Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 29 Kabar itu datang. bag ke sembilan.


__ADS_3

" Hehh,..!" seru orang yang menggunakan penutup kepala berwarna hitam itu.


Ia memang tampak kaget mendengar suara orang yang ada di belakang nya, dan segeralah ia membalikkan tubuhnya melihat ke arah orang yang menyapa nya ini, di lihatnya Raka Senggani tidak mengalami apa -apa atas serangan yg telah di lepaskan nya tadi.


" *******, !" ucap nya dengan keras.


Sumpah serapah keluar dari mulut penculik bayi ini, ia memang tidak menyangka akan menghadapi lawan yang tangguh kali ini.


Menurut nya tidak ada orang yg memiliki kemampuan setinggi itu di tanah Perdikan Mantyasih ini.


Karena Ki Gede Mantyasih sendiri pun tidak sehebat orang yang ada dihadapan nya kali ini.


Siapakah orang ini, apakah ia yg telah bertemu dengan ku saat di hutan tadi, bertanya tanya dalam hati orang tersebut.


" Hufhhh,.. Hiyyahh,..!"


" Dhumbhh, .!"


Kembali orang itu mengangkat tangannya dan kemudian melepaskan lagi Ajiannya ke arah Raka Senggani.


Namun dengan sangat cepat pula , Senopati Pajang itu melompat ke udara sambil ia pun berusaha membalas serangan lawan nya dengan pukulan jarak jauhnya.


" Aji Wajra Geni, heahhh,..!"


" Bletaaaaar,..!"


Selarik cahaya merah terang menerjang orang yang memakai penutup kepala berwarna hitam itu.


Langsung saja orang ini melompat menghindari serangan yg di lepaskan oleh Raka Senggani tersebut.


Kini ia pun berusaha untuk menyerang sang Senopati dengan melesat mengejar nya sambil melepaskan serangannya.


" Aji tapak wisa,..heahh,..!"


" Bletaaaaar,..!"


" Aji Wajra Geni,.. hiyyyahh ,!"


" Bletaaaaar ..!"


Raka Senggani pun membalasi serangan orang tersebut.


Tak ayal lagi jual beli pukulan jarak jauh menjadi sangat sengit sekali, seolah tidak mau kalah keduanya saling menyerang hingga pada satu kesempatan keduanya saling membenturkan ajian nya.


" Bleghuaaarr,..!"


Pada benturan yg sangat keras itu, kedua nya terpental ke udara sesaat baru kemudian jatuh meluruk ke bawah.


" Hufhh,..!"


" Dhugghh,..!"


Raka Senggani masih mampu menguasai tubuh nya dan melompat lagi ke udara setelah benturan keras terjadi, sedangkan lawannya jatuh dengan kerasnya ke atas tanah.


" Hooekhhh,..!"


Setelah bergulingan sesaat, tubuh orang tersebut muntah darah akibat benturan yang terjadi, tampaknya ia mengalami luka dalam yg lumayan parah.


Tangan nya berusaha menggapai sesuatu dari balik bajunya , ia pun duduk dengan tenang baru kemudian menelan sesuatu yg di ambilnya dari balik bajunya itu.


Raka Senggani sendiri segera mendarat di atas tanah dan berjalan mendekati orang yang tengah berusaha mengobati diri nya sendiri, sambil ia bersedekap.


" Kisanak , menyerahlah, dirimu telah terluka dalam,..!" ucap Raka Senggani pelan.


Orang itu itu tidak menjawab ucapan dari Raka Senggani, ia diam saja sambil terus saja berusaha untuk menyembuhkan luka dalam yg di deritanya.


Dan tiba tiba saja,..


" Heaahhh,...!"


Ia melepaskan satu serangan yg cepat ke arah Raka Senggani yg berdiri tidak terlalu jauh dari nya.


" Hufhhh,..!"


Raka Senggani menghindari serangan tersebut dan berusaha untuk membalasnya, namun alangkah terkejutnya ia karena tiba tiba saja orang yang ada di hadapan nya itu telah tidak berada lagi di tempatnya.


Hahh, kemana hilangnya orang itu bertanya dalam hati Senopati Brastha Abipraya ini.


Ia berusaha mencari keberadaan dari orang tersebut, dalam kegelapan malam itu, terdengarlah suara ,..


" Aaauuummm,..!"


" Hehh,..!"


