
Raka Senggani terus memperhatikan jalannya pertarungan itu, ia masih memuji kepintaran dari Senopati Kediri itu, Senopati Mangun Dirja.
Senopati dari Kediri itu memang kalah dalam hal tenaga dalam atas lawannya, namun ia segera merapatkan jarak dengan Si Topeng Iblis, dengan tenaga wadagnya yg nampak lebih unggul dibanding Si Topeng Iblis itu, ia terus mencecar Si Topeng Iblis itu dalam pertarungan jarak dekat , berkali-kali pukulannya mengancam dari bagian-bagian tubuh Si Topeng Iblis itu , hingga membuat Si Topeng Iblis berusaha keluar dan menjauh dari garis serang Senopati Mangun Dirja.
Si Topeng Iblis berusaha menghindar dari Senopati Mangun Dirja dengan berloncatan dari satu atap ke atap yg lain.
Jadilah terlihat Si Topeng Iblis yg terdesak, walaupun keadaannya tidak demikian, ia hanya berusaha untuk memberi ruang untuk dapat melontarkan ajiannya.
Hingga suatu ketika , disaat Senopati Mangun Dirja sedang melompat mengejar Si Topeng Iblis itu, tiba -tiba,
" Heaaahhhhh," teriak Si Topeng Iblis.
Serangkum angin pukulan yg sangat kuat menerjang tubuh Senopati Mangun Dirja, meskipun ia masih sempat menghindari serangan itu dengan beberapa kali bersalto keatas, tetapi
" Heaaahhhhh," kembali teriakan terdengar dari Si Topeng Iblis itu.
Tidak ayal lagi, tubuh Senopati andalan dari Kadipaten Kediri itu, terhantam pukulan dari Si Topeng Iblis.
Tubuh Senopati Mangun Dirja sampai mencelat cukup jauh, Raka Senggani yg melihat tubuh Senopati Kediri itu melayang cukup jauh dan akan segera jatuh dari posisi ketinggian, segera melesat menyusul tubuh yg akan terhempas ke atas tanah itu.
" Hiyyyah,"
Dengan mengemposi tenaga dalamnya hingga tataran tertinggi, tubuh Senopati Pajang itu berhasil mengejar tubuh Senopati Mangun Dirja sesaat akan jatuh ke tanah.
" Huufffh," .
Raka Senggani berhasil menangkapnya dan segera bergerak ke arah para prajurit Kediri itu yg dipimpin oleh Tumennggung Tanu Bawa.
" Cepat rawat Senopati kalian ini, aku akan segera mengejar Si Topeng Iblis itu, Hiyyyah,!" ucap Raka Senggani.
Belum sempat Tumennggung Tanu Bawa bertanya, Tubuh Raka Senggani telah melesat meninggalkan tempat itu.
Ia langsung mengejar Si Topeng Iblis yg terlihat telah cukup jauh meninggalkan tempat itu.
Kali ini mau tidak mau Raka Senggani mengerahkan kemampuannya untuk mengejar lari Si Topeng Iblis itu.
" Memang sangat hebat ilmu lari cepat dari Si Topeng Iblis itu," berkata dalam hati dari Raka Senggani.
Karena Si Topeng Iblis itu merasa tidak ada membuntutinya selepas dari gerbang kota kadipaten Kediri ia memperlambat larinya, bahkan hanya dengan berjalan saja.
Memang kepercayaan diri dari Si Topeng Iblis itu sangat tinggi, ketika ia melihat ada seseorang yg menegurnya, ia hanya membalikkan tubuhnya memandangi orang itu.
" Hehhh Topeng Iblis , engkau tidak bisa lari dari Kediri ini, " kata Raka Senggani yg telah berhasil menyusulnya.
Sambil menunjuk kearah dadanya, Si Topeng Iblis berkata,
" Ha,ha,ha, aku ingin melarikan diri,aku meninggalkan tempat ini karena aku telah menemukan sesuatu yg aku cari, dan denganmu aku tidak ada urusan,!"
" Ada, urusan kita di Kademangan Kebon Sari belum selesai, dan kali ini kita harus menuntaskannya,!" ucap Raka Senggani lagi.
" Aku Si Topeng Iblis tidak ingin melayanimu , karena urusanku telah selesai disini ,selamat tinggal," ujar Si Topeng Iblis itu.
