
" Hehh, anak muda, jika memang dirimu tidak mau berkata jujur di hadapanku, baiklah Aku si orang tua ini yg akan berlaku jujur, kenalkan namaku Brangah atau orang sering memanggilku sebagai Resi Brangah, dan asalku dari Blambangan, Macan Baleman itu adalah muridku," jelas orang tua itu yg mengaku dirinya sebagai Resi Brangah.
Raka Senggani memandangi wajah orang yg mengaku sebagai Resi Brangah Itu dan mengaku sebagai guru dari Macan Baleman, orang yg pernah ia kalahkan di alas Mentaok beberapa waktu yg lalu.
" Apakah engkau masih juga tidak mau mengaku sebagai Senopati Pajang yg bernama Raka Senggani itu, anak muda,?" tanya Resi Brangah lagi kepada Raka Senggani.
Perlahan Senopati Pajang itu turun dari kudanya karena ia merasa pasti akan ada pertentangan dengan orang tua itu.
" Ya, akulah Raka Senggani yg telah mengalahkan Macan Baleman di Alas Mentaok, jadi menurut Resi Brangah apa yg akan Resi lakukan terhadapku,?" tanya Raka Senggani.
" Bagus, bagus, kau telah mau berkata jujur dihadapan orangtua ini, adapun apa yg ingin kulakukan terhadapmu itu adalah urusanku yg jelas aku tidak senang ada orang lain yg telah melukai muridku itu apalagi sampai menyebabkan kelumpuhan pada dirinya,!" jawab Resi Brangah.
Nampak dari sorot mata orang tua itu menunjukkan rasa ketidak senangannya kepada Raka Senggani.
Melihat gelagat kurang baik , Raka Senggani segeralah bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yg bisa saja terjadi karena tampaknya pertarungan antaranya dengan orang tua tidak dapat dihindari lagi.
" Sebaiknya sebelum aku menjatuhkan tangan kepadamu , lebih baik engkau memohon maaf kepadaku sekaligus berjanji setia kepadaku dan harus patuh dan menuruti segala perintaku, jika engkau masih ingin selamat dan menikmati indahnya dunia ini," ucap Resi Brangah dengan nada yg keras.
" Ahh, kalau mohon maaf atas kejadian itu, Aku, Raka Senggani bisa maklum dan mau melakukannya tetapi kalau untuk jadi budak Sang Resi , aku akan menolaknya, lagipun dalam hal ini Macan Baleman sudah sewajarnya menerima dari apa yg telah di perbuatnya, Aku sebagai seorang Senopati di wilayah kadipaten Pajang memang sudah seharusnya memberantas siapa saja yg telah membuat keonaran serta kekacauan di tlatah Pajang ini,!" jawab Raka Senggani dengan agak meninggi.
" Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu anak muda, sayang masa depanmu yg masih panjang itu harus segera berakhir, karena Resi Brangah tidak pernah bermain -main dengan kata -katanya, engkau telah kuminta secara baik -baik namun engkau telah menolaknya jadi jangan salahkan aku jika kau harus mati disini, bersiaplah,!" ucap Resi Brangah.
Orang tua itu segera mengangkat tongkat kayu nya, mengarahkannya kepada Raka Senggani.
" Bersiaplah, terima ini, heaahh," teriak Resi Brangah.
Sebuah sinar terang keluar dari ujung tongkat itu menerjang Raka Senggani.
Senopati Pajang itu segera melompat menghindari terjangan dari serangan Resi Brangah tersebut.
Serangan itu luput dan menghantam sebuah pohon yg cukup besar yg berada di tepi jalan, hingga menghancurkan nya menjadi berkeping-keping.
" Gila, ilmu orang sangat tinggi" berkata di dalam hatinya, Raka Senggani.
" Aku harus menggunakan kYai Macan Kecubung untuk melawan orang ini," gumam Raka Senggani.
Ia Kemudian menarik Kyai Macan Kecubung dari Warangkanya. Pamor kemerahan segera berpendar setelah pusaka kadipaten Pajang itu keluar dari sarungnya.
" Hehh, Senjata itukah yg telah melukai muridku, Macan Baleman, aku harus merebut pusaka itu dari tangan anak muda ini," kata Resi Brangah dalam hati.
