
" Jadi kau berasal dari Kenanga,?". tanya Mpu Loh Brangsang.
" Benar , eyang saya berasal dari Kenanga,". jawab Tara Rindayu.
" Benarkah dirimu akan menuntut ilmu dari ku,?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
" Jika eyang berkenan menerima saya, tentu saya akan bersungguh-sungguh belajar, " jawab Tara Rindayu.
" Apakah dirimu mampu menjalani latihan yg cukup berat, sememtara dirimu terbiasa hidup senang, jadi eyang masih ragu untuk menerima mu," ucap Mpu Loh Brangsang.
" Saya akan melakukan apapun itu asalkan dapat di terima sebagai murid disini meskipun itu sangat berat,!" jelas Tara Rindayu.
" Satu pertanyaan yg ingin kudengar jawaban yg darimu, apa yg menyebabkan mu mau berguru di sini yg jauh dari keramaian dan kesenangan,?" tanya Mpu Loh Brangsang.
Tara Rindayu terdiam dan menundukkan wajah nya, ia agak malu menyebutkan alasan nya untuk menuntut ilmu silat itu.
Melihat hal ini Mpu Loh Brangsang cepat tanggap, ia langsung bertanya,
" Apakah dirimu ingin membalas dendam atau ingin menunjukkan kemampuan mu dalam hal ilmu silat kepada seseorang, yg kau sukai,!". seru penguasa Gunung Merapi itu.
Kepala Tara Rindayu mengangguk perlahan mengiyakan.
" Kepada siapa dirimu akan menunjukkan kemampuan mu itu,?" tanya Mpu Loh Brangsang lagi.
Kembali Tara Rindayu tidak menjawab pertanyaan dari Mpu Loh Brangsang itu.
" Apakah kepada Senopati Pajang itu, Raka Senggani, ya , kepada Raka Senggani kah maksudmu,?" desak Mpu Loh Brangsang lagi.
Tara Rindayu mengangkat wajah nya menatap wajah Mpu Loh Brangsang itu, ia merasae bahwa orang tua di hadapan nya itu dapat membaca jalan pikiran nya, sehingga ia merasa tidak perlu lagi menyembunyikan perasaan nya itu.
" Benar eyang, saya akan menunjukkan kepada Kakang Senggani bahwa saya mampu juga untuk mengimbangi nya dalam hal ilmu silat,!". jawab Tara Rindayu.
" Bagus, jawaban itu yg eyang tunggu, jika dirimu memiliki suatu alasan yg kuat untuk berlatih tentu aku tidak akan sia -sia mendidikmu, dan mulai hari ini kau ku angkat sebagai murid ku,!". ucap Mpu Loh Brangsang.
" Terima kasih, terima kasih, Eyang, saya Tara Rindayu tidak akan menyia -nyiakan kesempatan yg telah eyang berikan ini,!". ungkap Tara Rindayu.
" Kranjan bawa ia ke tempat Rasani Mayang dan berikan tempat yg layak untuk nya, dan satu hal lagi sampaikan pesanku untuk nya agar mulai melatih dasar -dasar ilmu silat kepada angger Rindayu ini,". jelas Mpu Loh Brangsang.
" Baik guru, semua pesan guru akan saya sampaikan kepada Dewi Rasani Mayang,!" jawab Ki Kranjan.
" Sekarang kalian boleh pergi,!" perintah Mpu Loh Brangsang.
Kemudian Ki Kranjan dan kedua teman nya mengantarkan Tara Rindayu ke tempat cantrik putri, dan ia akan di tempatkan bersama Dewi Rasani Mayang yg merupakan putri angkat dari Mpu Loh Brangsang sendiri.
Setelah melalui beberapa barak untuk cantrik putra sampailah ke empat nya di tempat Dewi Rasani Mayang.
Tempat itu terlihat rapi dan indah dengan tanaman pohon kembang yg beraneka warna, memang putri angkat dari Mpu Loh Brangsang itu sangat menyukai kembang.
" Ehh, kakang Kranjan dan kangmbok Wani serta kakang Ragawana, apa kabar kalian,!". ucap Dewi Rasani Mayang.
" Baik, adi mayang, dan bagaimana dengan dirimu sendiri , apakah dalam keadaan baik,?". tanya Ki Kranjan.