Ia segera melesat meninggalkan tempat itu dengan cepat tanpa memperdulikan Raka Senggani.
" Tunggu atau kau akan menerima ini,!" ucap Raka Senggani.
Pemuda itu terbagi pendiriannya atas melepaskan aji Wajra geninya atau mengejar orang itu.
__ADS_1
Namun tanpa pikir panjang lagi , Raka Senggani segera melepaskan ajian Wajra geni miliknya itu. Karena melihat Si Topeng Iblis itu sudah semakin jauh.
" Heaaahh, aji Wajra geni," teriak Raka Senggani.
Cahaya merah yg terang segera meyasar tubuh Si Topeng Iblis itu yg lagi berlari menuju ke arah Kali Brantas.
Pukulan jarak jauh dari Raka Senggani itu berhasil mengenai tubuh Si Topeng Iblis , akan tetapi karena jaraknya sudah cukup jauh akibat yg ditimbulkannya tidak terlalu membahayakan, memang Si Topeng Iblis berhasil terjatuh dan bergulingan di tanah, namun dengan cepat bangkit lagi dan berusaha meninggalkan tempat itu.
Raka Senggani segera melesat menyusul tubuh Si Topeng Iblis itu, walaupun tadi ia telah berhasil membuatnya terjatuh.
Raka Senggani mengejar Si Topeng Iblis, namun ia kehilangan jejak setelah melewati Kali Brantas.
" Kemana perginya Si Topeng Iblis itu, usahaku untuk menyusulnya nampak sia-sia, sayang mengapa tadi aku membiarkan lolos begitu saja," pikir Raka Senggani lagi.
" Kalau aku mengikutinya ke lereng Wilis, bisa jadi ia ke Madiun, Ahh, sebaiknya aku kembali ke Madiun saja, nanti dari sana meminta pendapatnya Patih Haryo Winangun," kata Raka Senggani lagi di dalam hatinya .
Ia pun segera menuju ke padukuhan Banjakan dan segera mengambil kudanya. Malam itu juga Raka Senggani kembali pulang ke Madiun .
Ia sampai di kadipaten Madiun setelah lewat tengah hari, saat matahari telah condong ke Barat. Raka Senggani langsung menuju istana kepatihan.
Begitu sampai di istana Kepatihan ia langsung diterima oleh Patih Haryo Winangun.
" Bagaimana keadaanmu anakmas Senggani,?" tanya Patih Haryo Winangun itu.
" Baik Paman Patih, bagaimana khabar di Madiun ini, apakah tidak kedatangan Si Topeng Iblis tadi malam,?" tanya Raka Senggani balik kepada Patih Haryo Winangun.
" Syukurlah anakmas Senggani , keadaan di Madiun ini cukup aman, sehingga kami masih bisa beristrahat dengan tenang, dan keadaan di Kediri bagaimana,?" tanya Patih Madiun itu.
" Keadaan di Kediri tadi malam cukup menegangkan Paman Patih, Si Topeng Iblis telah beraksi tadi malam disana, sayang Senggani tidak mampu menangkapnya, ia berhasil meloloskan diri,!" jawab Raka Senggani.
" Benarkah Si Topeng Iblis itu beraksi di Kediri tadi malam,?" tanya Patih Haryo Winangun setengah tidak percaya.
" Nampaknya anakmas Senggani terlihat kelelahan, sebaiknya segeralah beristrahat, nanti malam kita lanjutkan obrolan ini bersama Tumenggung Warabaya,!" ucap Patih Haryo Winangun.
" Baiklah Paman Patih, memang semalaman Senggani tidak tidur, terima kasih atas nasehatnya, Senggani pamit Paman Patih," ucap Raka Senggani kepada Patih Haryo Winangun.
" Silahkan anakmas," jawab Patih Haryo Winangun.
Raka Senggani lalu meninggalkan Patih Haryo Winangun, ia berjalan kearah biliknya yg disediakan oleh Patih Madiun Itu.
Sesàat setelah mentari beranjak ke peraduannya, ketika kadipaten-kadipaten Madiun telah diselubungi gelapnya malam, terlihatlah di istana Kepatihan, beberapa orang tengah melakukan santap malam termasuk di dalamnya ada Raka Senggani, Patih Haryo Winangun dan Tumenggung Warabaya serta beberapa Rangga dan Lurah prajurit Madiun.
Setelah acara makan malam itu selesai ke semuanya duduk diatas pendopo, dan segera terlibat pembicaraan yg cukup serius.