" He , he , he, hari ini merupakan hari keberuntunagnku, selain aku bisa membalaskan dendam muridku Macan Baleman, aku juga akan memiliki sebuah pusaka yg lumayan hebat seperti Kyai Macan Kecubung itu, heaah,!" teriak Resi Brangah lagi.
Orang tua itu kembali mengarahkan tongkat nya kepada Raka Senggani.
Senopati Pajang itu kembali harus berlompatan untuk menghindarinya, namun kali ini ia membalas serangan itu dengan mengarahkan ujung kerisnya, ke arah Resi Brangah.
" Heaaaahhh," teriak Raka Senggani.
" Blegaaaarrrr," terdengar suara dari hantaman pukulan Raka Senggani itu.
Dan Raka Senggani yakin bahwa hantaman dari ajian Wajra geni berhasil menghantam tubuh dari Resi Brangah Itu.
Tetapi Senopati Pajang itu cukup terperangah karena ia tidak melihat tubuh dari Resi Brangah itu, padahal Raka Senggani tidak pernah mengalihkan pandangannya dari tokoh tua asal Blambangan itu. Raka Senggani nampak celingukan mencari kemana perginya orang itu.Namun ia tidak menemukannya.
" Ha , ha , ha, hehh, Senopati Pajang andaikan aku mau pasti engkau telah jadi mayat saat ini, namun itu merupakan tindakan pengecut, membokong lawan dari belakang, ternyata kehebatan dari Senopati Pajang itu hanya isapan jempol belaka, segeralah engkau menyerah, sebelum batas kesabaranku habis, cepatlah bertekuk lutut,!" teriak Resi Brangah.
Orang tua itu sudah berada di belakang dari Raka Senggani dan berada di sebuah cabang pohon di tepi jalan itu.
__ADS_1
Memang seandainya ia ingin melepaskan serangan tentu Raka Senggani akan segera terkena serangan itu.
Raka Senggani yg telah berhadapan lagi dengan Resi Brangah itu, memang mengakui kebenaran kata-kata dari Resi Brangah tersebut.
" Terseralah apa pun katamu, orangtua, tetapi sebagai seorang prajurit Aku akan tetap pada pendirianku , yaitu memberantas segala tindakan yg melanggar paugeran di dalam kerajaan ini, kalau memang kau mampu untuk membunuhku, buktikanlah, karena sesungguhnya nyawa seseorang itu ada di tangan yg Maha Kuasa bukan di tanganmu, orangtua, " jawab Raka Senggani dengan tegas.
Pemuda itu pun segera mempersiapkan segala apa yg ada pada dirinya, sedangkan Singo Abra pun mampu di tewaskannya, jadi ada rasa percaya diri pada diri pemuda itu untuk menghadapi tokoh kosen dari sebelah Timur itu.
" Hehh, anak muda akan Kubuktikan bahwa akulah malaikat pencabut nyawamu, dan bersiaplah untuk menghadap Hyang Widhi, " ucap Resi Brangah.
Sehabis ucapannya itu , Resi Brangah langsung melompat dan menerjang Raka Senggani sambil memukulkan tongkatnya,
" Hiiiiihhh,"
Tongkat kayu Resi Brangah itu mengarah ke batok kepala dari Raka Senggani.
" Heaaaahhh,!" teriak Raka Senggani.
Ia tidak menunggu serangan itu datang, ia malah menyambutnya dengan keris Kyai Macan Kecubung mengarah jantung dari Resi Brangah itu.
" Heeiiiit,"
Resi Brangah tidak jadi memukulkan tongkatnya ke kepala Raka Senggani tetapi menarik pulang tongkat itu dan di gunakannya untuk menangkis serangan dari lawan ya.
" Trakkkk,"
Terdengar benturan dari kedua senjata itu, ketika beradu, ternyata memang tenaga dalam dari Resi Brangah itu cukup tinggi , terbukti tongkat kayu di tangannya tidak terpotong ketika beradu tadi.
Sementara kedua orang itu masih melayang di udara, Raka Senggani segera menjejakkan kakinya di sebatang pohon dan langsung menyerang lagi,
Ia kembali melesat sambil mengirimkan sebuah tendangan kearah perut dari Resi Brangah itu, keduanya masih menunjukkan kemampuan dari Ilmu peringan tubuh yg mumpuni, karena keduanya bertarung di udara, tendangan dari Raka Senggani itu di antisaipasi oleh Resi Brangah dengan memukulkan tongkatnya ke kaki Raka Senggani itu, melihat hal itu Raka Senggani membuat suatu keputusan untuk tetap melakukan tendangn itu dan berharap Resi Brangah tidak akan mengurungkan niatnya memukul kaki lawannya.
