
Kali ini Senopati Pajang yg mengambil alih kendali serangan, dengan kecepatan yg sangat tinggi ia ganti menyerang Mpu Phedet Pundirangan, dan kedua nya melayang -layang di udara.
Pukulan Raka Senggani berkali kali mencoba untuk menembus pertahanan dari Pemilik padepokan Lereng Wilis itu.
Meskipun Mpu Phedet Pundirangan cukup cepat dan sangat sulit untuk di tembus pertahanan nya, tetapi usaha Raka Senggani yg cukup keras berhasil melemparkan tubuh dari penguasa Lereng Wilis itu hingga jauh dengan dua buah pukulan dari tangan kiri nya dan di susul sebuah tendangan kaki kanannya.
Kejadian itu ketika telah memasuki jurus yg kelima puluh.
" He, he , he, bagaimana adi Brangsang, telinga ku tetap akan utuh sampai di Demak nanti, ternyata panggraita masih cukup tajam untuk memilih sesuatu, jangan hanya memandang dari nama besar nya atau dari usia nya terkadang anak muda kalau beri kesempatan malah akan lebih baik yg di dapat daripada si orang -orang tua ini,!" ejek Mpu Supa Mandrangi kepada adik seperguruannya itu.
" Bersiaplah adi Brangsang, untuk meninggalkan tempat ini, karena adi Pundirangan tidak akan mampu bertahan dari angger Senopati Brastha Abipraya itu, syukur -syukur nyawa nya masih bisa selamat," ucap Mpu Supa Mandrangi lagi.
Karena menurut pengamatan dari Empu kerajaan Demak itu, adik sperguruannya yg berasal dari Lereng Wilis itu tidak akan mampu mengalahkan Senopati Brastha Abipraya.
Sementara Mpu Loh Brangsang terus mengamati jalan nya pertarungan itu, ia membenarkan ucapan dari Mpu Supa Mandrangi kakak seperguruannya itu. Karena ia melihat sendiri, semakin sore kekuatan dari Raka Senggani seolah semakin bertambah sedangkan berbanding terbalik dengan Mpu Phedet Pundirangan, terlihat semakin kedodoran tenaga nya.
Jalan nya Perang Tanding itu telah memasuki pada tataran yg lebih tinggi lagi setelah memasuki suasana malam.
Dengan di terangi dari cahaya api abadi yg ada di desa Bedander itu, dua anak manusia yg terpaut jauh umurnya tengah bermain -main dengan nyawa nya.
Di sebelah selatan dari tempat itu yg juga merupakan sebuah hutan terlihat pasukan Demak yg di pimpin oleh Tumenggung Wicaksana tengah memperhatikan jalan nya Perang Tanding itu.
Tumenggung Wicaksana yg belum terlalu mengenal Senopati Brastha Abipraya, segera bertanya kepada Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno yg berada di dalam pasukan nya itu.
" Ki Rangga apakah memang Senopati Brastha Abipraya adalah Senopati Linuwih yg di miliki oleh kadipaten Pajang,?" tanyanya kepada Rangga Wira Dipa.
" Benar Kanjeng Tumenggung, saat ini beliau merupakan Senopati andalan Kanjeng Adipati Pajang, bahkan saya berhutang nyawa kepada nya, mungkin kalau tidak ada Senopati Brastha Abipraya, saya sudah tidak ada lagi di dunia ini," jelas Rangga Wira Dipa.
" Mengapa bisa begitu Ki Rangga,?" tanya Tumenggung Wicaksana.
" Pada suatu waktu ketika kami sedang memberantas kawanan begal di Alas Mentaok dengan Tumenggung Wangsa Rana , kami beserta beberapa prajurit terpilih harus berjalan terlebih dahulu untuk mengantarkan mayat teman -teman kami yg telah gugur, dan ketika kami sedang melintasi sebuah hutan dekat Prambanan kami di cegat oleh kawanan rampok yg lain dalam jumlah yg cukup besar, kami terdesak, beruntung Senopati Brastha Abipraya dengan cepat menolong kami yg sudah sangat sulit untuk keluar dari kepungan itu," cerita Rangga Wira Dipa.
Tumenggung Wicaksana terlihat mendengarkan dengan sungguh -sungguh ucapan dari Rangga Wira Dipa itu.
Kembali ke perang tanding antara kedua tokoh yg memiliki ilmu yg sangat tinggi itu.
Benar-benar saat malam telah merambah,, kedudukan dari Mpu Phedet Pundirangan sudah sangat sulit, beberapa kali pukulan Raka Senggani telah mampu menembus pertahanan nya, meski Mpu Phedet Pundirangan telah mengetrapkan ilmu kebanggaan nya Aji tapak Liman, benturan -benturan terjadi antara dua kekuatan , dan Raka Senggani nampak selalu unggul, biarpun keduanya masih bertarung tanpa menjejak tanah, ketika benturan terjadi beberapa kali Mpu Phedet Pundirangan yg harus terdorong lebih jauh.