" Berdasarkan pengamatan Senopati Brastha Abipraya di kadipaten Kediri,kemarin malam, Si Topeng Iblis itu berhasil masuk ke bangsal Pusaka dari Kediri itu, dan menurut penuturannya ia telah berhasil mencuri sesuatu dari sana, apakah yg akan kita lakukan jika ia juga akan datang kemari,?" tanya Patih Haryo Winangun.
" Menurut saya Kanjeng Patih, kita perkuat penjagaan di seputar bangsal Pusaka atau tempat penyimpanan barang-barang berharga, tiga kali lipat, " jelas Tumenggung Warabaya.
" Kalau menurut saya Kanjeng Patih, para perwira tinggi Madiun ini dilibatkan untuk turut menjaga dari pangkat terendah sampai pangkat yg tertinggi, jadi gerakan dari Si Topeng Iblis itu akan semakin sempit,!" ujar salah seorang Rangga.
" Akan tetapi kalau menurutku, Si Topeng Iblis itu tidak akan kembali lagi beraksi, Karena sesuatu yg diinginkanya telah berhasil didapatkannya, jadi kemungkinan ia untuk datang kemari lagi itu amat kecil kemungkinannya, Paman Patih,!" jelas Raka Senggani.
" Walaupun demikian kita wajib bertindak lebih waspada , Kanjeng Patih," kata Tumenggung Warabaya lagi.
" Ya , ya, apapun yg telah diucapkan oleh anakmas Senopati Brastha Abipraya itu, kita memang wajib lebih waspada, dan tentunya kita tidak ingin kecolongan seperti waktu yg lalu, jadi Kupersilahkan kepadamu Tumenggung Warabaya untuk segera menyiapkan penjagaan yg menurutmu sudah seharusnya dilakukan, karena Tumenggung Warabaya lah selaku penanggung jawab pelaksana keamanan di kota Madiun ini," ucap Patih Haryo Winangun.
" Saya Kanjeng Patih, semua perintah dari Kanjeng Patih siap dilaksanakan,!" jawab Tumenggung Warabaya itu.
__ADS_1
Pembicaraan para petinggi kadipaten Madiun itu terus berlanjut sampai tengah malam, setelah semuanya selesai dibicarakan berangsur -angsur mereka kembali.
Tinggallah Raka Senggani dan Patih Haryo Winangun.
Dan tidak terlalu lama mereka mengobrol akhirnya kedua orang itu pun masuk kedalam biliknya masing -masing.
Keesokan harinya setelah matahari menggatalkan kulit, masuklah seorang prajurit kedalam Istana Kepatihan tersebut dan menyampaikan sebuah pesan,
" Kanjeng Patih dan Senopati Brastha Abipraya diharap datang ke Istana, Kanjeng Adipati tengah menanti, ada sesuatu yg akan ditanyakan,!" kata prajurit itu.
" Baik, kami segera menghadap," jawab Patih Haryo Winangun.
Prajurit itu kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke tempat jaganya.
Sedangkan Patih Haryo Winangun dan Raka Senggani segera bersiap untuk segera menghadap Adipati Madiun.
Tidak terlalu lama keduanya telah berjalan menuju Istana Madiun. Sesampainya disana mereka berdua langsung menuju balairung istana dimana singgasana kadipaten Madiun itu berada, tampak duduk dengan gagahnya Adipati Madiun dengan didampingi permaisuri dan para petinggi kadipaten Madiun itu.
Langsung kedua orang itu duduk bersimpuh di hadapan dari Adipati Madiun itu.
Patih Haryo Winangun dan Raka Senggani langsung merangkapkan kedua tangannya diatas pendopo kepala.
Kemudian Patih Haryo Winangun bertanya,
" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Gusti Adipati, gerangan apakah memanggil kami berdua,?"
" Begini Kakang Patih Haryo Winangun, apakah keadaan Madiun ini memang sudah benar -benar aman dari Si Topeng Iblis itu,?" tanya Sang Adipati kepada Patih Haryo Winangun.
" Mohon ampun sebelumnya Kanjeng Gusti Adipati, kalau untuk saat ini memang keadaan Madiun masih aman, akan tetapi menurut laporan dari Senopati Brastha Abipraya, kemarin malam Si Topeng Iblis itu telah beraksi kembali di wilayah Kediri, bahkan anak mas Senopati berhasil bertarung dengannya, namun sayang ia masih bisa meloloskan diri," ungkap Patih Haryo Winangun.