" Heaaahh,!"
Teriak Raka Senggani lagi, ketika tongkat dari Resi Brangah itu hampir menyentuh kaki Raka Senggani, namun pemuda itu melompat sambil bersalto beberapa kali keatas sambil kembali mengirimkan tendangan kearah punggung dari Resi Brangah, namun usaha Raka Senggani itu tidak berhasil, karena Resi Brangah setelah tidak berhasil memukul kaki lawannya segera , mengejar tubuh lawannya dengan cepat, walhasil , tongkat Resi Brangah berhasil memukul punggung Senopati Raka Senggani.
" Aaakkhh,"
Teriak Raka Senggani itu, ia sampai harus jatuh ke tanah dari atas ketinggian, namun dengan cepat ia bangkit dan kembali akan menyerang Resi Brangah yg tampak meluncur mengarah dirinya, ujung tongkat yg tampak mengarah ke dada Raka Senggani, dengan cepat Senopati Pajang itu melompat cukup tinggi sambil mengangkat kedua kakinya terpentang sampai lurus, luput serangan dari Resi Brangah, posisi sang Resi iru masih di bawah ketika Raka Senggani kembali mengirimkan tendangan kearah kepala guru Macan Baleman itu.
Akan tetapi memang kehebatan tokoh kosen dari ujung timur itu cukup bisa untuk diacungi jempol, tendangan dari Senopati Pajang itu di sambut dengan tangan kirinya dan selanjutnya tongkatnya mengarah kembali ke pinggang dari Raka Senggani,
" Dheeeik"
Untuk kedua kalinya Raka Senggani terhantam tongkat dari Resi Brangah itu, tidak sampai disitu, Resi Brangah menyusuli sebuah tendangan kearah perut dari Raka Senggani,
" Bugghh,"
Perut Senopati Pajang itu ketika menerima hantaman tendangan dari Resi Brangah, tubuh Raka Senggani meluncur sangat cepat akibat dari hantaman tendangan itu, Cukup jauh tubuhnya itu melayang dan baru jatuh ketika menghantam sebuah pohon.
" Hooekkhhh,"
Senopati Pajang itu muntah darah segar , ia berusaha bangkit dan berupaya untuk menggapai keris Kyai Macan Kecubung yg ikut terlempar saat tubuhnya itu terjatuh.
Nampak Resi Brangah membiarkan Raka Senggani mengambil kerisnya dan duduk untuk mengatur jalan pernafaaannya.
Ia tampak meminum sebutir obat yg di ambilnya dari balik bajunya.
__ADS_1
" Bismillah, La haula wa la Quwwata Illa billah," terdengar suara dari Raka Senggani.
Kelihatannya pemuda itu mempersiapkn ilmu pamungkasnya untuk menghadapi Resi Brangah itu.
Setelah Keris Kyai Macan Kecubung berada di genggamannya, keris itu di angkatnya tinggi-tinggi diatas kepalanya.
Pamor Keris Kyai Macan Kecubung berubah -ubah dari warna merah kemudian bersinar putih terang dan selanjutnya beralih ke warna biru, tampak cahayanya berkelipan apalagi di terpa cahaya mentari.
" Ha, ha, ha, keluarkanlah segala kemampuanmu, Aku Resi Brangah siap untuk melayanimu, Aku heran mengapa Singo Abra bisa kalah denganmu, kalau hanya seperti itu kemampunmu mana mungkin engkau bisa menggunakan Singo Abra, itu hanya ngaya wara saja,!" ejek Resi Brangah kepada Raka Senggani.
Namun pemuda itu tidak mmeperdulikan ucapan dari guru Macan Baleman itu, ia terus memusatkan pikirannya untuk mengeluarkan ajiannya, ilmu pamungkas milinya itu.
" Baiklah , terimalah kenyataannya Senopati Raka Senggani yg perkasa, bahwa engkau akan mati di tanganku, dan kematianmu hari ini di tangan Resi Brangah," ucap Resi Brangah sambil mengangkat tangannya.
" Apa permintaan terakhirmu Senopati Raka Senggani, kemana mayatmu harus kuantar, " terdengar suara dari Resi Brangah lagi.