Agak jauh dari tempat semula orang itu berada nampak tegak seekor macan yg lumayan besar berdiri, mata binatang itu menatap ke arah Raka Senggani.

__ADS_1


" Hati hati,..!" seru Raka Senggani.


Ia mengatakan hal itu kepada orang yang berada di tempat tersebut, termasuk Ki Lonowastu dan Lintang Sandika.


" Heahhh,..!"


" Bletaaaaar,.!"


Setelah selesai ia mengatakan hal itu, langsung saja Senopati Brastha Abipraya ini melesat dengan cepat ke arah macan yg berdiri tersebut sambil melepaskan ajian Wajra Geni nya.


Cahaya merah terang menghambur mengarah ke binatang buas itu, akan tetapi Macan itu pun dengan sangat cepat pula melompat mundur ke belakang, dan pada saat yg sama pula ia kembali melompat menjauhi lawannya tersebut.


Tampaknya penguasa hutan ini berusaha menghindari Raka Senggani.


Mengetahui hal tersebut, Senopati Brastha Abipraya terus saja melepaskan serangannya, ia tidak ingin kehilangan buruannya kali ini seperti yg telah terjadi di hutan tadi.


Entah memang binatang tersebut telah terluka ataupun memang sudah sangat lelah, dua kali ia tidak mampu menghindari serangan yg di lepaskan oleh Raka Senggani tersebut.


" Hraaghhh,..!"


Macan tersebut menggerung dengan kerasnya sambil bergulingan di atas tanaman padi yang sedang berbuah itu.


Hingga pada akhirnya ia pun menghentikan larinya dan merunduk siap untuk melakukan perlawanan terhadap Raka Senggani yg mengejarnya.


" Hraghhh,.."


Satu lompatan yang panjang binatang buas ini pun menerkam Raka Senggani dengan sangat ganasnya.


Aneh , sudah dua kali Aji Wajra Geni ku mengenai tubuhnya,.mengapa ia masih mampu melawan ,berkata dalam hati Raka Senggani.


Sambil ia melompat menghindari serangan tersebut.


Akan tetapi serangan nya ini hanya sebuah tipuan saja, begitu lawan menghindar, binatang itu langsung kabur meninggalkan nya.


Raka Senggani terus saja memburu nya hingga masuk ke dalam hutan, Senopati Brastha Abipraya ini berkeyakinan bahwa ia sudah terluka parah.


Benar saja , gerakan nya sudah tidak secepat dan segesit saat mereka bertemu tadi pagi di hutan tersebut.


Sehingga dengan mudahnya ia dapat terkejar lagi, hingga akhirnya harus bertarung lagi.


" Aji Wajra Geni,..Heahhh,,"


" Bletaaaaar,..!"


" Hraaghhh ,..!"


Dengan perlahan-lahan Raka Senggani mendekati tubuhnya, ia masih saja meningkatkan kewaspadaan nya saat melihat tubuh binatang buas yg menjadi lawan nya ini.


Bagaimana pun juga, Senopati Brastha Abipraya ini merasa takjub akan daya tahan tubuh dari Binatang itu.


Malam masih saja gelap, di tambah lagi saat itu sang Senopati telah di dalam pekatnya hutan yang ada di kaki gunung Tidar ini, akan sangat sulit sekali melihat dengan jelas, bahkan jari tangannya sendiri pun sulit untuk di lihat.


Senopati Pajang ini segera mengtrapkan aji Ashka pandulunya agar dapat melihatnya.


Hehhh,..


Sungguh terkejut hati Raka Senggani ini saat melihat tubuh binatang buas itu secara perlahan lahan berubah menjadi tubuh manusia lagi.


Wujud nya adalah seorang lelaki yang menggunakan penutup kepala berwarna hitam yg tadi sempat menculik bayi cucu dari Ki Sarwa, namun kali ini tampaknya penutup kepala tersebut terbakar hangus akibat dari hantaman dari aji Wajra Geni yg telah di lepaskan tadi.


Siapakah orang ini,bertanya dalam hati Raka Senggani, saat ia mulai mendekati tubuh tersebut , senopati Brastha Abipraya ini belum dapatkan memastikan apakah orang tersebut telah tewas atau pun belum.


Ketika dalam jarak tiga langkah lagi tiba tiba,..


" Sheeeit,..!"


" Sheiiitt,..!"


" Sheiiitt,..!"


" Hufhhh,..!"