" Kalau begini terus bisa-bisa aku akan kalah,!" ucap Mpu Phedet Pundirangan dalam hati.
Nampaknya penguasa Lereng Wilis itu sedang memutar otaknya untuk dapat mengalahkan Senopati Brastha Abipraya itu.
" Mengapa kehebatan nya meningkat luar biasa, saat pertemuan di kediri, rasa -rasanya tidak seperti ini, memang ajiannya mampu menjatuhkanku, tetapi tidak terlalu berpengaruh, berbeda dengan kali ini, belumpun tersentuh dengan tangan nya, serasa ada beban berat yg ku," pikir Mpu Phedet Pundirangan lagi.
Ia memang terlihat kewalahan menghadapi serangan serangan yg dilancarkan oleh Raka Senggani.
Anak muda desa Kenanga itu terlihat tidak mengalami perubahan dalam dirinya dari awal pertarungan sampai saat malam menjelang, seakan-akan tenaga nya tidak ada habis -habis nya.
Sebuah pukulan tangan kosong yg dilambari ajian Wajra geni menghantam dada dari Mpu Phedet Pundirangan , membuat tokoh sepuh dari Wilis itu harus terlempar lagi, dengan jarak yg cukup jauh, meskipun ia masih mampu menahan tubuhnya tidak harus membentur pohon , namun rasa sakit di dadanya cukup mengganggu jalan pernafasan nya.
Terlihat Mpu Phedet Pundirangan memegangi dadanya sambil berusaha mengobati luka dalamnya dengan mengerahkan hawa murni ke dadanya tersebut.
" Bagaimana adi Brangsang apakah engkau akan menyerah, atau memang kau ingin mengorbankan nyawa adi Pundirangan,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.
" Adi Pundirangan belum kalah kakang Mandrangi, ia hanya kurang waspada saja sehingga pukulan bocah itu berhasil menyusup ke dadanya, kita masih akan menanti siapa pemenang sesungguhnya kakang Mandrangi, mungkin esok pagi pun kita belum mendapatkan pemenang nya," jelas Mpu Loh Brangsang.
" Ku peringatkan kepadamu adi Brangsang, jika saat ayam jantan berkokok, adi Pundirangan masih bisa berdiri, engkau bebas melakukan apapun di tempat ini, tetapi ingat , jika nyawa adi Pundirangan berakhir disini, engkau lah penyebab nya, jangan salahkan Aku atau Senopati Brastha Abipraya itu, karena ini adalah permintaan mu," seru Mpu Supa Mandrangi kepada adik seperguruannya.
" Yakinlah kakang Mandrangi bahwa adi Pundirangan akan memenangi Perang Tanding kali ini, meski itu didapatnya esok pagi,!" jawab Mpu Loh Brangsang.
__ADS_1
" Aku tidak mengerti jalan pikiran mu adi Brangsang, dari sudut mana engkau menilai adi Pundirangan mampu dan bisa mengalahkan Senopati Brastha Abipraya itu,?" tanya Mpu Supa Mandrangi lagi.
Yang di tanya malah diam tidak menjawab, karena Mpu Loh Brangsang merasa tersudutkan dengan pertanyaan dari kakak seperguruannya itu.Ia pun tidak mampu untuk menjawab nya.
Kembali ke pertarungan lagi, setelah sesak di dadanya dirasa telah banyak berkurang , Mpu Phedet Pundirangan melesat lagi sambil berteriak,
" ****** kau bocah ingusan terima ini, Aji Tapak liman, hiyyahh,"
Dari atas terlihat pukulan jarak jauh yg tengah di lancarkan oleh Mpu Phedet Pundirangan.
" Dhumbh, bleguaaaarrrr,"
Tanah bekas hantaman dari ajian Tapak liman itu terlihat terlontar ke udara dan menimbulkan lobang yg sangat besar .
Ternyata pukulan jarak jauh milik Mpu Phedet Pundirangan itu tidak mengenai tubuh Senopati Pajang, Raka Senggani, terlihat telah mengudara laksana terbang ketika serangan itu hampir mengenai nya.
Dan ketika dirinya masih di udara serangan dari Mpu Phedet Pundirangan mengejar nya terus, namun untuk yg kali ini ia mengadu ilmu nya ajian Wajra geni dengan ilmu Mpu Phedet Pundirangan itu.
" Aji Wajra geni, heaaaahhh,!"