" Baik, sangat baik, kakang Kranjan,!". jawab Dewi Rasani Mayang.
" Ehh, iya , siapa yg bersama kalian ini,?" tanya Dewi Rasani Mayang.
Sambil mengarahkan pandanganya kepada Tara Rindayu, Sementara yg di tatap malah asyik memandangi tanaman kembang yg beraneka warna itu.
" Oh iya, perkenalkan ini adalah putri Juragan Tarya dari desa Kenanga dan bernama Tara Rindayu, ia telah diangkat sebagai murid oleh Guru, mulai saat ini," jelas Ki Kranjan.
" Dan menurut Guru, adi Mayang lah yg pertama akan memberikan dasar -dasar ilmu silat sekaligus tinggal bersama mu,!". ucap Ki Kranjan lagi.
" Ohh, ia telah diangkat murid oleh Romo, ?" tanya Dewi Rasani Mayang.
" Benar adi Mayang, Tara Rindayu telah resmi menjadi penghuni padepokan Merapi ini dan untuk tugas pertama adi Mayang lah yg akan mengajari nya,". ujar Nyi Wani.
" Baik, jika memang itu adalah pesan Romo, silahkan kalian tinggalkan ia bersamaku, disini," seru Dewi Rasani Mayang.
" Baiklah kalau begitu, kami akan pamit dan segera kembali ke desa Kenanga,!". ucap Ki Kranjan.
" Silahkan, silahkan, kakang dan selamat jalan,". ucap Dewi Rasani Mayang.
Kemudian ketiga orang itu berlalu dari tempat tersebut dengan meninggalkan Tara Rindayu bersama Dewi Rasani Mayang.
Tidak berapa lama, Dewi Rasani Mayang kedatangan Raden Kuda Wira di tempat nya itu.
" Ada perlu apa kakang Kranjan kemari,?" tanya Raden Kuda Wira.
" Mereka mengantarkan murid baru kemari,". jawab Dewi Rasani Mayang.
" Murid baru, siapa,?". tanya Raden Kuda Wira.
" Ini orang nya, namanya Tara Rindayu dan ia berasal dari Kenanga," jelas Dewi Rasani Mayang.
" Oh , jadi ini orangnya, kenalkan namaku , Kuda Wira,!" kata Kuda Wira.
Sambil menjulurkan tangannya ke arah Tara Rindayu, dan gadis itu pun menyambutnya seraya berkata,
" Tara Rindayu, namaku Tara Rindayu,"
__ADS_1
" Apakah Tara Rindayu telah pernah belajar ilmu silat sebelum nya,?". tanya Raden Kuda Wira lagi.
" Belum, kakang ,". jawab Tara Rindayu.
Kuda Wira yg merupakan masih keturunan trah Majapahit itu memandangi wajah Tara Rindayu, wajah yg sangat cantik, ia kemudian membandingkan nya dengan wajah Dewi Rasani Mayang.
" Ternyata gadis ini jauh lebih cantik di banding kan dengan adi Mayang," berkata dalam hati Raden Kuda Wira.
" Kalau begitu biar kakang saja yg akan mengajari mu, Rindayu,!" ucap Raden Kuda Wira.
" Mana bisa begitu kakang Kuda Wira, perintah Romo, Tara Rindayu ini akulah yg mengajari nya bukan kakang,". kata Dewi Rasani Mayang agak meninggi.
" Dan lagi , kakang Kuda Wira telah memiliki murid di barak lelaki, ini kan barak perempuan jadi akulah yg berhak disini," ucap nya lagi.
Kuda Wira paham dengan adik angkat nya itu, ada rasa cemburu yg keluar dari ucapan nya tadi.
" Ah, sekali-kali kakang kan dapat juga melatih cantrik perempuan,!" jawab Raden Kuda Wira.
Ia tampak nya sengaja memanas - manasi Dewi Rasani Mayang.
" Jika kakang Kuda Wira memang ingin memberikan latihan kepada Tara Rindayu ini, silahkan kakang katakan sendiri kepada Romo, namun saat ini aku lah yg telah di beri tugas oleh Romo,". ungkap Dewi Rasani Mayang.
" Ya, sudah nanti Kakang akan meminta kepada Romo agar di beri hak untuk mengajari adi Rindayu ini,!". kata Raden Kuda Wira.
