Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 6 Pembalasan bagian ke delapan.


__ADS_3

Selama dua hari satu malam, sampai lah para Prajurit Pajang itu di Kadipaten Pajang, saat hari telah larut malam.


Raka Senggani langsung menuju ke rumah Tumenggung Wangsa Rana dimana ia biasa menginap saat berada di kota Pajang tersebut.


Sedangkan Rangga Wira Dipa dan Rangga Aryo Seno membawa seluruh Prajurit Pajang ke barak keprajuritan Pajang.


Tumenggung Wangsa Rana sangat terkejut setelah mendengar derap langkah kaki kuda yg masuk ke halaman rumah nya.


Buru -buru ia keluar untuk melihat siapa yg telah datang itu.


Setelah dilihatnya Raka Senggani yg telah berdiri, hatinya kembali tenang,


" Assalamu alaikum, Paman Tumenggung,"


" Wa alaikum salam, Angger Senggani, bagaimana khabar mu, mari silahkan masuk,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


" Terima kasih paman Tumenggung, Senggani ingin ke pakiwan terlebih dahulu, rasa -rasanya debu ini sangat tebal melengket di tubuh Senggani Paman," ucap Raka Senggani.


" Silahkan, silahkan, biar nanti bibi mu paman suruh untuk menyediakan wedang hangat, supaya tubuh Angger Senggani lebih bugar,!" tukas Tumenggung Wangsa Rana.


" Tidak perlu merepotkan bibi, Paman , mungkin beliau sedang beristrahat, biar nanti Senggani akan membuatnya sendiri, kasihan bibi,!" kata Raka Senggani lagi.


" Ahh, tidak apa -apa Ngger, kami sangat senang kalau dirimu berada di tempat kami ini, serasa punya anak lagi, mungkin anak ragil kami, cepatlah mandi nanti setelahnya kita akan ngobrol bersama," terdengar kata kata dari seorang perempuan.


Ternyata istri Tumenggung Wangsa Rana itu belum tertidur dan begitu mendengar suara Raka Senggani ia langsung keluar dari dalam biliknya.


" Terima kasih, terima kasih, bi, Senggani merasa bersyukur mempunyai seorang biyung lagi,!" ucap anak muda itu


Ia lantas bergegas menuju pakiwan guna membersihkan tubuhnya.


Tidak terlalu lama ia telah selesai dan duduk bersama dengan Tumenggung Wangsa Rana dan istri nya Itu.


" Mari Ngger, silahkan minum terlebih dahulu,!" seru Tumenggung Wangsa Rana.


" Terima kasih , Paman," kata Raka Senggani.


Ia pun segera menyeruput wedang hangat yg telah di sajikan oleh Nyai Tumenggung.


" Bagaimana hasil nya, Ngger, apakah Demak bethasil mengalahkan Mpu Loh Brangsang itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Sesuai dengan harapan kita semua Paman, akhir nya Mpu Loh Brangsang mau menuruti permintaan Eyang Mpu Supa sebagai utusan resmi dari Demak guna menghentikan seluruh kegiatan yg ada di Bedander itu,!" jelae Raka Senggani.


" Tanpa terjadi pertarungan atau peperangan,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Perang memang tidak terjadi Paman Tumenggung, tetapi Mpu Loh Brangsang mau menuruti perintah dari Mpu Supa Mandrangi asalkan Mpu Supa mampu mengalahkan adik seperguruan nya, yakni Mpu Phedet Pundirangan itu,!" jawab Raka Senggani.


" Jadi Mpu Loh Brangsang bersedia mengalah jika diadakan perang tanding terlebih dahulu, begitu maksud Angger Senggani,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Demikianlah Paman Tumenggung,!" jawab Raka Senggani.


" Tentu saja Mpu Supa Mandrangi mampu mengalahkan adik seperguruan nya itu,!" ujar Tumenggung Wangsa Rana lagi.


" Tidak Paman Tumenggung, Mpu Loh Brangsang meminta selain dari Eyang Mpu Supa, sebagai jagoan dari Demak, yg akan turun menghadapi Mpu Phedet Pundirangan itu, ?" jawab Raka Senggani.

