Pendekar Pilih Tanding

Pendekar Pilih Tanding
episode 6 Pembalasan bagian ketiga.


__ADS_3

Dan aneh nya hanya mereka bertiga sajalah yg mendengar perkataan orang tersebut, Resi Brangah, Resi Bancakan, Mpu Sepang dan yg lain nya tidak ada yg mendengar nya.


" Apa yg kalian bicarakan ini, siapa yg telah berkata -kata dengan kalian itu,?" tanya Resi Brangah.


" Ada seseorang yg telah menghina ku, akan tetapi aku tidak menemukan nya," jawab Mpu Loh Brangsang.


" Dari tadi kami tidak ada mendengar apapun kecuali teriakanmu tadi yg telah membangunkan kami,!" terang Reai Brangah.


" Dan kalau pun benar ucapan mu itu, tentu ia memiliki ilmu sangat -sangat tinggi melebihi kita semua yg ada disini,!" kata Resi Brangah lagi.


Sampai saat matahari memancarkan cahaya , namun mereka yg berada di tempat itu masih kebingungan akan suara yg telah di dengar oleh Mpu Loh Brangsang dan dua adik seperguruan nya itu.


Hingga suatu ketika,


" Ha, ha, ha, apa khabar mu, Brangsang , Pundirangan dan Pasirangan, apa yg telah kalian lakukan di tempat ini,!" ucap Mpu Supa Mandrangi.


Empu kerajaan Demak itu tiba-tiba telah berada di antara mereka semua, tanpa ada yg tahu darimana asalnya, tiba -tiba saja sudah nongol.


" Kakaang Mandrangi," ucap ketiga adik seperguruan nya itu.


" Ya, bagus lah kalau kalian masih mengenalku meski setelah menampak kan diri, aneh nya, suara ku pun sudah tidak kalian kenali lagi,!" seru Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Dan terkhusus buatmu Brangsang, apa yg hendak kau capai dengan sikapmu kali ini, apakah engkau tidak mengingat pesan Guru, ojo neko-neko, berpikir lah dengan baik jangan hanya menuruti emosi sesaat, kita ini telah tua adi Brangsang,!" jelas Mpu Supa Mandrangi lanjut.


" Apa yg ingin kalian capai dengan membuat Kyai Condong Campur itu, atau memang wahyu keprabon itu telah beranjak dari Demak,?" tanya nya lagi.


" Bukan begitu kakang Mandrangi, " jawab Mpu Loh Brangsang.


" Untuk kali ini, kalian masih diampuni oleh Kanjeng Sultan asalkan kalian hentikan kegiatan ini, kalau tidak,..." ucap Mpu Supa Mandrangi.


" Kalau tidak kenapa kakang Mandrangi,?" tanya Mpu Yasa Pasirangan.


" Kalau tidak, Aku sendiri yg akan menjatuhkan tangan terhadap kalian, karena Aku tidak ingin kalian membuat nama baik guru tercemar dengan ulah kalian itu, dan Aku tidak akan pandang bulu, andai itu adik kandung sendiri, hukum adalah hukum, yg bersalah harus menerima hukuman yg setimpal,!" ucap Mpu Supa Mandrangi agak keras.


" Apakah yg kami lakukan ini merupakan suatu keaalahan kakang Mandrangi, kami hanya ingin membuat sebuah Pusaka yg berupa sebilah keris,?" tanya Mpu Loh Brangsang kepada Mpu Supa Mandrangi.


" Kalian telah melakukan kesalahan dengan membuat sebuah Pusaka itu,!" seru Mpu Supa Mandrangi.


" Dimana letak kesalahan kami kakang Mandrangi, coba jelaskan,?" tanya Mpu Loh Brangsang.


" Ahh, nampaknya engkau menguji kesabaranku adi Brangsang, haruskah Aku membongkar kedok mu di hadapan semua orang yg berada disini?" tanya Mpu Supa Mandrangi.


Nampak dada dari Empu kerajaan Demak itu turun naik dengan cepat pertanda ia tengah menahan gejolak kemarahan.


Mpu Loh Brangsang dari Merapi terdiam melihat kakak sperguruannya itu marah. Ia pun menyadari siapa Mpu Supa Mandrangi itu, akan tetapi niat nya untuk membuat Keris Pusaka Kyai Condong Campur putrani itu tidak bisa di tunda lagi, karena pengerjaan nya tinggal sedikit lagi.