" Whuashhh,..!"


Senopati Pajang ini mendapatkan serangan rahasia, dengan secara naluriah ia melompat menjauh menghindari serangan tersebut dan kemudian sesosok bayangan langsung menyambar tubuh yang sedang tergeletak pingsan tersebut dan membawa nya kabur meninggalkan tempat itu.


Sangat cepat gerakan orang yang telah membawa tubuh pelaku penculikan bayi itu, sehingga Raka Senggani yg berusaha mengejar nya kehilangan jejak .


Hingga ia pun keluar dari dalam hutan dan berpapasan dengan kakak angkat nya Lintang Sandika yg di temani oleh Ki Lonowastu.


" Hehh, adi Senggani,..!" sapa Lintang Sandika,..!"


" Apakah kakang sandika tidak melihat orang yang telah keluar dari dalam hutan ini sambil membopong sesosok tubuh,..?" tanya Raka Senggani.


Begitu ia melihat dua orang yg berjalan menuju nya itu adalah Lintang Sandika dan Ki Lonowastu.

__ADS_1


" Tidak, kakang tidak melihat nya, bukankah begitu Ki Lono,..!" ucap Lintang Sandika.


" Benar , kami tidak ada melihat orang yang keluar dari sini kecuali dirimu , Ngger,..!" sahut Ki Lonowastu.


" Memang nya ada apa adi Senggani,..?" tanya Lintang Sandika lagi.


" Sudahlah , nanti akan Senggani katakan itu tiba di rumah Ki Gede,..!" jelas Raka Senggani.


Ketiganya segera kembali lagi masuk ke dalam pedukuhan induk tanah Perdikan Mantyasih , sebentar saja mereka telah tiba di tempat kejadian yaitu rumah Ki Sarwa.


Sejenak keduanya berbincang dengan penghuni rumah tersebut dengan di temani oleh Ki Lonowastu dan dua orang pengawal tanah Perdikan, untuk selanjutnya mereka pun kembali ke rumah Ki Gede.


Malam memang tinggal sedikit lagi, tidak akan lama lagi akan segera pagi menjelang.


Namun keduanya tetap saja ke rumah Ki Gede Mantyasih untuk melaporkan apa yg telah terjadi tadi.


Karena perjalanan nya melewati rumah Lintang Sandika, putra dari Tumenggung Bahu Reksa ini singgah disana guna memberitahukan kepada istrinya mereka akan kembali ke rumah Ki Gede.


Sesaat fajar menjelang keduanya tiba di rumah Ki Gede Mantyasih.


Seluruh penghuni rumah tersebut cukup kaget akan kedatangan kedua orang ini.


" Ada apa Angger Senopati ,mengapa sepagi ini sudah datang kemari, apakah yg dikatakan oleh Ki Lono itu memang benar adanya,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.


Kedua orang ini lantas duduk sambil menjawab pertanyaan dari pengausa tanah Perdikan ini.


" Memang benar Ki Gede, bahkan ia telah masuk lagi sambil berusaha untuk menculik cucu Ki Sarwa,..!" jawab Raka Senggani.


" Hehh, bagaimana dia bisa masuk, apa yg di lakukan oleh para pengawal, mengapa mereka tidak melaporkan nya kemari ?" tanya Ki Gede heran.


Raka Senggani menjelaskan bahwa orang tersebut telah menggunakan sirep sehingga seluruh penghuni rumah dari Ki Sarwa termasuk juga para pengawal tertidur di buatnya.


Beruntung mereka bertiga melewati rumah tersebut dan berhasil memergoki pelaku penculikan tersebut, terang Raka Senggani lagi.


" Apakah Angger Senopati berhasil menangkap nya,..?" tanya Kj Gede Mantyasih.


Sambil menggelengkan kepalanya Raka Senggani menjawab,.


" Sayang sekali , tidak Ki Gede, ia berhasil di bawa pergi oleh seseorang setelah ia kalah bertarung di dalam hutan, !" ungkap Raka Senggani.


" Siapakah orang itu,..?" bertanya Ki Gede Mantyasih.


" Entahlah Ki Gede, sepertinya orang ini sangat tinggi ilmunya , ia berhasil membawa lari pelaku penculik bayi itu tanpa di lihat oleh Kakang Lintang Sandika dan Ki Lonowastu, padahal ia berlari ke arah mereka berdua,..!" jawab Raka Senggani.