__ADS_1


" Jadi siapa yg turun untuk menghadapi penguasa Gunung Wilis itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


Karena Tumenggung Wangsa Rana meyakini bahwa penguasa Gunung Wilis sangat sakti , bahkan termasuk tokoh yg sangat sulit di cari banding nya di Demak kecuali nama -nama besar seperti Mpu Supa Mandrangi dan para wali.


" Eyang Supa Mandrangi memberikan mandat kepada Senggani, Paman, untuk menghadapi penguasa Gunung Wilis itu," jawab Raka Senggani.


" Jadi Angger Senggani yg telah berhadapan dengan Mpu Phedet Pundirangan itu, dan bagaimana hasilnya, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana penuh keheranan.


" Alhamdulillah Paman Tumenggung, Senggani mampu menjalankan perintah Eyang Supa Mandrangi itu, dengan tewas nya Mpu Phedet Pundirangan di tanganku, semakin banyak deret orang -orang telah tewas di tanganku ini , Paman Tumenggung, ahhh, entah sampai kapan Senggani akan terus melakukan hal itu, ada perasaan kurang enak dalam hal ini Paman Tumenggung,!" jelas Raka Senggani.


" Sudah menjadi kewajaran sebagai seorang Prajurit, kita membunuh seseorang , kalau tidak kita yg akan di bunuh, itu merupakan sesuatu yg biasa di dalam hukum keprajuritan, Ngger,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Memang benar yg Paman Tumenggung katakan itu, tetapi deret orang yg telah menjadi musuh Senggani bertambah banyak, sudah banyak orang yg mendendam dengan Senggani, Paman," ucap pemuda itu dengan nada yg sedikit kecewa.


" Akan tetapi di balik semuanya itu, Senggani merasa bersyukur, pertama Senggani masih di lindungi oleh yg Maha Kuasa hingga sampai saat masih dapat selamat, dan yg kedua , Senggani telah berhasil menunuaikan janji Senggani sendiri kepada kedua orang tua Senggani sendiri, karena sudah berhasil menemukan serta membunuh dua orang yg telah menewaskan kedua orangtua Senggani itu,!" ungkap Raka Senggani.


" Maksuda Angger Senggani , angger telah melakukan Perang Tanding sampai dua kali, dan kedua -keduanya di menangkan oleh Angger Senggani,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar Paman Tumenggung, dan kedua orang itu adalah adik seperguruan dari Eyang Supa Mandrangi itu,!" jawab Raka Senggani.


" Mpu Loh Brangsang pun berhasil angger Senggani kalahkan,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Bukan Mpu Loh Brangsang, Paman, tetapi yg satu lagi, yaitu Mpu Yasa Pasirangan,!"ucap Raka Senggani.


" Mpu Yasa Pasirangan yg dari Gunung Kendeng itu,?" tanya Tumenggung Wangsa lagi.


" Benar , Mpu Yasa Pasirangan berniat menuntut balas atas kematian dari kakak seperguruan nya itu dan kembali menantang perang tanding lagi, meskipun Senggani sempat terluka cukup parah akibat racun yg sempat menjalar di tubuh, oleh serangan Mpu Yasa Pasirangan dengan sebuah senjata rahasia, tetapi pada hari benturan terakhir , Mpu Yasa Pasirangan akhir nya tewas,!" kata Raka Senggani menjelaskan.


" Terima kasih Paman Tumenggung, nasehat Paman akan selalu kuingat, memang sebenar nya, Senggani enggan melakukan pertarungan itu, karena dasar kita selaku prajurit harus menuruti segala perintah atasan, mau tidak mau kita harus kerjakan, kecuali dengan pertarungan yg di Bedander itu,!" ungkap Raka Senggani lagi.


" Ada apa dengan kedua orang sakti itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Mereka berdua lah yg telah membunuh kedua orangtuaku itu, Paman Tumenggung, tinggal seorang lagi yg Senggani belum mengenalnya , dan ketika Senggani tanyakan kepada mereka , mereka tidak mau menjawab nya,!" jelas Raka Senggani.


" Jadi kedua orang itu yg telah menewaskan kedua orangtua mu itu, Ngger,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


" Benar Paman Tumenggung, di tambah satu orang lagi dan lebih muda usianya,!" jawab Raka Senggani.


" Dan satu hal lagi Paman Tumenggung, ada sesuatu yg ingin Senggani tanyakan kepada Paman Tumenggung,?" kata Raka Senggani.