" Bleguaaaarrrr,"
Ketika kedua ajian itu bertemu, dan hasilnya, Mpu Phedet Pundirangan terlontar sangat jauh dan nampaknya sulit untuk bangkit.
Raka Senggani yg terlontar ke udara akibat dari benturan itu, segera melesat menuju tempat Mpu Phedet Pundirangan yg mencoba untuk berdiri tegak itu, walau agak sedikit sempoyongan ia mampu menegakkan tubuhnya.
" Hoeeeekhh,!"
Mpu Phedet Pundirangan memuntahkan darah beberapa kali.
" Aku akan mengadu jiwa dengan mu anak muda, bersiaplah,!" ucap nya.
Raka Senggani berjalan mendekati Mpu Phedet Pundirangan itu dan berkata,
" Aku ingin pertarungan ini sampai mati, salah seorang kita harus mati,!" seru Mpu Phedet Pundirangan.
Meski dengan mulut yg berlepotan darah, Mpu Phedet Pundirangan tetap berkata,
" Tidak ada yg mampu mengalahkan ku di tlatah Demak ini kecuali dua kakak seperguruan itu, alangkah nistanya diriku harus kalah dari anak kemaren sore seperti diri mu ,anak muda, aku tidak sudi,!" teriak Mpu Phedet Pundirangan.
" Sudahlah adi Pundirangan nyatakan lah dirimu itu kalah , dan kami akan memaafkan atas sikap kalian semua asalkan tidak melanjutkan lagi usaha kalian ini," kata Mpu Supa Mandrangi dari kejauhan.
" Mana sudi aku untuk mengatakan kalah terhadap anak muda ini, sampai mati pun Aku tidak sudi,!" jawab Mpu Phedet Pundirangan dengan keras.
" Bersiaplah , untuk kuantar dirimu ke akherat ,hiyyyah," teriak Mpu Phedet Pundirangan.
Ia kembali melontarkan ajian Tapak liman kearah Raka Senggani .
Jarak yg cukup dekat itu membuat Raka Senggani tidak mau mengambil resiko , ia pun melepaskan ajian Wajra geni nya.
" Aji Wajra geni, hiyyah,"
" Dhumbh, blegaaaarrrr "
" Aaaaaaaaakkkhhhh,"
Terdengar jeritan yg keluar dari mulut Mpu Phedet Pundirangan itu, tubuhnya menghantam sebatang pohon yg cukup besar yg ada di belakang nya, tubuhnya itu sempat mengejang dua kali dan kemudian diam untuk selama nya.
" Kakaaaaang,!"
__ADS_1
Teriak Mpu Yasa Pasirangan yg menyongsong kakak seperguruan nya itu, ia berusaha menduduk kan tubuh mpu Phedet Pundirangan itu. Dan mpu Yasa pasirangan memeluk tubuh kaku mpu Phedet Pundirangan itu.
" Kakang, kakang jangan khawatir, dendam kakang pasti akan Aku balaskan,!" ucap Mpu Yasa pasirangan sambil memeluk mayat Mpu Phedet Pundirangan.
Perlahan lahan ia meletakkan mayat Mpu Phedet Pundirangan, ia kemudian berdiri dan menatap nanar kepada Raka Senggani.
" Kau harus bertanggung jawab, kau harus mati di tangan ku,!" ucap Mpu Yasa pasirangan sambil menunjuk ke arah Raka Senggani.
Raka Senggani hanya diam saja, meski suasana temaram hanya di terangi dari api abadi yg ada di tempat itu, nampak wajah Raka merah padam, ia kembali teringat wajah yg dihadapan nya itulah yg telah menggorok leher Romo nya.
" Ahh, mengapa aku tidak bisa bersabar ketika melihat orang ini, Romo , aku masih ingat ketika dirimu sudah tidak berdaya orang inilah yg telah menggorok leher mu, Romo," berkata di dalam hatinya.
Pemuda itu nampak mengepalkan tangan nya, dan tetap bersikap diam.
" Hehhh, Bocah ingusan pertarungan kita di kademangan Kebon Sari itu belum tuntas saat inilah penentuan nya,!" ucap Mpu Yasa Pasirangan.
Tokoh tua itu mendekati Raka Senggani yg masih saja tegak berdiri.
" Aku memang tahu kemampuan cukup tinggi dan telah berhasil menewaskan Kakang Pundirangan, akan tetapi mungkin itu suatu kebetulan saja, bersiap lah, aku akan mengadu jiwa dengan mu,!" ucap Mpu Yasa Pasirangan.