Mpu Loh Brangsang memutar otak nya untuk mampu mengalahkahkan kakak seperguruan nya itu tanpa harus bertarung dengan nya, akhir nya nampak senyum mengembang dari bibir nya.


" Bagaimana adi Brangsang, bisa kah engkau tidak melanjutkan niatan mu itu untuk membuat Keris Kyai Condong Campur itu,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.


" Begini kakang Mandrangi, karena aku berada di dua pilihan yg sulit , yaitu melanjutkan pengerjaan dari Keris Pusaka Kyai Condong Campur dengan harus melawan mu atau menghentikan sesuatu yg telah hampir rampung kami kerjakan demi permintaan mu itu, bagaimana kalau Aku mengajukan satu syarat kakang Mandrangi,?" tanya Mpu Loh Brangsang.


" Katakalah Brangsang jangan bertele -tele, Aku masih banyak tugas yg harus di selesaikan, Aku terima apapun syarat mu asalkan kalian menghentikan pekerjaan ini,!" seru Mpu Supa Mandrangi lagi.


" Terima kasih kakang Mandrangi, begini kakang, Aku mau menghentikan pengerjaan ini dengan syarat kakang Mandrangi bisa mengalahkan jago ku, tanpa kakang Mandrangi yg turun sendiri, kakang pilih sendiri jagoan kakang, bagaimana apakah kakang setuju,?" tanya Mpu Loh Brangsang.


Mpu dari Gunung Merapi itu merasa yakin akan mampu mengalahkan kakak sperguruannya itu tanpa harus bertarung sendiri dengannya. Karena di pihak nya merupakan orang-orang yg sangat tinggi ilmu nya dan sulit dicari lawan nya di Tlatah Demak itu.

__ADS_1


" Bagaimana kakang , kakang setuju kan dengan syarat yg telah ku berikan itu karena kakang tadi telah menyanggupi nya, Aku akan menghentikan semua kegiatan di tempat ini jika jago ku kalah dan demikian pula jago kakang yg kalah, kakang segera angkat kaki dari sini,!" ucap Mpu Loh Brangsang lagi.


Mpu Supa Mandrangi lama memandangi Mpu Loh Brangsang itu, dasar licik, pikir nya dalam hati, namun ia tadi telah menyanggupi syarat yg telah diajukan oleh adik seperguruan nya itu, mau tidak mau ia harus meluluskan permintaan itu, tetapi siapa yg pantas untuk dimajukan, pikir nya lagi.


" Apakah Tumennggung Wicaksana pantas untuk di jadikan jagoan ku" katanya dalam hati.


" Baiklah Adi Brangsang kuterima tawaran mu itu, namun jika engkau tetap membandel dengan melanjutkan pekerjaan mu setelah jagoanmu itu kalah ,Jangan salah kan Aku jika kalian semua Aku beri hukuman yg setimpal,!" jawab Mpu Supa Mandrangi.


" Baik Kakang Mandrangi, Aku akan menuruti segala perintahmu jika jagoan ku kalah,!" jawab Mpu Loh Brangsang.


" Siapa yg akan engkau majukan adi Brangsang,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.


" Aku akan memberikan kesempatan kepada adi Phedet Pundirangan, Kakang Mandrangi, jadi dari pihak kakang Mandrangi siapa yg akan menjadi jagoanmu itu,?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.


" Baiklah untuk perang tanding kali ini Aku akan meminta salah seorang Senopati Demak,!" jawab Mpu Supa Mandrangi


" Prokk, pok,pok,"


Terdengar tepukan tangan dari Mpu Supa Mandrangi dan tiba -tiba muncul lah Senopati Brastha Abipraya.


Senopati asal Pajang itu langsung mendekati tempat itu.


" Ada apa Eyang Mandrangi ,?" tanya Raka Senggani kepada Mpu Supa.


" Begini angger Senopati, adi Brangsang meminta perang tanding sebagai jalan keluar yg di inginkannya, siapa yg kalah , ia harus meninggalkan tempat ini, jadi Eyang memintamu sebagai orang yg mewakili kerajaan Demak dan dari pihak Adi Brangsang , adi Phedet Pundirangan lah yg sebagai wakilnya, apakah angger Senopati bersedia,?" tanya Mpu Supa Mandrangi.


" Saya Eyang, semua perintah Eyang Supa Mandrangi siap saya jalankan,!" jawab Raka Senggani.