Sementara Tara Rindayu terlihat kebingungan dengan perdebatan kedua orang itu mengenai diri nya, ia kemudian berkata,
" Menurut Eyang, Rindayu akan belajar dari kangmbok Mayang,"
" Kau dengar sendiri kakang, bahwa memang akulah yg akan menjadi guru dari Tara Rindayu , kakang Kuda Wira segera angkat kaki dari sini,". ucap Dewi Rasani Mayang dengan ketus.
" Ahh, adi Mayang jangan lekas marah nanti cepat tua loh, !" seloroh Kuda Wira.
" Biar, biar lekas tua memang siapa yg perduli,!" jawab Dewi Rasani Mayang sengit.
" Sudahlah kalau adi mayang , aku merasa bersalah lebih baik aku segera pergi dari sini,!" ujar Raden Kuda Wira lagi.
" Lebih cepat lebih baik,!" jawab Dewi Rasani Mayang.
" Mari, Rindayu, kakang pergi dahulu, tampak nya Merapi hari ini terbalut mendung,!". seru Kuda Wira.
Ia sengaja menyindir Dewi Rasani Mayang yg nampak nya terbakar cemburu dengan kehadiran Tara Rindayu.
" Silahkan kakang,". ucap Tara Rindayu.
Lelaki itu Kemudian meninggalkan kedua gadis itu tampak mengucapkan kata -kata lagi.
********
Dan Setelah mendapatkan izin kembali ke Pajang dengan Kakak angkatanya Lintang Sandika , kedua nya pun segera mengarah ke Pajang.
Keduanya bermalam di wilayah pedukuhan gogodalam, mereka menginap di sebuah rumah seorang penduduk.
Malam itu ketika seekor burung kedasih berbunyi terdengar derap langkah kaki kuda masuk ke dalam pedukuhan itu.
" Ehh adi Senggani seperti nya ada tamu tidsk di undang datang ke pedukuhan ini,!" kata Lintang Sandika
" Benar kakang, dan tampak nya mereka berada di banjaran pedukuhan ini,!". jawab Raka Senggani.
" Mari adi, kita kesana," ajak Lintang Sandika.
" Mari Kakang," kata Raka Senggani.
Keduanya kemudian beranjak menuju ke banjar itu.
Dan ternyata di banjar itu telah ramai orang dan nampak lah lima ekor kuda tengah berhenti di situ.
" Hehh, kalian semua harus memberikan harta kalian kepada kami kalau tidak , pedukuhan ini akan kami bakar,!" teriak orang itu.
Orang yg berada diatas punggung kudanya itu nampak terlihat sangar dengan jambang dan kumis bersatu dan tebal, kain penutup kepala nya yg hitam menambah kesangaran orang itu.
Sementara itu para penduduk pedukuhan itu diam saja melihat kehadiran orang tidak diinginkan itu.
" Aku Ki Rengit akan membantai kalian semua jika tidak mau menuruti keinginanku, cepat kumpulkan perhiasan dan barang -barang berharga lain nya, " terdengar orang yg bernama Ki Rengit itu berkata.
Tetapi para penduduk masih diam saja tiada yg bergerak untuk menuruti perintah Ki Rengit itu.
" Combro, cepat kau ambil perhiasan dari mereka ,!". teriak Ki Rengit lagi.
Orang yg bernama Combro itu kemudian meloncat turun dsri kudanya.
" Baik kakang," ucap Ki Combro.
Dengan langkah pasti dan golok di tangan Ki Combro mendekati salah seorang warga pedukuhan itu dan ia melihat bahwa orang itu memakai kalung di lehernya.
" Sebaiknya kalung ini untuk kami," teriak Ki Combro.
Dengan kasar nya ia menarik kalung itu dari leher perempuan itu.
" Tuan, tuan, jangan diambil kalung itu,". seru perempuan itu.
__ADS_1
Ia menarik tangan Ki Combro meminta kembali kalung nya namun dengan cepat tangan Ki Combro sebelah kiri melayang kearah perempuan itu hingga membuat perempuan malang itu jatuh terpelanting.
Kemudian Ki Combro mendekati seorang laki -laki yg menggunakan sebuah keris yg lumayan mahal, ia terus melangkahkan kakinya menuju kearah orang itu.