" Hal apa yg skan Angger Senggani tanyakan itu,?" tanya Tumenggung Wangsa Rana.


Sebelum melanjutkan pertanyaan nya Raka Senggani mengeluarkan kotak kecil pemberian dari Sang Sultan dan menaruh nya di hadapan Tumenggung Wangsa Rana.


" Begini Paman, Senggani ingin bertanya tentang pemberian Kanjeng Sinuwun ini Paman, tahukah Paman, apakah sesungguhnya ini benda ini, maksud Senggani khasiat nya,?" tanya Pemuda itu kepada Tumenggung Wangsa Rana.


Ia menyodorkan kotak kecil pemberian dari Sultan Demak itu kepada Tumenggung Wangsa.


" Bukalah , Paman Tumenggung,!" terdengar ucapan dari Raka Senggani.


Tumenggung Wangsa Rana segera meraih kotak itu dan membuka nya perlahan-lahan setelah nya benda itu, tiba -tiba saja Tumenggung Wangsa Rana menutup nya kembali dengan cepat.


" Ada apa Kangmas, apa isi kotak itu,?" tanya Nyai Tumenggung Wangsa Rana.

__ADS_1


Istri dari Tumenggung Wangsa Rana itu yg sedari tadi diam saja, amat terkejut melihat tingkah suami nya yge seperti melihat setan saja setelah membuka kotak hadiah Raka Senggani.


" Nyai lihat sendiri saja ,!" perintah Tumenggung Wangsa Rana kepada Istri nya.


Nyai Tumenggung kemudian mengambil kotak itu dan membuka nya lalu menutup nya dengan cepat, seperti yg di lakukan oleh suami nya itu.


" Ada apa Paman dan Bibi, apa yg aneh dengan benda itu,?" tanya Raka Senggani penasaran.


" Begini Ngger, sebaiknya benda itu tidak usah Angger beritahukan kepada orang lain terutama, yg tidak dekat secara pribadi dengan Angger Senggani, karena benda itu amat di cari oleh orang -orang yg ingin mendapatkan kamukten, atau untuk mempertebal ilmu kadigjayaan nya, bahkan menurut sebahagian orang benda itu telah hilang bersama pemilik nya,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana kepada Raka Senggani.


" Hahh, begitu keramatkah benda itu Paman Tumenggung, karena menurut Senggani itu adalah sebuah benda yg biasa -biasa saja,!" kata Raka Senggani.


" Benda tersebut paling banyak di cari oleh orang -orang yg ingin memiliki kelebihan dalam banyak hal, karena kehilangan benda itulah pemilik nya pudar pamornya dan berhasil di kalahkan, dan akhirnya moksa," jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Siapa pemilik benda itu, Paman Tumenggung ,?" tanya Raka Senggani penasaran.


Sambil menarik dalam - dalam nafas nya, Tumenggung Wangsa Rana menjawab,


" Hehhh, sebelum benda itu berada di tangan Kanjeng Sultan Demak, benda itu adalah milik dari Prabhu Brawijaya terakhir, yg merupakan orang tua dari Kanjeng Sultan sendiri,!" jelas Tumenggung Wangsa Rana.


" Milik Prabhu Brawijaya terakhir, dan mengapa benda yg begitu keramat seperti itu diberikan Kanjeng Sultan kepadaku, Paman,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Kalau masalah itu, Pamanmu ini tidak mengetahui nya karena itu urusan pribadi Sultan Demak sendiri, memang seharusnya benda itu diserahkan kepada Sang Adipati Anom sebagai pewarisnya, dan mengapa Angger Senggani yg mendapat anugrah yg sangat besar untuk menerima nya,!" jawab Tumenggung Wangsa Rana.


" Apa khasiat benda itu Paman,?" tanya Raka Senggani lagi.


" Sangat banyak khasiat benda itu, di masa Sang Prabhu Brawijaya, benda itu terkenal mampu untuk menyembuhkan luka akibat terkena racun dan bisa juga pemiliknya jadi tahan senjata tajam alias kebal senjata, dahulu benda itu sering di pinjam-pinjamkan kepada orang kepercayaan dari sang Prabhu, dan hebatnya berkat tuah dari benda itu , musuh yg berilmu sangat tinggi mampu dikalahkan orang kepercayaan dari Sang Prabhu itu, dan masih banyak kisah-kisah di balik dari benda itu, bukan begitu Nyai, " kata Tumenggung Wangsa Rana sambil bertanya kepada sang istri.