" Bagus, bagus, memang pantas gelar Senopati di sematkan ke atas pundakmu ,Ngger,!" ucap Mpu Supa Mandrangi.


Empu kerajaan Demak itu sambil menepuk nepuk pundak dari Raka Senggani.


Ia terlihat percaya diri dengan menurunkan Raka Senggani sebagai pilihan nya, padahal ia belum mengetahui kemampuan dari anak muda itu, sedangkan kemampuan dari Mpu Phedet Pundirangan ia jelas -jelas sangat memahami nya, karena merupakan adik seperguruan nya sendiri.


Yg menjadi keheranan adalah Mpu Loh Brangsang, Mpu Phedet Pundirangan, Mpu Yasa Pasirangan bahkan juga Resi Brangah.


Resi dari Blambangan itu bahkan sempat berbisik kepada Mpu Loh Brangsang,


" Brangsang biar aku saja menghadapi orang ini, Aku masih penasaran , mengapa ia masih bisa lolos dari maut waktu itu,!" ucap Resi Brangah.


" Tidak mungkin itu kulakukan,Brangah, yg pertama Aku telah mengatakan bahwa adi Pundirangan lah sebagai wakilku dan yg kedua kau terbukti tidak mampu mengatasi nya, jelas -jelas saat ini ia kelihatan sangat baik tanpa kurang sesuatu apa pun,!" jawab Mpu Loh Brangsang.


Sambil memandangi wajah teman nya itu Resi Brangah berkata,


" Jadi kau meremehkanku , Brangsang,?"


" Jangan salah paham , Brangah , saat ini kita berupaya untuk mengusir prajurit Demak yg dipimpin oleh kakang Supa Mandrangi itu tanpa harus terjadi pertumpahan darah, dan menurut yg kurasakan ini adalah jalan yg terbaik daripada harus melawan kakang Supa Mandrangi sendiri, kau lihat bukan, tadi diantara kita tidak ada yg mengetahui keberadaan nya tiba -tiba saja sudah berada di dekat kita," jelas Mpu Loh Brangsang.


Resi Brangah terdiam, namun ia masih penasaran dengan Raka Senggani yg masih mampu selamat dari maut ketika terjadi perang tanding antara diri nya dan pemuda itu.


" Apakah kita sudah bisa untuk memulai nya,?" tanya Mpu Supa Mandrangi .


Sambil terus menatap orang -orang yg berada di tempat itu, Mpu Supa Mandrangi pun bersyukur jika Perang Tanding itu adalah jalan keluar yg terbaik mengingat banyak nya tokoh -tokoh sakti yg berpihak kepada adik seperguruannya itu.


" Sebentar kakang Mandrangi, apakah Kakang tidak memiliki jago yg lain selain bocah ingusan itu,?" tanya Mpu Loh Brangsang.


" Biarpun ingusan Brangsang, engkau sendirj pun belum tentu mampu mengalahkan nya, bukan begitu Ngger," jawab Mpu Supa Mandrangi.

__ADS_1


Ucapan nya itu sekaligus memberi semangat tersendiri kepada Raka Senggani.


" Baiklah kakang Mandrangi, jangan salahkan kami jika usia nya hanya sampai lima puluh jurus,!' ucap Mpu Loh Brangsang.


Penguasa Gunung Merapi itu sengaja menjatuhkan sisi kejiwaan dari Raka Senggani.


" Engkau boleh memotong telinga ku, jika adi Pundirangan mampu mengalahkan nya dalam lima puluh jurus,!" janji Mpu Supa Mandrangi kepada adik seperguruannya itu.


" Baik, baik, jangan Salahkan kami jika kakang Mandrangi pulang dengan tanpa daun telinga," ucap Mpu Loh Brangsang dengan nada mengejek.


" Sudahlah adi Brangsang segeralah mulai, biar kita lihat siapa sesungguhnya yg benar dalam hal ini, Aku atau Kau," tukas Mpu Supa Mandrangi.


Mpu Loh Brangsang terdiam sejenak, ia memandangi adik seperguruan nya Mpu Phedet Pundirangan, ia merasa yakin bahwa adiknya itu akan dengan mudah menghabisi Senopati Pajang itu.


" Silahkan adi Pundirangan , saat ini semua tergantung di atas pundakmu, apakah cita -cita kita ini akan berhasil atau tidak , semua tergantung padamu,!" ucap Mpu Loh Brangsang menyemangati adik nya itu.