Raka Senggani diam saja ia tidak menjawab pertanyaan dari Resi Brangah itu.
" Baiklah kalau kau tidak mau menjawabnya, mungkin mulut telah gagu, jadi untuk mengurangi rasa penderitaan yg telah kau rasakan lebih baik kupercepat untuk menghilangkan penderitaamu itu, terimalah ini, Aji Macan Putih, hiyyah," teriak Resi Brangah.
Ia mengarakan telapak tangannya yg terbuka kepada Raka Senggani , dari jarak lima batang tombak, melunçurlah sinar putih dari telapak tangan Resi Brangah itu .
" Aji Sangga Kalimasada, Hiyyah," teriak Raka Senggani.
Namun sinar putih itu pun segera beradu dengan sebuah cahaya berwarna kebiru -biruan , ajian Kalimasada milik dari Raka Senggani,.
" Dhummmbbh, Bletaaar, Bleghuaaarrrr,"
Tampak dari yg di timbulkan akibat dari benturan kedua ajian tersebut. Tempat itu porak poranda, pepohonan pada bertumbangan , tanah ditempat itu sampai terlontar keatas membuat lubang yg sangat lebar.
Namun yg tidak di duga dari keduanya, meski Raka Senggani memang kalah jauh dari Resi Brangah baik dari tenaga dalam maupun dari peringan tubuhnya, tetapi begitu kedua ajian itu beradu, tampak tubuh dari Resi Brangah terlempar sama jauhnya dengan Raka Senggani, beruntung orang tua itu belum terluka seperti yg telah dialami oleh Raka Senggani, jadi meski sempat tidak sadarkan diri beberapa saat ia masih mampu bangkit dari pingsannya.
Ia berusaha memulihkan luka dalamnya yg sangat parah dirasakannya, belum pernah ia merasakan sesakit itu, selama ia mengalami pertarungan. Ia sampai jatuh tertidur lagi sampai tiga kali.
Setelah Ia berusaha keras , menyalurkan hawa murninya ke dadanya yg terasa sangat sakit itu.
Cukup lama Resi Brangah baru bisa memulihkan kesadarannya dengan sempurna meski ia belum mampu untuk bergerak dari tempatnya.. Ia terus berusaha mengobati luka dalamnya yg cukup parah tersebut.
" Hhemmhh, bagaimana nasib Senopati Pajang itu, kalau menurutku ia pasti sudah ******, " berkata dalam hati dari Resi Brangah.
" Kalau aku sudah pulih akan kulihat terlebih dahulu keadaannya," katanya lagi didalam hati.
Sementara di kaki gunung Lawu itu, telah menjelang sore, hampir sampai malam Resi Brangah belum sanggup untuk bergerak dari tempatnya, kakinya terasa sulit untuk di gerakkan,baru setslah malam menjelang ia mulai bangkit dari tempat itu.
Resi Brangah berjalan perlahan dengan di topang tongkatnya sambil memegangi dadanya berjalan mengarah tempat terjatuhnya Raka Senggani.
Jarak sepuluh batang tombak itu tidak terlalu jauh sebenarnya, namun karena luka dalam yg dirasakan oleh Resi Brangah, ia cukup lama baru bisa mencapai tempat itu, tempat terjatuhnya Raka Senggani akibat benturan dari kedua ilmu tadi.
Setelah sampai di tempat itu, alangkah terkejutnya Resi Brangah karena orang yg di carinya itu tidak berada di tempat itu. Cukup lama Resi Brangah mengobrak abrik tempat itu, namun Nihil, Raka Senggani tidak di temukannya., bahkan keris Kyai Macan Kecubung pun tidak ada di tempat itu.
" Mungkin ada orang yg telah menyelamatkannya, tetapi siapa, dan mengapa Aku tidak menyadarinya," berkata dalam hati Resi Brangah.
Ia masih memegangi dadanya yg masih terasa sakit itu.
" Walaupun ia telah ditolong seseorang namun nyawa pasti tidak akan selamat, lebih baik Ku tinggalkan tempat ini, aku harus kembali ke Blambangan terlebih dahulu baru setelahnya ke desa Bedander saat purnama nanti,!" ucap Resi Brangah lagi.
Ia pun segeralah meninggalkan tempat itu meski sedikit kecewa karena tidak menemukan jasad dari Raka Senggani itu.
__ADS_1