" Benar Ngger, bahkan menurut dari orang tua dari bibi mu ini, bahwa suatu saat setelah kehilangan benda itu , istana Majapahit terjadi kehebohan, baru setelah lama diketahui bahwa benda itu telah di berikan Kanjeng Prabhu kepada garwa ampil, yg merupakan ibunda dari Kanjeng Sinuwun itu, benda tersebut lah yg diminta oleh ibunda sultan setelah ia di jadikan putri Triman kepada Kanjeng Adipati Palembang, setelah mendengar hal itu , Kanjeng Ratu marah besar kepada Sang Prabhu, tetapi apa mau dikata benda itu telah menjadi milik ibunda dari Sultan Demak itu dan rupanya diwariskan nya kepada Kanjeng Sultan Demak, selanjut nya Kanjeng Sultan Demak mengambil alih kekuasaan dari Ramanda nya itu,!" jelas Nyai Tumenggung kepada Raka Senggani.


" Mengapa Bibi Tumenggung mengetahui hal itu,?" tanya Raka Senggani.


" Keluarga Bibi dahulu merupakan abdi dalem dari Prabhu Brawijaya terakhir, mulai dari Eyang, Romo bahkan beberapa paman bibi merupakan orang-orang dalam istana Majapahit,!" jawab Nyai Tumenggung.


" Berhati-hatilah , Ngger, kalau angger nanti menggunakan nya, jangan pernah dilepas meskipun nyawa taruhan nya, dan yg jadi pertanyaan mengapa Kanjeng Sultan memberikan nya kepada Angger Senggani,?" kata Nyai Tumenggung lagi.


" Terima kasih atas nasehat Paman dan Bibi, kalau sebelum nya , Senggani tidak terlalu tertarik dengan benda itu, bahkan terpikir sebelum nya untuk memberikan nya kepada seseorang, tetapi setelah mendengar cerita Paman dan Bibi, Senggani urung untuk memberikan nya,!" jelas Raka Senggani.


" Kepada siapa Angger Senggani akan memberikan benda itu, apakah kepada seorang gadis,?" tanya Nyai Tumenggung penuh selidik.


Tiba -tiba wajah Raka Senggani bersemu merah, menahan malu, ia tidak menjawab pertanyaan dari istri Tumenggung Wangsa Rana itu.


" Ngger, sudah selayak nya Angger Senggani memilki sisihan, saat ini kehidupan Angger Senggani sudah sangat mapan, jika memerlukan sesuatu , Angger Senggani tinggal pinta dan tinggal suruh, tentu Kanjeng Adipati dan Kanjeng Sultan akan memberikan bantuan nya, jika Angger Senggani meminta kepada mereka,!" kata Tumenggung Wangsa Rana


" Kata -kata Paman mu itu benar , Ngger, sudah saat nya Angger Senggani memiliki seorang istri, biar nanti Paman dan Bibi yg akan melamarkan nya, Angger Senggani tinggal sebut saja, apakah gadis yg akan menerima pemberian benda itu, karena benda itu merupakan sebuah cincin, jari siapakah yg skan beruntung menerima cincin Sang Prabhu Brawijaya itu,?" tanya Nyai Tumenggung lagi.


" Ahh, Bibi, Senggani tidak jadi memberikan benda itu kepada siapa pun, karena selain benda itu merupakan milik Sang Prabhu Brawijaya terakhir dan sarat dengan sejarah nya, karena itu pemberian Kanjeng Sultan , biarlah benda itu akan menemani Senggani sampai mati,!" ucap Raka Senggani.


Ia berusaha mengalihkan pembicaraan kedua orang suami istri yg telah dianggap nya sebagai pengganti kedua orangtua nya.


" Ahh, Angger Senggani jangan mengalihkan pembicaraan, gadis mana yg harus kami datangi untuk di lamar sebagai sisihan dari Angger Senggani itu, kami berdua siap melakukan nya, bukan demikian Nyai,!" ucap Tumenggung Wangsa Rana.


Kembali Raka Senggani terdiam dan menundukkan wajah nya, ia tidak mampu menatap wajah pasangan suami istri itu.

__ADS_1


__ADS_2