" Baik kakang Brangsang, biar kakang Mandrangi pulang tanpa memiliki daun telinga, majulah kau anak muda,!" ucap Mpu Phedet Pundirangan kepada Raka Senggani.


Senopati Pajang itu pun masuk ke tempat yg agak luas di dekat Sumber api abadi berada di desa Bedander itu.


Tampak kedua orang itu telah bersiap -siap untuk melakukan Perang Tanding.


Perasaan Raka Senggani bercampur aduk setelah melihat lagi pembunuh kedua orangtua nya itu dengan jelas, raut wajah pemuda itu berubah -ubah terkadang nampak seperti sedang menahan emosi hingga membuat wajah nya memerah tetapi terkadang wajah itu nampak tenang seakan ia mampu meredam bara dendam di dadanya, bahkan ia menepisnya sendiri, saat itu ia tengah memikul tanggung jawab sebagai wakil dari kerajaan Demak untuk menumpas kebatilan.


" Sudah bisa kita mulai anak muda , ?" tanya Mpu Phedet Pundirangan kepada Raka Senggani.


" Terserah Mpu saja, !" jawab Raka Senggani pendek.


Namun ia tengah bersiap untuk bertarung dengan penguasa Lereng Wilis itu, dan Sang Senopati Pajang itu tahu kemampuan lawan nya, karena mereka berdua pernah bentrok beberapa waktu yg lalu di keraton Kediri.


Senopati Brastha Abipraya tidak akan main-main lagi ketika harus berhadapan dengan Mpu Phedet Pundirangan itu.


" Baik , mari kita mulai, " ucap Mpu Phedet Pundirangan.


Ia segera mengibaskan tangan nya ke arah Raka Senggani.


Serangkum angin serangan segera menerjang tubuh Senopati dari Pajang itu.


Namun sulit untuk di ketahui tiba -tiba tubuh sang Senopati sudah tidak berada di tempat nya, serangan dari Mpu Phedet Pundirangan itu menerpa tempat yg kosong.


" Nampak nya aku tidak salah memilih seorang jagoan," berkata dalam hatinya Mpu Supa Mandrangi.


" Hehh, luar biasa anak muda itu, apakah ia merupakan murid kakang Mandrangi,!" berkata dalam hati Mpu Loh Brangsang.


Ternyata kedua orang itu mengagumi kehebatan dari Raka Senggani di awal pertarungan itu.


Raka Senggani sendiri pun cukup heran atas kecepatan yg dimiliki nya.


" Aneh mengapa dapat melihat dengan jelas serangan dari Mpu Phedet Pundirangan itu, dan tubuhku pun sangat -sangat ringan,!" kata Raka Senggani dalam hati.


" Baiklah anak muda , kau terima ini, heaaahh," teriak Mpu Phedet Pundirangan.


Penguasa Lereng Wilis langsung berkelebat dengan cepat menyerang Raka Senggani yg masih dalam posisinya.


Serangan dari penguasa Lereng Wilis itu mengarah kaki dari Raka Senggani, berkali -kali pemuda desa kenanga melakukan lompatan-lompatan dengan lincah nya menghindari serangan yg bagaikan air bah melanda.


Terus menerus , Mpu Phedet Pundirangan mencecar Raka Senggani dengan cepatnya sulit untuk diikuti oleh mata biasa, namun belum satu pun yg berhasil mengenai tubuh Senopati Pajang itu.

__ADS_1


Memang pertempuran kali ini tampak seimbang , kedua nya sama -sama cepat, sama -sama bertenaga, ketika hari beranjak siang belum ada satu pun yg unggul, baik dari pihak Raka Senggani maupun dari Pihak Mpu Phedet Pundirangan.


Keduanya terlibat pertarungan yg sengit, hanya terkadang Raka Senggani nampak terlihat lengah ketika memandang wajah Mpu Phedet Pundirangan dan Mpu Yasa Pasirangan, bara dendam di dadanya timbul dan menghilang kan konsentrsi nya terhadap pertarungan sehingga suatu saat tendangan dari Mpu Phedet Pundirangan mendarat telak di dadanya, tubuh Senopati Pajang itu terpental cukup jauh dan hampir menimpa sebuah batang pohon, namun anehnya sebelum mengenai pohon tersebut, tubuh Senopati Pajang itu telah melayang kembali menyerang Mpu Phedet Pundirangan.


__ADS_2