Suasana hening sesaat setelah mendengar penuturan dari Senopati Brastha Abipraya ini termasuk juga Lintang Sandika yg memang berada di tempat kejadian.


Menurutnya, tidak ada orang yg lewat saat mereka berada disitu, sehingga secara naluri keprajuritan sandi , putea Tumenggung Bahu Reksa ini lantas berkata,.


" Adi, apa tidak mungkin ada jalan rahasia dalam hutan tersebut yg tidak kita ketahui keberadaan nya,..!" seru Lintang Sandika.


Raka Senggani langsung melihat ke arah kakak angkatnya ini seraya berkata,.


" Mungkin juga yg kakang ucapkan itu ada benarnya, ada sebuah jalan rahasia yg tidak kita ketahui sehingga ia dengan sangat cepat mampu meninggalkan tempat itu,..!" sahut Raka Senggani.


Kembali mereka terdiam, dan tidak lama terdengarlah suara azan subuh berkumandang dari kejauhan.


Keduanya langsung melakukan sholat di rumah Ki Gede Mantyasih .


Dan sesudahnya mereka kembali melanjutkan pembicaraannya sambil di temani dengan hidangan yang di berikan oleh Ki Gede Mantyasih.


Minuman hangat dan ketela rebus yg juga masih panas, namun kali ini Ki Gede pun menyajikan jenang jadah alot, sehingga semua orang yg berada dalam rumah penguasa tanah Perdikan Mantyasih ini menjadi senang sambil mencicipi hidangan yg disajikan.


Gede Mantyasih yg sangat penasaran akan kelanjutan cerita dari Raka Senggani ini meminta kepada suami Sari Kemuning itu untuk melanjutkan ceritanya untuk menangkap orang yang telah membuat kerusuhan di Mantyasih ini.


" Jadi apa yg harus kita lakukan selanjutnya agar dapat menangkap orang tersebut , Angger Senopati,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.


Sambil menyeruput minuman nya, Raka Senggani segera meletakkan kembali minuman nya dan berkata,.


" Untuk sementara kita memang harus memperketat penjagaan di beberapa tempat termasuk hutan yang berada tidak jauh dari ujung tanah persawahan itu Ki Gede,..!"


Raka Senggani melanjutkan lagi kata kata nya,..


" Aku dan kakang Sandika akan menyelidiki kemungkinan nya ada jalan rahasia yg berada dalam hutan tersebut, dan jika memang ada kami akan meminta kepada Kakang Anggono untuk menyiapkan pengawal yang akan bertugas disana menjaganya,..!" terang Raka Senggani .


" Apakah itu tidak akan memudahkan orang tersebut beraksi lagi , karena sebagian besar pengawal tanah Perdikan ini di tempatkan disana,..Ngger,..?" tanya Ki Gede Mantyasih.


Raka Senggani memandangi Lintang Sandika, seolah meminta pendapatnya.


" Benar juga yg di ucapkan oleh Ki Gede itu Adi Senggani, lebih baik kita menempatkan para pengawal di setiap jalan masuk tanah Perdikan Mantyasih ini, dan untuk jalan rahasia yg kemungkinan nya berada dalam hutan itu , biarlah menjadi urusan kita berdua, bila perlu kita meminta bantuan Ki Lono yg lebih mengetahui tempat tersebut,..!" jelas Lintang Sandika.


" Senggani setuju usulan kakang Sandika itu,.mungkin ini adalah jalan yg paling baik untuk dilakukan ,..!" kata Raka Senggani.


Keduanya bersepakat untuk lebih meneliti keadaan dari hutan yang berada di ujung tanah Perdikan Mantyasih ini, mereka akan melaporkan kepada Ki Gede Mantyasih jika memang melihat sesuatu yg mencurigakan .


Dan begitu terang tanah, keduanya lantas meninggalkan rumah Ki Gede Mantyasih , mereka menyusuri jalanan yg berada di tanah Perdikan Mantyasih ini menuju kembali ke ruamah Ki Lonowastu.

__ADS_1


" Adi, sepetinya kerja kita ini hanya keluyuran saja, kalau tidak ke rumah Ki Gede, kita ke rumah Ki Lonowastu,..rasa -rasanya jarak ini semakin dekat saja,..!" ucap Lintang Sandika bercanda.


Raka Senggani tersenyum mendengar ucapan dari kakak angkat nya ini.


__ADS_2