Orang tua itu sudah memasang kuda kudanya, dan ketika akan mulai menyerang,
" Tungguuu,"
Teriak Mpu Supa Mandrangi, Empu kerajaan Demak itu mendekati adik seperguruannya, Mpu Yasa Pasirangan lalu berkata,
" Sudahlah adi Pasirangan , jangan kau lanjutkan keinginan mu itu, kematian adi Pundirangan merupakan suatu pengajaran buat kalian semua, bahwa yg kalian lakukan itu adalah salah, jangan menambah korban lagi, karena angger Senopati Brastha Abipraya pun tadi telah memperingatkan adi Pundirangan, tetapi ia tetap saja melawan, jadi engkau jangan mencontoh sikap nya itu,!" ucap Mpu Supa Mandrangi
Ia mencoba menasehati adik seperguruannya itu agar tidak timbul korban lagi.
" Tidak kakang Mandrangi, engkau tidak mengenal dekat kakang Pundirangan, dendam ini harus di balaskan dan lagi aku memiliki sebuah pertarungan yg tertunda dengan Senopati ini sewaktu berada di Madiun,!" seru Mpu Yasa Pasirangan dengan keras .
" Sudahlah jangan terbawa emosi urungkanlah niat mu itu, dengar lah nasehat kakang mu jangan menambah korban lagi," jelas Mpu Supa Mandrangi.
" Adi Brangsang, perintahkan kepada adi Pasirangan ini untuk menghentikan niat nya itu, karena janji kita adalah hanya dua orang ini saja sebagai jago kita masing -masing, tidak ada yg lain,!" pinta Mpu Supa Mandrangi kepada Mpu Loh Brangsang.
" Benar katamu itu kakang Mandrangi, memang aku telah kalah dari mu dan aku tetap pada janjiku untuk berangkat dari tempat ini dengan tidak melanjutakan pengerjaan Pusaka Kyai Condong Campur itu, akan tetapi kalau masalah pribadi yg terjadi antara adi Yasa Pasirangan dengan Senopati kakang Mandrangi itu aku tidak turut campur,!" jelas Mpu Loh Brangsang.
" Bagaimana kamu ini , Brangsang," bentak Mpu Supa Mandrangi
" Nyawa adi Pasirangan tergantung di tanganmu, engkau malah balik badan, apakah engkau memang dengan sengaja ingin menghabisi seluruh adik seperguruan mu itu,!" ucap Mpu Supa Mandrangi.
Nampaknya Mpu Supa Mandrangi tidak mampu menahan rasa geram nya atas sikap dua adik seperguruan nya itu.
" Aku peringatkan sekali lagi kepada mu Pasirangan, jika memang kau masih menyayangi nyawamu urungkanlah niat mu itu, karena dirimu akan bertarung dengan penuh rasa dendam kesumat yg akan membuat dirimu segera ke akherat dengan cepat, urungkanlah,!" teriak Mpu Supa Mandrangi.
" Tidak kakang Mandrangi, kematian kakang Mandrangi harus di balaskan dan persoalanku dengan Senopati Demak ini belum pun tuntas saat di Madiun , jadi aku berharap kakang Mandrangi bisa memaklumi nya,!" ungkap Mpu Yasa Pasirangan.
" Aku Katakan tidak, Pasirangan , tidak ada perang tanding lagi setelah kematian adi Pundirangan itu, jadi segeralah kembali ke tempat mu," seru Mpu Supa Mandrangi dengan keras.
" Tidak kakang Mandrangi, aku tetap pada pendirianku ,!" jawab Mpu Yasa Pasirangan.
" Jadi kau bersikap menantang ku, Pasirangan, baiklah , aku sendiri yg akan menghajarmu,!" kata Mpu Supa Mandrangi.
" Tidak eyang Mpu Supa Mandrangi, karena Mpu Yasa Pasirangan memang mendendam kepadaku biarlah aku yg akan menghadapi nya, dan kami pun memang ada satu pertsrungan yg sempat tertunda ketika berada di Madiun, jadi saya berharap Eyang Supa Mandrangi tidak menghalangi niat dari Mpu Yasa Pasirangan itu,!" ucap Raka Senggani.
Mpu Supa Mandrangi menatap wajah pemuda asal desa Kenanga itu, ia sebenarnya meyakini bahwa pemuda itu akan mampu mengatasi adik seperguruannya itu, tetapi ia pasti akan sangat sedih sekali jika harus kehilangan dua adik seperguruan nya sekaligus dalam waktu bersamaan.
Mpu Supa Mandrangi kembali menatap wajah dari adik seperguruan nya, Mpu Yasa Pasirangan, ada rasa iba di hatinya, namun akhir nya ia berkata,
__ADS_1
" Terserah lah, hanya yg akan sangat Ku sesali, hari ini aku akan kehilangan dua orang saudara ku,!"
Ia pun meninggalkan tempat itu.