" Benarkah itu Senopati Brastha Abipraya,?" tanya Adipa Madiun kepada Raka Senggani.
" Ampun Kanjeng Gusti Adipati, demikianlah kejadiannya, bahwa Si Topeng Iblis itu memang berhasil menyusup ke dalam keraton Kediri bahkan menurut penuturannya kepada hamba ia telah bethasil mengambil sesuatu dari dalam bangsal Pusaka Kediri tersebut,!" jawab Raka Senggani.
" Jika demikian keadaannya berarti yg Senopati Brastha Abipraya dengar dan lihat itu adalah benar, bahwa merekalah yg telah melakukan keonaran di wilayah sini, dan menurut yg kami dengar mereka akan membuat sebuah Pusaka yg menjadi putraninya dari Kyai Condong Campur, " jelas Adipati Madiun.
Kemudian Adipati Madiun berkata lagi,
" Tadi kami menerima utusan dari Pajang yg meminta Senopati Brastha Abipraya kembali ke Pajang, Kakang Adipati Pajang meminta Senopati Brastha Abipraya untuk melakukan penyelidikan kegiatan yg terjadi di seputar gunung Merapi, oleh sebab itu tadi Aku tanyakan kepada Paman Patih apakah memang keadaan di Madiun ini benar -benar aman, sehingga jika kita mengizinkan Senopati Brastha Abipraya kembali ke Pajang, di Madiun ini masih dalam keadaan baik, jika memang Si Topeng Iblis itu beraksi lagi kita akan mampu mengatasinya,?" tanya Sang Adipati kepada Patih Haryo Winangun.
" Kalau menurut hamba, kita mungkin tidak akan sanggup menghadapinya, tetapi jika perkiraan dari Senopati Brastha Abipraya itu memang benar, tentu Si Topeng Iblis itu bukan ancaman lagi, karena tentunya mereka akan segera melakukan kegiatan mereka yg telah menjadi tujuan mereka itu, yaitu membuat Pusaka tersebut, jadi kalau menurut hamba, Senopati Brastha Abipraya bisa kembali ke Pajang, bila sewaktu -waktu diperlukan ia bisa kita panggil lagi, Kanjeng Adipati," jawab Patih Haryo Winangun.
" Sebelum Senopati Brastha Abipraya kembali ke Pajang, Aku ingin mendengar sepak terjang Si Topeng Iblis itu ketika berada di Kediri,!" kata Adipati Madiun kepada Raka Senggani
Senopati Pajang itu segera menceriterakan semua kejadian yg terjadi di Kediri dari awal hingga akhir tanpa ada yg di lewatkannya.
Seisi balairung istana Madiun itu mendengarnya dengan seksama, sampai terlihat hening ketika uraian dari Senopati Brastha Abipraya itu selesai.
" Baiklah kalau begitu Senopati Brastha Abipraya, Aku selaku Adipati Madiun mengizinkanmu kembali ke Pajang atas permintaannya Kakang Adipati Pajang meskipun persoalan Si Topeng Iblis itu belum benar -benar tuntas, namun diyakini ia tidak akan mengadakan kegiatan lagi dalam waktu dekat ini," ungkap Adipati Madiun.
" Terima kasih Kanjeng Adipati, hamba Senopati Brastha Abipraya merasa menyesal karena belum mampu menunaikan tugas yg Kanjeng Adipati bebankan keatas pundak hamba, hamba sangat menyesal,!" kata Raka Senggani sambil menjura hormat.
" Jangan terlalu dirisaukan Senopati Brastha Abipraya, mungkin Si Topeng Iblis itu masih mendapat perlindungan untuk saat ini, entah lain kali, jika ia masih berbuat kejahatan yg sama tentunya akan kena batunya,!" jawab Adipati Madiun lagi.
Kemudian setelahnya , Senopati Brastha Abipraya dan Patih Haryo Winangun keluar dari Istana Madiun itu menuju ke Istana Kepatihan.
Raka Senggani merasa tugasnya kali ini gagal total , karena Si Topeng Iblis itu tidak berhasil di tangkapnya, hanya bisa dilukainya saja.
__ADS_1
Sementara tugas baru telah siap menantinya di Kadipaten Pajang tempatnya berada .