan di alasi ajian Sangga Kalimasada , berkata dalam hati Raka Senggani.
Di dalam hatinya ia mengucapkan syukur karena mampu mengatasi perlawanan dari penguasa Rawa Pening itu.
Sebaiknya Aku harus segera mengambil ikan tersebut dan mudah mudahan Kakang Yantra masih dapat di selamatkan , katanya lagi dalam hati.
Dengan satu kali genjotan , tubuh Senopati Brastha Abipraya ini segera melesat cepat menuju tempat dimana ikan gabus bersisik emas tersebut berada, bagai melayang di atas air, Raka Senggani langsung tiba di atas rumpon.
" Hufhhh, hiyyahh,..!"
Senopati Pajang ini pun langsung melesat masuk ke dalam air guna menangkap ikan tersebut.
" Heahhh,..!"
Ia pun keluar lagi dan di genggaman tangannya telah terdapat seekor ikan, yg menjadi tujuan nya datang ke Rawa Pening ini.
" Aku akan menuruti permintaan itu, Kisanak,."berujar Raka Senggani pelan.
Memang dirinya berjanji untuk merawat dan memelihara nya.
Untuk selanjutnya , Sang Senopati meninggalkan Rawa itu untuk kembali lagi ke tanah Perdikan Mantyasih.
Saat itu memang hampir menjelang Subuh.
Ketika ia sudah berada cukup jauh dari Rawa itu tibalah waktu subuh, sejenak kemudian ia pun melakukan sholat sebelum akhirnya ia kembali berlari cepat menuju tanah Perdikan Mantyasih.
Menjelang tengah hari tibalah Raka Senggani di tanah Perdikan Mantyasih.
ia langsung menuju ke kediaman dari Ki Gede Mantyasih.
Disana telah ramai dengan kehadiran orang yg ngerewang karena besok adalah hari dimana Ki Gede Mantyasih melangsungkan hajatan nya, menikahkan Putranya Rasala dengan Tri Wandari dari tanah perdikan Banyu Biru.
Seluruh penghuni rumah Ki Gede Mantyasih itu sangat terkejut atas kehadiran dari Sang Senopati.
Terutama nya adalah Ki Gede sendiri.
Langsung saja ia bertanya,.
" Bagaimana dirimu dapat tiba di Mantyasih ini Ngger dengan cepat, apakah dirimu berhasil mendapatkan nya,..?" tanya Ki Gede Mantyasih kepada Raka Senggani.
" Alhamdulillah, Ki Gede,.Senggani berhasil mendapatkan nya, dimanakah kiranya si Mbah Katir,.Ki Gede,..?" tanya Raka Senggani.
" Ia sedang berada di rumahnya, nanti akan ku suruh ia datang kemari secepatnya,..!" sahut Ki Gede Mantyasih.
Senopati Brastha Abipraya kemudian bertanya mengenai keadaan dari kakak sepupu nya itu.
" Tadi beberapa kali ia sempat mengigau dan dadanya terangkat naik seperti sedang menahan sakit yg teramat sangat,..Angger,!" jawab Ki Gede Mantyasih.
" Izinkanlah Senggani untuk melihatnya,..!" ucap Raka Senggani.
" Silahkan , Ngger,..!" jawab Ki Gede Mantyasih.
Langsung saja Senopati Brastha Abipraya masuk ke dalam bilik dimana Raka Yantra sedang terbaring lemah.
Raka Senggani segera meraba dada dari kakak sepupu nya untuk memastikan keadaan nya.
Hehh, ternyata ia masih bernafas , berkata dalam hati Raka Senggani.
Meski wajahnya terlihat sangat sedih namun suami Sari Kemuning ini bersyukur mendapatkan apa yg telah diminta oleh Mbah Katir.
Tidak terlalu lama menunggu dalam bilik tersebut datanglah Mbah Katir , orang tua yg memiliki kemampuan dalam hal ilmu pengobatan yang ada di tanah Perdikan Mantyasih ini.
" Apakah dirimu berhasil mendapatkan nya , Angger Senopati,..?" tanya si Mbah Katir.
" Inikah ikan gabus yg , Mbah Katir maksud kan itu ,..?" balik Raka Senggani bertanya.
Sang Senopati menunjukkan ikan gabus yang bersisik emas itu dari sebuah bumbung bambu yg cukup besar.
Sangat terkejut orang tua itu melihatnya , ia sangat tidak menyangka bahwa Senopati dari Pajang itu berhasil mendapatkan apa yg diminta nya guna mengobati luka dalam yg telah di derita oleh saudara sepupu senopati Brastha Abipraya ini.
" Benar, Ngger, bagaimana dirimu bisa mendapatkan nya,..?" tanya Mbah Katir heran.
" Ahh, panjang ceritanya Mbah,..!" sahut Raka Senggani.
Dan secara singkat senopati Pajang itu menceritakan bagaimana ia mendapatkan nya.
Setelah mendengar nya , kemudian Mbah Katir mengatakan kepada Raka Senggani untuk segera memotong hewan tersebut untuk diambil darahnya.
Mendengar hal ini, Raka Senggani segera menjawab nya.
" Mbah, makhluk halus yg telah memberikan ikan gabus ini mengatakan untuk tidak membunuh nya,..!" ujar Raka Senggani.
" Jadi bagaimana cara untuk menyembuhkan saudara mu itu,..Ngger,..?" tanya si Mbah Katir tidak mengerti.
Raka Senggani selanjutnya menjelaskan apa yang di ucapkan oleh makhluk tersebut, bahwa dengan hanya menggunakan sisik yang berwarna emas itu dapat mengobati luka dalam yg di derita oleh kakak sepupu nya ini.
__ADS_1
Barulah Mbah Katir mengerti dan meminta kepada Raka Senggani untuk segera mengambil sisik yang ada pada ikan tersebut.
Dengan cekatan Raka Senggani langsung saja melakukan nya dan mengembalikan lagi ikan tersebut ke tempat nya semula serta menyerahkan sisik itu kepada si Mbah Katir.