" Hehh, cepat serahkan keris mu kepada ku,". teriak Ki Combro.
Dengan ujung golok nya menempel di leher orang tersebut.
" Cepaaaaat,!" teriak Ki Combro lagi.
Namun lelaki diam tidak bergeming, ia hanya memandangi wajah Ki Combro itu.
" Kau ingin merasakan tajam nya golok ku ini, Heeh,!". bentak Ki Combro.
Tidak ada jawaban, lelaki tetap diam tanpa terlihat takut.
Sementara dari atas punggung kudanya, Ki Rengit berteriak,
" Sudah habisi saja Combro, jangan terlalu lama biar penduduk pedukuhan ini tahu berhadapan dengan siapa," seru nya .
" Berarti kau mencari mati , anak muda ,karena aku telah kan perintah dari kakang Rengit untuk menghabisi mu, terima ini, hehh," ujar Ki Combro.
Golok nya di gerak kan untuk menebas leher orang itu.
" Trakkk,!"
Seperti menghantam dinding baja , golok Ki Combro nampak gompal setelah menyentuh leher orang itu.
" Hahhh, gila,!". seru Ki Combro heran.
" Ada apa, Combro,?" tanya Ki Rengit.
Sambil memandangi mata golok nya bergantian dengan wajah orang yg ada dihadapannya itu, ia menjawab pertanyaan Ki Rengit.
" Orang ini memiliki ilmu kebal Kakang, golok ku sampai gompal,". seru Ki Combro.
" Apaaa,?" teriak Ki Rengit.
Kepala begal itu langsung melayang turun menuju ke tempat Ki Combro.
" Hehh, kamu ingin unjuk gigi dihadapan aku, Ki Rengit,!" ucap Ki Rengit.
" Siapa yg ingin unjuk gigi dihadapan seorang begal sepertimu," jawab orang itu.
" Minggir kau Combro, biar kakang yg akan menangani orang ini,!" katanya lagi.
Kemudian Ki Combro bergerak menjauh dari kedua orang itu.
" Jadi kau menantang ku,!". seru Ki Rengit.
" Siapa yg menantang mu, aku kira kalian lah yg telah menantang para warga disini,!" ucap orang itu.
" Kau terlalu banyak mulut, terima ini,!" teriak Ki Rengit.
Kepala begal itu kemudian melayang kan kepalan tinju nya ke arah muka orang dan oleh anak muda yg tiada lain adalah Raka Senggani itu , kepalan tangan kepala begal yg bernama Ki Rengit di tangkap oleh nya.
Para penduduk warga pedukuhan Gogodalam itu meyakini bahwa pemuda itu akan terjatuh akan pukulan itu, tetapi trrdengar,
" Aaaaakhh,!"
Ki Rengit menjerit akibat kepalan tangan nya di pelintir oleh Raka Senggani.
Sampai badan nya ikut berputar akibat dari di pelintir oleh Raka Senggani.
Senopati Pajang itu kemudian melepaskan nya serta mendorong hingga terjatuh.
Ki Rengit segera bangkit dan langsung menyerang Raka Senggani.
" Hiyyah,"
Kepala begal itu, menyerang Raka dengan tendangan mendatar ke arah dada.
Oleh Senopati Pajang itu di tangkis dengan tangan kanannya membuat kepala begal itu terlihat terhuyung dan hampir jatuh.
Tetapi ia memaksakan diri untuk menyerang kembali,
" Heaahhh, ****** kau , " teriak nya.
Dan di tangan nya telah tergenggam sebuah senjata rantai baja yg memiliki bandul bergerigi di depan nya.
Ternyata senjata Pemimpin begal itu adalah rantai baja yg bergerigi, ia memutar -mutarkan di atas kepala nya.
" Heaahhh, "
Ki Rengit melepaskan senjata nya itu ke arah Raka Senggani, mengarah ke kaki pemuda itu.
Senopati Pajang itu melompat menghindari serangan itu.
Namun rantai baja itu kembali mengejar nya lagi dan kali ini Raka Senggani menangkap rantai baja itu.
__ADS_1
Senopati Pajang itu menarik nya dan dengan tenaga dalam nya ia mulai membetot.
Tarik menarik terjadi diantara keduanya.